Sunday, 21 December 2008

Kado Tahun Baru bernama Kabar Baik


Ada kabar baik bagi calon BMI dan calon BMI yakni mulainya diterapkan pelayanan satu pintu untuk proses keberangkatan ke luar negri. Tetapi, bukankah kita sudah kenyang dengan kabar baik dan kenyang pula dengan kenyataan yang tidak baik?

’’Layanan Satu Pintu, Hadiah Tahun Baru Bagi TKI,’’ demikian sebuah judul berita versi detik.com (Rabu, 17/12/2008 23:20 WIB). Seperti dalam berita yang juga diturunkan Intermezo edisi ini (diambil dari: www.bnp2tki.go.id) kalimat judul itu dikutip dari pernyataan Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat, ’’Peluncuran ini merupakan hadiah tahun baru bagi TKI. Dengan hadirnya sistem Layanan Terpadu Satu Pintu, TKI dan calon TKI di NTB akan dimudahkan dalam pengurusan dokumen pemberangkatan ke luar negeri, melalui cara yang cepat, aman, murah, serta tidak birokratif,’’ jelas Jumhur Hidayat kepada wartawan.’’

Pernyataan Pak Jumhur itu sangat indah. Tetapi, sayangnya, pengalaman membuktikan bahwa kalimat-kalimat indah semacam itu lebih sering menimbulkan kegetiran, kejengkelan, dan rasa tidak enak campur-aduk di kemudian hari. Mari kita simak kalimat-kalimat sejenis ini: ’’Setelah konversi minyak ke gas, dijamin gas akan lebih mudah didapat dengan harga yang lebih murah daripada minyak.’’ Juga kalimat ini, ’’Kelangkaan elpiji pekan ini dijamin akan berakhir Selasa yang akan datang.’’ Yang terakhir itu adalah kalimat yang ’’sangat cerdas’’ tetapi juga berpotensi membingungkan, karena adanya kata-kata ’’akan berakhir’’ bersanding dengan ’’Selasa yang akan datang.’’ Karena, ’’Selasa yang akan datang’’ itu hanya bisa berakhir setelah terjadi kiamat. Lha, kalau kita sudah sampai pada hari Selasa dan ternyata elpiji masih langka, kan memang jaminannya adalah: ’’Selasa yang akan datang,’’ dan bukannya ’’Selasa hari ini.’’

Cak Kartolo pun layak marah jika mendengar permainan kata semacam itu dilakukan oleh pamong praja, pejabat, karena ia jelas lebih berhak membanyol seperti itu.

Ada lagi yang sesungguhnya juga sangat penting untuk kita bahas, yakni keberadaan terminal khusus bagi BMI di bandara kita, yang ada di Cengkareng itu, misalnya. Ini tidak ada kaitannya dengan keadaannya sekarang bagaimana dan nanti akan seperti apa. Pada saat yang sama Pemerintah memandang keberadaan terminal khusus itu sebagai bentuk layanan istimewa terhadap para pahlawan devisa-nya, sedangkan si ’’pahlawan devisa’’ sendiri sering mengaku justru mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan di terminal khusus itu.

Sebenarnya sangat perlu pula di HK ini digelar jajak pendapat dengan pertanyaan menyangkut keberadaan terminal khusus itu, untuk mengetahui apakah keberadaannya: [a] memudahkan, [b] menyengsarakan, [c] biasa-biasa saja, dan seberapa banyak BMI-HK yang menghendaki agar terminal khusus itu: [a] dipertahankan, [b] dihapus.

Kita kembali ke pernyataan Pak Jumhur bahwa dengan pelayanan satu pintu itu BMI ’’…akan dimudahkan dalam pengurusan dokumen pemberangkatan ke luar negeri, melalui cara yang cepat, aman, murah, serta tidak birokratif.’’

Ada rumusan ’tujuan’ dalam kalimat itu yang dalam ilmu mengajar disebut sebagai rumusan yang tidak operasional. Ambil contoh tentang ’aman.’ Aman yang seperti apa? Bukankah orang sering mengatakan bahwa kampungnya aman hanya karena di sana tidak terjadi pembunuhan, sementara pencurian, kekerasan terhadap anak, dan kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi? Juga mengenai ’murah.’ Kalau mau jelas, murah itu berapa? Sekarang berapa, dan setelah ada Layanan Satu Pintu nanti akan jadi berapa? Ini kan belum jelas!

Lha, kapan le jelas?

REDAKSI
piye?:

0 urun rembug: