Saturday, 29 November 2008

Halo Taiwan!

Kami sangat senang bisa menjumpai warga Indonesia yang kini tengah berada di Taiwan, terutama para tenaga kerja yang sungguh sangat berjasa untuk 2 hal: membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran yang makin menumpuk di tanahair, dan mengirim devisa untuk keluarga dan negara, terlebih dalam situasi krisis global seperti sekarang ini.

Para Pembaca yang budiman, seperti biasanya sebuah kelahiran, kami berharap Radar Taiwan yang masih bayi cenger ini mendapatkan sambutan yang hangat. Seperti halnya saudara-saudari kita di Hong Kong menyambut dengan hangat kelahiran media dari Berita Indonesia Ltd yakni: Berita Indonesia, Intermezo, dan Peduli. Kawan-kawan kita di Hong Kong dengan gembira manyambut media berbahasa Indonesia, dan mereka beramai-ramai mengirimkan tulisan, dari yang bernama surat pembaca, puisi, cerita, hingga tulisan opini.

Bahkan, beberapa nama, sebut saja: Rini Widyawati, Dhenok Kanthi Rokhmatika, Eni Kusuma, Wina Karni, Maria Bo Niok, Mei Suwartini, dan masih ada beberapa nama lagi yang meneruskan kegemarannya menulis setelah kembali ke tanahair. Maria Bo Niok yang dulunya pernah bekerja di Taiwan (baca: halaman 05) bahkan telah melahirkan beberapa buku.

Begitulah pula yang kami harap dari warga Indonesia yang berada di Taiwan ini. Mari kita sambut Radar Taiwan dengan senang hati, dan kirimkanlah kritik dan saran demi peningkatan kualitas maupun oplahnya!

Terima kasih, dan marilah tetap bersemangat!

Redaksi

Monday, 17 November 2008

PPSJS Gagas Festival Sastra Jawa

Surabaya - Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) menggagas even kebudayaan bernama Festival Sastra Jawa yang diharapkan menjadi embrio dari Festival Sastra Etnik Nusantara untuk melestarikan kekayaan seni tradisi

Ketua Umum PPSJS, Bonari Nabonenar di Surabaya, Sabtu menjelaskan, saat ini diperlukan media ekspresi alternatif untuk mewadahi aktivitas para penulis sastra Jawa dalam skala yang lebih luas.

"Sastra Jawa adalah warga dari Sastra Indonesia dan juga warga dari sastra dunia yang layak diberi ruang untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat dan keinginan masyarakat pendukungnya," katanya.

Karena itu, katanya, diperlukan berbagai bentuk ekspresi bagi pegiat sastra Jawa. Even ini sekaligus untuk menghormati beberapa tokoh sastra Jawa di Jawa Timur, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

"Jawa Timur ini memiliki nama besar untuk penulis sastra Jawa. Mereka antara lain, Suparto Brata, Satim Kadaryono, Moechtar, Suharmono Kasiyun, Widodo Basuki, Tiwiek SA, Djayus Pete, JFX Hoery dan lainnya," katanya.

Menurut dia, even ini bisa digelar tahunan dan skalanya bisa diperluas dengan melibatkan seluruh pegiat sastra etnis di negeri ini. Karenanya acara ini diharapkan juga menjadi silaturahmi budaya dalam skala yang lebih besar.

Ia mengemukakan, Festival Sastra Jawa itu akan digelar 2009 dengan tema, "Desa dan Sastra Jawa". Dengan alasan itu, maka festival tersebut rencananya akan dilaksanakan di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.

"Kegiatan ini akan digelar di desa karena kami berasumsi bahwa sebagian besar masyarakat pendukung sastra Jawa modern ada di daerah-daerah pinggiran, di desa-desa," katanya.

Karena itu, katanya, perlu dikaji hubungan imbal-balik antara sastra Jawa modern dengan masyarakat pedesaan, dan peran apa yang perlu dipertegas oleh para pengarang sastra Jawa dalam rangka berpartisipasi pada pembangunan masyarakat pedeaan tersebut.

Kegiatan itu akan diramaikan dengan pentas baca cerita cekak (Cerpen Bahasa Jawa), geguritan (puisi), drama berbahasa Jawa, sarasehan, pameran buku dan pemutaran film dokumenter.

Mengenai lokasi festival ini, yakni Desa Cakul adalah sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota, yakni sekitar 10 km dari ibukota kecamatan Dongko dan 46 km dari ibukota Kabupaten Trenggalek.

"Seperti halnya wilayah di bebukitan kapur jalur selatan Pulau Jawa, lokasinya cukup indah dengan kekayaan bebatuan kapur, marmer, dan banyak lubang bawah tanah atau gua," katanya.

Masuki M. Astro

Antara Jatim [Sabtu, 15 Nov 2008 15:27:13]

Wednesday, 5 November 2008

Koran Dinding Kampung (2): Tenaga-tenaga Muda di Sekitar Kita


Ada anjuran yang sangat baik, ’’Janganlah kesusu bertanya apa yang seharusnya Anda terima, tetapi bertanyalah lebih dahulu: apa yang bisa Anda berikan.’’ Apa yang bisa diberikan/diperbuat oleh kaum muda?
Di antara kita banyak tenaga-tenaga muda. Muda usia. Ada yang menyebut dengan remaja. Ada yang menyebut dengan istilah pemuda (termasuk pemudi, lho! –Red). Ada orang yang dengan nada kelakar alias guyon mengatakan bahwa remaja itu manusia tanggung. Maksudnya, mau disebut anak-anak kok secara fisik sering malah lebih gedhe daripada orang dewasa, tetapi kalau mau disebut dewasa kok belum cukup syarat untuk itu, antara lain dalam hal luasnya wawasan hidup, banyaknya pengalaman, dan sebagainya. Maka, sebenarnya kita tidak perlu terlalu sedih jika mialnya tidak dilibatkan dalam rembug/petung tuwa. Bukankah kita sudah diberi wadah sendiri, yang di tingkat desa misalnya dengan adanya organisasi Karang Taruna? Bukankan Pemerintah sudah mengangkat seorang menteri yang diberi amanat khusus untuk mengurusi Pemuda (dan Olahraga)?


Kita sudah dipikirkan, dan Pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk kita, untuk pemuda. Jika kita merasa belum ada apa-apa yang sampai pada kita, mungkin itu hanya persoalan antrean, persoalan giliran, ata persoalan sistem komunikasi, dimana kita kurang jeli, kurang membaca, dan kalau banyak nonton televisi pun yang kita tonton bukanlah acara-acara yang bersifat informatif, melainkan acara-acara yang sebenarnya sering memperbodoh macam sinetron horor atau percintaan yang asal-asalan itu.

Maka, marilah kita bersama-sama bertanya sekarang: Apa yang dapat kita berikan, apa yang dapat kita perbuat untuk diri kita masing-masing dan kemudian untuk lingkungan kita?

Pada garis besarnya, marilah kita lakukan hal-hal yang baik yang bermanfaat bagi diri dan linggkungan kita, sehingga cita-cita yang digantungkan oleh para orangtua kita: --agar kita menjadi manusia yang berguna bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa—itu tidak sekadar menjadi mantra (doa) yang makin hari makin pudar maknanya.

Dahulu, orang-orang seusia kita harus bertaruh nyawa, memanggul senjata, bahkan senjata seadanya, untuk mengusir penjajah yang bersenjata modern. Dahulu, orang-orang seusia kita dari berbagai suku, golongan, agama, berkumpul hingga lahirlah Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah bersatunya kembali Nusantara (Indonesia) yang pernah dicerai-beraikan bangsa asing (penjajah). Mereka adalah pemuda yang pantang menyerah, kaum muda yang tak pernah berpikir dua kali, tak pernah ragu untuk: BERBUAT BAIK.

Ayo! Jangan biarkan diri kita kelak dicatat oleh sejarah sebagai generasi loyo! Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Ketika pertanyaan itu mulai ada di benak kita, yakinlah, kita sudah berada di langkah pertama untuk ’’berbuat baik’’ untuk tidak menjadi generasi loyo. [bonari nabonenar]

Koran Dinding Kampung


Telah lahir Koran dinding kampung (Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Trenggalek, Jatim/4-Nov-2009) cap ’’Nglaran Kita.’’

Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Sudarmaji. Redaktur/Kordinator Liputan: Aan Rulianto. Reporter: Warsito, Hendri, Karni, Sudarto, Sukatni, Nuryati, Riza Rinata, Sulis. Fotografer: Jarwanto, Jamaludin. Desain/Artistik: Hendro. Sekretaris Redaksi: Wulandari. Konsultan: Bonari Nabonenar, Purwo Santoso. Alamat Redaksi: RT 29/RW 15 Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kec. Dongko, Kab. Trenggalek, Jawa Timur.

Rencananya, bakal terbit sekali sebulan.