Sunday, 30 December 2007

Yang Dijejali Pernyataan Klise dan yang Sepi Pejabat

Pameran Foto BMI-HK: Tulungagung, Tangerang, Jember

SETELAH Surabaya dan Trenggalek, hingga saat ini sudah 3 lokasi dipameri foto BMI-HK: Balai Rakyat Tulungagung, Jawa Timur --bekerja sama dengan Radar Tulungagung (17 – 18 Nov 2007), BLK-LN (PT Yonasindo Intra Pratama) di Tangerang, Banten (7 – 8 Desember 2007), kemudian di Gedung Poma Fakultas Ekonomi Universitas Jember, Jawa Timur --bekerja sama dengan SBMI Jawa Timur (17 – 18 Desember 2007). Seperti yang sudah-sudah, di sela-sela Pameran Foto diselingi diskusi.

Di Tulungagung, diskusi dihadiri pula oleh pejabat dari Disnaker setempat (walau bukan Kadisnaker-nya), pejabat eksekutif (walau bukan Bupati-nya), dan beberapa orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Tulungagung.

Pada sesi diskusi di Tulungagung, lagi-lagi terlontar pernyataan pejabat yang terasa sangat klise, yang lebih merupakan pesan agar para calon buruh yang memilih luar negri sebagai tempat tujuan mendapatkan pekerjaan memilih PJTKI yang benar-benar legal, bonafid, dan tepercaya. Pernyataan atau pesan seperti itu sekaligus mengabarkan kepada kita bahwa di tengah-tengah masyarakat masih terus berlaku perekrutan calon buruh migran yang direkrut secara tidak sah dan kemudian berangkat ke luar negri secara illegal. Maka, tampaknya kita perlu balik berpesan kepada para pejabat itu agar dalam upaya ’’melindungi segenap warga negara’’ pemerintah secara preventif melakukan upaya-upaya agar para perekrut illegal itu tidak berkeliaran di tengah-tengah masyarakat.

Persoalan berikutnya adalah, jika kemudian ternyata si calon buruh migran pun tahu bahwa ia akan diberangkatkan secara illegal dengan segenap risikonya dan tetap saja memilih jalan itu, pastilah di balik semua itu ada persoalan yang sungguhsungguh kompleks sifatnya, yang dijamin tak akan pernah tuntas hanya dengan imbauan-imbauan atau pesan-pesan.

Yang benar-benar beda rasanya adalah yang di Tangerang, ketika foto-foto BMI-HK dipamerkan di BLK-LN (PT Yonasindo Intra Pratama), para calon buruh migran yang akan diberangkatkan ke Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Hong Kong sangat antusias mengamati foto demi foto yang dipamerkan. Apalagi ketika Ayu Andini --Kepala Cabang Jawa Timur yang mengundang Panitia Pameran Foto HK dan TKI Kita untuk berpameran di Tangerang itu-- meminta beberapa calon buruh migran yang pernah bekerja di HK untuk menjelaskan beberapa foto yang ditunjuk dan diberi hukuman menyanyikan sebuah lagu atau berjoget ketika keterangannya dinilai salah. Suasananya menjadi sangat hangat.

Pertanyaan-pertanyaan dari para calon buruh migran itu pun mengalir, baik dari mereka yang akan ke HK maupun ke negara lain. Salah satu pertanyaan yang cukup berkesan adalah, ’’Pak, tadi dikatakan bahwa di Hong Kong ada hal-hal negatif dan ada pula hal-hal positif. Manakah yang lebih kuat atau lebih banyak? Negatifnya atau positifnya?’’ Wah, ini pertanyaan yang memerlukan riset atau penelitian khusus untuk bisa menjawabnya. Maka, jawaban sementara yang bisa dikemukakan adalah, ’’Untuk sementara ini tampaknya skor-nya masih 1:1. Nah, oleh karena itu adalah tugas Anda, khususnya yang akan berangkat ke HK untuk kemudian membuat skor itu berubah menjadi 2:1, 3:1, 4:1 dan seterusnya untuk kemenangan hal-hal yang positif.’’ Bukan jawaban yang pasti, tetapi mereka tampak memahaminya, dan menunjukkan ekspresi: puas.

Lain di Tulungagung, lain di Tangerang, lain pula di Jember. Diskusi di sela-sela Pameran Foto BMI-HK di Jember semula dimaksudkan berjalan dengan topik ’’BMI HK Nyastra’’. Tetapi, karena sebagian besar yang hadir adalah para mantan BMI, aktivis perburuhan, dan mahasiswa Fakultas Ekonomi UNEJ (kalau ada mahasiswa Fakultas Sastra, agaknya cuma seorang dua orang) diskusi pun meluncur ke persoalan-persoalan di luar sastra. Tetapi, lumayanlah. Setidaknya, pernyataan-pernyataan yang sangat benar tetapi sekaligus terasa sangat klise seperti di Tulungagung tidak terulang lagi. Kalau ada yang terasa mengganjal di Jember adalah ini: Mengapa tak seorang pun pejabat di lingkungan Pemkab Jember tertarik untuk melihat foto-foto BMI-HK ini ya? [Catatan Bonari Nabonenar]


Sumber: Tabloid Intermezo, Desember 2007

Jangan Pandang Enteng Pramuwisma

DALAM sebuah ’surat pembaca’- nya bertajuk Sastra Serendah TKI yang tampil di Kompas [Jawa Timur] Kamis, 23 Juni 2005, penyair, cerpenis, esais, novelis: Viddy AD Daery mengeluh karena media tidak antusias memberitakan keberangkatan Sastrawan Indonesia ke luar negeri. Ia mencontohkan Kompas yang memberitakan keberangkatan pelukis Indonesia ke luar negeri dengan penghormatan dan kebanggaan (menurut istilah Viddy). Sementara keberangkatan sastrawan ke luar negeri (Viddy menyebut dirinya sendiri sebagai contoh sastrawan yang sering diundang ke luar negeri) cenderung didiamkan. Pada akhirnya Viddy menulis, ’’Apakah saya adalah sekadar TKI (Tenaga Kerja Indonesia, pen.) sastra?’’

Memang tidak terungkap secara eksplisit, tetapi cara pandang seperti tecermin pada kalimat-kalimat yang ’membandingkan’ TKI dengan sastra(wan) cenderung menimbulkan perkara. TKI adalah sumberdaya manusia Indonesia yang bekerja di luar negeri (lha,kalau yang bekerja di dalam negri lalu disebut apa?), sering juga disebut dengan istilah buruh migran. Mereka bekerja di berbagai sektor: industri, rumah tangga, entertaintment, pendidikan, dan tidak tertutup kemungkinan di bidang seni, sastra. Jadi, dengan cara pandang demikian, ketika seseorang diundang ke luar negeri untuk menjadi narasumber dalam sebuah seminar sastra atau tampil mempresentasikan karya-karyanya dengan upah, ia tak kurang dan tak lebih adalah seorang TKI (sastra) juga!

Barangkali TKI yang dimaksudkan dalam surat pembaca itu adalah orang Indonesia yang bekerja di luar negeri di sektor-sektor yang biasanya dipandang rendah: buruh pabrik, domestic worker (pekerja rumah tangga). Sayangnya, di dalam kamus bahasa Indonesia telanjur ada kata ’babu’ untuk menyebut: pekerja rumah tangga, pramuwisma, pembantu rumah tangga, alias domstic worker itu, yang nilai rasanya memang sangat negatif, merendahkan.

Masyarakat awam dengan segenap konstruksi budayanya hingga kini memang masih memandang rendah orang-orang yang bekerja sebagai buruh pabrik, pramuwisma, dan semacamnya. Bahkan, pemerintah pun tampaknya memiliki cara pandang yang kurang-lebih mirip dengan cara pandang masyarakat awam: ’’tidak menghormati’’ para buruh sebagai manusia, warga negara, yang betapapun di atas kertas, oleh undang-undang, dijamin sama hak dan kewajibannya di hadapan hukum. Tengoklah, seorang Presiden Philipina keraya-raya datang dan mengurus sendiri salah seorang warganya, seorang domestic worker, yang sedang terancam hukuman mati di negara lain. Lalu lihatlah ’diri kita sendiri’! Dalam sepekan (antara Minggu ke-2 dan ke-3 Juni 2005) ada dua paket peti mati mendarat di Bandara Juanda (dari Hong Kong). Sebuah peti mati berisi jenasah seorang domestic worker asal Banyuwangi yang terjatuh dari apartemen majikannya, dan sebuah peti mati lagi berisi jenasah seorang domestic worker asal Trenggalek yang meninggal karena kecelakaan lalu-lintas (tertabrak truk). Beberapa waktu lalu Ponorogo juga mencatat kematian 4 orang buruh migran dalam kurun waktu yang sangat berdekatan. Mereka hanya dicatat sebagai angka-angka. Kita seolah tak pernah merasa berduka. Padahal, para buruh migran, TKI (tentu juga termasuk TKI ilegal) adalah penyumbang devisa terbesar setelah sektor migas!

Lebih fatal lagi jika kaum cendekiawan, termasuk sastrawan yang seharusnya sangat tajam rasa kemanusiaannya, memandang rendah TKI atau buruh migran. Atas dasar apa mereka dipandang rendah? Dari segi pendapatan, gaji seorang pramuwisma di Hong Kong sekarang ini adalah 3.320 dolar Hong Kong (1 dolar senilai dengan sekitar Rp 1.200,00). Coba, berapa rupiahkah gaji seorang dosen yang bahkan menjabat pula sebagai Ketua Dekan di perguruan tinggi negeri di Indonesia?

Jika kita menilainya dari sisi ’’bekerja di bawah tekanan’’ (majikan) pun justru makin jelas bahwa tak ada alasan untuk memandang rendah TKI. Karyawan, pegawai (tak kurang dan tak lebih adalah buruh juga) di Indonesia, baik yang bekerja di sektor swasta, semiswasta, maupun negeri, jangankan yang golongan rendah, yang disebut sebagai pejabat pun, mereka bekerja di bawah tekanan. Mundhuk-mundhuk-nya kepada atasan sering melampaui mundhuk-mundhuk-nya seorang pramuwisma terhadap majikannya! Tidak jarang pula pejabat yang suka ’menjilat’, bukan? Juga, tingkat ketakutan mereka akan kehilangan jabatan tak jarang melebihi tingkat ketakutan pramuwisma terhadap ancaman pemecatan dari majikannya.

Akan lebih bodoh lagi jika kita terburu-buru percaya kepada statistik yang mengatakan bahwa para perempuan yang berbondong-bondong keluar negeri untuk mengisi lowongan pekerjaan sebagai pramuwisma itu berpendidikan rendah. Jangan salah, data-data bisa diubah dengan gampang. Catatan mengenai alamat, usia, pendidikan terakhir bisa dipalsukan (baca: Catatan Harian Seorang Pramuwisma, Rini Widyawati, JP-BOOKS, 2005). Banyak sarjana, bahkan dari perguruan tinggi paling ngetop di Indonesia, yang kemudian bekerja sebagai pramuwisma di luar negeri. Mereka itulah yang antara lain muncul sebagai kelompok yang kritis, mendirikan LSM untuk memperjuangkan keadilan bagi diri dan rekan-rekan mereka karena merasa tidak ada pihak lain (jangan-jangan termasuk pemerintah) yang benar-benar peduli terhadap nasib mereka. Jadi, perempuan-perempuan pramuwisma di luar negeri itu bukanlah kelompok manusia yang pantas diperbudak atau diperbabukan.

Nah, ini yang tak kalah menarik: di Hong Kong ada kelompok-kelompok pramuwisma yang memiliki ketertarikan pada dunia penulisan. Bahkan Forum Lingkar Pena (FLP) yang dikomandani Helvy Tiana Rosa (sastrawati, anggota DPR-RI) memiliki cabangnya pula di Hong Kong. Ada lagi Café de Kosta, semacam forum penulis yang dikomandani Ida Permatasari, perempuan asal Blitar yang bekerja sebagai wartawan Berita Indonesia di Hong Kong. Pada tanggal 10 Juli 2005 Café de Kosta akan menggelar workshop penulisan dengan mendatangkan 2 orang narasumber dari Jawa Timur: Bonari (Surabaya) dan Kuswinarto (Malang).

Ada setumpuk karya mereka: opini, cerpen, novelet, laporan jurnalistik, yang sempat membuat terperangah. Mereka benar-benar hebat. Nama-nama: Ida Permatasari, Wina Karnie, Etik Juwita (Blitar) Dian Lili Hartati, Tarini Sorrita (Jawa Barat), Hartanti (Ponorogo), Lik Kismawati (Surabaya), Tania Roos, Mega Vristian (Malang) dan lain-lain adalah nama-nama yang layak diperhitungkan, yang selama ini belum sempat terekspose. Mereka punya potensi luar biasa, termasuk potensi melahirkan sarjana sastra (sosial). Karya-karya mereka adalah bahan kajian yang tentu sangat penting, menarik, yang selama ini bagaikan rimba raya yang belum sempat terjamah.

Tentu, jangan abaikan pula ’alumnus Hong Kong’ Denok Rokhmatika (cerpenis), dan Rini Widyawati yang telah melahirkan buku Catatan Harian Seorang Pramuwisma.

Tarini Sorrita yang kini juga sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpennya, bahkan sudah pula menyusun buku kumpulan esai dalam bahasa Inggris berjudul Big Question dengan subjudul yang kurang lebih berarti: Jangan Pandang Enteng Pramuwisma. Nah! []

TKI Hong Kong Nge-Blog, Wouw!


Rubrik Baru di Majalah Peduli

KETIKA salah seorang kawan kita (TKI-HK) pamit ke warnet, tampaknya, sebagian besar dari kita, atau, yang pertama-tama terlintas di benak kita adalah: ia sedang ada janjian untuk sebuah pertemuan di dunia maya dengan sang pacar, entah yang fisiknya ada di Korea, Indonesia, Jepang, atau di belahan lain bumi ini. Kecenderungan demikian tampaknya memang sebegitu kuatnya, sehingga ditangkap oleh para pemilik warnet yang kemudian menerjemahkannya dengan: menyekat-nyekat setiap unit komputer yang disewakan dengan korden. Chatting. Atau obrolan di dunia maya. Namanya juga obrolan, apa pun bisa jadi bahan, dari hal-hal yang dipandang umum sebagai positif sampai ke hal-hal yang biasanya dinilai negatif.

Oke. Itu, sebuah kecenderungan, berdasarkan asumsi kita, yang boleh jadi luput, sebab kita tidak melakukan penelitian yang benar-benar sistematis. Maka, marilah kita lihat pula fakta bahwa tak sedikit TKI-HK yang datang ke warnet, atau memasuki dunia maya memakai komputer sendiri (laptop) di rumah majikan di malam yang sudah me-nyepi. Berburu kabar dari tanahair melalui situs-situs media cetak maupun elektronik, menuliskan catatan harian, cerita, bahkan juga berita, atau suntuk membangun rumah maya, situs, blog, atau apalah sebutannya yang benar-benar pas.

Beberapa waktu lalu banyak orang terkejut ketika mendengar kabar bahwa banyak TKI-HK bisa menulis dan menerbitkan buku. Apalagi setelah membaca buku-buku itu. Kini, mereka boleh terkejut lagi dengan kenyataan bahwa ternyata buanyak banget TKI-HK yang memiliki rumah maya, atau situs pribadi. TKI-HK nge-blog? Wouw. Bener-bener keren!

Jangan dimasukkan ke dalam hati jika ada yang mengolok-olok, misalnya begini, ’’Bikin situs pribadi? Hueh, narsis amat sih!’’ Atau begini, ’’TKI saja kok kakehan punika, bikin situs-situs segala!’’ Tak perlu diladeni. Orang yang berani mengeluarkan olok-olok seperti itu pastilah benar-benar katrok, betapa pun anggun, gagah, atau elegan penampilannya, betapa pun terhormat status dan betapa pun tinggi pangkatnya. Pengolok itu pastilah termasuk golongan orang-orang yang oleh Ki Djaka (salah seorang pembicara di dalam diskusi Orang Kampung dan Globalisasi di Trenggalek beberapa waktu lalu) disebut sebagai: bagus (kalau memang bagus, Bon) cuma di cassing-nya saja! Wathatha….!

Tampaknya Suparto Brata (sastrawan Jawa/Indonesia) yang baru saja menerima The SEA Write Award makin menyadari betapa pentingnya membangun rumah maya setelah para peneliti asing (terutama dari Belanda dan Australia) sering mengunjungi rumah nyata-nya di kawasan Rungkut Asri Surabaya itu. Maka, dibangunlah rumah maya dengan membeli domain: dot com, maka, kini kita bisa mengunjunginya, alamatnya, http://www.supartobrata.com/.

Pak Parto itu bolehlah dibilang sudah tua (kalau dinyanyikan jadi: Pak Parto sudah tua…) sebab umurnya sudah melewati angka 70. Tetapi, ia tidak mau ketinggalan zaman. Di awal 1990 ketika menjadi Redpel Tabloid Jawa Anyar di Solo, Pak Parto masih suka menggunakan mesin ketik manual, padahal kantor menyediakan komputer. ’’Rangkaian bunyi ketukan jari saya itu terdengar indah,’’ begitu katanya. Saya mendengarnya, dan memang Indah. Tetapi, rangkaian bunyi ketukan jari Moch. Nursyahid Purnomo di key-board komputernya (Pak Nur itu ngetiknya di komputer, tetapi kekuatan jarinya seperti tak kurang dari kalau ia ngetik pakai komputer manual) ternyata tak kalah indah! Demikianlah, yang pasti beberapa waktu setelah Jawa Anyar berhenti terbit, kira-kira pada pertengahan tahun 90-an itu saya dengar dari Pak Parto bahwa ia sudah mengetik dengan komputer. Lalu, tak lama lagi ia kabarkan bahwa ia punya e-mail.

Anehnya, ada pengarang yang sudah familiar dengan komputer, dari generasi yang jauh lebih muda, tetapi tampak alergi dengan kecanggihan teknologi informasi. Kalau ada orang bicara tentang situs, web, portal, e-mail, dan segala macam hal yang berkaitan dengan internet, ia tak segan-segan mengungkapkan ketidaksukaannya. ’’Aku ora nyandhak Bon, nek kowe ngomongke bangsane mai’il-ma’il utawa net-netan ngono kuwi. Ngomongke liyane waelah!’’ (Aku tak nyambung Bon, jika kau bicara tentang email atau internet seperti itu. Bicara soal lain sajalah!). Kalimat itu tidak dikemukakan dalam sebuah pembicaraan empat mata, melainkan dalam sebuah acara pertemuan para pengarang. Cilaka bangetlah! Maaf, ini sudah benar-benar ngelantur!

Di Indonesia, komunitas bloger makin membesar. Beberapa kali mereka mengadakan jumpa darat. Dan, konon sudah banyak bloger yang mengaku telah mendapatkan manfaat positif, bahkan dalam segi keuangan, dari situs yang dibangunnya.

Saya membayangkan sekian banyak manfaat jika suatu ketika nanti para TKI-Bloger-HK membentuk sebuah komunitas tersendiri, sesekali mengadakan jumpa darat, untuk saling asah, membangun suasana yang inspiratif, untuk semakin mempercantik/memperbagus tampilan situs masing-masing dan memperkaya isinya.

Situs Kita di Peduli

Itu hanya sebuah tawaran. Akhirnya, terserah kawan-kawan semua. Apakah kemudian merasa perlu membangun komunitas itu di HK atau tidak. Tetapi, Majalah Peduli (edisi November 2007) ini akan memulai langkah kecil dengan membantu memperkenalkan situs/blog para TKI-HK itu. Maka, kita tunggu saja situs/blog milik siapa yang bakal nongol untuk pertama kalinya!

Sumber: Berita Indonesia

Pahlawan Devisa dan Oknum Mata Duitan



BANYAK TKI-HK yang pernah pula berpengalaman bekerja di negara lain seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, mengakui bahwa di Hong Kong lebih ’enak’. Selain dapat libur dan gaji yang terbilang cukup besar, juga leluasa berorganisasi, dan bahkan meningkatkan potensi diri dengan mengikuti beraneka kursus, dan bahkan berkuliah! Kenyataan seperti itu, ditambah lagi apa yang tampak pada para TKI-HK yang biasanya ditemui dan dijadikan referensi tunggal para pejabat dari Indonesia yang sedang berkunjung sambil mencari masukan mengenai keberadaan TKI-HK, sering memperkuat anggapan yang keliru. Pikiran atau anggapan keliru itu diperparah lagi oleh dasar berpikir, maaf, kebanyakan para pejabat yang menyandang amanat mengurusi soal-soal per-TKI-an.


Bahwa di HK kebanyakan TKI kita tampak lebih sejahtera dibanding di negara lain, boleh jadi memang iya. Tetapi, ATKI-HK misalanya, menyatat bahwa angka underpay pernah menyentuh angka di atas 50% dari total TKI-HK yang di atas 100 ribu orang itu. Apalagi jika kita mau datang ke setiap selter yang biasanya menampung TKI yang sedang memerkarakan majikannya karena berbagai pelanggaran hukum, dan bahkan tak jarang pula menanggung memar dan luka-luka akibat ulah majikan. Ada lagi, bisa jadi juga tak sedikit, TKI-HK yang diinterminit majikannya sebelum bisa melunasi utangnya ke PT yang puluhan juta rupiah itu. Sudah kehilangan pekerjaan, dan bersama seluruh keluarganya harus diuber-uber jurutagih yang biasanya bersikap kasar, minimal dalam ucapan. Soal dapat libur? Ternyata juga tak semua TKI-HK dapat libur sesuai dengan peraturan. Ada yang dapat liburnya hanya sehari dalam sebulan, ada yang dua hari, tetapi juga ada yang tak dikasih libur samasekali.


Satu hal yang menarik, adalah pernyataan hampir semua TKI-HK, termasuk yang diinterminit dan kemudian sempat hadir dan memberikan keterangan di Festival Sastra Buruh (Blitar, 31 April – 1 Mei 2007) bahwa Pemerintah HK sebenarnya telah membuat peraturan yang sangat melindungi para pekerja asing, termasuk para TKI. Urusan per-TKI-an selalu menyangkut persoalan dua negara yakni negara pengirim dan negara penerima. Maka, negara penerimakah, atau negara pengirimkah, yang paling berpotensi memberikan peluang bagi terjadinya hal-hal buruk yang menimpa para TKI, sekali lagi, dalam hal ini TKI-HK?


Oke, anggaplah ini sekadar asumsi. Asumsi bahwa negeri kita, Indonesia, masih jauh dari cukup melindungi para warganya yang terpaksa mencari pekerjaan di luar negri. Oleh karenanya disosialisasikanlah sebutan ’’pahlawan devisa’’ itu (mirip-mirip sebutan bagi guru sebagai ’’Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’’ –yang bahkan dibuatkan pula lagunya) seolah –dan bisa jadi memang-- hanya sebagai kata-kata penghibur yang sekaligus mencerminkan bahwa mereka, para oknum yang suka mengumbar kata-kata itu, sungguh-sungguh sebegitu mata duitan-nya! []

Sumber: Tabloid Intermezo, September 2007

IPUNK


HINGGA kini saya tak tahu apakah nama populer yang disandangnya itu adalah nama aslinya juga. Ia seorang perempuan yang tampaknya gemar tampil tomboi. Ketika saya datang ke HK tahun 2005, seingat saya, ia bergabung dalam sebuah grup band bentukan para TKI-HK, yang, entah karena apa, kabarnya grup band itu kini telah bubar. Ia hampir selalu saya jumpai di mana pun ada kegiatan TKI, apakah diskusi, workshop penulisan, dan lain-lain. Ia seorang aktivis dalam arti yang sebenar-benarnya. Masih sangat muda dan selalu tampak enerjik. Ialah Ipunk.

Hari itu, 19 Juni 2007, siang sudah menggelincir menuju sore, tetapi panas masih menyengat kawasan Taman Victori. Setelah bersama Mbak Santi, Mas Afandi, Mbak Mega, Lala, dan Mbak Tri menonton Festival Perahu Naga di Discovery Bay, kami sepakat ngumpul-ngumpul dan ngobrol bareng di Taman Victori. Ternyata Mbak Mia (Sumiati) Ketua KOTKIHO yang baru mendarat dari Filipina, Etik Juwita, Wina Karnie, dan beberapa nama lain segera bergabung. Obrolan berlangsung gayeng, dari soal perburuhan hingga soal kesenian. Paparan Mbak Mia mengenai kebijakan Pemerintah RI dalam hal perburuhan, dari soal potong gaji oleh agen hingga upaya perlindungan terhadap para buruh tentulah paling menyentuh persoalan-persoalan TKI-HK.

Mbak Santi dan Mas Afandi bicara seputar kesenian, dalam hal ini seni menulis sebagai sebentuk alat perjuangan, perjuangan hidup dan tentu saja khususon-nya sebagai sarana perjuangan kaum buruh. Begitu pula Mbak Mega, paparannya tak jauh-jauh dari wilayah penulisan kreatif. Yang mengejutkan saya, seseorang yang pada awalnya tidak saya duga akan jadi semacam narasumber dalam obrolan (diskusi tidak resmi) itu didaulat berbicara oleh pemrakarsa diskusi –Mbak Mega yang menyebarkan undangan melalui SMS berantai— dan dengan bicaranya yang lugas dan kalem menyentak batin saya. Semacam narasumber ini ialah Ipunk.

Ipunk tidak bicara soal teori. Tidak pula bicara soal kebijakan Pemerintah RI. Ia secara lugas menuturkan pengalaman kreatifnya, bagaimana ia mulai belajar menulis, termasuk menulis puisi, berkali-kali ditolak redaksi, hingga kemudian satu demi satu karyanya bermunculan di media cetak, baik yang beredar di HK maupun di Indonesia. Tidak berhenti di sini tuturan Ipunk. Ia yang mengaku ingin membuka mata publik bahwa tomboi itu tidak harus selalu identik dengan hal-hal negatif, mengajak pula teman-temannya yang juga suka tampil tomboi untuk berkreasi. Khususnya menulis puisi. Lalu, dikoleksilah puisi teman-temannya itu, dan diam-diam dikirimkan ke berbagai media yang telah memuat karyanya.

’’Saya akui, banyak teman-teman tomboi yang tadinya sukanya mendem (mabuk) kalau ada waktu luang. Kalau hari libur. Saya sangat prihatin melihat keadaan mereka. Apakah tidak ada hal positif yang bisa dilakukan?’’ tutur Ipunk.

’’Maka, katika satu dua karya mereka ada yang mulai muncul di media cetak,’’ kata Ipunk lagi, ’’dan saya tunjukkan itu kepada yang bersangkutan, reaksi pertama mereka adalah menangis. Seolah mereka tidak percaya bahwa ternyata mereka punya potensi positif yang bisa dikembangkan, yang lebih mengasyikkan daripada hanya sekadar mabuk-mabukan.

’’Dan alhamdulillah, banyak di antara mereka yang sekarang sudah tidak lagi suka mabuk,’’ imbuh Ipunk.

Ipunk adalah Ipunk, yang tidak tampil sebagai sosok psikolog, psikiater, atau bahkan ustadzah. Ia tampil sebagai seorang perempuan yang bahkan lebih suka bergaya tomboi. Tetapi, ia telah menunjukkan hasil yang nyata dari sebuah proyek yang bila kita beri label pastilah akan berbunyi pula sebagai ’’Pembinaan Mental Spiritual bagi TKI-HK.’’

Mungkin, dan kita berharap, ada banyak Ipunk lain dan akan bertambah dan terus bertambah jumlahnya, di HK, pun di Indonesia. Sebaiknya pula media yang ada di sekitar kita memberi dukungan untuk sosok-sosok semacam Ipunk ini. Tentu akan jauh lebih baik lagi jika ada sistem yang baik untuk memberikan dukungan itu. Di konteks HK, bahkan di Indonesia yang kita cintai dengan sepenuh rasa cemburu, kita belum melihat sistem itu. Kalau pun ada, biasanya masih merupakan kepanjangan dari tangan-tangan dunia di berbagai lembaga swadaya masyarakat. Misalnya berupa program bimbingan, pelatihan (peningkatan SDM), hingga kesempatan untuk mendapatkan beasiswa.

Dimikianlah, jika kita benar-benar peduli, kita mesti menyintai orang-orang yang mau peduli.[]

Sumber: Berita Indonesia

PEMERIKSA GELAP DI BANDARA SOEKARNO-HATTA


SETELAH kenyang begadang di Victoria Park, lelah menjadi dua orang semut di antara jutaan semut lain yang mencungul dari --dan ndlesep ke dalam-- stasiun MTR Causeway Bay, saya dan teman saya, Kuswinarto namanya, terbanglah pulang ke tanah air, seperti dua ekor semut yang dihenyakkan hujan: buru-buru pulang ke sarang.

Dari penginapan kami yang sempit di Paterson Street, kami naik bus dua lantai menuju bandara Chek Lap Kok. Nunggu bus-nya lumayan lama, lebih dari 30 menit. Tetapi, begitu dapat, bus pun meluncur dengan nglenyer, mulus, di jalan yang lapang. Nyaman sekali. Tidak macet, dan sopir pun seperti tak bernafsu untuk ugal-ugalan seperti sopir bus di Indonesia yang selalu kebelet kejar setoran.

Bandara Chek Lap Kok pun menyambut kedatangan kami (yang diantarkan salah seorang dari Panitia Workshop Penulisan untuk BMI HK yang mengundang kami: Ani). Senyum ramah para petugas berseragam rapi pun seperti selalu tersungging, sampai kami berdua masuk lambung pesawat Garuda Indonesia (maskapai yang juga jadi salah satu sponsor workshop itu).

Setelah meluncur di ketinggian standar, menembus gumpalan-gumpalan awan (sekali-sekali terdengar anjuran untuk mengenakan sabuk pengaman –bukan anjuran mengencangkan ikat pinggang, hehe…--karena cuaca memang kurang baik) pramugari pun mengedarkan hidangan pembuka: minuman.

Kopi – Beer

Masalah pertama pun muncul. Saya pesan susu, dan diberinya saya minum susu. Kuswinarto pesan kopi. Eh, lha kok diberi beer! Mungkin pramugari salah dengar. Maka, sayalah yang beruntung: bisa minum susu dan minum beer pula! Teman saya yang satu ini, tentu bukannya tidak tahu ada pepatah, ’’Pembeli adalah raja.’’ Ia tahu ia bisa komplain. Tetapi, itu tidak dilakukannya. Ia lebih memilih berdamai. Ia minum pula minuman yang tidak diinginkannya, tetapi dengan membaginya dengan saya.

Dan Garuda pun hinggap di bandara Soekarno-Hatta dengan mulus. Saat berangkat (8 Juli 2005) kami berdua juga transit di bandara Soekarno-Hatta setelah terbang sekitar 1 jam dengan Garuda. Kami hanya perlu menunggu untuk oper ke pesawat yang lebih besar, sedangkan barang-barang bawaan kami, dipindahkan langsung ke Garuda yang hendak menerbangkan kami ke Hong Kong. Tetapi, pada saat kembali ini, barang-barang harus kami ambil, dan kami urus lagi proses pemindahannya ke lambung Garuda yang akan membawa kami ke Surabaya. Bahkan, sekalian pemeriksaan kedatangan: pengecekan paspor, dilakukan pula di Soekarno-Hatta.

Kami sempat beberapa kali bertanya untuk menemukan tempat pengambilan barang, tempat pemindahan ke pesawat yang baru, dan tempat menunggu untuk masuk ke dalam pesawat. Padahal, beberapa petunjuk telah di pasang dengan kalimat-kalimat bahasa Indonesia, bahasa kami sendiri. Tetapi, kami masih juga bingung. Sempat juga merasa malu sendiri loh! Betapa tidak? Dua orang wartawan terbengong-bengong di bandara di negeri sendiri. Dan bahkan terpaksa nginthil beberapa orang kawan sepesawat yang sedang cuti karena finish kontrak, dan bahkan ada pula yang terpaksa terbang kembali ke tanah air karena di-interminit, untuk tidak tersesat.

(Dari terminal bus Bungurasih (Surabaya) pernah lho, saya bersamaan dengan seorang penumpang yang maunya pulang ke Jember, eh, malah keliru masuk bus yang menuju Jogjakarta! Apa kita bisa masuk pesawat yang salah dan baru sadar ketika burung besi itu sudah menembus kabut, ya? Haha!)

Yang pasti, saat datang, apalagi saat mau pulang balik ke negeri sendiri, kebingungan seperti itu tidak kami alami di bandara Chek Lap Kok (Hong Kong International Airport). Saya masih juga tidak tahu sebabnya. Sya bahkan juga heran, mengapa saya tidak pernah tersesat di stasiun MTR Central, Admiralty, atau Causeway Bay yang serumit itu! Serumit, atau bahkan lebih rumit dari lorong tikus.

Pemeriksa Gelap

Ekspresi kami berdua tampaknya memang terlalu jelas menampakkan kebingungan kami. Mungkin memang tidak separah wajah tarzan masuk kota. Tetapi, jangan lupa, kami merasa gagah dan bahkan sering bersikap kemeruh (sok tahu) sewaktu di Hong Kong. Sedangkan di Jakarta, di ibukota negeri sendiri, lha kok malah merasa asing!

Maka, kami pun tidak pernah menilai negatif siapa pun yang menyangka kami adalah dua orang yang baru saja pulang setelah sekian lama berlayar. Setelah lama terayun-ayun ombak lautan, biasalah kalau kami lalu perlu waktu untuk bisa berdiri dengan mantap di darat. Beberapa orang perempuan yang sedang meninggalkan rumah majikan untuk menengok keluarganya di kampung halaman pun sempat dengan yakinnya menebak kami dengan pertanyaan, ’’Mas ini kerja di pelayaran, ya?’’

Hah? Memang kami ada potongan pelaut? Oh, tahulah kini saya! Bukankah nenek moyang kita memang orang pelaut? Yang tidak saya ketahui adalah pikiran petugas berseragam biru (celana) putih (baju) yang tiba-tiba menghadang kami berdua, setelah beberapa tikungan kami meninggalkan tempat pemeriksaan paspor. Apakah laki-laki berseragam (karena kami juga berjumpa dengan beberapa orang lagi di bandara ini yang mengenakan setelan pakaian yang sama) ini melihat tampang pelaut kami atau lebih membaca kebingungan kami?

’’Mau ke mana, Mas?’’

’’Surabaya,’’ jawab saya, sementara Kuswinarto tetap lengket di samping saya.

’’Surat-suratnya?’’

’’Lho, ada apa, Pak?’’

’’Pemeriksaan.’’

’’Tadi kami sudah melewati pemeriksaan, Pak.’’

’’Ya, tapi ini pemeriksaan lagi.’’

’’Memang apanya, Pak, yang mau diperiksa?’’

’’Paspor?’’

Saya boleh bengong karena berbelitnya denah atau terlalu canggihnya struktur bangunan bandara Soekarno-Hatta. Tetapi saya tidak sebegitu bodoh untuk tidak segera menangkap ketidakberesan ini. Maka, saya pun berakting tolol sekalian, karena laki-laki berseragam petugas di hadapan saya pastilah mengira bahwa saya dan teman saya hanyalah dua orang laki-laki bodoh. Saya berlagak mau ambil paspor yang dibilang mau dia periksa. Saya buka tas pinggang saya, dan saya mengambil sebilah pisau. Eh, bukan! Saya ambil kartu tanda anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) atas nama saya. Dan saya tunjukkan kepadanya.

Laki-laki itu, saya tahu pasti, terkejut bukan main.

’’Oh, ya, ya….! Ke sana…. ke sana….!’’ katanya berbasa-basi menunjukkan arah yang mesti kami tuju, setelah mengembalikan ’’kartu sakti’’ itu kepada saya.

Saya pun hanya bisa mengumpat di dalam hati. Dan tertawa di dalam hati pula. Sedemikian gelinya saya, ternyata laki-laki berseragam itu keburu surut dan mendadak hilang nyali hanya oleh selembar kartu PWI yang masa berlakunya sudah habis sepuluhan tahun yang lalu!

Seikhlasnya – Tidak Ikhlas

Masih ada satu masalah lagi sebelum kami terbang menuju Surabaya pada malam yang hampir bergeser ke pagi hari itu. Ternyata kami masih harus berhadapan dengan petugas penerima barang-barang yang hendak kami masukkan bagasi (petugas yang membubuhi label) yang meminta uang.

Saya tidak dengar seluruh kalimatnya. Saya hanya tahu dia bilang minta uang, lalu dia sebut mobil yang hingga kini juga tak pernah dapat jupahami, mobil apa yang dimaksudkannya. Mungkin juga, maksudnya, ia minta uang transportasi untuk membayar ongkos mobil yang membawa barang-barang itu ke dalam lambung pesawat. Tetapi aturan seperti itu tidak pernah ada sewaktu kami hendak memulai perjalanan udara di bandara Juanda, dan bahkan di Chek Lap Kok (Hong Kong).

’’Berapa sih, Pak?’’ tanya saya berbasa-basi, sebab saya tahu pasti bahwa ini adalah pungutan liar.

’’Seikhlasnya sajalah,’’ jawabnya.

Sempat juga terpikir untuk memberinya selembar puluhan ribu rupiah. Tapi, nah, ini pula masalahnya: saya tidak punya uang receh. Ada beberapa lembar ratusan ribu rupiah di dalam dompet saya, dan selembar HK$ 10 yang eman kalau saya berikan, soalnya sengaja saya simpan untuk kenang-kenangan. Kuswinarto juga tidak punya uang receh.

Maka, kami pun akhirnya pergi dari hadapan petugas yang sebenarnya juga tidak sedang sibuk-sibuk amat itu. Saya pikir, biarlah dia teriaki kami, kalau berani. Eh, ternyata tidak ada teriakan. Dan kami pun meninggalkannya dengan aman. Dia sudah bilang seikhlas kami, dan maaf saja, kami tidak ikhlas kalau harus memberinya ratusan ribu!

Setelah kembali bergabung dengan sekumpulan perempuan ’’pahlawan devisa’’ yang sama-sama hendak menuju Surabaya, saya menyempatkan bertanya kepada salah seorang di antara mereka, ’’Mbak? Sampeyan tadi juga sempat dimintai uang ketika memasukkan barang-barang ke bagasi?’’

’’Dimintai, tapi ya tidak saya beri, Mas. Memang kita ini gudang uang, apa!?’’

Lalu, salah seorang di antara mereka menimpali, ’’Emang dhuwike mbahe sangkil apa!’’ []

Sumber: Tabloid HeLPeR

Buku Luar Biasa


Judul Buku: Anda Luar Biasa!!!
Penulis: Eni Kusuma
Penyunting: Edy Zaqeus
Penerbit: Fivestar Publishing, Tangerang
Cetakan I: April 2007
Tebal: xix + 154 halaman




SETELAH sekian lama mengikuti rekaman pendapat para ahli melalui pemberitaannya di media cetak maupun elektronik ditambah lagi mendiskusikannya dengan teman minum kopi, saya tak juga menemukan jawaban yang pasti, kapan Lumpur Panas Lapindo akan berhenti menyembur. Lhadalah, ternyata jawaban yang sangat memuaskan saya justru berasal dari seorang pekerja rumah tangga (PRT) yang sekian tahun lamanya bekerja di Hong Kong, Eni Kusuma, melalui bukunya Anda Luar Biasa!!! Kata Eni, ’’Sampai kapankah muncratan lumpur panas tersebut akan berakhir? Pastilah kalau keseimbangan atau titik ideal tercapai.’’ (halaman 123).
Itu hanya guyon saya untuk mengawali tulisan ini. Tetapi, memang demikianlah yang ditulis Eni di bawah judul Mestakung (Semesta Mendukung) yang dengan bahasa yang sangat cerdas menguraikan bahwa dalam keadaan krisis seseorang atau apa pun akan mendapat respon berupa dukungan dari semesta untuk menyapai keadaan normal/seimbang. Seperti semangat 26 judul tulisan dalam buku ini, pastilah hal itu dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada pembacanya agar tidak menyerah bulat-bulat terhadap kepahitan, tekanan, penderitaan, maupun hal-hal negatif lain yang menimpa.

Benar-benar luar biasa. Maka, ketika saya dikirimi naskahnya untuk memberikan dukungan (endorsement) saya tulislah, ’’Saya hanya punya dua kata untuk buku ini: LUAR BIASA!!!’’ Itu bukan basa-basi. Maka, jika pada kesempatan ini saya masih tetap saja meneriakkan dua kata itu, bahwa buku ini luar biasa, yakinlah ini bukan karena nama saya dipasang di kaver belakang sebagai salah seorang pemberi dukungan.

Eni, melalui anyaman tuturan yang sangat jernih dan cerdas, dalam rangka memotivasi pembacanya, mengisahkan pula bagaimana ia merangkak dari seorang anak yang terlahir di lingkungan keluarga miskin, dari tangga terbawah (meminjam istilah Eni) yang pernah mendapatkan hukuman di sekolah karena tidak mampu membeli sepatu jenis yang diwajibkan, yang ’terpaksa’ mengurung diri di perpustakaan pada jam istirahat karena malu berkumpul teman, dan memunguti sampah untuk dijual sang ayah sambil mengais bahan-bahan bacaan di TPA yang (mestinya bukan kebetulan) berada di dekat rumahnya itu. Dan kemudian mengikis habis pikiran-pikiran negatifnya, untuk, antara lain, mengubah dirinya dari anak yang gagap menjadi gemar bercerita. Benar-benar luar biasa, dan rasanya tidak berlebihan jika 5 halaman pertama buku ini habis untuk memasang puji-pujian dari para tentor, mentor, dan para sahabat Eni, dari Andrie Wongso, Tung Dasem Waringin, dan lain-lain hingga Zarra Zetira ZR.

Eni dengan begitu cerdasnya menunjukkan jalur-jalur menuju sukses, dari mengenali potensi diri, memilih dan masuk ke dalam komunitas, mendapatkan ’guru’ dan terus berpikir dan melakukan tindakan-tindakan positif. Eni dengan fasih bertutur tentang keutamaan puasa (antara lain dengan mngutip Agus Mustofa) dan dengan fasih pula bicara mengenai aset, aset aktif, aset pasif, serta liabilitas, karena tampaknya ia juga gemar membaca buku-buku Robert T Kyosaki. Selebihnya, dengan ’cantik’-nya Eni mengeksplorasi dirinya sebagai semacam ’’laboratorium penelitian’’ untuk bukunya ini. Jika Anda menggemari sastra, pernahkah Anda mambaca sebuah novel, misalnya, yang selain mengandung cerita juga sekaligus membeber proses kreatif Sang Pengarang? Itulah yang telah dilakukan Eni.

Luar biasa. Seorang PRT menulis buku, 5 tahun lalu mungkin sudah tergolong luar biasa. Tetapi, dalam 2 tahun belakangan ini (2006 – 2007) telah lahir dari rahim para perempuan PRT (Hong Kong) buku Catatan Harian Seorang Pramuwisma (Rini Widyawati, JP-BOOKS Surabaya, 2005), Kumpulan Cerpen Penari Naga Kecil (Tarini Sorrita, JP-BOOKS Surabaya, 2006), Kumpulan Cerpen Majikanku Empu Sendok (Denok Kanthi Rokhmatika, Alfina, Surabaya 2006), Kumpulan Cerpen Hong Kong Namaku Peri Cinta (FLP-Hong Kong , FLP, Jakarta), Kumpulan Cerpen Perempuan Negeri Beton (Wina Karnie, FLP, Jakarta 2006). Ditambah lagi yang akan turun cetak dalam bulan April 2007 ini, 3 buku karya Maria Bo Niok, Novel Ranting Sakura (Pilar Media, Jogjakarta 2007), Kumpulan Puisi Sang Kung Yan (Gama Media, Jogjakarta, 2007), dan Memoar Aku Tidak Malu Jadi TKW (De Lokomotif, Jogjakarta, 2007). Belum lagi kumpulan cerpen dan novel karya Tania Roos dan Tarini Sorrita yang akan diterbitkan dalam dua bahasa (Inggris dan Indonesia) di Hong Kong. Cobalah itung dan bandingkan dengan jumlah buku yang dihasilkan oleh sebuah perguruan tinggi papan atas (karya dosen dan mahasiswa) di Indonesia ini dalam kurun yang sama. Jadi, PRT menulis buku, sekarang ini bukan hal yang luar biasa. Yang membuat buku Anda Luar Biasa!!! karya Eni Kusuma benar-benar luar biasa, antara lain karena –seperti ditulis di kaver depan, ’’Buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong.’’

Bahwa buku Eni ini terbit pada bulan April, disengaja atau tidak, sangatlah bagus momentumnya, karena bulan April memiliki tanggal 21 yang biasa kita peringati sebagai Hari Kartini. Tentu saja bukan hanya Ibu Kartini yang pantas bangga. Bangsa Indonesia layak merasa bangga memiliki seorang rakyat yang memiliki kualitas mental, pikiran, dan tindakan sehebat Eni Kusumawati. Maka, saya sangat setuju dengan lontaran pemberi kata pengantar buku ini, Jennie S. Bev, ’’Karena ini merupakan buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia, maka sejarah baru sedang diukir. Semestinya Menteri Pemberdayaan Perempuan Ibu Meutia Hatta, yang saya kenal sejak kecil, sangat bangga akan prestasi Eni. Bangsa Indonesia apalagi.’’
Sayang sedikit, buku ini tidak dilengkapi indeks dan daftar pustaka. []

Mersudi Ilmu Mumpung ing Negara China


KEJABA giyat ing sawernane pakumpulan, kang arupa LSM apadene organisasi-organisasi/paguyuban seni, akeh TKI-HK kang uga nerusake pasinaone kang dhek nalika ing negarane dhewe kandheg amarga kurang wragat utawa krana sebab liyane. Lembaga pendidikan, saka kang arupa kursus: basa Inggris, komputer, lan manekawarna ketrampilan, ana uga kang wujud kuliyah nganti tekan tataran diploma 3 kaya dibukak dening saweneh perguruan tinggi Jakarta, lan LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia.


Astutik asal desa Ngepring, Kec. Dongko, Trenggalek, ngaku semangate sinau sangsaya makantar-kantar bareng dijanjeni mengko yen wis entuk ijasah D3 bisa dadi TKI ing Amerika kanthi bayaran luwih gedhe tinimbang ing HK. Eli Ismawati, asal Desa Kauman, Ponorogo, malah ngleboni rong werna kursus, yakuwi kursus basa Inggris lan kursus komputer. Hartanti, kang asal desa Badegan, Ponorogo, cita-citane malah kepengin dadi programer komputer. ’’Tapi saiki jik mandheg, Mas. Merga kalah karo adhik-adhik. Dhuwite kanggo nerusake sekolahe adhik-adhik neng Indo wae dhisik. Muga-muga mengko aku bisa nerusake kursus,’’ mangkono pratelane Hartanti.

Biyuh, dadi programer? Aja gumun dhisik, ta! Yen mung dadi operator wae, para TKI HK kuwi ora usah kursus wae wis padha bisa. Biasane, wiwitane mlebu warnet saperlu chatting, diajari kanca sapepadhane TKI, lha saka kono saya dina ora mung bisa chatting, nanging uga banjur bisa nulis nganggo program Microsoft Word, bisa ngoperasekake Photoshop kanggo ngedit foto, lan sapiturute. Ewon cacahe TKI HK kang malah duwe blog utawa situs-web dhewe. Ninik Lestari, asal Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, upamane, ora tau gothang bukak e-mail-e saben dina. Kajaba iki dheweke uga tansah ngreti kabar apa-apa saka tlatah Ponorogo sakupenge kang bisa dideleng kanthi mbukak internet.

Kanyatan iku luwih saka kang sajake dibayangake Prof Dr Setya Yuwana Sudikan nalika ing Festival Sastra Buruh 2007 (Blitar, 30 April – 1 Mei) kandha, ’’Aku salut karo para TKI HK kang saiki padha sengkut nulis, gawe buku, lan kang luwih penting maneh pranyata ora gagap teknologi. Kahanan iki kosokbalen karo para mahasiswa ing kene, aja maneh seneng nulis, dikongkon maca wae keset. Internet ya akeh kang ora mudheng, padha ora duwe e-mail. Lha, ajamaneh mahasiswane. Dhosene wae ya akeh kang ora wanuh karo kang jenenge internet kuwi, kok!’’ kurang luwihe mangkono lamon dijarwakake.

Kajaba kursus komputer lan basa Inggris, tibake uga ana kang melu kursus ketrampilan rias penganten. Malah, ana uga TKI-HK kang nyewa apartemen saperlu kanggo papan bukak kursus rias penganten yen dina Minggu utawa dina libur liyane. Lha, kanggo nambah pengasilan maneh, apartemen kang disewa iku uga banjur disewakake kayadene omah kos, kanggo menehi papan para TKI kang lagi nunggu pakaryan anyar ing majikan anyar. Wartawan Liberty jare uga ana kang tau nginep kene. Kang nulis laporan iki (Bonari, Red) uga nyewa kamar ing kene, HKD 100/sedina (wiwit tanggal 11 – 21 Juni 2007). TKI-HK kang klebu kreatif iki, Mbak Yayuk, asal saka Kabupaten Malang.

Kursus komputer neng HK biasane diecer saben program. Upamane pengin blajar ngetik nganggo program Microsoft Word, racak-racake cukup dinyangi ping 7 – 10. Lha, saben saenyangan mbayare kurang-luwihe HKD 100 utawa udakara Rp 100.000. Yen nganti ping 10 nyangan lagi bisa, ateges ngentekake wektu udakara rong wulan setengah, jalaran para TKI-HK kuwi bisane mlebu kursus utawa kuliyah mung yen dina Minggu utawa dina libur. []


Sumber: JB

’’Lolek Mulah, Lolek Mulah, Ayo Bolong, Bolong!’’


Shen Zhen, Jujugane Turis Indonesia





Shen Zhen kuwi sawijining pojoke tlatah China kang kegolong maju pembangunane. Ing kana-kene katon gedhung-gedhung njara langit kang isih kinclong, lan malah akeh kang nedheng-nedhenge dibangun. Mula ta mula akeh kang kandha manawa China kuwi negara kang ajuning pembangunane ngedap-edapi. Kang gawe eram maneh, para bakul kang njaga toko-toko ing pusat pertokoan ing Shen Zhen, akeh kang bisa omong nganggo basa Indonesia. Upamane kaya kang diangkat dadi judhule tulisan iki, ’’Lolek mulah, lolek mulah, ayo bolong, bolong!’’ Karepe, ’’(Jam) rolek murah, rolek murah, ayo borong, borong!’’


Mbokmanawa amarga Shen Zhen kuwi dadi jujugane turis saka Indonesia, turis murni, apadene wong kang kebeneran bisa dadi turis dadakan kaya penulis iki. Dhasar dununge kepetung cedhak karo Hong Kong. Bandar Udara Chek Lap Khok (bandar udara Hong Kong kang anyar) iku mapan ing tlatah anyar (new theritory). Numpak bis gliyak-gliyak mung perlu wektu watara rong jam wis tekan Shen Zhen. Iku meh padha karo wektu kang kudu ditempuh kanthi numpak bis saka bandar udara menyang pusat kutha Hong Kong, Central, utawa nyang Causeway Bay.

Pemandu wisata asal China (omahe ing Shen Zhen, cedhak karo papan wisata gaweyan kang diarani Window of the World) bola-bali nerangake manawa mengko yen blanja aja nganti kebujuk. ’’Barang-barang ing Shen Zhen pancen murah. Nanging kudu pinter nganyang. Upama ditawakake satus yuan becike dienyang selawe utawa mundhak-mundhake nyang telung puluh,’’ mangkono welinge Lily, pemandu wisata kang ngaku duwe anak siji kuwi.


’’Geneya kok barang-barang ing Shen Zhen murah? Amarga iku gaweyan China. Senajan barang-barang iku diwenehi cap utawa merek kaya barang-barang gaweyan Eropa utawa Jepang, iku mono gaweyan China. Dadi, iku barang-barang palsu. Yen tuku barang gaweyan China ing China, ya mesti murah,’’ mangkono katrangane Lily terus-terang.


Lha, iya, ya? Wis dikandhani yen barang-barang kuwi palsu, ewadene kok saben dina wong-wong, kelbu kang saka Indonesia, ndlidir padha blanja lan kulakan nyang Shen Zhen!


Barang-barang aksesoris komputer, MP3, MP4, flash disck, camera, hand phone, lan sapiturute pancen bisa ditemokake ing Shen Zhen kanthi rega kang kepetung murang, sok malah mung tiba separone rega ing Indonesia. Mung pancen bener, kualitase klebu nguwatirake. Penulis nate dioleh-olehi memory card lan flash disck kang bareng tekan Indonesia ora kena digawe. Mula, kejaba sangu mung cumpen, penulis ya mung trima ndeleng-ndeleng wae ing pusat pertokoan kang satemene mirip-mirip THR Mall kuwi. Ya mung THR Mall kalah gagah, kalah gedhe, ngono wae.


Kang kudu diati-ati maneh, yen pancen ora niyat tuku tenan, aja nganti mak-mek. Bisa-bisa banjur dipeksa-peksa amrih sida tuku. Iki pengalamane penulis: alasan barange ora cocok karo selera, ben ndang bisa ninggalake toko kuwi. E, malah ana pegawe toko kang banjur nggondheli tangan iki, trus pegawe liyane njupukake maneka modhel barang kang mau diarani ora nyocogi. Untunge, merga basa Indonesiane kana mung capet-capet, dene penulis malah blas ora ngreti basa China, basa Inggris ya basa Inggris gagrag Empat Mata, banjur dieculake, merga padha bingunge! Slameeeeettt….. slamet!

Nunggal Negara Beda Cara
Maune, Hong Kong iku dikuwasani dening Inggris, lan lagi dibalekake nyang China dhek 1 Juli 1997. Ewadene, senajan wis nyawiji karo China, sistem paprentahane isih nganggo carane dhewe (nunggal negara nanging nganggo sistem-e dhewe-dhewe). Mula senajan wong Hong Kong kuwi ya wong China, yen arep mlebu China Daratan (upamane menyang Shen Zhen) ya kudu ngliwati Pos Imigrasi. Kosokbaline, yen wong China Daratan pengin mlebu Hong Kong ya kudu ngliwati Pos Imigrasi, kaya adate wong menyang luwar negri.


Supama ora ana aturan kaya mengkono, meh kena dipesthekake sawise Hong Kong dibalekake menyang China dening Inggris iku dumadi eksodus rame-rame saka China Daratan menyang Hong Kong. Geneya? Neng Hong Kong, yambutgawe kadidene rewang ing rumahtangga kaya kang ditindakake para wanita saka Indonesia kuwi sesasi bisa nampa bayar meh Rp 5 yuta. Mangka, wong lanang kang dadi kuli bangunan ing Shen Zhen, miturut katrangane Lily, mung bisa nampa watara Rp 1 yuta. Njomplange adoh banget.


Senajan katone birokratis, kudu cek ing Pos Imigrasi, saben dina, luwih-luwih ing dina libur, iline wong mlebu-metu Hong Kong – China pindha sela brakithi (nyilih ukarane ki dhalang) ndlidir kaya ora ana pedhote. Wong China menyang Hong Kong kayadene wong tamasya menyang papan kang luwih rame, luwih mewah, dene wong Hong Kong menyang China perlu uwal saka kang sarwa rupeg. Lan, golek kang sarwa murah. Lha, iki ana bebandhingan maneh. Pijet, neng Shen Zhen cukup 25 nganti 50 dolar (kira-kira Rp 30 ewu – Rp 60-ewuan) mangka neng Hong Kong HKD 100 – HKD 150. [Bonari Nabonenar]

Sumber: JB

NUMPAK ANGKUTAN ING HONG KONG



Yen Santai Numpak Teng Teng
Yen Kesusu Numpak MTR




DHEK taun 2005 nalika sepisanan penulis entuk kalodhangan menyang Hong Kong, sawise sedina sawengi ngalor-ngidol dipandhu dening kadang (TKI kang nembe libur) dina-dina candhake penulis wis wani cal-cul dhewe, kanthi numpak sepur ndlusup (sepur kang nembus bumi lan kala-kala malah liwat ing sangisore banyu segara) kang disebut MTR (Mass Transportation Railway=angkutan massal kang liwat ril). Mangka, neng Jakarta wae isih durung wani clurat-clurut kaya ngono kuwi. Geneya?

YEN panjenengan lagi sepisan neng Hong Kong, aja lali nggawa kartu namane tuan rumah, kanca, penginepan utawa hotel kang ana tulisane kanthi huruf China kang nuduhake alamate. Jalaran, senajan panjenengan bisa basa Inggris, keh-kehane wong Hong Kong iku sajake ora bisa basa Inggris. Upama bisaa logate ya beda banget karo basa Inggris kang diwulangake neng sekolahan. Lha, mula saka kuwi, yen ana bingunge sawayah-wayah, cukup nuduhake kartu nama kuwi menyang sopir taksi, dijamin bakal diterake menyang alamat liwat dalan kang paling cedhak. Jare kanca-kanca kang wus tetaunan urip neng Hong Kong, selawase ora nate ngalami diubeng-ubengake sopir taksi kang mung murih argone molor.

Kang gawe eram maneh, Hong Kong kuwi senajan papane legok-geneng, lan akeh segarane, sistem transportasine jan tumata banget. Ing dharat ana bis tumpuk, minibus, taksi, lan teng teng. Kang diarani teng teng iku satemene mirip bis tumpuk, mung yen teng teng liwat ril lan nganggo tenaga listrik kayadene trem. Ril kang diliwati teng-teng iku dadi siji karo ratan kang diliwati kendaraan liyane. Kang gawe eram maneh, senajan ing jaman maju kaya ngene, kendaraan teng teng kang uga diperang dadi rong ruwangan (ngisor ndhuwur) iku isih migunakake bahan saka kayu kanggo ram-raman kaca lan payone. Kajaba iku isih ana MTR (yen kudu dijawakake ya: sepur ndlusup), lan sepur njedhul (ora kakehan liwat njero lemah utawa ngisor segara) kang diarani KCR.

Ing segara ana angkutan umum kang diarani prau. Numpak prahu krasa luwih nyenengake, jalaran kajaba rikat fasilitase uga mewah, kursi babut lan hawa kang diadhemake nganggo mesin (AC), tur bisa nikmati endahe sesawangan: gedhung-gedhung njara langit lan gunung-gunung ijo royo-royo.
Fasilitas angkutan umum jan murakabi tenan, saengga yen panjenengan ngadeg setengah jam ngono wae ing pinggir ratan kang paling rame, paling-paling mung nemokake siji-loro sepedha motor kang liwat. Ngono wae paling-paling kang numpaki polisi kang lagi patroli. Kendaraan pribadhi cacahe ya ora akeh, mbokmanawa malah sethithik banget yen dibandhingake karo wilangane penduduk. Kejaba sarana angkutan umum wis nyukupi, jare rerasanane wong-wong kang kober jagongan karo penulis, duwe kendaraan pribadi kuwi malah repot olehe markir (biaya parkir ya larang) lan pajege ya gedhe. Mula aja gumun yen neng Hong Kong ketemu sawenehing direktur numpak kendaraan umum.

Padha-padha kendaraan dharat, sawise taksi, sepur ndlusup iku klebu paling larang, jalaran rikat, lan kudu melu nanggung retribusi kanggo ngrumat infrastruktur kang ya mesthi larang kuwi. Sistem pembayarane ya kepetung adil tenan. Upamane numpak saka stasiun siji menyang stasiun candhake kang lete padha-padha sepuluh kilometere kang liwat njero lemah biasa mbayare luwih murah tinimbang kang liwat ngisore segara.
Sepur ndlusup iku ora tau leren simpangan. Dadi, upamane kang nuju ngalor iku dalane mligi, kosokbaline kang nuju ngidul dalane ya mligi. Lete wektu budhal antarane sepur ngarep karo mburine sok mung prasasat ora nganti samenit. Racak-racake rong menit utawa telung menit. Dadi kabeh sarwa rikat. Lawange mbukak lan nutup kanthi otomatis. Mula aja pisan-pisan nganyur neng stasiun, kejaba mepet tembok kang ora kedalanan. Yen nganyur bisa diparani satpam, dikongkon minggir utawa dikandhani yen ora oleh mandheg. Ajamaneh mandheg, ing mangsa rame, esuk utawa sore, yen mlaku alon wae isa kesrempat-srempet, jalaran wus dadi tradisine, penumpang utawa calon penumpang sepur ndlusup iku wong-wong kang padha pengin cepet.

Rada santai sithik ya numpak bis. Lan kang luwih santai maneh numpak teng teng. Teng-teng iku lakune pancen paling alon ing antarane kendaraan dharat. Carane mbayar? Bisa tuku tiket sekali jalan, lan tumrap kang ora bisa rembugan basa Kantones kaya penulis iki, kang paling gampang ya nganggo kartu langganan, jenenge patadong, utawa octopas. Wangune saemper kertu ATM. Carane nggunakake ya gampang, ing saben mlebu stasiun mesthi ana lawangan kang dipasangi papan kanggo nutulake patadong. Enake, senajan disimpen neng njero dhompet, cukup dhompete kang ditemplekake wis kewaca dening mesin kanthi aweh tandha uni mak ’thut’, lan lawang bakal mbukak kanthi otomatis. Mengko yen arep metu saka stasiun patadong kudu ditutulake meneh, lan ing kono bakal kewaca, sik duwe saldo pira, utawa malah minus. Yen wis minus, kudu ndang diisi ulang. Bisa ing konter stasiun, uga bisa ing toko-toko pitu sewelas (seven elleven). Patadong iku bisa kanggo numpak bis, numpak MTR, KCR, teng teng, lan numpak prahu. O, isih ana maneh gunane, waton isih ana saldone, bisa kanggo ‘blanja’ ing toko 7elleven.

Nalika lagi sedina sawengi neng Hong Kong, aku wis wani ucul dhewe. Penulis pengin weruh kantore ATKI (Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia) ing Jordan. Saka Causeway Bay numpak MTR ngliwati stasiun Wan Chai, Tsim Tsa Choi, Admiralty. Mudhun neng Admiralty nanging ora metu saka stasiun, mung saperlu oper MTR kang nyimpang menyang Jordan. Ora usah dipandhu, waton bisa maca ing njero sepur ndlusup kuwi wis ana tandhane, wis tekan ngendi, tandhane yen arep mandheg ing stasiun ngendi, klebu katrangan ngenani lawang sisih kiwa apa sisih tengen kang mengko mbukak. Uga ana tandhane yen sepur bakal mandheg ing stasiun kang para penumpang bisa mudhun saperlu oper menyang sepur kang seje jalur. Senajan ora bisa nyawang njaba, neng njero sepur ndlusup tansah bisa ngaweruhi lagi tekan ngendi.

Ing ratan biasa yen arep numpak bis ya ngono. Mandhega neng setopan ngendi wae, ing kono bakal tinemu papan kang ana tulisan huruf Latin (basa Inggris) kang nuduhake bis nomor pira wae kang mandheg neng kono, lan bis-bis iku bakal ngliwati laladan ngendi wae. Jan gampang banget pokoke. Mung, nalika ana kang takon, ’’Piye, seneng ora, yen ing Pulo Jawa sistem transportasine nggenah keya neng Hong Kong kene?’’ wangsulanku, ’’Kang cetha, ora seneng yen urip saka ngreditake motor!’’ [Bonari Nabonenar]

Sumber: JB

Salah Kaprah Panganggep ngenani Pengiriman Tenaga Kerja menyang Luwar Negri

aku lunga nyambung nyawa
awit kebangeten negaraku Indonesia
awit produksine negara
mung ngekspor manungsa
kanggo tumbale negara

Iku pada pungkasane guritan kanthi irah-irahan Wis Daktinggal kang karipta dening Suripan Sadi Hutomo ing Bogor, 20 Agustus 1998, lan banjur kapacak ing majalah Panjebar Semangat (kang dikliping kadang Slamet Sri Purnanto, eman dene ora dikatutake bukti tanggal lan nomer pirane). Iku pratelan kabudayan kang dakkira wantah nyuwarakake uneg-unege pra TKI kang makarya ing luwar negri, ing endi wae, kang makarya ing sektor formal (perusahaan, industri) apadene kang makarya ing sektor informal utawa sektor domestik, kang uga kerep sinebut pramuwisma.

Saiba becike lamon para narapraja, luwih-luwih kang cekel jabatan kang melu urun gawe abang-ijone program-program pamarentah gegayutan karo nasibe para TKI, bisa maca guritan kuwi sawutuhe. Mesthine banjur bisa mawasdhiri, mitakonake maneh, lan sokur-sokur banjur ngonangi manawa satemene akeh program kang cengkah karo semangat kamardikan, amanat penderitaan rakyat, karo unen-unen: wajibe negara ngayomi rakyate.

Ing buku Catatan Harian Seorang Pramuwisma karyane Rini Widyawati kang kababar JP-BOOKS (Surabaya, 2005) mantan TKI Hong Kong kang saiki nerusake nyantrik ing padhepokane sastrawati kaloka Ratna Indraswari Ibrahim (ing Malang, Jawa Timur) iku kandha, yen ta ing Indonesia bisa entuk pakaryan kanthi bayaran 400 ewu wae saben wulane, dheweke pilih nyambutgawe ing Indonesia lan ora kudu nganti keplayu tekan Hong Kong. Pancen, UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten) saiki racake wis luwih saka Rp 500 ewu. Nanging, pira cacahe pengangguran kang bisa ditampung dening lapangan kerja kang sumadiya ing Indonesia? Ajamaneh kang mung lulusan SMP utawa SMA, kang duwe ijasah sarjana wae mumbruk sangsaya matumpuk-tumpuk.

Ing majalah iki biyen aku tau nglapurake lelakone kadang Welas Subagyo asal Tulungagung kang karo bojone urip ing Singapura, malah wis diakoni kadidene padunung maton (penduduk tetap) lan entuk jatah apartemen saka negara. Olehe makarya uga ing sektor formal, ing Dinas Pariwisata-ne Singapura. Ewadene, Mas Welas ngaku, angger nonton Upacara 17 Agustus liwat televisi, wong sakloron (karo bojone) ajeg banjur tetangisan. Kandhane, padha nangis keranta-ranta bareng ngelingi manawa Indonesia Raya kuwi satemene ora mung lagu kebangsaan-e. ’’Indonesia kuwi negara gedhe, negara sugih, adoh banget sungsate yen dibandhingake karo Singapura. Nanging, yagene kok aku lan bojoku nganti keplantrang tekan kene, ninggalake anak lan wongtuwa ing Indonesia?’’ mangkono pitakone Welas Subagyo.

Tegese, yen gelem blaka, senajan katone seneng, pacakane ngetren, majikane ora kejem, lan bayarane ngalah-ngalahake pejabat (golongan ngisoran) ing Indonesia, para TKI kuwi satemene nyimpen tangis. Luwih-luwih kang nasibe nyata-nyata sangsara, nemu majikan kang kejem, dibayar sangisore standar kang wis diatur dening undang-undang, lan diulihake menyang Indonesia (diinterminit) sadurunge entek mangsa kontrake, sadurunge bisa nglunasi utange menyang PJTKI (Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia).

Hong Kong, kang kerep disebut-sebut kadidene negara kang paling becik tumangkepe marang para tenaga kerja asing (klebu marang para pramuwisma asal Indonesia) pancen duwe undang-undang kang sipate ngayomi. Mung wae, miturut cathetane Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI) Hong Kong, isih akeh pramuwisma asal Indonesia kang dening majikane dibayar sangisore standar, lan uga ora sethithik kang nemu majikan kang kejem. Miturut cathetane Depnakertrans kang dipethik Jawa Pos (28/8/07), sajroning wektu setahun iki TKI kang mati ana 36 (Malaysia), 18 (Arab Saudi), 12 (Singapura), 9 (Taiwan) 7 (Jordania), 5 (Hong Kong), 3 (Kuwait), lan 1 (Jepang).

Nitik kanyatan kaya mengkono kuwi, becike para pejabat ora enggal ayem lamon kepethuk TKI ing luwar negri kang kandha manawa wis krasan kaya kang dilapurake kadang Eko Mulyanto ing kaca 34 lan 35 (Jaya Baya No. 01, Minggu I, September 2007). Sesawangan kang kosokbalen karo kang gumelar ing Victoria Park, Star Ferry, Peak Trem, apadene ing warnet-warnet, bisa ditemokake ing selter-selter. Ing kono akeh TKI kang lagi nampa nasib ala, dikejemi majikane: dikamplengi nganti bengep praupane, malah uga ana kang disetlika barang.

Kanthi mengkono, negara (Indonesia) kudune mawas lamon kawicaksanan ngirimake TKI menyang luwar negri kuwi mung sipat darurat. Becike ana gegayuhan, ing sawijining wektu mengko, taun pira ngono, Indonesia iki wus mandheg olehe ngirimake TKI.

Semangat kang tansah makantar-kantar kanggo ngirim saakeh-akehe TKI menyang luwar negri (ambok diembel-embeli tembung-tembung: manut prosedur legal, kang luwih terdidik, lan sapiturute) panggah wae cengkah karo semangat kamardikan. Iku mung keplok karo semangat inlander. Lha, mulane, jenenge lembagane wae PJTKI, bisa diolor dadi: Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia, bisa uga dadi: Perusahaan Tenaga Kerja Indonesia. Pengerah, iku mengku teges pihak kang (tugase) ngerigake, dadi semangate ya semangat ngglontor saakeh-akehe TKI menyang luwar negri. Apamaneh yen diarani Perusahaan, cetha wela-wela lamon iku lembaga kang digawe kanggo ngeruk bebathen saakeh-akehe.

Eloke, ing bab ngirim TKI menyang luwar negri kuwi Depnakertrans banjur mrecaya lembaga kang aran PJTKI, kang padha nampa bathi saka olehe nglatih lan menehi utangan para calon TKI. Kasare tembung, ing tatacara iku satemene mono dumadi dol-tinuku utawa bebakulan manungsa.

Mula, para TKI kang kanthi polatan sumringah ngaku urip kepenak lan krasan ing mancanegara iku satemene ora pati beda karo kakek-ninek biyen (dhek sadurunge Indonesia merdika) kang ngaku urip kepenak melu Landa utawa Jepang. Ajamaneh rakyat biyasa, biyen kuwi ya akeh pejabat kang duwe panemu kaya ngono. Saiki ya ngono, sajake akeh pajabat kang nganggep manawa bisa ngirim saakeh-akehe TKI menyang luwar negri lan nampa remiten trilyunan rupiah kuwi sawijining prestasi kang ngedap-edapi. [Bonari Nabonenar, Pemimpin Redaksi Majalah Peduli kang dibabar kanggo para TKI-HK]

Sumber: JB

MIMPI MEMBERI PENGHARGAAN

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang terhormat
Bupati Blitar --Bapak Drs Heri Nugraha beserta Ibu
Yang terhormat
Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur
Yang terhormat
para pejabat di lingkungan Kabupaten dan Kota Blitar
Yang terhormat Para Pengisi Acara Festival Sastra Buruh 2007
Yang terhormat
Para Undangan yang tidak bisa saya sebut satu per satu

Pada kesempatan yang sangat bagus ini kami Panitia Festival Sastra Buruh 2007 di Kampung Seni Bagus Putu Parto Gogodeso, Kanigoro, Blitar tidak lupa mengucapkan terima kasih atas partisipasi Ibu, Bapak, dan Saudara-saudara sekalian demi terselengaranya acara ini. Tanpa kerelaan Pabrik Roti Kalimasada di bawah Ibu Endang Putu Parto untuk meliburkan pabriknya selama 2 hari, Festival Sastra Buruh 2007 pastilah tidak akan bisa kita saksikan seperti yang terjadi pada hari ini dan esok.

Terima kasih kepada Bapak Bupati yang telah berkenan hadir untuk memberikan kata-kata sambutan dan membuka Festival Sastra Buruh 2007 ini. Terima kasih pula kami sampaikan kepada Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur, yang pada akhirnya sampai pula di kampung seni ini walau dihadang Lumpur Lapindo.

Juga, kami hanya bisa menyampaikan terima kasih atas kerelaan kawan-kawan yang datang dari jauh, dari Jogjakarta, Wonosobo, Jawa Tengah, Banyuwangi, dan bahkan beberapa teman datang dari Hong Kong ikut menyemarakkan kegiatan ini [karena sedang cuti dan sayangnya, beberapa di antaranya terpaksa putus kontrak di tengah jalan]. Tentu, yang sungguh membuat hati rasa haru, Mas Jumari HS beserta romongan Teater DJARUM datang dalam jumlah yang sungguh luar biasa, sekitar 60 orang. Mereka adalah para karyawan PT DJARUM Kudus yang di tengah-tengah kesibukan mereka bekerja, sebagai buruh, ternyata masih bisa berkesenian, dan menunjukkan bahwa kesenian mereka bukan hanya kesenian sambil lalu.

Bapak Bupati,
Bapak Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur,
dan para undangan yang terhormat.
Mengapa kami menggelar Festival Sastra Buruh?
Selama ini banyak buruh, baik yang bekerja di dalam dan terutama di luar negri [dalam hal ini Hong Kong] yang giat menulis. Dalam kurun 2005 – 2007 menurut catatan Saudara Bonari Nabonenar, tak kurang dari 10 buku lahir dari rahim kreativitas para perempuan pekerja rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong. Sebagian buku-buku karya mereka itu bisa Ibu-Bapak saksikan di bagian pameran/penjualan buku.
Kita bisa memandang para TKI yang menulis sebagai bukan saja para pahlawan devisa, melainkan juga sebagai pahlawan-pahlawan kebudayaan. Sekilas, kalimat itu bisa saja terasa bombas. Tetapi, jika kita mengingat betapa memrihatinkannya kondisi bangsa ini, lalu mengaitkannya dengan tradisi tulis-baca kita, pastilah akan terasa betapa pentingnya membangun tradisi membaca dan menulis itu.
Maka, dalam rangka ikut serta membangun tradisi baca-tulis, dan memberi ruang ekspresi bagi kawan-kawan yang nyata-nyata telah melakukan aktivitas [menulis] yang tak hanya berguna bagi diri mereka sendiri, melainkan juga bagi masyarakat, bangsa dan negara itulah Festival Sastra Buruh 2007 ini kita gelar.
Dan tampaknya tidak pula berlebihan jika pada kesempatan ini kami memilih beberapa penulis buruh yang paling berprestasi untuk mendapatkan semacam award atau penghargaan. Sebab sudah selayaknya kita menghargai orang-orang yang menunjukkan prestasi luar biasa dan menginspirasi masyarakat luas untuk melakukan pula hal-hal yang positif untuk meraih prestasi gemilang. Sayangnya, keinginan itu tampaknya harus kita pendam dalam-dalam sambil mengulur harapan: semoga pada tahun yang akan datang kita bisa menyelenggarakan Festival Sastra Buruh yang tidak terlalu nekad seperti yang terjadi sekarang ini.
Semoga seluruh rangkaian acara ini berlangsung lancar. Terima kasih, bila ada atau terjadi hal-hal yang kurang berkenan, baik bagi pengisi acara maupun para undangan sekalian, maka maafkanlah kami, panitia yang serba kekurangan ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Ketua Panitia FSB 2007

Ida Arsusi AS



[naskah pidati ketua panitia fsb 2007]

TKI-HK Wenang Diarani Duta Budaya



PADATANE kang sinebut duta budaya iku wong-wong kang dibudhalake menyang luwar negri, diwragati/disangoni negara, sok mung kanggo njoget utawa nembang utawa mromosekake potensi seni/budaya (Indonesia). Ing luwar negri suwe-suwene seminggu nganti sesasi. Yen nganti sasen, kanggo wong siji wae wragate bisa nganti atus-atusan yuta rupiyah. Neng Hong Kong (HK) ana atusan ewu wong (wadon) pekerja rumah tangga asal Indonesia kang jan-jane uga dadi duta budayane bangsa Indonesia, tetaunan, sok nganti puluhan taun, tanpa diwragati/disangoni dening negara!

Koran Berita Indonesia (kababar sewulan sepisan kanggo para TKI-HK lan Macau) babaran Juli 2007 iki ngabarake anane tayangan ing saweneh stasiun televisi, ing HK, ngenani potensi wisata Indonesia: Bali, Jogjakarta, Borobudur, Solo, Jakarta. Kang ngeterake rombongan liputane menyang Indonesia Kepala Bidang Penerangan KJRI HK Drs Nugroho Y Aribimo. Lha, nalika para majikan nonton tayangan kuwi, sapa sing dadi paran pitakon yen ana bab-bab kang prelu luwih dijlentrehake? Ora liwata ya para ’batur’ kang asal Indonesia, ya para TKI-HK kuwi. Lha, rak kanthi mengkono bisa diarani manawa para TKI-HK ing bab iki wis dadi sukarelawan mromosekake potensi wisata Indonesia, ta?

Ana maneh acara taunan kang diarani Festival Wan Chai. Ing arak-arakan jroning rerangken festival iku katon para TKI-HK kanthi busana khas Indonesia. Coba, yen kudu ngirim rombongan saka Indonesia, prabeyane sok ora cukup yen mung atusan yuta rupiyah.

Para TKI-HK pranyata uga ora mung nguber dolar. Akeh kang ngisi wektu longgare kanggo sinau, kursus, kuliah, lan berkesenian. Ing bab seni sastra, sawatara wektu kepungkur wis kaandharake ing kalawarti iki (Hong Kong Writers Idol). Malah dhek 17 Juni 2007 ing rerangken Milad ka-10-e Forum Lingkar Pena (FLP) HK nggelar acara workshop/diskusi sastra kanthi nekakake narasumber Ketua Umum FLP kang uga dosen sastra ing Universitas Padjajaran Bandung, Drs. M. Irfan Hidayat, M.Hum karo aku (Bonari).

Ing diskusi kuwi dakkandhakake manawa para TKI-HK kang padha sengkut ulah sastra (jroning 2005 – 2007 kasil mbabar ora kurang saka 10 buku) wenang diarani aktivis kebudayaan, kang nindakake pakaryan agung, nyurung bangsa Indonesia menyang papan kang luwih becik amrih dadi bangsa kang maca utawa mangun budaya maca. Lah proyek utawa gerakan membaca-menulis kaya kang wis ditindakake para TKI-HK kuwi, yen kudu dilebokake anggaran pemrentah, prabeyane mesthi taker milyaran.

Saliyane ulah sastra akeh TKI-HK kang gawe kelompok tari utawa musik, lan malah ana sanggar kang madhahi manekawarna potensi seni-ne TKI-HK kang disebut Sanggar Budaya (diayomi dening KJRI-HK). Mulane, yen dina libur ing Taman Victoria kuwi mesthi ana TKI kang ajar joget, nyanyi, lan sapiturute. Ing seni musik ana Hot Hot Band, ing seni tari ana kelompok Alexa Dancer’s lan Borneo Dancers. Alexa Dancer’s kajaba ngudi tari modern uga ora lali marang tari-tari tradisional. Malah kang dadi ciri khase yakuwi tari jaranan. Senajan ukel jogede wis campur-campur manekawarna joged jaranan, malah kambon joged modern, jaranan made in TKI-HK iki ya nggunakake alat-alat baku, ana prenthul tembem, topeng pujangganom, kepang (jaranan), lan celengan.

Ing rekaman video pengetan HUT RI ing Elizabeth Stadium, HK, malah katon para anggota Sanggar Budaya ngepyakake sendratari pethilan saka kisah Ramayana. Kostume ya komplit, klebu sandhangane anoman.
Lha, iya! Sapa kang ngirimake kostum, topeng, terbang, lan sapiturute kang jelas yen ing HK ora ana kang dodol kuwi? Ya para TKI-HK. Lho, kok keplaur ngusungi brekakas kaya ngono-ngono kuwi? Ya saking olehe tresna marang budayane dhewe, mesthine. Yen rembugan bab nasionalismene, para TKI-HK aja disepelekake tenan. Coba, saben upacara pengetan HUT-RI ing HK, paskibra-ne ya para TKI. Mesthine yen ora cinta tanahair, rak ya penak seneng-seneng nyang Disneyland, The Peak, utawa Ocean Park, utawa kerja partime kanthi bayaran HK$ 100/jam.

Mula, para TKI-HK kuwi wenang diarani duta budayane bangsa Indonesia. [Bonari Nabonenar]


Sumber: JB

Pembinaan Mental Spiritual kanggo Para TKI Hong Kong



Bisa Melu, nanging TKI saka Sanjabane Jatim Meri






DINA Minggu wingi (10 Juni 2007) Pemerintah Provonsi Jawa Timur nggelar acara Pembinaan Mental Spiritual kanggo para TKI ing Hong Kong, mapan ing Hotung Secondary School, ing kawasan Causeway Bay. Hotung Secondary School iku uga cedhak banget karo Taman Victoria kang dadi jujugane para TKI Hong Kong yen dina Mingugu utawa liburan.

Acarane gayeng, ditekani Kabid Penerangan KJRI-HK Drs Nugroho Y. Aribimo, Staf Ahli Wakil Presiden RI Drs Alwi Hamu, lan para wartawan (koresponden) media cetak abasa Indonesia kang mligi diterbitake ing Hong Kong. TKI-HK kang nekani acara iku udaakara wong patang atus. Kanggo ngrancagake lakune acara, Rombongan saka Pemprov Jatim dibantu dening saweneh komunitas kang aran Nongkrong Bareng Fans (NBF) kang diketuani dening Esti, TKI-HK asal Ngawi.Ya para warga NBF iku milihake papan, nyewakake sound-system (kabeh dibayari dening Pemprov Jatim) lan ngukuti larahan sawise acara rampung.
"Kang dadi TKI ing Hong Kong kuwi para wanita, lan keh-kehane wis mangun kulawarga, ninggal anak-bojo ing Indonesia. Mula kanggo nambah wawasan amrih ora gampang kena panggodha, Pemprov Jatim ngajak para ahli ing babagan mangun pribadi kang kuwat mental lan imane. Dadi, piye mengko ben sawise rampung dadi TKI bisa oleh pawitan ekonomi lan bisa nanjakake kanthi becik kanggo mangun kulawarga kang luwih harmonis, ora banjur malah bubrah merga tetaunan padha pisah panggonan," mangkono ngendikane Dra. Supadmi, Msi. Kepala Bidang P dan K Biro Mental Spiritual Provinsi Jawa Timur marang wartawan.
Sajake pancen trep karo paraga kang didhapuk dadi pembicara, yakuwi Dr Eni Haryati (ahli Pemberdayaan Ekonomi saka Unesa), Dr Nalini Muhdi, SPKJ (Psikiater ing RSUD Dr Sutomo Surabaya), Drs. H Hambali (ahli agama, dosen ing IAIN Sunan Ampel,lan Pondok Pesantren Al Jihad Surabaya). Luwih trep maneh merga kang dadi moderatore Drs Hendro Wardhono, Msi (pakar kebijakan publik saka Unair).
Acarane gayeng tenan. Karo ngenteni nyambunge komputer menyang LCD, Dr Nalini nembangake salah siji lagune Bimbo, "Tuhan.... tempat aku memintaaaaa....." lan kandha mengkene sarampunge lagune, "Lagu iku mau becik ditembangake yen ati lagi sumpek." Dr Eni Haryati sajak wegah kalah, uga nembang sadurunge mlebu ceramah intine. Nanging, kang paling nggeterake rasa, yakuwi nalika saweneh TKI asal Medan, Yeti Ritonga ngrasuk agama Islam dibimbing dening Drs. H. Hambali. Ceramahe Drs H Hambali uga gayeng tenan, kebak pitutur agama kang dibumboni lelucon-lelucon kang sueger tenan.
Upama wektune isih ana, sajak para TKI-HK keng nekani acara iku wegah ninggalake papan kono. Sadurunge bubar, padha nembang bebarengan, dangdut, campursari, sambi njoget bebarengan. Lucune, ana TKI loro, siji saka Jawa barat, siji saka Jawa Tengah kang komentare nunggal misah. TKi kang saka Jawa Tengah takon ngene, "Gek kapan nggih, Pemprov nggen kula niku damel acara kados ngeten niki?"


Masalahe Kompleks
Masalah utawa prekara kang diadhepi para TKI iku akeh lan kena diarani kompleks,kalebu TKI kang ana ing Hong Kong. Akeh kang ngakoni manawa dadi TKI ing Hong Kong iku isih mendhing tinimbang, upamane, kang nyambutgawe ing Malaysia, Singapura, apamaneh ing Timur Tengah (Arab Saudi sakiwatengene). Diaranana isih mendhing, buktine sawatara taun kepungkur ana TKI kang dianiaya dening majikane nganti lumpuh, senajan akhire menang ing pengadilan. Kira-kira sewulan kepungkur uga ana saweneh TKI kang nekat anjlog saka jalan layang nganti remek. Ana singkandha isih koma nganti tekan dinane iki. Durung klebu prekara karo kulawarga, karo bojo, lan karo para penjahat kang sok ngiter wiwit bandara nganti tekan ngomah nalikane para TKI mulih ngendhangi kulawargane.Ing Hong Kong uga akeh majikan kang mbayar rewange sangisore standar kang diatur dening pemrentah. Iku klebu prekara markake LSM-LSM perburuhan ing Hong Kong isih padha kerep demo.
"Masalahe para TKI kuwi klebu kompleks. Lan, aja nganti keladuk ing pangarep-arep, rombongan kang teka saka Pemprov Jatim iki sadhar manawa ora bakal kongang ngrampungake sakehing prekara kuwi. Kang diangkah ya kuwi bisane para TKI duwe wawasan kanggo ngrancang dina tembe kang luwih becik lan disengkuyung dening kulawargane kang ana ing Indonesia, mligine ing Jawa Timur. Dadi, upamane, aja nganti para kulawarga kuwi nganggep manawa Hong Kong kuwi panggonane dhuwit banjur angger ana kiriman digunakke tanpa petung," mengkono kandhane Hendro Wardhono.


Majikan HK Tuku Kamus Indonesia
Dina Minggu esuk uthuk-uthuk iku penulis entuk kalodhangan kanggo melu siaran Nongkrong Bareng, saweneh acara ing RTHK (Radio lan Televisi Hong Kong) bebarengan karo Sam Jauhari pengusaha Hong Kong kang duwe koran Berita Indonesia, tabloid Intermezo, lan Majalah Peduli (kabeh nganggo basa Indonesia lan mung dibabar ing Hong Kong). Kak Sem --mangkono biasane para TKI HK ngundang Sam Jauhari-- ikutibake cedhak banget karo para TKI ing Hong Kong, jalaran dheweke iku dadi penyiar ing acara Nongkrong Bareng iku, klebu acara Sahur Bareng yen sasi Pasa.
Nalika budhal penulis ngira yen acara Nongkrong Bareng iki mengko bakal nganggo basa Indonesia sok kecampuran basa Jawa kaya nalika penulis melu siaran ing Radio Metro (uga ing Hong Kong) dhek taun 2005 kepungkur. Eh, tibake seje. Iki luwih akeh basa Kantones-e. Nalika sesi interaktif, para TKI uga nilpun nganggo basa Kanton kang lancare padha wae karo penyiare. Wah, jan penulis mung ndlongop sadurunge dijarwani dening Kak Sem.
Wah, jan! Apa sing "wah"? Lha piye ta, lha kok tibake kang melu interaktif, nilpun nyang radio nalika acara Nongkrong Bareng iku ora mung para TKI. Pas dhek Minggu kuwi ana saweneh majikan kang ngaku manawa amrih bisa komunikasi kanthgi becik karo pekerja-ne, dheweke ngalahi tuku kamus basa Kanton-Indonesia. Waladalah!
Kang bisa didadekake cathetan, acara iku becik banget amarga para majikan uga bisa melu ngrungokake pawadulane para TKI. Lha, mbokmanawa luwih becikmaneh manawa wong Indonesia, kulkawarga TKI apadene para pejabat bisa melu ngrungokake. Oh,bisa, ning kudu liwat internet, tur emane maneh, alamate lagi bisa diaturake ing lapuran candhake yen Redaksi isih ngeparengake bersambung. BONARI NABONENAR

Sumber: JB

Digoleki: Pejabat kang Melek Budaya



Festival Sastra Buruh 2007 ing Blitar [30 April – 1 Mei]

Suwene sedina sawengi [jam pitu bengi tanggal 30 April nganti watara jam loro awan tanggal 1 Mei 2007] kelakon digelar Festival Sastra Buruh [FSB] 2007 ing pabrik rotine Bu Endang Bagus Putu Parto, Desa Ngade, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Desa Ngade kang padatane sepi, bengi kuwi dadi rame ngalah-ngalahake yen ana pasar malam. Dening panitia, acara FSB bengi kuwi pancen dirancang kayadene acara Pasar Rakyat sing populer ing saweneh stasiun televisi sawatara wektu kepungkur: ana pangung dangdut, ana pentas teater, lan ana papan mligi kanggo acara seremonial.

Sambi ngenteni tekane Bupati Blitar Drs Heri Nugroho kang bakal mbukak acara FSB 2007, penyair saka Mojokerto, Saiful Bakri sarombongane nyuguhake musikalisasi puisi [maca guritan kang wis diolah kanthi iringan musik]. Banjur ganti Blank-Blenk Percussion pimpinane Djayeng nyuguhake musik khas Blitar sing sawatara dina sadurunge njebol MURI [Museum Rekor Indonesia] ing rerangken acara pengetan dina klairane Kabupaten Blitar kanthi nggelar parade rampak [sewu] kendhang.
Bupati wis rawuh kinanthenan ingkang garwa, lumebu arena FSB bebarengan karo Kepala Disnaker Provinsi Jawa Timur Moh. Bahrudin. Sajroning pidhato sadurunge mbukak acara, Bupati ngendika manawa buruh, mligine TKI, gedhe sumbangane tumrap kemajuan ekonomi ing daerahe. Kabupaten Blitar, miturut Bupati, saben taune nampa remiten saka TKI udakara 100 – 150 milyar rupiah. Mula, ing kalodhangan iku Bupati nelakake panuwune marang Bagus Putu Parto sing wus bisa gawe acara kang uga dadi ajang sapatemon antarane buruh lan seniman.
Kajaba ditekani para TKI lan mantan TKI kang wus mbabar bukune: Maria Bo Niok [Wonosobo], Eni Kusuma [Banyuwangi], FSB 2007 uga ditekani wong wadon pitu saka Hong Kong, saperangan merga pas libur, saperangan maneh merga ditundhung majikane [diinterminit]. Wadon pitu iku nyumbang acara Teatrikalisasi Puisi Death of Migrant Rihgt karyane Mega Vristian. Para TKI lan mantan TKI liyane kang ora bisa teka, padha ngirimake karya-karyane marang Panitia, ana kang wujud opini, crita cekak, guritan, lan kliping laporan [berita] kang kamot ing media cetak [luwih cethane maosa: Buruh kang Padha Seneng Nulis].

Silaturahmi Budaya
Kang uga ngedap-edapi, sastrawan buruh saka Kudus Jumari HS sejene ngajak penyair Asa Jatmiko uga nggawa bis loro lan mobil siji kanggo ngemot rombongan teater, nggelar lakon Acehku Aceh, Aceh di Mana-mana [satemene iki ya wujud teatrikalisasi puisi] karyane Thomas Budi Santosa saweneh direktur ing PT Djarum Kudus. Ora baen-baen tanen, rombongane Jumari ana wong sewidak, kang saben dinane padha makarya kadidene buruh ing PT Djarum.
Dadi ora luput manawa FSB 2007 uga diarani kadidene ajang silaturahmi budaya antarane buruh kang makarya ing negarane dhewe lan kang padha makarya ing negara manca.
Sawise bengine rame pagelaran sastra/seni [klebu seni musik dangdut kang dipandhegani dening seniman polisi kang saben dinane makarya ing Polsek Garum [Blitar], esuke, tanggal 1 Mei kang uga populer kanthi sebutan May Day utawa Hari Buruh Sedunia, acarane genti sarasehan. Sastrawan buruh kang dadi narasumber yaiku Eni Kusuma lan Maria Bo Niok. Sastrawan Beni Setia, Kepala Subdinas Kebudayaan Dinas P dan K Prov Jatim kang diwakili Dharmono Saputro uga dadi pamedhar sabda. Uga Kuswinarto lan Bonari Nabonenar kang dhek taun 2005 diundang Sangar Café de Kossta menyang Hong Kong saperlu mbombong para TKI kang padha seneng ulah-sastra.
Luwih gayeng maneh, ing anatarane para seniman, sastrawan, aktivis perburuhan, pejabat, lan para siswa, uga melu nggrengsengake sarasehan Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Unesa Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, Dosen Program Studi Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang Dr. Ekarini, lan sastrawan kang uga pegawe Balai Bahasa Surabaya Aming Aminoedhin lan Farid Tuasikal. Kapala Balai Bahasa Surabaya, Drs. Amir Mahmud, M.Hum, mung bisa rawuh dhek bengine, ora bisa njunggoni nganti glundhung kendhang.

Sabanjure
Sarampunge gawe FSB 2007, miturut Ida, Panitia isih bakal repot ngurusi data/dokumentasi kanggo mangun Pusat Dokumentasi Sastra Buruh. Kajaba iku, dokumentasi FSB 2007 uga bakal dilampirake ing proposal FSB 2008 kang bakal enggal digawe.
’’Watara wulan Agustus utawa September iki, Panitia mbudidaya amrih wis bisa nglebokake proposal FSB marang Pemerintah [Depnakertrans]. Muga-muga festival iki mengko bisa dadi agenda nasional, sukur-sukur internasional. Kajaba saka kuwi, proposal uga bakal kakirimake marang Pemerintah Daerah, Provinsi, Kabupaten/Kota. Panitia ora mata dhuwiten, nanging, rak ya lucu ta, yen Pemerentah setempat ora awaeh dana bantuan sithik-sithika kanggo kegiyatan kang diarani becik iki?’’ mangkono kandhane Ida.
Yen pajabate melek budaya, kudune ora ngenteni dijaluki, nanging malah nawakake bantuan, kaya saweneh calon sponsor kang keraya-raya nglacak alamate panitia sawise maca saweneh artikel ing media cetak, amrih bisa nyeponsori FSB candhake. []

Sumber: JB

Wong Wadon Bojone Dewa

WADON kuwi mesem. Embuh sepira gedhene rasa seneng kang lagi ngrujug batine. Seneng saka jinis kang bisa kanthi gampang ngundang alok, “Semprul!” saka sok sapaa kang bisa ngonangi sawutuhe. Eseme wadon iku jan nuakal banget. Ponsel1 kang mau dililing-liling sambi mesam-mesem dirogoh maneh saka sak klambine merga muni thulalit-thulalit.

’’Alo?’’

’’Hm. Maya? Jeneng aslimu sapa ta?’’

’’Maya. Mayawati Sekaringtyas.’’

’’Wah. Apik banget jenengmu. Cocok karo ayumu kang marakake aku angel turu, ning, sedina sewengi ngimpi terus!’’

’’Ah! Ngimpi apa?’’

’’Ngimpi sesandhingan karo kowe, ing sawijining omah kang ing njerone mung ana aku karo kowe. Eh, ora. Ya ana kucing, ana manuk, ana cecak kang ngrungokake rembugane awake dhewe, kang tansah nguwasi apa saparipolahe awake dhewe. Omah kuwi mapan ing ereng-erenge gunung ijo kang hawane tansah seger, kang dadi papan pangayomane sawernane kewan, ya kang ambles bumi, kang laku dharat, lan maneka iber-iberan.’’

’’Dudu gunung gundhul…’’

’’Kang mung disaba manuk gundhul….’’

’’Ih, sampeyan nuakal banget!’’

’’Hm. Pancen, pawitanku ya mung nakalku iki kok. Kang kok kangeni rak ya nakalku ta?’’

’’Mas, apa Titok iku jeneng asli sampeyan ta? Titok sapa bacute?’’

’’Iya. Merga wong tuwaku biyen jare mung pengin duwe anak sitok thok, mula aku dijenengake Titok. Genepe: Titok Siberaniantok.’’

’’Hm. Jenenge sampeyan ya apik. Aneh, kaya wonge.’’

’’Yeh, rung kepethuk kok wis bisa ngarani aneh.’’

’’Lah, disawang gambare wae wis cetha, kok.’’

’’Mula ra kepengin kepethuk. Cukup nyawangi gambar wae!’’

’’Ora ngono! Suk Setu ta? Sida ta? Kabari aku yen sida, ngko ketemu neng endi, ya?’’

’’Inggih, Jeng!’’

’’Yeee…’’

’’Chpmsh…’’

’’Mmmmuach……’’

Sanalika praupane Maya, ya Mayawati Sekaringtyas, dadi sumringah mbrengangang. Batine sajak lagi kebegan rasa seneng kang marakake wadon kang pantes sinebut prawan tuwa kuwi rumangsa kaya iber ing awang-awang, kaya wadon among tapa kang tinampa pandongane, kinabulake panjaluke, malih dadi widodari aslendhang sutra, nganglang bawana angulati satriya bagus kang lagi mobal asmarane. Merga dheweke, widodari anyaran iku, mbokmanawa wis waleh langen asmara karo para dewa kang wis padha kelangan romantisme, kaya politikus kang kuwalat dadi robot, dadi kebo, dadi jaran, merga tansah geger rebutan kursi kencana.

Pipine Maya isih semburat abang tomat, kaya pipine Dewi Kunthi duk nalika bubar diambung Bathara Surya. Merga karoban sengsem, kaya Dewi Anjani kang lagi sengsem dolanan Cupu Manik Astagina. Bejane Maya, dheweke ora prelu kaya Dewi Anjani kang rebutan cupu karo sedulure, mancing dukane ramane ya Sang Resi Gotama, wekasan cupu manik kang bisa digawe nggegem bumi, bisa kanggo nyawang poncote jagad ngendi wae kang dikarepake, bisa kanggo ngundang dewa apadene dewi kuwi dibuwang adoh, tiba dadi tlaga, Dewi Anjani, lan sedulure, Sugriwa lan Subali, rebut dhisik ambyur ing kono saka isih padha adrenge pengin nguwasani cupu kuwi, wekasan padha gagar gegayuhane malah padha mentas salin rupa, amit-amit jabangbayi, padha dadi munyuk.

Saiki barang pusaka utawa jimat saemper Cupu Manik Astagina ngono kuwi wis dadi barang pabrikan, prasasat angger irung duwe, wong regane ya ora patia larang. Mula, Mayawati Sekaringtyas ora prelu rebutan cupu saka jinis kang kondhang kanthi sebutan ponsel kuwi karo sedulur-sedulure, wong kabeh padha duwe dhewe-dhewe. Uga rama lan ibune. Mula, uga ora kudu banjur semaput nyawang awake malih dadi bleger munyuk merga rebutan cupu, ora kudu tapa mataun-taun dadi tugu kanggo mulihake wujud sakawite kadidene manungsa, malah dheweke bisa salin rupa sadhengah wektu, sakepengine: sok ya malih dadi kucing gandhik neng kursi, dadi pitik, dadi cecak, dadi coro, dadi jaran, dadi wedhus, dadi asu, kang sakeplasan bisa bali dadi manungsa kanthi jeneng asline: Mayawati Sekaringtyas, utawa gawe jeneng kanglon: Banowati, Srikandhi, Ayu Utami2, Bawuk, Prawan Kencur, Kenya Ayu, Wedokanmu, Dewi Suseksi, Prawan Kasep, Widodari, Putri Kangen, Badgirl, lan liya-liyane. Mula, sejatine jeneng asline kuwi mung dadi penting kanggo urusan administrasi, bukak rekening, gawe katepe, lan sapiturute. Ing jagad kang mung kari sagegem iki dheweke bisa wae adu arep sapejagong karo wong papat utawa lima kang padhadene sambang doh: Panggul – Denpasar - Sidney - New Zealand - Singgapura - Yokohama, kanthi jeneng kanglon luwih saka siji.

Jan, pancen sekti tenan wong wadon Mayawati Sekaringtyas kuwi. Mbokmanawa banget luwih sekti tinimbang Randha Girah, Nini Pelet, utawa Mak Lampir. Paling banter Mak Lampir bisa mabur turut alas, turut kampung. Mangka Mayawati wis mabur tekan pojok jagad ngendi wae. Wingenane dawa budhal mabur menyang Nederland, wingi teka malah crita yen wis tekan Los Angeles. Lan, yen ora ana aral suk emben dheweke ya arep mabur menyang Mexico, kemit bayi, merga kancane nalika SMP biyen, Jathil Kusumaningati kang dirabi wong Mexico rong taun kepungkur, mentas nglairake.

Prekara mabur mrana-mrene nyang pojok jagad ngendi wae kuwi isih durung sepiraa. Sapa wae angger duwe sangu cukup ya bisa nglakoni. Lah, terus olehe dhuwit kuwi lho, saka ngendi? Mangka, ajamaneh kok pangkat, pegaweyan maton wae ora duwe kok. Gawene ya mung nglencer. Tur ya katone ora tau nyekel dhuwit akeh. Lho, ngono kok ya tekan ngendi-endi? Apa duwe aji thong-thong blanthong, mula banjur bisa mlebu kapal mabur senajan ora nggawa tiket? Terus, rak ya mesakake banget ta, saupama sopir taksi kang ngeterake saka Surabaya tekan Panggul3 kuwi tibake mung digendam?

Ana maneh gosip sumebar ngebaki kampung manawa sejatine ngono Mayawati iku dirabi jin sugih. Mula yen mung butuh dhuwit utawa mas-masan lan barang-barang larang liyane ngono wae ya kaya sulapan, sakedhepan wae bisa keturutan. Embuh ngayawara embuh tenan. Lha, kok rama ibune munggah kaji nganggo ONH Plus? Yen pancen duwe mantu jin harak ya aluwung numpaki mantune wae ta?

’’Lah, iku rak mung merga wegah diarani prawan tuwa!’’ cluluke Narko nalika wong-wong kang nekani arisane Sanggar Triwida4 padha ngrasani Mayawati.

’’Lho, dadi prawan tuwa kuwi, saiki dudu bab kang ngisin-isini lho Kang!” panrambule Siti, “malah prestasi kuwi!’’

’’Ya nek wis dilombakke kuwi prestasi!’’ Narko ngeyel.

Dredah antarane Siti karo Narko ora sida kedawan-dawan jalaran Jarot kang kawit mau aring karo notebook-e dumadakan mbengok, ’’Ikiiiii….. aku ketemu Maya!’’

“Ah, tenan pa piye, Rot?” pitakone Harwi sambi nyedhaki Jarot.

Kabeh padha semranthal nyedhaki Jarot. Saking semangate, Bagus malah nyampar gelas kang isih kebak teh anget.

Neng layar monitor notebook-e Jarot ana wong ayu mesam-mesem. Ya kuwi Mayawati Sekaringtyas. Saupama notebook-e Jarot mung tembre-tembre kang ora bisa nangkep gambare Mayawati –senajan wis ngglanik ngalor-ngidul-- mesthi wae Jarot ora bakal ngreti manawa lagi sapejagong karo Mayawati kang nalika isih SMA ngekos ing omah cedhak omahe kuwi, merga Mayawati nganggo jeneng kanglon Widodari.

’’Mbak Maya, eh iki mau ana kang ngrasani sampeyan lho!’’

’’Ngrasani apa Mas Jarot?’’

’’Ora ngrasani piye-piye, ning malah padha dhebat, merga Kang Narko ora precaya yen bojone sampeyan kuwi bangsa Jin.’’

’’Bener kuwi.’’

’’Bener piye?’’

’’Bojoku dudu jin.’’

’’Lha….’’

’’Dewa.’’

’’Oooo…’’

Jarot kaya bakul rujak kelarisan. Dirubung tepung gelang. Banjur jare Narko, ’’Wis, Rot, yen wani tulisen, takona, apa bener jenenge bojone Mayawati kuwi Rengkak? Maksude, Dewa Rengkak?’’
Wong-wong isih terus umyeg rasan-rasan. Ngrasani wong wadon bojone dewa. Mayawati Sekaringtyas? Wo, dudu. Mayawati iku prawan tuwa. Kang bojone Dewa iku Widodari. []

Ketintang, Desember 2003


versi indonesianya ada di CINTA MERAH JAMBU (Alfina, Surabaya 2006)

1 Tilpun selular utawa hand-phone, biasa dicekak HP.
2 Pengarang novel abasa Indonesia Saman lan Larung.
3 sawijining desa/kecamatan ing Pesisir Kidul, kebawah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
4 Papan nyawijine para pengarang sastra Jawa, mligine kang dedunung ing Kabupaten Trenggalek, Tulungagung, lan Blitar.

SRIAMI, KUWI JAGAD SEJE

NALIKA ujian semester lagi wae rampung aku mer­lokake sowan simbah ing Panggul. Preian kang suwe­ne mung rong minggu kuwi kudu takgunakake kanthi becik. Kanggo ngedhem pikir. Tenan kok, dadi mahasiswa kuwi kesele manggon ana si­rah!

Ing surat aku wis matur simbah yen saka Surabaya aku bakal langsung menyang Panggul, ora kathik nganggo mampir Ponorogo luwih dhi­sik. Wong menyang omahe dhewe wae kok, mengko yen wis tekan Panggul rak kete­mu gampang. Sebabe, nggon­ku kedereng kesusu-susu ben ndang tekan Panggul kuwi se­jene merga pancen kangen simbah, uga karana kangen sembadraku, kuwi lho: Sri­ami! Sriami kuwi kanggoku jan ora kurang ora luwih ora keri ora kliwat saka Sembadra; ireng manis, gan­des, luwes, merak ati. Na­nging repote aku dhewe durung yakin tenan, aku iki sapa: Arjuna apa Burisrawa!

Biyen, telung taunan ke­pungkur, kang ngenalke aku karo Sriami kuwi ya simbah. Wektu kuwi aku dhong so­wan simbah, kebeneran Sri­ami kang saiki dadi semba­draku kuwi diutus ibune ngeterake jajan malem seli­kuran.
“Kenalna iki lho ndhuk, putuku kang nate takcritakake kae,” ngono dhawuhe simbah. Nanging, Sriami malah katon mengkeret. Si­dane aku kang ora sranta, dheweke tak cedhaki, lan tanganku karo tangane banjur padha salaman sawise aku nyebutakejenengku.

Dina riayane luwih akeh nggonku dolan karo Sriami. Aku dhewe ya gumun, kok jroning wektu ora nganti rong minggu wae aku wis raket banget karo dheweke. Sedina muput dheweke takjak dolan neng Konang ya gelem wae. Dolanan prau tambang ana pancer ngeling­ake aku marang lakon Sem­badra Larung. Batinku, ya iki Sembadra kang kudu enggal taklarung jironing atiku, ben kentir dening ka­tresnanku, ben dadi Sembadraku!
Wayah tengange Sriami ngejak bali. Mesthi was aku ora gelem, lha wong durung katog.

’’Panas banget Mas, ayo bali wae?!’’ dheweke setengah ngajak setengah taren.

’’Panas ya ngiyup ta? Ning aja bali dhisik. Mengko yen jaringe wis mentas awake dhewe lagi bali, nggawa iwak, ben katon kang bisa kanggo alasan yen dianggep kesuwen.’’

’’Apa yen ora nggawa iwak ora katon yen ana kang di­purih?’’

’’Katon wae. Lha, ya kuwi kang ora kena ana kang weruh; njur iwak kuwi mengko rak kena nggo nutupi.’’
Sidane mulih sore tenan. Tekan daleme simbah wis surup. Kamangka aku kudu banjur ngeterake Sriami. O­mahe kira-kira setengahan ki­lo saka daleme simbah. Ora adoh. Ya, amarga anggone ora adoh kuwi, mula gampang rakete!

Sajake simbah ya tanggap ing sasmita. Ngerti yen aku saya raket karo Sriami, bola-bali aku apadene Sriami di­semoni. Nganti ing sawijining wektu terang dhawuhe, ’’Le, kowe kuwi wis gedhe. Simbah ngerti yen jaman saiki ngono jamane kebo nu­su gudel. Simbah mung bisa mangestoni, yen kowe wis seneng tenan. Dhasare Sri kuwi bibite ya apik, bobote ya abot, bebetane kowe ya wis weruh dhewe. Terusna Le, terusna. Nanging aja lali matur ibu bapakmu. Mengko tiwas kadhung, yen ibu ba­pakmu ora sarujuk rak ya ra kepenak.’’

’’Rak lucu ta Mbah, bilih kula mothah nyuwun rabi? Tiyang kuliah mawon dereng cekap ngaten kok.’’

’’Lha, kowe seneng te­nan ora?’’

’’Duka penjenengan, Mbah.’’

’’Woo, rupamu!’’

Simbah katon seneng nali­ka aku teka. Ora maido, jalaran sawise ditilar Mbah Kakung karo tengah taun ke­pungkur, mesthi wae mbah putri kuwi rumangsa kesepen. Yu Nisroh, pembantune sim­bah kuwi jan keladuk temen. Wonge mueneng banget, angel dijak guyonan. Kamangka simbah kuwi karemane guyon lan sembranan, senajan wis sepuh. Ing omah gedhe mag­rong-magrong kuwi ora ana wong liya kejaba Yu Nisroh lan simbah. Arang kadhing ketambahan aku.

Dina candhake kaya kang wis takrencana, aku menyang omahe Sriami. Dinane Ming­gu. Lan saka keparenge bapak lan ibune, Sriami takjak dolan, kaya biasane, golek iwak nyang pesisir Konang, nunggu mentase jaring. Kang takgumuni, Sriami sajake ora karep ing ati. Nanging uga ura wegah nalika takkandha ni yen dheweke arep tak jak nyang Konang. Sajak lagi ana bob kang wigati, kang penting, kang lagi dipikir­ake. Dheweke malih ora akeh omonge, ora akeh guyune kaya padatane. Iki mesthi ana masalah kang kudu enggal bisa dirampungake, batinku.
Sidane aku budhal me­nyang Konang karo Sembadraku. Sadawane dalan ora ana kang mbukaki rembug. Ora apa kang dikandhakake, keja­ba mung gremeng-gremeng neng njero atine dhewe-dhe­we. Dadine kaya lagi jothakan.
Ing pesisir wis rada rame uwong. Pancen usume metu tongkol; kathik sedhela ma­neh, kandhane salah sijine bakul iwak kang taktakoni, jaringe bakal mentas. Aku banjur lungguh, lendheh-­lendheh watu marmer saanak gajah kang mesthing dierah saka Sanggung. Taklirik, Sriami niru apa kang tak tindakake, lungguh ing sisihku karo mbukaki maja­lah kesayangane.

Aku nyawang segara, om­bak, lan watu karang. Nanging angen-angenku tekan ngendi­-endi.
’’Ayo Sri, nyedhaki wong njaring kae?’’ Ujug-ujug aku ajak-ajak. Rasane pancen ora ana ukara kang luwib becik, kang kena tak gawe ngrubah suwasana.

’’Meng­ko woe, yen jaringe wis mentas.’’ Ngono wangsulane Sembadraku kuwi tanpa nganggo nyawang aku. Dhe­weke isih menthelengi ma­jalahe, kamangka aku dhewe yakin yen dheweke ora maca majalah kuwi kanthi becik.
’’Apa sampeyan kang nulis iki?’’ pitakone karo numpang­ake majalah kuwi ing pang­konku. Ana kang krasa aneh jroning pitakone kuwi. Nya­tane wong aku iki ora mung pisan pindho nulis neng maja­lah kang disenengi kuwi, lan dheweke ya wis ngerti yen aku iki seneng crita. Biasane yen karanganku dimuat dhe­weke mung alok, ’’Mas, cri­tamu dhek wingi kae jan ra­me tenan.’’ Utawa, ’’Mas, critamu iki kurang muyeg, kang iki cengeng,’’ lan sapiturute, ora kathik nganggo neges-neges sapa kang nulis sapa kang nga­rang. Nyatane kang ditulis sa­durunge crita kuwi diwiwiti ya jenengku, kathik takkira jenengku iki saindonesia ora ana kang madhani. Mulane aku ora banjur mang­suli pitakone kuwi kanthi tembung: iya utawa dudu, malah wangsulanku arupa pi­takon, ’’Ana apa ta, kok ndadak neges-neges?’’

Majalah kuwi isih medhag-­medhag ing pangkonku. Kang dikarepake Sembadraku kuwi sawijining crita cekak kanthi irah-irahan Sawijining Wengi Sangisore Wulan Ndadari. Kang nulis pancen aku! Isine crita, yakuwi sawijining pa­wongan, aku, kang ing sawi­jining wengi lagi sengsem andon tresna karo kenya aran Dartik.
’’Ngono wae kok dikan­dhak-kandhakake wong a­keh.’’

Sriami nutuh aku, nanging ukara kuwi kaya-kaya ditu­jokake marang awake dhewe. Aku rada kaget, senajan yakin yen dheweke durung bisa milah-milahake antarane kanyatan ing alam gumelar iki lan kanyatan ing jagading crita.

’’Kuwi rak mung crita ta Sri! Lha, apa kowe ora melu seneng yen aku isa crita ngono kuwi? Apa kowe ora seneng yen mbesuk kowe klakon nduwe bojo pengarang peng-pengan?’’ pangarih-arih­ku, ngedhem-dhemi atine.

’’Halah! Pancen sampeyan arep pamer yen nate duwe putri ayu, ya Dartik kuwi! Aku ngerti jenenge tenan ngo­no Windarti. Kang ngandhani kancaku neng sekolahan, adhine kanca sampeyan. Dheweke ya wis maca crita iki. Sampe­yan kuwi, yen trah arep rabi kenya Surabaya mbok uwis, ndang, ra sah game ontran­-ontran. Aku ya ra apa-apa kok.’’
’’Sareh, Sri! Beningna dhi­sik pikirmu. Aku ora nate tepungan karo wong kang je­nenge Windarti, Sri! Yen ngo­noa, kuwi mung crita. Crita Srii…! Crita karanganku wae.’’

’’Aku ngerti. Aku ngerti, kuwi mung crita. Nadyan kang dikandhakake dening kancaku kuwi kanggone aku ya mung crita. Nanging kang­gone wong-wong kang nyipati dhewe nalika sampeyan lagi sengsem-sengseme karo Win­darti kuwi, kang mesthi ora akeh bedane karo kang sam­peyan critakake ing Sawi­jining Wengi Sangisore Wu­Ian Ndadari iki, mesthi kuwi kabeh dudu crita sawantah. Aku ngerti kuwi mung crita, crita sejarah!’’

’’Tenan Sri, kuwi mung crita. Apa kowe ora per­caya?’’

’’Aku ngerti, Mas, kuwi mung crita. Lan aku percaya. Ning ya karana nggonku percaya kuwi, kang njalari aku dadi keranta-rania.’’

’’Lho, yen wis genah ma­nawa kuwi kabeh mung crita rak njur ora sah dipikir ta?’’

’’Dhawuhe guruku, Mas, pengarang kuwi, kang gaweh­ane nulis crita, senengane pancen ndadekake siji anta­rane angen-angen lan ka­sunyatan. Aku mbayangake kang lucu-lucu nalika kuwi kabeh diterangake dening gn­ruku. Nanging saiki aku ne­moni contone neng sampe­yan, lan nyatane pait yen dirasakake. Blas ora ana lucune. Sampeyan aja mbayangake yen aku ora ngerti apa-apa ngenani Win­darti kuwi. Data-datane leng­kap, wiwit asal-usul nganti biografine, klebu kang nyri­takake hubungane karo sam­peyan. Aku ngerti uga, ning nuwun sewu lho Mas, na­lika ditinggal Windarti kuwi meh wae sampeyan setres, ta? Njur sampeyan dhek sema­na terus ketemu aku. Wektu kuwi, aku kanggone sampe­yan mung ora luwih saka kanca kang kena kanggo ngi­langi rasa sepi. Aku ngerti kuwi kabeh, Mas. Nanging karana nggonku isih mambu pupuk lempuyang, manawa ora karana gedhene tresnaku karo sampeyan, aku ora nate nyujanani kahanan. Kanthi crita sampeyan kuwi aku ma­lih ngerti yen sampeyan luwih isa jujur, isa terus terang karo liyan tinimbang karo aku. Embuh yen sejatine sampe­yan kepengin crita karo aku, nanging arep terus terang ora mentala. Iku lho, Mas, kang marahi aku keranta-ranta.’’

Aku bingung, kaya jaka klanthung kelangan lurung. Piye nggonku bakal bisa njlentrehake nganti dheweke bisa nam­pa yen kabeh kang takgam­barake ing Sawijining Wengi Sangisore Wulan Ndadari mung sawijihing impen? Ka­mangka kuwi kabeh mung impenku, ya impene wong kang lagi ngimpi dadi penga­rang! Aku ora wedi kelang­an dheweke jalaran ing an­tarane aku lan dheweke ana tali kang luwih dene kuwat, kang ora kena dipedhot ma­nawa salah siji ana kang ke­pingin mbandhang sakepenak­e awit yen manut pikirane aku iki ora nresnani dheweke kanthi sawutuhe tresnaku. Dheweke mesthi nganggep yen tresnaku marang dheweke mung turahane kang wis nate takpasrahake ma­rang Windarti.

Aku pancen nate andon tresna karo kenya aran Dar­tik, dudu Windarti. Nanging kang andon tresna kuwi dudu aku kang crita iki, nanging aku kang nate tak critakake kuwi. Kamangka antarane aku kang crita lan aku kang takcritakake, urip ing jagad kang beda. Jagadku iki seje karo jagade aku kang takcritakake, seje karo jagade Dartik. Kanthi mangkono mesthine ora ana alasan kang­go nyujanani sesambungan tresna antarane aku lan Dar­tik kuwi, anggere isa milaih-milahake jagad kang beda-beda. Nanging piye anggonku nggamblangake iki ka­beh marang Sembadraku ku­wi?

’’Apa kowe weruh dhe­we Sri, karo kang kandhamu jenenge Windarti kuwi?’’

’’Durung. Ning, kapan-ka­pan aku mesthi bakal ketemu dheweke.’’

’’Lan kowe nganggep yen crita Sawijining Wengi Sangi­sore Wulan Ndadari kuwi nyata-nvata nate kedadeyan?’’

’’Mesthine, kasunyatane malah luwih saka kuwi!’’

’’Kowe yakin tenan?’’

’’Yakin!’’

’’Yen ngonoa, kang kok yakini kuwi ora beda karo kang takcritakake kuwi. Ka­beh mung alelandhesan angen-angen. Saiki timbang angel-angel, ngenge wae Sri: bayang­na, wulan ndadari kuwi ana ngendi panggonane. Upamane awake dhewe iki duwe gega­yuhan bakal padha dene nge­sok katresnan ana sangisore wulan ndadari kuwi, apa bisa klakon? Mokal Sri, kuwi sawi­jining bab kang mokal banget kelakone. Ya kaya kang takcritakake kuwi. Ora bakal klakon, kejaba yen mung jro­ning crita!’’ []

sumber: JB