Saturday, 2 February 2013

Anak Setan [1]

Novel: Oeing Ling

Pengantar Redaksi: Pembaca yang pedulian, mulai edisi 82 (Februari 2013) ini Majalah Peduli menyuguhkan cerita bersambung berjudul Anak Setan. Seutuhnya adalah kisah tentang duka-lara seorang manusia yang terbuang dari masyarakatnya. Percayalah, Oeing Ling menggarap kisah ini dengan cara yang berbeda dengan kisah-kisah sedih a la Sinetron Indonesia!


illustrasi dipotong dari lukisan RIHAD HUMALA


Alung berjalan menyusuri pematang sawah. Padi sedang menguning, menyebarkan keharuman yang amat khas, digiring angin semilir. Pagi itu sangat bening. Kehangatan matahari pagi sungguh telah meningkatkan gairah para petani. Beban kehidupan yang semakin menindih pun seolah malah makin mengasyikkan. Keindahan garis-garis pematang, padi menguning dengan keharumannya yang sangat khas, desau angin ditingkah nyanyian pipit, dan kehangatan matahari pagi itu, samasekali tak mampu menyentuh wilayah keharuan dalam perasaan Alung. Atau, barangkali, Alung sudah tak lagi sempat menerima sentuhan-sentuhan keindahan dan kenikmatan itu. Pikiran dan perasaan Alung sedang kacau. Bahkan, sering ia merasa sedangberada di puncak kegetiran hidupnya.

Malahan, mungkin, sistem pikiran dan perasaan Alung telah benar-benar rusak. Seperti komputer yang lagi hang, karena ia terlalu sibuk memikirkan kematian itu, yang tak lain dan tak bukan adalah kematiannya sendiri.

Alung telah mati. Memang, dia masih berjalan dengan tubuhnya sendiri yang masih berdarah, berdaging. Sungguh tragis. Sepuluh tahun yang lalu dia roboh menimpa pangkuan ibunya. Tiga tubuh terkapar di pagi yang masih gelap itu: tubuh Alung dan kedua orang tuanya.

”Ayah, Ibu, bangunlah! Ayo, matahari sudah naik!”

”Oh, anakku! Kau masih hidup, Nak?”

”Anakmu sudah mati, Bu….! Sudah mati!”

”Tapi…..?”

”Yang Ibu lihat cuma bayang-bayang.”
Kata-kata Alung meluncur mendatar. Sedatar pandangnya yang jadi kosong akibat terlalu banyak hal berkelebat di dalam angan-angannya sendiri. Nada yang datar, tapi justru semakin memperkuat efek puitis kalimat itu. Dan pertemuan keluarga itu sungguh sangat teatrikal.

”Oh, mengapa bukannya kita saja yang mati: aku dan kau? Mengapa harus anak kita yang tak tahu apa-apa ini?” Ayah Alung protes. Kepada dunia yang diyakininya sudah terlalu tidak waras. Dunia yang sudah sangat gila. Bahkan, kepada Tuhan.

”Bersabarlah. Kita memang selalu terlambat menyadari kehendak Tuhan. Suatu saat nanti, pasti kita akan tahu mengapa semua ini harus terjadi,” kata-kata ibu Alung menukik dan sampai pada sasaran secara sangat akurat, padahal diucapkan dengan tenaga yang sangat pas-pasan. Suaranya serak dan lirih. Begitu lirih, tapi lebih dari cukup untuk membuat seluruh jiwa raga ayah Alung bergetar hebat.

”Ya, sekarangpun aku tahu. Barangkali inilah hukuman yang setimpal bagi kita. Ini semua tentu lebih berat, jauh lebih berat daripada kematian kita sendiri. Tapi, apa pula yang tertimpakan kepada anak kita ini? Hukuman? Hukuman atas tindakannya yang mana? Jangankan berbuat, berpikir untuk hal-hal yang jika lalu dilakukaknnya berarti melanggar hukum pun aku yakin tidak pernah. Anak kita terlalu bersih. Dia tidak berdosa, setidaknya untuk dikenai hukuman seberat itu. Cobaan? Jika dengan begitu dia harus berdiri tegak lurus dengan maut, masihkah kita dapat menyebutnya sebagai sebuah cobaan? Ah, yang bener aja! Inilah akibatnya jika orang-orang mabuk --bahkan orang-orang gila-- diberi kesempatan menggenggam kekuasaan. Inilah bencana. Setidaknya buat orang-orang kecil macam kita. Mereka menimpakan bencana bagi kita, dan percayalah, dengan begini sebenarnya mereka telah memintal tali yang akan menjerat leher dan menggantung mereka sendiri. Sebab Tuhan tak akan membiarkan mereka. Sebab dibuat berkeping-keping pun dunia akan tetap waras. Orang-orangnyalah yang gila.” Begitu, ayah Alung seperti kesurupan. Kalimat-kalimatnya meluncur deras, mirip-mirip sebuah editorial, atau sebuah esai yang disusun dengan emosi yang sangat kental.

”Sudahlah,” ibu Alung kembali membijaki.

”Tidak. Sampai mati pun aku akan terus bertanya!”

”Berteriak sampai serak pun suara kita hanya akan memantul kembali ke dalam telinga sendiri. Kita ini tak lebih dari narapidana yang dikerangkeng di dalam tubuh sendiri.”

”Sedangkan anak kita ini, tak lebih dari terpidana mati yang harus mengusung mayat sendiri ke lubang kubur yang tak karuan di mana tempatnya itu.” [bersambung]

MENILAI KEMATANGAN SEORANG PENJUAL

Pengantar:
Dalam sebuah grup jual-beli hewan (tertentu) di Facebook, beberapa kali saya jumpai penjual bersitegang dengan calon pembeli gara-gara si calon pembeli mengajukan tawaran (harga) jauh di bawah banderol yang dipasang. Tetapi, tak sedikit pula penjual mereaksi jhal yang sama justru dengan kalimat yang ramah, segar, kadang juga setengah berkelakar. Itu cara yang sangat cerdas untuk menguapkan energi negatif, bukan? Pada suatu kesempatan, saya pun menulis komentar yang terlalau panjang, seperti berikut ini (sudah disunting sekadarnya).


Alangkah indahnya jika semua penjual tidak gampang tegang ketika menghadapi calon pembeli yang menawar jualannya dengan angka yang sangat jauh dari yang dipatoknya. Atau setidaknya: tidak menampakkan kemarahaan atau ketersinggungannya.

Jika kita mau sejenak berempati kepada si hewan, pada satu titik kita akan sadar bahwa derajatnya tidak ditentukan oleh seberapa mahal harga jual maupun belinya, melainkan bagaimana ia dipelihara, dirawat, dan dibinatangkan dengan baik.

Jika ada penjual gampang tersinggung dengan penawaran yang terlalu rendah, saya lalu teringat oleh cerita rakyat yang saya lupa judul dan sumber aselinya, yang secara ringkasnya begini:

Pada suatu hari Si Denun pergi ke pasar menuntun seekor kambing, hendak menjualnya. Pada saat yang sama, ada tiga orang (A, B, dan C) yang sudah berbagi tugas untuk mengerjai Denun.

Belum jauh dari rumah, Denun yang menuntun kambingnya itu dicegat A, yang serta-merta menyemprotkan kalimat ini begitu Denun sudah sangat dekat dengannya, ”Anjing siapa ini, Nun, setahuku selama ini kamu tidak memelihara anjing!”
--Catatan: bahwa sekarang bisa ada seekor anjing yang harganya berlipat-ganda dibandingkan seekor kambing, itu soal lain. Tampaknya ketika cerita aslinya dibuat, harga kambing jauh lebih mahal daripada anjing.

”Emang kamu sudah katarak, ya? Ini kambing, bukan anjing!” Denun balik menyemprot.


”Kamulah yang katarak! Coba, sebentar lagi kan menggonggong. Kalau tidak percaya….. biar saya pukulnya, ya?”

”Ayo, coba saja!” Denun menerima tantangan si A.

Maka, A memukul kambing yang tampak terbengong-bengong itu dengan pentungan yang sudah disiapkannya. Kaming itu pun terkejut dan mengembik.

”Nah, menggonggong, kan?”

”Itu tadi mengembik, bukan menggonggong. Telingamu tidak beres, kali!”

”Menggonggong!”

”Mengembik!”

”Menggonggong!”

Sadar bahwa pasar masih jauh dan keburu bubar ketika ia datang, Denun nyelonong saja meninggalkan A yang juga sudah tampak tak bersemangat lagimenggodanya. Lebih tepatnya: mengerjainya.

Tetapi, tak lama kemudian Denun harus berhadapan dengan B, yang lagi-lagi dengan penuh percaya diri menyebut binatang yang dituntunnya sebagai: anjing. Pikirannya pun mulai goyah. Tetapi ia masih bertahan, setelah melalui perdebatan yang cukup sengit pula seperti dengan si A tadi.

Giliran terakhir, dicegat C, pikiran Denun benar-benar ambruk. Dia khawatir dan menyangsikan kewarasannya seperti dikatakan C, ”Duh, kasihan kamu nanti kalau orang sepasar raya menertawakanmu dan menganggap kamu sebagai sudah tidak waras lagi.”

Maka, Denun menyerahkan kambingnya ke C dengan harga seekor anjing. Artinya, sangat murah!

Demikianlah Saudara! Terima kasih.