Showing posts with label ZERPIH. Show all posts
Showing posts with label ZERPIH. Show all posts

Monday, 11 November 2013

Mengendarai Kuda Lumping*


FOTO: eastjava.com

Kesenian lahir sebagai salah satu bentuk upaya manusia untuk meningkatkan derajat kemanusiaannya, bersama sektor lainnya seperti: sistem kekeluargaan, politik, teknologi. Terutama pada kebudayaan lama, sebelum lahir agama-agama, pada kesenian konon sangat menonjol fungsi komunikasi vertikalnya (baca: komunikasi dengan Yang Maha Kuasa).

Kesenian lahir sebagai bentuk ekspresi, dan karenanya memiliki fungsi komunikasi. Di dalam perkembangannya kemudian, komunikasi horisontal-nya tampak lebih mengemuka. Bahkan, kemudian berkembang pula jenis komunikasi ke dalam; barangkali itu yang dapat kita katakan untuk ciptaan (baca: karya seni) yang kelahirannya didorong oleh paham ”seni untuk seni.” Sementara itu, orang Jawa terbiasa menyebut karya seni sebagai kagunan (ke + guna + an) yang berarti: sesuatu yang bermanfaat. Manfaat yang dimaksudkan di dalam sebutan ”kagunan” itu tentulah bukan sebatas manfaat bagi dirinya (seni itu) sendiri, melainkan juga bagi masyarakat, bagi jagad gedhe (makrokosmos).

Kuda Lumping dan Pasar

Kuda lumping, jaran kepang, atau jaranan merupakan salah satu seni warisan leluhur yang memiliki daya tahan luar biasa. Ketika kethoprak, wayang orang, dan bahkan ludruk menunjukkan tanda-tanda kepunahan, jaranan justru berkembang biak. Fungsi ritualnya mungkin sudah tergerus. Dugaan sementara, jaranan lebih bersahaja, lebih praktis, dan lebih ’murah’ dibandingkan jenis seni tradisional lainnya. Di pihak lain, fungsi ritual secara sadar digeser ke fungsi ekonomi dengan menjadikan jaranan sebagai komoditas dan tunduk terhadap kemauan pasar. Maka, muncullah jenis jaranan campursari.

Ketika jaranan sudah menjadi semata-mata komoditas, beberapa konsekuensi harus dihadapi para pelakunya: (1) tuntutan perubahan bentuk komunitas dari paguyuban ke patembayan, berbadan hukum, agar perselisihan dapat segera diatasi secara hukum, (2) kesulitan membuat format pembagian honor/bayaran yang memenuhi rasa keadilan semua pihak, (3) ketika seseorang atau sekelompok kecil bertindak sebagai juragan, para pemain cenderung hanya menjadi semacam buruh, (4) kesakralannya cenderung hilang, dapat diganti atau hanya sejajar kedudukannya dengan jenis kesenian profan lainnya. Kita memang dihadapkan pada pilihan: mau menjaga jaranan agar tetap menjadi kesenian yang sakral ataukah merelakannya tumbuh menjadi barang dagangan.

Kita patut bersyukur karena memiliki Pak Pamrih dan Pak Muan yang bersama komunitasnya di awal tahun 80-an telah menggali nilai-nilai dalam ritual bersih desa –di tempat lain disebut ”merti desa”—dan mengaktualisasikannya ke dalam bentuk kreasi seni jaranan turangga yaksa seperti kita kenal sekarang ini. Jika benar demikian muasal kelahirannya, para kreator itu tentu tidak pernah berpikir untuk menjadikan turangga yaksa sebagai barang dagangan. Saya yakin, hal itu masih dengan erat dipedomani para penerusnya hingga kini. Oleh karena itu, sebagai pengantar diskusi, tulisan pendek ini akan saya lanjutkan dengan ajakan untuk mengoptimalisasi peran kesenian jaranan –bukan hanya turangga yaksa-- di wilayah Kecamatan Dongko khususnya, bagi penguatan nilai-nilai kemasyarakatan: persatuan, persaudaraan, gotong-royong, untuk ambil bagian dalam upaya memayu hayuning bawana.

Bersih Desa

Ketika mendengar istilah ”bersih desa” pikiran kita biasanya menggambarkan sebuah upacara ritual, membakar kemenyan di tempat-tempat yang dikeramatkan, ndhas kali/mason, dhanyangan, dan sebagainya, dan tak jarang pula sambil memperkuat penolakan terhadapnya. Terlepas dari pro dan kontra-nya, mari kita lihat di sekitar kita, di kampung-kampung, di desa-desa, betapa sumber air banyak yang tidak terurus, mati merana, dan kali-kali, termasuk kalen, dipenuhi sampah. Lebih mengerikan lagi, sampah itu berupa berbagai serpihan atau barang berbahan plastik yang nyaris tak akan terurai.

Mungkin inilah saat yang bagus untuk menafsir ulang atau mendefinisikan kembali ”bersih desa.” Kalau menepikan atau membuang sebuah ranting yang merintang di tengah jalan adalah satu perbuatan baik, pastilah membersihkan sepanjang jalan dari rumah ke kali/belik/mason bernilai banyak kebaikan. Jika kita alergi aroma kemenyan, mungkin ramuan rempah-rempah atau bahan aromatheraphy jenis lain bisa dipakai, sekaligus untuk mengusir nyamuk dan sejenisnya. Pasti tidak ada satu pun sistem keyakinan, kepercayaan, yang menolak kegiatan menanam pohon, membangun dan merawat jalan, merawat sumber air, dan tindakan-tindakan lain dalam kerangka konservasi lingkungan/alam. Di sinilah kesenian tradisional seperti jaranan dapat mengambil peran, ketika kita sepakat mengembalikan ke dalam fitrahnya sebagai kesenian rakyat pengusung nilai-nilai kearifan, dan bukannya mendorongnya untuk memasuki pasar bebas sebagai barang dagangan.

Tidak bolehkah kelompok jaranan menerima upah dari pementasannya? Tentu boleh. Bahkan, pasanglah tarif yang layak! Yang patut disayangkan dan pantas membuat kita merasa kehilangan adalah ketika jaranan menjadi semata-mata barang dagangan, dan seluruh kerja kreatif (penciptaan) berlangsung dengan sepenuhnya tunduk kepada hukum pasar. Kalau ada satu-dua kelompok yang memang secara sadar memilih mengemas jaranan sebagai barang dagangan pun, mereka bukanlah musuh kita. Menentukan pilihan secara sadar itu lebih baik daripada setengah sadar atau bahkan tidak sadar ketika sudah hanyut dan terombang-ambing di atas gelombang pasar.

Zaman terus berubah. Kebudayaan pun terus tumbuh dan berkembang. Orang Jawa punya satu resep untuk bertahan dari gempuran perubahan itu: ”Nut ing jaman kelakone.” Pasti, yang dimaksudkannya bukanlah mengikut membabi-buta, atau pasrah total, hanyut mengikuti arus. Saran atau resep, ”nut ing jaman kelakone,” mestilah kita maknai sebagai sebuah keluwesan yang merupakan buah kecerdasan dan kepintaran kita menempatkan segala sesuatu pada konteks kekinian, sambil terus berupaya melakukan penafsiran ulang, mendefinisikan kembali.

Potensi

Sebagaimana bentuk kesenian lainnya, yang tradisional maupun yang modern, jaranan pertama-tama berpotensi menjadi ruang kreasi dan saluran ekspresi masyarakat, terutama kaum muda. Apalagi jika kita dapat mengoptimalkan peranannya sebagai kesenian tradisional dengan segala ciri khasnya. Tentu harus dimulai dari dalam, secara internal. Para pengurus dan pemain secara intensif tak henti-henti membangun kesadaran interaktif dengan alam (bisa diintegrasikan dengan program latihan) untuk kemudian mengajak masyarakat di sekitarnya untuk menjalin hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam.

Kita bisa berharap, misalnya, kelak kelompok-kelompok jaranan menjadikan kegiatan merawat sumber air dan penanaman pohon sebagai salah satu syarat yang mesti dipenuhi sebelum sebuah pementasan digelar. Dengan demikian, kita tidak sekadar menjadi agen pelestarian kesenian warisan leluhur, melainkan juga menegaskan fungsinya sesuai konteks zaman (kekinian). Kalau harapan seperti itu dapat kita wujudkan, yakinlah, orang tak akan lagi punya alasan untuk mengolok-olok jaranan sebagai sebentuk kesenian yang ketinggalan zaman. Saat itulah, tanpa harus merasa pongah, kita pasti tampak lebih gagah, mengendarai kuda lumping, sambil menatap masa depan yang lebih cerah. Semoga! [Bonari Nabonenar]

*)Dibuat sebagai pengantar diskusi pada SEMINAR SEHARI DENGAN TEMA
”Menapak Turonggo Yakso masa dulu, sekarang dan masa depan” (6 November 2013)

Sunday, 3 March 2013

ANAK SETAN (2)

Ini pagi berkabut. Ombak bergelegaran di laut. Sawah yang telah menguning itu pun tampak sebagai hamparan lautan tanpa tepi, sebab bukit dan gunung-gemunung pun tenggelam dalam kabut. Juga hati tiga orang manusia yang malang itu. Mereka seperti sudah tidak punya apa-apa lagi, tak punya siapa-siapa lagi. Tuhan, mungkin mereka masih merasa punya, tapi dengan kemalangan tak ada ujung yang terus menggilas, keimanan mereka pun jadi semakin gembring. Makin pipih dan begitu rentan. Di mana-mana kabut. Dan mereka merasa seolah dunia benar-benar sudah hampir dikukut, persis bersamaan dengan perasaan adanya kehadiran Tuhan dengan wajah yang seram, yang sedang murka.

”Ayah, ibu, selamat tinggal….”

”Oh, mau ke mana, kau, Nak?”

”Ke mana saja, sampai kutemukan lubang yang pas buatku.”

”Ibu akan selalu mendoakanmu, Nak!”

”Ayah juga. Jangan menangis, Nak. Air mata lelaki akan melunakkan daging dan tulang-belulangmu. Padahal, sebagai lelaki kau harus kuat lahirbatin.”

”Terima kasih, Bu! Oh, Ayah…..!”

”Jalan terus. Jangan pernah berhenti. Dan yang paling penting, lupakan bahwa kau telah mati.”

”Aku berjanji.”

Alung pun melangkah. Ia terus berjalan –kadang juga berlari dan melompat-lompat—dari desa satu ke desa lain, dari satu kota ke kota lainnya. Sering juga dia melintasi desa yang sebelumnya pernah dia singgahi. Kadang ia merasa seperti bermimpi, tetapi semuanya terlalu seru untuk sebuah mimpi. Kadang, memang, Alung benar-benar bermimpi. Bermimpi tersesat di dalam gua di tengah hutan penuh gua batu. Saat ia keluar dan sampai di mulut gua batu yang lain, ia mencicil lega. Padahal tak jarang ia kembali lagi, kembali lagi, ke dalam gua yang sama.

Banyak yang mencoba menahannya, tetapi Alung tak mau berhenti. Ia terus berjalan ketika singgah, bahkan ketika sedang bermimpi. Alung jalan terus, membawa tubuh sendiri. Membawa mayatnya sendiri. Walaupun, sebenarnya, sangat sulit baginya untuk melupakan bahwa sesungguhnya dirinya telah mati.

Disambar Mobil

Alung berjalan menyusur gelap. Diguyur hujan lebat. Dia kini ada di sebuah kota. Di kota yang sibuk. Sangat sibuk. Semua seperti berlari, dengan kesombongan sendiri-sendiri. Alung lagi tak bisa berlari, bukan karena dia telah mati. Dia cuma bisa jalan, kini. Dia sedang melenggang di jalan tergenang ketika tiba-tiba sebuah mobil menyambarnya. Mobil itu sedang melaju sangat kencang ketika tiba-tiba menyambar Alung. Anehnya, sedan merah hati itu cepat berhenti. Si pengemudi segera keluar dari mobilnya dan menghambur ke arah Alung yang sedang terkapar.

”Oh!”

”Kamu berjalan terlalu ke tengah, sih! Mau bunuh diri, ya?”

”Aku sudah mati.”

”Mari!”

Alung merasakan tangannya ditarik, dan dia mencoba bertahan.

”Cepat lari!” perintah Alung.

Pengemudi itu seorang perempuan muda. Seandainya peristiwa itu terjadi di pagi hari yang cerah, tentu Alung akan menyaksikan betapa cantik perempuan yang baru saja menyambarnya dengan sedan merah hatinya itu. Dan bisa jadi Alung akan mengikuti apa maunya, bukan menolaknya seperti itu.

”Aku tidak apa-apa,” kata Alung lagi. “Cepat lari, kalau kamu tak mau ditangkap polisi!”

”Apa katamu?”

”Oh!”

”Syukurlah, kamu masih bisa berdiri. Ayo, masuk ke mobil!”

”Ke mana?”

”Rumah sakit.”

”Kau dengarlah kataku: Aku sudah mati!”

”Oh, ayo! Cepat. Kamu gegar otak!”

Keinginan Alung untuk menentang perempuan itu pun surut seketika. Dia pasrah dan menurut. Masuk mobil, melesat ke rumah sakit terdekat. Hujan semakin lebat.

”Bagaimana, Dok?” tanya perempuan itu dengan nada cemas yang sangat kental.

”Oh, tak apa-apa. Hanya lecet saja. Sebentar lagi juga sudah boleh pulang.”

”O, ya?”

”Coba saja lihat!”

”Mobilku menyerempet dia ketika sedang melaju kencang. Betapa saktinya dia, jika memang cuma lecet saja.”

”Oh, saya pikir dia……”

”Mmm, bukan, Dok. Dia orang lain.”

”Baik, baiklah.” [bersambung]

Saturday, 2 February 2013

Anak Setan [1]

Novel: Oeing Ling

Pengantar Redaksi: Pembaca yang pedulian, mulai edisi 82 (Februari 2013) ini Majalah Peduli menyuguhkan cerita bersambung berjudul Anak Setan. Seutuhnya adalah kisah tentang duka-lara seorang manusia yang terbuang dari masyarakatnya. Percayalah, Oeing Ling menggarap kisah ini dengan cara yang berbeda dengan kisah-kisah sedih a la Sinetron Indonesia!


illustrasi dipotong dari lukisan RIHAD HUMALA


Alung berjalan menyusuri pematang sawah. Padi sedang menguning, menyebarkan keharuman yang amat khas, digiring angin semilir. Pagi itu sangat bening. Kehangatan matahari pagi sungguh telah meningkatkan gairah para petani. Beban kehidupan yang semakin menindih pun seolah malah makin mengasyikkan. Keindahan garis-garis pematang, padi menguning dengan keharumannya yang sangat khas, desau angin ditingkah nyanyian pipit, dan kehangatan matahari pagi itu, samasekali tak mampu menyentuh wilayah keharuan dalam perasaan Alung. Atau, barangkali, Alung sudah tak lagi sempat menerima sentuhan-sentuhan keindahan dan kenikmatan itu. Pikiran dan perasaan Alung sedang kacau. Bahkan, sering ia merasa sedangberada di puncak kegetiran hidupnya.

Malahan, mungkin, sistem pikiran dan perasaan Alung telah benar-benar rusak. Seperti komputer yang lagi hang, karena ia terlalu sibuk memikirkan kematian itu, yang tak lain dan tak bukan adalah kematiannya sendiri.

Alung telah mati. Memang, dia masih berjalan dengan tubuhnya sendiri yang masih berdarah, berdaging. Sungguh tragis. Sepuluh tahun yang lalu dia roboh menimpa pangkuan ibunya. Tiga tubuh terkapar di pagi yang masih gelap itu: tubuh Alung dan kedua orang tuanya.

”Ayah, Ibu, bangunlah! Ayo, matahari sudah naik!”

”Oh, anakku! Kau masih hidup, Nak?”

”Anakmu sudah mati, Bu….! Sudah mati!”

”Tapi…..?”

”Yang Ibu lihat cuma bayang-bayang.”
Kata-kata Alung meluncur mendatar. Sedatar pandangnya yang jadi kosong akibat terlalu banyak hal berkelebat di dalam angan-angannya sendiri. Nada yang datar, tapi justru semakin memperkuat efek puitis kalimat itu. Dan pertemuan keluarga itu sungguh sangat teatrikal.

”Oh, mengapa bukannya kita saja yang mati: aku dan kau? Mengapa harus anak kita yang tak tahu apa-apa ini?” Ayah Alung protes. Kepada dunia yang diyakininya sudah terlalu tidak waras. Dunia yang sudah sangat gila. Bahkan, kepada Tuhan.

”Bersabarlah. Kita memang selalu terlambat menyadari kehendak Tuhan. Suatu saat nanti, pasti kita akan tahu mengapa semua ini harus terjadi,” kata-kata ibu Alung menukik dan sampai pada sasaran secara sangat akurat, padahal diucapkan dengan tenaga yang sangat pas-pasan. Suaranya serak dan lirih. Begitu lirih, tapi lebih dari cukup untuk membuat seluruh jiwa raga ayah Alung bergetar hebat.

”Ya, sekarangpun aku tahu. Barangkali inilah hukuman yang setimpal bagi kita. Ini semua tentu lebih berat, jauh lebih berat daripada kematian kita sendiri. Tapi, apa pula yang tertimpakan kepada anak kita ini? Hukuman? Hukuman atas tindakannya yang mana? Jangankan berbuat, berpikir untuk hal-hal yang jika lalu dilakukaknnya berarti melanggar hukum pun aku yakin tidak pernah. Anak kita terlalu bersih. Dia tidak berdosa, setidaknya untuk dikenai hukuman seberat itu. Cobaan? Jika dengan begitu dia harus berdiri tegak lurus dengan maut, masihkah kita dapat menyebutnya sebagai sebuah cobaan? Ah, yang bener aja! Inilah akibatnya jika orang-orang mabuk --bahkan orang-orang gila-- diberi kesempatan menggenggam kekuasaan. Inilah bencana. Setidaknya buat orang-orang kecil macam kita. Mereka menimpakan bencana bagi kita, dan percayalah, dengan begini sebenarnya mereka telah memintal tali yang akan menjerat leher dan menggantung mereka sendiri. Sebab Tuhan tak akan membiarkan mereka. Sebab dibuat berkeping-keping pun dunia akan tetap waras. Orang-orangnyalah yang gila.” Begitu, ayah Alung seperti kesurupan. Kalimat-kalimatnya meluncur deras, mirip-mirip sebuah editorial, atau sebuah esai yang disusun dengan emosi yang sangat kental.

”Sudahlah,” ibu Alung kembali membijaki.

”Tidak. Sampai mati pun aku akan terus bertanya!”

”Berteriak sampai serak pun suara kita hanya akan memantul kembali ke dalam telinga sendiri. Kita ini tak lebih dari narapidana yang dikerangkeng di dalam tubuh sendiri.”

”Sedangkan anak kita ini, tak lebih dari terpidana mati yang harus mengusung mayat sendiri ke lubang kubur yang tak karuan di mana tempatnya itu.” [bersambung]

Thursday, 21 May 2009

FSJ-D 2009 DIUNDUR PELAKSANAANNYA

Mohon maaf, baru ketahuan bahwa tgl 17 -18 Juni di Trenggalek sedang dilakukan Ujian Sekolah SD/SMP dan karena tim repotnya adalah Dinas Pendidikan dan Dinas Poraparibud, Trenggalek, dengan ini diputuskan untuk mengundur waktu pelaksanaan Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 (sekalian ke bulan Agustus), setelah selesai gawe nasional pilpres. (Slengekan: Jadi, kalau ada capres/cawapres mau urun sumbangan tidak tampak rame pamrihe, hehe).

Hal-hal mengenai tetek-bengek berkait penundaan ini akan diselesaikan dengan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK serta api semangat, grengseng, dan tekad untuk menggelar FSJ-D 2009 tetap LANJUTKAN!

Calon pesereta akan segera dikirimi undangan lengkap dengan tanggal/waktu yang baru.

Mohon dimaklumi,dimaafkan.

Demikian, terima kasih.


PANITIA
FSJ-D 2009

www.nglarankita.blogspot.com
www.ppsjs.blogspot.com
sastrajawa@yahoo.com

Monday, 6 April 2009

Ngrembakane blog abasa Jawa

Ndayakake lan ngrusak basa Jawa

Para maos tumon panganan kemilan sing bisa nggrawut? Apa sejatine kemilan nggrawut iki lan ing ngendi anane, bisa ditakokake marang Purwoko utawa sing duwe jeneng singlon Blonthank. Jeneng singlon iki sing luwih kondhang dadi arane jurnalis senior iki. Wiwit sawetara wektu kapungkur dheweke ngracik blog abasa Jawa kanthi alamat situs caturanoragawe.dagdigdug.com. Tulisan bab kemilan nggrawut iki kapacak ing salah siji artikel tulisane.


Lan blog iki mujudake salah siji blog sing nggunakake basa Jawa sing nggandhul ing server dagdigdug.com. Basa Jawane kapetung lumayan ndeles, akeh nggunakake tembung-tembung basa Jawa sing racake ing titi wanci saiki wus arang sing mangerteni tegese lan trep-trepane. Nanging akeh uga tembung-tembung sing luput nulise, cawuh antarane aksara ”o” lan aksara ”a” ing panulise sawijining tembung. Purwoko dhewe nalika wawangunem kalawan Espos nelakake yen ing tulisan-tulisane pancen ana sawetara sing nggunakake basa Jawa baku, lan ana uga sing nggunakake basa Jawa ndalanan.

Dene kepriye milihe, arep nggunakake tembung-tembung Jawa baku utawa tembung-tembung Jawa ndalanan, gumantung underane sing arep ditulis lan swasana ati lan pikiran nalika nulis. Nanging, yen maca artikel-artikel sing kapacak ing blog iki rata-rata nggunakake basa Jawa baku, kepara ana siji loro sing nggunakake basa Jawa krama alus.

”Aku duwe krenteg kanggo nulis abasa Jawa ing blog sawise ndulu kanyatan yen saiki sansaya akeh generasi mudha Jawa sing kelangan Jawane. Akeh generasi mudha Jawa sing wus ora bisa micara basa Jawa. Lan akeh generasi mudha Jawa sing wus ora ngerti suba sita lan tatakrama. Saliyane kuwi yen nulis ing blog nganggo basa Jawa rasane luwih nges,” pratelane Purwoko sing ing blog-e uga macak sesanti sala pancen endah, mula ayo padha digawe genah.

Yen wus mlebu ing blog caturanoragawe.dagdigdug.com para maos bisa mbacutake mbukak blog-blog liyane sing uga ditulis nganggo basa Jawa. Antarane blog bornjavanese.blogspot.com, saktipaijo.wordpress.com, etankali.dagdigdug.com lan sawetara blog liyane.

Cawuh

Miturut Dyah Ningrum Roosmawati, lulusan jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS, tulisan-tulisan ing blog-blog abasa Jawa kasebut pancen nuwuhake rasa mongkog amarga ana saweneh pawongan sing duwe krenteg kanggo ngleluri basa Jawa ing jagad maya utawa Internet. Kanthi mangkono bakal akeh wong sing bisa mbukak lan maca tulisan-tulisan kasebut.

Emane, miturut Dyah, tulisan abasa Jawa ing blog-blog kuwi uga mbebayani tumrap basa Jawa dhewe. Akeh tembung-tembung sing luput nulise, ora jumbuh karo paramasastra basa Jawa. Kaya sing bisa diwaca ing blog saktipaijo.wordpress.com. Ing tulisan sing kapacak ing blog iki akeh tinemu tembung-tembung sing kleru panulise. Antarane yakuwi tembung sworo (kudune swara), soyo (kudune saya), udokoro (kudune udakara), duh (kudune dhuh), parogo (kudune paraga) lan sawetara tembung-tembung liyane. Ing blog etankali.dagdigdug.com uga tinemu tembung sing luput nulise, kayadene tembung kuwi sing ditulis kui.

Sastrawan Jawa saka Trenggalek, Jawa Timur, Bonari Nabonenar, lumantar blog-e ing alamat situs bonarie.blogspot.com ngandharake pancen akeh tulisan abasa Jawa ing Internet sing nulise luput, ora jumbuh karo paramasastra basa Jawa. Kepara ing google.com sing wus nyumadhiyakake perangan mligi abasa Jawa uga akeh tinemu tembung-tembung sing luput nulise. Rata-rata cawuh antarane aksara ”a” lan aksara ”o”. Uga cawuh antarane aksara ”dh” lan ”d”.

Saliyane blog-blog kuwi mau, ing Internet uga ana saweneh blog lan situs sing mligi ngrembug babagan sastra lan budaya Jawa. Antarane yakuwi blog-e Bonari Nabonenar lan ki-demang.com. Pancen ing blog lan situs iki uga ngemot sawetara tulisan sing ora nganggo basa Jawa, ana saperangan sing tinulis nganggo basa Indonesia. Nanging werna Jawane pancen kenthel banget. ::Ichwan Prasetyo::

Saka: Jagad Jawa SOLO POS Edisi : Kamis, 05 Maret 2009 , Kaca : 4

Minirtiwikin Djidi Gilijipi

SAYA menyambut baik kreativitas H M. Cheng Ho Djadi Galajapo pada bagian Kata Djadi (halaman vii) buku ini. Di situ Djadi memberikan kata sambutan menggunakan huruf vokal ''i'' seluruhnya.

Menurut pelawak dedengkot grup kocak Galajapo tersebut, pemakaian huruf ''i'' vokal dalam kalimat-kalimatnya adalah salah satu bentuk penghematan. Selain itu, huruf ''i'' dipilih lantaran pengucapannya tak perlu membuka mulut lebar-lebar. Menurut Djadi, membuka mulut secara lebar mengesankan sebagai orang yang sombong.


Meski begitu, sebagian orang boleh jadi merasa tidak nyaman mengucapkan kalimat-kalimat yang hanya menggunakan vokal ''i''. Kalimat yang semua menggunakan huruf vokal ''i'' membikin orang tampak mringis karena giginya selalu terlihat sedikit (kalau terlihat banyak disebut mrongos).

Bagaimanapun itu adalah salah satu bentuk kampanye seorang pelawak yang tujuan utamanya membuat orang tertawa, mengocok perut pembaca bukunya. Bukan untuk merusak tata bahasa Indonesia yang baik dan benar atau membuat orang menjadi meringis semuanya.

Dan ternyata, saat kampanye pemakaian satu huruf vokal tersebut saya terapkan untuk judul resensi ini, rasanya juga nggak pas. Karena itu, untuk pembaca yang merasa risi atau aneh pada judul tulisan ini, saya beri tahu: judul asli resensi ini adalah Menertawakan Djadi Galajapo.

***

DALAM kamus besar bahasa Indonesia, ''menertawakan'' dimasukkan sebagai salah satu lema (entry). Artinya ada beberapa. Yaitu: tertawa terhadap; tertawa karena; menghina atau mengejek; dan menyebabkan tertawa.

Buku Neraka Wail dan Kue Terang Bulan ini bisa mencakup semua makna kata ''menertawakan'' tersebut (kecuali menghina atau mengejek, tentu). Lewat kisah-kisah yang terangkum dalam buku setebal 146 halaman plus ini, Djadi Galajapo ingin ''menertawakan pembaca''. Artinya, ia ingin membuat masyarakat tertawa. Dan, rasanya, lantaran Djadi adalah seorang pelawak, itulah tujuan utama buku terbitan JP Books, Surabaya, ini. Yakni, menertawakan orang.

Karena itu, mulailah dia meramu buku dengan kisah-kisah getir kehidupan seorang Djadi Galajapo dan meraciknya dengan tata bahasa dan gaya bertutur yang ringan dan kocak khas pelawak.

Racikan itu memang harus pas. Sebab, sebagian besar kisah yang diusung Djadi memang bukan kisah kocak. Justru, banyak kisah hidup Djadi yang ngenes, susah, pahit, atau menderita yang diceritakan ke pembaca. Misalnya, bagaimana kisahnya ketika merintis karir di dunia lawak dengan menjalani audisi di sebuah bengkel mobil; bagaimana dia harus hidup tersia-sia oleh mertuanya (bahkan, Djadi mengisahkan bahwa dia pernah mengumpati mertuanya lantaran begitu jengkel karena terus-menerus disia-siakan). Atau bagaimana Djadi harus sembunyi-sembunyi melawak karena takut ketahuan embah-nya yang mengutukinya dengan ''neraka wail'' jika Djadi terus mengocok perut orang di atas panggung.

Kisah penderitaan Djadi itu seakan mengamini pendapat sebagian besar masyarakat yang menyebut bahwa komedian besar Indonesia selalu lahir dari keluarga yang menderita. Seorang pelawak harus selalu ditempa dengan jalan hidup yang begitu berliku dan begitu keras, begitu menyakitkan. Buku Djadi menunjukkan itu.

Bagaimanapun, kisah-kisah itu memang harus diselaraskan dengan tujuan buku tersebut. Yakni, menertawakan orang atau membuat orang tertawa. Itu susahnya. Sebab, jika cerita masa lalu yang getir tersebut tidak diramu dengan tata kalimat yang cocok, alih-alih tertawa dan memetik hikmahnya, orang malah mengharu-biru dan menangis-nangis saat membaca buku Djadi. Bisa jadi, saat Djadi manggung, orang tidak lagi bakal tertawa namun malah menyantuninya.

Namun, Djadi tidak hanya ''menjual'' kisah sedih. Cerita sukses, kisah lucu, cerita inspiratif, hingga ide dan pemikiran soal perkembangan dunia lawak dan keartisan lokal pun terselip dalam 29 bab buku ini. Sebut saja saat dia memenangkan ciuman pertama seorang gadis bernama Ana (Meliana Prasetyaningsih Fatchul Jannah) yang akhirnya dinikahi dan memberinya dua anak perempuan. Kisahnya terasa romantis, sedikit erotis, meskipun perjalanan biduk rumah tangganya kerap dipenuhi tangis. Djadi membuktikan bahwa dia bisa menjadi Arjuna (bukan Hanoman seperti kata Kelik Pelipur Lara dalam kata pengantar buku) bagi Ana.

Salah satu yang patut diacungi jempol adalah kejujuran Djadi mengungkapkan hal-hal yang bagi sebagian orang dikategorikan sebagai wadi (rahasia paling pribadi). Tentu itu semua ada maksudnya. Bukan hanya lantaran namanya adalah Sudjadi yang bisa jadi akronim dari Suka Djual Wadi.

Salah satu kejujurannya yang paling jujur (baca: paling berani) adalah pengakuannya soal nyaris berzina dengan seorang penyanyi yang kebetulan sedang manggung bersama Djadi di Pekalongan. Ceritanya, Djadi dan penyanyi itu menginap (atau diinapkan) sekamar. Pada suatu malam (menurut versi Djadi), penyanyi itu menggodanya. Terjadilah pergumulan dahsyat. Saat semuanya sudah muntup-muntup, Djadi (katanya) tiba-tiba sadar. Dia pun mengambil handuk dan menutup perut penyanyi cewek yang cantik dan menggoda itu.

Cerita ini, asli jujur, dan polos. Entah apa reaksi istri Djadi saat mendengar cerita tersebut untuk kali pertama. Yang ini, tidak ada di buku.

Yang patut jadi catatan, buku ini tidak bisa 100 persen memindahkan kelucuan seorang Djadi Galajapo di atas panggung. Memang, mengadopsi humor lisan ke dalam bahasa tulisan bukan pekerjaan yang gampang. Penulis (Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad) pun tampaknya menyadari hal itu, sehingga sebelum dikritik kiri-kanan, mereka sudah meminta maaf dalam pengantar buku bahwa mereka takut tidak bisa menyuguhkan tulisan yang cukup lucu.

Penulis bukan cuma minta maaf pada hal itu. Mereka juga nyuwun sorry karena buku itu disusun dalam waktu singkat. Dalam hitungan pekan, mereka mewawancarai Djadi Galajapo lantas menyusun serpih-serpih ingatan dan pijar-pijar kesan, dan catatan-catatan Djadi atas perjalanan hidupnya sebagai manusia (halaman viii).

Itu, tampaknya betul, kesan kesusu pada buku ini tak bisa sirna begitu saja. Kadang ada kalimat yang kurang sedap dilahap, ada judul bab yang pemenggalan katanya tidak pas, atau teks foto yang terasa dipasang serampangan.

Salah satu yang cukup terasa adalah pemilihan foto yang dipakai sebagai ilustrasi. Buku ini memang konsisten menghadirkan satu foto Djadi di awal bab plus beberapa foto di tengah-tengah bab. Nah, ada banyak sekali foto daur ulang. Misalnya, foto pelengkap bab yang diambil wajah Djadi-nya saja lalu dipasang di awal bab lain. Itu terjadi berulang ulang.

Tapi, seperti diakui kedua penulis, buku tersebut jadi dalam hitungan pekan. Mungkin, Djadi tidak sempat melakukan sesi foto khusus --berbagai pose-- untuk melengkapi buku itu sebagai ilustrasi antarbab.

Dan, penulis menyadari berbagai kekurangan itu. Sekali lagi, mereka membuka buku ini dengan permintaan maaf atas kekurangan-kekurangan itu. So, khusus soal kekurangan ini, jangan ditertawakan. (*)

-----

Judul Buku : HM Cheng Ho Djadi Galajapo; Neraka Wail dan Kue Terang Bulan

Penulis : Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad

Penerbit : JP Books Surabaya

Cetakan : I, September 2008

Tebal : xiv + 146 Halaman

Doan Widhiandono, wartawan Jawa Pos; penyuka lawak (dos@jawapos.co.id)

Sumber: Jawa Pos [Minggu, 04 Januari 2009]

Kampung Halamanku

Nglaran adalah sebuah dusun di wilayah Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Pedusunan yang terletak 45 kilometer arah barat daya Kota Trenggalek ini dihuni oleh kurang lebih 1600 jiwa. Mereka tersebar di 10 RT dalam 11 satuan pemukiman yaitu Nglaran, Ledokan, Poko, Gedhangkluthuk, Judelan, Donosari, Tumpak Salam, Gempol, Temon, Tumpak Kangkung, dan Menggeng.


Sebagai sebuah dusun yang terletak di jajaran pegunungan kapur, Nglaran memiliki berbagai keunikan yang tidak ditemukan di dusun lain di wilayah dataran rendah maupun dataran tinggi di kawasan gunung berapi. Keunikan dan daya tarik karst, seperti gua, mata air bawah tanah, sungai buta, permukaan tanah yang tidak rata, dapat dijumpai tersebar di dusun ini. Tentu daya tarik tersebut juga berpadu dengan segala ciri lain yaitu kelangkaan air, baik air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari maupun air untuk irigasi.

Tidak ada dokumen tertulis mengenai kesejarahan dusun ini. Tokoh masyarakat setempat juga tidak mengetahui secara pasti bagaimana awal mula berdirinya Nglaran. Namun tradisi-tradisi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber air bersih seperti masonan dapat sedikit memberi petunjuk bagaimana pemukiman mulai berkembang di Nglaran.

Seperti halnya sejarah peradaban manusia pada umumnya, keberadaan sumber air menjadi penanda adanya kehidupan di sekitarnya. Dalam kebudayaan Nglaran, kelompok pengguna air (mason) kemudian menjadi ikatan sosial-emosional warga, baik yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber air maupun dalam hal lain. Ikatan berdasar mason itu tampak dari ritual warga yang diselenggarakan berdasarkan masonan, seperti bersih desa, atau ritual lainnya.

Seperti desa-desa lain di Trenggalek, cengkih merupakan komoditas utama dari dusun ini pada Era 1980-an. Tingginya harga cengkih serta pertumbuhannya yang cukup bagus di daerah ini menjadikan lahan pertanian warga kemudian juga dialihfungsikan menjadi lahan cengkih.

Namun pada tahun 1990-an, kejayaan ini mulai meredup. Pohon yang mulai menua, teknik pemupukan yang keliru, serta menyebarnya wabah bakteri pembuluh kayu menjadikan tanaman cengkih tidak produktif lagi. Bahkan banyak di antaranya yang mati. Kini kejayaan cengkih di dusun ini tinggal sisa-sisanya saja. Meski sebagian besar masyarakat Nglaran masih memiliki pohon cengkih, tetapi produksinya sudah merosot jauh.

Dampak nyata dari merosotnya produksi andalan ini adalah menurunnya kesejahteraan warga. Terutama para petaninya. Terlebih hingga saat ini belum ditemukan komoditas pertanian lain yang dapat menggantikan posisi cengkih sebagai komoditas pertanian andalan.

Kondisi tersebut pada akhirnya memicu tingginya jumlah warga yang keluar dari desanya untuk mencari pekerjaan di kota. Surabaya, Malang, Tulungagung, bahkan kota-kota di Kalimantan menjadi tujuan kerja warga Nglaran. Tenaga kerja ini sebagian besar terserap di sektor industri, konstruksi, dan perkebunan. Sementara tenaga kerja perempuannya terlibat di sektor rumah tangga.

Terbatasnya pilihan sektor pekerjaan warga Nglaran tersebut juga disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan warga. Rata-rata anak muda dusun ini hanya menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah menengah pertama. Sebagian kecil saja yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga sekolah menengah atas, dan beberapa orang menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Persoalan besar lain yang dihadapi oleh masyarakat Nglaran adalah keterbatasan air bersih, terutama pada musim kemarau. Dari sebelas mata air yang ada, saat ini tinggal lima buah mata air yang dapat diandalkan warga pada musim kemarau. Itu pun dengan debit yang sangat kecil, sehingga tak jarang warga harus mengantri hingga berjam-jam untuk mendapatkannya.[am]

Sunday, 28 December 2008

Menyusuri Urat Nadi Seks Kota Buaya

Boleh dibilang Surabaya identik kota prostitusi. Tidak percaya? Mari kita menamsil seperti ini: di Pelabuhan Tanjung Perak, sesaat setelah kapal (baik penumpang maupun kargo) melego jangkar, PSK (pekerja seks komersial) sudah "menjemput". Mereka umumnya pengasong perempuan atau waria yang juga menjual "daging mentah" tubuhnya untuk konsumsi para pelaut yang butuh "ngetap oli" setelah "puasa" di tengah laut. Para PSK itu menyongsong kapal dengan perahu-perahu kecil, bahkan sampai ke tengah laut. Bila tak ada kapal merapat, para PSK itu juga berkeliaran di sudut-sudut Pelabuhan Tanjung Perak.

Masuk kota, tentunya bila malam, PSK berjajar di pinggir-pinggir jalan, mulai dari Jl Pemuda, Gubernur Suryo, Panglima Sudirman, Ahmad Yani, Diponegoro, sampai Bundaran Waru. Hendak keluar Surabaya lewat Terminal Bungurasih atau Bandara Juanda pun kita masih juga mendapati para PSK menjajakan diri di peron atau di gang-gang antarbus yang parkir.

Sudah pasti, selain PSK jalanan seperti itu, Surabaya juga mempunyai seabrek lokalisasi resmi maupun tidak resmi alias liar dan terselubung. Dari kelas teri di panti-panti pijat hingga kelas kakap di hotel-hotel, tempat-tempat hiburan malam, salon, atau rumah-rumah mesum kelas atas yang memang menyediakan "ayam-ayam" aneka rasa untuk para hidung belang. Sebut saja Dolly, Jarak, Bangunrejo, Moroseneng, dan Sidokumpul. Itu lokalisasi "resmi". Atau kawasan Kedungdoro, Darmo Park, segi tiga emas Tunjungan, Embong Malang dan banyak lagi. Itu lokalisasi tidak resmi.

Begitu suburnya geliat usaha esek-esek di Surabaya itu, tak mengherankan bila Hartono -germo kelas kakap-mengembangkan sayap usahanya di kota ini, setelah sukses di Jakarta dan Bali.

Bila Anda setuju dengan klaim bahwa Surabaya adalah kota prostitusi, maka yang kemudian pantas ditanyakan adalah, sejak kapan sebetulnya lokalisasi di Surabaya dikenal orang? Buku ini mencatat (setidaknya yang tercatat manuskrip sejarah), Surabaya 138 tahun lalu sudah mempunyai lokalisasi besar. Namanya Bandaran. Lokalisasi ini terletak di Kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir, tepatnya di belakang Markas Lantamal III Surabaya.

Disebutkan dalam buku ini, tahun 1864 lokalisasi Bandaran sudah amat tersohor. Tidak hanya dikenal warga Surabaya saja, namun juga luar kota dan warga asing, termasuk para pelaut yang berlabuh. Pada tahun itu, di Bandaran terdapat 228 PSK di bawah asuhan 18 germo. Rata-rata PSK-nya tergolong high class. Yang menarik, dalam beroperasi para PSK kala itu harus mengenakan ID card (tanda pengenal). Hebatnya lagi,
lokalisasi di zaman pendudukan Belanda itu juga dilengkapi dengan rumah sakit yang khusus melayani PSK yang terjangkit penyakit kelamin.

Ibu-ibu Kencani Waria

Dari waktu ke waktu dunia prostitusi di Surabaya makin marak dengan bentuk servisnya yang juga makin aneh-aneh. Bahkan kini mulai merambah di jalan-jalan sempit dekat pemukiman penduduk. Pelaku-pelakunya juga kian kreatif dalam mengemas dan memasarkan "dagangan". Ada yang lebih senang di jalanan, tapi tidak sedikit yang tetap enjoy di gedongan. Meski polisi dan Satpol PP Pemkot Surabaya rajin menertibkan, jalananan Surabaya sulit bisa dibersihkan dari "hiasan" para PSK itu. Tidak hanya PSK perempuan, tapi belakangan juga banyak waria, gay, dan gigolo berkeliaran.

Berbagai siasat diterapkan untuk memikat konsumen. Alhasil, ada PSK yang menyaru sebagai mahasiswi dan siswi SMA. Ada yang pura-pura jadi SPG (sales promotion girl), kapster di salon-salon atau profesi lain yang banyak bersentuhan langsung dengan konsumen. Tapi ada pula yang terang-terangan dengan beriklan di koran-koran.

Dan, bukan barang baru lagi bila hampir semua panti pijat yang di belakangnya diembel-embeli "tradisional", seperti dicatat buku ini, juga menjual jasa "esek-esek". Yang paling gres, kini di Surabaya juga diwarnai fenomena seks ekstrem: ibu-ibu gemar mengencani waria-waria cantik. Ha?! Menurut pengakuan si waria, umumnya ibu-ibu
langganannya adalah wanita kelas atas, bermobil, dan senang kencan di hotel-hotel berbintang. Mereka suka waria-waria bertubuh langsing. "Tampaknya para ibu itu ingin sesuatu yang lain daripada yang lain. Dan, mereka tampaknya mendapat kepuasan tersendiri dengan para waria itu," ujar sosiolog Dede Oetomo yang banyak bersentuhan
dengan persoalan dunia "bawah tanah" ini.

Fenomena tersebut hanya satu penggalan yang tercatat dalam buku yang isinya kebanyakan pernah dimuat di halaman Metropolis Jawa Pos ini. Masih banyak drama lain yang mungkin membuat pembaca geleng-geleng kepala (sambil mengelus dada). Pertanyaannya, fenomena seks dan sosiologis macam apa yang sedang berlangsung di Surabaya itu? Investigasi yang ditulis secara features, dan kaya diskripsi dalam buku ini, memang tidak menjawab pertanyaan itu. Karena buku ini hanya memotret geliat industri seks di Surabaya saja, di permukaan! Sehingga terkesan buku ini kurang dalam dan detail.

Hendak diperlakukan sebagai apa buku ini, bergantung resepsi pembaca. Apakah sekadar untuk memuaskan fantasi, menambah pengetahuan, atau sebagai ultimatum bagi warga Surabaya: awas, prostitusi ada di sekitar kita! Monggo saja. []

Judul : Surabaya Doublecover, Kehangatan Malam Metropolis
Penulis : Tim Metropolis JP (editor Bonari Nabonenar)
Penerbit : JP Press, Oktober 2003
Tebal : ix + 181 hal

*) Peresensi, Oleh Leres Budi Santoso, adalah cerpenis dan penggemar buku.

diambil dari www.jawapos.com Minggu, 26 Okt 2003

Wednesday, 3 December 2008

Ketua PPSJS Baru Kritisi Bahasa Jawa Google


SURABAYA – Kepengurusan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) telah dilantik. Ketuanya dijabat lagi oleh Bonari Nabonenar untuk periode 2008 - 2013. Pertengahan 2009, PPSJS merencanakan menggelar Festival Sastra Jawa (FSJ) pertama di Trenggalek. Ajang ini diharapkan bisa menjadi embrio ajang sastra etnik di Nusantara yang lama digagas.

Selain itu, tambah Bonari yang ditemui seusai pelantikan di Pendapa Kampus Sekolah Tinggi Seni Wilwatikta (STKW) Surabaya, Rabu (26/11), ke depannya PPSJS juga bakal bekerjasama dan memperluas jaringan dengan beberapa paguyuban lain, termasuk juga penerbit. “Jika ada salah satu anggota membuat buku, bakal difasilitasi untuk bisa masuk ke penerbit,” jelasnya.

Dua buku yang telah diterbitkan PPSJS, ditulis salah seorang anggota PPSJS, Sri Setyowati atau akrab dipanggil Trinil. Dua buku itu berupa guritan berjudul Dunga Kembang Waru dan novel berjudul Sarunge Jagung. Semuanya karya itu berbahas Jawa Surabayaan bukan Jawatengahan.

Menurut catatan Surabaya Post, Trinil dalam proses pemilihan Ketua PPSJS 2008 – 2013, juga banyak diunggulkan dan diharapkan bisa ngemong anggota PPJS. Selama ini dia juga dinilai produktif menulis dan aktif di keanggotaan. Karena kesibukannya di kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Trinil menolak duduk di kepengurusan tapi tetap mendukung sepenuhnya PPSJS.

Kalau PPSJS selama ini jarang muncul di permukaan, jelas dia, karena sepinya kegiatan. Acara besar yang pernah digelar PPSJS adalah Kongres Sastra Jawa (KSJ). Itupun baru dua kali diadakan dan rentan waktunya sangat jauh. KSJ pertama pada 2001 di Solo dan kedua 2006 di Semarang.

“Kegiatan ini waktunya nempel dengan Kongres Bahasa Jawa (KBJ). Karena itu, kadang KJS dikatakan saingan KBS,” tutur Bonari.

Selain itu, tambah Bonari, PPSJS bakal menjadi wadah aspirasi anggotanya mulai yang muda maupun yang memiliki nama besar seperti Suparto Brata, RM Yunani, Suharmono Kasiyun dan lainnya. Semisal karya anggotanya ada yang ‘menyomot’ tanpa ada ijin atau tanpa ada royalti, PPSJS memfasilitasi dan ikut “teriak,”.

Sementara pada pidato pelantikannya, Bonari juga mengkritik Bahasa Jawa di situs Google. Dia menilai ada beberapa ketidaksesuaian yang digunakan Google dengan ejaan yang baku. Misalnya penulisan fonetis “o” pada “toko” dan “o” pada “tokoh”. Di situs itu dituliskan dengan vokal yang sama “o”.
Dalam Bahasa Jawa berbeda dengan Bahasa Indonesia. Kedua vokal tersebut dituliskan berbeda di Bahasa Jawa. Vokal “o” pada “tokoh” di Bahasa Jawa ditulis dengan vokal “a.”

Di Bahasa Jawa Google, kata dia, akan sulit dibedakan antara kata “loro” berarti “dua” ataukah “loro” yang berarti ‘sakit.’ Contoh kalimatnya “tanganku loro,” yang berarti “tanganku dua” ataukah “tanganku loro” yang berarti “tanganku sakit”. Mestinya sakit dalam Bahasa Jawa ditulis “lara.”

Sedangkan Pengurus Besar PPSJS 2008 – 2013 secara lengkap, Amir Mahmud sebagai Pelindung dan penasihatnya adalah RM Yunani, Suparto Brata, Suharmono Kasiyun, Trinil, dan Aming Aminoedhin.

Ketua PPSJS Bonari Nabonenar, Wakil Ketua R Djoko Prakosa, Sekretaris Mashuri, Bendahara Indri, dan Pembantu Umum Arif Santoso dan Kicuk Parta. Seksi Kegiatan Anang Santoso, Kerumahtanggaan Gatot Suryowidodo, Litbang Yulitin Sungkowati, Humas R Giryadi, dan Kemitraan Leres Budi Santoto dan Ulfa.

Bersamaan dengan pelantikan itu, Komunitas Sastra Tutur Surabaya menggelar Sarasehan Sastra Lisan dan Pentas Tradisi Lisan. Acara tersebut dihadiri Wawalikota Surabaya Drs Arif Afandi.[k13]

Sumber tulisan/foto: Surabaya Post, Selasa, 2 Desember 2008 | 09:55 WIB

Monday, 17 November 2008

PPSJS Gagas Festival Sastra Jawa

Surabaya - Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) menggagas even kebudayaan bernama Festival Sastra Jawa yang diharapkan menjadi embrio dari Festival Sastra Etnik Nusantara untuk melestarikan kekayaan seni tradisi

Ketua Umum PPSJS, Bonari Nabonenar di Surabaya, Sabtu menjelaskan, saat ini diperlukan media ekspresi alternatif untuk mewadahi aktivitas para penulis sastra Jawa dalam skala yang lebih luas.

"Sastra Jawa adalah warga dari Sastra Indonesia dan juga warga dari sastra dunia yang layak diberi ruang untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat dan keinginan masyarakat pendukungnya," katanya.

Karena itu, katanya, diperlukan berbagai bentuk ekspresi bagi pegiat sastra Jawa. Even ini sekaligus untuk menghormati beberapa tokoh sastra Jawa di Jawa Timur, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

"Jawa Timur ini memiliki nama besar untuk penulis sastra Jawa. Mereka antara lain, Suparto Brata, Satim Kadaryono, Moechtar, Suharmono Kasiyun, Widodo Basuki, Tiwiek SA, Djayus Pete, JFX Hoery dan lainnya," katanya.

Menurut dia, even ini bisa digelar tahunan dan skalanya bisa diperluas dengan melibatkan seluruh pegiat sastra etnis di negeri ini. Karenanya acara ini diharapkan juga menjadi silaturahmi budaya dalam skala yang lebih besar.

Ia mengemukakan, Festival Sastra Jawa itu akan digelar 2009 dengan tema, "Desa dan Sastra Jawa". Dengan alasan itu, maka festival tersebut rencananya akan dilaksanakan di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.

"Kegiatan ini akan digelar di desa karena kami berasumsi bahwa sebagian besar masyarakat pendukung sastra Jawa modern ada di daerah-daerah pinggiran, di desa-desa," katanya.

Karena itu, katanya, perlu dikaji hubungan imbal-balik antara sastra Jawa modern dengan masyarakat pedesaan, dan peran apa yang perlu dipertegas oleh para pengarang sastra Jawa dalam rangka berpartisipasi pada pembangunan masyarakat pedeaan tersebut.

Kegiatan itu akan diramaikan dengan pentas baca cerita cekak (Cerpen Bahasa Jawa), geguritan (puisi), drama berbahasa Jawa, sarasehan, pameran buku dan pemutaran film dokumenter.

Mengenai lokasi festival ini, yakni Desa Cakul adalah sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota, yakni sekitar 10 km dari ibukota kecamatan Dongko dan 46 km dari ibukota Kabupaten Trenggalek.

"Seperti halnya wilayah di bebukitan kapur jalur selatan Pulau Jawa, lokasinya cukup indah dengan kekayaan bebatuan kapur, marmer, dan banyak lubang bawah tanah atau gua," katanya.

Masuki M. Astro

Antara Jatim [Sabtu, 15 Nov 2008 15:27:13]

Wednesday, 5 November 2008

Koran Dinding Kampung (2): Tenaga-tenaga Muda di Sekitar Kita


Ada anjuran yang sangat baik, ’’Janganlah kesusu bertanya apa yang seharusnya Anda terima, tetapi bertanyalah lebih dahulu: apa yang bisa Anda berikan.’’ Apa yang bisa diberikan/diperbuat oleh kaum muda?
Di antara kita banyak tenaga-tenaga muda. Muda usia. Ada yang menyebut dengan remaja. Ada yang menyebut dengan istilah pemuda (termasuk pemudi, lho! –Red). Ada orang yang dengan nada kelakar alias guyon mengatakan bahwa remaja itu manusia tanggung. Maksudnya, mau disebut anak-anak kok secara fisik sering malah lebih gedhe daripada orang dewasa, tetapi kalau mau disebut dewasa kok belum cukup syarat untuk itu, antara lain dalam hal luasnya wawasan hidup, banyaknya pengalaman, dan sebagainya. Maka, sebenarnya kita tidak perlu terlalu sedih jika mialnya tidak dilibatkan dalam rembug/petung tuwa. Bukankah kita sudah diberi wadah sendiri, yang di tingkat desa misalnya dengan adanya organisasi Karang Taruna? Bukankan Pemerintah sudah mengangkat seorang menteri yang diberi amanat khusus untuk mengurusi Pemuda (dan Olahraga)?


Kita sudah dipikirkan, dan Pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk kita, untuk pemuda. Jika kita merasa belum ada apa-apa yang sampai pada kita, mungkin itu hanya persoalan antrean, persoalan giliran, ata persoalan sistem komunikasi, dimana kita kurang jeli, kurang membaca, dan kalau banyak nonton televisi pun yang kita tonton bukanlah acara-acara yang bersifat informatif, melainkan acara-acara yang sebenarnya sering memperbodoh macam sinetron horor atau percintaan yang asal-asalan itu.

Maka, marilah kita bersama-sama bertanya sekarang: Apa yang dapat kita berikan, apa yang dapat kita perbuat untuk diri kita masing-masing dan kemudian untuk lingkungan kita?

Pada garis besarnya, marilah kita lakukan hal-hal yang baik yang bermanfaat bagi diri dan linggkungan kita, sehingga cita-cita yang digantungkan oleh para orangtua kita: --agar kita menjadi manusia yang berguna bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa—itu tidak sekadar menjadi mantra (doa) yang makin hari makin pudar maknanya.

Dahulu, orang-orang seusia kita harus bertaruh nyawa, memanggul senjata, bahkan senjata seadanya, untuk mengusir penjajah yang bersenjata modern. Dahulu, orang-orang seusia kita dari berbagai suku, golongan, agama, berkumpul hingga lahirlah Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah bersatunya kembali Nusantara (Indonesia) yang pernah dicerai-beraikan bangsa asing (penjajah). Mereka adalah pemuda yang pantang menyerah, kaum muda yang tak pernah berpikir dua kali, tak pernah ragu untuk: BERBUAT BAIK.

Ayo! Jangan biarkan diri kita kelak dicatat oleh sejarah sebagai generasi loyo! Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Ketika pertanyaan itu mulai ada di benak kita, yakinlah, kita sudah berada di langkah pertama untuk ’’berbuat baik’’ untuk tidak menjadi generasi loyo. [bonari nabonenar]

Koran Dinding Kampung


Telah lahir Koran dinding kampung (Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Trenggalek, Jatim/4-Nov-2009) cap ’’Nglaran Kita.’’

Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Sudarmaji. Redaktur/Kordinator Liputan: Aan Rulianto. Reporter: Warsito, Hendri, Karni, Sudarto, Sukatni, Nuryati, Riza Rinata, Sulis. Fotografer: Jarwanto, Jamaludin. Desain/Artistik: Hendro. Sekretaris Redaksi: Wulandari. Konsultan: Bonari Nabonenar, Purwo Santoso. Alamat Redaksi: RT 29/RW 15 Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kec. Dongko, Kab. Trenggalek, Jawa Timur.

Rencananya, bakal terbit sekali sebulan.


Tuesday, 28 October 2008

Masa Depan Sastra Jawa

Oleh Ribut Wijoto

Sastra Jawa di Jawa Timur menunjukkan gejala yang unik. Tidak ada perkembangan yang pesat namun juga tidak macet. Situasinya cukup sehat-sehat saja. Beberapa karya baru baru bermunculan, dipublikasikan, dan diterbitkan. Tapi, lompatan estetika nyaris tidak ada. Bisa dikata, sastra Jawa sedang adem ayem. Kondisi ini ditegaskan dengan tiadanya tema atau perdebatan yang bersifat luas atau mendalam. Ke depan, jika situasi ini terus berlanjut, sastra Jawa sedang dalam kondisi ambang. Bisa lantas berkembang bisa juga lantas tenggelam. Agar bisa mengarah ke perkembangan, ada beberapa problem yang musti diurai dan diselesaikan.


Sampai saat ini, sastrawan Jawa di Jawa Timur masih patut berbangga. Mampu selangkah lebih maju dibanding kompetitornya di Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Lihat saja, dua peraih penghargaan Rancage tahun ini berasal dari provinsi paling timur di pulau Jawa ini. Yakni, Turiyo Ragilputra melalui kumpulan gurit Bledheg Segara Kidul untuk kategori karya sastra dan Sriyono, redaktur majalah Jaya Baya, untuk kategori pengembangan bahasa dan sastera Jawa.

Prestasi prestisius itu tidak lepas dari kinerja ulet dua tokoh besar yang telah almarhum. Suripan Sadi Hutomo dan Tamsir AS. Kedua tokoh ini seakan saling melengkapi. Suripan bergerak di wilayah pusat, Surabaya dan sekitarnya. Ketika itu, mobilitas sastra Jawa di Surabaya tidak ada yang tidak lepas dari campur tangannya. Di beberapa even, dia ikut menggagas. Memberi masukan ataupun menjadi konseptornya.
Tak hanya soal even, Suripan terkenal sebagai apresiator yang tajam serta tekun. Dia mampu mendedahkan peta sastra Jawa di Jawa Timur. Perihal tokoh-tokohnya, perihal karya-karyanya, karakteristik estetika masing-masing pengarang. Pun juga, tokoh kelahiran Blora 5 Februari 1940 ini bisa merunut kesejarahan sastra Jawa. Mulai zaman sebelum merdeka sampai menjelang meninggal dunia. Banyak yang mengultuskan, Suripan adalah HB Jassinnya sastra Jawa. Sebuah pengkultusan yang bukannya kosong fakta. Berkat Suripan, sastra Jawa memperoleh arah-tuju yang terprogram.

Sedangkan Tamsir AS, maestro ini lebih bergerak di wilayah pinggiran. Melalui Sanggar Triwida, pria kelahiran Tulungagung (1936-1997) mampu menaikkan pamor sastrawan-sastrawan di pinggiran. Kegiatan sastra Jawa tidak hanya berpusat di Surabaya. Kabupaten, kecamatan, maupun desa pun sanggup menciptakan kegiatan sastra Jawa. Pernah suatu kali, sekitar tahun 1985, ada acara macapatan di rumah seorang warga di desa Gandong Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung. Pesertanya warga sekitar dan beberapa sastrawan Jawa dari Trenggalek dan Kediri.

Penulis sebanyak 286 cerkak ini memang tak bosan-bosannya memompa semangat sastrawan daerah (baca: desa) untuk berproses. Saling berinteraksi maupun mengonsepkan gerakan sastra Jawa di daerah Mataraman. Meliputi Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Ponorogo, dan sekitarnya. Kadang dia tak hanya menjadi konseptor, dia juga keluar banyak uang untuk mendanai. Kecuali itu, Tamsir juga seorang penulis buku yang tekun. Lihat saja, dia telah menuliskan puluhan buku tentang sastra Jawa.

Sampai saat ini, peran dua maestro sastra Jawa di Jawa Timur tersebut belum tergantikan. Keberadaan sastra Jawa di Jawa Timur juga berkat kontribusi dua media, mingguan Jaya Baya dan mingguan Panjebar Semangat. Rutinitas kedua media ini dalam menyediakan halaman sastra berbahasa Jawa sanggup menjadi ruang ekplorasi para pengarang. Tak hanya pengarang generasi tua, beberapa pengarang muda pun bermunculan. Apalagi, segala berita juga disajikan dalam bahasa Jawa. Peran ini secara dahsyat mampu selalu mengaktualkan bahasa Jawa dalam lingkup kekinian dan perkembangan pengetahuan.

Hanya saja, kehidupan sastra yang berbasis media memiliki risiko cukup riskan. Sastra menjadi elitis. Terpisah dari kehidupan riil masyarakat. Keintiman antara sastrawan dengan warga yang dulu dibangun oleh Tamsir AS dan kawan-kawan menjadi luntur. Hal itu diperpaah dengan rendahnya interaksi para pengarang. Mereka lebih bergerak sendiri-sendiri. Tujuan pokok proses kreatif terfokus pada publikasi media dan penerbitan. Gerakan maupun perkumpulan yang gayeng jadi sulit didapat. Jika ini terus berlanjut, dalam 10 tahun ke depan, sastra Jawa akan semakin elit dan semakin dijauhi oleh masyarakat. Ia berubah jadi wacana yang iseng sendiri.

Melihat problem ketiadaan tokoh penggerak (pengganti Suripan dan Tamsir AS) dan merujuk pada risiko sastra media massa, sastra Jawa butuh pola baru. Kebergantungan pada sosok atau tokoh perlu dipangkas. Peran tokoh harus diganti dengan peran struktur. Dalam pola ini, peran Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) harus dimaksimalkan.

PPSJS musti menciptakan program realistis, pembagian tugas, koordinasi antardaerah, dan memaksimalkan segala potensi yang telah ada. Semisal terhadap sanggar Triwida yang digagas oleh Tamsir AS. Sanggar meski kurang berkembang tapi juga tidak mati. Pengurusnya masih ada. PPSJ harus memompanya agar kembali berkembang seperti zaman Tamsir dulu.

Sama seperti Dewan Kesenian, PPSJ perlu membentuk paguyupan-paguyupan sejenis di tiap kabupaten. Tujuannya agar koordinasi lebih terjaga. Bila ada pengurusnya otomatis ada orang yang bisa diserahi tanggung jawab mengadakan kegiatan.
Berkaca pada pengurus PPSJS lima tahun lalu, di mana Bonari Nabonenar sebagai ketuanya, yang dianggap banyak kalangan kurang maksimal. Hal itu perlu dijadikan bahan evaluasi. Kesalahan mendasarnya adalah tiadanya kerja tim. Bonari seakan berjalan sendirian. Ketika dia sibuk dengan kegiatan lain, PPSJS menjadi terlantarkan. Dan sebaliknya, pengurus lain seakan kelewat berharap terhadap Bonari. Pengaruhnya, kinerja organisasi alias terstruktur menjadi kurang teraplikasi.

Pada kepengurusan yang baru ini, di mana Bonari kembali terpilih, dia harus benar-benar menaruh kepercayaan terhadap kabinetnya. Setelah pembagian seksi dibentuk. Tiap orang dalam seksi perlu diberi wewenang dan tugas yang sesuai dengan wilayah garapannya. Jangan sampai terpusat pada ketua. Biarlah masing-masing tokoh menjalani perannya sendiri. Bonari cukup melakukan fungsi kontrol dan manajerial.
Sastra Jawa belum hancur. Hanya dalam situasi tiarap. Tidak mundur ataupun tidak berkembang. Pada titik ini pun, sastrawan Jawa di Jawa Timur masih lebih bagus dibanding kompetitornya di Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Hanya saja, ini sebuah kondisi stagnan. Semua potensi yang sedang tiarap musti dibangunkan kembali. Bila tidak segera disadari dan disikapi, sastra Jawa di Jawa Timur sangat mungkin tinggal kenangan. []

Biodata:

Ribut Wijoto, lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Anggota Forum Studi Sastra & Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya dan anggota Komunitas Teater Gapus Surabaya. Lulusan Fakultas Sastra Unair. Ketua Departemen Informasi dan Dokumentasi DK-Jatim.
Tahun 2001, esai sastranya dipilih sebagai juara 1 dan juara harapan 1 dalam sayembara esai sastra tingkat nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional (Pusat Bahasa). Bukunya yang telah terbit, Pengantar Menuju Sastra Bermanfaat (Gapus Press, 2002).
Pernah mengeditori buku puisi F Aziz Manna Ayang-Ayang (Gapus Press, 2003), Ijinkan Aku Mencintaimu (Gapus Press, 2006), Menguak Tanah Kering (Kumpulan puisi bersama Teater Gapus, 2001), Permohonan Hijau, Antologi Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2003), Rumah Pasir, Antologi 5 Penyair Terbaik Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2008). [ribut_wijoto@yahoo.com]

Sumber, Kompas Jatim [….]

Monday, 22 September 2008

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [5]


Di rumah buku saya baca. Hampir tergelak saya membacanya. Bukan karena isinya yang lucu karena menceritakan riwayat perjuangan seorang pelawak, tetapi habitat tempatnya hidup sejak kecil, adalah lingkungan habitat yang saya kenali benar. Pasar Pacarkeling, Pacarkembang, TK Megawati, Jedong, RGS dengan penyiarnya Supangat, SMPN 9. Itu habitatku sejak zaman Jepang tahun 1942 (rumahku di Kalasan 31, teman sekolahku anak-anak SS-Pacarkeling, Oro-oro, Jedong, Ploso, Rangkah, Bogen, Tambaksari, Karanggayam, sekolahku di Jalan Mundu.

Sampai pensiun tahun 1988, rumahku di Rangkah, bekerja di Pemkot, RGS pimpinan Pak Indiarto saya kenal benar, bahkan seorang penyiarnya Mas Soekardjito (dengan istrinya) jadi pegawai Humas sekamar kantor dengan saya. Cak Djadi memilih hari tanggal lahir 6-7 bulan sebelum 1 September 1965, adalah 8 Maret 1965, anak saya nomer 2 lahir 29 Maret 1965, jadi sebarakan dengan Cak Djadi. Sekolah Cak Djadi di SMPN 9, dua anak saya kelahiran tahun 1969 dan 1971 juga sekolah di sana (mestinya adiknya Cak Djadi).

Dalam buku itu ditulis bahwa orangtua Cak Djadi hidup di desa (Creme, Gresik), tetapi Cak Djadi sejak kecil hidup ikut kakek-neneknya di Surabaya. Neneknya tiap hari jual sayur-mayur (wlija) yang kulaknya di pasar Pacarkeling, dijajakan seputar kampung-kampung situ. Si bocah kecil Djadi sering disuruh ikut bekerja belanja sayur oleh neneknya, dan karena penghasilannya kecil dia disekolahkan di TK Megawati, muridnya kebanyakan juga anak-anak orang yang berjualan di pasar.

Membaca buku itu tentang masa kecil HM Cheng Ho Djadi Galajapo, saya jadi terbayang-bayang benar masa kanak-kanakku sendiri di sana. Tempat-tempat itu sudah terlalu sering saya jadikan back-ground novel saya atau tulisan saya yang lain, misalnya: Oh, Surabaya (CV Bina Ilmu, 1975), Surabaya Tumpah Darahku (bersambung di koran Kompas November 1973, CV Bina Ilmu 1978), Saksi Mata (bersambung di koran Kompas November 1997, Penerbit Buku Kompas 2002), Surabaya Zaman Jepang (Surabaya no Monogatari) (Penerbit Jawa Pos 1983), Kremil (bersambung di koran Kompas November 1994, Pustaka Pelajar Yogyakarta 2002).

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [4]

Diskusi ini juga disela pembagian buku HM Cheng Ho Djadi Galajapo NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Mereka yang mendapat diundi melalui door-prize. Yang namanya disebut, segera maju ke depan menerima bukunya dari Cak Djadi. Hampir terakhir, namaku disebut. Mengerti namaku dan tempatku (di kursi belakang) Cak Djadi tidak memanggil saya, tetapi dia yang datang membawa bukunya ke tempat saya duduk. “Terima kasih, Cak Djadi, saya dapat kehormatan begitu.”

Setelah sambutan-sambutan orang-orang penting, maka ditawarkan para hadirin yang mau bertanya. Banyak yang angkat tangan, tetapi karena waktu mendekati magerip, hanya tiga orang dipersilakan. Seorang ibu mendapat prioritas bicara, karena sejak tadi yang ngomong laki-laki. “Judul bukunya kok NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN, apa maknanya dan diilhami dari mana?”

Cak Djadi menjawab (ceritanya juga ditulis di bukunya), bahwa kakeknya yang semula menekuni penghayatan Sapta Darma, menyuruh Djadi rajin mengaji di surau dekat rumahnya. Kemudian setelah Djadi bertambah besar dan rajinnya mengaji di masjid, kakeknya juga berangsur-angsur mengikuti sholat di masjid, dan simbul-simbul Sapta Darmanya (misalnya gambar wayang Semar) hilang dari rumahnya. Namun kelakuan Djadi untuk naik pentas menjadi pelawak, tidak berubah. Tiap ada kesempatan (misalnya perayaan 17 Agustusan) Djadi pasti naik pentas melawak. Ini membuat kakeknya malu. “Koën iku gak isin, tah, modhuk teka masjid terus mbanyol ndhuk panggung? Wong lèk mbanyol gawe guyu wong liya iku mbesuke mlebu ndhuk Neraka Wail!” Dari pemahaman begitu akhirnya dengan keras kakeknya melarang Djadi naik pentas melawak. Djadi jadi kepikiran. Ingin terus meraih cita-citanya (yang sudah jadi kebiasaannya) dengan melawak, tapi kalau ketahuan kakeknya, dimarahi. Pada hal cita-citanya jadi pelawak sudah mulai mendapatkan hasil, kalau naik panggung dapat uang. Djadi putar otak, bagaimana supaya kakeknya tidak melarang dia naik panggung. Djadi tahu kakeknya sore hari suka minum kopi dengan nyamikan. Yang paling suka kue terang bulan (nama kue di Surabaya, di Jawa Tengah mungkin namanya srabi bandung, di Jakarta Timur martabak manis). Maka, ketika Djadi dapat tanggapan dan dapat hr, ia membelikan kue terang bulan. Waktu sore kakeknya minum kopi, kue terang bulan dihidangkan. Dimakan oleh kakeknya sampai habis. Ketika ditanya dari mana dapat terang bulan, dijawab dari hasil melawak naik panggung. Sang kakek skak mat! Djadi sudah bisa berdalih, bahwa dia seringkali mendengarkan ceramah ustad yang disela guyonan gar-ger.Ceramah ustad dengan melawak, menjadi segar dan tidak masuk neraka wail. Djadi juga berdalih, bahwa nanti ketika melawak di pentas, ia juga akan sertamerta berdakwah. Jadi juga tidak masuk Neraka Wail! Sang kakek menerima.

Diskusi diakhiri karena azan magerip, dan selesai setelah pengunjung buka puasa di ruang sebelah.

Tidak ada sahabat dekat, usai berbuka puasa saya pulang. Menunggu lift buka, saya dengar percakapan di belakang saya (juga menunggu lift tentunya) jawaban perempuan mengatakan bahwa dia baru habis bertugas dari Pasuruan, mengunjungi keluarga penerima zakat yang kena musibah itu. Saya menolih. “Pak Parto, ya? Mengapa, Pak, di sini?” Siapa, ta? “Nani,” jawabnya. Oh, Nani Wijaya! Saking terharuku hampir saja dia kurangkul. Tampak lebih cantik, karena rambutnya lebih panjang, tidak jongen-kop seperti yang saya kenal sebagai direktrisku ketika saya ditugasi menjadi pemimpin redaksi tabloid Jawa Anyar di Solo. Waktu itu saya (dengan Mas Bonari Nabonenar juga) banyak dapat bimbingan dan arahan cara menyelenggarakan penerbitan tabloid dari Bu Nani Wijaya ini, sangat bermanfaat sekali.[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [3]

Cak Kadaruslan menceritakan pengalamannya, pernah dipisuhi “Jancuk! Jancuk!” oleh Grup Galajapo. Yaitu sebagai pecinta seni, Cak Kadaruslan menyelenggarakan pagelaran seni, tetapi grup pelawak tidak dikatutkan. Itu salah tangkap. Sebab untuk pelawak, oleh Cak Kadar sudah disiapkan untuk digelar di luar. Sebagai pelawak, mestinya tidak boleh cepat emosi, marah-marah. Pelawak itu memberikan hiburan kepada khalayak, tidak memarahi khalayak. Cak Djadi sungguh mengaku khilaf soal peristiwa itu. Dulu sudah minta maaf, sekali ini juga sungguh-sungguh minta maaf.

Suko Widodo sebagai pembicara resmi tentang buku ini, sangat mendukung seorang person menerbitkan buku, siapa pun dia, bagaimana nasibnya, perjuangan hidupnya, apa profesinya, apalagi “punya nama”, punya track-record aktivitas seperti Djadi Galajapo di Surabaya. Tapi harus jujur, sebab bagaimana pun juga bukunya itu akan merupakan gambaran sejarah kehidupan bangsa waktu buku itu ditulis, yang bisa dijadikan pembelajaran bagi generasi pembaca untuk menyiasati kehidupan masa depan yang lebih baik. Melihat sekejab bukunya (karena baru diberi ketika masuk ruangan itu) Pak Suko mengeritik tentang banyaknya sanjungan-sanjungan, puji-pujian di buku tadi, terutama 50 halaman terakhir (dari 146 halaman). Tapi juga memuji Cak Djadi, sebagai pelawak dia juga memperhatikan profesi sosial yang lain dijadikan bahan memperkuat melawaknya, misalnya mau berdakwah sementara pentas, juga memperhatikan profesi guru (Cak Djadi lulusan IKIP Surabaya, pernah ditugaskan sebagai guru pns di Pacitan, tapi mengundurkan diri karena pns kan singkatan dari penghasilanipun namung sekedhik). Dengan perhatiannya pada profesi lain, maka di mana pun dia naik pentas menjalani profesinya sebagai pelawak, dia bisa bicara lucu tepat pada profesi lain tadi dan diterima oleh publik profesi itu.

Sabrot D. Malioboro dapat giliran tampil, dengan lebih dahulu disanjung oleh Cak Djadi karena terus-terangnya berani mengeritik sikap atau tingkah Cak Djadi langsung di hadapannya. Cak Djadi sangat aprisiate menerima kritik seperti itu. Dengan menerima kritik dia menjadi lebih sadar dan dewasa ketika pentas menjalani profesinya sebagai pelawak. Sedangkan kalau hanya menerima puji-pujian seperti yang dituturkan Pak Suko Widodo, ia bisa mabuk kepayang, terlena, kurang berkualitas. Sabrot menceritakan ketika Cak Djadi jadi MC di acara kampanye Walikota Blitar. Walikota Blitar berkampanye politik pidato berapi-api. Lalu sebagai MC Cak Djadi bicara sela acara, juga berapi-api seolah-olah terseret virus politik Walikota Blitar. Sabrot memperhatikan peristiwa itu dari Surabaya. Ketika bertemu di Balai Pemuda, Sabrot langsung bilang kepada Cak Djadi. “Kamu ini pelawak. Jangan ikut-ikutan di bidang politik. Tekunilah profesimu, maka kamu akan bahagia!”

Bagong Suyanto membuka bicaranya menuduh Djadi tidak jujur apa yang ditulis (diceritakan) pada peristiwa mendapat job bersama aktris, lalu sampai berduaan saja dengan aktris itu, tapi peristiwanya berakhir dengan menutup perut perempuan tadi dengan handuk. Apa betul-betul peristiwanya berakhir sampai di situ, apa yang ditutup hanya perutnya, itu yang disangsikan oleh Pak Bagong. Bahwa peristiwa semacam itu termasuk kehidupan para seniman panggung, bisa dimengerti. Langsung dijawab oleh Cak Djadi peristiwa dan akhirnya persis seperti itu. Kalau tidak, bukankah itu rahasia kejelekan peribadi, mengapa diceritakan? Intinya, begitulah godaan di profesinya, namun Cak Djadi (dan banyak orang berprofesi seperti itu juga) bisa tetap hidup suci.

Orang Cina itu kurang diterima baik oleh masyarakat Jawa. Seringkali Pak Bagong berjalan-jalan dengan istrinya, kemudian ditegur oleh teman bermata sipit, istrinya melengos dengan ucapan bernada menghindar, “Cina ngono, lo!” Istrinya tidak sadar bahwa Pak Bagong itu juga Cina. Itulah gambaran yang diberikan oleh Pak Bagong bahwa pada umumnya orang Cina tidak diterima dengan rela hati oleh masyarakat Jawa. Untuk bisa diterima banyak sekali orang Cina harus mengganti namanya dengan nama Jawa, termasuk Pak Bagong Suyanto. Banyak (sekali) orang Cina untuk berasosiasi dengan orang Jawa mengganti namanya dengan nama Jawa, tetapi Pak Bagong belum pernah dengar orang Jawa yang mengubah namanya dengan nama Cina. Orang Jawa yang memberi namanya dengan nama Belanda, nama Arab, nama Buda, banyak. Tapi menggunakan nama Cina, Pak Bagong tidak pernah dengar. Ya baru HM Cheng Ho Djadi Galajapo ini. Itupun dulu, ketika Cak Djadi memberitahu bahwa kalau dia berhasil naik haji mau menambah resmi namanya dengan Haji Mohammad Cheng Ho, Pak Bagong juga tidak percaya. “Ya, kalau memilih nama Cheng Ho sebaiknya minta izin dulu sama yang berwenang, karena nama Cheng Ho sudah jadi nama masjid di Surabaya,” saran Pak Bagong ketika itu, ragu-ragu, tak percaya. Ternyata benar, Cak Djadi yang semula dikenal oleh Pak Bagong bernama asli Jawa Sudjadi yang kelahiran Dadap Kuning Cerme Kabupaten Surabaya itu setelah naik haji namanya ditambah Haji Mohammad Cheng Ho. Nama Cheng Ho dipilih setelah Cak Djadi mendengar keheranan Pak Bagong tentang nama orang Jawa yang suka mengubah namanya jadi nama Arab atau Belanda, tapi tidak ada yang mengubah namanya dengan nama Cina. Waktu mendengar itu, Cak Djadi bilang, wajar saja begitu, karena orang Jawa kan kebanyakan orang Islam, jadi ingin menandaskan keislamannya dengan nama Arab. “Itu pikiran kurang pas,” ujar Pak Bagong. “Karena orang Cina yang islam juga banyak, dan bahkan yang membawa Islam ke Tanah Jawa, adalah orang Cina. Yaitu Laksamana Cheng Ho.” Terobsesi oleh percakapan tadi, maka ketika Cak Djadi berhasil menunaikan ibadah haji, maka mengubah namanya ditambah Haji Mohammad Cheng Ho Djadi Galajapo.[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [2]

Lalu sambutan-sambutan. Wawali Surabaya, Suwito M., Sam Abede Pareno, Cak Kadaruslan, Kurniawan Muhammad, Cak Kartolo, Sabrot D. Malioboro, Lufti, Bonari, Bu Yati.

Oleh Wawali Surabaya Arif Afandi, disindir nama HM Cheng Ho, HM-nya berbau promosi Honda Motor yang menyeponsori penerbitan bukunya, ya diterima Djadi jegegesan, mengakui memangnya Pak Suwito M, Direktur PT MPM Motor Main Dealer Motor Honda Jawa Timur dan NTT 5 tahun terakhir ini sering memberi job.

Suwito M. ketika giliran menyambut mengatakan, acara-acara promosi Honda sering dipercayakan kepada Cak Djadi Galajapo, baik individual maupun group. Cak Djadi joke-jokenya spontanitas cerdas, product knowledge-nya kena, ditunjang karakter yang kuat, wawasan yang luas, banyolannya bernas, seringkali religius. Pak Suwito sangat berkesan dengan nyanyian kanak-kanak TK yang telah diubah syairnya spontan oleh Djadi, Satu-satu, jangan jangan pakai shabu, dua-dua jangan pakai ganja, tiga-tiga jangan pakai narkotika, satu-dua-tiga pakai Honda saja”.

Sam Abede Pareno memulai dengan judul buku yang dibedah, merepotkan toko buku. Ini akan diletakkan di buku Agama, atau Masak-masakan? Judulnya kan Neraka dan Kue Terang Bulan? Selanjutnya dia menceritakan ketika menjadi staf wartawan di Jawa Pos tahun 1980-an, dirasakan tidak banyak pelawak Jawa Timur yang bisa berbicara di tingkat nasional. Di situlah Jawa Pos mengadakan semacam audisi pelawak. Dan ditemukan berkarakter sendiri-sendiri Djadi, Priyo dan Lufti. Lalu ada ide menggabungkan mereka jadi satu kelompok, yaitu Galajapo, singkatan dari Gabungan Lawak Jawa Pos. (Ide yang membidani dan getol mencarikan job adalah Pak Kris Maryono, wartawan RRI Surabaya, juga hadir di situ, kala itu nama Galajapo diciptakan pada zaman banyak kata gala diedarkan seperti Galatama, Galarama, Galatawa. Galajapo, Japo-nya diartikan Jawa Pos, memang diharapkan grup lawak itu nantinya menjadi anak asuh Jawa Pos. Tetapi Galajapo juga bisa diartikan kependekan dari nama-nama anggota grup itu, yaitu Gabungan Lutfie, Djadi, Priyo). Pak Sam tidak lupa mengatakan bahwa menyeponsori penerbitan buku itu suatu pekerjaan mulia dan mendidik, maka berharap Honda jangan hanya menyeponsori penerbitan bukunya sastrawan bukan beneran, sastrawan yang beneran seperti Suparto Brata itu juga bukunya disponsori diterbitkan.

Cak Kartolo agak alot ketika disuruh menyambut maju ke depan. Tidak punya persiapan. Sebagai pelawak yang handal, Cak Kartolo kalau mau pentas, pasti jauh sebelumnya sudah merencanakan ide-ide yang mau dipentaskan, dihafalkan dan dilatih sampai pada waktunya pentas. Pasti ada persiapan, kalau mungkin pelatihan sebelum pentas. Kini tidak ada persiapan ngomong, maka alot untuk maju ke depan. Sudah berdiri, duduk lagi. Apalagi sementara itu Cak Djadi ngomong terus, memuji-muji kehebatan Cak Kartolo. Karena lama Cak Kartolo tidak mau ke depan, Cak Djadi bilang, “Mosok, Rêk, nyang mrene mik perlune kate mangan-mangan buka pasa?”. Cak Kartolo sampai di depan, terus saja ngomong sambil menunjuk bibir Cak Djadi, “Iku lambe tah kitiran!?” Dalam sambutannya yang serius, Cak Kartolo tidak mau kalah, sama-sama pelawak Cak Kartolo juga mau menerbitkan buku seperti Djadi Galajapo. “Buku utang piutang.”[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [1]

Kula aturi rawuh peluncuran buku Djadi Galajapo, Jumat 19 Sept 08, di metropolis room Graha Pena lt 3 pukul 15.00 thit, bonari, yg ikut menulis buku tsb. Suwun. Harus mendaftar? Khusus Pak Parto tanpa harus ndhaftar.

Begitulah SMS yang kuterima. Djadi Galajapo, saya tahu itu nama kelompok pelawak di Surabaya. Beredar setelah saya pensiun, (artinya saya sudah tidak giat nyemak secara fisik maupun sosial perkembangan kota Surabaya lagi, saya sama sekali sudah tidak mendengarkan radio lagi, kurang sekali menonton TV, tidak suka telepon-teleponan hingga pulsa HP saya bertumpuk tak terpakai, kurang sekali membaca koran), jadi tidak pernah melihat atau mendengarkan banyolan kelompok Galajapo. Tetapi kalau acara tentang buku, saya usahakan selalu bisa mengikuti. Diah Pitaloka, Dewi Lestari, Pipiet Senja, Andrea Hirata, Lan Fang, Shoim Anwar, Amang Mawardi, Akhudiat, Widodo Basuki, Siti Aminah, Elizabeth D. Inandiak, Hersri Setiawan, Asvi Warman Adam, Agus Wahyudi, Agus Mustofa, Murakami Saki, Yayasan Karmel, Ary Nurdiana, Freek Colombijn, GM Sidarta, Bugilbaca, itu beberapa nama yang saya hafal luar kepala ketika bedah atau diskusi bukunya yang saya (perlukan) hadiri. Saya banyak mengambil manfaat dari situ untuk ibadah, karena tentang buku (membudayakan menulis, membaca, memahami, menerbitkan, membeli, menjual, menyiarkan) saya memang belum mau pensiun, saya anggap amanah Allah. Jadi, bukan hanya karena undangan lewat SMS Mas Bonari itu, saya juga secara resmi juga mendaftar akan hadir peluncuran buku HM Cheng Ho Djadi Galajapo itu.. Saya datang 30 menit sebelum acara peluncuran buku Djadi Galajapo dimulai.

Begitu masuk lantai 3, saya bertemu Prof.Dr.Sam Abede Pareno, dan selanjutnya bersama dia. Dia begitu akrab dengan forum, sedang saya merasa asing. Orang-orang muda yang menyapa dia juga menyapa saya, saya kira karena dialah saya ikut disapa. Tapi, mereka kok ya menyebut nama saya (tentulah sudah mengenal betul saya). Salah seorang berbaju putih-putih, kepalanya agak gundul, menyalami dan mempersilakan kami berdua masuk ruangan Metropolis room yang masih kosong dengan cara begitu akrab. Tapi kami berdua milih kursi paling belakang, karena Pak Sam tidak bisa tinggal sampai buka puasa, karena ada acara lain. Jadi kalau acara sedang berjalan Pak Sam bisa dengan diam-diam tidak mengganggu acara meninggalkan ruangan. Di latar belakang podium tertulis jelas: HM Cheng Ho Djadi Galajapo, NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Pembicara: Bagong Suyanto dan Suko Widodo.

Selain nama dosen-dosen UNAIR itu kemudian mengisi ruangan orang-orang terkenal lainnya: Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi, perwakilan Honda Motor (sponsor penerbit buku), Kurniawan Muhammad, Bonari Nabonenar, Sabrot D.Malioboro, Cak Kadaruslan, Kartolo dan istri, Djoko Pitono, RM Yunani, dan orang-orang aktif di Surabaya saat ini (maaf, tidak bisa saya sebut semuanya, meskipun sangat penting pada acara ini). Dan nanti setelah acara berjalan terungkap pula orang-orang dekat (sesama pelawak) Djadi, seperti Didik Mangkuprojo (ini saya kenal), Hunter Parabola, Adenan, Lutfi (teman main di Galajapo) dan Insaf Andi Lah Yaw. O, ya, dan Cak Kobar, anak muda berambut brukoli yang menjadi moderator acara, yang tidak lain juga pembawa acara Becak (Berita Kocak) JTV (TV-nya Jawa Pos). Saya menonton TV sangat saya batasi, sehingga juga tidak pernah mengenali Cak Kobar. Ternyata orang akrab berbaju putih yang agak gundul tadi yang punya gawe siang itu, HM Cheng Ho Djadi Galajapo.

Dia membuka acara dengan kidungan: “Semangka siji sega dijangkepi, sing teka dina iki takdongakna akeh rejeki”. Meskipun profesinya kental sebagai pelawak, dengan menerbitkan buku ini dia tidak guyon, meskipun bukan sastrawan beneran dia serius menerbitkan bukunya. Artinya isinya benar dan jujur. Lalu dengan terampil dia menyampaikan terimakasih atas kedatangan dan jasa-jasanya “memberdayakan” grup pelawak Galajapo. Terampil, cekatan, bebas tanpa ikatan tradisi, bergairah dan lucu. Bicaranya disela pihak lain ya ditanggapi dengan enak, kreatif, cerdas dan lucu. Ucapan terimakasih ditujukan kepada Jawa Pos (a.l. Wawali Surabaya Arif Afandi, Sam Abede Pareno, Kurniawan Muhammad) dan para tamu yang hadir, masing-masing disebut namanya dan jasanya. Misalnya Abah Kartolo disebut sebagai gurunya yang paling senior (karena itu dipanggil Abah).[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

Sunday, 21 September 2008

Djadi Galajapo Bercinta di Hotel Kumuh


Hidup terpisah dengan istri memang tidak enak. Karena itu, begitu punya kesempatan, tak peduli di hotel kecil dan kumuh, hasrat sebagai pelampiasan rindu pun ditumpahkan. Kisah pilu tersebut mewarnai perjalanan hidup Djadi Galajapo sebelum meraih sukses dengan agenda pentas yang cukup padat seperti sekarang. Tanpa malu-malu, pria kelahiran Cerme, Gresik ini membeber habis seluruh liku-liku hidupnya dalam sebuah buku yang diberi tajuk Neraka Wail dan Kue Terang Bulan.

Buku setebal 148 halaman yang ditulis Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad ini dirilis, Jumat (12/9) lalu. “Buku ini sebagai pelengkap cita-cita saya yang ingin ada seniman lokal tapi punya gaung dan bisa dicatat sampai ke tingkat nasional,” ujar pria yang akrab disapa Djadi ini usai peluncuran bukunya.

Untuk bisa dikenal di tingkat nasional, Djadi yang sepulang menunaikan ibadah haji melengkapi namanya jadi HM Cheng Ho Djadi Galajapo ini kukuh tetap bertahan di Surabaya. “Untuk terkenal tidak harus pindah ke Jakarta. Bagaimana pun saya tetap akan mengibarkan bendera di Surabaya,” tandasnya.

Bukan berarti Djadi anti Jakarta yang diimpikan banyak orang untuk menggapai sukses. Terbukti, pria yang pernah malang melintang di sejumlah radio di Surabaya macam RRI dan RGS (Radio Gelora Surabaya) ini sempat nekad naik kereta api kelas ekonomi sekadar untuk bisa tampil di layar TVRI Pusat Jakarta.

“Tapi, untuk menetap hidup dan mengadu peruntungan sebagai artis (pelawak) di Jakarta, saya tegaskan: Tidak!” cetus Djadi sambil meyakini Tuhan tidak menurunkan rejeki berdasar tempat tinggal, tapi kesungguhan hati seseorang.

Memang tidak mudah. Berbagai terobosan dilakukan, antara lain dengan menggeber aksi melawak nonstop enam jam enam menit enam detik. Jebolan IKIP Negeri Surabaya yang lahir tanggal 8 Maret 1965 ini juga melontarkan gagasan melakukan donor darah sambil melawak. [Pra]


SURYA
Monday, 22 September 2008

Friday, 19 September 2008

Buku Neraka dan Terang Bulan


LUCU dan religius, itulah yang sepintas tertangkap pada sosok Sudjadi. Tak banyak yang mengenal nama ini. Sebab, pria ini lebih dikenal dengan nama Djadi Galajapo, pelawak yang sering tampil jadi MC itu. Belakangan, namanya lebih panjang, HM Cheng Ho Djadi Galajapo.

Pria kelahiran dusun Leker Rejo, Dadap Kuning, Cerme, Gresik, itu kemarin meluncurkan sebuah buku yang diberi judul Neraka Wail dan Kue Terang Bulan di Metropolis Room, Graha Pena. Buku yang ditulis Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad tersebut bercerita tentang perjalanan pelawak itu.

Karena yang punya gawe pelawak, yang datang juga banyak pelawak. Antara lain, Kartolo, Didik Mangkuprojo, Hunter Parabola, Adenan, dan rekan Djadi di Galajapo, Lutfi dan Insaf Andi Lah Yaw. Maka, kelakar dan ger-geran pun tak terhindarkan.

Selain mereka, hadir juga seniman dan budayawan Jawa Timur. Antara lain Kadaruslan, Sam Abede Pareno, Bonari Nabobenar, Suparto Brata, dan masih banyak lagi.

Sosiolog Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, dan aktor Republik Mimpi menjadi pembahas buku terbitan JP Books itu. Sedangkan Cak Kobar, pembawa acara Becak (Berita Kocak) JTV bertindak sebagai moderator.

Djadi memberikan sambutan pembukaan dengan pantun. ''Semongko siji sego dijangkepi. Seng teko dino iki, tak dongakno akeh rejeki,'' katanya disambut tepuk tangan undangan.

Sam Abede Pareno ikut memberi sambutan. Menurut dia, Jawa Pos punya andil dalam kelahiran Galajapo. Saat itu, sekitar tahun 80an, tak banyak pelawak Surabaya yang bisa berbicara di tingkat nasional. Karena itu, Jawa Pos mengadakan semacam audisi pelawak. ''Di situlah kita menemukan Djadi, Priyo, dan Lutfi,'' kata Sam, yang waktu itu redaktur Jawa Pos.

Ketiga orang itu, lanjut Sam, punya karakter kuat. Kemudian, muncul ide menggabungkan mereka dalam satu kelompok. ''Namanya Galajapo, singkatan dari Gabungan Lawak Jawa Pos,'' katanya.

Beberapa pelawak yang diberi kesempatan tampil, mengutarakan kesan-kesannya terhadap Djadi. Tentu saja lengkap dengan kelucuannya. Misalnya, Lutfi. Djadi, menurut dia, merupakan pribadi yang nekat. ''Tiap kali manggung, Djadi tak pernah gugup,'' katanya. ''Pernah, saya dan Priyo tak berani manggung duluan. Padahal, kami sudah ditunggu. Tapi, Djadi langsung bilang, dia akan tampil duluan. Dia memang tampil dulu, dan nggak lucu, karena memang kurang persiapan,'' lanjut Lutfi.

Dalam keseharian, Djadi sering bertingkah konyol. Tingkah itu terus berlanjut meski sudah menikah. Waktu itu, Djadi belum pernah merasakan durian. Kebetulan, di rumah mertuanya ada buah durian. ''Buah itu dimakan Djadi. Kaget enaknya rasa durian, Djadi langsung menelepon saya. Djadi bilang, aku baru ngrasakno enake duren. Aku mari mangan, nyolong nggone mertuaku,'' katanya.

Pelawak senior Kartolo juga memberikan kesan. Saat berjalan ke panggung, Djadi memberikan komentar pada guru lawaknya itu. ''Ini adalah pelawak senior yang sangat kondang dan sudah melanglang buana ke berbagai panggung. Guru dari banyak pelawak dunia,'' katanya. Kartolo perlahan mendekatinya.''Iku lambe opo kitiran,'' katanya.

Kartolo mengaku bangga dengan peluncuran buku tersebut. Sebab, itu langkah bagus bagi seorang pelawak. ''Saya juga mau meluncurkan buku. buku utang piutang,'' katanya disambut tawa.

Judul Neraka Wail dan Kue Terang Bulan itu, menurut Djadi, diambil dari pengalamannya. Saat masih muda, kakeknya melarang jadi pelawak. ''Dia bilang, mosok koen mudun masjid mari ngono ndagel,'' katanya.

Djadi disuruh berhenti melawak. Tapi, dia tetap melawak. Pernah, dia melawak ketahuan kakeknya. Djadi dimarahi, bahkan dipukuli. ''Wong sing ndagel iku panggone nang neroko wail. Aku gak gelem nduwe putu nang neroko wail,'' kata Djadi menirukan ucapak kakeknya.

Tapi, dia punya kiat. Tiap kali melawak, dia menyelipkan pesan-pesan dakwah. Suatu ketika, dari honor melawak dia belikan kue terang bulan. Suatu pagi, dia suguhkan kue tersebut sebagai teman minum kopi kakeknya. Sang kakek pun menghabiskan kue tersebut.

''Koen tuku terang bulan duweke oleh teko endi,'' tanya kakeknya. Djadi menjawab dari hasil melawak. Sebelum kakeknya marah, Djadi memeluk kakeknya dan berjanji, tiap kali melawak dia akan menyelipkan pesan-pesan dakwah. (aga/cfu)

Jawa Pos [Sabtu, 20 September 2008]