Thursday, 30 December 2010

2010: TAHUN PENUH TANDA TANYA

pitakone suta marang naya
: kowe melu sapa?
pitakone buruh marang juragan
: kapan kowe dhamang
ajine kringet lan kamardikan?



Kowe melu sapa? Kamu ikut siapa? Itu pertanyaan yang sangat sederhana. Apalagi jika hanya berkaitan dengan keberangkatan sebuah rombongan darmawisata. Tetapi, lalu menjadi rumit ketika menyangkut pilkada, pilkades, pileg, dan pil-pil lainnya. Apalagi jika kemudian berujung tawar-menawar dan jual-beli suara. Dan dari pertanyaan sederhana itulah tumbuh perkara yang terus membesar dan semakin runyam.

Pertanyaan berikutnya: pertanyaan buruh kepada sang majikan: kapankah kau akan paham harga keringat dan kemerdekaan? Saya pun tidak punya penjelasan yang baik untuk pertanyaan ini, yang gaungnya terus menggema, bahkan di kota kita ini.

Mengapa Malaysia yang tidak memiliki gunung berapi itu seolah tanahnya lebih subur dan rakyatnya lebih makmur daripada negri kita yang nyaris dipenuhi gunung berapi? Mengapa pula negri jiran yang jumlah penduduknya hanya 27 sekian juta jiwa itu memiliki kesebelasan yang lebih berjaya dibandingkan negri kita yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa? Apakah karena mereka menyurangi kesebelasan kita dengan sinar laser dan kesebelasan kita lupa memakai kacamata hitam?

Daftar pertanyaan ini bisa kita perpanjang sampai esok, atau lusa. Dan saya semakin tak tahu apa jawabnya, sampai kemudian saya teringat, pada suatu hari seorang Suparto Brata menawarkan ini: ’’Mas Bonari, jika untuk keharmonisan dunia itu diperlukan tiga orang dewa, maka kita telah kehilangan salah satunya. Kita ini seperti tidak lagi memiliki Dewa Wisnu, dewa yang bertugas memelihara, merawat, dan menjaga.’’

Dua orang dewa lainnya adalah Dewa Pencipta dan Dewa Pemusnah, Syiwa dan Brahma. Mereka masih bersama kita. Karena itulah kita terus mencipta dan tak henti-henti memusnahkan. Gedung-gedung baru diciptakan, dan tak jarang pula dengan merusak gedung-gedung lama yang sesungguhnya lebih bernilai. Tarif listrik pun diciptakan yang baru, dengan merusak tarif yang lama.

Dalam dunia wayang, Dewa Wisnu itu biasanya mengejawantah pada sosok pemimpin besar, misalnya: Prabu Rama, Raja Ayodyapala, Prabu Kresna, Raja Dwarawati.

Nah, kini sampailah kita pada pertanyaan yang saya tahu jawabannya. Apa yang mesti kita lakukan ketika ’’Dewa Wisnu’’ itu tak karuan di mana tempatnya? Jawabannya adalah: Bermain cantik seperti Firman Utina dan (tobat) Nashuha beserta kawan-kawannya tadi malam itu. Ingatlah: bermain cantik, bermain cantik, dan bermain cantik. [bonari nabonenar]

Untuk parade kuliah kebangsaan di fisip unair, Kamis, 30 Desember 2010

Saturday, 18 December 2010

Lha Wong Istilahnya saja Kacau..!

Tanggal 18 Desember 2010 kemarin, seperti ditulis Wahyu Susilo dari Migrant Care (Kompas, 18/12) bertepatan dengan 20 tahun Konvensi Internasional untuk Perlindungan Buruh Migran dan Anggota Keluarganya. Sudah 20 tahun, dan Indonesia masih ’njintel’ saja, belum meratifikasinya!

Dalam tulisan berjudul Sesat Pikir soal PRT Migran itu Wahyu mendedah beberapa kesalahan (kesesatan) pola pikir ’Pemerintah’ mengenai profesi Pekerja Rumah Tangga (PRT) Migran. Antara lain Wahyu menulis, ’’Konstruksi sesat pikir yang terus dibangun oleh pemerintah adalah dengan menyebut PRT migran sebagai sebagai pekerja tak berketrampilan (unskilled) dan informal.’’

Apa yang disampaikan Wahyu Susilo itu sebenarnya hanya dapat ’dibantah’ oleh siapa yang hanya berpura-pura tidak paham. Jangankan di ranah yang lebih pelik, di tataran pemakaian istilah saja, harus diakui: masih kacau. Marilah kita catat bahwa hingga saat ini, bahkan di tataran bahasa, masih juga berlaku istilah TKI, TKW, yang diciptakan tanpa logika itu.

TKI adalah singkatan dari Tenaga Kerja Indonesia. Itu berarti semua manusia Indonesia usia produktif secara logis adalah TKI, bahkan walau ia menganggur. Maka, menyebut TKI hanya bagi tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di uar negri adalah tidak masuk akal alias tidak logis.

Ada lagi istilah TKW sebagai singkatan dari Tenaga Kerja Wanita. Ini, setidaknya mengandung 3 kesalahan: (1) diskriminatif gender, (2) seperti halnya TKI tadi, yang bekerja di Indonesia pun kalau jenis kelaminnya perempuan ia juga TKW kan, secara logis? Dan bahkan: (3) karena TKW dan bukan TKWI, maka sebenarnya semua perempuan atau wanita usia produktif yang sehat jasmani dan rohani adalah TKW, termasuk yang menganggur, tanpa memandang kewarganegaraan dan di mana mereka bekerja.

Di luar urusan pekerja atau buruh migran, sebenarnya kita juga punya cukup banyak masalah berkaitan dengan istilah yang mengandung: "wanita" --misalnya: ada Dharma Wanita dan tidak ada Dharma Pria, ada Wanita Tuna Susila, mengapa tidak ada istilah Pria Tuna Susila. Terutama untuk yang terakhir itu, de facto-nya ada banget, bukan?

Lalu, khusus untuk PRT, pemerintah menciptakan pula istilah PLRT, singkatan dari Penata Laksana Rumah Tangga. Haiya! Kok malah jadi sibuk membentuk istilah? Makin kacau, ada paradoks juga di balik sebutan ciptaan pemerintah, ’’Penata Laksana Rumah Tangga’’ itu. Ini istilah yang sangat gagah, yang mengesankan adanya pengakuan (oleh pemerintah) bahwa pekerja rumah tangga adalah profesi formal. Bukan informal. Kata ’penata’ itu segera menhgngatkan pada sebuah jenjang kepangkatan dalam kepegawainegerian: Penata Tingkat I dst, Penata Muda (untuk Golongan 3-A ?) –eh ada Penata Tua juga enggak ya?

Tetapi? Kembali seperti yang disebut Wahyu Susilo sebagai kesesatan pikir tadi itu, istilah-istilah itu seolah hanya diciptakan dengan semangat asal njeplak saja. Buktinya, bahkan di tengah-tengah masyarakat kita pun masih banyak yang berpikiran bahwa PRT bukan pekerja, melainkan hanya pembantu. Lho, gimana ta? Mosok pembantu kok mengerjakan lebih banyak daripada yang dibantu? Jan sontoloyo tenan kok! [ehek-ehek]


FOTO: YANY WIJAYA KUSUMA

Thursday, 9 December 2010

SELAMAT TINGGAL TAHUN PENUH LUKA

seperti biasa
kita akan menutup tahun ini dengan pesta
memeriahkan kesedihan dan ketakutan
atas hari-hari penuh kecelakaan dengan penyebab utama:
keteledoran manusia
dan kita menyebutnya sebagai bencana
seperti biasa
kita akan menutup tahun ini dengan bangga
membusungkan daftar hutang dan janji-janji belum terlunasi
sejauh mata memandang panjangnya
yang seperti biasa pula kita selesaikan dengan cara seksama
dengan menggali lubang yang lebih menganga
: luka lama ditutup dengan luka baru
atau dengan tablet penghilang rasa sakit

sebab kita tak pernah benar-benar berniat membasmi
penyakit kita sendiri

selamat tinggal tahun-tahun penuh luka
dan kita sambut tahun baru
: borok baru!

sebab memang biasanya kita selelu begitu


Desember 2010

Friday, 3 December 2010

TUKANG KOMUNIKASI YANG TIDAK KOMUNIKATIF

Dulu saya memulai belajar menulis dengan fiksi: puisi, cerita pendek. Setelah beberapa cerita pendek dan puisi berbahasa Jawa saya berhasil nampang di media cetak (majalah mingguan berbahasa Jawa) barulah saya mencoba-coba menulis esai.

Selama bertahun-tahun menjadi penulis yang tidak produktif (hanya sesekali menulis) saya tidak begitu mempersoalkan apakah tulisan saya bisa segera dimuat, mengantri sangat lama, atau lolos masuk keranjang sampah tanpa kabar.

Tetapi, sebuah cerita pendek berbahasa Jawa saya pernah menjadi masalah. Suatu hari orang-orang dekat saya: Tamsir AS (alm.), Ardhini Pangastuti dari Sanggar Triwida ketika itu, ikut mempersiapkan sebuah tabloid berbahasa Jawa yang akan terbit di Yogyakarta, pada akhir tahun 1980-an. Sya diminta menyiapkan sebuah cerpen untuk dimuat (jika layak) di dalam tabloid tersebut. Saya pun menerima undangan untuk menulis itu sebagai sebuah kehormatan dan segera saya penuhi.

Sayangnya, tabloid yang dummy-nya sudah dibuat beberapa edisi itu gagal dilanjutkan alias tidak jadi terbit. Maka, cerita pendek berbahasa Jawa saya itu pun saya kirimkan ke salah satu majalah berbahasa Jawa yang sudah pernah memuat cerita pendek saya sebelumnya. Setahun lamanya, tak ada kabar-beritanya. Maka, ketika ada lomba penulisan cerpen berbahasa Jawa, saya sertakanlah naskah cerpen saya yang mulai terlunta-lunta itu.

Hasilnya, beberapa bulan kemudian saya menerima undangan untuk menghadiri penyerahan hadiah, cerpen saya ditetapkan sebagai Juara II, pada pekan yang sama ketika ia mak bedunduk muncul atau dimuat di majalah.

Saya pun sempat diinterogasi dewan Juri ketika rangkaian acara pemberian hadiah mala itu (di Yogyakarta) sudah di mulai. Saya beberkan kisahnya, dan mereka memahaminya. Selamatlah saya.

Perkara kedua menimpa saya ketika sebuah artikel saya (kali ini sudah mulai merambah media berbahasa Indonesia) yang sudah beberapa pekan saya kirimkan ke Surabaya Post kemudian saya kirimkan pula ke Karya Darma, karena saya piker tidak lolos seleksi redaktur Surabaya Post. Ternyata, naskah yang sama muncul di dua media cetak yang sama-sama terbit di Surabaya. Surat pembaca pun muncul mengecam saya, dan saya pun mengklarifikasinya, melalui kedua koran itu.

Kejadian-kejadian puluhan tahun lalu itu sepertinya mau mendidik saya agar saya bisa menulis seperti ’ngising’ atau buang hajat saja. Tetapi, tetap saja saya tidak bisa. Malahan, semakin tidak bisa ketika, selain berkaitan dengan kekaryaan, kini menulis itu adalah pekerjaan saya. Bukan hanya uang honorarium yang saya dapat, tetapi juga kawan, sahabat, banyak di antaranya sesama penulis, dan sebagian adalah jurnalis dan redaktur.

Punya kenalan, apalagi menjadi sahabat dekat redaktur media cetak banyak untungnya. Saya bisa dengan leluasa menanyakan apakah kiriman naskah saya sudah diterima, apakah kira-kira bisa dimuat atau sebaiknya saya tarik untuk saya benahi dan segera saya kirimkan ke media lainnya. Bahkan, ketika kantong kempes dan pikiran bunel, bisa kirim SMS sekadar tanya, ’’Apa yang kira-kira bagus untuk saya tulis.’’ Sisi negatifnya, bisa jadi ada kawan lain yang menganggap kami telah ber-KKN. Padahal, pengalaman dengan redaktur kenalan terdekat saya membuktikan, berita penolakan atas naskah yang saya kirim biasanya datang terlalu cepat. Dan itulah pula untungnya.

Berita penolakan atas naskah yang dikirim adalah ’berita duka’ bagi seorang penulis. Tetapi, saya masih menyebutnya sebagai keuntungan ketika dapat menerima kabar itu dalam tempo sesingkat-singkatnya. Mengapa? Untuk naskah-naskah yang pendek masa kadaluwarsa-nya, misalnya artikel yang kita buat untuk menaggapi isu hangat di tengah masyarakat, dengan kabar penolakan yang datang cepat itu penulis punya kesempatan untuk mengirimkannya ke media lain, sebelum isunya terbenam oleh isu-isu baru.

Tampaknya tak banyak media cetak yang memiliki manajemen redaksi yang bagus untuk hal-hal seperti ini. Beberapa media lambat memberikan tanggapan, berupa berita bahwa sebuah naskah akan dimuat dan harus mengantri atau berita penolakan itu. Bahkan, ada pula yang tak memberikan tanggapan. Lebih parah lagi, penulis harus memelototi setiap edisi media yang bersangkutan hingga putus asa-nya. Atau, kalau ternyata tulisannya segera muncul, atau dimuat, ia juga harus menagih honornya dengan menghubungi bagian administrasi keuangan.

Mengapa Redaksi sebuah media cetak tidak memiliki mekanisme komunikasi yang bagus dengan para penulis? Tanya kenapa? Pekan ini saya juga menulis sebuah artikel, saya kirim ke sebuah media cetak, melalui email resmi media yang bersangkutan, dengan mengabarkan kepada beberapa orang redaktur yang saya kenal (semoga mereka juga mengenal saya) melalui SMS ke nomer HP mereka. Sudah timpal-menimpal beberapa kali SMS, tetapi yang saya dapatkan hanya pernyataan, ’’Ya Mas, nanti saya lihat.’’

Setelah itu? Mosok saya harus ngeyel menanyakan lagi? Ada rasa sungkan, justru karena seorang redaktur kenalan saya yang lain sering curhat, bahwa beberapa penulis yang sangat dikenalnya ternyata sangat hebat pula kemampuan ’ngeyel’-nya.

Halah embuh. Yang pasti saya menngkap sebuah ironi dalam hal ini, yakni media (cetak) yang keberadaannya tak bisa dipisahkan dengan urusan komunikasi (dan informasi publik) itu bisa, dalam satu hal, SANGAT TIDAK KOMUNIKATIF…![]

Monday, 22 November 2010

RAPAT DIBATALKAN

Demikianlah, setelah melesat dengan kecepatan cahaya, Petruk (dadi Anggota Dewan Perwakilan Wayang) sampailah di Alang-alang Kumitir. Itu wilayah yang sudah sangat jauh dari atmosfir. Sebuah papan segede billboard perusahaan rokok ternama berkilauan karena dicipta dari kencanamurni, bertuliskan: ’’Selamat datang di Kadewatan.’’ Jika Anda belum paham makna kata ’’kadewatan’’ itu adalah wilayah pemukiman para dewa. Petruk pun segera disambut Bathara Narada. Ialah dewa yang suka latah memulai setiap perkataannya dengan, ’’Prekencong, prekencong waru dhoyong ditegor uwong. Pak pak pong, pak pak pong rakyate omahe gedheg kok wakile omahe gedhong….’’ Tidak seperti biasanya, Bathara Narada yang biasanya tampil jenaka, kali ini methentheng seperti sedang menahan amarah.

’’Truk?’’

’’Inggih sembah kula konjuk Pukulun.’’

’’Sembah gundhulmu kuwi!’’

’’…..??’’

’’Mengapa kamu sudah ada di sini, sepagi ini?’’

’’Berdasarkan email yang sahaya terima dari Kadewatan….’’

’’Guoblog! Kowe wis ora bisa mbedakke email asli karo spam ya?’’

’’Lhadalah.’’

’’Iki langit Sapapat ya Truk! Yen Petruk ora owah saka padatan, yen durung ketempelan brekasakan, kudune ora bisa tekan kene. Piye lehmu munggah nyang langit kanthi kahanan resik tur waras-wiris mengkene iki? Lha kok bunyik tilas keslomot wae ora. Aja meneh mlocot keslomot, lha mambu awu wae ora. Gunungmu njeblug kok kowe isih byayakan turut kene ki arep ngapa, Truk?’’

’’Ha rak wonten uleman Rapat Koordinasi Proyek Memayu Hayuning Bawana….’’

’’Memayu ayune udelmu bodong kuwi ya? Rapat wis dibatalake, Truk. Urusana wargamu Pucuk Pecukilan sing padha pating bilulung golek papan pangungsen kae. Lekna matamu ben dhamang pating bilulunge para kawula. Tilingna kupingmu ben krungu jerit-tangise para kawula.’’

Petruk njegreg. Batine bingung. Bathara Narada tanggap, mula njur nambah katrangan.

’’Wektu iki Kadewatan sepi Truk. Para dewa tumurun ambyur nyang marcapada kang lagi nandhang dhuhkita. Iki aku ya meh budhal, ngenteni jemputan. Tapi pesawate isih diganti swiwine. Mula ndang balia, ya Truk! Kandhakna marang para kawula kabeh kang lagi ora kbalabak ing prahara, yen arep sowan para dewa ora sah numpak pesawat ndedel ngawiyat, kae lho para dewa padha melu repot neng pesisir lan gunung-gunung….’’

Dlang tak tung tung….. [Bonari Nabonenar]

Sunday, 17 October 2010

Niki Pripun Wak Guss........!!!

Aku mentas nampa ulem saka Balai Bahasa Surabaya, kang binuka kanthi ukara, ’’Kami beri tahukan kepada Saudara bahwa Balai Bahasa Surabaya akan menyelenggarakan ’’Gebyar 28’’ pada tanggal 28 Oktober 2010, pukul 09.00 – 12.30, bertempat di Auditorium Balai Bahasa Surabaya. Acara tersebut diisidengan penyerahan ’’Penghargaan Sastra Balai Bahasa Surabaya’’ pada dua sanggar sastra, musikalisasi puisi, pembacaan puisi, serta bedah buku antologi geguritan ’’Layang Panantang’’ karya Sumono Sandy Asmoro.’’ Ulem utawa layang undangan iku dikantheni kitir kanthi irah-irahan, ’’Menyambut Kongres V Bahasa Jawa 2011 di Provonsi Jawa Timur, GEBYAR 28, Bedah Buku Kumpulan Geguritan Layang Panantang karya Sumono Sandy Asmoro, terbitan Balai Bahasa Surabaya.’’ Eloke, miturut Sunarko Budiman, ’’Layang Panantang’’ iku katujokake marang Kongres Basa Jawa apadene Kongres Sastra Jawa kang --banjur disarujuki dening Sumono dhewe—didakwa mung … (mangga kawaos pethikanipun menika):

Lha apa KBJ kaping 5 kang bakal kagelar ing Jawa Wetan taun 2011 mbesuk isih padha kaya dudutane dhik Mono lan sawenehing sastrawan sarta budayawan Jawa, tegese mung pinter ada-ada gawe ’kasus’ kanggo ngundhakake pamore dhiri pribadhi ’’sang pendhekar’’? Apa dadi ’’raja alas’’ iki.

Macan loreng/nggereng mrojol saka krangkeng/mlaku turut dalan sudhetan/nggoleki watu gilang/papan lungguhe sing ilang/nalika banjir bandhang//macan loreng/mung bisa mlenggong/weruh kanca-kancane ganti sandhangan/ supaya ora ditumbak wong mbebedhag/sing butuh buron alasan//macan loreng/kelangan crita, kelangan dongeng/senajan untune wis ompong/nanging sing ngati-ati, mitra/lambene isih ngemu wisa//. (Layang Panantang : 44).—kapethik saka tulisane Sunarko Budiman: ’’Markus Basa Jawa, Sumono Gugat,’’ ing Panjebar Semangat No 18, April 2010

=====================================
Estu ageng kapitunanipun bilih boten nyekseni acara menika.
--bonari nabonenar

Tuesday, 7 September 2010

LEBARAN

LEBARAN [1]

"kau datang ketika aku bersuka
ketika aku dirundung duka
di manakah kau berada?"


LEBARAN [2]

ini lebaran pertamaku
tanpa kartu merahjambu
...tanpa baju dan sarung baru

ini lebaran pertamaku
tanpaisak tanpasedu

LEBARAN [3]

kau datang dengan muka layu
tersedu meminta maafku
...sambil mengingatkan bahwa dahulu
begitu tega kau menyakitiku

LEBARAN [4]

makin banyak te-ha-er
makin lebaran
makin banyak uang
...makin lebaran
--demikianlah tuan tanah punya pikiran

LEBARAN [5]


pulang kambung
mudik lebaran
...mendapati bebukitan
yang dulu hutan
adi ladang singkong dan sayuran

dan sesunguhnya manusia telah menerima apa adanya
dunia sebagai ladang mereka
yang telah dipasrahkan tuhan seutuhnya
untuk dikuasai sepenuh-penuhnya


LEBARAN [6]

saling memaafkan
tak selalu berkaitan dengan
...tinjauan kembali atas perceraian
:
sebab boleh dibayangkan
betapa sibuknya kantor urusan
hubungan lakilakiperempuan
saat lebaran


LEBARAN [7]

bagaimana kita meminta maaf
kepada bukit ranggas
dan kalimati

bagaimana kita meminta maaf
kepada hutan perawan yang bertahun kita gagahi
dan melahirkan anak-anak pengungsi

bagaimana kita meminta maaf kepada langit
yang tak henti kita bisingi
dengan lantunan ayatayatsuci
yang kita sunati di sana-sini

2010

LEBARAN [8]

berapa keping recehan dicecerkan rang kota
di kampung-kampung saat lebaran
sebelum mereka kembali mengusung
perempuan-perempuan lugu
dan lakilaki perkasa
--sedang aku dengan sukarela
membetot diri ini dari desa
tercinta




LEBARAN [9]

tahu salah dan meminta maaf menunggu lebaran
seperti terkilir hari ini dan dipijetke tahun depan


LEBARAN [10]


si kuncung pun berlebaran dengan gembira
ia senang dengan baju barunya
walau sarungnya usang dengan sedikit tambalan
’’berbahagialah nak
walau baru bisa berlebaran setengah badan’’


LEBARAN [11]

mari kita rayakan
hari kemenangan
agar bisa sabar menikmati
hari-hari kekalahan


2010

Thursday, 2 September 2010

Srigunung

Dari sri (asri = baik, indah, atau apa ya?). Gunung? Lah gak ngerti gunung ya kebacut tenan. Inilah juga salah satu bukti kehebatan orang Jawa mencipta kata/ungkapan. Begitu puitisnya, begitu sastrawinya. Itu baru kata bentukannya. Belum kalimat, belum pupuh tembangnya. Srigunung adalah kata (ungkapan) untuk menyebut sesuatu yang tampak memesona jika dipandang dari kejauhan. Nah, seperti itulah gunung. Kalau dipandang dari jauh, tampak hijau, atau biru, sangat menawan. Tetapi datangilah, dakilah dan kau akan terpesona pula oleh pemandangan di kejauhan. Keindahan yang semula kita tangkap ada pada gunung itu seperti lenyap entah ke mana.

Kadang saya hanya bisa mesem saat membaca status kawan-kawan yang status aslinya masih jomblowati atau jomblowan. Maksudnya, belum menikah, atau bahkan belum punya pacar. Misalnya, ada yang menulis begini, ’’Duh Arjunaku, di manakah engkau berada kini? Segeralah kita dipertemukan, dan engkau akan kurawat dengan penuh kasih, dan takkan kubiarkan engkau lecet barang sedikit pun. Kan kupakaikan sepatumu, kupijit punggungmu, dan kubuatkan kopi sebelum kau memintanya. Kalau kau pulang terlambat, aku akan sabar menunggu di rumah dengan wangi perempuan yang kalau bisa pun tak kan kubiarkan menguap bersama angin malam….’’ Duh, kok panjang banget? Itu status atau catatan? Hehe. Lah, emang statusnya 7 orang dirangkum jadi satu, kok! Terus, apa hubungannya dengan srigunung?

Mereka, para jomblowan dan jomblowati sering melihat bahwa punya suami/istri itu sebegitu indah, enak, nikmat, membahagiakan. Padahal, kenyataan membuktikan: tidak selalu begitu. Contoh lain: Ketika kita duduk di TK, betapa besar rasa cemburu kita kepada mereka yang sudah di SD, apalagi SMP, dan seterusnya. Ketika kita di bangku kelas satu, betapa cemburu kita menyaksikan para senior kita di kelas 2 dan seterusnya. Ketika kita kelas 2, kita sebegitu cemburu kepada kelas 3. Ketika kita naik pit onthel, kita cemburu kepada mereka yang naik motor. Ketika kita merasakan naik motor, kok, sepertinya tak ada lagi yang istimewa, ya? Maka kita cemburu kepada mereka yang bermobil.

Ketika kita mulai menyenangi puisi, betapa sambil menikmati sebuah puisi di majalah atau suratkabar rasa cemburu itu tumbuh: ’’Betapa gagahnya aku jika puisiku termuat di sini!’’ Lalu, pada suatu waktu ketika berhasil menampangkan puisi di situ, …kita memang sempat mengalami semacam euphoria. Tetapi itu tak bakal berlangsung lama.

Dan kita sesungguhnya hanya akan terombang-ambing dari puncak derita yang satu ke puncak derita yang lain. Derita karena kecemburuan itu. Derita karena Srigunung itu. Sampai kita menyadari bahwa usia telah tanpa ampun mengganyang kegagahan fisik kita. Dan sempurnalah penderitaan itu jika orang menganggap kita telah menjadi tua dan diama-diam masih tumbuh rasa cemburu kita kepada yang muda. [Bonari Nabonenar]

TIKUS DI PERUT SAYA

:sambil mengenang nyawa manusia
yang dipermainkan manusia lainnya


ini kisah nyata
tentang tikus sebenar-benarnya
tempatnya pun hanya di sebuah rumah
dekat sawah
jauh dari mewah
dan pangkal pohon mangga

seekor tikus sebenar-benarnya
masuk perangkap kemarin agaknya
semalam ketahuannya
baru pagi ini saya hendak mengeksekusinya
di bawah pohon mangga
seperti tiga ekor pendahulunya
yang sekarang sudah almarhum semua

seekor tikus sebenar-benarnya
di dalam perangkap di rumah saya
pagi ini jadi setengah lusin jumlahnya
lima ekor indhil-indhil merah semua
agaknya semalam mereka dilahirkan
dari dalam perangkap
tangis mereka merayap
menyergap telinga

dan serta-merta grasi pun saya berikan
dengan sukarela
tanpa tekanan
apalagi paksaan
karena sejahat-jahat saya
kebinatangan pun harus beradab

sungguh saya tak tahan
menatap wajah mereka
berlama-lama
dan karenanya saya lebih memilih risiko
didakwa menyebarkan kebohongan
hanya karena tidak bisa menunjukkan
: foto mereka

dengarlah tangisan itu
kini berubah menjadi tawa
di tingkah suara lagu gembira
dari bawah pohon mangga:

kami beruntung kamu sudi melahirkan kami
membuat kami bisa bicara bahkan bernyanyi
kami binatang dan kamu manusia
tapi kita punya tuhan yang sama


padahal aku hanya tak mau muntah
atau membiarkan mereka berlama-lama
di dalam perut saya


1 September 2010

Friday, 20 August 2010

SAJRONING SEPI [1]

kijenan ing wengi dhedhet mbrangkang
tumuju awan kenthang-kenthang
srengenge lan lintang-lintang
kaya dudu sanak dudu kadang


godhong garing temangsang carang
ora njengking ora ngathang-athang

lali dina lali pasaran
--iki wis jam pira—pitakone marang
gedheg semrawang
atine mamang
nyawang kang lagi anguk-anguk lawang

sawojajar2 okt 2009

Thursday, 19 August 2010

Indonesia Rindu

kata simbah saya
dijajah belanda lebih bagus keadaannya
ada kereta api hilir-mudik madiun - ponorogo
sekarang malah hilang entah ke mana
kalau kau bicara tentang kerja paksa bertaruh nyawa
apakah sekarang yang begitu sudah tiada?


kata simbah saya
dijajah belanda lebih bagus keadaannya
ijasah sekolah dijamin baik kualitasnya
sebab tidak ada calo dan tengkulaknya

kata simbah saya
dijajah belanda lebih baik keadaannya
jembatan, jalan, bendungan, kualitasnya istimewa
sekarang semua keropos
mental sebagian besar pejabat juga keropos
nyaris tak ada yang bisa dibanggakan
dari kemerdekaan ini

aku cinta Indonesia
walau korupsi merajalela
walau hukum seperti benang basah
walau pejabat yang rajin lebih cepat naik pangkat
daripada pejabat yang malas
walau yang korup lebih dihormati daripada yang lugu

aku cinta Indonesia
walau tak ikut upacara bendera
di hari kemerdekaan ini
aku ingin menangis sejadi-jadinya
atau menyanyikan lagu Indonesia Rindu
: kemanusiaan yang adil dan beradab


17 Agustus 2010

Thursday, 12 August 2010

EMPLEK-EMPLEK…

emplek-emplek kecepit
wong lanang goleka dhuwit
alah wayah golek golek pisan
golek ritek wong lanang aja korupsi
alah wayah korupsi korupsi pisan
korupsi ritek wong lanang aja kakehan
alah wayah kakehan kakehan pisan
kakehan ritek wong lanang aja ketangkep
alah wayah ketangkep ketangkep pisan
lamon ketangkep wong lanang aja dibui
alah wayah

embuhlah....!

agustus 2010

dipunplesetaken saking tembang dolanan Emplek-emplek Ketepu

Wednesday, 11 August 2010

Bayu Insani

Pertama-tama aku mengenal namanya, via Facebook (?) aku mengira ia seorang laki-laki. Kemudian segera tahu bahwa ia salah seorang perempuan asal Indonesia yang sekerang bekerja sebagai buruh migran di Negeri Beton, Hong Kong. Sampai sekarang, bahkan, saya pun belum tahu pasti apakah Bayu Insani itu nama pena atau juga nama aslinya. Nama ini, seperti sekian banyak nama buruh migran asal Indonesia di Hong Kong lainnya, ada di daftar teman Facebook saya, masuk menyusul nama-nama penulis lain di sekitarnya yang saya kenal lebih dulu: Mega Vristian, Wina Karnie, Etik Juwita (keduanya sudah kembali ke Indonesia) Aliyah Purwati, Nadia Cahyani, Maqhia Niswana Ilma, Susie Oetomo, Ida Raihan, dan lain-lain yang akan terlalu panjang jika saya sebut semuanya.

Memang daftar itu akan sangat panjang. Beberapa kali, di dalam tulisan saya mengenai gerakan literasi di kalangan buruh migran asal Indonesia di Hong Kong (selanjutnya kita singkat saja sebagai BMI-HK), saya menyatakan bahwa komunitas penulis di kalangan BMI-HK sebegitu suburnya, sehingga akan bisa membuat orang terkejut jika membandingkan jumlah terbitan bukunya dengan, misalnya, yang diterbitkan oleh sebuah fakultas, bahkan yang bernama fakultas sastra di perguruan tinggi di Indonesia. Saya sadar, pernyataan saya itu akan segera terasa sangat provokatif, dan dengan demikian semoga semakin banyak akademisi sastra, atau pun dari disiplin ilmu terkait lainnya yang sudi melirik karya-karya anak bangsa yang sering dipandang dengan sinis ini.

Itu baru soal jumlah. Soal kualitas bagaimana? Etik Juwita –seorang BMI-HK, sekarang meneruskan studi di Universitas Gajayana, Malang, menempatkan sebuah cerpennya yang pernah dimuat Jawa Pos, Bukan Yem, dalam daftar 20 Cerpen terbaik Indonesia versi Pena Kencana, yang kemudian dibukukan oleh Gramedia (2008). Beberapa orang BMI-HK menjadi koresponden tetap untuk media cetak yang terbit di Indonesia maupun di Hong Kong, sebagian lainnya lagi menjadi penulis lepas, dan ada juga yang, malahan, membuat media cetak (majalah) sendiri. Saya mengenal misalnya, Majalah Nur Muslimah yang diterbitkan secara swasembada oleh BMI-HK.

Adapun Bayu Insani, tulisannya telah tersebar di mana-mana, di HK dan di Indonesia, di koran, majalah, dan buku. Salah satu buku yang memuat tulisannya kuketahui berjudul Emak-emak Facebooker Mencari Cinta.

Suatu hari, ia berkirim pesan, bagaimana caranya mengirimkan tulisan ke Jawa Pos. Lalu kubalas dengan mengirimkan email editor Jawa Pos dan jika tulisan itu berupa tulisan seni/budaya, berupa kritik apreasiasi, resensi buku, cerpen, dan sebagainya, saya mohon langsung mengirimkan ke email yang secara khusus dibuat oleh Redaktur Budaya-nya, Arief Santosa. Bahkan segera pula saya susulkan nomor ponsel Arief, kawan saya yang sangat gampang bersahabat itu.

Keesokan harinya, Bayu mengirimkan kabar dengan nada girang bukan main, bahwa ia telah mengirimkan tulisannya ke Jawa Pos, dan bahkan sempat bercakap-cakap dengan Arief Santosa. Kabar gembira berikutnya, tentu saja, adalah: tulisan Bayu mengenai dunia penulisan/perbukuan di HK muncul di rubrik Di Balik Buku-nya Jawa Pos.

Kesan saya ketika pertama kali membaca tulisan Bayu, yang ia kirimkan melalu japri sebelum dimuat Jawa Pos, dan beberapa tulisan lainnya, adalah bahwa penulis yang satu ini sangat rapi dalam hal penulisan ejaan. Kalimat-kalimatnya jernih, menunjukkan kemantikan berpikirnya. Ia bahkan sudah hampir sepenuhnya sukses keluar dari kelemahan rata-rata penulis pemula di kalangan BMI-HK: kurang fokus pada topik yang digarap dan lemah dalam peng-angle-an.

Pada awal tahun 2000-an saya menjadi redaktur sebuah tabloid hiburan di Surabaya. Sebagian besar wartawannya adalah para post graduate, dari perguruan tinggi negri maupun swasta yang ada di Surabaya. Rata-rata tulisan mereka masih sangat payah untuk disebut sebagai tulisan yang enak dibaca. Untuk membuka sebuah berita pendek saja, biasanya mereka menulis kalimat-kalimat awal seperti mau membuat makalah. Pakai nyinyir mendefinisikan istilah segala. Mereka bakal KO di paragraf pertama kalau diadu dengan Bayu dan beberapa penulis di kalangan BMI-HK yang saya kenal.

Maka, kalau para post-graduate di awal 2000-an itu sekarang bertebaran di mana-mana, ada yang menjadi jurnalis tulen, ada yang menjadi penyair, dan ada pula yang sudah mencatatkan namanya di daftar papan atas sastrawan Indonesia mutakhir, tentu tidak akan berlebihan jika kita berharap, lima tahun ke depan nama Bayu Insani, Ida Raihan, dan kawan-kawannya itu akan dikenal publik pembaca di tanah air swebagai para penulis andal. Semoga. [Bonari Nabonenar, sesama penulis] 


FOTO: dari koleksi- Facebook Bayu Insani

Monday, 9 August 2010

Lungursanten: 1975

Saelingku, mangsa paceklik paling mbedeking kuwi taune 1972. Nalika semana, aku isih kelas loro sekolah dhasar (SD). Nanging, nganti aku lulus SD. Yen sampeyan takon marang wong-wong Desa Cakul kang menangi jaman mbedeking kuwi, angka 1972 kuwi mesthi akeh kang eling. Satemene kang aran paceklik mono saemper ambah-ambah, ora mung dumadi taun 1972. Nganti taun 1976 (iku wektu nalika aku lulus SD lan kudu ngenger ing kecamatan seje amrih bisa nerusake sekolahku menyang SMP) aku menangi pirang-pirang ungsum paceklik. Titikane, angger wis ana rerasanane tangga manawa ana saperangan kang kerep kentekan gebing (gaplek) njuk mung njenang tela, sayure godhong tela, sok paribasane mung diuyahi, kaya ngono kuwi yen ambah-ambah paceklik nrajang.

Satemene ora nganti nemen kaya dek Jaman Jepang --miturut critane simbah-- nganti bonggol gedhang ya dipangan. Oh, iya, manut ujare crita, yen mundur rada adoh, saka 1972, taun kang paling mbedeking paceklike iku 1918. Lah, prekara paceklik iki kok becike dicritakke meneh mangko ya? Lha, wis 159 tembung kok durung nyrempet Lungursanten kang dirancang kadidene lakone crita iki.

Angka taun 1975 iku isih kena dianyang kok. Tegese aku ora bisa njamin apa kuwi pas tenan. Pokoke sakiwatengene taun iku, sing cetha aku isih dadi tukang ngarit lan sinau ing sekolah dhasar. Saben dina sabaku alas, ndilalah mangsa paceklik, ana wuluwetune alas kang maune kaya ora pati digatekake, dumadakan dadi lakon: uwi. Neng alas, klebu neng Lungursanten iku akeh uwi. Merga kentekan tela lan palapendhem liyane ing pekarangan, alas dadi jujugan.

Manekawarna uwi ana ing alas, ana uwi kontholbantheng, uwi lus, lan uga ana gembili. Uwi kontholgantheng kuwi bisa gedhe, brongkalan, tur mapane isine ora pati jeru. Gampang le ndhudhah. Beda maneh uwi lus, iku saben uwit mung isi siji, ndlujur nunjem bumi. Gedhe cilike isine bisa katitik saka uwite. Yen nemu sing uwite sing mrambat kuwi gedhene sarokok ngono wae wong senenge ora jamak, jalaran isine uwi lus iku merit ing ndhuwur lan sangsaya mengisor sangsaya gedhe. Dene gembili, iku kondhang paling enak rasane, nanging le ngerah ya paling angel merga uwite rinengga marung (eri).


Saben dina ana wong tegalan (=golek menyang alas) uwi. Mula alas saelore padhukuhanku, kuwi, klebu ing Lungursanten, banjur dadi kebak jlondhangan, juglangan, tilase wong ndhudhuk uwi. Kadidene tukang ngarit kang kulina nunggangi grumbul utawa blusukan ing sangisore, kahanan iku ora nyenengake, merga yen ana blahine sawayah-wayah bisa kecemplung juglangan. Mbareng saiki kenal GoogleEarth, njuk dadi mbayangke, kepriye ya rupane Lungursanten (1975) nalika kebak juglangan kuwi yen disawang saka antariksa?

Lungursanten kuwi perangane alas ing lor padhukuhanku. Saka omahku (omahe wong tuwaku) udakara 4 utawa 5 km. Mung dhek nalika semana dalane isih dalan setapak.

Ambane ora nganti atusan hektar. Kira-kira ya sepuluhan hektar, utawa malah kurang, nggligir saka sangisore Lemah Abang (saka arah Gunung Bogang). Pereng sisih tengen anjog nyang Jurug, sisih kiwa ana kalen kang ing nggir kanane iku ana perangane alas kang katelah Rata-rata. Nggir kanane Rata-rata ana padhukuhan Banaran, kalebu Desa Sawahan kang wus kebawah Kecamatan Panggul. Lha yen terus bablas anjog mengalor, mengko bakal tekan tempuran Kali Ulik, kang nampani banyu saka arah Kecamatan Pule sisih Kidul lan saka saperangan Kecamatan Dongko.

Senajan saiki kahanane wis kaya pekarangan, merga wis dikapling-kapling dening warga kang diembani LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), Lungursanten dhek jaman cilikanku biyen wujud alas tropis kanthi manekawarna wit-witan, thethukulan, lan sato kewan. Ana wit jati, weru, mauni (mahoni), pule, bendho, tangkil, lan liya-liyane. Jare simbah, dhek aku durung lair alas Lungursanten kuwi wis tau dibukak. Lah, bukakan alas dhek jaman semana kuwi mung kanggo sawatara taun, ora kaya program LMDH saiki kuwi sing sajake ora diwatesi embuh nganrti kapane. Kewan khas Lungursanten, sing ora tinemu ing alas kidul (sakidule padhukuhanku) yakuwi lutung. Yen kethek iku neng jurug ya ana, lan sing jan akeh tenan nganti dadi kaya kratone kethek, iku alas kidul. Si kethek ing alas kidul sajake durung cures nganti saiki. Nanging, lutung ing Lungursanten wis cures babarpisan.

Mbokmanawa bakal luwih akeh maneh kang ing tembene mung kari dongenge. [Bonari Nabonenar]

Saturday, 7 August 2010

PANTUN HUJAN-HUJANAN

hujan emas di negri orang
hujan batu di negri sendiri
berhenti cemas berjalan gamang
hujan batu di negri ini


hujan keringat di seberang
hujan tangis di sebelah sini
modhele pejabat jaman sekarang
merasa tak keren jika tak korupsi


hujan angin di tepi hutan
hujan airmata di tepi ranjang
banyak pejabat masuk rutan
rakyat menangis malam dan siang

hujan rintik di sawah
hujan gerimis di tepi kolam
kalau politik sudah payah
semua jadi runyam

hujan interupsi di gedung dewan
hujan kartu di lapangan
: banjir di mana-mana

Agustus 2010

Ramene Wong Ngoyak Celeng

’’Ya kana dolana!’’ ibu aweh palilah.

Kadidene bocah cilik, entuk dolan ngadoh, ora mung sagluthek omah-pekarangan, mesthi wae aku seneng. Biasane, palilah iku diembel-embeli weling, aja nganti aku gelem yen ditawani mangan ing omahe Si A, Si B, Si C…. amarga ibu kuwatir yen wetengku nganti kelebon iwak celeng.


Ing padhukuhanku kuwi ana kira-kira 5 utawa 6 kulawarga kang kejaba njagakake pengasilan saka tetanen uga saka buron alas. Kang ajeg dadi buron alas kuwi ya celeng, senajan ana kalane entuk selingan landhak, trenggiling, lan malah tau lho, ana sing entuk gogor. Dudu macan rembah, lho, jan gogor tenan. Apa kuwi sing ing donyane akademis sinebut harimau jawa kang saiki jarene meh cures kuwi ya? Eman banget ta yen kaya ngono tenan!

Lha, wong-wong utawa kulawargane para juru bedhag kuwi biasane ngedol kewan buron alase arupa gluntungan kewan utuh, nanging wis mati, utawa arupa daging. Kerep wae saperangan dimangsak dhewe didadekake lawuh.

Dhek aku isih cilik (diwatesi wae taune: 1971 – 1976)satemene durung ana klulawargaku kang nindakake sarengate agama kanthi becik. Wong tuwaku uga durung nindakake salat kaya saiki. Mangka, bapakku kuwi asal saka kulawarga nyandhing mesjid kang klebu khusuk, kabeh sedulure nindakake agama kanthi becik. Ewasemono ya kaya wis katur ing ngarep mau, ibu tansah njaga lan prasasat saben dina meling aja nganti aku gelem yen ditawani mangan ing omahe wong kang kulinane mangsak iwak celeng.

’’Le omong sing apik, aja kandha emoh, ning kandhaa yen lagi wae mangan ing omah lan isih wareg, ngono ya Le,’’ ngono ibuku muruki carane medhar alasan.

Aku ya manut, lan nganti saiki wetengku durung kelebon iwak celeng, kejaba yen olehe mlebu wetengku kanthi ora taksadhari.

Udakara 1 km saka omahku, arah ngalor-ngulon, iku wis wates antarane pomahan karo laladan alas, ereng-ereng wetan Gunung Bogang. Diaranana gunung, satemene kepetung ora dhuwur. Kira-kira malah mung etungan atusn meter sandhuwure banyu segara. Nanging, ing puncake Gunung Bogang iku nganti saiki isih bisa katitik anane kaldera, tandha manawa embuh pirang atus taun kepungkur Gunung Bogang iku nate aktif kadidene gunung geni.

Nganti tekan puthuk Gunung Bogang iku laladan alas. Terus ngalor, embuh pirang atus hektar iku laladan alas kang akeh celenge. Pereng lore Gunung Bogang anjog terus laladan alas kang katelah Rata-rata, merga ing kono ana papan rata senajan ambane mung ora cukup kanggo lapangan bal-balan. Ngetan maneh ana laladan kang katelah Lungur Santen, Lemah Abang, Pandanwangi, Jurug, Tlaga, lan liya-liyane. Dhek jaman aku dadi tukang ngarit, kabeh laladan kuwi wis takambah.

Padhukuhanku pancen prasasat kinupeng alas. Mung wae alas kang prenah wetan lan kidul rada adoh, senajan etungane ora nganti puluhan kilometer. Mula kerep wae kedadeyan, celeng kang dioyak ing alas lor keplayu nasak tegal pekarangan ing pomahan lan bablas menyang alas kidul. Yen kaya ngono kedadeyane, biasane acara mburu celeng dadi sangsaya rame, merga wong-wong kang omahe cedhak alas kidul uga banjur melu opyak mburu celeng.

Rame wong mbengok, rame asu ngalup. Tumbak nyrangap, pokoke ngalahke ramene perang… neng panggung kethoprak. Angger wis ana wong mburu celeng, kampung kaya horeg. Mula bocah ngarit sabarakanku, angger wis ana wong mburu celeng mesthi trima nyingkrih. Yen dumadakan wong-wong mbengok manawa prenahe celeng ora pati adoh, mesthi ndang golek uwit kang kena dipenek, njur krangkit-krangkit menek, amrih ora nganti kepregok celeng kang lagi dadi buron.

Angger wis urusan mburu celeng, ora santri ora wong abangan, kabeh saiyeg, merga celeng kuwi pakartine ngrusak tanduran, dadi mungsuhe wong tani ing padesan kaya ing padhukuhanku kuwi. [bonari nabonenar]

Thursday, 5 August 2010

LMDH = Lembaga Masyarakat Desa (BUKAN) Hutan

Setiap kali pulang kampung (Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek), setiap kali pula perasaan saya dibetot pemandangan: alas atau hutan yang kini telah berubah menjadi ladang. Ini bukan soal mengkampanyekan kesadaran terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Itu soal lain. Ini persoalan yang sangat atau mungkin terlalu pribadi.

Saya menghabiskan masa kecil di desa itu, dibesarkan bersama-sama oleh keluarga besar: ayah-ibu, nenek, dan bahkan buyut saya. (Bersyukurlah saya, masih bisa menyaksikan buyut saya menimang anak saya. Itu berarti, anak saya masih sempat ditimang oleh canggah-nya). Buyut saya itulah orang yang paling berjasa mengenalkan saya dengan kehidupan rimba, hutan. Saya sebut begitu, karena ketika saya kecil, hutan di sekeliling desa saya yang kini telah berubah jadi ladang itu adalah hutan tropis dengan aneka tumbuhan dan binatangnya. Binatang yang paling popular ketika itu adalah celeng alias babi hutan. (Nanti akan ada cerita tersendiri mengenai babi hutan ini.) Karena itulah, ketika kini hutan jadi ladang, saya merasa kehilangan sebagian dari masa kecil saya.

Sejak kelas 1 SD saya sudah belajar ngarit, mencari rumput dan dedaunan untuk pakan kambing. Begitu kelas 3 SD saya sudah ngarit bukan sekadar belajar, tetapi bekerja. Dan di kelas 4 atau 5, sepuluh ekor kambing sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Apakah masih ada anak sekarang seperti saya waktu itu? Atau jika pertanyaannya boleh sedikit di ubah, di manakah kini kira-kira seorang bocah kelas 4 SD mengalami seperti yang saya alami sekitar 35 tahun lalu?

Karena waktu dan tempatnya, dengan beban seperti itu saya tak pernah merasa tersiksa. Saya menikmati pekerjaan itu, karena bekerja (ngarit) dan bermain seolah melebur sedemikian indahnya. Di desa, tidak ada anak gedongan. Tidak ada anak manja, yang bebas dari pekerjaan membantu orangtua. Dan Komisi Perlindungan Anak saya kira juga tidak perlu risau dengan cerita saya ini.

Sebelum menamatkan SD dan harus ngenger di ibukota kecamatan yang berjarak 10 km dari rumah sendiri, saya merasa sudah mengenali setiap jengkal hutan di sekeliling desa saya itu. Di mana ada pohon kemadhuh (yang sangat ditakuti karena gatalnya), di mana tumbuh rawe yang juga ditakuti karena gatalnya, terutama saat musim berebunga, di mana ada kedung yang bisa disinggahi untuk mandi dan bersukaria, di mana biasanya orang memasang jebakan dan welah (bambu runcing) untuk menangkap celeng, kami, anak-anak desa tahu semuanya.

Kini, hutan seperti yang saya kenali, yang saya jelajahi setiap hari di masa kanak-kanak itu sudah tidak ada lagi, telah menjadi ladang dengan tanaman singkong, nilam, cengkih, dan di beberapa tempat ditanami pinus. Para warga desa masih menyebutnya, ’’alas’’ (hutan), tetapi itu hanya tinggal namanya saja. Bahkan, atas prakarsa Perhutani dibentuklah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), yang, menurut saya sebetulnya lebih tepatnya adalah ’’Lembaga Masyarakat Desa Bukan Hutan”. [b]

Saturday, 10 July 2010

LAKI-LAKI YANG MEMBAWA ISTRINYA KE DOKTER SPESIALIS ANAK KANDUNG

Cerita AdaAdaSaja

Mat Tabik, begitulah namanya. Laki-laki 50-an tahun itu telah hampir 30 tahun mengabdi di Perusahaan Cetakmedia. Ia tidak pernah mendapatkan penghargaan, apalagi berupa bintang jasa, walaupun jasanya sangat besar. Apakah karena ia karyawan yang sepanjang sejarah pengabdiannya di Perusahaan pangkatnya tetap saja sebagai office-boy [mungkin lebih tepat office-man, atau bahkan office old-man!?].


Bayangkan, selain melakukan tugasnya sesuai juklak dan juknis dan protap [masing-masing adalah singkatan dari: petunjuk tetap, petunjuk teknis, dan prosedur tetap] seperti: mengepel lantai, mengatur dan menyirami taman, mengelap segala yang perlu di-lap seperti meja, kursi, rak, almari, dan komputer yang ada di kantor, Mat Tabik tak pernah menolak permintaan karyawan [tanpa kecuali] untuk membelikan nasi bungkus untuk, biasanya, makan siang. Kalau ada karyawan yang lembur, biasanya pula dan hampir selalu, Mat Tabik juga ikut-ikutan lembur. Karena, kalau ada hal-hal yang memerlukan penanganan Mat Tabik, misalnya membeli ATK [alat-tulis-kantor] secara mendadak, Mat Tabik harus selalu siaga.

Ada lagi yang biasa dilakukan Mat Tabik, yakni memijiti Gus Basir [begitulah Mat Tabik selalu menyapa Kepala Bagian Personalia] yang oleh karyawan lainnya juga dijuluki Bos Kecil itu. Siapa Bos besarnya? Tak lain adalah Den Moi [konon nama aslinya Moijo]. Den Moi adalah Sang Pemilik Perusahaan [persisnya pemegang 60 % saham] itu.

Mengapa Mat Tabik menyapa Kepala Bagian itu dengan sebutan Gus [sapaan yang biasanya ditujukan kepada anak kiai atau bahkan sang kiai itu sendiri]? Dan tidak dengan ’Pak’ atau bahkan ’Mas’ seperti karyawan lainnya? Tidak ada yang bisa memberikan penjelasan atau mencoba bertanya sendiri kepada Mat Tabik. Tetapi, bahwa Mat Tabik sering salah menyebut sesuatu, itu sudah terkenal. Misalnya, pagi-pagi, sambil memijiti Gus Basir-nya, ia nyerocos berkisah, ’’…maka sekarang televisi Gundrikku itu sudah aku jual. Aku beli baru, merek Musibah.’’ Maksudnya, televisi merek Grundig-nya dijual, dan dia beli baru merek Toshiba.

Lalu, seperti biasanya, ia bercerita tentang anak-anaknya yang makin perlu banyak uang untuk sekolah mereka, dan istrinya yang buka warung soto. Kadang, pertengkaran kecil dengan istrinya pun diceritakan pula.

Mat Tabik adalah karyawan yang setia. Ia tidak pernah berpikir untuk pindah kerja ke perusahaan lain. Ia merasa tenteram, walau sering mengeluh bahwa gajinya terasa makin kecil, walau angkanya bertambah. Dengan Gus Basir-nya, Mat Tabik tak pernah ragu-ragu buka-bukaan. Bahkan, Si Kepala Bagian-nya itu kadang kelewatan, mengorek-ngorek kisah intim Mat Tabik. Saking lugunya Mat Tabik, berceritalah pula bagaimana sepak terjang ia dan istrinya di kamar RSS-nya. [Catatan: RSS adalah singkatan: rumah sangat sederhana].

Pada suatu hari, Mat Tabik tidak masuk kerja, minta izin melalui telepon. Basir Si Kepala Bagian itu yang menerima teleponnya. Di seberang sana, Mat Tabik bilang, ’’Duh, maaf ya Gus, hari ini aku tidak bisa masuk kerja. Di rumah sangat repot, ada tamu keluarga dari kampung. Dan siang ini juga aku harus mengantar istriku ke dokter spesialis anak kandung.’’

Basir tahu, yang dimaksudkan Mat Tabik adalah dokter spesialis kandungan dan anak.

’’Istrimu hamil lagi?’’

’’Tidak tahu. Kemarin aku sudah mengantarnya ke pokesmas [maksudnya: puskesmas] istriku tidak banyak cerita, hanya, aku harus mengantarnya ke dokter spesialis anak kandung siang ini. Katanya, nanti semuanya baru jelas setelah dari dokter spesialis anak kandung,’’ jawab Mat Tabik.

Keesokan harinya, Mat Tabik menghampiri Basir, menawarkan jasa pijit gratis, dan setelah beberapa menit memijiti salah seorang atasannya yang sedang mengetik itu, meluncurlah kalimat-kalimat Mat Tabik, yang pada intinya adalah meminta Basir untuk meminjaminya uang barang seratus atau dua ratus ribu rupiah. Karena, katanya, kas keluarga sudah terkuras habis, padahal ini baru pertengahan bulan.

Basir memberinya. Sambil berkata, ’’Gini lho, Pak Bik, sebentar lagi kan perusahaan kita ini akan berulang tahun. Nanti, ketika harus ada salah seorang karyawan yang berpidato, seperti biasanya, sampeyan saja yang berpidato, mewakili karyawan lain, terutama golongan rendah. Jangan lupa, saat pidato nanti sampaikanlah keluh-kesahmu selama ini, bahwa gaji naik tidak seimbang dengan lonjakan kebutuhan hidup kita. Nanti aku buatkan naskahnya, sampeyan tinggal menghafalkannya saja. Kalau perlu, kita adakan latihan sebelumnya.

Singkat cerita, naskah sudah dibuat. Latihan beberapa kali diadakan, dan Mat Tabik telah menghafalnya di luar kepala. Pada intinya, isi pidato itu adalah memohon dengan cara yang halus, tidak pakai demonstrasi, tetapi dengan bahasa yang santun, agar para karyawan mendapatkan kesejahteraan yang layak sesuai dengan jerih-payah mereka mengabdi pada perusahaan.

Lalu, apa yang terjadi ketika saatnya tiba? Mat Tabik sudah berdiri di atas panggung. Di hadapannya adalah seluruh karyawan dan para pemegang saham. Ada para kepala bagian, sekretaris, para direktur, dan bahkan para komisaris. Memandangi mereka yang duduk di kursi depan Mat Tabik tak sekadar grogi, tapi benar-benar mau pingsan. Untunglah, tepuk tangan dan teriakan memberi dukungan itu membangkitkan kembali semangatnya.

Maka, ’’Yang terhormat para pemimpin perusahaan, para karyawan semua yang tercinta, marilah kita semakin giat bekerja. Karena kalau perusahaan merugi, akhirnya kita juga ikut merugi. Lebih baik bercucuran keringat karena bekerja, itu sehat, daripada bercucuran air mata karena terkena pe-ha-ka….’’

Loh, naskah yang diam-diam dibuatkan oleh Si Kepala Bagian dan telah dihafalnya di luar kepala itu ke mana larinya? Tak ada yang tahu. Yang jelas, Mat Tabik mendapatkan tepuk tangan panjang sebelum turun dari panggung. [*]

Friday, 2 July 2010

Bersama Cinta Kita

pada malam ini
kita seperti diingatkan kembali
betapa indahnya silaturahmi
senyum dan salam bertaburan
seperti embun yang sejuk menyegarkan
bunga di taman


kita merasakan kekuatan
senyum yang mekar
dan salam yang disampaikan
dari hati yang cinta
yang mebangkitkan
gairah kehidupan

bunga tak perlu mekar
dan burung tak perlu kicau
sebab hati yang cinta punya wangi
dan lagunya sendiri

dunia yang dicipta dengan cinta
mesti dijaga dan dirawat dengan cinta
negri ini pula
mesti kita jaga
dan kita rawat dengan cinta

cinta yang sejati
yang tumbuh di dalam hati
dan mekar di darat
di laut, dan di udara
mekar di dalam pikiran
mekar di dalam kerja

cinta yang sejati
memperkokoh persaudaraan
menumbuhkan kedamaian
hidup jadi penuh gairah
dan dunia semakin indah

yang berat akan jadi ringan
yang kusut akan terurai
yang lemah dikuatkan
oleh cinta yang sejati

cinta yang sejati mesti kita jaga
dari penyakit dengki dan kesombongan
dari penyakit iri dan keserakahan

dan di puncak peradaban kita
kalaupun mesti bersitegang
bersiteganglah kita dengan mesra
di dalam naungan cinta

bersama cinta kita
bangkitlah Indonesia!


Surabaya, 19 Mei 2010

Friday, 21 May 2010

AIR atau BANYU

hastabrata
menawarkan delapan watak alam
untuk diteladani


:nulada hambeging samodra
tegese jembar momot myang kamot
…dan seterusnya.

Samodra, esensinya adalah air
Watak air, secara alamiah ia selalu mengalir
ke tempat yang lebih rendah
maka, selayaknya perhatian lebih diberikan
kepada mereka yang masih di bawah

air menggenangi 72% permukaan bumi
dan sekitar 60 hingga 70% dari tubuh kita
adalah juga air

Selayaknya kita menghormati air
sebab dari sanalah kehidupan dibangun
kita pun lahir setelah air
maka orang Jawa punya kata-kata
: ’’kakang kawah adhi ari-ari.’’
dan untuk tanah tumpah darah ini
kita punya pula sebutan: tanahair
dan sepertinya persis ketika kita lupa
menyebutnya dengan penuh penghayatan
dengan penuh perasaan
: tanah air
Tanah Air…!
Tanah Air…!

Tuhan pun menyemburkan ke depan mata kita
: lumpur

tanah dan air serentak
menjelma longsor
mengganyang sawah dan ladang
dan perkampungan
melabrak saudara-saudara kita
yang tengah nyenyak

mengapa kemudian datang banjir
bersekongkol dengan angin dan petir
sebab kita seperti tak pernah berhenti
menunjukkan perilaku kehausan
tak berkesudahan

lihatlah
siapa yang menggasak bebukitan
dan menukarkan hutan dengan recehan?

senajan wus nggaglag rembulan
lan ngokop samodra
mereka, manusia itu
seperti tak bakal berhenti merasa haus

air pun semakin harus dibeli
dan harganya semakin tinggi
apalagi di kota seperti ini

ajameneh ngombe
nguyuh wae tuku!

merasai bumi yang makin panas
menyadari batin yang makin ranggas
ingatlah air!

belajar pada air
yang dingin dan menyegarkan
yang suaranya merdu
gemiricik di pegunungan
bergerak seindah tarian

begitulah tamsil jika kita bergandeng tangan
memperkokoh persaudaraan
mengubur rasa saling bermusuhan
saling mengobati penyakit kehausan
wajah kita akan lebih berbinar
menatap masa depan

Malang, 18 Mei 2010

(Dibacakan di acara Refleksi Kebangsaan,
Islamic Centre Surabaya, 20 Mei 2010)

Tuesday, 11 May 2010

Bonari Nabonenar Markus-e Sastra Jawa?

Sawise maca andharane Kang Narko (Narko ’’Sodrun’’ Budiman) Mapag KBJ V, Markus Basa Jawa, Sumono Gugat, ing Panjebar Semangat No 18 Tahun 2010, aku banjur kirim SMS marang: R Djaka Prakosa (anggota Badan Pekerja Kongres Bahasa Jawa V kang uga Wakil Ketua PPSJS), JFX Hoery (Ketua PSJB), Suparto Brata, Tiwiek SA, Sucipto Hadi Purnomo, Keliek SW, Sunarko Budiman (Ketua Sanggar Triwida, ya kang nulis andharan kuwi mau), mengkene: ’’Iki soal Sumono menuding ada Markus di Sastra Jawa seperti dalam tulisane Narko, yen ora dicethakake malah dadi pitenah. Atau Sumono ingin mengatakan baik penggiat KBJ maupun KSJ adalah Markus? Wah!’’

Wangsulan kang daktampa werna-werna. Ana kang, ’’Wah kula mboten nggagas sing ngaten niku. Sing penting mencintai sastra jawa tanpa syarat!’’ Pak Hoery nelakake olehe ora sarujuk karo matrape tembung ’markus’, lan Pak Parto (Suparto Brata)malah ngeles kanthi paring kabar manawa bukune Sumono Layang Panantang bakal dibedhah ing Kampus Lidah (dhek tanggal 30 April wingi kae).

Geneya kok dakarani bisa dadi pitenah? Tembung ’markus’ (cekakan saka: makelar kasus) mono saiki pancen lagi munggah godhong (naik daun) kanggo ngarani paraga-paraga kang nindakake kadurakan kanthi mbiyantu para durjana amrih ora kesrimpet ukum, kang tundhone mung murih dum-duman rejeki saka para koruptor lan saandhahane. Saking mratahe markus, pamarentah kongang jibeg nganti banjur mangun bebadan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum kang jejibahane klebu mbrastha para markus kuwi. Cekak-aose, markus kuwi leletheging jagad, ya leletheging bumi Nuswantara Indonesia Raya iki. Yen bener uga ana ing Basa Jawa (neng kene takganti Sastra Jawa) kaya pandakwane Sumono liwat Kang Narko, ya lelethege Sastra Jawa. Mulane, becike aja gumampang nuding saweneh pihak kadidene Markus Sastra Jawa, kejaba wis pawitan bukti kang trawaca.

Ing tulisane kuwi, Kang Narko (Ketua Sanggar Triwida) satemene mung dhapur madulake pandakwane Sumono, kang coba diringkes ing pratelan, ’’ 1) ana wong sing gelem mikir nasibe sastra, tapi nek kosok baline ethok-ethok mikir sastra Jawa jebul mung kanggo ngumbulake jenenge dhewe, 2) Sastra Jawa mung dianggo ajang kasus, 3) Sasuwene iki KBJ – KSJ padha, lan kaping 4) Sastra Jawane tetep mbegegeg ora ana sing gelem ngobah-obah.’’

Satleraman kaya-kaya pandakwa kuwi tumuju marang para panyengkuyung KBJ (Kongres Basa Jawa) apadene panyengkuyung KSJ (Kongres Sastra Jawa). Kang kasebut pungkasan kuwi (KSJ) sasuwene iki dianggep nandhingi anane KBJ. Lhah , kok kabeh ’’dimungsuhi’’? Nanging, yen diwaca kanthi rada tliti tibake ketemu, malah satemene cetha banget sapa pawongan kang dituju. Pratelan ing angka 3 lan 4 kuwi satemene mung dhapur aling-aling, mbokmenawa kareben ora melok.

Coba ta, kira-kira sapa pawongan kang ketoke mikir lan tumandang kanggo Sastra Jawa, nanging tibake mung kanggo ngumbulake jenenge dhewe, ’’kaya polahe selibritis sing surut pamore ben terkenal maneh,’’ (?). Tekan kene pancen isih durung cetha sapa kang didadekake tersangka dening Sumono kang sajake diamini Kang Narko kuwi. Nanging, mangga dipun semak pratelan menika: ’’Lha iki sing kudu dipetani maneh, sapa sing saiki pamore wis mlorot banjur ada-ada gawe ’kasus’ , supaya ditanggapi, dadi polemik rame ing majalah (ora mungkin neng Tv, sebab sastra Jawa ora payu didol neng Tv). Jenenge wis suwe kasilep jamane Century, kagerus ulegane Gayus, kepingin diungkit-ungkit maneh. Iya yen ana sing nanggapi, yen ora? Utawa ada-ada gawe kajatan sing ’’berbau sastra Jawa’’ mapan ing panggonan sing ora tau kambon sastra Jawa. Jebule mung dadi makelare basa (sastra) Jawa.’’

Sok sapaa kang rada tlaten njingglengi pekabaran ngenani kegiyatan Sastra Jawa mesthi bakal enggal dhamang menawa paraga markus kang dikarepake ing tulisane Kang Narko iku ora liya Bonari Nabonenar, kang ing tanggal 4 – 5 Agustus 2009 wingi gawe ada-ada nggelar Festival Sastra Jawa dan Desa, ing papan kang pancen diakoni ’’sangat terpencil’’ dening kang padha rawuh saka Jakarta, Yogya, Semarang, Banyuwangi, lan liya-liyane, yakuwi Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (saget kawaos ing: http://ppsjs.blogspot.com/2009/10/penulis-sastra-jawa-ngumpul-ing.html).

Kang banget keladuk kuwi olehe ngarani manawa Desa Cakul ora tau kambon Sastra Jawa. Kok ngono? Sastra Jawa Kuwi apa? Apa Desa kang duwe bocah wis juwara nasional dhalang wayang kulit, sing tau duwe grup wayang uwong lan ludruk, sing isih duwe tradisi tayuban, sing duwe sindhen embuh papat apa lima kuwi bisa sakepenake udele diarani ora tau kambon sastra Jawa? Takkira iku pratelan kang degsiya. Tur malah nuduhake cupete pamawas. Apa dikira yen kang diarani Sastra Jawa kuwi mung geguritan lan crita cekak utawa crita landhung kang kapacak ing majalah?

Entuk Jeneng lan Jenang

Kang Narko uga pratela, ’’Dadi pendhekare kongres! Jenenge mumbul (embuh entuk bathi material apa ora?) ora mikiri kongres sing wragade yutan mau tumanja apa ora? Asil keputusane ana tindak-lanjute napa mboten? Ditanggapi positif lan karya nyata saka pemerintah daerah apa ora?’’ kang sangsaya nuduhake manawa kang digasak kanthi degsiya kuwi dudu KBJ, nanging KSJ. Bocah isih umbelen wae prasasate rak ngreti yen KBJ kuwi ngentekake wragat takerane M (milyar) ora mung ’yutan’ kaya KSJ.

Bonari Nabonenar nyatane entuk jeneng tenan, senajan durung tinampakake, dheweke wis diwartakake bakal nampa Rancage taun iki. Senajan wis ana sing ngarani mung saderma utah-utahan saka RM Yunani Prawiranegara (suwargi) –awit ana aturan Rancage ora bisa ditampakake marang kang wus sumare?—mesthine Yayasan Rancage ora angger. Senajan Rancage kuwi yasan pribadine Pak Ayip Rosidi, mesthi ora bakal kanthi sengaja ngucemake jenenge kanthi aweh Rancage marang wong pengawak Markus. Tur, mesthine malah ana wewaton gumathok geneya Bonari kang banjur dipilih.

Asline, Bonari dhewe rumangsa durung pantes nampa Rancage. Mula senajan ngreti yen kang nintingi para nominator ing laladan basal an sastra Jawa iku Bu Sri Widati Pradopo, nganti saiki durung kawetu matur apa-apa, saking olehe pekewuh. Nanging, mbareng maca andharane Kang Narko bab Markus ing Basa Jawa kuwi saiki Bonari wis manteb, bakal nampani sambi mbatin takon, apa mengko Kang Narko konsekuen karo kang dikandhakake, banjur nulad Mochtar Lubis, yen ora kleru, mbalekake Ramon Magsaysay bareng pirang-pirang taun candhake hadhiah kuwi tumiba marang pawongan kang miturut pamawase ora pantes nampa, yakuwi Pramoedya Ananta Tour. Yen ora gelem mbalekake, tegese Kang Narko ya rumangsa ayem awor karo golongane pawongan kang miturut dheweke Markus kuwi, ta?

Apa Kang Narko isih arep ngendha kanthi kandha ngene, ’’Lho, aku ora ngarani yen Bonari kuwi markus, kok!’’ Yen pranyata kaya mangkono takkira debat terbuka bakal luwih gelis ngrampungi prekara iki tinimbang dadi polemik kedawan-dawan ing majalah. Mesakake kang padha maca yen mung disuguhi udreg nyithengan mengkene iki.

Saora-orane, muga-muga kadangku tuwa Kang Narko ’’Sodrun Tenan’’ enggal paring katrangan kang luwih trawaca, mumpung geni kang dicipratake durung mobal tekan ngendi-endi, awit iki wis ana kang wiwit nglelimbang bakal ngajokake gugatan class action, Wong Cakul, kang didakwa ora tau kambon sastra Jawa kuwi. Nuwun. [Bonari nabonenar, sastrajawa@yahoo.com]


Panjebar Semangat No 20, 2010

Friday, 30 April 2010

Tulisan kang Dadi Underaning Prekara (Panjebar Semangat, No 18, April 2010) Dikantheni Komentare Bonari

Markus Basa Jawa, Sumono Gugat


NARKO:
RONG TAUN kepungkur, pase tanggal 5 April, wis parak esuk, aku lagi wae mulih sak ndeleng wayang kulit neng Blitar, jam wis nuduhke angka 02.20. Lagi wae metu saka jedhing, jam 02.32 hape muni nuduhke anane SMS. Takkira yen kanca ndeleng wayang mau ngabari ana barang sing keri neng ’’grobag jepang’’-ku. Jebul SMS saka Bojonegoro (mas JFX Hoery) unine, ’’Sumono arep gugat KSJ, beneran dadi lantaran ngucek-ucek KBJ. Siap-siap tanggapan ya! Kelik.’’


BONARI:
Ora ana kang prelu dikoemntari.

NARKO:
SMS mau pancen sengaja taksimpen nganti saiki. Nalika Mas Hoery taktlesih apa bener SMS mau saka dhik Kelik, mas Hoery ngyakinake, ’’Iya’’. Piye tanggapane sawise maca SMS kuwi, bose PSJB iki ngakon supaya takon Sumono dhewe. Tanpa ngenteni padhange srengenge, langsung Dhik Mono taktakoni bab rencana gugate kuwi. Jam 02.45 jawaban saka dhik Mono, ’’Aku mau bengi pancen SMS ngono neng pak Kelik, Bos (dheweke pancen warga Triwida sing takpimpin, biyasa ngundang aku ’bos’), tapi kabeh kan durung ngerti apa karepku. Pean (karepe Sampeyan) oleh SMS saka sapa?’’

BONARI:
Ora ana sing prelu dikomentari.

NARKO:
Iya mesthi wae takjawab yen olehku saka Mas Hoery, sing oleh SMS saka dhik Kelik. Jam 03.00 SMS-e dhik Mono nerangake dawa benget, tanpa singkatan kaya umume SMS kae, ’’Bos, aku seneng nek ana wong sing gelem mikir nasibe sastra, tapi nek kosok baline ethok-ethok mikir sastra Jawa jebul mung kanggo ngumbulake jenenge dhewe aku ora trima. Sastra Jawa mung dianggo ajang kasus, kaya polahe selibritis sing surut pamore ben terkenal maneh. Manut petungku sasuwene iki KBJ – KSJ padha, mung kanggo mbukak kasus beberapa gelintir wong supaya ketok duwe pamor maneh, sawetara iku sastra Jawane tetep mbegegeg ora ana sing gelem ngobah-obah.’’

BONARI:
[1] Kasus apa kuwi?
[2] Saka ngendi sangkane dudutan: ’’ sastra Jawane tetep mbegegeg ora ana sing gelem ngobah-obah?’’


NARKO:
Emane nganti titi panulise cathetanku iki kapacak, ’gugate’ Sumono mau durung kababar. Dudu perkara kababar apa durung, (sewulan candhake wis dadi rembug umyeg ing sapatemon sanggar Triwida, sasi Mei 2008) sing baku piye nalare dhik Mono nganti arep ’gugat’ lan ’sapa markuse’. Ing ukarane dhik Mono mau sejatine ana babagan sing pancen narik kawigaten, kudu dianalisa kanthi nalar kang wening. Saora-orane tumrap kita kang pancen (jare) padha gumregut amarsudi basa lan sastra Jawa murih mbalik ing jaman kuncara rukmi.

Ukarane dhik Mono mau antara liya, 1) ana wong sing gelem mikir nasibe sastra, tapi nek kosok baline ethok-ethok mikir sastra Jawa jebul mung kanggo ngumbulake jenenge dhewe, 2) Sastra Jawa mung dianggo ajang kasus, 3) Sasuwene iki KBJ – KSJ padha, lan kaping 4) Sastra Jawane tetep mbegegeg ora ana sing gelem ngobah-obah.

BONARI:
Delengen nomer 1 kuwi! Lho, yen paraga kang didumuk kuwi isih ’’mikir’’ kok wis didakwa ethok-ethok tur wis diarani yen motivasine mung kanggo ngumbulake jenenge dhewe?

NARKO:
Kanggo ngonceki ukara nomor (1) mau kudu merlokake spionase, telik sandi, intele kasusastran Jawa. Sajake dhik Mono wis nampa tandha-tandha anane babagan kang kurang (apa ora) beres ing jagading susastra Jawa, utamane ing paragane. Lha, banjur sapa sing patut dicubriyani? Sapa sejatine paraga kang ethok-ethok mikir sastra Jawa jebul mung kanggo ngumbulake jenenge kaya selebiritis sing wis surut pamore? Sapa pawongan kuwi? Saking semangate nganti dhik Kelik ajak-ajak Mas Hoery supaya siyaga ing gati, sawega ing kardi aweh tanggapan. Kaget sanalika sang baureksa PSJB. Saka Bojonegoro nuli nglayangaken warta tumujweng sanggar Triwida ing Tulungagung. Apa mas Hoery uga ngirim menyang kanca liyane ora mudheng? Krana dhik Mono kuwi wargane Triwida (sanggar sing akeh anggota wargane) Mas Hoery kira-kira banjur nduweni panduga yen niyat ’gugate’ Sumono kuwi ’sepengetahuan’ Triwida utawa wong Triwida pancen ora ngerti? Yen sing ’dicurigai’ dhik Mono mau pancen ana tenan, sajake kok kaniaya temen ana wong Jawa duwe trekah kurang becik. Wedhus prucul alulang macan, supaya duwe pamor ing donyane kewan alas. Yen kober nyilih siyunge celeng supaya duwe siyung maneh?

BONARI:
Tekan kene isih durung cetha, satemene sapa sing ’dicurigai’ kuwi.


NARKO:
Angka (2) sastra Jawa mung dianggo ajang kasus, isih sambung rapet karo angka (1).

BONARI:
Ajang kasus? Kuwi apa sing dikarepke?


NARKO:
Lha iki sing kudu dipetani maneh, sapa sing saiki pamore wis mlorot banjur ada-ada gawe ’kasus’ , supaya ditanggapi, dadi polemik rame ing majalah (ora mungkin neng Tv, sebab sastra Jawa ora payu didol neng Tv). Jenenge wis suwe kasilep jamane Century, kagerus ulegane Gayus, kepingin diungkit-ungkit maneh. Iya yen ana sing nanggapi, yen ora? Utawa ada-ada gawe kajatan sing ’’berbau sastra Jawa’’ mapan ing panggonan sing ora tau kambon sastra Jawa. Jebule mung dadi makelare basa (sastra) Jawa.

BONARI:

Sok sapaa kang rada tlaten njingglengi pekabaran ngenani kegiyatan Sastra Jawa mesthi bakal enggal dhamang menawa paraga markus kang dikarepake ing tulisane Kang Narko iku ora liya Bonari Nabonenar, kang ing tanggal 4 – 5 Agustus 2009 wingi gawe ada-ada nggelar Festival Sastra Jawa dan Desa, ing papan kang pancen diakoni ’’sangat terpencil’’ dening kang padha rawuh saka Jakarta, Yogya, Semarang, Banyuwangi, lan liya-liyane, yakuwi Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (saget kawaos ing: http://ppsjs.blogspot.com/2009/10/penulis-sastra-jawa-ngumpul-ing.html).
Utawa, sapa sing satemene dikarepake, yen dudu Bonari?

NARKO:

Banjur angka (3) sasuwene iki KBJ lan KSJ padha. Apa sing dikarepake tembung ’padha’ ing antarane kongres kalorone mau? Jebul sing padha kuwi ancas tujuwane yaiku mung kanggo mbukaki cathethan lawas, pamrihe supaya ’segelintir wong’ kuwi bisa moncer maneh. Merga saka sengkud gumregude ngadani KBJ lan KSJ. Dadi pendhekare kongres! Jenenge mumbul (embuh entuk bathi material apa ora?) ora mikiri kongres sing wragade yutan mau tumanja apa ora? Asil keputusane ana tindak-lanjute napa mboten? Ditanggapi positif lan karya nyata saka pemerintah daerah apa ora? Sastrawane piye? Budayawan Jawa pripun? Ing kene dhik Mono isa mbedakake sing sapa oleh jeneng lan sapa sing oleh jenang! Lan, sapa sing kapiran-kapirun? Bubar kongres kahanane sastra Jawa panggah (4) isih mbegegeg kaya tugu sinukarta, ora ana sing nyenggol, ora ana sing nggepok. Aja maneh kok wong ’njaba’, wong sing tau oleh jeneng lan jenang saka pokal gawene gawe ’kasus’ wae wis ora ngreken! Makelar kasus basa (klebu sastra) Jawa wis mlayu sipat kuping menyang Negara embuh!

BONARI:
Ing endi dununge luput yen ana paraga golek jeneng lan/utawa golek jenang? Utawa, yen diarani golek jeneng lan/utawa jenang kanthi nganiaya liyan apa kuwi bleger manungsa utawa bleger basa/sastra Jawa, nganiaya sing kayangapa?

NARKO:
Lha apa KBJ kaping 5 kang bakal kagelar ing Jawa Wetan taun 2011 mbesuk isih padha kaya dudutane dhik Mono lan sawenehing sastrawan sarta budayawan Jawa, tegese mung pinter ada-ada gawe ’kasus’ kanggo ngundhakake pamore dhiri pribadhi ’’sang pendhekar’’? Apa dadi ’’raja alas’’ iki.

Macan loreng/nggereng mrojol saka krangkeng/mlaku turut dalan sudhetan/nggoleki watu gilang/papan lungguhe sing ilang/nalika banjir bandhang//macan loreng/mung bisa mlenggong/weruh kanca-kancane ganti sandhangan/ supaya ora ditumbak wong mbebedhag/sing butuh buron alasan//macan loreng/kelangan crita, kelangan dongeng/senajan untune wis ompong/nanging sing ngati-ati, mitra/lambene isih ngemu wisa//. (Layang Panantang : 44).

BONARI:
Iki bageyane ’KBJ’

NARKO:
Sapa sing disengguh macan ompong sing isih mbebayani?
Niyate dhik Mono pancen apik, yen ora (durung) kasil nggugat, sejatine dheweke wis gawe Layang Panantang antologi sing kasil nggawa dheweke entuk hadiah Rancage taun 2010 bidhang sastra bebarengan karo sedulur Bonari Nabonenar ing bidhang jasa pembinaan basa. Kekarone saka sanggar Triwida Tulungagung (sanajan Bonari Nabonenar saiki wis dadi ketua PPSJS, Paguyuban Pengarang Sastrawan Jawa Surabaya).

BONARI:
Bedane, Layang Panantang-e Sumono ora blaka ndumuk anane Markus ing basa/sastra Jawa, dene liwat andharane iki kang Narko ketok le ’’tendensius’’ banget. Kok saupama ora ana racikaning ukara iki: ’’…ada-ada gawe kajatan sing ’’berbau sastra Jawa’’ mapan ing panggonan sing ora tau kambon sastra Jawa. Jebule mung dadi makelare basa (sastra) Jawa,’’ mesthi ora konangan yen sing diarah satemene: Bonari.

NARKO:
Ngrembug lan nggepok senggol sastra Jawa pancen kebak resiko, ora mung omong thok, nanging cucul dana kanggo ’’nguripi’’ sastra Jawa kuwi perlu. Aku sarujuk panemune dhik Mono yen lelumban ing jagading kasusastran (Jawa) aja cilik ati. Yen saiki durung akeh wong sing aweh kawigaten mareng donyane kasusastran, ora ateges kasusastran mono remeh, babar pisan ora. Nanging malah tiba kosokbalen, karya sastra wis dadi sawijining barang mewah, sing ora saben wong bisa menikmati, apa maneh nganti nduweni. Wiwit dina iki wis ora perlu ngresula, sambat, wadul, kanthi swara trenyuh sinambi netesake luh perkara donyane kasusastran, sing jarene kasingsal ing sampiraning jaman.

BONARI:
Isih aluwung ngresula utawa sambat tinimbang nyebar pitenah.

NARKO:
Sepisan maneh, pokok aja nganti mung dianggo ngumbulake jenenge dhewe kanthi pawadan ngopeni sastra Jawa. Bubar entuk jeneng lan jenang banjur jenat. Satemene dadi makelar ora mung pawitan ilat, nanging ati lan mripat minangka gendhewaning tekad.
Nuwun. []


BONARI:
Aku uga takon: mengko gek sing ggethu nulis crita cekak utawa novel kuwi ya luwih murih kombule jenenge dhewe?


PANUTUP:
Yen Sumono konsisten karo kandhane liwat SMS, manawa dheweke mung pengin gawe rame-ne sastra Jawa lan kangen acara Pengadilan Sastra Jawa kaya kang wus nate kagelar sawatara taun kepungkur, takenteni uleme, aku siap dadi terdakwa, utawa yen wegah diarani fitnah, becike artikel kang kebak ’’asumsi’ lan pandakwa-pandakwa mlompong tanpa wewaton kuwi enggal diklarifikasi. Utawa padha pengin nuhoni unen-unen, ’’Wani silit wedi rai!’’


Malang, 1 Mei 2010

Tuesday, 27 April 2010

Etik Juwita dan Putri Raemawasti

Ketua SBMI Jatim Moch Cholily menga- barkan bahwa para calon Bupati Jember bakal diadu dalam sebuah acara debat untuk persoalan buruh migran. Tentu itu akan jadi acara yang menarik. Dengan digelarnya acara debat itu (sebagian) masyarakat calon pemilih akan dapat mengetahui sejauh mana pemahaman calon pemimpin mereka berkaitan dengan nasib sekian banyak warganya yang mencari rezeki di negara lain. Lalu, berdasarkan pemahaman itu, kira-kira program macam apa saja yang bakal dilaksanakan calon terpilih nanti demi mengatasi sekian banyak persoalan yang berjalin-berkelindan sejak persiapan pemberangkatan hingga pasca-kepulangan para BMI itu ke tanah air.


Dalam waktu dekat ini, beberapa kabupaten yang masuk kategori ’’pengirim BMI terbanyak’’ di Jawa Timur bakal menggelar hajat demiokrasi alias pilkadal, seperti Malang, Ponorogo, dan Banyuwangi. Walau mungkin tidak tergolong pengirim terbanyak, ada lagi Kaupaten Trenggalek, yang, menariknya, salah satu calonnya adalah incumbent (sekarang wabub), Machsun Ismail, S.Ag. M.M, seorang mantan BMI. Ia pernah bekerja di pengeboran minyak di Malaysia sebelum menjadi anggota DPRD Kabupaten Trenggalek dan kemudian dua kali terpilih jadi Wabub Trenggalek.

Acara depat seperti digagas SBMI (Serikat buruh Migran) Jawa Timur itu juga bagus bukan saja untuk mengetahui pemahaman serta rencana program para kandidat berkaitan dengan keberadaan para BMI asal daerahnya, melainkan juga seklaligus menjadi momentum untuk membekali para calon pemimpin daerah dengan pengalaman yang akan menjadi ingatan --terutama bagi calon terpilih, agar kelak benar-benar bijak menghadapi berbagai persoalannya, dan menjadi pemimpin yang tidak hanya melihat rakyatnya sebagai angka.

Dengan demikian, kelak, misalnya, tidak akan terulang peristiwa yang tergolong ganjil, walau tak banyak orang menyadarinya, yang pernah terjadi di Blitar. Pada 2007 Putri Raemawasti yang asal Blitar itu terpilih sebagai Miss Indonesia. Ia lalu diarak keliling kota Blitar, dielu-elukan sebagai telah membawa nama baik daerah asalnya. Lalu, tahun berikutnya (2008) seorang BMI asal Blitar juga, Etik Juwita namanya, berhasil memasukkan namanya di barisan 20 cerpenis terhebat Indonesia versi Pena Kencana, dan dimonumenkan dalam buku yang diterbitkan Gramedia. Anehnya, seperti tak ada orang Blitar yang mengetahuinya, apalagi para pejabat daerah di sana. Jangankan diarak, barangkalai sekadar ucapan selamat via SMS atau apalagi telepon pun juga tidak.

Ayo sekarang kita bandingkan, kira-kira siapa memberikan isnpirasi lebih esensial, seorang selebritis dadakan itu ataukah seorang penulis seperti Etik? Berdasarkan pengalaman selama ini, kalau sekadar semacam ratu cantik kelas nasional, sebentar juga dilupakan orang, apalagi jika yang bersangkutan tidak bisa mewarnai perjalanan kehidupannya dengan hal-hal positif yang menginspirasi banyak orang. Kalau boleh sedikit slengekan, ia, ’’si ratu cantik’’ itu akan memudar seiring usianya. Sementara ’’si juara sastra’’ makin tua akan makin ’seksi’-lah dia! Tulisan, walau sekadar sebuah cerpen atau sebuah puisi, ketika ia sudah dimonumenkan dalam buku seprestisius itu, selama anak sekolah masih mendapatkan pelajaran bahasa dan sastra, selama masih ada fakultas sastra di perguruan tinggi, ia akan tetap lekat di ingatan. Malahan dalam dunia sastra, tak jarang orang justru semakin dihormati berkat karya-karyanya, setelah meninggal dunia!

Perbandingan macam bigitu memang bisa diperdebatkan. Tetapi, ketika mengingat ’nasip’ seorang Etik Juwita dibandingkan seorang Putri Raemawasti, kita jadi boleh bergumam, ’’Nah, andai dulu sebelum pilkada ada Debat Kandidat soal BMI di Blitar, ceritanya bisa lain kali yeeeee……!’’

Selamat memeringati Hari Buruh Sedunia!


REDAKSI MAJALAH PEDULI EDISI MEI 2010


Tuesday, 20 April 2010

Sepak Bola Itu Tidak Penting!

Saya tahu, tulisan ini dapat memancing kemarahan banyak pihak, instisusi maupun perorangan. Tetapi, bukankah dunia persepakbolaan kita adalah dunia yang nyaris penuh dengan kemarahan? Lagi, kemarahan tidak selalu buruk, bukan?

Saya menganggap sepak bola tidak penting. Tetapi, saya tahu, ribuan, jutaan, atau bahkan puluhan juta rakyat Indonesia selain saya menganggap sepakbola sedemikian penting. ’’Rakyat yang mengalami banyak tekanan, ekonomi, politik, sosial, memerlukan saluran untuk melepaskan emosinya. Di lapangan sepakbola kita bisa bersorak, berteriak, dan bahkan mengumpat semau kita tanpa khawatir dijerat pasal penghinaan atau pencemaran nama baik,’’ demikian ujar seorang kawan saya. Jika pernyataan kawan saya itu benar, jangan-jangan sepak bola itulah yang ikut pula menggilas kesenian tradisional macam ludruk yang biasanya tampil sebagai suara rakyat yang kritis terhadap lingkungan, masyarakat, dan bahkan pemerintah.

Tetapi, ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa para birokrat, politisi, dan orang-orang dengan kedudukan tertentu sangat berkepentingan dengan sepakbola, terutama untuk merebut dan/atau mengukuhkan kedudukan mereka. Di sebuah kota, konon, seseorang harus membuktikan sukses mengetuai sebuah klub sepakbola untuk mendapatkan jalan lempang menuju jabatan walikota. Suara rakyat memang sangat berharga di dalam pemilu. Termasuk pemilukada. Olahraga apalagi yang memiliki massa sebanyak sepakbola?

Sepakbola adalah olahraga dengan dukungan massa yang begitu besar. Ironisnya, di negri ini, sepakbola ternyata tidak mampu mendapatkan cukup suntikan dana dari para sponsor, atau perusahaan-perusahaan yang sangat berkepentingan dengan massa yang sangat besar itu. Karenanya, dana pun perlu disuntikkan dari APBD atu bahkan APBN?

Negara tentu memiliki kepentingan untuk, meminjam slogan yang sangat popular di era Orde Baru, ’’Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat.’’ Pemerintah berkewajiban memenuhinya, dan di sinilah kiranya fungsi Kementerian Pemuda dan Olahraga menjadi penting. Tetapi, sekarang ini, di dalam dunia persepakbolaan, jangan-jangan kita hanya sedang: ’’Memasyarakatkan bonek dan membonekkan masyarakat!’’ Lihatlah, di sekitar persepakbolaan yang sedang kita bicarakan ini, berapa banyak kepala bocor terkena lemparan batu, berapa jiwa melayang karena terjatuh dari kereta api, dan sekian banyak kerepotan lain yang ditimbulkan oleh ulah negatif para pendukung kesebelasan.

Kementerian Pemuda dan Olahraga, tampaknya lebih sibuk memikirkan bagaimana mengirimkan atlet, petinju, kesebelasan, ke luar negri dan mengupayakan berbagai cara agar kembali ke tanahair dengan medali kemenangan, syukur-syukur medali emas. Dan olahraga pun menjadi tumpuan pertaruhan nama baik bangsa setelah kenyataan membuktikan bahwa prestasi bangsa ini jeblok di banyak hal, dari soal kesejahteraan warga, kemajuan teknologi, pendidikan, dan bahkan merah pula rapor kita di bidang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih (dari korupsi) dan penegakan hukum.

Kompetisi olahraga antar siswa, antarmahasiswa, antarkampung, memang masih ada, tetapi seolah-olah itu diselenggarakan hanya sebatas menggugurkan kewajiban. Maka, kita bisa bertanya, misalnya: Berapa rupiahkah yang dianggarkan Pemerintah untuk menggelar sepakbola galadesa? Kalau mau membuat masyarakat lebih sehat jasmani dan rohani melalui olahraga, sesungguhnyalah kompetisi atau agenda olahraga di kampung-kampung itu yang penting untuk lebih digalakkan. Pada gilirannya nanti, bibit-bibit unggul akan terjaring atau bermunculan dari situ.

Persepakbolaan kita juga menambah ironi pada dirinya dengan semakin bernafsu mendatangkan pemain asing. Lha, terus di manakah kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa? Dan kita berbusa-busa berbicara tentang persepakbolaan nasional, padahal yang kita urusi adalah ’’persepakbolaan internasional’’! Kita mendatangkan orang asing dan memberi mereka fasilitas mewah serta gaji yang sangat besar agar bersemangat menyalurkan hobi bermain bola mereka di depan mata kita. Tahukah Anda, berapa gaji seorang pemain bola dari negri lain yang kita minta untuk bermain (-main) di negri ini? Dan untuk uang sebanyak itu, berapa jiwa anak negri ini yang mesti bertaruh nyawa di luar negri (sebagai buruh migran)?

Karena sebagian besar rakyat kita adalah orang-orang kalah, maka mereka menikmati sepakbola semata-mata sebagai pertaruhan kalah dan menang. Kalau kesebelasan kesayangan mereka menang, mereka mabuk kemenangan, dan untuk beberapa saat melupakan kekalahan sejati mereka dalam hidup keseharian. Jika kekalahan menimpa kesebelasan kesayangan mereka, rasa frustasi pun berakumulasi, dan sebegitu mudahnya menejelma amuk. Lalu, kita bisa saja hanya menuding kekalahan kesebelasan kesayangan mereka sebagai satu-satunya penyebab. Rakyat kita, tampaknya memang lebih memerlukan pertandingan sepakbola sebagai pelarian, dan bukannya menikmatinya sebagai sebuah rekreasi. Bagi sebagian besar penonton sepakbola kita, permainan baik atau buruk itu tidak penting. Bahkan, diam-diam banyak pula tampaknya yang berharap agar terjadi adu jotos di tengah lapangan.

Jangan-jangan kita semakin kedodoran justru karena menganggap sepakbola itu sedemikian pentingnya. Sedemikian pentingnya, sehingga orang-orang penting yang tak pernah kenal poncotane bal (sudut-nya bola) pun biasanya begitu bernafsunya untuk menjadi Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Maka, marilah menyugesti diri kita masing-masing dengan membisikkan ini, ’’Sepakbola itu tidak penting!’’ seperti tampaknya, saudara-saudara kita di Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, juga mengatakan hal yang sama. Dan tampaknya mereka hidup lebih bahagia dan sejahtera!* []

Sunday, 18 April 2010

Saatnya Rakyat Memberikan Contoh

Marilah terlebih dahulu kita sepakat bahwa memberikan contoh atau teladan adalah lebih baik daripada menyeru dengan kata-kata. Bisa jadi memang, ada saatnya kata-kata bisa cukup ampuh. Tetapi, kini udara kita sudah dipenuhi busa kata-kata. Disebut busa karena banyak yang kemudian kita ketahui hanya omong kosong belaka. Mereka yang kita sanjung-sanjung kepandaiannya pun tak malu-malu memanipulasi kata-kata. Bahkan, memertontonkan pokrol bambu di tempat-tempat terhormat.

Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa rakyat? Rakyat yang mana pula? Terus terang, tulisan ini sengaja dibuat dalam momentum menjelang pilkada. Selain Kota Surabaya, beberapa kabupaten/kota di Jatim kini tengah sibuk mempersiapkan pesta demokrasi yang popular dengan sebutan pilkadal itu. Maka, anggap saja bahwa semua yang berhak menggunakan hak pilihnya nanti adalah rakyat.

Beberapa waktu lalu saya menulis di dinding Facebook saya begini, ’’Manusia Indonesia itu ada tiga: [1] mendapatkan kompor gas ratusan ribu harganya, [2] mendapatkan komputer Rp 15 jutaan, dan [3] mendapatkan mobil seharga Rp 1,3 milyar. Hore, saya manusia Indonesia nomor satu!’’

Para pejabat kita yang ada di Jakarta sana tampaknya memang tengah kemaruk-kemaruk-nya pamer: pokrol bambu dan keserakahan. Untuk mengetahui betapa trampilnya pejabat kita memanipulasi kata-kata, melebihi kawan-kawan saya yang penyair, kita hanya perlu nonton televisi. Mengenai keserakahan mereka, ingatlah, beberapa hari setelah diberi mobil mewah harga Rp 1,3 milyar/unit/orang, ramai pula berita mengenai rencana kenaikan gaji mereka.

"Gaji saya nggak masalah mau naik mau turun. Tapi kalau kita lihat komparatif dengan beban tugas atau dengan direktur perusahaan swasta itu jauh,’’ kata Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi seperti dikutip detik.com.

Coba, kalau rakyat yang beralasan seperti itu mesti pejabat akan segera menyergap, ’’Siapa suruh kau jadi pejabat? Jadilah direktur swasta!’’ Apakah mereka tidak pernah risau dengan jutaan rakyat yang menganggur, dan jutaan lainnya bekerja sangat keras tetapi hanya dapat gaji senilai sekali makan mereka? Bayangkanlah, ada manusia Indonesia yang ongkos sekali makannya bisa setara dengan (atau jangan-jangan malah lebih dari) nilai gaji sebulan seorang pekerja sangat keras? Artinya, ongkos sekali makan untuk satu orang kira-kira setara dengan ongkos hidup sekeluarga pekerja sangat keras itu? Begitu, kan, nalarnya?

Agak mundur lagi, rakyat juga sempat di-elus-elus dengan kata-kata ’’pendidikan gratis.’’ Ketika kemudian terbukti tidak gratis, pejabat pun berkilah, lha itu kan bahasa iklan. Pengertian gratis menurut pejabat, ternyata berbeda dengan yang dipahami rakyat. Nah, lalu kemakmuran dan kesejahteraan hidup macam apa yang dapat diangankan oleh segenap warga negara ini kalau pejabat dengan rakyatnya sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik seperti itu?

Apa hubungannya semua itu dengan pilkadal? Jika Anda bertanya begitu, mohon dijawab pertanyaan ini: Apakah pejabat dari jenis yang kemaruk harta dan hanya pinter bermain kata-kata yang kita inginkan menjadi pemimpin di wilayah kita? Saya pastikan, jawaban Anda: ’’Bukan!’’

Kita menginginkan pejabat yang amanah, jujur, cakap, tidak korup, lengkap dengan sifat-sifat yang baik lainnya. Jika Anda setuju demikian, marilah sekarang kita memarahi diri kita. Anggap ini sebagai ritual, sebagai lelaku, untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar kewahyon, dan bukan pemimpin karbitan.

Anda juga boleh segera memarahi saya, karena saya akan mengatakan bahwa sesungguhnya selama ini kita hanya mengharapkan atau bahkan menuntut segala macam kebaikan dari pejabat-pejabat dan pemimpin kita, sedangkan kita sendiri dari awal prosesnya sudah tidak jujur. Kalau saya memakai istilah ’kita’ maka pengertiannya adalah rakyat sebagai kesatuan. Sehingga, setitik keburukan akan memberikan alasan untuk mengatakan bahwa kita buruk.

Ternyata si serakah itu bukan hanya para pejabat. Rakyat pun selama ini suka aji mumpung. Mumpung musim pilkadal, mumpung ada yang bisa dipalak, maka beramai-ramailah rakyat memalak para calon pemimpinnya. Urusan palak memalak inilah yang kemudian menggelinding sebagai money politic alias politik dhuwit.

Kita, rakyat, bukanlah kumpulan orang-orang bodoh. Tetapi, marilah kita berjamaah mengakui bahwa selama ini kita selalu silau dengan baliho, dengan umbul-umbul, dan gambar-gambar yang ditempel di pepohonan pinggir jalan itu. Bahkan, kita tidak ragu-ragu meminta sejumlah uang untuk memastikan siapa calon yang kita pilih. Kita menjual suara kita secara eceran dan kemudian menjualnya lagi dalam kemasan kelompok (per RT, per Dusun, per Desa, dan seterusnya). Bahkan, tentunya ada pula di antara kita masih tega menjual suara kepada lebih dari seorang calon.

Selain cara penjualan dengan uang kontan yang bisa dibagikan kepada setiap pemilih, ada lagi kemasan (suara) kelompok yang harganya dipatok dengan aspal seruas jalan atau sebuah jembatan.

Kita masih ingat bukan, dalam Pileg yang lalu, banyak berita tentang penarikan kembali semen, bahkan juga karpet musala oleh caleg yang gagal. Itu bukti cetha wela-wela bahwa praktik jual beli suara bukanlah isapan jempol, bukan? Dan hanya berselang bulan, kita berteriak-teriak bahwa wakil kita nggak mutu, ternyata lebih mewakili partai ketimbang konstituennya. Sebentar-sebentar kita juga turun ke jalan, mengolok-olok, bahkan menghujat para pejabat kita, seperti bagian awal tulisan ini.

Nah! Sekarang ketahuan. Agaknya kita benar-benar keblinger kalau kemudian mengolok-olok atau menghujat para pejabat. Lha wong kita bisa lebih runyam dibandingkan mereka kok, andaikata kita punya kesempatan! Dan lagi, bukankah kita sudah menjual suara kita? Maka, kalau kita mau disebut konsekuen, kita mestinya mengakui bahwa kita tidak lagi punya wakil di lembaga bernama Dewan Perwakilan Rakyat itu. Kita telah menjualnya seharga lima belas atau dua puluh ribu rupiah! Sesungguhnya kita sudah tidak lagi punya hak untuk menuntut, bahkan untuk didengar suara kita.

Jika kita menghendaki pejabat yang mau memerhatikan rakyatnya, pemimnpin yang mengayomi, yang amanah, cakap dan tidak korup, ya marilah bersama-sama memantang uang lima belas atau dua puluh ribu itu. Dan kita punya hak untuk berteriak atau bahkan melabrak jika kelak terbukti mereka serong. Soal pembangunan jalan atau jembatan, dan bahkan melindungi segenap warga negara dari segala macam mara bahaya, termasuk bahaya kelaparan, kemiskinan, maupun kebodohan, itulah tugas negara yang mesti dijalankan oleh pemerintah melalui tangan-tangan pejabat serta pemimpin kita. Pejabat dan pemimpin yang hanya kita titipi ’suara’ kita, bukannya yang telah membelinya dari kita.

Memberikan contoh yang baik kepada para pejabat dan pemimpin kita, mau? Sekarang inilah saatnya! [bonarine@yahoo.com]

Thursday, 15 April 2010

NABOK NYILIH TANGAN

siapakah yang nabok nyilih tangane
satpol pepe?
sesungguhnya mereka berutang nyawa
dan darah
dan airmata
mengalir sepanjang masa


mereka minta maaf
dengan kata bersayap
dan sekilas pun susah kita tangkap
rasa bersalah itu berkelebat
sedang kita dituntut jadi pemaaf

APRIL, 2010

Thursday, 8 April 2010

Kongres Basa Jawa V: Aja mung Mburu Gebyar!

Nalika digelar Kongres Basa Jawa (KBJ) I ing Semarang (1991), sawijining esuk pengarang (kang uga pulisi, dhek semana dhines ing Polda Jawa Timur) Ismoe Riyanto, bengok-bengok ing latar hotel. Kurang-luwihe mengkene pambengoke, ’’Yak apa iki rek! Mosok iki wong Jawa, Kongres Basa Jawa, isuk-isuk disarapi cara Landa!” Prekarane, mbokmenawa pengine sarapan sega goreng utawa sega pecel, kamangka esuk iku sarapan saka hotel ing laladan Srondhol kuwi roti bakar karo endhog godhog.

KBJ II kagelar ing Batu (Jawa Timur, 1996), mapan ing Hotel Purnama. Yen ing Semarang ana protes gara-gara roti bakar, ing Batu ya ana sing gemremeng, ngresula, malah nyelathu petugas hotel, ’’Hotel berbintang ngene kok arep adus wae ra ana cidhuke!’’

Iku mung sawatara pratandha manawa kemewahan kang diupayakake dening panitia (KBJ) malah sok tinampa kadidene bab kang ora ngepenakake dening saperangan peserta. Kang luwih nandhes maneh iku malah rerasanane Djajus Pete, pengarang gamben saka Bojonegoro. Wektune wis lingsir wengi nalika kuwi, nanging Djajus isih gayeng glenikan karo kanca-kanca pengarang kang angel bisane ketemu yen ora ana acara-acara sarasehan utawa kongres ngono kuwi. Ana kang ngarani, senajan sapa wae ngakoni crita cekake Djajus kuwi pilih tandhing, nanging satemene luwih mantep Manawa Djajus crita kanthi lisan. Ringkese, critane Djajus bengi kuwi satemene wantah pangudarasa. Pranyata, senajan wis disedhiyani papan kepenak malah dheweke ora bisa ndang turu, kepara malahg melak-melik. ’’Lha iya, aku mau takon pegawene hotel, jare kamar kaya sing taknggoni kuwi sewengi sewane patang atus seket ewu rupiyah. Kuwi dienggoni wong loro. Tegese wong siji kaya aku iki kejatah rong atus selawe ewu sewengi mung kanggo mapan turu. Yen kongrese limang dina, rak etungane dadi sejuta luwih ta kuwi? Lha, rak aku banjur kelingan anak-anakku sing isih dha sekolah ta? Upama diwenehake rupa dhuwit, aku rak tetep bisa melu kongres, turu nggolek sing murah, cukup seket apa satus ewu sewengi. Rak mulih kongres aku bisa nyenengke sing neng omah, ta?’’

Cekake, ana kang ngrasa eman dene dhuwit watara limang milyar rupiyah kanggo KBJ kuwi tibake luwih akeh kang tumanja ing urusan ’’turu’’ lan ’’mangan.’’ Kanthi iming-iming fasilitas kaya mengkono kuwi: mangan enak, turu kepenak (senajan Djajus Pete tibake malah klisikan), isih tambah bonus sertifikat kang gedhe pangajine mligine tumrap para guru, KBJ dadi kayadene kalodhangan plesir. Kathik wektune biasane kepetung omber, bisa nganti sepasar!

Ana kang asung pawadan, KBJ iku adicara kang sipate internasional, dadi wus murwat yen papan sarta samubarange ora nganggo kang kelas ecek-ecek. Mendah olehe nglelingsemi yen para tamu saka negara manca mung disugata papan lan pacitan sarwa prasaja! Mbokmenawa pawadan mangkono iku ora banget lupute. Mung, yen kesengsem mburu gebyar, buktine malah kanyatan kang gumelar sasuwene iki tibake malah, yen temen-temen olehe ngrasakake, apa ora luwih ngisin-isini?

Pak Ajip Rosyidi lumantar Yayasan Rancage wiwit 1993 saben taun paring ganjaran kanggo Sastra Jawa. Wujude hadiah Rancage, kanggo tokoh lan buku pinilih. Kejaba piagam, bebana kuwi wujud dhuwit nglimang yuta rupiyah. Tegese, Yayasan Rancage kang sakawit didegake kanggo Sastra Sunda kuwi wis asung urun saben taun Rp 10 yuta marang Sastra Jawa. Kamangka, pemangku budaya, basa, lan sastra Jawa dhewe kena diarani durung urun apa-apa ing bab iki. Lha, rak nyolong pethek tenan ta kuwi? Bisa nggawe acara andrawina kanthi wragat milyaran kok malah kaya api-api ora weruh yen para pengarange diopeni ’’wong liya’’?

Mulane, muga-muga KBJ V kang bakal digelar 2011 ing Surabaya mengko bisa minangkani usulane sawatara pengarang kaya kang nate diupayakake dening kadang Keliek Eswe ngadhepi tumapake KBJ IV (2006). Nalika semana sajake rembug wis diwiwiti, nanging banjur mandheg satengahe dalan. Saiba prayogane saupama rembug kang ndhamar mancung kuwi bisa disambung maneh, lan mengko kuwi bisa kababar buku-buku guritan, crita cekak, apadene novel pinilih.

Saupama KBJ diwragati watara limang milyar rupiyah, kudune rak bisa diprithil rong atus apa telung atus yuta rupiyah kanggo mbabar buku cacah sepuluh, kang istingarah paedahe ora mung bisa dirasakake nganti tumapake KBJ sabanjure.

Kanthi mangkono KBJ V wenang diarani ora mung mburu gebyar, nangin kepara sangsaya gumebyar kanthi anane buku-buku kang kababar ora mung saprelu ngluwari ujar. [Bonari Nabonenar]

Dimuat Solopos, rubrik Jagad Jawa (Kamis, 8 April 2010)

Saturday, 3 April 2010

Menuju Kongres Bahasa Jawa V, Surabaya 2011

KSJ Tidak Menandingi KBJ


Tulisan ini akan lebih bersifat klarifikasi (dalam konteks pertentangan yang dikesankan antara Kongres Sastra Jawa –selanjutnya disingkat KSJ dengan Kongres Bahasa Jawa –selanjutnya disingkat KBJ) dan sekaligus menggarisbawahi salah satu usulan Kepala Balai Bahasa Jawa Yogyakarta, Tirto Suwondo, dalam tulisannya bertajuk, Kongres Bahasa Jawa V, (Jawa Pos, Minggu, 21 Maret 2010).


Pada butir ke-3 usulannya, Tirto antara lain menulis, ’’Di satu sisi KSJ memang dinilai positif. Tetapi pengalaman Semarang menunjukkan ada kesan KSJ diselenggarakan hanya untuk ’tandingan’ KBJ.’’

Sebagai salah seorang penggagas Kongres Sastra Jawa (KSJ) saya tidak sedang membantah bahwa KSJ, bagi sebagian orang terkesan sebagai asal menandingi KBJ. Kenyataannya, jangankan mereka yang mengamati perkembangan dua kegiatan itu dari kejauhan, para pengarang Sastra Jawa Modern pun, bahkan yang sejak awal mendukung dan ikut bersusah-payah merealisasikan keinginan menggelar KSJ, belakangan ada pula yang menganggap KSJ sebagai gerakan waton sulaya (asal konfrontatif dengan KBJ).

Sebagai agenda 5 tahunan, KBJ I digelar di Semarang 1991 pada era Gubernur Ismail, merupakan proyek pemerintah yang didukung tiga daerah: Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.

Pada awalnya, KBJ memang disambut sebagai kabar baik, terutama oleh mereka yang menginginkan agar bahasa Jawa mendapatkan iklim yang lebih baik untuk tetap berada dan bahkan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya. Tetapi, terutama sejak KBJ II (Batu, 1996), beberapa pengarang mulai menunjukkan sikap ketidakpuasan mereka terhadap penyelenggaraan KBJ. Esmiet, misalnya, melihat bahwa banyak sastrawan Jawa seharusnya mendapatkan undangan, tetapi ternyata tidak tampak di arena Kongres. Saya masih ingat, salah seorang penyair Jawa yang jadi ’’contoh kasus’’ saat itu ialah Budi Palopo. Ada dua versi mengenai ketidakhadiran Budi Palopo. Versi pertama mengatakan Panitia memang tidak mengundangnya, dan versi kedua mengatakan undangannya diserobot dan dimanfaatkan orang lain.

Ada juga rasan-rasan mengenai dominasi kaum akademisi, sehingga, kongres terkesan sebagai seminar akbar bin mewah. Saya masih ingat, betapa waktu itu ketika acara kongres sedang berlangsung, beberapa tokoh malah seolah membuat forum tandingan di dalam sebuah kamar. Bahkan, JS Sarmo yang datang dari Suriname sebagai wong jawa sekaligus akademisi pun memilih meninggalkan acara resmi pada salah satu sesi itu untuk ngobrol bersama: Suparto Brata, Esmiet, Tamsir AS, Bambang Sadono SY, D Zawawi Imron, Hasan Senthot.

Dari rasan-rasan para tokoh itulah antara lain kemudian berkembang pikiran-pikiran kritis terhadap KBJ yang salah satu di antaranya menemukan bentuknya pada KSJ. Kehadiran tokoh-tokoh, antara lain: Suparto Brata, N Sakdani Darmo Pamoedjo, Arswendo Atmowiloto, dan bahkan WS Rendra ketika itu, memberikan bobot tersendiri pada KSJ I yang digelar di Taman Budaya Surakarta, 6-7 Juli 2001. Hanya beberapa hari menjelang pelaksanaan KBJ III (Hotel Ambarukma, Yogyakarta) beberapa orang panitia dan peserta KSJ I baru mendapatkan undangan, itu pun melalui telepon. Itulah salah satu bentuk reaksi yang tampak, dari Panitia KBJ terhadap adanya KSJ. Sementara itu polemik di media cetak terus bergulir, dan semakin ramai menjelang KSJ II dan KBJ IV di (Semarang, September 2006). Jika KSJ I membuat beberapa orang mendapat undangan mendadak dari Panitia KBJ III, sebaliknya KSJ II membuat salah seorang aktivisnya (ndilalah adalah saya, Bon) justru dicekal oleh Panitia KBJ IV.

Masih dalam paragraf yang sama, Tirto menyatakan, ’’Terlepas benar atau tidak (maksudnya: KSJ asal menandingi KBJ, Bon), hal itu menjadi suatu keniscayaan karena saat itu mereka (para pengarang dan pencinta sastra Jawa) merasa "tidak diakomodasi" oleh KBJ.’’ --kemudian menutup paragrafnya dengan harapan, ’’Untuk itu perlu langkah nyata agar tak muncul kecenderungan dikotomis yang memecah-belah.’’

Banyak pihak salah pengertian terhadap istilah ’akomodasi’ itu. Pengertian yang slah itu ialah bahwa mengakomodasi pengarang sastra Jawa adalah semata-mata melibatkan mereka di dalam kepanitiaan, mengundangnya sebagai peserta, atau ditampilkan sebagai pemakalah di dalam KBJ. Lagi-lagi, bahkan ada pula pengarang sastra Jawa yang masih memiliki pengertian yang salah seperti itu. Padahal, persoalan sesungguhnya terletak pada terakomodasinya aspirasi yang dalam sejarah pelaksanaan KBJ yang sudah 4 kali itu belum pernah dibicarakan dari hati ke hati antara kubu-kubu yang dikesankan berseberangan tersebut. Kalaulah para aktivis KSJ dianggap sebagai anak-anak nakal, mereka yang layak dipandang sebagai orangtua yang bijak pun belum pernah memanggil mereka untuk dituturi atau dinasihati, atau bahkan kalau perlu dimarahi. Menjelang KBJ IV, Keliek Eswe sudah berusaha membangun dialog dan mencoba menawarkan beberapa hal yang diinginkan para aktivis KSJ, antara lain bagaimana bisa diterbitkan buku-buku karya sastra (Jawa) untuk dijadikan bahan pendukung pembelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah. Seorang kawan dari Yogyakarta pun sudah secara mendadak dan terburu-buru datang ke Surabaya kala itu, tetapi dialog pun, entah karena apa, gagal terlaksana.

Sampai digelarnya Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Pelestarian Sastra Daerah dan Bahasa Jawa Menyongsong KBJ V (Hotel Satelit Surabaya, 7 – 9 Oktober 2009) belum ada tanda-tanda akan terbangun dialog itu. Bahkan, saya pun tidak mendapatkan undangan untuk menghadiri acara tersebut, baik sebagai salah seorang penggagas KSJ maupun dalam kapasitas saya sebagai Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya.

Ketika saya memrotes melalui SMS, seorang kawan mewakili panitia meminta saya menyusul, tetapi saya tidak bisa datang karena saat itu telanjur bergerak ke kota lain. Melalui SMS pula beberapa saat kemudian ada kabar bahwa saya diangkat menjadi anggota Badan Pekerja KBJ V, dan saya tidak menyanggupinya. Kesimpulan sementara saya saat itu adalah, KBJ V pun masih didominasi pikiran yang keliru mengenai istilah ’akomodasi’ itu.

Tetapi, kemudian di dalam Kemah Budaya yang diselenggarakan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro di kawasan wisata Dander, 27 hingga 29 Oktober 2009, ada kabar dari Suparto Brata dan JFX Hoery bahwa pada saatnya nanti Panitia KBJ V akan mengadakan dialog dengan berbagai pihak, termasuk dengan para pendukung KSJ.

Semoga saja dialog itu dapat terlaksana, sehingga kalaulah masih-masing pihak tetap akan berbeda pendapat pun, setidaknya bisa saling memahami dan tidak harus berbenturan karena perbedaan itu. (Bonari Nabonenar, salah seorang penggagas KSJ)

Jawa Pos, Minggu, 4 April 2010