Tuesday, 29 July 2008

Sastrawan Jawa: Mati Karepmu Urip Karepmu

Bacalah berita yang diturunkan Jawa Pos Radar Solo (terlampir) ini, lalu marilah kita bertanya, ke mana nama-nama sastrawan Jawa Modern yang bahkan telah pula mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional? Apakah dipandang tidak perlu lagi ada kreator sastra Jawa setelah Raden Ngabehi Ranggawarsita?

Untuk tahun-tahun yang telah lewat, ada nama-nama dari penggiat sastra Jawa yang dapat gelar/pangkat dari keraton ini, seperti RPA Suryanto Sastroatmaja (?), Arswendo Atmowiloto, dan kemudian Moch Nursyahiid Purnomo.

Apakah seniman musik (bukan musik Jawa malah) misalnya, dipandang lebih layak untuk mendapatkan gelar dari kerajaan Jawa daripada seorang seniman bahasa Jawa? Untuk sekadar mengingatkan, banyak orang Jawa yang menggeluti sastra Jawa, termasuk Suparto Brata itu justru mendapatkan penghargaan dari ’’luar Jawa’’ (dalam hal ini: Yayasan Rancage-nya Pak Ajip Rosyidi).

Semoga pertanyaan-pertanyaan itu tidak seharusnya berlaku, ketika persoalan ini timbul karena: ternyata ada satu-dua nama sastrawan Jawa di antara para artis di acara Jumenengan itu, yang luput dilihat oleh wartawan Radar Solo. []



[Lampiran:]

Jumenengan Bertabur Artis

SOLO - Berbeda dengan tahun sebelumnya, Tingalan Jumenengan Dalem (HUT Penobatan Raja) Ke-4 Pakoeboewono XIII Hangabehi, kemarin (29/7) bertabur artis. Kehadiran salah satu putri proklamator Soekarno pun menjadi daya tarik tersendiri.

Acara yang dimulai sekitar pukul 10.00 ini berjalan cukup khidmat. Acara ditandai dengan keluarnya 100 prajurit keraton yang menandakan keluarnya PB XIII Hangabehi dari ndalem menuju singgasana di Sasana Sewaka, tempat acara di gelar.

Kemudian satu per satu perwakilan abdi dalem sowan kepada raja, untuk memberikan laporan. Layaknya abdi dalem, mereka pun menghadap raja dengan laku ndodok . Setelah perwakilan abdi dalem keraton, giliran kerabat dan sentono dalem. Dipimpin GPH Puger (adik PB XIII Hangebehi) ribuan kerabat, mereka juga laku ndodok untuk menghadap raja.

Sesaat sebelum memasuki pendopo dan setelah mereka menginjakkan kaki di pendopo, mereka menyembah kepada raja. Sebagai pemimpin rombongan, GPH Puger juga memberi laporan kepada PB XIII.

Sebelum memasuki inti acara, lima penerima gelar khusus diundang ke depan untuk menerima sertifikat gelar. Sertifikat pun diberikan langsung PB XIII Hangabehi. Mereka adalah Karina Kartika Sari Soekarno, putri Presiden Pertama RI Soekarno yang mendapat gelar Kanjeng Raden Ayu Adipati (KRAA), Menteri Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Erman Suparno mendapat gelar Kanjeng Pangeran (KP).

Khusus Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi, yang sebelumnya mendapat nama dari keraton kasunanan Tjondro Kusumo Suryo Suro Agul-Agul, keraton meningkatkan gelarnya menjadi Kanjeng Pangeran Adipati Aryo (KPAA). Dua orang lainnya adalah Hari Sulistyo yang dianugerahi gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) dan Luluk S Miarso mendapat gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA).

Kehadiran Kartika benar-benar menarik perhatian. Tak hanya fotografer yang membidikkan kamera mereka, para tamu undangan pun terlihat berbisik-bisik mengomentari kecantikan putri bungsu Bung Karno tersebut. Dengan balutan kebaya warna kuning gading motif bunga, Kartika terlihat anggun.

Usai penyerahan sertifikat seorang abdi dalem kembali melaporkan kepada PB XIII. Puncak acara yang ditandai dengan Tarian Bedaya Ketawang siap digelar. Selama 1,5 jam (seharusnya 3 jam) sembilan penari menceritakan keluhuran manusia dalam gerak, dan menggambarkan perjalan hidup manusia dari lahir, menginjak remaja, dewasa hingga maut menjemputnya. Akhir dari tarian tersebut menjadi akhir dari tingalan jumenengan itu. Entah sekedar salaman atau foto bersama, PB XIII menjadi rebutan para tamu undangan.

Layaknya jumpa fans, Selain PB XIII, tamu undangan juga berburu foto dengan artis yang datang. Nampak pemain film kawakan Rima Melati Tumbuan dan Musisi Dwiki Darmawan, yang juga mendapat gelar kehormatan. Juga ada pengacara para artis Elsa Syarif, dan perancang busana Ghea S. Panggabean yang datang diundang. Kondisi ini sangat kontras dibanding tahun lalu dimana tidak ada satu artis pun yang datang dan mendapat gelar.

Hadir pula beberapa tamu kehormatan keraton asal mancanegara, seperti Prince Henry D' Arenberg dan Princess Diane D' Arenberg dari Belgia, serta Datuk Shah Reza dari Malaysia.

GPH Kusumo Yudho, adik PB XIII Hangabehi menjelaskan paling tidak 500 orang diwisuda mendapat gelar. Menurutnya kegiatan ini bukan ritual, melainkan upaya meminta dukungan dari berbagai kalangan untuk menjaga kebudayaan.

"Jangan sampai kehilangan kiblat budaya yang positif. Kami tidak mungkin menjaga sendiri, karena itu mereka yang mendapat gelar orang-orang yang kami nilai telah membantu menjaga budaya jawa," ungkapnya. (rk/tej)

Jawa Pos Radar Solo [ Rabu, 30 Juli 2008 ]

dari sini

Sunday, 27 July 2008

Menyoal Sastra Satu Kamar

Penghargaan seniman Jawa Timur 2008 sudah diserahkan 30 Juni lalu. Padahal, penghargaan kali ke-11 itu biasanya dilangsungkan seminggu menjelang Lebaran Idul Fitri saban tahunnya. Hal ini berkaitan dengan posisi ''sang pemilik tradisi'', Gubernur Imam Utomo, yang Agustus ini sudah harus mengakhiri masa jabatan keduanya.

''Tentu para seniman dag-dig-dug, karena Pak Imam tidak lama lagi akan meninggalkan jabatan ini, apakah ada pemberian penghargaan yang ke-12?'' ujar Dahlan Iskan saat diminta memberi sambutan pada acara yang diadakan di Gedung Grahadi itu. Para penerima penghargaan, panitia, bahkan Imam Utomo sendiri bertepuk tangan.

Harus diakui bahwa dari tahun ke tahun pelaksanaan penghargaan seniman Jawa Timur semakin baik, dan bahkan sepertinya kini tidak ada lagi suara-suara miring seperti di awal 2000-an. Meski begitu, saya masih menilai ada persoalan yang tampaknya sepele, tetapi cukup mengganjal dan mestinya dirasakan sebagai ganjalan yang signifikan oleh para pemerhati dan penggiat sastra etnik (untuk menyebut sastra yang memakai media bahasa daerah/dialek di Jawa Timur). Tahun ini para sastrawan yang mendapatkan penghargaan ialah M. Shoim Anwar (Surabaya), Mashuri (Sidoarjo), dan F.C. Pamuji (pengarang sastra Jawa, Nganjuk). Soal kecil pertama, mengapa panitia menyebut ''seniman bahasa Indonesia'' sebagai ''sastrawan'' dan menggunakan kata ''pengarang'' untuk F.C. Pamuji yang menulis dengan bahasa Jawa?

Soal kecil kedua, sastrawan yang memakai media bahasa daerah/dialek yang ada di Jawa Timur diletakkan ''satu kamar'' dengan sastrawan yang memakai media bahasa Indonesia. Jika kita baca profil di buku panduan yang diterbitkan panitia, kita akan menangkap kesan bahwa F.C. Pamuji dinyatakan berhak atas penghargaan seniman Jawa Timur 2008 dengan pertimbangan masa dan kualitas dedikasi serta kualitas karyanya di dua bidang: seni karawitan dan seni bahasa Jawa. M. Shoim Anwar sudah jelas bahwa selama ini ia dikenal sebagai sastrawan yang hanya memakai media bahasa Indonesia. Sedangkan Mashuri, selain sebagai penyair andal yang juga telah menyabet gelar juara I Lomba Cipta Novel Dewan Kesenian Jakarta 2007 dengan Hubbu-nya, laki-laki asal Lamongan ini juga dikenal sebagai penggurit di ranah sastra Jawa. Dengan kata lain, dari tiga sastrawan yang mendapatkan penghargaan seniman Jatim 2008 ini, dua di antaranya adalah sastrawan Jawa. Tetapi, jika benar bahwa F.C. Pamuji mendapat penghargaan lebih karena ia adalah seorang pengrawit dan Mashuri lebih karena ia adalah sastrawan yang sukses bersama Hubbu-nya, itu belumlah kabar baik bagi sastra etnik di Jawa Timur.

Kita boleh bilang, sastra adalah sastra, dan bahasa hanyalah persoalan media atau alat penyampai. Dari sisi ini pulalah tampaknya panitia/juri penghargaan seniman Jatim 2008 memandang. Hal demikian terasa meleset, justru dari pikiran seorang Imam Utomo, ''penggagas'' tradisi penganugerahan penghargaan seniman ini, yang, seperti dalam sambutannya menekankan betapa pentingnya memelihara nilai-nilai tradisi sambil menerima --ataupun mengawinkannya dengan-- anasir asing yang ''bagus''.

Menempatkan kreator sastra etnik dan sastra Indonesia dalam ''satu kamar'' dalam konteks pemberian penghargaan, seperti mengadu dua petinju yang berbeda kelas/berat badan. Seperti mengadu Chris John dengan Mike Tyson. Ini perbandingan kasarnya: sastrawan Jawa macam Djayus Pete atau Sumono Sandy Asmoro bisa menjual sebuah crita cekak (cerpen) karya mereka ke penerbit/media cetak seharga Rp 100 ribu. Untuk karya yang sama (cerpen) yang ditulis dengan bahasa Indonesia, Lan Fang atau Wina Bojonegoro, bisa menjualnya dengan harga antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Njomplang banget, kan? Memang, siapa yang menyuruh Djayus Pete atau Sumono Sandy Asmoro menekuni sastra Jawa? Mengapa tidak mengikuti jejak Suparto Brata yang hebat di kedua-duanya, sastra Indonesia dan sastra etnik (Jawa)? Itu kan pilihan mereka? Jika Anda bertanya seperti itu, maka, izinkanlah saya ajak Anda untuk memberi sedikit penghargaan kepada orang-orang yang memilih ''lahan kering'' itu. Atau Anda setuju untuk menyeru agar para seniman bahasa Jawa itu eksodus ke wilayah sastra Indonesia yang jelas-jelas lebih menjanjikan secara ekonomi?

Masyarakat Jawa Timur adalah masyarakat multikultur. Jika kita setuju keanekaragaman itu adalah kekayaan, dan kita setuju pula untuk menjaga dengan baik dan bahkan mengembangkan potensi-potensi keanekaragaman itu, jika kelak masih ada acara penganugerahan penghargaan seperti yang sudah 11 kali dilakukan di Jawa Timur ini, alangkah baiknya jika sastra etnik dan sastra Indonesia tidak diletakkan di ''kamar'' yang sama. Maka, kita bisa membayangkan, kelak, setiap tahun akan ada wajah-wajah dari wilayah subkultur: Madura, Osing, Surabaya, dll., yang menulis dengan bahasa ibu mereka di barisan sastrawan penerima penghargaan seniman Jawa Timur itu.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah saya terlalu nyinyir? (*)

Saturday, 5 July 2008

Pekerja Seks Komersial pun Belajar Menulis Puisi


Bayangkanlah, 30 orang PSK (pekerja seks komersial) duduk tertib dalam sebuah kelas (ruang serbaguna). Lalu ada seseorang berceramah, memeragakan sesuatu di hadapan mereka. Yang terbayang di benak kita, sangat mungkin, adalah ini: para PSK itu sedang mengikuti penyuluhan mengenai penyegahan HIV/Aids. O, tetapi, yang terjadi kali ini benar-benar lain. Para PSK itu sedang suntuk mengikuti pelatihan kepenulisan. Wouw!

Itulah yang berlangsung selama 2 hari (11 – 12 Juni 2008) di Gedung Serbaguna Eks Lokalisasi Ngujang, Tulungagung, Jawa Timur. Yang menggelar acara itu adalah Balai Bahasa Surabaya. Menurut Kepala Balai Bahasa Surabaya, Drs Amir Machmud MPd, acara serupa itu sudah pernah digelar sebelumnya, tahun 2007, di sebuah kompleks Lokalisasi di Kediri.

Bertindak sebagai narasumber adalah Narko ’’Sodrun’’ Budiman, seorang penilik sekolah yang juga Ketua Sanggar Sastra Triwida (hari pertama) dan Tjahjono Widarmanto, seorang guru sekaligus sastrawan asal Ngawi (hari kedua).

Peserta mengikuti acara itu dengan riang, dan bahkan terkesan antusias, walau latar belakang pendidikan formal mereka beragam. ’’Ada pula yang lulusan D-3 salah satu perguruan tinggi di Malang, lho. Juga, ada peserta yang mantan istri seorang pejabat,’’ kata Anang Santosa, salah seorang pegawai/peneliti di Balai Bahasa Surabaya disambung dengan menyebut sebuah kabupaten di luar Tulungagung.

Karya sastra yang baik, siapa pun yang mencipta, selalu menjanjikan materi pelajaran hidup yang sangat berharga. Begitulah. Maka, silakan menyimak foto-foto dari kegiatan tersebut yang secara khusus diberikan kepada Intermezo, ini: [aim]

Intermezo, Juni 08