Tuesday, 28 October 2008

Masa Depan Sastra Jawa

Oleh Ribut Wijoto

Sastra Jawa di Jawa Timur menunjukkan gejala yang unik. Tidak ada perkembangan yang pesat namun juga tidak macet. Situasinya cukup sehat-sehat saja. Beberapa karya baru baru bermunculan, dipublikasikan, dan diterbitkan. Tapi, lompatan estetika nyaris tidak ada. Bisa dikata, sastra Jawa sedang adem ayem. Kondisi ini ditegaskan dengan tiadanya tema atau perdebatan yang bersifat luas atau mendalam. Ke depan, jika situasi ini terus berlanjut, sastra Jawa sedang dalam kondisi ambang. Bisa lantas berkembang bisa juga lantas tenggelam. Agar bisa mengarah ke perkembangan, ada beberapa problem yang musti diurai dan diselesaikan.


Sampai saat ini, sastrawan Jawa di Jawa Timur masih patut berbangga. Mampu selangkah lebih maju dibanding kompetitornya di Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Lihat saja, dua peraih penghargaan Rancage tahun ini berasal dari provinsi paling timur di pulau Jawa ini. Yakni, Turiyo Ragilputra melalui kumpulan gurit Bledheg Segara Kidul untuk kategori karya sastra dan Sriyono, redaktur majalah Jaya Baya, untuk kategori pengembangan bahasa dan sastera Jawa.

Prestasi prestisius itu tidak lepas dari kinerja ulet dua tokoh besar yang telah almarhum. Suripan Sadi Hutomo dan Tamsir AS. Kedua tokoh ini seakan saling melengkapi. Suripan bergerak di wilayah pusat, Surabaya dan sekitarnya. Ketika itu, mobilitas sastra Jawa di Surabaya tidak ada yang tidak lepas dari campur tangannya. Di beberapa even, dia ikut menggagas. Memberi masukan ataupun menjadi konseptornya.
Tak hanya soal even, Suripan terkenal sebagai apresiator yang tajam serta tekun. Dia mampu mendedahkan peta sastra Jawa di Jawa Timur. Perihal tokoh-tokohnya, perihal karya-karyanya, karakteristik estetika masing-masing pengarang. Pun juga, tokoh kelahiran Blora 5 Februari 1940 ini bisa merunut kesejarahan sastra Jawa. Mulai zaman sebelum merdeka sampai menjelang meninggal dunia. Banyak yang mengultuskan, Suripan adalah HB Jassinnya sastra Jawa. Sebuah pengkultusan yang bukannya kosong fakta. Berkat Suripan, sastra Jawa memperoleh arah-tuju yang terprogram.

Sedangkan Tamsir AS, maestro ini lebih bergerak di wilayah pinggiran. Melalui Sanggar Triwida, pria kelahiran Tulungagung (1936-1997) mampu menaikkan pamor sastrawan-sastrawan di pinggiran. Kegiatan sastra Jawa tidak hanya berpusat di Surabaya. Kabupaten, kecamatan, maupun desa pun sanggup menciptakan kegiatan sastra Jawa. Pernah suatu kali, sekitar tahun 1985, ada acara macapatan di rumah seorang warga di desa Gandong Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung. Pesertanya warga sekitar dan beberapa sastrawan Jawa dari Trenggalek dan Kediri.

Penulis sebanyak 286 cerkak ini memang tak bosan-bosannya memompa semangat sastrawan daerah (baca: desa) untuk berproses. Saling berinteraksi maupun mengonsepkan gerakan sastra Jawa di daerah Mataraman. Meliputi Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Ponorogo, dan sekitarnya. Kadang dia tak hanya menjadi konseptor, dia juga keluar banyak uang untuk mendanai. Kecuali itu, Tamsir juga seorang penulis buku yang tekun. Lihat saja, dia telah menuliskan puluhan buku tentang sastra Jawa.

Sampai saat ini, peran dua maestro sastra Jawa di Jawa Timur tersebut belum tergantikan. Keberadaan sastra Jawa di Jawa Timur juga berkat kontribusi dua media, mingguan Jaya Baya dan mingguan Panjebar Semangat. Rutinitas kedua media ini dalam menyediakan halaman sastra berbahasa Jawa sanggup menjadi ruang ekplorasi para pengarang. Tak hanya pengarang generasi tua, beberapa pengarang muda pun bermunculan. Apalagi, segala berita juga disajikan dalam bahasa Jawa. Peran ini secara dahsyat mampu selalu mengaktualkan bahasa Jawa dalam lingkup kekinian dan perkembangan pengetahuan.

Hanya saja, kehidupan sastra yang berbasis media memiliki risiko cukup riskan. Sastra menjadi elitis. Terpisah dari kehidupan riil masyarakat. Keintiman antara sastrawan dengan warga yang dulu dibangun oleh Tamsir AS dan kawan-kawan menjadi luntur. Hal itu diperpaah dengan rendahnya interaksi para pengarang. Mereka lebih bergerak sendiri-sendiri. Tujuan pokok proses kreatif terfokus pada publikasi media dan penerbitan. Gerakan maupun perkumpulan yang gayeng jadi sulit didapat. Jika ini terus berlanjut, dalam 10 tahun ke depan, sastra Jawa akan semakin elit dan semakin dijauhi oleh masyarakat. Ia berubah jadi wacana yang iseng sendiri.

Melihat problem ketiadaan tokoh penggerak (pengganti Suripan dan Tamsir AS) dan merujuk pada risiko sastra media massa, sastra Jawa butuh pola baru. Kebergantungan pada sosok atau tokoh perlu dipangkas. Peran tokoh harus diganti dengan peran struktur. Dalam pola ini, peran Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) harus dimaksimalkan.

PPSJS musti menciptakan program realistis, pembagian tugas, koordinasi antardaerah, dan memaksimalkan segala potensi yang telah ada. Semisal terhadap sanggar Triwida yang digagas oleh Tamsir AS. Sanggar meski kurang berkembang tapi juga tidak mati. Pengurusnya masih ada. PPSJ harus memompanya agar kembali berkembang seperti zaman Tamsir dulu.

Sama seperti Dewan Kesenian, PPSJ perlu membentuk paguyupan-paguyupan sejenis di tiap kabupaten. Tujuannya agar koordinasi lebih terjaga. Bila ada pengurusnya otomatis ada orang yang bisa diserahi tanggung jawab mengadakan kegiatan.
Berkaca pada pengurus PPSJS lima tahun lalu, di mana Bonari Nabonenar sebagai ketuanya, yang dianggap banyak kalangan kurang maksimal. Hal itu perlu dijadikan bahan evaluasi. Kesalahan mendasarnya adalah tiadanya kerja tim. Bonari seakan berjalan sendirian. Ketika dia sibuk dengan kegiatan lain, PPSJS menjadi terlantarkan. Dan sebaliknya, pengurus lain seakan kelewat berharap terhadap Bonari. Pengaruhnya, kinerja organisasi alias terstruktur menjadi kurang teraplikasi.

Pada kepengurusan yang baru ini, di mana Bonari kembali terpilih, dia harus benar-benar menaruh kepercayaan terhadap kabinetnya. Setelah pembagian seksi dibentuk. Tiap orang dalam seksi perlu diberi wewenang dan tugas yang sesuai dengan wilayah garapannya. Jangan sampai terpusat pada ketua. Biarlah masing-masing tokoh menjalani perannya sendiri. Bonari cukup melakukan fungsi kontrol dan manajerial.
Sastra Jawa belum hancur. Hanya dalam situasi tiarap. Tidak mundur ataupun tidak berkembang. Pada titik ini pun, sastrawan Jawa di Jawa Timur masih lebih bagus dibanding kompetitornya di Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Hanya saja, ini sebuah kondisi stagnan. Semua potensi yang sedang tiarap musti dibangunkan kembali. Bila tidak segera disadari dan disikapi, sastra Jawa di Jawa Timur sangat mungkin tinggal kenangan. []

Biodata:

Ribut Wijoto, lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Anggota Forum Studi Sastra & Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya dan anggota Komunitas Teater Gapus Surabaya. Lulusan Fakultas Sastra Unair. Ketua Departemen Informasi dan Dokumentasi DK-Jatim.
Tahun 2001, esai sastranya dipilih sebagai juara 1 dan juara harapan 1 dalam sayembara esai sastra tingkat nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional (Pusat Bahasa). Bukunya yang telah terbit, Pengantar Menuju Sastra Bermanfaat (Gapus Press, 2002).
Pernah mengeditori buku puisi F Aziz Manna Ayang-Ayang (Gapus Press, 2003), Ijinkan Aku Mencintaimu (Gapus Press, 2006), Menguak Tanah Kering (Kumpulan puisi bersama Teater Gapus, 2001), Permohonan Hijau, Antologi Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2003), Rumah Pasir, Antologi 5 Penyair Terbaik Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2008). [ribut_wijoto@yahoo.com]

Sumber, Kompas Jatim [….]

Friday, 17 October 2008

Proyek Gagal


Tiba-tiba seseorang melontarkan ’ramalan’ bahwa Proyek Pemerintah yang dikenal dengan sebutan BLT atau be-el-te --yang sering diplesetkan menjadi Bantuan Langsung Tawuran, atau bahkan Bantuan Langsung Tewas—akan menjadi proyek gagal. Maksudnya, orang-orang/keluarga yang sekarang menjadi penerima BLT itu dalam beberapa tahun mendatang akan tetap menjadi penerima BLT. Artinya, mereka masih saja melarat, masih saja tidak punya cukup kemampuan untuk hidup mandiri secara layak.

Jika ramalan itu kelak terbukti, tumpukan daftar proyek gagal akan semakin membukit. Sejak zaman Pak Harto (baca: Era Orde Baru) Pemerintah gencar mengadakan proyek untuk memberdayakan masyarakat miskin yang sering identik dengan: masyarakat di pedesaan. Kita boleh mencatat misalnya, proyek bantuan sapi unggul, kambing, hingga kelinci untuk menggeliatkan usaha peternakan di kalangan masyarakat pedesaan, yang ujung-ujungnya dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Tetapi, baik itu sapi, kambing, dan seterusnya itu, nyaris semuanya menjadi ’kelinci’ (percobaan) yang gagal.

Juga, proyek penghijauan, penggalakan tanaman terasering di wilayah-wilayah desa pegunungan. Kini, jangankan tanah warga, tanah hutan yang seharusnya dijaga kerimbunannya sebagai penyimpan air, penahan longsor, dan pengendali banjir serta gudang udara bersih dan sehat (sumber oksigen) pun sudah pada gundhul tholo-tholo.

Tanah semakin tandus, panen sering gagal, padahal jumlah mulut yang perlu diberi makan semakin banyak. Lalu, alam pun menyuguhkan tradisi/kebiasaan baru: bencana. Ya, bencana, apakah itu berupa puting beliung yang dalam pekan ini menggasak beberapa kota di Jawa Timur: Malang, Sidoarjo, Ngawi, Ponorogo, Trengalek, Masiun, dll.

Mengapa proyek-proyek itu bertumbangan? Ada beberapa hal dapat dijadikan catatan. Walau sebelumnya dilakukan studi/penelitian, biasanya ketika mau menggulirkan proyek, wong-wong ndesa itu diasumsikan oleh pihak Pemerintah sebagai wong bodho yang hanya dapat: dibantu, diberi, diperintah, dan bahkan dicekoki, dan nyaris tidak pernah diajak bicara. Maka, ketika musim proyek kambing, ya semua desa dikirimi kambing, tanpa ditanya dulu apakah warganya benar-benar suka beternak kambing atau tidak.

Lalu soal pendampingan yang sangat kurang. Ini juga berkaitan dengan penyegaran atau bahkan pengubahan pola pikir masyarakat. Peran pendamping sering dianggap tidak penting. Hanya dianggap penting untuk dicantumkan namanya di formulir, tetapi kehadirannya di tengah-tengah masyarakat yang didampingi sering luput dari perhatian.

Dan catatan yang tak kalah pentingnya lagi adalah pengawasan dan kemudian evaluasi. Mungkin evaluasi diadakan, tetapi hasilnya kurang diperhitungkan untuk pengguliran proyek berikutnya. Maka, yang terjadi kemudian adalah: proyek yang tidak tepat sasaran, tumpang-tindih, dan pada akhirnya menambah daftar proyek gagal.

Sebenarnya akan lebih baik jika kita dapat berdiskusi pula soal proyek-proyek pemerintah yang berkaitan dengan pemberdayaan sekelompok warga masyarakat yang oleh Pemerintah disebut: TKI Purna. Apakah daftar gagalnya cukup banyak juga? Apakah ada tumpang tindihnya juga? Kapan, ya?[]