Sunday, 28 December 2008

Menyusuri Urat Nadi Seks Kota Buaya

Boleh dibilang Surabaya identik kota prostitusi. Tidak percaya? Mari kita menamsil seperti ini: di Pelabuhan Tanjung Perak, sesaat setelah kapal (baik penumpang maupun kargo) melego jangkar, PSK (pekerja seks komersial) sudah "menjemput". Mereka umumnya pengasong perempuan atau waria yang juga menjual "daging mentah" tubuhnya untuk konsumsi para pelaut yang butuh "ngetap oli" setelah "puasa" di tengah laut. Para PSK itu menyongsong kapal dengan perahu-perahu kecil, bahkan sampai ke tengah laut. Bila tak ada kapal merapat, para PSK itu juga berkeliaran di sudut-sudut Pelabuhan Tanjung Perak.

Masuk kota, tentunya bila malam, PSK berjajar di pinggir-pinggir jalan, mulai dari Jl Pemuda, Gubernur Suryo, Panglima Sudirman, Ahmad Yani, Diponegoro, sampai Bundaran Waru. Hendak keluar Surabaya lewat Terminal Bungurasih atau Bandara Juanda pun kita masih juga mendapati para PSK menjajakan diri di peron atau di gang-gang antarbus yang parkir.

Sudah pasti, selain PSK jalanan seperti itu, Surabaya juga mempunyai seabrek lokalisasi resmi maupun tidak resmi alias liar dan terselubung. Dari kelas teri di panti-panti pijat hingga kelas kakap di hotel-hotel, tempat-tempat hiburan malam, salon, atau rumah-rumah mesum kelas atas yang memang menyediakan "ayam-ayam" aneka rasa untuk para hidung belang. Sebut saja Dolly, Jarak, Bangunrejo, Moroseneng, dan Sidokumpul. Itu lokalisasi "resmi". Atau kawasan Kedungdoro, Darmo Park, segi tiga emas Tunjungan, Embong Malang dan banyak lagi. Itu lokalisasi tidak resmi.

Begitu suburnya geliat usaha esek-esek di Surabaya itu, tak mengherankan bila Hartono -germo kelas kakap-mengembangkan sayap usahanya di kota ini, setelah sukses di Jakarta dan Bali.

Bila Anda setuju dengan klaim bahwa Surabaya adalah kota prostitusi, maka yang kemudian pantas ditanyakan adalah, sejak kapan sebetulnya lokalisasi di Surabaya dikenal orang? Buku ini mencatat (setidaknya yang tercatat manuskrip sejarah), Surabaya 138 tahun lalu sudah mempunyai lokalisasi besar. Namanya Bandaran. Lokalisasi ini terletak di Kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir, tepatnya di belakang Markas Lantamal III Surabaya.

Disebutkan dalam buku ini, tahun 1864 lokalisasi Bandaran sudah amat tersohor. Tidak hanya dikenal warga Surabaya saja, namun juga luar kota dan warga asing, termasuk para pelaut yang berlabuh. Pada tahun itu, di Bandaran terdapat 228 PSK di bawah asuhan 18 germo. Rata-rata PSK-nya tergolong high class. Yang menarik, dalam beroperasi para PSK kala itu harus mengenakan ID card (tanda pengenal). Hebatnya lagi,
lokalisasi di zaman pendudukan Belanda itu juga dilengkapi dengan rumah sakit yang khusus melayani PSK yang terjangkit penyakit kelamin.

Ibu-ibu Kencani Waria

Dari waktu ke waktu dunia prostitusi di Surabaya makin marak dengan bentuk servisnya yang juga makin aneh-aneh. Bahkan kini mulai merambah di jalan-jalan sempit dekat pemukiman penduduk. Pelaku-pelakunya juga kian kreatif dalam mengemas dan memasarkan "dagangan". Ada yang lebih senang di jalanan, tapi tidak sedikit yang tetap enjoy di gedongan. Meski polisi dan Satpol PP Pemkot Surabaya rajin menertibkan, jalananan Surabaya sulit bisa dibersihkan dari "hiasan" para PSK itu. Tidak hanya PSK perempuan, tapi belakangan juga banyak waria, gay, dan gigolo berkeliaran.

Berbagai siasat diterapkan untuk memikat konsumen. Alhasil, ada PSK yang menyaru sebagai mahasiswi dan siswi SMA. Ada yang pura-pura jadi SPG (sales promotion girl), kapster di salon-salon atau profesi lain yang banyak bersentuhan langsung dengan konsumen. Tapi ada pula yang terang-terangan dengan beriklan di koran-koran.

Dan, bukan barang baru lagi bila hampir semua panti pijat yang di belakangnya diembel-embeli "tradisional", seperti dicatat buku ini, juga menjual jasa "esek-esek". Yang paling gres, kini di Surabaya juga diwarnai fenomena seks ekstrem: ibu-ibu gemar mengencani waria-waria cantik. Ha?! Menurut pengakuan si waria, umumnya ibu-ibu
langganannya adalah wanita kelas atas, bermobil, dan senang kencan di hotel-hotel berbintang. Mereka suka waria-waria bertubuh langsing. "Tampaknya para ibu itu ingin sesuatu yang lain daripada yang lain. Dan, mereka tampaknya mendapat kepuasan tersendiri dengan para waria itu," ujar sosiolog Dede Oetomo yang banyak bersentuhan
dengan persoalan dunia "bawah tanah" ini.

Fenomena tersebut hanya satu penggalan yang tercatat dalam buku yang isinya kebanyakan pernah dimuat di halaman Metropolis Jawa Pos ini. Masih banyak drama lain yang mungkin membuat pembaca geleng-geleng kepala (sambil mengelus dada). Pertanyaannya, fenomena seks dan sosiologis macam apa yang sedang berlangsung di Surabaya itu? Investigasi yang ditulis secara features, dan kaya diskripsi dalam buku ini, memang tidak menjawab pertanyaan itu. Karena buku ini hanya memotret geliat industri seks di Surabaya saja, di permukaan! Sehingga terkesan buku ini kurang dalam dan detail.

Hendak diperlakukan sebagai apa buku ini, bergantung resepsi pembaca. Apakah sekadar untuk memuaskan fantasi, menambah pengetahuan, atau sebagai ultimatum bagi warga Surabaya: awas, prostitusi ada di sekitar kita! Monggo saja. []

Judul : Surabaya Doublecover, Kehangatan Malam Metropolis
Penulis : Tim Metropolis JP (editor Bonari Nabonenar)
Penerbit : JP Press, Oktober 2003
Tebal : ix + 181 hal

*) Peresensi, Oleh Leres Budi Santoso, adalah cerpenis dan penggemar buku.

diambil dari www.jawapos.com Minggu, 26 Okt 2003

Sunday, 21 December 2008

Kado Tahun Baru bernama Kabar Baik


Ada kabar baik bagi calon BMI dan calon BMI yakni mulainya diterapkan pelayanan satu pintu untuk proses keberangkatan ke luar negri. Tetapi, bukankah kita sudah kenyang dengan kabar baik dan kenyang pula dengan kenyataan yang tidak baik?

’’Layanan Satu Pintu, Hadiah Tahun Baru Bagi TKI,’’ demikian sebuah judul berita versi detik.com (Rabu, 17/12/2008 23:20 WIB). Seperti dalam berita yang juga diturunkan Intermezo edisi ini (diambil dari: www.bnp2tki.go.id) kalimat judul itu dikutip dari pernyataan Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat, ’’Peluncuran ini merupakan hadiah tahun baru bagi TKI. Dengan hadirnya sistem Layanan Terpadu Satu Pintu, TKI dan calon TKI di NTB akan dimudahkan dalam pengurusan dokumen pemberangkatan ke luar negeri, melalui cara yang cepat, aman, murah, serta tidak birokratif,’’ jelas Jumhur Hidayat kepada wartawan.’’

Pernyataan Pak Jumhur itu sangat indah. Tetapi, sayangnya, pengalaman membuktikan bahwa kalimat-kalimat indah semacam itu lebih sering menimbulkan kegetiran, kejengkelan, dan rasa tidak enak campur-aduk di kemudian hari. Mari kita simak kalimat-kalimat sejenis ini: ’’Setelah konversi minyak ke gas, dijamin gas akan lebih mudah didapat dengan harga yang lebih murah daripada minyak.’’ Juga kalimat ini, ’’Kelangkaan elpiji pekan ini dijamin akan berakhir Selasa yang akan datang.’’ Yang terakhir itu adalah kalimat yang ’’sangat cerdas’’ tetapi juga berpotensi membingungkan, karena adanya kata-kata ’’akan berakhir’’ bersanding dengan ’’Selasa yang akan datang.’’ Karena, ’’Selasa yang akan datang’’ itu hanya bisa berakhir setelah terjadi kiamat. Lha, kalau kita sudah sampai pada hari Selasa dan ternyata elpiji masih langka, kan memang jaminannya adalah: ’’Selasa yang akan datang,’’ dan bukannya ’’Selasa hari ini.’’

Cak Kartolo pun layak marah jika mendengar permainan kata semacam itu dilakukan oleh pamong praja, pejabat, karena ia jelas lebih berhak membanyol seperti itu.

Ada lagi yang sesungguhnya juga sangat penting untuk kita bahas, yakni keberadaan terminal khusus bagi BMI di bandara kita, yang ada di Cengkareng itu, misalnya. Ini tidak ada kaitannya dengan keadaannya sekarang bagaimana dan nanti akan seperti apa. Pada saat yang sama Pemerintah memandang keberadaan terminal khusus itu sebagai bentuk layanan istimewa terhadap para pahlawan devisa-nya, sedangkan si ’’pahlawan devisa’’ sendiri sering mengaku justru mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan di terminal khusus itu.

Sebenarnya sangat perlu pula di HK ini digelar jajak pendapat dengan pertanyaan menyangkut keberadaan terminal khusus itu, untuk mengetahui apakah keberadaannya: [a] memudahkan, [b] menyengsarakan, [c] biasa-biasa saja, dan seberapa banyak BMI-HK yang menghendaki agar terminal khusus itu: [a] dipertahankan, [b] dihapus.

Kita kembali ke pernyataan Pak Jumhur bahwa dengan pelayanan satu pintu itu BMI ’’…akan dimudahkan dalam pengurusan dokumen pemberangkatan ke luar negeri, melalui cara yang cepat, aman, murah, serta tidak birokratif.’’

Ada rumusan ’tujuan’ dalam kalimat itu yang dalam ilmu mengajar disebut sebagai rumusan yang tidak operasional. Ambil contoh tentang ’aman.’ Aman yang seperti apa? Bukankah orang sering mengatakan bahwa kampungnya aman hanya karena di sana tidak terjadi pembunuhan, sementara pencurian, kekerasan terhadap anak, dan kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi? Juga mengenai ’murah.’ Kalau mau jelas, murah itu berapa? Sekarang berapa, dan setelah ada Layanan Satu Pintu nanti akan jadi berapa? Ini kan belum jelas!

Lha, kapan le jelas?

REDAKSI

Wednesday, 3 December 2008

Ketua PPSJS Baru Kritisi Bahasa Jawa Google


SURABAYA – Kepengurusan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) telah dilantik. Ketuanya dijabat lagi oleh Bonari Nabonenar untuk periode 2008 - 2013. Pertengahan 2009, PPSJS merencanakan menggelar Festival Sastra Jawa (FSJ) pertama di Trenggalek. Ajang ini diharapkan bisa menjadi embrio ajang sastra etnik di Nusantara yang lama digagas.

Selain itu, tambah Bonari yang ditemui seusai pelantikan di Pendapa Kampus Sekolah Tinggi Seni Wilwatikta (STKW) Surabaya, Rabu (26/11), ke depannya PPSJS juga bakal bekerjasama dan memperluas jaringan dengan beberapa paguyuban lain, termasuk juga penerbit. “Jika ada salah satu anggota membuat buku, bakal difasilitasi untuk bisa masuk ke penerbit,” jelasnya.

Dua buku yang telah diterbitkan PPSJS, ditulis salah seorang anggota PPSJS, Sri Setyowati atau akrab dipanggil Trinil. Dua buku itu berupa guritan berjudul Dunga Kembang Waru dan novel berjudul Sarunge Jagung. Semuanya karya itu berbahas Jawa Surabayaan bukan Jawatengahan.

Menurut catatan Surabaya Post, Trinil dalam proses pemilihan Ketua PPSJS 2008 – 2013, juga banyak diunggulkan dan diharapkan bisa ngemong anggota PPJS. Selama ini dia juga dinilai produktif menulis dan aktif di keanggotaan. Karena kesibukannya di kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Trinil menolak duduk di kepengurusan tapi tetap mendukung sepenuhnya PPSJS.

Kalau PPSJS selama ini jarang muncul di permukaan, jelas dia, karena sepinya kegiatan. Acara besar yang pernah digelar PPSJS adalah Kongres Sastra Jawa (KSJ). Itupun baru dua kali diadakan dan rentan waktunya sangat jauh. KSJ pertama pada 2001 di Solo dan kedua 2006 di Semarang.

“Kegiatan ini waktunya nempel dengan Kongres Bahasa Jawa (KBJ). Karena itu, kadang KJS dikatakan saingan KBS,” tutur Bonari.

Selain itu, tambah Bonari, PPSJS bakal menjadi wadah aspirasi anggotanya mulai yang muda maupun yang memiliki nama besar seperti Suparto Brata, RM Yunani, Suharmono Kasiyun dan lainnya. Semisal karya anggotanya ada yang ‘menyomot’ tanpa ada ijin atau tanpa ada royalti, PPSJS memfasilitasi dan ikut “teriak,”.

Sementara pada pidato pelantikannya, Bonari juga mengkritik Bahasa Jawa di situs Google. Dia menilai ada beberapa ketidaksesuaian yang digunakan Google dengan ejaan yang baku. Misalnya penulisan fonetis “o” pada “toko” dan “o” pada “tokoh”. Di situs itu dituliskan dengan vokal yang sama “o”.
Dalam Bahasa Jawa berbeda dengan Bahasa Indonesia. Kedua vokal tersebut dituliskan berbeda di Bahasa Jawa. Vokal “o” pada “tokoh” di Bahasa Jawa ditulis dengan vokal “a.”

Di Bahasa Jawa Google, kata dia, akan sulit dibedakan antara kata “loro” berarti “dua” ataukah “loro” yang berarti ‘sakit.’ Contoh kalimatnya “tanganku loro,” yang berarti “tanganku dua” ataukah “tanganku loro” yang berarti “tanganku sakit”. Mestinya sakit dalam Bahasa Jawa ditulis “lara.”

Sedangkan Pengurus Besar PPSJS 2008 – 2013 secara lengkap, Amir Mahmud sebagai Pelindung dan penasihatnya adalah RM Yunani, Suparto Brata, Suharmono Kasiyun, Trinil, dan Aming Aminoedhin.

Ketua PPSJS Bonari Nabonenar, Wakil Ketua R Djoko Prakosa, Sekretaris Mashuri, Bendahara Indri, dan Pembantu Umum Arif Santoso dan Kicuk Parta. Seksi Kegiatan Anang Santoso, Kerumahtanggaan Gatot Suryowidodo, Litbang Yulitin Sungkowati, Humas R Giryadi, dan Kemitraan Leres Budi Santoto dan Ulfa.

Bersamaan dengan pelantikan itu, Komunitas Sastra Tutur Surabaya menggelar Sarasehan Sastra Lisan dan Pentas Tradisi Lisan. Acara tersebut dihadiri Wawalikota Surabaya Drs Arif Afandi.[k13]

Sumber tulisan/foto: Surabaya Post, Selasa, 2 Desember 2008 | 09:55 WIB

Saturday, 29 November 2008

Halo Taiwan!

Kami sangat senang bisa menjumpai warga Indonesia yang kini tengah berada di Taiwan, terutama para tenaga kerja yang sungguh sangat berjasa untuk 2 hal: membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran yang makin menumpuk di tanahair, dan mengirim devisa untuk keluarga dan negara, terlebih dalam situasi krisis global seperti sekarang ini.

Para Pembaca yang budiman, seperti biasanya sebuah kelahiran, kami berharap Radar Taiwan yang masih bayi cenger ini mendapatkan sambutan yang hangat. Seperti halnya saudara-saudari kita di Hong Kong menyambut dengan hangat kelahiran media dari Berita Indonesia Ltd yakni: Berita Indonesia, Intermezo, dan Peduli. Kawan-kawan kita di Hong Kong dengan gembira manyambut media berbahasa Indonesia, dan mereka beramai-ramai mengirimkan tulisan, dari yang bernama surat pembaca, puisi, cerita, hingga tulisan opini.

Bahkan, beberapa nama, sebut saja: Rini Widyawati, Dhenok Kanthi Rokhmatika, Eni Kusuma, Wina Karni, Maria Bo Niok, Mei Suwartini, dan masih ada beberapa nama lagi yang meneruskan kegemarannya menulis setelah kembali ke tanahair. Maria Bo Niok yang dulunya pernah bekerja di Taiwan (baca: halaman 05) bahkan telah melahirkan beberapa buku.

Begitulah pula yang kami harap dari warga Indonesia yang berada di Taiwan ini. Mari kita sambut Radar Taiwan dengan senang hati, dan kirimkanlah kritik dan saran demi peningkatan kualitas maupun oplahnya!

Terima kasih, dan marilah tetap bersemangat!

Redaksi

Monday, 17 November 2008

PPSJS Gagas Festival Sastra Jawa

Surabaya - Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) menggagas even kebudayaan bernama Festival Sastra Jawa yang diharapkan menjadi embrio dari Festival Sastra Etnik Nusantara untuk melestarikan kekayaan seni tradisi

Ketua Umum PPSJS, Bonari Nabonenar di Surabaya, Sabtu menjelaskan, saat ini diperlukan media ekspresi alternatif untuk mewadahi aktivitas para penulis sastra Jawa dalam skala yang lebih luas.

"Sastra Jawa adalah warga dari Sastra Indonesia dan juga warga dari sastra dunia yang layak diberi ruang untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat dan keinginan masyarakat pendukungnya," katanya.

Karena itu, katanya, diperlukan berbagai bentuk ekspresi bagi pegiat sastra Jawa. Even ini sekaligus untuk menghormati beberapa tokoh sastra Jawa di Jawa Timur, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

"Jawa Timur ini memiliki nama besar untuk penulis sastra Jawa. Mereka antara lain, Suparto Brata, Satim Kadaryono, Moechtar, Suharmono Kasiyun, Widodo Basuki, Tiwiek SA, Djayus Pete, JFX Hoery dan lainnya," katanya.

Menurut dia, even ini bisa digelar tahunan dan skalanya bisa diperluas dengan melibatkan seluruh pegiat sastra etnis di negeri ini. Karenanya acara ini diharapkan juga menjadi silaturahmi budaya dalam skala yang lebih besar.

Ia mengemukakan, Festival Sastra Jawa itu akan digelar 2009 dengan tema, "Desa dan Sastra Jawa". Dengan alasan itu, maka festival tersebut rencananya akan dilaksanakan di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.

"Kegiatan ini akan digelar di desa karena kami berasumsi bahwa sebagian besar masyarakat pendukung sastra Jawa modern ada di daerah-daerah pinggiran, di desa-desa," katanya.

Karena itu, katanya, perlu dikaji hubungan imbal-balik antara sastra Jawa modern dengan masyarakat pedesaan, dan peran apa yang perlu dipertegas oleh para pengarang sastra Jawa dalam rangka berpartisipasi pada pembangunan masyarakat pedeaan tersebut.

Kegiatan itu akan diramaikan dengan pentas baca cerita cekak (Cerpen Bahasa Jawa), geguritan (puisi), drama berbahasa Jawa, sarasehan, pameran buku dan pemutaran film dokumenter.

Mengenai lokasi festival ini, yakni Desa Cakul adalah sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota, yakni sekitar 10 km dari ibukota kecamatan Dongko dan 46 km dari ibukota Kabupaten Trenggalek.

"Seperti halnya wilayah di bebukitan kapur jalur selatan Pulau Jawa, lokasinya cukup indah dengan kekayaan bebatuan kapur, marmer, dan banyak lubang bawah tanah atau gua," katanya.

Masuki M. Astro

Antara Jatim [Sabtu, 15 Nov 2008 15:27:13]

Wednesday, 5 November 2008

Koran Dinding Kampung (2): Tenaga-tenaga Muda di Sekitar Kita


Ada anjuran yang sangat baik, ’’Janganlah kesusu bertanya apa yang seharusnya Anda terima, tetapi bertanyalah lebih dahulu: apa yang bisa Anda berikan.’’ Apa yang bisa diberikan/diperbuat oleh kaum muda?
Di antara kita banyak tenaga-tenaga muda. Muda usia. Ada yang menyebut dengan remaja. Ada yang menyebut dengan istilah pemuda (termasuk pemudi, lho! –Red). Ada orang yang dengan nada kelakar alias guyon mengatakan bahwa remaja itu manusia tanggung. Maksudnya, mau disebut anak-anak kok secara fisik sering malah lebih gedhe daripada orang dewasa, tetapi kalau mau disebut dewasa kok belum cukup syarat untuk itu, antara lain dalam hal luasnya wawasan hidup, banyaknya pengalaman, dan sebagainya. Maka, sebenarnya kita tidak perlu terlalu sedih jika mialnya tidak dilibatkan dalam rembug/petung tuwa. Bukankah kita sudah diberi wadah sendiri, yang di tingkat desa misalnya dengan adanya organisasi Karang Taruna? Bukankan Pemerintah sudah mengangkat seorang menteri yang diberi amanat khusus untuk mengurusi Pemuda (dan Olahraga)?


Kita sudah dipikirkan, dan Pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk kita, untuk pemuda. Jika kita merasa belum ada apa-apa yang sampai pada kita, mungkin itu hanya persoalan antrean, persoalan giliran, ata persoalan sistem komunikasi, dimana kita kurang jeli, kurang membaca, dan kalau banyak nonton televisi pun yang kita tonton bukanlah acara-acara yang bersifat informatif, melainkan acara-acara yang sebenarnya sering memperbodoh macam sinetron horor atau percintaan yang asal-asalan itu.

Maka, marilah kita bersama-sama bertanya sekarang: Apa yang dapat kita berikan, apa yang dapat kita perbuat untuk diri kita masing-masing dan kemudian untuk lingkungan kita?

Pada garis besarnya, marilah kita lakukan hal-hal yang baik yang bermanfaat bagi diri dan linggkungan kita, sehingga cita-cita yang digantungkan oleh para orangtua kita: --agar kita menjadi manusia yang berguna bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa—itu tidak sekadar menjadi mantra (doa) yang makin hari makin pudar maknanya.

Dahulu, orang-orang seusia kita harus bertaruh nyawa, memanggul senjata, bahkan senjata seadanya, untuk mengusir penjajah yang bersenjata modern. Dahulu, orang-orang seusia kita dari berbagai suku, golongan, agama, berkumpul hingga lahirlah Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah bersatunya kembali Nusantara (Indonesia) yang pernah dicerai-beraikan bangsa asing (penjajah). Mereka adalah pemuda yang pantang menyerah, kaum muda yang tak pernah berpikir dua kali, tak pernah ragu untuk: BERBUAT BAIK.

Ayo! Jangan biarkan diri kita kelak dicatat oleh sejarah sebagai generasi loyo! Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Ketika pertanyaan itu mulai ada di benak kita, yakinlah, kita sudah berada di langkah pertama untuk ’’berbuat baik’’ untuk tidak menjadi generasi loyo. [bonari nabonenar]

Koran Dinding Kampung


Telah lahir Koran dinding kampung (Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Trenggalek, Jatim/4-Nov-2009) cap ’’Nglaran Kita.’’

Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Sudarmaji. Redaktur/Kordinator Liputan: Aan Rulianto. Reporter: Warsito, Hendri, Karni, Sudarto, Sukatni, Nuryati, Riza Rinata, Sulis. Fotografer: Jarwanto, Jamaludin. Desain/Artistik: Hendro. Sekretaris Redaksi: Wulandari. Konsultan: Bonari Nabonenar, Purwo Santoso. Alamat Redaksi: RT 29/RW 15 Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kec. Dongko, Kab. Trenggalek, Jawa Timur.

Rencananya, bakal terbit sekali sebulan.


Tuesday, 28 October 2008

Masa Depan Sastra Jawa

Oleh Ribut Wijoto

Sastra Jawa di Jawa Timur menunjukkan gejala yang unik. Tidak ada perkembangan yang pesat namun juga tidak macet. Situasinya cukup sehat-sehat saja. Beberapa karya baru baru bermunculan, dipublikasikan, dan diterbitkan. Tapi, lompatan estetika nyaris tidak ada. Bisa dikata, sastra Jawa sedang adem ayem. Kondisi ini ditegaskan dengan tiadanya tema atau perdebatan yang bersifat luas atau mendalam. Ke depan, jika situasi ini terus berlanjut, sastra Jawa sedang dalam kondisi ambang. Bisa lantas berkembang bisa juga lantas tenggelam. Agar bisa mengarah ke perkembangan, ada beberapa problem yang musti diurai dan diselesaikan.


Sampai saat ini, sastrawan Jawa di Jawa Timur masih patut berbangga. Mampu selangkah lebih maju dibanding kompetitornya di Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Lihat saja, dua peraih penghargaan Rancage tahun ini berasal dari provinsi paling timur di pulau Jawa ini. Yakni, Turiyo Ragilputra melalui kumpulan gurit Bledheg Segara Kidul untuk kategori karya sastra dan Sriyono, redaktur majalah Jaya Baya, untuk kategori pengembangan bahasa dan sastera Jawa.

Prestasi prestisius itu tidak lepas dari kinerja ulet dua tokoh besar yang telah almarhum. Suripan Sadi Hutomo dan Tamsir AS. Kedua tokoh ini seakan saling melengkapi. Suripan bergerak di wilayah pusat, Surabaya dan sekitarnya. Ketika itu, mobilitas sastra Jawa di Surabaya tidak ada yang tidak lepas dari campur tangannya. Di beberapa even, dia ikut menggagas. Memberi masukan ataupun menjadi konseptornya.
Tak hanya soal even, Suripan terkenal sebagai apresiator yang tajam serta tekun. Dia mampu mendedahkan peta sastra Jawa di Jawa Timur. Perihal tokoh-tokohnya, perihal karya-karyanya, karakteristik estetika masing-masing pengarang. Pun juga, tokoh kelahiran Blora 5 Februari 1940 ini bisa merunut kesejarahan sastra Jawa. Mulai zaman sebelum merdeka sampai menjelang meninggal dunia. Banyak yang mengultuskan, Suripan adalah HB Jassinnya sastra Jawa. Sebuah pengkultusan yang bukannya kosong fakta. Berkat Suripan, sastra Jawa memperoleh arah-tuju yang terprogram.

Sedangkan Tamsir AS, maestro ini lebih bergerak di wilayah pinggiran. Melalui Sanggar Triwida, pria kelahiran Tulungagung (1936-1997) mampu menaikkan pamor sastrawan-sastrawan di pinggiran. Kegiatan sastra Jawa tidak hanya berpusat di Surabaya. Kabupaten, kecamatan, maupun desa pun sanggup menciptakan kegiatan sastra Jawa. Pernah suatu kali, sekitar tahun 1985, ada acara macapatan di rumah seorang warga di desa Gandong Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung. Pesertanya warga sekitar dan beberapa sastrawan Jawa dari Trenggalek dan Kediri.

Penulis sebanyak 286 cerkak ini memang tak bosan-bosannya memompa semangat sastrawan daerah (baca: desa) untuk berproses. Saling berinteraksi maupun mengonsepkan gerakan sastra Jawa di daerah Mataraman. Meliputi Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Ponorogo, dan sekitarnya. Kadang dia tak hanya menjadi konseptor, dia juga keluar banyak uang untuk mendanai. Kecuali itu, Tamsir juga seorang penulis buku yang tekun. Lihat saja, dia telah menuliskan puluhan buku tentang sastra Jawa.

Sampai saat ini, peran dua maestro sastra Jawa di Jawa Timur tersebut belum tergantikan. Keberadaan sastra Jawa di Jawa Timur juga berkat kontribusi dua media, mingguan Jaya Baya dan mingguan Panjebar Semangat. Rutinitas kedua media ini dalam menyediakan halaman sastra berbahasa Jawa sanggup menjadi ruang ekplorasi para pengarang. Tak hanya pengarang generasi tua, beberapa pengarang muda pun bermunculan. Apalagi, segala berita juga disajikan dalam bahasa Jawa. Peran ini secara dahsyat mampu selalu mengaktualkan bahasa Jawa dalam lingkup kekinian dan perkembangan pengetahuan.

Hanya saja, kehidupan sastra yang berbasis media memiliki risiko cukup riskan. Sastra menjadi elitis. Terpisah dari kehidupan riil masyarakat. Keintiman antara sastrawan dengan warga yang dulu dibangun oleh Tamsir AS dan kawan-kawan menjadi luntur. Hal itu diperpaah dengan rendahnya interaksi para pengarang. Mereka lebih bergerak sendiri-sendiri. Tujuan pokok proses kreatif terfokus pada publikasi media dan penerbitan. Gerakan maupun perkumpulan yang gayeng jadi sulit didapat. Jika ini terus berlanjut, dalam 10 tahun ke depan, sastra Jawa akan semakin elit dan semakin dijauhi oleh masyarakat. Ia berubah jadi wacana yang iseng sendiri.

Melihat problem ketiadaan tokoh penggerak (pengganti Suripan dan Tamsir AS) dan merujuk pada risiko sastra media massa, sastra Jawa butuh pola baru. Kebergantungan pada sosok atau tokoh perlu dipangkas. Peran tokoh harus diganti dengan peran struktur. Dalam pola ini, peran Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) harus dimaksimalkan.

PPSJS musti menciptakan program realistis, pembagian tugas, koordinasi antardaerah, dan memaksimalkan segala potensi yang telah ada. Semisal terhadap sanggar Triwida yang digagas oleh Tamsir AS. Sanggar meski kurang berkembang tapi juga tidak mati. Pengurusnya masih ada. PPSJ harus memompanya agar kembali berkembang seperti zaman Tamsir dulu.

Sama seperti Dewan Kesenian, PPSJ perlu membentuk paguyupan-paguyupan sejenis di tiap kabupaten. Tujuannya agar koordinasi lebih terjaga. Bila ada pengurusnya otomatis ada orang yang bisa diserahi tanggung jawab mengadakan kegiatan.
Berkaca pada pengurus PPSJS lima tahun lalu, di mana Bonari Nabonenar sebagai ketuanya, yang dianggap banyak kalangan kurang maksimal. Hal itu perlu dijadikan bahan evaluasi. Kesalahan mendasarnya adalah tiadanya kerja tim. Bonari seakan berjalan sendirian. Ketika dia sibuk dengan kegiatan lain, PPSJS menjadi terlantarkan. Dan sebaliknya, pengurus lain seakan kelewat berharap terhadap Bonari. Pengaruhnya, kinerja organisasi alias terstruktur menjadi kurang teraplikasi.

Pada kepengurusan yang baru ini, di mana Bonari kembali terpilih, dia harus benar-benar menaruh kepercayaan terhadap kabinetnya. Setelah pembagian seksi dibentuk. Tiap orang dalam seksi perlu diberi wewenang dan tugas yang sesuai dengan wilayah garapannya. Jangan sampai terpusat pada ketua. Biarlah masing-masing tokoh menjalani perannya sendiri. Bonari cukup melakukan fungsi kontrol dan manajerial.
Sastra Jawa belum hancur. Hanya dalam situasi tiarap. Tidak mundur ataupun tidak berkembang. Pada titik ini pun, sastrawan Jawa di Jawa Timur masih lebih bagus dibanding kompetitornya di Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Hanya saja, ini sebuah kondisi stagnan. Semua potensi yang sedang tiarap musti dibangunkan kembali. Bila tidak segera disadari dan disikapi, sastra Jawa di Jawa Timur sangat mungkin tinggal kenangan. []

Biodata:

Ribut Wijoto, lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Anggota Forum Studi Sastra & Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya dan anggota Komunitas Teater Gapus Surabaya. Lulusan Fakultas Sastra Unair. Ketua Departemen Informasi dan Dokumentasi DK-Jatim.
Tahun 2001, esai sastranya dipilih sebagai juara 1 dan juara harapan 1 dalam sayembara esai sastra tingkat nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional (Pusat Bahasa). Bukunya yang telah terbit, Pengantar Menuju Sastra Bermanfaat (Gapus Press, 2002).
Pernah mengeditori buku puisi F Aziz Manna Ayang-Ayang (Gapus Press, 2003), Ijinkan Aku Mencintaimu (Gapus Press, 2006), Menguak Tanah Kering (Kumpulan puisi bersama Teater Gapus, 2001), Permohonan Hijau, Antologi Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2003), Rumah Pasir, Antologi 5 Penyair Terbaik Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2008). [ribut_wijoto@yahoo.com]

Sumber, Kompas Jatim [….]

Friday, 17 October 2008

Proyek Gagal


Tiba-tiba seseorang melontarkan ’ramalan’ bahwa Proyek Pemerintah yang dikenal dengan sebutan BLT atau be-el-te --yang sering diplesetkan menjadi Bantuan Langsung Tawuran, atau bahkan Bantuan Langsung Tewas—akan menjadi proyek gagal. Maksudnya, orang-orang/keluarga yang sekarang menjadi penerima BLT itu dalam beberapa tahun mendatang akan tetap menjadi penerima BLT. Artinya, mereka masih saja melarat, masih saja tidak punya cukup kemampuan untuk hidup mandiri secara layak.

Jika ramalan itu kelak terbukti, tumpukan daftar proyek gagal akan semakin membukit. Sejak zaman Pak Harto (baca: Era Orde Baru) Pemerintah gencar mengadakan proyek untuk memberdayakan masyarakat miskin yang sering identik dengan: masyarakat di pedesaan. Kita boleh mencatat misalnya, proyek bantuan sapi unggul, kambing, hingga kelinci untuk menggeliatkan usaha peternakan di kalangan masyarakat pedesaan, yang ujung-ujungnya dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Tetapi, baik itu sapi, kambing, dan seterusnya itu, nyaris semuanya menjadi ’kelinci’ (percobaan) yang gagal.

Juga, proyek penghijauan, penggalakan tanaman terasering di wilayah-wilayah desa pegunungan. Kini, jangankan tanah warga, tanah hutan yang seharusnya dijaga kerimbunannya sebagai penyimpan air, penahan longsor, dan pengendali banjir serta gudang udara bersih dan sehat (sumber oksigen) pun sudah pada gundhul tholo-tholo.

Tanah semakin tandus, panen sering gagal, padahal jumlah mulut yang perlu diberi makan semakin banyak. Lalu, alam pun menyuguhkan tradisi/kebiasaan baru: bencana. Ya, bencana, apakah itu berupa puting beliung yang dalam pekan ini menggasak beberapa kota di Jawa Timur: Malang, Sidoarjo, Ngawi, Ponorogo, Trengalek, Masiun, dll.

Mengapa proyek-proyek itu bertumbangan? Ada beberapa hal dapat dijadikan catatan. Walau sebelumnya dilakukan studi/penelitian, biasanya ketika mau menggulirkan proyek, wong-wong ndesa itu diasumsikan oleh pihak Pemerintah sebagai wong bodho yang hanya dapat: dibantu, diberi, diperintah, dan bahkan dicekoki, dan nyaris tidak pernah diajak bicara. Maka, ketika musim proyek kambing, ya semua desa dikirimi kambing, tanpa ditanya dulu apakah warganya benar-benar suka beternak kambing atau tidak.

Lalu soal pendampingan yang sangat kurang. Ini juga berkaitan dengan penyegaran atau bahkan pengubahan pola pikir masyarakat. Peran pendamping sering dianggap tidak penting. Hanya dianggap penting untuk dicantumkan namanya di formulir, tetapi kehadirannya di tengah-tengah masyarakat yang didampingi sering luput dari perhatian.

Dan catatan yang tak kalah pentingnya lagi adalah pengawasan dan kemudian evaluasi. Mungkin evaluasi diadakan, tetapi hasilnya kurang diperhitungkan untuk pengguliran proyek berikutnya. Maka, yang terjadi kemudian adalah: proyek yang tidak tepat sasaran, tumpang-tindih, dan pada akhirnya menambah daftar proyek gagal.

Sebenarnya akan lebih baik jika kita dapat berdiskusi pula soal proyek-proyek pemerintah yang berkaitan dengan pemberdayaan sekelompok warga masyarakat yang oleh Pemerintah disebut: TKI Purna. Apakah daftar gagalnya cukup banyak juga? Apakah ada tumpang tindihnya juga? Kapan, ya?[]

Tuesday, 23 September 2008

Golek Kiblat ing Negara Cina


Dening: Rie Rie

Isih ana suara adzan kang keprungu senajan tho lamat-lamat. Ora nganggo loudspeaker utawa pengeras suara kang di pasang ana cagak-cagak dhuwur kaya dene kang ana ing Indonesia. Ewadene suara adzan kang mung lamat-lamat kuwi wes kasil gawe greget kang padha. Kanggo nyatuhu ati lan jiwa sowan marang Gusti Kang Akarya Jagad, Allah SWT.


Hongkong papane, negara Cina kang wes kaya dene omah nomer loro dening saperanganing warga Indonesia kang golek rejeki ing kana kuwi ora luput saka suara adzan.

Apamaneh ing sasi iki, sasi ramadhan. Kaya-kaya kangen marang Gusti makaping-kaping tikele.

[ana bacute, ngaturi mundhut, sokur bage langganan majalah Jaya Baya]

Ini Baru: BMI-HK Nulis di Majalah Berbahasa Jawa


Ia populer dengan nama Rie Rie, walau nama aslinya, mungkin (belum ngecek KTP-nya sih) ialah Sri Lestari. Ia seorang pekerja rumah tangga di HK, mengikuti kuliah komputer, dan punya situs pribadi, salah satunya ini. Berita terbaru dari perempuan asal Blora, tanah yang di sana pula penulis legendaris Pramoedya Ananta Tour berasal-- ini ialah: Majalah Jaya Baya edisi khusus (Lebaran) menurunkan tulisan/laporannya berjudul "Golek Kiblat ing Negara China".

BMI-HK nulis, itu dah biasa. BMI-HK ngeblog, itu dah umbyukan sekarang. Tapi BMI-HK nulis pakai bahasa Jawa? Yang kutahu baru Rie Rie ini, setelah ri yang satunya lagi ini, yang sudah sejak tahun 80-an nulis di majalah yang sama: Bonari:))

Monday, 22 September 2008

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [5]


Di rumah buku saya baca. Hampir tergelak saya membacanya. Bukan karena isinya yang lucu karena menceritakan riwayat perjuangan seorang pelawak, tetapi habitat tempatnya hidup sejak kecil, adalah lingkungan habitat yang saya kenali benar. Pasar Pacarkeling, Pacarkembang, TK Megawati, Jedong, RGS dengan penyiarnya Supangat, SMPN 9. Itu habitatku sejak zaman Jepang tahun 1942 (rumahku di Kalasan 31, teman sekolahku anak-anak SS-Pacarkeling, Oro-oro, Jedong, Ploso, Rangkah, Bogen, Tambaksari, Karanggayam, sekolahku di Jalan Mundu.

Sampai pensiun tahun 1988, rumahku di Rangkah, bekerja di Pemkot, RGS pimpinan Pak Indiarto saya kenal benar, bahkan seorang penyiarnya Mas Soekardjito (dengan istrinya) jadi pegawai Humas sekamar kantor dengan saya. Cak Djadi memilih hari tanggal lahir 6-7 bulan sebelum 1 September 1965, adalah 8 Maret 1965, anak saya nomer 2 lahir 29 Maret 1965, jadi sebarakan dengan Cak Djadi. Sekolah Cak Djadi di SMPN 9, dua anak saya kelahiran tahun 1969 dan 1971 juga sekolah di sana (mestinya adiknya Cak Djadi).

Dalam buku itu ditulis bahwa orangtua Cak Djadi hidup di desa (Creme, Gresik), tetapi Cak Djadi sejak kecil hidup ikut kakek-neneknya di Surabaya. Neneknya tiap hari jual sayur-mayur (wlija) yang kulaknya di pasar Pacarkeling, dijajakan seputar kampung-kampung situ. Si bocah kecil Djadi sering disuruh ikut bekerja belanja sayur oleh neneknya, dan karena penghasilannya kecil dia disekolahkan di TK Megawati, muridnya kebanyakan juga anak-anak orang yang berjualan di pasar.

Membaca buku itu tentang masa kecil HM Cheng Ho Djadi Galajapo, saya jadi terbayang-bayang benar masa kanak-kanakku sendiri di sana. Tempat-tempat itu sudah terlalu sering saya jadikan back-ground novel saya atau tulisan saya yang lain, misalnya: Oh, Surabaya (CV Bina Ilmu, 1975), Surabaya Tumpah Darahku (bersambung di koran Kompas November 1973, CV Bina Ilmu 1978), Saksi Mata (bersambung di koran Kompas November 1997, Penerbit Buku Kompas 2002), Surabaya Zaman Jepang (Surabaya no Monogatari) (Penerbit Jawa Pos 1983), Kremil (bersambung di koran Kompas November 1994, Pustaka Pelajar Yogyakarta 2002).

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [4]

Diskusi ini juga disela pembagian buku HM Cheng Ho Djadi Galajapo NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Mereka yang mendapat diundi melalui door-prize. Yang namanya disebut, segera maju ke depan menerima bukunya dari Cak Djadi. Hampir terakhir, namaku disebut. Mengerti namaku dan tempatku (di kursi belakang) Cak Djadi tidak memanggil saya, tetapi dia yang datang membawa bukunya ke tempat saya duduk. “Terima kasih, Cak Djadi, saya dapat kehormatan begitu.”

Setelah sambutan-sambutan orang-orang penting, maka ditawarkan para hadirin yang mau bertanya. Banyak yang angkat tangan, tetapi karena waktu mendekati magerip, hanya tiga orang dipersilakan. Seorang ibu mendapat prioritas bicara, karena sejak tadi yang ngomong laki-laki. “Judul bukunya kok NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN, apa maknanya dan diilhami dari mana?”

Cak Djadi menjawab (ceritanya juga ditulis di bukunya), bahwa kakeknya yang semula menekuni penghayatan Sapta Darma, menyuruh Djadi rajin mengaji di surau dekat rumahnya. Kemudian setelah Djadi bertambah besar dan rajinnya mengaji di masjid, kakeknya juga berangsur-angsur mengikuti sholat di masjid, dan simbul-simbul Sapta Darmanya (misalnya gambar wayang Semar) hilang dari rumahnya. Namun kelakuan Djadi untuk naik pentas menjadi pelawak, tidak berubah. Tiap ada kesempatan (misalnya perayaan 17 Agustusan) Djadi pasti naik pentas melawak. Ini membuat kakeknya malu. “Koën iku gak isin, tah, modhuk teka masjid terus mbanyol ndhuk panggung? Wong lèk mbanyol gawe guyu wong liya iku mbesuke mlebu ndhuk Neraka Wail!” Dari pemahaman begitu akhirnya dengan keras kakeknya melarang Djadi naik pentas melawak. Djadi jadi kepikiran. Ingin terus meraih cita-citanya (yang sudah jadi kebiasaannya) dengan melawak, tapi kalau ketahuan kakeknya, dimarahi. Pada hal cita-citanya jadi pelawak sudah mulai mendapatkan hasil, kalau naik panggung dapat uang. Djadi putar otak, bagaimana supaya kakeknya tidak melarang dia naik panggung. Djadi tahu kakeknya sore hari suka minum kopi dengan nyamikan. Yang paling suka kue terang bulan (nama kue di Surabaya, di Jawa Tengah mungkin namanya srabi bandung, di Jakarta Timur martabak manis). Maka, ketika Djadi dapat tanggapan dan dapat hr, ia membelikan kue terang bulan. Waktu sore kakeknya minum kopi, kue terang bulan dihidangkan. Dimakan oleh kakeknya sampai habis. Ketika ditanya dari mana dapat terang bulan, dijawab dari hasil melawak naik panggung. Sang kakek skak mat! Djadi sudah bisa berdalih, bahwa dia seringkali mendengarkan ceramah ustad yang disela guyonan gar-ger.Ceramah ustad dengan melawak, menjadi segar dan tidak masuk neraka wail. Djadi juga berdalih, bahwa nanti ketika melawak di pentas, ia juga akan sertamerta berdakwah. Jadi juga tidak masuk Neraka Wail! Sang kakek menerima.

Diskusi diakhiri karena azan magerip, dan selesai setelah pengunjung buka puasa di ruang sebelah.

Tidak ada sahabat dekat, usai berbuka puasa saya pulang. Menunggu lift buka, saya dengar percakapan di belakang saya (juga menunggu lift tentunya) jawaban perempuan mengatakan bahwa dia baru habis bertugas dari Pasuruan, mengunjungi keluarga penerima zakat yang kena musibah itu. Saya menolih. “Pak Parto, ya? Mengapa, Pak, di sini?” Siapa, ta? “Nani,” jawabnya. Oh, Nani Wijaya! Saking terharuku hampir saja dia kurangkul. Tampak lebih cantik, karena rambutnya lebih panjang, tidak jongen-kop seperti yang saya kenal sebagai direktrisku ketika saya ditugasi menjadi pemimpin redaksi tabloid Jawa Anyar di Solo. Waktu itu saya (dengan Mas Bonari Nabonenar juga) banyak dapat bimbingan dan arahan cara menyelenggarakan penerbitan tabloid dari Bu Nani Wijaya ini, sangat bermanfaat sekali.[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [3]

Cak Kadaruslan menceritakan pengalamannya, pernah dipisuhi “Jancuk! Jancuk!” oleh Grup Galajapo. Yaitu sebagai pecinta seni, Cak Kadaruslan menyelenggarakan pagelaran seni, tetapi grup pelawak tidak dikatutkan. Itu salah tangkap. Sebab untuk pelawak, oleh Cak Kadar sudah disiapkan untuk digelar di luar. Sebagai pelawak, mestinya tidak boleh cepat emosi, marah-marah. Pelawak itu memberikan hiburan kepada khalayak, tidak memarahi khalayak. Cak Djadi sungguh mengaku khilaf soal peristiwa itu. Dulu sudah minta maaf, sekali ini juga sungguh-sungguh minta maaf.

Suko Widodo sebagai pembicara resmi tentang buku ini, sangat mendukung seorang person menerbitkan buku, siapa pun dia, bagaimana nasibnya, perjuangan hidupnya, apa profesinya, apalagi “punya nama”, punya track-record aktivitas seperti Djadi Galajapo di Surabaya. Tapi harus jujur, sebab bagaimana pun juga bukunya itu akan merupakan gambaran sejarah kehidupan bangsa waktu buku itu ditulis, yang bisa dijadikan pembelajaran bagi generasi pembaca untuk menyiasati kehidupan masa depan yang lebih baik. Melihat sekejab bukunya (karena baru diberi ketika masuk ruangan itu) Pak Suko mengeritik tentang banyaknya sanjungan-sanjungan, puji-pujian di buku tadi, terutama 50 halaman terakhir (dari 146 halaman). Tapi juga memuji Cak Djadi, sebagai pelawak dia juga memperhatikan profesi sosial yang lain dijadikan bahan memperkuat melawaknya, misalnya mau berdakwah sementara pentas, juga memperhatikan profesi guru (Cak Djadi lulusan IKIP Surabaya, pernah ditugaskan sebagai guru pns di Pacitan, tapi mengundurkan diri karena pns kan singkatan dari penghasilanipun namung sekedhik). Dengan perhatiannya pada profesi lain, maka di mana pun dia naik pentas menjalani profesinya sebagai pelawak, dia bisa bicara lucu tepat pada profesi lain tadi dan diterima oleh publik profesi itu.

Sabrot D. Malioboro dapat giliran tampil, dengan lebih dahulu disanjung oleh Cak Djadi karena terus-terangnya berani mengeritik sikap atau tingkah Cak Djadi langsung di hadapannya. Cak Djadi sangat aprisiate menerima kritik seperti itu. Dengan menerima kritik dia menjadi lebih sadar dan dewasa ketika pentas menjalani profesinya sebagai pelawak. Sedangkan kalau hanya menerima puji-pujian seperti yang dituturkan Pak Suko Widodo, ia bisa mabuk kepayang, terlena, kurang berkualitas. Sabrot menceritakan ketika Cak Djadi jadi MC di acara kampanye Walikota Blitar. Walikota Blitar berkampanye politik pidato berapi-api. Lalu sebagai MC Cak Djadi bicara sela acara, juga berapi-api seolah-olah terseret virus politik Walikota Blitar. Sabrot memperhatikan peristiwa itu dari Surabaya. Ketika bertemu di Balai Pemuda, Sabrot langsung bilang kepada Cak Djadi. “Kamu ini pelawak. Jangan ikut-ikutan di bidang politik. Tekunilah profesimu, maka kamu akan bahagia!”

Bagong Suyanto membuka bicaranya menuduh Djadi tidak jujur apa yang ditulis (diceritakan) pada peristiwa mendapat job bersama aktris, lalu sampai berduaan saja dengan aktris itu, tapi peristiwanya berakhir dengan menutup perut perempuan tadi dengan handuk. Apa betul-betul peristiwanya berakhir sampai di situ, apa yang ditutup hanya perutnya, itu yang disangsikan oleh Pak Bagong. Bahwa peristiwa semacam itu termasuk kehidupan para seniman panggung, bisa dimengerti. Langsung dijawab oleh Cak Djadi peristiwa dan akhirnya persis seperti itu. Kalau tidak, bukankah itu rahasia kejelekan peribadi, mengapa diceritakan? Intinya, begitulah godaan di profesinya, namun Cak Djadi (dan banyak orang berprofesi seperti itu juga) bisa tetap hidup suci.

Orang Cina itu kurang diterima baik oleh masyarakat Jawa. Seringkali Pak Bagong berjalan-jalan dengan istrinya, kemudian ditegur oleh teman bermata sipit, istrinya melengos dengan ucapan bernada menghindar, “Cina ngono, lo!” Istrinya tidak sadar bahwa Pak Bagong itu juga Cina. Itulah gambaran yang diberikan oleh Pak Bagong bahwa pada umumnya orang Cina tidak diterima dengan rela hati oleh masyarakat Jawa. Untuk bisa diterima banyak sekali orang Cina harus mengganti namanya dengan nama Jawa, termasuk Pak Bagong Suyanto. Banyak (sekali) orang Cina untuk berasosiasi dengan orang Jawa mengganti namanya dengan nama Jawa, tetapi Pak Bagong belum pernah dengar orang Jawa yang mengubah namanya dengan nama Cina. Orang Jawa yang memberi namanya dengan nama Belanda, nama Arab, nama Buda, banyak. Tapi menggunakan nama Cina, Pak Bagong tidak pernah dengar. Ya baru HM Cheng Ho Djadi Galajapo ini. Itupun dulu, ketika Cak Djadi memberitahu bahwa kalau dia berhasil naik haji mau menambah resmi namanya dengan Haji Mohammad Cheng Ho, Pak Bagong juga tidak percaya. “Ya, kalau memilih nama Cheng Ho sebaiknya minta izin dulu sama yang berwenang, karena nama Cheng Ho sudah jadi nama masjid di Surabaya,” saran Pak Bagong ketika itu, ragu-ragu, tak percaya. Ternyata benar, Cak Djadi yang semula dikenal oleh Pak Bagong bernama asli Jawa Sudjadi yang kelahiran Dadap Kuning Cerme Kabupaten Surabaya itu setelah naik haji namanya ditambah Haji Mohammad Cheng Ho. Nama Cheng Ho dipilih setelah Cak Djadi mendengar keheranan Pak Bagong tentang nama orang Jawa yang suka mengubah namanya jadi nama Arab atau Belanda, tapi tidak ada yang mengubah namanya dengan nama Cina. Waktu mendengar itu, Cak Djadi bilang, wajar saja begitu, karena orang Jawa kan kebanyakan orang Islam, jadi ingin menandaskan keislamannya dengan nama Arab. “Itu pikiran kurang pas,” ujar Pak Bagong. “Karena orang Cina yang islam juga banyak, dan bahkan yang membawa Islam ke Tanah Jawa, adalah orang Cina. Yaitu Laksamana Cheng Ho.” Terobsesi oleh percakapan tadi, maka ketika Cak Djadi berhasil menunaikan ibadah haji, maka mengubah namanya ditambah Haji Mohammad Cheng Ho Djadi Galajapo.[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [2]

Lalu sambutan-sambutan. Wawali Surabaya, Suwito M., Sam Abede Pareno, Cak Kadaruslan, Kurniawan Muhammad, Cak Kartolo, Sabrot D. Malioboro, Lufti, Bonari, Bu Yati.

Oleh Wawali Surabaya Arif Afandi, disindir nama HM Cheng Ho, HM-nya berbau promosi Honda Motor yang menyeponsori penerbitan bukunya, ya diterima Djadi jegegesan, mengakui memangnya Pak Suwito M, Direktur PT MPM Motor Main Dealer Motor Honda Jawa Timur dan NTT 5 tahun terakhir ini sering memberi job.

Suwito M. ketika giliran menyambut mengatakan, acara-acara promosi Honda sering dipercayakan kepada Cak Djadi Galajapo, baik individual maupun group. Cak Djadi joke-jokenya spontanitas cerdas, product knowledge-nya kena, ditunjang karakter yang kuat, wawasan yang luas, banyolannya bernas, seringkali religius. Pak Suwito sangat berkesan dengan nyanyian kanak-kanak TK yang telah diubah syairnya spontan oleh Djadi, Satu-satu, jangan jangan pakai shabu, dua-dua jangan pakai ganja, tiga-tiga jangan pakai narkotika, satu-dua-tiga pakai Honda saja”.

Sam Abede Pareno memulai dengan judul buku yang dibedah, merepotkan toko buku. Ini akan diletakkan di buku Agama, atau Masak-masakan? Judulnya kan Neraka dan Kue Terang Bulan? Selanjutnya dia menceritakan ketika menjadi staf wartawan di Jawa Pos tahun 1980-an, dirasakan tidak banyak pelawak Jawa Timur yang bisa berbicara di tingkat nasional. Di situlah Jawa Pos mengadakan semacam audisi pelawak. Dan ditemukan berkarakter sendiri-sendiri Djadi, Priyo dan Lufti. Lalu ada ide menggabungkan mereka jadi satu kelompok, yaitu Galajapo, singkatan dari Gabungan Lawak Jawa Pos. (Ide yang membidani dan getol mencarikan job adalah Pak Kris Maryono, wartawan RRI Surabaya, juga hadir di situ, kala itu nama Galajapo diciptakan pada zaman banyak kata gala diedarkan seperti Galatama, Galarama, Galatawa. Galajapo, Japo-nya diartikan Jawa Pos, memang diharapkan grup lawak itu nantinya menjadi anak asuh Jawa Pos. Tetapi Galajapo juga bisa diartikan kependekan dari nama-nama anggota grup itu, yaitu Gabungan Lutfie, Djadi, Priyo). Pak Sam tidak lupa mengatakan bahwa menyeponsori penerbitan buku itu suatu pekerjaan mulia dan mendidik, maka berharap Honda jangan hanya menyeponsori penerbitan bukunya sastrawan bukan beneran, sastrawan yang beneran seperti Suparto Brata itu juga bukunya disponsori diterbitkan.

Cak Kartolo agak alot ketika disuruh menyambut maju ke depan. Tidak punya persiapan. Sebagai pelawak yang handal, Cak Kartolo kalau mau pentas, pasti jauh sebelumnya sudah merencanakan ide-ide yang mau dipentaskan, dihafalkan dan dilatih sampai pada waktunya pentas. Pasti ada persiapan, kalau mungkin pelatihan sebelum pentas. Kini tidak ada persiapan ngomong, maka alot untuk maju ke depan. Sudah berdiri, duduk lagi. Apalagi sementara itu Cak Djadi ngomong terus, memuji-muji kehebatan Cak Kartolo. Karena lama Cak Kartolo tidak mau ke depan, Cak Djadi bilang, “Mosok, Rêk, nyang mrene mik perlune kate mangan-mangan buka pasa?”. Cak Kartolo sampai di depan, terus saja ngomong sambil menunjuk bibir Cak Djadi, “Iku lambe tah kitiran!?” Dalam sambutannya yang serius, Cak Kartolo tidak mau kalah, sama-sama pelawak Cak Kartolo juga mau menerbitkan buku seperti Djadi Galajapo. “Buku utang piutang.”[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [1]

Kula aturi rawuh peluncuran buku Djadi Galajapo, Jumat 19 Sept 08, di metropolis room Graha Pena lt 3 pukul 15.00 thit, bonari, yg ikut menulis buku tsb. Suwun. Harus mendaftar? Khusus Pak Parto tanpa harus ndhaftar.

Begitulah SMS yang kuterima. Djadi Galajapo, saya tahu itu nama kelompok pelawak di Surabaya. Beredar setelah saya pensiun, (artinya saya sudah tidak giat nyemak secara fisik maupun sosial perkembangan kota Surabaya lagi, saya sama sekali sudah tidak mendengarkan radio lagi, kurang sekali menonton TV, tidak suka telepon-teleponan hingga pulsa HP saya bertumpuk tak terpakai, kurang sekali membaca koran), jadi tidak pernah melihat atau mendengarkan banyolan kelompok Galajapo. Tetapi kalau acara tentang buku, saya usahakan selalu bisa mengikuti. Diah Pitaloka, Dewi Lestari, Pipiet Senja, Andrea Hirata, Lan Fang, Shoim Anwar, Amang Mawardi, Akhudiat, Widodo Basuki, Siti Aminah, Elizabeth D. Inandiak, Hersri Setiawan, Asvi Warman Adam, Agus Wahyudi, Agus Mustofa, Murakami Saki, Yayasan Karmel, Ary Nurdiana, Freek Colombijn, GM Sidarta, Bugilbaca, itu beberapa nama yang saya hafal luar kepala ketika bedah atau diskusi bukunya yang saya (perlukan) hadiri. Saya banyak mengambil manfaat dari situ untuk ibadah, karena tentang buku (membudayakan menulis, membaca, memahami, menerbitkan, membeli, menjual, menyiarkan) saya memang belum mau pensiun, saya anggap amanah Allah. Jadi, bukan hanya karena undangan lewat SMS Mas Bonari itu, saya juga secara resmi juga mendaftar akan hadir peluncuran buku HM Cheng Ho Djadi Galajapo itu.. Saya datang 30 menit sebelum acara peluncuran buku Djadi Galajapo dimulai.

Begitu masuk lantai 3, saya bertemu Prof.Dr.Sam Abede Pareno, dan selanjutnya bersama dia. Dia begitu akrab dengan forum, sedang saya merasa asing. Orang-orang muda yang menyapa dia juga menyapa saya, saya kira karena dialah saya ikut disapa. Tapi, mereka kok ya menyebut nama saya (tentulah sudah mengenal betul saya). Salah seorang berbaju putih-putih, kepalanya agak gundul, menyalami dan mempersilakan kami berdua masuk ruangan Metropolis room yang masih kosong dengan cara begitu akrab. Tapi kami berdua milih kursi paling belakang, karena Pak Sam tidak bisa tinggal sampai buka puasa, karena ada acara lain. Jadi kalau acara sedang berjalan Pak Sam bisa dengan diam-diam tidak mengganggu acara meninggalkan ruangan. Di latar belakang podium tertulis jelas: HM Cheng Ho Djadi Galajapo, NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Pembicara: Bagong Suyanto dan Suko Widodo.

Selain nama dosen-dosen UNAIR itu kemudian mengisi ruangan orang-orang terkenal lainnya: Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi, perwakilan Honda Motor (sponsor penerbit buku), Kurniawan Muhammad, Bonari Nabonenar, Sabrot D.Malioboro, Cak Kadaruslan, Kartolo dan istri, Djoko Pitono, RM Yunani, dan orang-orang aktif di Surabaya saat ini (maaf, tidak bisa saya sebut semuanya, meskipun sangat penting pada acara ini). Dan nanti setelah acara berjalan terungkap pula orang-orang dekat (sesama pelawak) Djadi, seperti Didik Mangkuprojo (ini saya kenal), Hunter Parabola, Adenan, Lutfi (teman main di Galajapo) dan Insaf Andi Lah Yaw. O, ya, dan Cak Kobar, anak muda berambut brukoli yang menjadi moderator acara, yang tidak lain juga pembawa acara Becak (Berita Kocak) JTV (TV-nya Jawa Pos). Saya menonton TV sangat saya batasi, sehingga juga tidak pernah mengenali Cak Kobar. Ternyata orang akrab berbaju putih yang agak gundul tadi yang punya gawe siang itu, HM Cheng Ho Djadi Galajapo.

Dia membuka acara dengan kidungan: “Semangka siji sega dijangkepi, sing teka dina iki takdongakna akeh rejeki”. Meskipun profesinya kental sebagai pelawak, dengan menerbitkan buku ini dia tidak guyon, meskipun bukan sastrawan beneran dia serius menerbitkan bukunya. Artinya isinya benar dan jujur. Lalu dengan terampil dia menyampaikan terimakasih atas kedatangan dan jasa-jasanya “memberdayakan” grup pelawak Galajapo. Terampil, cekatan, bebas tanpa ikatan tradisi, bergairah dan lucu. Bicaranya disela pihak lain ya ditanggapi dengan enak, kreatif, cerdas dan lucu. Ucapan terimakasih ditujukan kepada Jawa Pos (a.l. Wawali Surabaya Arif Afandi, Sam Abede Pareno, Kurniawan Muhammad) dan para tamu yang hadir, masing-masing disebut namanya dan jasanya. Misalnya Abah Kartolo disebut sebagai gurunya yang paling senior (karena itu dipanggil Abah).[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

Sunday, 21 September 2008

Djadi Galajapo Bercinta di Hotel Kumuh


Hidup terpisah dengan istri memang tidak enak. Karena itu, begitu punya kesempatan, tak peduli di hotel kecil dan kumuh, hasrat sebagai pelampiasan rindu pun ditumpahkan. Kisah pilu tersebut mewarnai perjalanan hidup Djadi Galajapo sebelum meraih sukses dengan agenda pentas yang cukup padat seperti sekarang. Tanpa malu-malu, pria kelahiran Cerme, Gresik ini membeber habis seluruh liku-liku hidupnya dalam sebuah buku yang diberi tajuk Neraka Wail dan Kue Terang Bulan.

Buku setebal 148 halaman yang ditulis Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad ini dirilis, Jumat (12/9) lalu. “Buku ini sebagai pelengkap cita-cita saya yang ingin ada seniman lokal tapi punya gaung dan bisa dicatat sampai ke tingkat nasional,” ujar pria yang akrab disapa Djadi ini usai peluncuran bukunya.

Untuk bisa dikenal di tingkat nasional, Djadi yang sepulang menunaikan ibadah haji melengkapi namanya jadi HM Cheng Ho Djadi Galajapo ini kukuh tetap bertahan di Surabaya. “Untuk terkenal tidak harus pindah ke Jakarta. Bagaimana pun saya tetap akan mengibarkan bendera di Surabaya,” tandasnya.

Bukan berarti Djadi anti Jakarta yang diimpikan banyak orang untuk menggapai sukses. Terbukti, pria yang pernah malang melintang di sejumlah radio di Surabaya macam RRI dan RGS (Radio Gelora Surabaya) ini sempat nekad naik kereta api kelas ekonomi sekadar untuk bisa tampil di layar TVRI Pusat Jakarta.

“Tapi, untuk menetap hidup dan mengadu peruntungan sebagai artis (pelawak) di Jakarta, saya tegaskan: Tidak!” cetus Djadi sambil meyakini Tuhan tidak menurunkan rejeki berdasar tempat tinggal, tapi kesungguhan hati seseorang.

Memang tidak mudah. Berbagai terobosan dilakukan, antara lain dengan menggeber aksi melawak nonstop enam jam enam menit enam detik. Jebolan IKIP Negeri Surabaya yang lahir tanggal 8 Maret 1965 ini juga melontarkan gagasan melakukan donor darah sambil melawak. [Pra]


SURYA
Monday, 22 September 2008

Friday, 19 September 2008

Buku Neraka dan Terang Bulan


LUCU dan religius, itulah yang sepintas tertangkap pada sosok Sudjadi. Tak banyak yang mengenal nama ini. Sebab, pria ini lebih dikenal dengan nama Djadi Galajapo, pelawak yang sering tampil jadi MC itu. Belakangan, namanya lebih panjang, HM Cheng Ho Djadi Galajapo.

Pria kelahiran dusun Leker Rejo, Dadap Kuning, Cerme, Gresik, itu kemarin meluncurkan sebuah buku yang diberi judul Neraka Wail dan Kue Terang Bulan di Metropolis Room, Graha Pena. Buku yang ditulis Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad tersebut bercerita tentang perjalanan pelawak itu.

Karena yang punya gawe pelawak, yang datang juga banyak pelawak. Antara lain, Kartolo, Didik Mangkuprojo, Hunter Parabola, Adenan, dan rekan Djadi di Galajapo, Lutfi dan Insaf Andi Lah Yaw. Maka, kelakar dan ger-geran pun tak terhindarkan.

Selain mereka, hadir juga seniman dan budayawan Jawa Timur. Antara lain Kadaruslan, Sam Abede Pareno, Bonari Nabobenar, Suparto Brata, dan masih banyak lagi.

Sosiolog Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, dan aktor Republik Mimpi menjadi pembahas buku terbitan JP Books itu. Sedangkan Cak Kobar, pembawa acara Becak (Berita Kocak) JTV bertindak sebagai moderator.

Djadi memberikan sambutan pembukaan dengan pantun. ''Semongko siji sego dijangkepi. Seng teko dino iki, tak dongakno akeh rejeki,'' katanya disambut tepuk tangan undangan.

Sam Abede Pareno ikut memberi sambutan. Menurut dia, Jawa Pos punya andil dalam kelahiran Galajapo. Saat itu, sekitar tahun 80an, tak banyak pelawak Surabaya yang bisa berbicara di tingkat nasional. Karena itu, Jawa Pos mengadakan semacam audisi pelawak. ''Di situlah kita menemukan Djadi, Priyo, dan Lutfi,'' kata Sam, yang waktu itu redaktur Jawa Pos.

Ketiga orang itu, lanjut Sam, punya karakter kuat. Kemudian, muncul ide menggabungkan mereka dalam satu kelompok. ''Namanya Galajapo, singkatan dari Gabungan Lawak Jawa Pos,'' katanya.

Beberapa pelawak yang diberi kesempatan tampil, mengutarakan kesan-kesannya terhadap Djadi. Tentu saja lengkap dengan kelucuannya. Misalnya, Lutfi. Djadi, menurut dia, merupakan pribadi yang nekat. ''Tiap kali manggung, Djadi tak pernah gugup,'' katanya. ''Pernah, saya dan Priyo tak berani manggung duluan. Padahal, kami sudah ditunggu. Tapi, Djadi langsung bilang, dia akan tampil duluan. Dia memang tampil dulu, dan nggak lucu, karena memang kurang persiapan,'' lanjut Lutfi.

Dalam keseharian, Djadi sering bertingkah konyol. Tingkah itu terus berlanjut meski sudah menikah. Waktu itu, Djadi belum pernah merasakan durian. Kebetulan, di rumah mertuanya ada buah durian. ''Buah itu dimakan Djadi. Kaget enaknya rasa durian, Djadi langsung menelepon saya. Djadi bilang, aku baru ngrasakno enake duren. Aku mari mangan, nyolong nggone mertuaku,'' katanya.

Pelawak senior Kartolo juga memberikan kesan. Saat berjalan ke panggung, Djadi memberikan komentar pada guru lawaknya itu. ''Ini adalah pelawak senior yang sangat kondang dan sudah melanglang buana ke berbagai panggung. Guru dari banyak pelawak dunia,'' katanya. Kartolo perlahan mendekatinya.''Iku lambe opo kitiran,'' katanya.

Kartolo mengaku bangga dengan peluncuran buku tersebut. Sebab, itu langkah bagus bagi seorang pelawak. ''Saya juga mau meluncurkan buku. buku utang piutang,'' katanya disambut tawa.

Judul Neraka Wail dan Kue Terang Bulan itu, menurut Djadi, diambil dari pengalamannya. Saat masih muda, kakeknya melarang jadi pelawak. ''Dia bilang, mosok koen mudun masjid mari ngono ndagel,'' katanya.

Djadi disuruh berhenti melawak. Tapi, dia tetap melawak. Pernah, dia melawak ketahuan kakeknya. Djadi dimarahi, bahkan dipukuli. ''Wong sing ndagel iku panggone nang neroko wail. Aku gak gelem nduwe putu nang neroko wail,'' kata Djadi menirukan ucapak kakeknya.

Tapi, dia punya kiat. Tiap kali melawak, dia menyelipkan pesan-pesan dakwah. Suatu ketika, dari honor melawak dia belikan kue terang bulan. Suatu pagi, dia suguhkan kue tersebut sebagai teman minum kopi kakeknya. Sang kakek pun menghabiskan kue tersebut.

''Koen tuku terang bulan duweke oleh teko endi,'' tanya kakeknya. Djadi menjawab dari hasil melawak. Sebelum kakeknya marah, Djadi memeluk kakeknya dan berjanji, tiap kali melawak dia akan menyelipkan pesan-pesan dakwah. (aga/cfu)

Jawa Pos [Sabtu, 20 September 2008]

Orang Miskin Banyak yang Mati Orang Korupsi Banyak yang Sakit


Pada bulan Puasa yang seharusnya jadi bulan penuh berkah ini, kita masih saja menyaksikan banyak musibah, dan dan sebagian dari warga bangsa (Indonesia) ini pulalah yang menjadi korban. Setelah berbagai kecelakaan lalulintas laut, udara, darat, yang merenggut sebegitu banyak korban, kecelakaan kerja berupa kejatuhan atap baja (Jawa Tengah), dan terjatuh dari gondola yang putus talinya (Jakarta), kita lagi-lagi dikejutkan oleh tewasnya 21 perempuan di arena pembagian zakat. Duh!

Ada pula yang masih memungkiri bahwa kematian 21 perempuan di Pasuruan itu bukan semata-mata akibat kemiskinan. Lalu apa kira-kira ya, jika bukan kemiskinan faktor utamanya? Orang mau berdesak-desakan di bawah terik matahari, dan membiarkan diri yang siap ’’tangan di bawah’’ (menjadi pihak yang diberi) dan dilihat banyak orang untuk mendapatkan uang sekitar Rp 30 ribu –Rp 40 ribu. Anda bisa mencari jawabannya sendiri.

Tetapi, ada pula lho, pihak-pihak yang khawatir jika kita langsung menuding kemiskinan sebagai biangnya. Sebab, kita sedang disuguhi informasi bahwa angka kemiskinan menurun. Tetapi, njlekethek-nya, ndilalah-nya, musibah itu terjadi, nyawa melayang untuk Rp 30 ribu. Itu seharga nasi pecel di warung ’kita’ yang ada di kawasan Causeway Bay itu ya? Padahal, dulu-dulu, setidaknya sebelum angka kemiskinan diturunkan, paling-paling ada korban jatuh pingsan satu dua orang dalam antrian pembagian zakat seperti itu. Kali ini, mati, dan jumlahnya tak hanya seorang dua orang, melainkan dua puluh satu orang. Dan mereka semua perempuan!

Korban mati 21 orang, itu angka yang luar biasa banyaknya. Tetapi itungan korban tak berhenti di korban mati. Salah seorang korban mati itu misalnya, meninggalkan 3 orang anak kecil-kecil yang menjadi piatu setelah kakek, kemudian ayah mereka, meninggal hampir secara berurutan tak lama sebelum kemudian disusul ibu mereka.

Orang kaya berderma, bersedekah, berzakat, itu memang sudah kewajiban mereka. Tetapi, kalau boeh disebut sebagai pelajaran yang sangat mahal, peristiwa arena pembagian zakat yang menjadi padang maut seperti di Pasuruan itu mesti pula segera disusul dengan kesadaran bahwa cara-cara mengundang massa seperti itu kini sudah bukan zamannya lagi. Kalau memang mau memberi, antarkanlah pemberian itu ke alamat masing-masing penerimanya. Tak bisa melakukannya sendiri, pasti ada orang-orang tepercaya yang bisa melakukannya. Atau menyerahkannya ke lembaga zakat yang tepercaya.

Seorang wartawan di sebuah kota di Jawa Timur yang punya pengalaman meliput aksi bagi zakat yang menjadi tradisi tahunan sebuah keluarga kaya di kotanya mengaku, ’’Begitulah memang, walau sudah mulai ada yang ngantre, si pemilik hajat (tuan rumah yang membagikan zakat, Red.) itu biasannya belum akan memulai membagikan zakat kalau belum ada wartawan yang datang.’’ Nah, kan? Lha niyatnya ngibadah atau pamer?

Naudzubillah! Tampaknya masih saja ada orang yang merasa senang ketika menyaksikan massa yang berbondong-bondong dan berdesak-desakan untuk mendapatkan uang receh yang ’disebarkan.’ Perasaan senang (pengalaman sensasional) seperti itulah tampaknya yang juga mengilhami dilakukannya penyebaran uang kertas dari ketinggian tertentu (memakai helikopter?) di Tangerang beberapa waktu lalu. Masya-Allah!

Ini juga pelajaran bagi lembaga-lembaga zakat yang selama ini kurang mendapatkan kepercayaan untuk menunjukkan kinerja yang bagus, yang transparan, sehingga kecurigaan-kecurigaan masyarakat semakin pupus.

Demikianlah, orang miskin banyak yang mati. Dan orang korupsi sering sakit, sesering mereka dipanggil untuk disidang! [Bonari Nabonenar]

intermezo edisi sept 08

Pelawak Djadi Galajapo Luncurkan Buku "Neraka Wail"

Masuki M Astro

Surabaya (ANTARA News) - Pelawak senior Surabaya, HM Cheng Hoo Djadi Galajapo meluncurkan buku biografi yang ditulis Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad berjudul "Neraka Wail dan Kue Terang Bulan" di Surabaya, Jumat.


Peluncuran buku yang dihadiri sejumlah seniman dan pelawak itu diisi dengan diskusi menghadirkan dua sosiolog dari Unair, Bagong Suyanto dan Suko Widodo.

Karena tokohnya pelawak, maka acara itu penuh dengan lelucon, meskipun Djadi sendiri yang saat itu didampingi isteri dan dua anaknya sempat mengutarakan bahwa kali ini dirinya ingin serius.

"Saya ini sudah puluhan tahun melawak, maka izinkan kali ini untuk serius," kata pria kelahiran Gresik pada 8 Maret 1965 yang pendidikan terakhirnya ditempuh di IKIP Negeri Surabaya itu.

Ia mengemukakan bahwa judul buku itu memiliki sejarah mengenai awal perjalanan kariernya sebagai pelawak. Menjadi pelawak bagi anggota grup lawak Galajapo itu bukan pilihan yang mudah.

Gara-gara melawak itu, bahkan dirinya kemudian diputus cinta oleh pacarnya yang berasal dari Nganjuk. Namun ia kemudian berkelakar dan mengaku bersyukur karena dengan konsisten melawak ia memiliki jodoh juga dari Nganjuk.

"Mengenai neraka wail, itu juga sejarah perjalanan saya. Saya waktu itu dimarahi sama kakek saya karena melawak. Katanya, melawak itu akan masuk neraka wail," ujar pelawak yang seringkali merangkap sebagai dai itu.

Bahkan, katanya, karena saat itu melawan, ia sempat dilempar dengan sapu lidi oleh sang kakek. Namun ia tetap nekat untuk melawak karena melihat bahwa seorang penceramah agama juga seringkali menyelipkan lawakan.

"Kemudian saya ingat-ingat ceramah mereka dan salah satu yang saya ingat adalah lafal `innasholaatii wanusuki wamahyaaya wamamaatii lillaahirobbil `aalamiin` yang artinya sesungguhnya salatku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Swt," katanya.

Manurut dia, lafal itulah yang selalu dibawanya setiap melawak. Sampai suatu ketika ia mendapatkan honor dari melawak itu dan kemudian dibelikan kue terang bulan untuk "menyogok" sang kakek agar tidak lagi melarang dirinya untuk melawak.

"Kakek saya senang dan kemudian bertanya uangnya dari mana? Saya jawab dari `ndagel` (melawak). Kakek saya marah lagi, tapi saya jawab bahwa saya melawak sambil berdakwah," katanya.

Sementara Bagong Suyanto mengatakan bahwa Djadi adalah pelawak yang memiliki kelebihan karena mampu memadukan dengan ilmu dai bahkan guru karena lulusan IKIP.

"Saya kira kalau mau eksis memang harus mau menyapa kelompok lain di luar diri kita. Mas Djadi sudah bagus karena juga bisa menjadi dai. Apalagi ditambah juga sebagai guru," katanya.(*)


Antara Jatim
19/09/08 18:06

Friday, 5 September 2008

Pengin Luwih Jawa?


Mangga berlangganan Majalah Jaya Baya (di Pulau Jawa). Basane Jawa tenan, lho. Carane? Kirimkan uang sebesar Rp 134.000 (untuk berlangganan selama 3 bulan) ke rekening BCA No 519.005855.9 a.n PT Jayabaya Prabu Gendrayana.

Kirimkan bukti transfer dan data pribadi (alamat pengiriman) via fax +6231 8292930 atau via email: jayabayared@gmail.com
Majalah akan kami kirimkan ke alamat saudara.

Terima kasih
Redaksi

Untuk info lebih lanjut, sumangga menghubungi jururepotipun:
Mbak Wuwuh Rahayu, ing tombol: +6231 8292 930

Sunday, 31 August 2008

Peluncuran Novel Singkar Isi Pelantikan Pengurus PPSJS

Surabaya - Pelantikan pengurus Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) akan diisi dengan peluncuran ulang novel berjudul "Singkar" karya Siti Aminah dari Yogyakarta.

"Pelantikan pengurus dan peluncuran novel itu akan dilaksanakan setelah lebaran sehingga sekaligus acara halal bihalal," kata Ketua Umum PPSJS, Bonari Nabonenar kepada ANTARA di Surabaya, Sabtu.

Ia mengemukakan, sebetulnya novel dengan seting cerita di kawasan Singkar, Bantul, Yogyakarta itu sudah diluncurkan di kampung Seni Lerep, Semarang, 28 Agustus 2008, namun PPSJS perlu memperkenal karya tersebut untuk masyarakat Jawa Timur.

Menurut dia, novel yang diterbitkan Griya Jawi Unes bekerjasama dengan Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) itu bercerita mengenai masalah politik, pergerakan mahasiswa serta masalah rumah tangga.

"Kami menyambut gembira terbitnya novel itu karena akan menambah buku-buku untuk menumbuhkan minat masyarakat pada karya sastra Bahasa Jawa," kata penulis sejumlah "cerita cekak" atau cerpen itu.

Selain meluncurkan kembali novel tersebut, PPSJS dalam waktu dekat juga akan menerbitkan novel berjudul "Carang-carang Garing" karya Tiwiek SA asal Tulungagung, Jatim hasil kerjasama antara Komunitas Cantrik Tulungagung, PPSJS, Sanggar Triwida dan OPSJ.

"Novel itu pernah dimuat bersambung di majalah Jaya Baya dan pernah disinetronkan di TVRI Surabaya. Novel itu juga bercerita masalah-masalah sosial," kata alumni IKIP Negeri Surabaya yang kini menjadi Unesa itu.

Mengenai program lain, Bonari mengemukakan, pihaknya belum merancang karena masih akan melakukan konsolidasi para pengurus PPSJS periode 2008-2012.

Bonari memimpin PPSJS periode kedua setelah melalui musyawarah anggota akhir Juli 2008. Pengurus lain yang mendampingi adalah, R. Djaka Prakosa (wakil ketua), Mashuri (sekretaris) dan bendahara dipegang oleh Debora Indri Swari. [ANTARA-Jatim/Masuki M Astro, 30 Agustus 2008]

Singkar, Basane Jawa Tenan


Acara kepyakan buku novel basa Jawa anggitane Siti Aminah, Singkar, ing Kampung Seni Lerep, Ungaran, Jawa Tengah (28 Agustus 2008) dadi udan pangalembana. Sing kudanan, sapa maneh yen dudu si pengarange, Siti Aminah. Penyair ’’Sihir Cinta’’ Timur Sinar Suprabana sing kedhapuk medharake ular-ular ngenani Singkar kuwi ngandhakake manawa basa Jawa kang digunakake ing novel kang uga diarani filmis iki dudu basa Jawa kang mung dhapur jarwan saka (pikiran) basa Indonesia, nanging krasa tenan yen mrenthul saka pikiran abasa Jawa. []

Saturday, 23 August 2008

Tanggal Cantik, Standar Ganda

Seorang ibu muda, Susanti (25), melahirkan anak pertamanya di RS TNI AU dr Soemitro melalui operasi caesar pada waktu yang disebut banyak orang sebagai tanggal cantik (08-08-08). Seperti diberitakan Jawa Pos (9/8) tanggal cantik itu dipilih agar sang anak beruntung.

Mungkin mitos peruntungan berkaitan dengan bilangan (yang dilambangkan dengan angka) itu diciptakan orang bersamaan dengan ditemukannya sistem penanggalan (kalender) atau bahkan sejak orang mengenal bilangan dan menciptakan angka itu sendiri. Maka, kemudian berkembanglah ’ilmu’ mengenai bilangan, angka, nomor, yang dikenal dengan istilah numerologi.

Maka, seorang teman sedemikian bangganya ketika mendapatkan kartu telepon dengan nomor yang dianggapnya cantik, empat angka paling belakangnya adalah: 5758. Itu disebutnya angka cantik yang akan meningkatkan peruntungannya karena kalau dibaca akronimnya (dalam bahasa Indonesia) jadi: maju (lima tujuh) mapan (lima delapan). Padahal, kalau angka 5758 itu diakronimkan dalam bahasa Jawa akan jadi ’’matu malu’’ (lima pitu lima wolu), yang jika ditulis dengan aksara Jawa nglegena --tanpa sandhangan untuk menentukan (bunyi) vokalnya—jadi: mata mala (mata = mata, mala = penyakit)! Nah, inilah ngelmu gathuk, atau othak-athik-mathuk. Kalau belum mathuk (cocok) ya di-othak (bongkar) lagi!

Salah satu ranting numerologi, barangkali, adalah yang di dalam budaya Jawa disebut sebagai neptu, yakni (nilai/angka) untuk hari, bulan, tahun, dan seterusnya.

Neptu dina (hitungan hari) paling populer di dalam kehidupan orang Jawa untuk urusan perjodohan, walaupun orang Jawa yang masih taat dengan kebiasaan hidup yang diwarisinya secara turun-temurun akan memakai pertimbangan neptu untuk hampir di segala urusan, termasuk membuat atau memindahkan kandang kambing.

Dari urusan neptu dina itu pula terlihat betapa akomodatifnya budaya Jawa menerima pengaruh asing. Orang Jawa memiliki penanggalan dengan 5 hari dalam sepekan (pancawara): Kliwon (8), Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4). Lalu menerima penanggalan/kalender masehi dengan 7 hari dalam sepekan (saptawara): Minggu (5), Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jumat (6), Sabtu (9). Maka, untuk orang yang lahir Rabu-Kliwon, neptunya adalah 7 + 8 = 15. Angka 15 itulah yang kemudian digunakan untuk, misalnya, membaca karakter atau menilai apakah ia cocok/berjodoh dengan seseorang.

Seiring dengan menguatnya pengaruh budaya Barat, ketertarikan orang (Jawa) terhadap neptu dina semakin terdesak pula oleh ’perhitungan’ perbintangan (astrologi, bukan astronomi). Malahan budaya Timur (China) yang belakangan makin disukai adalah perhitungan berdasarkan shio. Sejauh ini saya belum menemukan ’kearifan’ orang Jawa menyerap pengaruh China/Barat itu seperti halnya nenek moyang dahulu begitu ’pinternya’ mengawinkan pancawara dengan saptawara, walaupun di dalam praktik ’pernujumannya, orang bisa saja mendasarkan perhitungannya secara ’interdisipliner’.

Kembali ke persoalan menentukan hari kelahiran untuk menepatkannya dengan ’tanggal cantik’ tadi, terlihatlah betapa masyarakat kita yang mengaku semakin modern ini justru semakin kuat meyakini gugon-tuhon alias tahayul –kalau boleh disebut begitu. Orang-orang dahulu mendasarkan perhitungan weton atau kelahiran dan lain-lain itu berdasarkan sistem yang jelas, berdasarkan hubungan timbal-balik antara mikrokosmos dengan makrokosmos, antara manusia dengan alam yang ’harmonis.’ Dengan ’memaksakan’ kelahiran melalui Caesar untuk mendapatkan bilangan hari kelahiran yang ’cantik’ berarti orang telah mengagungkan egoismenya dan seakaligus merusak ’keharmonisan’ hubungan mikrokosmos dengan makrokosmos itu.

Maka, dengan tulisan pendek ini, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa dengan nomor (HP) cantik, tanggal (kelahiran) cantik, dan semacamnya itu kita yang mengaku sebagai masyarakat modern ini ternyata lebih nglenik daripada nenek moyang kita. Lebih dari itu, standar ganda pun diterapkan: mengakui ada kekuatan di luar diri yang menentukan peruntungan/nasib berkaitan dengan tanggal kelahiran, misalnya, tetapi tidak mau memasrahkan kapan anak-anak kita harus lahir kepada kehendak Sang Penentu Nasib itu sendiri. Operasi Caesar sebagai langkah darurat untuk menghindari risiko pada bayi maupun ibu yang melahirkan adalah tindakan yang bagus. Tetapi, kalau dilakukan hanya untuk memilih tangal cantik, menurut saya itu bukan tindakan yang cantik! [BN]

Sunday, 17 August 2008

Bonari Nabonenar Kembali Pimpin PPSJS


Surabaya - Bonari Nabonenar kembali memimpin Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) setelah tim formatur memilihnya untuk jabatan periode 2008 - 2012. Lulusan Sastra Indonesia IKIP Negeri Surabaya (Unesa) itu di Surabaya, Sabtu menjelaskan, ia terpilih kembali dalam rapat tim formatur yang berunding selama sekitar tiga pekan sebagai kelanjutan dari musyawarah anggota beberapa waktu lalu.

"Jabatan wakil ketua dipegang oleh R Djaka Prakosa, MSn, sastrawan Jawa yang juga dosen di Sekolah Tinggi Karawitan Wilwatikta Surabaya, Sekretaris dijabat Mashuri dari Balai Bahasa Surabaya serta Bendahara oleh Debora Indri Swari," katanya.

Sebelumnya Bonari pernah mengungkapkan bahwa sebetulnya ia sudah memutuskan untuk tidak lagi mengurus PPSJS karena berbagai kesibukannya. Namun para sesepuh dan anggota pengarang sastra Jawa terus mendesaknya.

Ia mengemukakan, dirinya harus berfikir antara memimpin PPSJS yang mensyaratkan adanya sikap "kompromi" agar bisa bekerjasama dengan berbagai pihak, namun di sisi lain ia ingin tetap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

"Di PPSJS saya dan teman-teman pengurus dituntut untuk mampu bekerjasama dengan berbagai pihak. Sementara selama ini saya memang tidak bisa diam jika melihat kebijakan yang tidak mendukung hidupnya seni budaya etnik," kata pria kelahiran Trenggalek, Jatim, tahun 1964 itu, Jumat.

Karenanya, kata penggerak sastra buruh migran di Hongkong itu, kalau dirinya dipaksa agar tidak lagi bersikap kritis, maka ia lebih memilih tidak lagi menjabat ketua PPSJS periode 2008 - 2012.

Dia lebih baik berkiprah di tempat lain jika dituntut harus selalu "manut" pada kehendak pihak lain tersebut.

Alumni SPG di Trenggalek tahun 1982 dan penulis cerita cekak (cerita pendek berbahasa Jawa) itu mengemukakan bahwa kalau boleh memilih, dirinya akan berkonsentrasi pada kegiatan menulis sastra.

"Tapi mau bagaimana lagi, saya harus mengikuti teman-teman untuk menghidupkan sastra Jawa," kata penulis kumpulan cerpen berbahasa Indonesia , Cinta Merah Jambu (2005) dan Semar Super (2006) yang pernah "oposisi" pada Kongres Bahasa Jawa IV tahun 2006 di Semarang dengan menggelar Kongres Sastra Jawa itu.


Masuki M. Astro

Antara [Biro Jatim] 16 Aug 2008 07:48:30

Saturday, 16 August 2008

AGUSTUSAN*

Seorang kawan melalui chatt-room, semalam, mengirimkankan naskah semacam memoar pendek mengenai Agustusan. Tulisan itu bagus sekali, segar sekali, seksi banget. Penulisnya mengatakan bahwa itu tulisan mengenai pengalaman masa kecil yang ’memalukan.’

Naskah itu, benar-benar bagus bin segar, dan memiliki kadar ke-nylekit-an yang sebenarnya bisa dipandang sebagai semacam kabar bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, penulisnya bisa menjadi kolumnis yang disegani (bukan dalam pengertian –bahasa Jawa, disuguhi sega, lho ya!).

Ia, Sang Penulis, bertutur tentang masa lalunya berkaitan dengan Agustusan alias Pitulasan, yakni (hiruk-pikuk) sekitar dan pas (tanggal 17 Agustus) Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. ’’Dari tahun ke tahun jalannya peringatan kemerdekaan masihlah sama. Sewaktu saya masih SD dulu, upacara penaikan dan penurunan bendera yang terlalu lama itu selalu membuat saya pingsan di menit terakhirnya. Dan karena mengikuti upacara bendera di tanggal 17 Agustus adalah suatu rutinitas dan keharusan, itu berarti juga rutinitas kesengsaraan saya karena harus mengulang pingsan di setiap tahunnya pada waktu yang sama,’’ demikian tulisnya.

Bicara soal Agustusan, ini mungkin adalah kabar lain. Rukun Tetangga di ligkungan saya, menghabiskan dana satu juta sekian rupiah untuk Peringatan Hari Kemerdekaan, termasuk mengadakan lomba balap karung dan membuat (dengan cat) garis tepi jalan. Kampung saya itu pastilah tidak tergolong kampung yang kaya. Letaknya pun di pinggiran kota. Bayangkanlah sekarang, berapa duit yang dihabiskan untuk kemeriahan Agustusan di kampung-kampung elite, di kota-kota besar. Kadang Panitia Agustusan menarik uang ke warga dengan semacam sindiran (kalau Zaman Orba dulu bisa jadi malah berupa atau akan segera terasa sebagai ancaman) bahwa uang iuran itu terlalu kecil (walau banyak warga merasa keberatan) dibandingkan dengan pengorbanan para pahlawan kemerdekaan.

Maka, kita bisa mengangan-angan, berapa lingkungan RT yang seperti RT saya itu dan yang lebih meriah pesta Agustusannya, di Indonesia Raya, lalu itung berapa juta rupiah yang ternyata hanya terbayar oleh kemeriahan sesaat dan cenderung gagal menanamkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia, bahkan hanya semakin membuat kita lupa bahwa kita belum sepenuhnya merdeka. Bahkan baru 50% merdeka –meminjam judul puisi Bung Heri Latief.

Kalau uang Agustusan itu diimpun, dan kemudian digunakan untuk menyemangati orang-orang miskin seperti sebuah program yang pernah ditayangkan JTV, mengentas perempuan tua pengemis menjadi penjual jamu di kawasan Alun-alun Sidoarjo, Jawa Timur, berapa banyak orang bakal terentas, dan ratusan ribu orang akan kita buat terhenyak,menyadari betapa indahnya kesalehan sosial itu.

Tetapi, tampaknya kita masih lebih senang membakar mercon, melepaskan balon, dan menggelar lomba balap karung. ’’Balap karung itu sangat filosofis, lho! Dengan balap karung itu kita bisa mengingat dan merenungkan betapa mahal dan pentingnya sebuah kemerdekaan. Baru kedua kaki saja yang tidak merdeka kita bisa jatuh bangun seperti itu, apalagi kalau segenap jiwa raga kita yang tidak merdeka!’’ seorang Panitia berceramah. Dan segera tampak bahwa ia termasuk golongan orang-orang yang tidak, atau setidaknya: kurang merdeka jiwanya. Kurang merdeka pikirannya, sehingga yang ia elus-elus adalah cara-cara memeriahkan Hari Kemerdekaan dengan balap karung, yang bisa jadi hanya akan menyenangkan bangsa penjajah, dan membuat kita makin minder dan tetap saja bermental inlander (orang jajahan) di era global ini. Lha, memang inlander? Masya-Allah!

*)Ditulis untuk Tabloid Intermezo edisi Agustus 2008

Thursday, 14 August 2008

Dilema Bonari Nabonenar di PPSJS

Surabaya - Tokoh pengarang sastra Jawa, Bonari Nabonenar kini menghadapi situasi yang dilematis dalam berususan dengan organisasi yang didirikannya, Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).

Ketua PPSJS periode 2004 - 2008 itu dihadapkan pada pilihan antara meneruskan "jabatan" di organisasi yang tidak banyak diminati orang itu dengan tetap bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah dalam kaitan seni budaya tradisi.

"Di PPSJS itu saya dan teman-teman pengurus dituntut untuk mampu bekerjasama dengan berbagai pihak. Sementara selama ini saya memang tidak bisa diam jika melihat kebijakan yang tidak mendukung hidupnya seni budaya etnik," kata pria kelahiran Trenggalek, Jatim, tahun 1964 itu.

Karenanya, kata penggerak sastra buruh migran di Hongkong itu, kalau dirinya dipaksa agar tidak lagi bersikap kritis, maka ia lebih memilih tidak lagi menjabat ketua PPSJS periode 2008 - 2012. ia lebih baik berkiprah di tempat lain jika dituntut harus selalu "manut" pada kehendak pihak lain tersebut.

Alumni SPG di Trenggalek tahun 1982 dan Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Negeri Surabaya, kini Unesa itu mengemukakan, dalam musyawarah PPSJS beberapa waktu lalu dirinya kembali didaulat untuk memimpin PPSJS.

Penulis cerita cekak (cerita pendek berbahasa Jawa) itu mengemukakan bahwa dirinya sebetulnya sudah menyatakan mundur untuk menjadi pengurus PPSJS, namun para sepuh pengarang sastra Jawa tetap menghendaki dirinya.

"Mau bagaimana lagi, saya harus mengikuti mereka, tapi kalau nantinya dituntut untuk tidak kritis, saya memilih mundur saja," kata penulis kumpulan cerpen berbahasa Indonesia , Cinta Merah Jambu (2005) dan Semar Super (2006) yang pernah menjadi "oposan" pada Kongres Bahasa Jawa IV tahun 2006 di Semarang dengan menggelar Kongres Sastra Jawa itu.

Hingga kini kepengurusan PPSJS belum terbentuk, termasuk siapa ketuanya. Tim formatur yang salah satunya ada Bonari sedang menyusun kepengurusan, termasuk memilih ketua.


Masuki M. Astro

Antara Jatim, 08 Aug 2008 07:26:33

Saturday, 9 August 2008

Sastra, Olahraga, dan Penghargaan

Oleh Beni Setia

SEBAGAI orang yang pernah mendapatkan Anugerah Seniman Jawa Timur dan sekaligus bekerja di dua ranah kesusastraan, Indonesia dan (etnik) Sunda, rasanya saya cukup pantas untuk menanggapi tulisan terkarib, Bonari Nabonenar --lihat ''Menyoal Sastra Satu Kamar'' (JP, 27/7/08). Sebuah tulisan yang menandaskan bahwa kesejahteraan para pekerja sastra di ranah (bahasa) Indonesia lebih tinggi dari pekerja sastra di ranah (bahasa) Jawa. Benarkah begitu?


Belum lama ini saya menerima e-mail dari kawan yang kebetulan bekerja sebagai redaktur di sebuah harian di luar Jawa, yang mengatakan korannya menyediakan tiga halaman untuk karya sastra dan seni-budaya, tapi tak seperti koran-koran di Jawa yang menyediakan honor lumayan, korannya cuma mampu menyediakan honor Rp 50.000 untuk puisi, cerpen atau esei dan artikel termuat --meski berkali-kali dia minta agar ada peningkatan honor. Sebuah permintaan maaf agak nJawani.

Tapi, apa kita menulis untuk honor semata? Ada kalanya kita ingin berpendapat dan butuh orang yang mau mendengar pendapat kita, lalu berbagi pendapat dalam diskusi terbuka di media massa atau yang terselubung via e-mail atau HP. Ada hal-hal mendesak yang harus dikatakan dan butuh tempat untuk berkata. Persis seperti petani gunung yang berjalan ke sana-kemari sambil membawa timba dan gentong untuk mencari sumur dan air. Sekaligus kita terkadang menulis karena terlalu banyak membaca --dan bacaan tak pernah ada putusnya di internet-- dan karena itu banyak kawan yang lalu memilih membuat blog pribadi agar senantiasa bisa menampung unek-unek dan ada yang membacanya.

Keterikatan pada budaya dan bahasa daerah yang mendorong seseorang menulis dalam bahasa ibu dengan intensitas yang sama dengan saat menulis dalam bahasa Indonesia --kadang malah lebih tinggi. Hal yang nilainya bukan pada ukuran besar-kecilnya honorarium yang diterima, tapi pada aura kepuasan bat�n mampu dan masih bisa menggunakan bahasa ibu. Persis seperti yang dirasakan ketika saya menulis sekian sajak Sunda, dimuat, dan mendapatkan honor Rp 15.000 --padahal bila saya tulis dalam bahasa Indonesia bisa dihargai 10�-20 kali lipat. Celakanya, sajak yang selesai tertulis dalam bahasa Sunda tak pernah bisa diterjemahkan, tanpa merusak otentisitas, ke bahasa Indonesia --karena itu bermakna menulis sajak baru.

Lantas apa arti sebuah cerpen dibayar Rp 1.000.000 bila itu ternyata hanya karena terbit di koran A di Jawa dan bukan koran B di luar Jawa yang cuma bisa membayar Rp 50.000. Saya pikir besaran honor tak menceritakan apa-apa, hanya menceritakan kalau koran A, Z, atau Q di Jawa itu sudah sangat mapan dan karenanya mau menghargai karya sastra sesuai margin keuntungannya yang tinggi; dan koran B, W, dan E di luar Jawa ingin melakukan hal yang sama tapi mereka tak punya margin laba yang besar.

Besaran honor tidak identik dengan kualitas karya, pengabdian sastrawan di zona kering dan seterusnya, tapi berkaitan langsung dengan kapitalisasi industri pers. Koran yang sukses secara finansial, yang berpangkal pada besaran kue iklan yang didapat, bisa menghargai karya sastra. Apa ini tak berkaitan dengan snobisme konglomerat sukses macam Rockefeller atau Ford?

Karena itu, soal apakah Anugerah Seniman Jawa Timur akan diteruskan atau tidak, sesungguhynya tak berkaitan dengan siapa yang akan menjadi gubernur pengganti Imam Utomo. Tapi, berhubungan dengan birokrasi yang mengatur agar pos anggaran untuk penghargaan seniman itu tetap tersedia di RAPBD Jawa Timur nanti. Hal itu sekaligus menunjukkan bagaimana para wakil rakyat mau memikirkan kesejahteraan seniman Jawa Timur sehingga berani meloloskan pos anggaran itu pada APBD 2009 tanpa dirangsang dengan uang pansus, panmus, atau gratifikasi.

Akan menarik kalau Pemprov Jawa Timur mau menenggok ke Pemprov Jawa Barat yang berani membuat terobosan dengan menyediakan dana miliaran untuk membeli buku-buku sastra berbahasa Indonesia maupun Sunda untuk melengkapi koleksi perpustakaan-perpustaan di Jawa Barat. Motivasi yang bisa mendinamisasi industri buku (sastra) di Jawa Timur.

Meski terlambat --Jawa Barat baru tiga tahun terakhir memberi anugerah seniman model Jawa Timur-- berani melakukan terobosan yang lebih radikal dan dahsyat. Dan, itu terlihat signifikan dalam lonjakan penerbitan buku sastra berbahasa Indonesia dan Sunda pada 2008. Bersediakah para birokrat Jawa Timur membuat anggaran untuk itu? Beranikah para wakil rakyat membuat terobosan yang tidak populer tapi akan besar artinya bagi dunia sastra di Jatim dengan memasukkan anggaran penghargaan kepada para seniman dalam APBD 2009 nanti?

Pada dasarnya Anugerah Seniman Jawa Timur tak menekankan kualitas karya tapi lebih menggarisbawahi pada daya tahan dan kapasitas kesenimanan seseorang. Tak heran kalau seniman yang bergerak dengan semangat idealistik dan di bidang seni minoritas bisa bersanding dengan seniman pop-hiburan yang berkesenian untuk menyenangkan banyak orang. Seniman wayang klitik berbaur dan dianggap setaraf dengan seniman gambus; pematung yang kering berbaur dengan pelukis populer yang selalu sold out pada setiap pamerannya; pekerja teater berdampingan dengan seniman seni pertunjukan yang berbasis ritual macam reog Ponorogo; dan seterusnya. Tak heran bila kesenimanan seseorang terkadang dikaitkan dengan kemauan untuk membangkitan motivasi kreatif kepada para seniman yang sebenarnya. Dahlan Iskan, meski dibiaskan, mendapat penghargaan dalam level seniman, tapi bukan dari kualitas karya dan intensitas saat berkarya yang total, melainkan dari komitmennya dalam menggerakkan tangan-tangan kreatif para seniman daerah ini.

Lucu juga sebenarnya. Tapi lebih lucu lagi saat dibandingkan dengan para atlet yang dihargai Pemprov Jawa Timur bukan berdasarkan keatletannya tapi dari berapa banyak ia mampu merebut medali emas di PON. Seperti pada PON XVII/2008 Kalimantan Timur kemarin. Ada seorang atlet yang mendapatkan bonus lebih dari Rp 600.000.000 (ENAM RATUS JUTA RUPIAH!). Sebuah ''penghargaan'' yang setara dengan 5 tahun Anugerah Seniman Jawa Timur (yang diberikan kepada 10 seniman terpilih).

Lucu ya! Tapi ars longa vita brevis, karena sampai kini orang masih menyenandungkan tembang Tombo Ati dan memainkan lakon pakem atau sempalan pakem epos Mahabarata. Tak seorang pun yang ingat pada prajurit yang berlari ke Roma untuk mengabarkan kemenangan dalam perang. Dan, kita mengingat William Tell bukan karena jago memanah apel di kepala anaknya, sebagai tantangan pada otoritarian penguasa, tapi karena ia berani melawan kesewenangan aristokrasi dari si feodal. Memang![]

Beni Setia, Pengarang bukan sastrawan, tinggal di Caruban

Sumber: Jawa Pos [Minggu, 10 Agustus 2008 ]

Friday, 8 August 2008

INUL….GOYANGNYA DI ILMIAHKAN Dr. KEBAMOTO

Inul daya tariknya luar biasa, buktinya para kolumnis media massa tersedot pikiraannya, tidak kurang dari 26 artikel telah dihimpun. Tangan dingin Bonari Nabonenar seorang-orang Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Surabaya [kini Unesa]. Artikel yang berserakan di media massa, dan bercitarasa “ Inul” dipungut, dan dikemas menjadi buku, dan diberi judul sangat sederhana, “Inul”, sampul depan juga di kesankan sederhana hanya dipajangi gambar “bor” manual. Terserah khalayak baca yang mengartikannya.

Isi buku itu, menggambarkan gonjang-ganjing pikiran setelah melihat goyang ngebor yang fenomental, tentunya daya tarik tetap berkisar pada pro dan kontra.
Kontroversi kehadiran inul Daratista membuktikan adanya keterbelahan masyarakat terhadap sensualitas dan erotisme.

Terkait dengan fenomena Inul, Dhiman Abror, Direktur Eksekutif Jawa Pos Radar Timur, serta merta memberikan penilaian terhadap ketenaran seorang Inul. Mengadopsi uangkapan Andy Warholl, “Fifteen minutes of fame” [lima belas menit kesohoran], ungkapan ini menuai bukti pada Inul Daratista. Dalam tempo semalam, namanya yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal tiba-tiba menjadi sebutan setiap orang. Setiap ahari ia muncul di televisi. Setiap stasiun berebut untuk menampilkan Inul. Inul menjadi fenomena baru dalam musik dangdut. Ia lahir dari bawah. Lalu meroket ke puncak dan merevolusi dunia musik dangdut. Ini pula yang membuat bara gonjang-ganjing.

Detil buku
JUDUL: INUL!
PENULIS: Bonari Nabonenar
PENERBIT: Bentang Budaya. Jl. Pendega marta 167C. Telp/Faks. 0274-544862
Yogyakarta 55284—Indonesia. E-mail: bentangbudaya@hotmail.com
CETAKAN: Pertama Juni 2003
ISBN:979-3062-94-0
HALAMAN: xi-162 halaman

Jumat, 2008 Juli 25

Selengkapnya di sini>

Ada Apa dengan Perempuan (AAdP)?

Puisi Air Mata Inul

Ketika Bintang-bintang jatuh dari langit
Dan manakala orang kecil datang menghampiri
Tak ada yang mengerti bahasa sejati
Kenapa semua mesti terjadi?
Takdir, ya karunia tak pernah hadir dengan sendiri
Seperti jiwa yang tak pernah sadar harus menerima semua
Perjalanan tiada pernah berhenti sampai di sini
Hati terlalui dengan banyak peristiwa
Tiada henti ada dan harapan pepohonan
Agar sosok seorang perempuan kecil tersenyum kembali
Menggapai cita-cita

Inul Daratista
Studio Persari Ciganjur
Selasa malam, 24 April 2003
(KCM, 1 Mei 2003, 9:33 WIB)


Prolog

Puisi yang ditulis Ratu Ngebor Inul Daratista di atas, ditulis disela-sela menunggu pentas program tayangan langsung “Pasar Rakyat 76” yang disiarkan TPI. Inul memang memutuskan untuk sementara waktu tidak tampil di depan kamera TV, setelah ia didera polemik soal goyangannya dengan kubu H. Oma Irama.

Namun berhentinya Inul tak bisa meredakan semangat Inul-mania. Puncak karir Inul Daratista semakin melangit pada pertengahan tahun 2003. Dalam tempo tidak lebih 4 minggu berturut-turut, Inul telah menyabet 3 penghargaan dalam SCTV Award 2003 dan serangkaian penghargaan lain dalam AMI Award 20031. Prestasi yang tidak tertandingi oleh penyanyi mana pun. Apalagi Inul Daratista, si pendatang asal Pasuruan Jatim, baru muncul ke permukaan pada pertengahan tahun 2002 lalu.

Tapi itulah perjalanan hidup, sulit menduga. Bermula dari gadis dusun2 yang tumbuh berkembang dari undangan pentas di kampung-kampung, sampai tiba-tiba melejit dalam percaturan nasional. Bahkan sempat ikut terseret dalam komoditas politik usai penampilan dialog TV-7 (Senin, 10 Februari 2003). Inul yang terangkat dari kelas dangdut kampung, sekejap sudah menjadi milik nasional.3 Penonton dan pemirsa terkesima, tersihir dengan goyangannya. Majalah TIME volume 161 no 11 (Showbiz, 24 March 2003) menulisnya dengan judul “Inul’s Rules”.

Media telah mengangkat Inul dalam pentas dunia4. Bahkan media pulalah yang membiarkannya sendirian di puncak ketenaran. Sementara wabah Inul-mania pun akhirnya mulai terasa jenuh, bersiap menghempaskan Inul kembali ke dunia aslinya. Inul telah jadi objek media. Melambungkannya dalam titian buih dalam gelombang pasang surut tertinggi. Puncak yang dalam sekejap mampu pula menenggelamkannya pada surut terendah.

Suka atau tidak suka, Inul sudah terjebak dalam perangkap patriarki media massa. Inul telah menjadi korban provokasi budaya pop. Peng-absahan media dengan julukan “Si Ratu nge-Bor”, menjadi sebutan yang (sebenarnya) melenakan. Apalagi setelah belasan acara info-tainment di stasiun-stasiun TV swasta menambahinya dengan bumbu dan gosip penyegar.


Tabel 1. Program Infotainment Soal Inul antara 1 Agustus - 31 Desember 2002
NO NAMA PROGRAM CHAN WAKTU TVRI Shr
HARI TANGGAL JAM % %
1 CEK & RICEK RCTI Fri 27/12/2002 15:57-16:31 4.4 33.4
2 OTISTA (OBROLAN ARTIS DALAM BERITA) SCTV Mon 30/12/2002 10:57-11:26 4.1 24.6
3 KABAR KABARI RCTI Mon 30/12/2002 16:00-16:33 4.1 32.2
4 HALO SELEBRITI SCTV Tue 31/12/2002 10:54-11:27 3.9 23.2
5 BULETIN SINETRON RCTI Wed 18/12/2002 15:58-16:27 3.7 30.5
6 CEK & RICEK SABTU RCTI Sat 28/12/2002 16:04-16:35 3.7 30.5
7 BULETIN SINETRON SPECIAL RCTI Wed 25/12/2002 15:59-16:28 3.5 22.8
8 KABAR KABARI SPECIAL RCTI Thu 26/12/2002 16:01-16:32 3.4 25
9 KABAR KABARI MINGGU RCTI Sun 29/12/2002 15:58-16:30 3.2 29
10 HOT SHOT SCTV Sun 29/12/2002 08:59-09:28 3.1 17.8
11 KISS PLUS IVM Sat 28/12/2002 09:30-10:23 3 18.9
12 BIBIR PLUS SCTV Tue 31/12/2002 15:25-15:58 2.6 22.3
13 EKO NGEGOSIP TRANS Sun 29/12/2002 17:29-18:31 2.4 11.7
14 POSTER (POTRET SELEBRITI TERKINI SCTV Mon 30/12/2002 15:29-16:00 2.3 20.9
15 PORTAL (POTRET ORANG TERKENAL) SCTV Sat 28/12/2002 16:50-17:22 1.9 16.5
16 GO SHOW TPI Tue 31/12/2002 14:29-15:00 1.9 11.5
17 TERAJANA TPI Thu 19/12/2002 12:02-12:32 1.8 12.6
18 KISS (KISAH SEPUTAR SELEBRITIS) IVM Mon 30/12/2002 07:28-07:58 1.5 15.4
19 KROSCEK TRANS Tue 31/12/2002 12:29-13:26 1.4 12.7
20 CITRA (CERITA SEHARI ARTIS TERNAMA) TV7 Fri 27/12/2002 15:02-15:32 0.9 5.2
21 KLISE (KABAR LINTAS SELEBRITIS) TV7 Mon 30/12/2002 14:59-15:30 0.8 7.2
22 SELEBRITA TPI Mon 30/12/2002 14:30-15:00 0.7 5.4
23 BETIS (BERITA SELEBRITIS) ANTV Mon 30/12/2002 10:28-10:59 0.6 3.9
Sumber: ACNIelsen Telescope, All People, All Station. 5 CITIES


Dalam jam-jam entertainment (yang sebenarnya berhimpitan dengan jam-jam anak-anak), rating & share tayangan soal Inul menunjukkan angka tinggi. Selain itu, hampir semua staisun TV memasang Inul sebagai headlines untuk tayangan entertainmentnya.

Ketenaran Inul bisa dipakai sebagai barometer, betapa media massa memiliki kekuatan dahsyat untuk mengorbitkan seseorang dalam sekejap.


Perempuan dan Komoditi TV

Fenomena Inul hanyalah salah satu di antara sejuta kiat media untuk berlomba-lomba mendongkrak tiras, iklan, rating dan persentase kepemirsaan/kepembacaan-nya. Inul-mania hanyalah satu di antara fenomena puluhan pemanfaatan perempuan untuk kepentingan komersial.

Kalau kita berpijak pada rating sebagai alat bagi stasiun TV untuk mengeruk uang, maka hampir semua program tayangan TV berbasis Inul telah merangsek naik sejak awal Agustus 2002.

Tabel 2. Program Dialog Soal Inul antara 1 Januari 2003 - 13 September 2003
NO NAMA PROGRAM CHAN WAKTU TVR SHR
HARI TANGGAL JAM % %
1 DEBAT MI:INUL BERGOYANG INUL B SCTV Wed 30/04/2003 24:00-24:25 6.5 47.2
2 DK:HEBOH GOYANG INUL PERTANDA SCTV Wed 07/05/03 24:00-24:13 3.3 29.3
3 INULTAINMENT TPI Fri 12/09/03 21:31-21:59 3.1 9.6
4 JAYA SHOW INUL TVRI1 Mon 31/03/2003 21:29-22:26 2.3 8.8
5 INULTAINMENT (R) TPI Fri 12/09/03 09:01-09:28 1.6 12.7
Sumber: ACNielsen Indonesia Telescope, All people, All station, 5 CITIES

Tabel 3. Program Spesial Soal Inul, antara 1 Januari 2003 - 13 September 2003
NO NAMA PROGRAM CHAN WAKTU TVR SHR
HARI TANGGAL JAM % %
1 PERJALANAN SI RATU NGEBOR SCTV Sat 10/05/03 18:36-19:29 12.3 34.6
2 PERJALANAN INUL DARATISTA TRANS Sat 03/05/03 18:00-19:13 9.9 29.4
3 BINTANG DANGDUT:PELUNCURAN ALBUM TRANS Sat 05/07/03 21:06-22:35 8.2 27.1
4 INUL GOYANG KROSCEK TRANS Sat 26/04/2003 21:55-22:59 5.8 22.3
5 INUL CAMPURSARI TV7 Sat 28/06/2003 21:53-23:23 2.9 9
6 GEMBAR GEMBOR INUL NGEBOR LATV Tue 06/05/03 18:34-19:09 2.7 7.9


Inul memang fenomenal. Dalam sejarah stasiun TV tidak pernah ada seorang bintang/selebritis bisa laku keras di program entertainment, dialog, variety show, serta sinetron sekaligus. Tayangan “Perjalanan Si Ratu Ngebor” di SCTV menduduki rating yang tidak bisa dianggap remeh, yaitu TVR 12,3% dengan TVS 34,6%

Naiknya rating program dengan label Inul telah membuat pengelola TV memetik hasil lebih. Inul pun akhirnya semakin sering di-eksploitasi. Rata-rata, Inul tidak tampil sekali dalam program stasiun penayangnya. Sementara artikel-artikel di media massa selalu diikuti dengan kenaikan tiras dan pemasangan iklan.

Tabel 4. Acara Yang Banyak Ditonton Pemirsa Kuartal II 2003
NO NAMA PROGRAM CHAN TVR
%
1 DUET MAUT: Inul & Vetty Vera (live) SCTV 16,9
2 DUET MAUT: Inul & Tina Toon (Live) SCTV 15,1
3 Bidadari 2 (Avr 13 episode) RCTI 15,0
4 Kecil-kecil Jadi Manten (Avr 13 episode) RCTI 14,7
5 DUET MAUT: Deni Malik & Ulfa SCTV 14,5
6 Rindu Inul (Avr 2 Program) TRANSTV 14,1
7 Kenapa Harus Inul? SCTV 13,9
8 Juleha (Avr 6 episode) IVM 13,0
9 Julia Anak Gedongan (Avr 13 episode) RCTI 12,9
10 Sang Bintang (Avr 4 episode) SCTV 12,5
Sources: Tabloid Marketing, No 19/III/22 Oktober-4 Nopember 2003

Dalam tabel 4 di atas, rating Inul disejajarkan dengan 20 besar program-program andalan masing-masing stasiun TV. Tampak SCTV (sebagai stasiun yang gencar mengorbitkan Inul bersama TRANSTV) memperoleh rating tinggi untuk tayangan Inul untuk 2 program berturut-turut, yaitu “Duet Maut”. Rating yang sulit dijangkau dengan program-program instan dalam tempo cepat.

Fenomena Inul telah memaksa kita untuk menengok kembali wajah budaya kita. Kehadirannya telah memicu diskusi panjang yang melelahkan, diwarnai dengan boikot dan penggalangan kekuatan. Bermacam-macam angle (sudut pandang) membingkai diskusi-diskusi tersebut, mulai dari seni, etika, moral, agama, politik, kebudayaan, bahkan juga tinjauan ngebor dari sudut ilmu fisika. 5

Fenomena Inul hanyalah salah satu contoh bagaimana media memandang objeknya. Tentu saja hal ini berkaitan dengan banyaknya kepentingan yang bertarung dalam sebuah industri media massa. Dalam dekade terakhir ini, media massa cenderung mulai meng-integrasikan jaringan produksi dan distribusi produk-produk budaya dengan selera pasar (market). Keinginan publik (baca: pasar) menjadi barometer untuk meng-kreasikan sebuah produk broadcast. Boleh disebut selain tayangan Inul, masih ada tayangan seperti cerita legenda, cerita misteri, film-film India, serta musik Dang Dut, sebagai program-program yang diluncurkan untuk mengeruk keuntungan. Itulah pasar!, itulah dunia media kita!

Media massa Indonesia telah terikut arus pada peluang komersialisasi secara besar-besaran. Media bahkan telah dengan sengaja (by desain) mengemas Inul (sebagai produk media) untuk tampil seronok mungkin. Bahkan media sekarang ini memiliki kecenderungan menampilkan perempuan untuk komersialisasi dan komoditas pesona seksual.6 Kemasan program-program tayangan Inul terkesan disusun sebagai fantasi pesona seksual. 7

Mengapa harus perempuan sebagai objek media? Tentu bukan sebuah jawaban mudah. Sebagai sebuah industri bisnis, media secara tanpa disadari telah mem-subordinasikan kepentingan publik di bawah kepentingan komersial.8 Dalam kacamata media, perempuan adalah objek utama; makhluk penggoda yang membuat laki-laki memperkosa dan berbuat jahat; menjadi “milik” (kekayaan) laki-laki sehingga harus menurut apa kata laki-laki apa pun hubungan kekerabatannya, tempat laki-laki ber-fantasi. Tubuh perempuan mempunyai jutaan karakter yang bisa dikomoditaskan: kecantikan, kemolekan tubuh, “goyangan panggul”, dan seks. Karakter yang telah diperalat untuk kepentingan komersial.

Sinetron-sinetron Indonesia menjadi cermin bagaimana media massa menguras kesedihan dan keterpurukan perempuan sebagai sebuah komoditi berselera khalayak. Dalam sinteron Indonesia, perempuan di-casting sebagai makhluk lemah, otak dari konspirasi, penyebab menderitanya wanita lain, menjadi setan perempuan, bingung, tak punya kekuatan, obyek ketertindasan laki-laki, cengeng, cerewet, judes, kurang akal, dan suka buka-bukaan.9

Sensualitas, seks, konsumerism, dan pesan-pesan seksual pun telah memadati iklan-iklan media massa, dan menjadi bagian penting dalam sebuah industri media. 10 Produk-produk media (iklan, sinetron, berita) pun diproduksi (sebagai komoditi massal) yang didesain untuk memenuhi kepentingan bisnis. 11 Bahkan cenderung kurang memberikan pemikiran kritis dalam keberpihakan-nya pada perempuan.

Kesan itu semakin diperparah dengan program-program televisi yang ber-label “Perempuan” dan “Wanita” yang lebih suka bicara soal hebohnya perempuan di ranah domestik, daripada mencoba mengangkat permasalahan perempuan dalam ranah publik. Kalau pun mengangkat ke ranah publik, yang muncul justru masalah perempuan sebagai objek pornografi, sensual, dan seksis.

Catat saja, beberapa program TV seperti “Sensasi Neo Hemaviton” (TRANSTV) “Bantal” (RCTI),”Kelambu (RCTI)”, “Desah Malam” (Lativi), “Angin Malam” (RCTI), “Di Balik lensa” (ANTV), “Love & Live) (Metrotv) Tayangan-tayangan yang memanfaatkan waktu slot late night tersebut, sengaja dikemas dengan pesona fantasi seks untuk menaikkan share dan rating.12

Ketika menjadi komoditi berita, perempuan pun terjebak pada jeratan kasus-kasus yang lebih privat seperti perceraian atau pun gosip. Ketika masuk dalam skala publik, kasus yang diangkat pun akhirnya tetap ber-orientasi perempuan sebagai objek dengan tingkat kasus yang berbeda. Bahkan kadangkala tidak cukup dalam skala kasus individu, namun sudah terintegrasi dalam peristiwa sosial politik skala besar, seperti konflik bersenjata atau kerusuhan sosial.

Jarang sekali ditampilkan kekuatan perempuan sebagai dirinya dalam ruang-ruang publik. Keterlibatan perempuan dalam partai politik dan dalam ekonomi berskala nasional dan Internasional pun bisa dihitung dengan jari. Padahal media massa punya andil besar dalam mensosialisasikan hak dan kepentingan perempuan.

Potret perempuan dalam media akhirnya selalu tipikal. Sehari-hari berkutat di wilayah domestik, mengurus rumah, pesolek dan bercitra konsumtif (pembelanja), tidak memiliki kekuatan untuk memutuskan, selalu bergantung pada laki-laki, pasif, objek seks, dan menjadi setan yang ditakuti. Kalau pun muncul keterlibatan perempuan dalam bidang ekonomi, lebih pada kesuksesan bisnis domestik seperti catering, jahit menjahit, dan sebagainya. Dalam bidang politik, lebih pada pemenuhan kuota perempuan saja bukan pada kekuatan dalam memperjuangkan hak-haknya.

Bisa diduga: perempuan pun akhirnya tidak tampil secara layak di kaca televisi. Entah di program hiburan13, berita, film, sinetron dan bahkan iklan-iklan14. Akibatnya yang muncul “tentang perempuan” adalah sebuah stereotipi, sebuah stigma, diskriminasi, dan sebuah sensasionalitas. Dalam arti kata lain, perempuan tetap saja menjadi “komoditas” media massa, yang ukuran keberhasilan diukur dari keuntungan materi, hiburan, kesenangan, serta sensualitas.

Pencitraan di atas menunjukkan betapa kaum perempuan mengalami berbagai ketertindasan secara sistematis yang dilakukan lingkungan sosialnya. Dan media massa merupakan penyumbang besar ketertindasan perempuan. Perempuan teralineasi dari tubuhnya sendiri, dari jati dirinya, dari orang lain, bahkan dari dunianya sendiri.

Epilog

Melawan gelombang pasang kontroversi Inul bukan sekadar melakukan pencekalan dan perang opini media. Inul telah menjadi realitas mediatik, berubah menjadi ikon budaya massa yang memujanya dalam puncak realitas sosial. Fenomena Inul menjadi tidak lagi menikmati otobiografi gadis kecil kampung dalam sinetron “Mengapa Harus Inul?”, namun sudah berubah wajah menjadi kapitalis yang mendikte kita dalam cita-cita, selera, dan bahkan juga kehidupan bermedia.

Akibatnya, di media massa kita tak ada lagi ruang untuk melirik sedikit pun soal hak perempuan. Hanyut terbawa pada eksploitasi fisik pesona tubuh. Masyarakat sering memaksa perempuan berada pada simpangan pilihan yang memabukkan, menjadikan dirinya sebagai ojek erotis, menawarkan diri sebagai mangsa nafsu laki-laki. Bahkan ketika perempuan menerima penerapan dirinya sebagai objek seksual, perempuan senang membuat dirinya senantiasa nampak cantik.15

Selera masyarakat pun akhirnya menjadi bahan pertaruhan. Media massa beralasan mendesain program karena pasar memintanya. Sementara ukuran pasar berada pada selera masyarakat yang banyak bias faktornya. Selera media yang masih tetap bergantung sepenuhnya pada selera publik. Kapitalisme media telah membuat perempuan berada pada posisi takut tercampakkan.

Sebagai budaya instans, posisi perempuan dalam media memang tergantung pada selera dominan yang diciptakan oleh kekuatan modal. Berharap banyak pada pengelola media untuk lebih santun soal penampilan perempuan, juga tidak sepenuhnya berhasil. Masing-masing media massa punya ukuran sendiri dalam menampilkan program-programnya. Apalagi bila takarannya adalah tiras, rating dan share.

Hanya saja ketika media-media kita lebih banyak berwajah laki-laki (patriakal), maka benarlah hipotesa yang menyebut bahwa hak istimewa laki-laki atas perempuan tidak hanya pada urusan rumah tangga saja, namun sudah merasuk sampai ke segala aspek seperti ekonomi, politik, budaya dan lain-lain.16 Budaya patriakal telah masuk dalam niche (relung hidup) masyarakat. Termasuk di dalamnya, masyarakat media massa itu sendiri.

Toh akhirnya, muaranya kembali lagi kepada para pengelola media sendiri. Mulai dari pemilik media, perencana media/program, unit produksi, sampai kepada personal wartawan dan pengelola media: bisakah membuat produk dengan ukuran sahih yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih menguntungkan.
Puisi Inul di tengah keterpurukan adalah jawaban dari kegalauan itu sendiri. Ia tidak meminta belas kasihan media atas peristiwa-peristiwa yang menderanya. Ia hanya minta satu:

Tiada henti ada dan harapan pepohonan,
Agar sosok seorang perempuan kecil tersenyum kembali
Menggapai cita-cita

Sebagai perempuan, ia telah menunjukkan sebuah cita-cita. Mungkin media saja yang keliru dalam menafsirkannya.

Bahan Bacaan:
Adorno, Theodor. 1990. “Culture Industry Reconsidered”, dalam Jeffrey Alexander dan Steven
Seidman (Ed). Culture and Society: Contemporary Debates. Cambridge: Cambridge University Press.
Beauvoir S. 2003. Second Sex: Kehidupan Perempuan. Terjemahan buku The Second Sex (1989). Penerjemah Tony B. Febriantono dkk. Pustaka Promethea. Cetakan Pertama. Jakarta
Benedict, H. 1992. Virgin or Vamp: How The Press Covers Sex Crimes. Oxford.
Brown, Mary Ellen. 1993. Television and Women’s Culture. Sage Publications. London-Newbury
Park-New Delhi.
Dawn H. Currie & Valerie Raoul (eds)., 1992. The Anatomy of Gender: Women’s Struggle for the Body. (Carleton University Press). p-212
Ibrahim dan Suranto. 1998. “Wanita dan Media”. PT Rosda Karya. Bandung.
Poerwandari, E.; Hidayat,R.S., 2000. “Perempuan Indonesia dalam Masyarakat yang Sedang Berubah”. 10 Th Program Studi Kajian Wanita. PSKW UI. PPS-UI, Jakarta.
Siregar, A. dkk (ed). 1999. Media dan Gender. Perspektif Gender atas Industri, Suratkabar Indonesia. LP3Y – The Ford Foundation. Yogyakarta.
Soemandoyo, P. 1999. Wacana Gender dan Layar Televisi. LP3Y – The Ford Foundation. Yogyakarta.
Subono, NI. 2000. Negara dan Kekerasan terhadap Perempuan. Yayasan Jurnal Perempuan – The Asia Foundation. Jakarta.

1 Dalam SCTV Award 2003, Inul Daratista menyabet 2 Award kategori “Penyanyi Dang Dut Terfavorit”, dan “Artis sinetron terbaik”. Debutnya dalam program “Duet Maut SCTV” mendapatkan Award dalam kategori “Program Terbaik”. Sementara dalam AMI Award 2003, Inul mendapatkan Award dalam kategori “Lagu Dang Dut Terbaik”, “Artis Solo Perempuan Dang Dut Terbaik”, dan “Album Dang Dut Terbaik”. Dalam Anugerah Dang Dut TPI 2003, Inul tidak masuk nominasi karena kasetnya baru muncul Mei 2003. Namun dalam Anugerah Dangdut TPI 2003, Inul terpilih sebagai “Penyanyi Rekaman Lagu Dang Dut Wanita Favorit Pilihan Pemirsa” di tengah-tengah boikot tidak tampilnya beberapa pengisi acara utama.

2Istilah ini dipakai Dr. Dewi Motik Pramono, Msi, saat mengundang Inul dan suaminya Adam, dalam program “Rumah Kita”, TVRI Hari Minggu, pukul 10.00 WIB. Inul sendiri dalam puisi dan wawancara-wawancaranya lebih suka menyebut dirinya sebagai “perempuan kecil”.

3 Perjalanan karir Inul Daratista mencuat ketika pentas Inul di upacara perhelatan temanten diperbanyak oleh sebuah PH di Jatim. VCD Goyangan Ngebor (ada yang menyebut goyang molen) itu pun beredar cepat ke seluruh Indonesia. Sampai kemudian hampir seluruh stasiun TV swasta memberi tempat lebar untuknya. Arswendo merangkum kisah hidupnya dalam sinetron “Mengapa Harus Inul” yang tayang di SCTV pertengahan tahun 2003.

4 Inul beberapa kali diundang tampil di Luar Negeri (salah satunya ke Jepang). Ulasan soal Inul bahkan pernah ditulis TIME Asia Magazine (24 Maret 2003) dengan judul kuat: Inul's Rules

5 Sebuah buku bunga rampai tulisan tentang Inul di media massa, dibukukan dalam judul singkat “Inul” (terbit Juni 2003). Menurut Bonari Nabonenar (dalam Sebuah Pengantar Editor), ia ingin menamai bukunya dengan “Inul: Menggoyang Negeri Dangdut”. Namun diakui, judul itu tidak netral, akhirnya ia hanya menuliskan judul singkat saja “Inul”. Bonari menyebut buku ini sebagai rekaman Inulitas dari beragam sikap: sinisme, kemarahan, keseriusan, dan kelakar.

6 Tamrin Tamagola dalam Subono (2000:106); Ana Nadya Abrar (dalam Pantau, 08/Maret-April 2000, p.71-76; Mattelart, et al. 1993:422.

7 Dalam KOMPAS, Minggu, 9 Februari 2003, Inul ikut berpolemik: Saat bergoyang ngebor, kakinya rapat, tidak mengangkang-sesuatu yang dianggapnya jorok. Goyang bor-nya bukan seksual (maksudnya sensual), namun goyang energik dan sportif. Tapi sesudah gempuran hebat, Inul lebih suka diam.

8 Susanto Pudjomartono (dalam KOMPAS, Selasa, 8 Oktober 2002) menyebut jurnalisme sekarang ini di simpang jalan. Hiperkomersialisasi mengalahkan jurnalisme yang hakiki.

9 Debra Yatim, dalam makalah “Perempuan dan Sinetron dalam Perspektif Jender”, 4 Desember 1999; Aripurnami dalam Ibrahim dan Suranto, 1998:287-301; Veven Sp Wardhana dalam Arivia, G, 2003:p75.

10 Soemandoyo, P dalam Poerwandari, E., dkk, 2000:p347-376

11 McDonald, 1994:30

12 Diambil dari Data Rating & Sharing, AC Nielsen, minggu kedua Oktober 2003 pada saat buku ini ditulis. “Sensasi Neo Hemaviton” rating 1,8%; “Kelambu” (RCTI) 1,6%; “Angin Malam” (RCTI) 1,6%; “Bantal” (RCTI) 0,8%, “Desah malam” (Lativi) 0,8%; dan “Love & Live (MetroTV) 0,3%. RCTI mendominasi tayangan-tayangan pesona seks.

13 Lihat Ibrahim dan Suranto, 1998:107 dan 325; Gupta dan Jain dalam Media Asia, 1998:34; serta Siew dan Kim dalam Media Asia, 1996:75.

14 Debra Yatim, dalam makalahnya pada diskusi “Perempuan dan Sinetron dalam Perspektif Jender”, 4 Desember 1999. Sita Aripurnami (dalam Ibrahim dan Suranto, 1998: 287-301).

15 Beauvoir S. 2003. Second Sex: Kehidupan Perempuan. Terjemahan buku The Second Sex (1989). Penerjemah Tony B. Febriantono dkk. Pustaka Promethea. Cetakan Pertama. Jakarta

16 Dawn H. Currie & Valerie Raoul (eds)., 1992. The Anatomy of Gender: Women’s Struggle for the Body. (Carleton University Press). p-212

sumber