MANUSIA INDONESIA

manusia indonesia itu ada tiga: [1] dapat mobil Rp 1,3 milyar, [2] dapat komputer Rp 15 jutaan, dan [3] dapat kompor gas ratusan rebu. Akulah manusia indonesia nomer tigaaaaaaaaaaa........!!

IKLAN PARIWISATA

"Tuan-tuan, Nyonya-nyonya, berbondong-bondonglah ke negriku, biar awet muda, dan ceria selalu, sebab di sini banyak yang lucu...!"

Nduwe Gawe

Di desa-desa, kalau musim hajatan tiba, orang dewasa baik laki-laki maupun perempuannya mengisi hampir semua hari-hari dengan urusan pesta. Ada yang menyebutnya mbecek ada pula yang pakai istilah buwuh.

Hampir semua orang sekampung sibuk dalam kepanitiaan, membantu si empunya hajat, dari urusan mendirikan terob, menyembelih hewan bakal lauk, menanak nasi, menggoreng panganan, sampai urusan membantu menerima tamu. Sanak-saudara dan para sahabat dari kejauhan juga terlibat sebagai para buwuh, mbecek, nyumbang. Sumbangan bisa berupa tenaga, barang, uang.

Para tetangga dekat banyak yang menyumbangkan ketiga-tiganya. Kalau ada 4 orang dewasa dalam satu keluarga, ambillah batas tengah jumlah sumbangan per orang Rp 25 ribu (ini baru yang berupa uang), berapa anggaran mesti dikeluarkan? Bayangkan, kalau dalam sehari bisa ada 3 hingga 5 orang sanak punya hajat bareng.

Tradisi nduwe gawe (memeriahkan hajatan), setuju atau tidak setuju, adalah tradisi boros. Tetapi, karena namanya tradisi, orang desa banyak yang merasa belumlah lengkap hidupnya jika belum pernah menyelenggarakan hajat (dalam rangka khitanan, perikahan, atau bahkan belakangan muncul pula: hajat ulang tahun), atau yang lebih 'ndledek' lagi: nggaweni atau memeriahkan (baca: membiayai) hajat orang lain!

Pandangan bahwa nduwe gawe pesta adalah ''kelengkapan hidup'' itu bahkan sudah menjalar ke anak-anak. Ada yang mothah tidak mau meneruskan sekolahnya kalau khitanannya tidak ditanggapke tayub sehari semalam plus wayang kulit semalam suntuk. Ada yang minta ditanggapke dangdut. Ada pula yang minta band. Padahal, nanggap dangdut atau wayang kulit dengan dalang kaliber desa tarip terendahnya sudah Rp 5 juta. Kalau tayuban, minimal sekarang pakai 5 orang tandak, kali (tarip rata-rata) Rp 500 ribu plus rombongan pengrawit dan pramugarinya Rp 2 juta misalnya, ditambah sewa terob Rp 3 juta, seekor sapi seharga Rp 7 juta. Hitunglah, berapa uang dibutuhkan untuk sebuah pesta nduwe gawe. Oh, itu belum semuanya.

Pesta dengan pengeluaran seperti itu sesungguhnyalah sangat mahal untuk rata-rata orang desa. Kebanyakan dari mereka, si empunya hajat itu, memakai uang/barang pinjaman untuk pestanya. Hewan sembelihan, beras, sayur, bumbu-bumbu, dan plekenik-plekenik lainnya diambil saja lebih dulu kepada penyedia, nanti dibayar kalau hajatan rampung. Artinya, empunya hajat dalam hal ini menjagakan sumbangan para kerabat dan handai-tolan.

Tradisi becekan memang mirip-mirip arisan. Semakin rajin mbecek alias buwuh, biasanya semakin banyak pula tamunya kelak jika punya hajat sendiri. Tetapi, tak jarang pula yang meleset dari itungan. Banyak yang merugi setelah punya hajat. Dahulu, tak jarang orang terpaksa menjual rumah setelah rampung hajatan. Sehingga, ada parikan kecut begini: ''Hore, hore bubar 'hore-hore' kagol balene,'' artinya, ''Hore hore setelah tayuban rumah terjual.'' Tragis bukan? Sekarang sudah jarang rumah kayu. Jarang pula orang jual rumah. Maka, jika hajatan sampai merugi, yang kenudian terjual adalah barang-barang berharga, atau bahkan tanah. Lha, kalau pangkat hanya petani, apalagi yang bisa menegakkan hidup jika tanah sudah terjual? Lebih tragis lagi, ada juga kisah orang gantung diri hanya beberapa hari setelah berpesta atau hajatan. Sampai sebegitulah kadang: harga sebuah pesta.

Maka, pikirkanlah masak-masak jika suami, istri, anak, atau bahkan orang tua Anda suatu saat mothah ngajak nduwe gawe gedhen-gedhen.[bonarine@gmail.com]

terus....?

DI DEPAN GERBANG

gerbang itu tidak lagi dijaga
dua raksasa
: cingkarabala dan balaupata
kau hanya perlu menyerukan salam
dan menekan tombol yang tepat
untuk membuka dan masuk ke dalamnya


maka belajarlah bahasa asmara
syukur kau pintar bahasa cinta
maka kau akan menjadi dewa
seperti dijanjikan kitab sastra jendra
dan kau boleh keluar masuk kahyangan
menyelinap ke dalam bilik para bidadari
(asal kau jangan cluthak mengintipnya
ketika mereka sedang lukar busana)
apalagi coba-coba merekamnya dengan
pen-cam yang kau sembunyikan
di dalam saku celana

lalu penting pula kau belajar denah
agar tidak kesasar ke masa lampau
atau ke masa yang akan datang yang
pasti akan melemparkanmu dalam kondisi babakbelur

sabarlah barang sejenak di luar gerbang
jika darah putih mengalir
itulah darah kera suci utusan dewa
yang kalah melawan tenaga sapi durhaka
maka jangan tergesa masuk jangan sok pahlawan
jika darah merah yang mengalir
sapi itu pasti sudah disembelih
dikorbankan

kau mesti selalu waspada
dan berhati-hati
apalagi jika sudah kau temukan wot ogal-agil
itu batas antara surga dan neraka
(dalam pengertian sembeling-mbelingnya)
sebab di situlah kau akan mengaca
dan akan kau dapati dirimu
yang sebenar-benarnya
tidak ada lagi topeng bisa membantumu
maka akan kausaksikan pemandangan
yang pasti mengejutkanmu dalam
sukacita maupun dalam sedih dan nelangsa
sebab kau akan tahu
kau berwajah arjuna
atau rai kera

jika ada hujan atau gerimis
jangan cemas
kau tidak akan makin kesepian
atau makin kedinginan
basah juga bukan sesuatu yang menakutkan

jika sepoi angin yang kau rasakan
berilah ia salam dan jika kau diizinkan menumpang
itu lebih berharga
daripada delapan tahun petualangan


2004

terus....?

IBU

pada waktu kecil aku bukan anak yang ekspresif
tidak mudah menyatakan diri
menceritakan pengalaman
mengungkap kesedihan atau kegembiraan
atau keinginan-keinginan
dengan bahasa kata-kata yang jlentreh


maka ketika menginginkan baju baru
aku akan jatuh sakit
biasanya setingkat demam
: mbriyeng atau ngelu

dan ibu biasanya buru-buru
mengorek keterangan dariku
lebih dari seorang dokter
mewawancarai pasiennya:

pengin makan apa?
dibikinkan jenang sungsum ya?
tidur kelon simbah atau kelon ibu?

lha pengin apa?
apa pengin baju baru?

aku sudah lupa
apakah aku menjawabnya dengan kata-kata
anggukan kepala
atau dengan sebersit senyum penuh makna

keesokan harinya kudapat baju baru
dan berbunga-bungalah hatiku
dan tak sempat berpikir
apakah uang simpanan atau ngutang tetangga
yang digunakan ibu
buat beli baju baruku

dan seperti dalam pertunjukan sulap
demam pun lenyap
dalam sekejap
makanan yang beberapa hari bagaikan kupantang
pun segera kulahap

maka malam itu sebelum lelap
dengan erat ibu memelukku sambil berucap
: maafkan ibu nak, ya?
ibu tak tahu kalau ternyata kauinginkan baju yang baru

--maka sambil mengenang petikan kisah mengharu-biru itu
kini ketika uban mulai tumbuh di ketiakku
hampir pingsan aku justru saat menyadari
belum sempat kubisikkan permohonan maaf
kepada ibu
dengan takaran dan timbangan seperti yang pernah
ia bisikkan di telingaku


Trenggalek, Januari 2010

terus....?

ALANGKAH INDAH

angin dan hujan
sesore berkejaran
kemudian bergumul
di bibir malam

di dalam gelap
mereka berpagut
seperti saling renggut
dalam persenggamaan
yang khidmat


sayap yang basah
dan dingin yang dipanggang gairah
: tarian ranting dan dedaunan

alangkah indah!
tak ada lenguh
tak ada desah
apalagi peluh
dan bantal yang basah

kabut pun tertegun
sebegitu ngungun

mari kita bersiap
menyambut kelahiran
: pagi yang cerah

masihkah kita punya
mimpi yang begitu indah?


02 JAN 2010

terus....?

Membina(sakan) Kesenian Tradisional

Berbagai jenis kesenian tradisional kita keadaannya semakin menyedihkan. Di Surabaya, ludruk sudah hampir tamat. Untung masih cukup berjaya di Mojokerto, Jombang, dan sekitarnya. Ketoprak juga nyaris, kalau bukannya sudah: tamat. Wayang orang, apalagi! Dan sekian banyak jenis kesenian tradisional, seperti: kentrung, terbang jedhor, kuda lumping, reog, dongkrek, dan sebagainya, seolah-olah sudah tinggal di dalam museum tanpa perawatan yang memadai. Tragisnya lagi, museum itu bernama: masyarakat pendukungnya sendiri!


Kita lalu marah bukan main ketika mengetahui ada gelagat atau tanda-tanda bahwa kesenian tertentu diakui sebagai milik bangsa lain. Tetapi, kita sering hanya tampak seolah-olah berupaya, berjuang, untuk membuat keadaan kesenian tradisional itu lebih baik. Ada beberapa gambaran menarik terkait upaya yang menurut hemat saya hanya lebih tampak sebagai upaya ’seolah-olah’ mendorong perkembangan dan memerkuat kedudukan kesenian tradisional, tetapi sesungguhnya cenderung membina… sakan!

Suatu saat, seorang kawan mengirimkan kabar: ’’Ini saya sedang berada di TMII (Taman Mini Indonesia Indah), sedang menonton pagelaran kesenian (tradisional) dari kampung halaman (kabupaten, Bon.) saya. Wah, seru deh! Ada bupatinya, gubernurnya, dan ada pula duta besar negara sahabat ikut menyaksikan langsung. Saya benar-benar bangga….’’

Dalam posisi demikian, saya bisa juga bangga, tetapi segera bertanya: Dalam hal kesenian dari daerah dipentaskan di Jakarta seperti itu, ditanggap (segala ongkos ditanggung Jakarta) ataukah atas nama promosi dan sejenisnya yang biayanya ditanggung oleh mereka (daerah) yang sudah berpeluh-peluh itu? Tak lama kemudian saya pun mendapatkan jawaban bahwa ternyata yang terjadi adalah proyek promosi. Daerahlah yang membiayainya. Dan, siapa yang mendapatkan keuntungan lebih banyak, termasuk secara material dari tiket masuk TMII itu?

Promosi, apalagi jika harus membayarnya dengan mahal, tentu tidak harus selalu ke Jakarta. Menyelenggarakan festival di masing-masing daerah, menggelar pelatihan, mengirimkan para pelaku seni untuk mengikuti kegiatan-kegiatan demi peningkatan kualitas kesenimanan mereka, dan mengadakan kegiatan penguatan/pemberdayaan terhadap sanggar-sanggar atau komunitas-komunitas kesenian tentu akan jauh lebih bermanfaat.

Dan jangan lupa, bangun website (laman) yang isinya memadai. Kalau tidak bisa membeli domain yang berbayar, pakai yang gratisan juga bisa, kan? Ini tampaknya perlu uluran tangan pihak-pihak yang mau peduli, karena sebagian besar pelaku kesenian tradisional belum melek teknologi informasi.

Untuk memromosikan kesenian tradisional ke luar negri secara murah-meriah, kita bisa menggunakan jasa para TKI kita yang bekerja di luar negri, terutama: Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong. Saya melihat di Hong Kong, beberapa komunitas kesenian yang dibentuk oleh para perempuan pekerja rumah tangga asal Indonesia dengan sukarela, tanpa dibiayai pemerintah, menampilkan berbagai jenis kesenian tradisional kita: gemblukan, kuda lumping, dan banyak tarian khas daerah. Mereka juga ambil bagian, misalnya, dalam Festival Wan Chai, yang tentunya digelar oleh pemerintah setempat. Maka, kalau kita mau memberikan sebentuk perhatian, sedikit sajalah, buat mereka, pastilah hasilnya akan jauh lebih menggembirakan.

Kembali ke soal festival, selain berpotensi didatangi orang dari luar daerah (menjadi promosi wisata), festival juga akan merangsang terciptanya efek (positif) karambol bagi sektor lain, misalnya sektor perekonomian. Maka, kalaulah harus mahal, uang yang dikeluarkan untuk sebuah festival akan beredar di daerah setempat, dan bukannya masuk ke kantong pusat (baca: Jakarta).

Mengirimkan seniman dadakan untuk acara-acara di luar daerah atau di luar negri bisa pula menimbulkan akibat yang tidak baik terhadap kehidupan seni tradisional. Dengan demikian, terkesan para seniman dadakan difasilitasi, sementara para seniman asli-nya hanya bisa gigit jari. Para dalang di kampung juga sering mengeluhkan bahwa, kalau untuk acara Agustusan yang minim dana, mereka dikerahkan. Tetapi, giliran ada acara yang ’basah’ diundanglah dalang terkenal.

Ada contoh yang masih hangat, dalam peringatan Hari Jadi Jawa Timur beberapa waktu lalu bukan dalang lokal (Jawa Timur) yang ditanggap, melainkan Ki Anom Suroto dari Solo. Dan tentunya, yang dimainkan adalah wayangan gaya Jawa Tengah (Surakarta). Hal demikian mencerminkan tiadanya rasa bangga sebagai wong Jawa Timur yang memiliki seni pakeliran wayang gagrag Jawa Timur, bukan?

Jangan-jangan, Panitia Hari Jadi Jawa Timur memiliki pola pikir yang sama dengan sebagian masyarakat (seperti pernah dituturkan seorang dalang) bahwa pakeliran gagrag Jawa Tengah itu lebih mriyayeni karena bahasanya yang ’halus’ sedangkan pakeliran gagrag Jawa Timur itu ’kasar’. Jika demikian halnya, sadar atau tidak, sedikit-banyak mereka telah ambil bagian dalam (upaya) membinasakan kesenian tradisional bernama: Pakeliran Wayang Gagrag Jawa Timur. [bonarine@gmail.com]


Kompas Jatim, Selasa, 22 Desember 2009

terus....?
 

JUNTRUNGAN: | Sanggarmaya Sastra Jawa Modern | forumbudaya buruhmigran indonesia | forumpembaca majalahpeduli | Kampung Halamanku | Departemen Koperasi-UKM | Menko Kesra | Departemen Perindustrian | Departemen Perdagangan | Departemen Kehutanan | Badan POM | Departemen Kehakiman | Departemen Pariwisata | Departemen Pertanian | Jawa Tengah | Jawa Timur | Pemda Yogyakarta | Badan Pertanahan Nasional | MEDIA: Jawa Pos | Kompas | Detik | Suara Merdeka | Kedaulatan Rakyat | Solopos | Surya | Sinar Harapan | PERORANGAN: | R Giryadi | Suparto Brata | Siti Aminah | Mashuri | Budi Darma | Etik | Rie | Singkar | warungfiksi | Dana |