Thursday, 3 January 2008

Sastra Jawa, Riwayatmu Kini

BARU-baru ini diumumkan bahwa Sugiarto Sriwibowo memenangi hadiah Rancage dengan karya novelnya berjudul Candhikala Kapuranta –yang dinilai sebagai karya sastra Jawa terbaik yang diterbitkan sebagai buku tahun 2002. Penyerahan hadiahnya, biasanya baru dilaksanakan pada bulan Agustus. Seperti biasanya, tak ada pembicaraan hangat sebelumnya mengenai para nominator, bahkan Candhikala Kapuranta pun tampaknya luput tampil dalam rubrik resensi, bahkan di media berbahasa Jawa. Cermin bahwa kehidupan sastra Jawa memang sudah kehilangan gairahnya? Banyak orang tak rela jika Sastra Jawa mati. Atau, jangan-jangan Sastra Jawa memang sudah mati, dan hanya dianggap hidup saja oleh mereka yang masih mencintainya setengah mati?


Bukan Pilihan

Bagi kebayakan orang, menjadi pengarang --apalagi pengarang sastra Jawa-- bukanlah pilihan. Mungkin sebuah keterdamparan, yang, anehnya, sering terasa nikmat. Dan, akhirnya sampailah mereka pada taraf tidak perlu lagi mempersoalkan apakah menjadi pengarang sastra Jawa sebagai pilihan atau bukan, karena seperti istri yang siap dimadu, sastra Jawa memberi keleluasaan untuk hilir-mudik, sesekali menengoknya jika libido sedang naik, ataupun meninggalkannya untuk beberapa waktu jika memang sedang loyo. Tetapi, seandainya benar-benar harus memilih salah satu, sungguh susah memahami orang yang memilih menjadi pengarang sastra Jawa.

Pilihan atau bukan pilihan, mungkin tak begitu signifikan terhadap kualitas kepengarangan seseorang, jika benar pengakuan beberapa pengarang terkenal bahwa mereka menjadi pengarang secara tidak sengaja. Apalagi sengaja memilihnya. Tetapi, banyaknya pengarang sastra Jawa modern yang kemudian menyeberang ke sastra Indonesia atau berhenti menulis menjadi kenyataan yang menarik. Sebutlah nama-nama: Arswendo Atmowiloto, Bambang Sadono, Yusuf Susilohartono, Andrik Purwasito, Efix Mulyadi, Setya Yuwono Sudikan, Sugeng Adipitoyo, Es Danar Pangeran, Budi Palopo, Nyitno Munajad, Gatot Harioto, dan masih banyak lagi, yang mandeg sebagai pengarang sastra Jawa modern sekaligus mandeg pula sebagai pengarang atau menyeberang ke wilayah yang secara ekonomi lebih menjanjikan: sastra Indonesia. Gatot Harioto bahkan mengaku lebih tertarik untuk melukis. Memang, banyak pengarang yang hanya sekedar numpang lewat di wilayah Sastra Jawa modern. Sementara itu, Suparto Brata, Subagio IN, dan almarhum Suripan Sadihutomo adalah nama-nama yang patut dihormati atas kesetiaannya terhadap sastra Jawa. Mereka tetap menulis dengan bahasa Jawa, sementara kesibukan lainnya –termasuk menulis dengan bahasa lain— terus menindih mereka.

Sastra Jawa yang Njawani?

Banyak orang menilai negatif karya sastra Jawa modern dengan mengatakan bahwa hanya karena bahasa yang digunakannya saja (bahasa Jawa), maka sebuah crita cekak, guritan, atau novel, disebut karya sastra Jawa. Mereka menuntut karya sastra Jawa benar-benar memiliki ruh Jawa, meminjam istilah mereka, bukan karangan yang hanya menggunakan media bahasa Jawa. Pada saat yang sama, mereka memuji-muji karya sastra Indonesia (dengan menyebut nama-nama besar Umar Kayam, Danarto, Linus Suryadi, Darmanto Jatman, Ahmad Tohari, dan lain-lain) sebagai sastrawan-sastrawan yang lebih njawani daripada sastrawan Jawa sendiri. Ini satu hal yang dapat diperdebatkan berlarut-larut.
Banyak orang menghibur diri dengan mengatakan bahwa sastra Jawa tak akan pernah mati walaupun orang tidak lagi menggunakan bahasa Jawa. Ruh Sastra Jawa, kata mereka, bisa menyusup ke dalam sastra Indonesia, bahkan sastra Inggris, Perncis, Rusia, Cina, atau Itali. Tetapi, saya lebih setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa sastra Jawa akan tamat riwayatnya ketika orang sudah tidak menggunakan bahasa Jawa, ketika para penyair yang kini kita sebut sebagai penggurit itu, para cerpenis, dan novelis sudah tidak menggunakan bahasa Jawa sebagai media ekspresi. Bagaimana kalau sastra Jawa mati? Kalaulah zaman menghendaki sastra Jawa mati, apa yang dapat kita perbuat?

Para pengarang, penggurit, dan mereka yang mengaku mencintai Sastra Jawa, janganlah mencemaskan kematian Sastra Jawa. Jangan terlalu sibuk meneba-nebak, meramal, kapan sastra Jawa akan mati. Urusan yang paling mendesak sekarang ini adalah meningkatkan kualitas kehidupan Sastra Jawa itu sendiri. Urusan paling mendesak bagi para penggurit, misalnya, adalah bagaimana terus berkarya, menciptakan guritan-guritan yang berkualitas. Begitu pula para cerpenis-nya, berusahalah terus menciptakan crita cekak yang bermutu, jangan menyibukkan diri dengan urusan paranormal, misalnya berdebat tentang ramalan mengenai kematian Sastra Jawa itu.

Para penggurit, ciptakanlah guritan yang bermutu! Untuk sementara, mungkin tak ada jeleknya kalau kita melupakan apa yang disebut orang sebagai ruh Jawa itu. Jangan dengarkan sindiran orang bahwa guritan-guritan para penggurit –terutama penggurit muda— sudah kehilangan ruh Jawa-nya, tak kurang dan tak lebih hanya puisi yang kebetulan saja ditulis dengan bahasa Jawa. Lupakanlah semua gombal itu. Ambillah Chairil, ambillah Tardji, Marsman, Lorca, Iqbal, atau Gibran. Jangan pedulikan para penonton (maaf, tidak disebut pembaca karena pada umumnya mereka tidak mau membaca, apalagi membeli buku atau berlangganan majalah berbahasa Jawa) yang sok njawani itu. Mungkin mereka lagi mabuk, dan lupa bahwa wong Jawa punya unen-unen momot kamot (bisa dimasuki segala, dan bisa memasuki segala). Mungkin juga kita perlu bertanya, mengapa tiba-tiba mereka menjadi egois dan mau menang sendiri? Kakek-nenek kita dahulu dengan luwesnya bisa menerima Walmiki, menerima ajaran para wali, dan menyerap kata-kata suci para pastur dan pendeta. Apakah adil ketika sedikit saja kita terpengaruh Chairil lantas diolok-olok sebagai tidak njawani?

Bagaimanakah karya sastra yang bermutu itu? Inilah persoalan kita. Kita bisa berdebat panjang dalam soal ini. Apalagi jika kita libatkan orang-orang yang sok njawani itu, bisa jadi perdebatan kita tak akan pernah usai! Mungkin ada baiknya kita berdebat dengan diri kita masing-masing. Tetapi, setidaknya untuk masa sekarang ini, lupakanlah istilah njawani atau tidak njawani itu. Kita pakai ukuran-ukuran umum saja.

Tetapi, memang, akan segera terlihat bahwa sebagian besar pengggurit dan pengarang sastra Jawa –terutama dari generasi mutakhir-- punya kelemahan ini: tidak memiliki referensi literer yang cukup dari kasanah sastra Jawa sendiri, terutama sastra Jawa klasik.

Persoalan Bahasa

Penggurit/pengarang satra Jawa muncul dari masyarakat yang masih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian. Tetapi, sebagai pengarang, seharusnya mereka tidak hanya trampil berbahasa Jawa sebagaimana orang awam trampil berbahasa Jawa. Tuntutan selebihnya, mereka harus benar-benar mampu menaklukkan bahasa Jawa, bukan justru dikuasai bahasa Jawa. Tuntutan yang rasanya sangat berat, dan memang demikianlah kenyataannya.

Pada kesempatan ini saya ingin mengumumkan kekaguman saya kepada Pak Muryolelono. Jika orang lain mengenal seorang Muryolelono sebagai primbon berjalan, maka saya ingin menambahkan: beliau juga pantas dijuluki kamus dan tatabahasa bahasa Jawa berjalan (ketika beliau masih hidup). Kalau di dalam sastra Indonesia saya mengenal nama Budi Darma –yang ucapan spontan-nya sudah sangat gramatikal, maka hal yang sama, dalam sastra Jawa, saya temukan pada diri Pak Muryo. Untuk urusan ketrampilan berbahasa ini, jika saya boleh tambahkan satu lagi nama yang saya kagumi, maka dia adalah almarhum Ki Narto Sabdo, dalang serba bisa itu.

Masa Depan Sastra Jawa

Sekali lagi, saya menolak perdebatan soal: apakah benar sastra Jawa akan segera mati ataukah masih akan berumur panjang. Sebab, menurut saya, seandainya pun benar sastra Jawa memang akan segera mati, yang paling mendesak adalah memberikan kualitas yang lebih baik untuk kehidupan sastra Jawa yang tinggal beberapa gong-an itu. Ibarat manusia lanjut usia –sekali lagi, ini cuma sekedar pengandaian—maka kewajiban kita sebagai keluarganya adalah membantu agar hidupnya yang tinggal beberapa saat lagi itu menjadi lebih berarti. Jangan biarkan sakit-sakitan, jangan biarkan dia menderita, melewati hari demi hari dengan rintih, tangis, dan jeritan penderitaan.

Mestinya memang kita memberi kesempatan para pengarang sastra Jawa yang potensial untuk meningkatkan kualitas kepengarangan mereka. Perlu ada rangsangan, misalnya tradisi pemberian hadiah yang bagus, sistem kompetisi yang bagus, dan ajang kreativitas yang bagus. Jika menginginkan masa depan sastra Jawa yang lebih baik, seharusnya ada “campur tangan”, ada upaya, dan jangan hanya membiarkan sastra Jawa mengalir apa adanya, jangan cuma mau enak-enak berpangku tangan sambil berlindung di balik unen-unen: nut ing zaman kelakone (mengikuti zaman). Lihatlah air itu, yang dibiarkan mengalir seperti apa adanya, lalu kita terlena, dan kemudian menyadari bahwa air yang mengalir itu telah jadi comberan.

Festival Sastra Jawa

Konon, tahun 2003 ini Dr. Damardjati Supadjar dkk akan menyelenggarakan Kongres Budaya Jawa. Mungkin di Jogjakarta. Sebuah even besar, tentu, mengingat etnis Jawa adalah etnis terbesar di Indonesia. Kongres Bahasa Jawa yang sudah dilaksanakan 3 kali itu juga selalu menjadi acara besar, menghabiskan dana bermilyar-milyar, walaupun banyak yang mempertanyakan tindak lanjutnya. Apakah Kongres Budaya Jawa itu nanti juga akan menjadi omong doang, atau kurang lebih hanya seperti Kongres Bahasa Jawa itu? Kita tunggu saja.

Yang barangkali agak menarik, mungkin adalalah gagasan teman-teman dari Paguyuban Pengarang Sastra Surabaya (PPSJS) untuk menyelenggarakan Festival Sastra Jawa (FSJ). Pada FSJ itu akan digelar karya sastra Jawa, dari yang klasik hingga yang modern, dari sastra lisan hinga sastra tulis. Berbeda dengan pandangan kebanyakan orang selama ini bahwa sastra Jawa adalah sastra yang memakai medium bahasa Jawa gagrag Surakarta atau Jogjakarta, dalam FSJ nanti akan ditampilkan pula, misalnya, guritan-guritan (guritan = puisi Jawa) yang memakai dialek-dialek Banyumas, Tegal, Surabaya, dan lain-lain.

Penerbit Bentang Budaya (Jogjakarta) sekarang ini bahkan telah bersiap-siap untuk menerbitkan 10 buku karya sastra Jawa (kumpulan guritan, crita cekak, maupun novel). Semoga itu semua akan semakin menegaskan bahwa kini sudah bukan zamannya berkeluh-kesah, atau bahkan meratapi nasib Sastra Jawa. []
piye?:

0 urun rembug: