Friday, 23 October 2009

mereka bergelimpangan di halamanku

lihatlah mereka bergelimpangan di halamanku
ada yang ngathang-athang ada yang meringkuk
dengan wajah mabuk
yang mereka banggakan
dan mereka kira: mabuk cinta
padahal mereka hanya mabuk kata-kata


lihatlah mulut mereka berbusa-busa: umpluk katakata

ada yang mirip sajak
ada yang mirip teori
ada yang mirip mantra
dan ada pula yang mirip petuah sang bijak

mereka lewati malam yang riuh
dan siang yang gamang
dengan langkah gontai
jatuh bangun silih berganti

sedang para pecinta sejati
di kejauhan menari-nari

mereka yang bergelimpangan di halamanku ini
: mabuk katakatanya sendiri

Thursday, 15 October 2009

KBJ 2009 di Bojonegoro

Akan digelar di Wana Wisata Dander, di Desa Dander, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. "Kegiatan ini diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk peserta dari luar negeri, Australia," kata Ketua Panitia Penyelenggara Kemah Budaya Jawa, JFX. Hoery, didampingi panitia lainnya, M Chuzaeni, Kamis.

Dia menjelaskan, pelaksanaan KBJ 2009 ini, merupakan langkah yang strategis bagi Indonesia. Alasannya, belakangan ini mencuat berbagai kasus kesenian mulai Reog Ponorogo, Batik dan terakhir Tari Pendet yang diklaim milik Malaysia.

Disamping itu, KBJ sekaligus untuk menyongsong diselenggarakannya kongres bahasa Jawa ke-5 tahun 2.011 di Jawa Timur. "Dengan adanya kemah budaya Jawa ini, menunjukan kepedulian masyarakat Jawa atas kesenian hasil karya nenek moyangnya masih tinggi," katanya menjelaskan.

Dalam KBJ selama tiga hari tersebut, akan diisi dengan berbagai kegiatan mulai sarasehan membedah huruf Jawa dengan narasumber guru besar filsafat Universitas Gajahmada, Prof Damardjati Supadjar dan KRT Sutrimo.

Selain itu, juga digelar sarasehan bahasa Jawa pesisiran, dengan narasumber dosen Unesa Surabaya, Sugeng Adipotoyo dan sastrawan Jawa asal Bojonegoro, Djajus Pete.

Sarasehan lainnya yakni masa depan budaya dan bahasa Jawa, hingga penampilan berbagai kesenian lokal Bojonegoro dan pameran budaya Jawa.

Dengan adanya KBJ ini, mampu menumbuhkan semangat kebersamaan untuk tetap mempertahankan kesatuan dan persatuan dengan keanekaragaman suku yang ada di Indonesia, katanya berharap. []

Wednesday, 14 October 2009

Asu Animalenium

Bonari Nabonenar

Tak urung Antini terkejut juga ketika suaminya mengatakan bahwa dia benar-benar akan berangkat ke luar negeri. Padahal sebenarnya sudah sejak dua tahun lalu berkali-kali suaminya mengatakan keinginannya itu. Benar-benar ngewuhake. Betapa akan bangganya dia nanti saat suaminya berhasil mendapatkan gelar doktor dari universitas terkenal di luar negeri, dalam usianya yang begitu muda. Tetapi betapa pula beratnya beban yang harus mereka sandang ketika harus dipisahkan jarak yang tak terkirakan jauhnya, untuk jangka waktu sekian lama nanti? Mungkin saja suami Antini sendiri tak akan merasakan hal itu sebagai masalah besar, sebab kegilaannya pada studi yang ditekuninya selama ini seperti menenggelamkan yang lain-lain.


Tetapi akhirnya Antini merelakan juga, dan bahkan memberikan dukungan dengan caranya sendiri untuk keberangkatan suaminya ke negeri seberang. Dia sudah tiga kali menemui Mbah Ndemo.

"Iya, lho, Jeng. Pagar itu perlu. Untuk keselamatan kita semua," kata Bu Dewi, ketika pertama kali menyarankan kepada Antini untuk pergi ke orang pintar. Untuk meminta "pagar" buat suaminya yang akan dilepas ke tempat yang jauh itu.

"Tapi kita harus memagari diri juga, lho. Dengan begitu pertahanan dan keamanan kita semakin kokoh, dan kita tidak perlu khawatir oleh ancaman terhadap persatuan dan kesatuan kita, terhadap keutuhan rumah tangga kita. Dengan demikian kita tidak perlu lagi mengkhawatirkan bahaya disintegrasi itu." Begitu ceramah Bi Ida yang penyiar radio itu dengan gaya dibuat-buat, bagaikan seorang orator kehujanan.

"Mas, apa sampeyan nanti tidak kesepian?" tanya Antini sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.

"Jangan khawatir. Aku akan punya banyak tugas dan pekerjaan yang akan sangat ampuh untuk membunuh kesepian itu."

"Alaaaaa…….seperti enggak tahu aja! Biasanya sampeyan kalau sedang banyak tugas, sedang sibuk, tegangannya malah makin tinggi saja!"

"Szzhxhpmmmffzh…." Mereka berciuman. Dan Dodi, suami Antini itu, kini benar-benar telah terpancing. Dibopongnya isterinya, dibawanya masuk ke kamar dan direbahkan di atas ranjang. Melihat isterinya telentang, Dodi seperti kesurupan. Mulailah dia menari. Lebih tepatnya, mereka. Mereka menari. Bagaikan dewa-dewi. Menari-nari, dalam irama surgawi. Begitulah biasanya. Maksudnya, kebiasaan mereka. Pembicaraan selalu putus, terpotong di tengah ranjang.

Bagi mereka adalah omong kosong bahwa persoalan suami-isteri akan selesai di atas ranjang. Untuk persoalan "itu" memang ya. Tetapi yang lain-lain tidak.

"Mas?"

"Hm…."

"Nah, kan….?"

"Apa?"

"Sampeyan kok bilang mau mengatasi kesepian. Dengan kesibukan, dengan ….gombale mukiya!"

"Sudahlah. Jangan khawatir. Kita, kan ada komputer. Nanti kita pasang internet. Sebelum berangkat, aku akan mengurusnya ke ISP. Dengan internet kita akan dapat bertemu setiap saat. Jangan lagi khawatirkan kesepian itu."

Maka Dodi pun berangkat ke negeri seberang. Dan isterinya, Antini, tetap tinggal di perumahan Asri Estat bersama putrinya yang masih balita, dengan seorang emban, batur, babu, pembantu rumah tangga, atau apalah namanya, wanita 50-an tahun yang biasa dipanggil Mbok Nem.

Mula-mula Antini hanya menggunakan fasilitas IRC di internet itu, untuk ngobrol dengan suaminya, menumpahkan kerinduan, dan lebih-lebih untuk memastikan bahwa pada waktu-waktu luang suaminya tidak ke mana-mana. Tetapi kemudian Antini dapat kenalan baru, dapat lagi kenalan baru, dapat lagi, dapat lagi. Ada yang dari benua lain, ada yang dari negeri tetangga, tapi banyak pula yang tinggal sekota dengan Antini.

Mereka, para kenalan baru Antini itu, adalah orang-orang kesepian. Ada yang mengaku masih perjaka, ada yang mengaku duda, dan bahkan ada pula yang mengaku punya isteri tetapi tanpa tedeng aling-aling mengemukakan niyatnya untuk mencari pasangan selingkuh! Dari para kenalan baru itu Antini makin banyak tahu dan makin dapat mengoptimalkan fungsi internetnya. Antini bahkan kini telah memiliki home-page sendiri, memiliki lebih dari 5 buah e-mail. Antini tahu sekarang, bahwa internet ternyata lebih ajaib dan lebih sakti daripada Cupu Manik Astagina, yang konon dapat digunakan untuk menerawang dunia, dan bahkan untuk memanggil para dewa, tetapi yang kemudian membuat Anjani bersaudara berubah ujud jadi kera itu.

Semakin hari Antini semakin asyik dengan dunianya yang baru. Bersama internetnya, tak siang tak malam, dia akan menjelajahi dunia maya. Dunia tanpa batas. Sekarang, jika suaminya beralasan sibuk dan tak dapat menemaninya chating, Antini akan lebih senang. Sungguh, benar-benar sakti, internet itu. Hanya dalam hitungan bulan, belum genap 5 bulan, Antini telah berubah menjadi lain. Lain sekali. Beda sekali dengan Antini yang Nyonya Dodi 5 bulan lalu. Jika paling banter kemarin-kemarin Antini hanya kenal olah raga tenis, kini bermain golf-pun tak lagi canggung, dia!

Tengah malam dia kirim e-mail ke suaminya, mengatakan bahwa keesokan harinya akan menjenguk orang tuanya di Trenggalek sana, tetapi pagi-pagi sekali dia justru berangkat ke bandara. Seorang lelaki perlente telah menunggunya. Sebentar kemudian Antini-pun terbang. Bersama dewa barunya. Ke surga! Dia akan menari, seperti bidadari berselendang sutera. Para dewa mabuk. Dan Antini semakin kesurupan, seperti penari kuda lumping yang ditinggalkan jurugambuh-nya. Akan terus menari. Menari terus, hingga mampus!

Ketika siuman, Antini menjerit lirih. Dia terkejut. Rupanya dia sadar telah terlempar dari surga. Kini dia terkapar di sebuah kamar sebuah hotel bintang lima. Di kota yang lain. Dengan lelaki yang lain. Aroma kembang dan bau dupa yang semerbak dalam mimpinya, atau lebih tepatnya pada saat dia menari-nari kesurupan tadi, kini tak ada lagi. Yang tersisa hanyalah bau keringat dan ompol lelaki mabuk di sampingnya. Sangat menyengat.

"Diamput! Mas Dodi tentu telah melakukannya pula."

Pulang. Setiba di rumah, hal pertama yang dia lakukan adalah cek e-mail. Yang dia buka pertama adalah e-mail di mailcity.com. Ada sebuah e-mail dari seseorang dengan alamat: damarwulan@u... Begini isinya:

"Tin, semoga kau baik-baik selalu. Kapan kita bisa bertemu? Ayolah. Ini sudah milenium baru. Atau kau memang sengaja mempermainkanku? Aku sudah menunggumu, dari minggu depan hingga bulan depan, lalu tahun depan. Kini abad yang akan datang kemarin, bahkan milenium yang akan datang itu benar-benar telah datang. Ayolah, Tin. Menarilah bersamaku. Ayo! Aku punya tarian milenium, yang harus kauyakini jauh lebih indah daripada jurus-jurus dewa mabuk seperti yang pernah kauceritakan itu. Ayolah, Tin. Ya...?"

Antini tertawa. Agak kecut, sebenarnya. Dia ingin menyesal tapi tak bisa, atau yang lebih tepat adalah: belum bisa. Mau bangga, mau senang, tak bisa juga.

Tapi dia penasaran juga sebenarnya, dengan laki-laki yang mengaku bernama Ramses, yang menggunakan alamat e-mail damarwulan@u... itu. Laki-laki itu sudah mengirimkan beberapa fotonya ke Antini. Jika foto-foto itu adalah foto-foto orang yang lain, atau memang fotonya, tetapi bukan yang terbaru melainkan foto terlama, itu soal lain. Tapi dari suaranya di telepon,

Antini yakin bahwa Ramses tentu segagah fotonya. Yang disayangkan Antini hanyalah bahwa Ramses orangnya tidak cak-cek seperti kebanyakan laki-laki lainnya. Kurang agresif. Maka segeralah Antini membalasnya dengan menantang untuk bertemu di rumah. "Kalau mau jangan tunggu aku. Tapi datanglah ke rumah. Kini aku yang menunggumu. Berangkatlah dengan penerbangan pertama esok. Soalnya kita hanya punya waktu sampai lusa, ketika pembantu dan anakku akan datang bersama kedua orang tuaku dari desa. Oke?"

Keesokan harinya, mereka benar-benar bertemu. Gelas sudah disiapkan. Anggurpun segera dituangkan. Lalu mereka menari. Berdua. Mereka larut, benar-benar larut dalam gerak tarian yang oleh Ramses disebut sebagai tarian milenium itu, yang pada ujung-ujungnya tak beda jauh dengan kuda lumping. Kesurupan juga! Mereka masih klenger ketika bel tamu berbunyi.

Antini siuman lebih dahulu. Dan segera membuka pintu. Dia hampir kembali klenger ketika melihat seekor anjing bertopi di depannya, dengan mata menyala tajam, meringis, menampakkan gingsul suaminya. Anjing itu mengenakan jean dan t-shirt warna cerah. Baik pada t-shirt yang dikenakan maupun pada lap-top yang ditenteng anjing itu, Antini melihat identitas perguruan tinggi tempat suaminya melanjutkan studinya. Antini punya seribu pertanyaan yang berebut dulu diucapkan. Tapi tenggorokan Antini seperti tersumbat. Ketika dia berhasil membuka mulut, yang keluar justru hanyalah suara: "Hugh...hug...hug....!!!!!" []


Pernah dimuat Jawa Pos awal tahun 2000

Saturday, 3 October 2009

Harapan Baru Seniman Jatim

Terjawab sudah pertanyaan: ’’Akankah Gubernur Jawa Timur yang baru, Pak De Karwo, melanjutkan tradisi silaturahmi dengan seniman, yang biasanya dilakukan menjelang Hari Raya Idul Fitri oleh pendahulunya, Imam Utomo.’’ Sejumlah 300 seniman menerima tali asih, 9 September 2009 di Graha Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim Jl Wisata Menanggal Surabaya, dalam rangkaian acara Silaturahmi Gubernur dengan Seniman itu. Saya ikut menerima taliasih itu, bahkan beruntung dipilih di antara teman-teman yang berkesempatan mewakili seniman, dan berkesempatan langsung menerimanya dari Pak De Karwo. Ada hal baru dan ada pula yang hilang dalam tradisi tahunan ini.

Yang hilang, tampaknya adalah pemberian penghargaan bagi 10 orang seniman terpilih (dengan nominal hadiah uang masing-masing Rp 10 juta). Atau, penghargaan itu akan diberikan nanti dalam rangkaian acara Hari jadi Jawa Timur? Sebenarnya, taliasih itu dapat pula dipandang sebagai penghargaan. Tetapi, karena biasanya ada yang lebih dari itu, tetaplah ada yang terasa hilang. Panitia tampaknya juga tidak sempat merilis berita mengenai perubahan besar tersebut. Salah satu kibatnya, salah seorang kawan yang terpilih di antara 10 orang seniman penerima langsung taliasih dari Gubernur itu segera menelepon saya setibanya di rumah. ’’Eh, ternyata kita tadi hanya menerima taliasih biasa ya?’’ Ndilalah memang, seniman yang menerima taliasih secara simbolik, meminjam istilah Panitia, jumlahnya 10 orang pula, mewakili bidang: musik, rupa, teater, tari, sastra, seperti jumlah penerima penghargaan Rp 10 juta tahun-tahun sebelumnya.

’’Lha rak bener ta? Kalau mau diberi penghargaan yang Rp 10 jutaan itu kan tidak ditunjuk langsung pada hari pelaksanaan seperti itu? Mesti ada proses pendataan, nominasi, dan pemilihan oleh tim juri,’’ jawab saya.

Acara protokolernya pun agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setahu saya, dalam tradisi sebelumnya, ada panitia khusus dan tim juri yang dibentuk untuk menentukan siapa seniman Jatim yang akan mendapatkan penghargaan dan siapa saja yang akan diundang untuk menerima taliasih. Lalu, pada acara pelaksanaannya, Ketua Panitia ini menyampaikan pidato laporan di hadapan Gubernur dan segenap udangan. Kali ini, Laporan Ketua Panitia itu tidak ada. Belum jelas, apakah jadwalnya memang seperti itu, hanya ada sambutan dari wakil seniman, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, disusul Sambutan Gubernur setelah selingan musik, ataukah terlupakan seperti halnya Sidang Paripurna DPR yang tanpa Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Saya malah baru membaca Sambutan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur melalui Facebook sepulang saya dari acara tersebut.

Kali ini yang memberikan sambutan pertama adalah seniman ludruk Agus Kuprit sebagai wakil dari seniman penerima taliasih, yang kemudian diikuti para pelawak: Bambang Gentolet, Kancil Sutikno, Kenthus, dan Eko Kucing. Mereka menyegarkan suasana, tetapi kemudian terasa terlalu banyak mengulang-ulang kalimat bahwa taliasih ini sangat membantu (perekonomian) seniman dan berharap tradisi ini dilanjutkan pada tahun-tahun yang akan datang. Terekesan nyinyir. Kenyinyiran itu kemudian seperti tumbu entuk tutup ketika ’Panitia’ melalui pembawa acara menyebut acara pemberian taliasih ini sebagai ’’Program Pemberdayaan Seniman.’’ Secara maknawi, memang tak salah bahwa semua itu memberdayakan seniman. Tetapi, ketika mendengar istilah ’pemberdayaan’ dalam konteks pemberian taliasih itu kok telinga jadi agak risi ya? Memang, program ini adalah bukti kebagikan Gubernur, kebaikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang sulit ditemukan di daerah lain. Bahkan, imbauan Gubernur Imam Utomo pada tahun-tahun sebelumnya agar tradisi Pemerintah Provinsi ini diikuti dengan program serupa di tingkat kabupaten/kota (mengingat yang diakomodasi Pemprov baru 300-an seniman) tampaknya juga ditanggapi sepi.

Sekadar mengingatkan, di balik kegembiraan 300 orang seniman penerima taliasih itu sebenarnya ada hal yang mengganjal, dan sayangnya tidak sempat disampaikan Agus Kuprit dan kawan-kawan itu, yakni: tergencetnya akses seniman Jatim terhadap ruang ekspresi bernama Taman Budaya Jawa Timur yang akibat PP 41 kini lebih diperuntukkan bagi kegiatan seni (pendidikan) para siswa, guru, dan sejenisnya. Kita jadi bertanya-tanya, misalnya: apakah Festival Cak Durasim masih akan berkesinambungan, apakah Pemerinbtah Provinsi Jawa Timur sudah memikirkan untuk membangunkan ruang ekspresi yang layak bagi senimannya. Bahkan, Festival Seni Surabaya pun mulai absen. Keprihatinan ini tak hanya lupa dilontarkan Agus Kuprit dkk, bahkan tidak tertera pula pada Sambutan Ketua Dewan Kesenian Jatim versi Facebook itu.

Sama-sama terkena dampak PP 41 mestinya, tetapi belakangan ini saya beberapa kali mengunjungi Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (dulu: Taman Budaya Surakarta), dan melihat masih padatnya jadwal acara kesenian seperti: Temu Penyair 7 Kota, Mengenang Rendra, Pentas Teater (bukan teater pelajar), dan lain-lain. Di wilayah pengembangan wacana, di Solo juga belum lama ini dibuka Balai Soedjatmoko, yang agendanya juga padat. Jawa Timur masih mengandalkan Galeri Surabaya yang tampaknya kini lebih banyak diisi pameran seni rupa. Dulu ada lembaga Kajian Budaya Jawa Pos, sayangnya tak tahan lama.

Kesimpulannya, Jatim boleh bangga dengan tradisi pemberian taliasih bagi seniman itu, dengan pertanyaan: mengapa kali ini mulai minus ’penghargaan sepuluh jutaan-nya, dan bersedih karena masih saja miskin ruang ekspresi dan pengembangan wacana (diskusi publik).

Diajak Bicara
Di balik keprihatinan itu menyeruak harapan baru tatkala Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo alias Pak De Karwo melontarkan gagasanya untuk memberi seniman Jatim asuransi kesehatan. Saya kira itu mesti dilihat sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap seniman. Apalagi jika dana asuransi itu dapat dicantolkan di APBD, dan bukannya diminta-mintakan dari perusahaan (Corporate Social Responsibilty) seperti dinyatakan kepada salah satu media oleh Ir Hadi Pasetyo, ME, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur. Tentulah harapan seperti itu tidak akan berlebihan jika benar seniman dipahami sebagai penjaga nilai pada identitas dalam berbangsa dan bernegara. Disantuni oleh negara tentu lebih membanggakan daripada disantuni perusahaan, apalagi oleh perusahaan asing. Atau bahkan negara lain!

Yang tak kalah menariknya adalah perintah Gubernur kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata agar seniman diajak bicara. ’’Ini perintah, bukan imbauan, agar para seniman diajak bicara,’’ tandas Pak De Karwo. Yang dimaksudkan tentu adalah pembicaraan-pembicaraan yang berkait dengan kebijakan di bidang kesenian/kebudayaan.

Pandangan pemerintah akan pentingnya mengajak bicara para seniman, secara personal/institusional tentulahm menggembirakan. Jika instansi terkait merasa selama ini sudah melibatkan seniman dalam pembicaraan-pembicaraan, ’perintah’ Gubernur itu mesti dimaknai agar kualitas pembicaraan itu ditingkatkan. Jangankan di tingkat daerah, pada tataran nasional pun komunikasi seniman dengan pemerintah tampak cukup buruk. Lihatlah, ketika terjadi persoalan dengan negara jiran menyangkut karya seni kita, Pemerintah terkesan gagap mereaksi, dan masyarakat, termasuk seniman bereaksi dengan berbagai cara yang kadang malah saling bertabrakan.

Saya punya pengalaman cukup menarik ketika jadi pengurus harian (Komite Sastra) Dewan Kesenian Jawa Timur. Selama hampir 5 tahun itu seingat saya baru sekali-dua kali ada institusi pemerintah yang mengundang Pengurus Dewan Kesenian berdialog untuk merumuskan kebijakan. Sama-sama memiliki label ’Dewan’ pun, jangankan diundang, Dewan Kesenian Jatim harus mengirimkan permohonan dan menunggu sampai dikabulkan agar dapat berbicara di hadapan anggota DPRD Jatim.

Yang agak lucu lagi, suatu hari Dewan Kesenian Jatim mengirimkan permohonan untuk menghadap dan berbicara di hadapan seorang kepala Dinas. Permohonan itu dikabulkan, dan berbondong-bondonglah Ketua Dewan kesenian Jatim beserta segenap pengurus hariannya. Acara dimulai, dan kalau saya taksir, kira-kira perbandingan porsi berbicaranya adalah: 5 % untuk Dewan Kesenian Jawa Timur dan 95 % untuk Sang Kepala Dinas. Jadi, isi surat permohonannya adalah agar dapat berbicara, mengajukan usulan-usulan untuk diprogramkan, dan yang terjadi kemudian malah lebih banyak jadi pendengar. Itu pada kepengurusan Dewan Kesenian Jawa Timur periode yang telah lewat. Semoga yang sekarang tidak separah itu. Begitulah harapannya. []