Tuesday, 7 September 2010

LEBARAN

LEBARAN [1]

"kau datang ketika aku bersuka
ketika aku dirundung duka
di manakah kau berada?"


LEBARAN [2]

ini lebaran pertamaku
tanpa kartu merahjambu
...tanpa baju dan sarung baru

ini lebaran pertamaku
tanpaisak tanpasedu

LEBARAN [3]

kau datang dengan muka layu
tersedu meminta maafku
...sambil mengingatkan bahwa dahulu
begitu tega kau menyakitiku

LEBARAN [4]

makin banyak te-ha-er
makin lebaran
makin banyak uang
...makin lebaran
--demikianlah tuan tanah punya pikiran

LEBARAN [5]


pulang kambung
mudik lebaran
...mendapati bebukitan
yang dulu hutan
adi ladang singkong dan sayuran

dan sesunguhnya manusia telah menerima apa adanya
dunia sebagai ladang mereka
yang telah dipasrahkan tuhan seutuhnya
untuk dikuasai sepenuh-penuhnya


LEBARAN [6]

saling memaafkan
tak selalu berkaitan dengan
...tinjauan kembali atas perceraian
:
sebab boleh dibayangkan
betapa sibuknya kantor urusan
hubungan lakilakiperempuan
saat lebaran


LEBARAN [7]

bagaimana kita meminta maaf
kepada bukit ranggas
dan kalimati

bagaimana kita meminta maaf
kepada hutan perawan yang bertahun kita gagahi
dan melahirkan anak-anak pengungsi

bagaimana kita meminta maaf kepada langit
yang tak henti kita bisingi
dengan lantunan ayatayatsuci
yang kita sunati di sana-sini

2010

LEBARAN [8]

berapa keping recehan dicecerkan rang kota
di kampung-kampung saat lebaran
sebelum mereka kembali mengusung
perempuan-perempuan lugu
dan lakilaki perkasa
--sedang aku dengan sukarela
membetot diri ini dari desa
tercinta




LEBARAN [9]

tahu salah dan meminta maaf menunggu lebaran
seperti terkilir hari ini dan dipijetke tahun depan


LEBARAN [10]


si kuncung pun berlebaran dengan gembira
ia senang dengan baju barunya
walau sarungnya usang dengan sedikit tambalan
’’berbahagialah nak
walau baru bisa berlebaran setengah badan’’


LEBARAN [11]

mari kita rayakan
hari kemenangan
agar bisa sabar menikmati
hari-hari kekalahan


2010

Thursday, 2 September 2010

Srigunung

Dari sri (asri = baik, indah, atau apa ya?). Gunung? Lah gak ngerti gunung ya kebacut tenan. Inilah juga salah satu bukti kehebatan orang Jawa mencipta kata/ungkapan. Begitu puitisnya, begitu sastrawinya. Itu baru kata bentukannya. Belum kalimat, belum pupuh tembangnya. Srigunung adalah kata (ungkapan) untuk menyebut sesuatu yang tampak memesona jika dipandang dari kejauhan. Nah, seperti itulah gunung. Kalau dipandang dari jauh, tampak hijau, atau biru, sangat menawan. Tetapi datangilah, dakilah dan kau akan terpesona pula oleh pemandangan di kejauhan. Keindahan yang semula kita tangkap ada pada gunung itu seperti lenyap entah ke mana.

Kadang saya hanya bisa mesem saat membaca status kawan-kawan yang status aslinya masih jomblowati atau jomblowan. Maksudnya, belum menikah, atau bahkan belum punya pacar. Misalnya, ada yang menulis begini, ’’Duh Arjunaku, di manakah engkau berada kini? Segeralah kita dipertemukan, dan engkau akan kurawat dengan penuh kasih, dan takkan kubiarkan engkau lecet barang sedikit pun. Kan kupakaikan sepatumu, kupijit punggungmu, dan kubuatkan kopi sebelum kau memintanya. Kalau kau pulang terlambat, aku akan sabar menunggu di rumah dengan wangi perempuan yang kalau bisa pun tak kan kubiarkan menguap bersama angin malam….’’ Duh, kok panjang banget? Itu status atau catatan? Hehe. Lah, emang statusnya 7 orang dirangkum jadi satu, kok! Terus, apa hubungannya dengan srigunung?

Mereka, para jomblowan dan jomblowati sering melihat bahwa punya suami/istri itu sebegitu indah, enak, nikmat, membahagiakan. Padahal, kenyataan membuktikan: tidak selalu begitu. Contoh lain: Ketika kita duduk di TK, betapa besar rasa cemburu kita kepada mereka yang sudah di SD, apalagi SMP, dan seterusnya. Ketika kita di bangku kelas satu, betapa cemburu kita menyaksikan para senior kita di kelas 2 dan seterusnya. Ketika kita kelas 2, kita sebegitu cemburu kepada kelas 3. Ketika kita naik pit onthel, kita cemburu kepada mereka yang naik motor. Ketika kita merasakan naik motor, kok, sepertinya tak ada lagi yang istimewa, ya? Maka kita cemburu kepada mereka yang bermobil.

Ketika kita mulai menyenangi puisi, betapa sambil menikmati sebuah puisi di majalah atau suratkabar rasa cemburu itu tumbuh: ’’Betapa gagahnya aku jika puisiku termuat di sini!’’ Lalu, pada suatu waktu ketika berhasil menampangkan puisi di situ, …kita memang sempat mengalami semacam euphoria. Tetapi itu tak bakal berlangsung lama.

Dan kita sesungguhnya hanya akan terombang-ambing dari puncak derita yang satu ke puncak derita yang lain. Derita karena kecemburuan itu. Derita karena Srigunung itu. Sampai kita menyadari bahwa usia telah tanpa ampun mengganyang kegagahan fisik kita. Dan sempurnalah penderitaan itu jika orang menganggap kita telah menjadi tua dan diama-diam masih tumbuh rasa cemburu kita kepada yang muda. [Bonari Nabonenar]

TIKUS DI PERUT SAYA

:sambil mengenang nyawa manusia
yang dipermainkan manusia lainnya


ini kisah nyata
tentang tikus sebenar-benarnya
tempatnya pun hanya di sebuah rumah
dekat sawah
jauh dari mewah
dan pangkal pohon mangga

seekor tikus sebenar-benarnya
masuk perangkap kemarin agaknya
semalam ketahuannya
baru pagi ini saya hendak mengeksekusinya
di bawah pohon mangga
seperti tiga ekor pendahulunya
yang sekarang sudah almarhum semua

seekor tikus sebenar-benarnya
di dalam perangkap di rumah saya
pagi ini jadi setengah lusin jumlahnya
lima ekor indhil-indhil merah semua
agaknya semalam mereka dilahirkan
dari dalam perangkap
tangis mereka merayap
menyergap telinga

dan serta-merta grasi pun saya berikan
dengan sukarela
tanpa tekanan
apalagi paksaan
karena sejahat-jahat saya
kebinatangan pun harus beradab

sungguh saya tak tahan
menatap wajah mereka
berlama-lama
dan karenanya saya lebih memilih risiko
didakwa menyebarkan kebohongan
hanya karena tidak bisa menunjukkan
: foto mereka

dengarlah tangisan itu
kini berubah menjadi tawa
di tingkah suara lagu gembira
dari bawah pohon mangga:

kami beruntung kamu sudi melahirkan kami
membuat kami bisa bicara bahkan bernyanyi
kami binatang dan kamu manusia
tapi kita punya tuhan yang sama


padahal aku hanya tak mau muntah
atau membiarkan mereka berlama-lama
di dalam perut saya


1 September 2010