Showing posts with label BMI. Show all posts
Showing posts with label BMI. Show all posts

Wednesday, 1 May 2013

Hari Buruh dan BMI-HK

Seperti biasanya, tanggal 1 Mei tahun ini (2013) tentunya akan ramai dengan aksi peringatan Hari Buruh di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Hong Kong. Seperti biasanya pula, BMI-HK (Buruh Migran Indonesia di Hong Kong) akan mengerahkan segenap potensinya. Saking banyaknya potensi aksi/kegiatan yang ada di kalangan BMI-HK, bahkan satu hari (tanggal 1 Mei) pun tampaknya adalah waktu yang tidak cukup panjang. Maka, hari libur, terutama hari-hari Minggu, di sepanjang bulan Mei 2013 ini nanti pun tampaknya akan dipenuhi pula dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa peringatan Hari Buruh Sedunia. Festival Sastra Migran III yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan oleh kawan-kawan dari FLP-HK (Forum Lingkar Pena Hong Kong) pun pastilah tidak asal-asalan dijadwalkan di bulan Mei (26 Mei 2013). Berbeda dengan peringatan hari besar lainnya yang biasanya lebih menonjol pertunjukan pesta riang-gembira-nya, peringatan Hari Buruh selalu juga bernuansa perjuangan. Maka, aksi turun ke jalan, meneriakkan protes dan tuntutan mendapatkan momentumnya. Mengapa mesti berteriak? Mengapa protes? Mengapa menuntut? Sebabnya adalah, para pihak, terutama pemegang kuasa dan penentu kebijakan sepertinya tidak pernah benar-benar gelisah, gusar, prihatin, menyaksikan pertunjukan ketidakadilan dan bentuk-bentuk tindakan eksploitatif terhadap kaum buruh. Kebijakan penerbitan KTKLN (Kartu Tanda Kerja Luar Negri) misalnya, yang sejak awal sudah mendapat penentangan, dan terbukti banyak memakan korban itu pun hingga kini masih dilanggengkan.

Kalau mereka menyatakan prihatin, sedih, dan sejenisnya, biasanya itu hanya ketika di depan kamera televisi atau di dalam jumpa pers. Dan mereka tidak cukup hanya dibisiki. Protes, tuntutan, memang harus selalu diteriakkan. Jerit dan tangis yang mengumandang dari penderitaan rakyat sepertinya pun tidak mengalir dengan baik ke dalam rongga pendengaran mereka yang seperti sudah dibuntu oleh ambisi mengokohkan dan memperpanjang masa jabatan!

Selamat hari buruh, kawan!

Saturday, 5 January 2013

Membangun Bisnis Berjaringan dari Nol*

Barangkali memang kita sudah memasuki zaman ultramodern. Ketika jaringan internet merambah hampir seluruh permukaaan bumi, saya lebih suka menggambarkan keadaan ini sebagai: ketika ’nyaris’ setiap orang memiliki azimat Cupu Manik Astagina (CMA) dan atau aji pameling.
Seperti digambarkan dalam kisah Ramayana (edisi yang lebih menarik untuk pembaca sekarang mungkin adalah yang telah di-roman-kan oleh Sindhunata dengan judul Anak Bajang Menggiring Angin, Gramedia (1983). Dalam jagad pewayangan (kisah Mahabarata dan Ramayana) aji pameling maupun azimat CMA itu hanya dimiliki oleh para dewa/dewi dan beberapa gelintir wayang biasa yang terpilih. Dalam kisah Ramayana, salah seorang wayang biasa yang terpilih untuk memiliki CMA ialah Dewi Anjani, putri Resi Gotama yang menikahi seorang (eh, sewayang) bidadari bernama Dewi Windradi.

Pada suatu hari, Dewi Windradi memanggil putri kesayangannya itu dan memberinya hadiah berupa CMA. Tetapi, dua saudara: Sugriwa dan Subali juga sangat ingin memilikinya. Tiga wayang bersaudara itu lalu terlibat pertengkaran memperebutkan CMA. Resi Gotama yang menjadi gerah dengan pertengkaran itu meminta paksa CMA dan melemparkannya, menjelma telaga, dan ketika ketiga wayang bersaudara itu menceburkan diri ke dalamnya, mentas sudah dalam wujud baru mereka: kera!

Apakah keistimewaan CMA sesungguhnya? Para dalang sering menggambarkan sebagai benda azimat yang dapat digunakan untuk menerawang sudut paling tersembunyi sekalipun di muka bumi, bahkan dapat digunakan untuk memanggil para dewa dan para dewi. Bukankah gambaran singkat itu (kalau mau lebih jelas ya baca bukunya) mengarahkan kita kepada pemahaman mengenai khasiat teknologi komunikasi yang bernama jejaring internet ini? Bukankah internet juga memeliki potensi luar biasa untuk melakukan kebaikan dan sebaliknya pula: menyimpan potensi luar biasa untuk melakukan kejahatan?

Pada suatu waktu, ada kawan membuka usaha dadakan, menjual paket (jajanan) lebaran untuk dikirimkan ke alamat yang dituju pemesan dari dalam maupun luar negri –dengan lingkup alamat tujuan pengiriman dibatasi hanya di dalam negri, Indonesia. Transaksi dilakukan secara langsung (uang kontan) maupun secara online/transfer. Beberapa kawan di luar negri membantu menyebarkan selebaran iklan dan/atau transaksinya, namun pusat layanannya (pemaketan dan pengiriman) dilakukan dari satu titik, sebuah kota di Jawa Tengah. Padahal, hampir semua paket harus dikirim ke seluruh Jawa, terbanyak justru ke pelosok-pelosok Jawa Timur, lalu Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Sebagian besar paket dikirim melalui jasa pos, dan sebagian lagi dikirim langsung. Permasalahan timbul terutama akibat derasnya arus kiriman (melalui pos) menjelang lebaran, sehingga konsumen gelisah ketika hari Lebaran makin dekat dan barang yang dipesan belum tiba di alamat. Akhirnya, demi citra layanan yang bagus, pengiriman langsung dilakukan tidak hanya di daerah Jawa Tengah (yang dekat dengan pusat layanan), melainkan juga untuk wilayah-wilayah pelosok Jawa Timur, bahkan armada antar langsung masih harus beroperasi pada hari ke-2 lebaran. Memang ada beberapa orang sukarelawan di beberapa kota kecil. Tetapi, upaya menemukan dan memilih jalur paling tepat menuju alamat tampaknya terkendala oleh tiadanya posko-posko layanan di tiap kabupaten.

Potensi BMI-HK

Jumlah BMI-HK yang berada pada kisaran 140 ribu – 150 ribu orang adalah potensi yang sangat luar biasa untuk menggalang solidaritas dan membuka usaha/bisnis bersama. Potensi itu didukung oleh faktor-faktor antara lain: (1) adanya hari libur setidaknya sehari setiap pekan (walau faktanya tidak seluruh BMI-HK dpat menikmatinya), (2) adanya kesempatan akses komunikasi global, (3) banyak/seringnya diadakan pelatihan, workshop, sarasehan tentang kewirausahaan di HK, (4) persebaran daerah asal yang luas, dan yang tidak kalah pentingnya adalah (5) kelonggaran yang dibuka oleh Pemerintah Hong Kong bagi BMI untuk berserikat/berkumpul, sehingga organisasi/komunitas termasuk sanggar-sanggar kesenian tumbuh subur di kalangan BMI-HK.

Hari libur yang dinikmati sekian banyak BMI-HK memungkinkan mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan pengembangan diri: berkuliah, mengikuti sarasehan, pelatihan, dan lain-lain, baik yang diselenggarakan opleh lembaga formal maupun nonformal, termasuk membangun organisasi/komunitas, resmi maupun tidak resmi.

Yang dimaksudkan dengan kesempatan untuk akses komunikasi global adalah fakta bahwa hampir semua BMI-HK (?) memiliki perangkat komunikasi: ponsel, komputer tablet, laptop dan sejenisnya yang memungkinkan mereka bisa terkoneksi dengan jaringan internet sehingga bisa terhubung dengan kenalan, sahabat, sanak-famili yang berada ”di mana pun” sejauh masih di muka bumi.

Kesempatan untuk upaya pengembangan diri melalui pendidikan dan pelatihan secara formal maupun nonformal adalah faktor penting yang memungkinkan BMI-HK (seharusnya) lebih siap untuk menghadapi masa depan dengan semakin produktif setelah tidak lagi menjadi BMI.

Persebaran daerah asal yang luas, memungkinkan dibentuknya ikatan untuk menuju pembentukan badan usaha bersama (di bidang wirausaha) dengan jaringan setidaknya mencakup seluruh pelosok Jawa, mengingat jalur padat asal BMI-HK terbentang antara Cilacap hingga Banyuwangi. Coba mari bermimpi, seandainya bisa (dimulai) dibentuk jejaring komunikasi antar-BMI-HK yang tiap kabupaten/kota di Jawa terwakili, itu sudah merupakan modal sosial yang tidak ternilai. Jawa Timur saja memiliki 38 kabupaten/kota. Belum Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Barat.

Nah, kini mari disederhanakan atau jumlahnya kita perkecil menjadi 50 kabupaten/kota. Maksudanya, komunitas memiliki anggota yang dapat mewakili 50 kabupaten/kota di Jawa. Jika ikatan itu dapat diperkokoh dan bersepakat membangun usaha bersama, ambil contoh buka gerai cinderamata dan berbgai jenis barang kerjinan seperti dibuat oleh kawan-kawan kita yang tergabung di dalam komunitas Karindo (Karya Srikandi Indonesia) itu. Memiliki gerai cabang sejumlah 50 itu sungguh luar biasa. lho! Jika itu dapat anda wujudkan, anda bukan hanya berhak menyandang gelar pelopor, tetapi anda juga telah melakukan sebuah lompatan besar yang dapat pula disebut sebagai sebuah revolusi.

Dalam kaitannya dengan pemanfaatan sarana teknologi komunikasi, apa yang sudah dilakukan kawan-kawan, BMI-HK, dengan mengembangkan situs jejaring sosial di Facebook dengan nama: BHSI (BMI-HK Sadar Investasi, BBM (BMI Bersatu Maju), sesungguhnyalah sangat potensial diarahkan menjadi gerakan perubahan besar-besaran dalam tempo cepat, sebuah revolusi buruh migran yang digerakkan oleh buruh migran sendiri. Sebuah revolusi tanpa setetes pun darah. Keringat? Itu pasti! Dan kekuatan terbesar yang mesti digelindingkan sebagai bola salju, sebenarnya adalah: keinginan untuk maju bersama-sama.


Rekening Bersama

Rekening bersama bisa diartikan sebagai rekening (bank) atas nama perseorangan (individu) yang di dalamnya tersimpan uang milik beberapa orang untuk keperluan tertentu yang disepakati bersama. Misalnya, untuk membeli sesuatu alat/barang secara urunan, untuk keperluan sosial yang bersifat insidental, dan sebagainya. Tetapi, akan lebih tepat jika untuk keperluan-keperluan semacam itu dan akan berlaku dalam jangka waktu yang panjang, dibuka rekening bersama yang benar-benar atas nama lebih dari satu orang. Konsekuensinya, ketika akan menarik tunai secara manual, bukan melalui ATM (anjungan tunai mandiri), harus atas persetujuan semua, dua/tiga orang, yang terdaftar sebagai pemilik/kuasa atas rekening itu.

Salah satu kegunaan rekening bersama adalah adanya jaminan (setidaknya saksi) serta pihak/orang/teman lain yang dapat memberikan rekomendasi sebagai jaminan bahwa pihak yang kita ajak bertranskasi memiliki jejak rekam yang baik. Rekomendasi yang lebih akurat lagi tentu adalah pihak/orang yang secara geografis/fisik maupun batin dekat (misalnya teman baik) dengan pihak yang direkomendasikan. Dengan kata lain, seseorang hanya dapat merekomendasikan pihak lain yang benar-benar dikenalnya dengan baik, dan ia yakin bahwa pihak yang direkomendasikan itu tidak akan berbuat curang.

Rekening bersama ini antara lain dipakai oleh para penggemar musang yang persisnya bernama Musang Lovers Indonesia (MLI). Baru bulan lalu MLI mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) dan dibentuk kepengurusannya, menyusul dibentuknyaMLI di daerah-aerah, beberapa kota: Surabaya, Mojokerto, Depok, Tangerang, Banten, Yogyakarta, Semarang, Lamongan, dan lain-lain. Lalu seorang yang dituakan (bukan yang menjabat ketua) ialah Ted Hartanto, menawarkan rekeningnya untuk dipakai bersama dalam hal ”jual-beli” musang. Dibubuhkan tanda petik pada istilah ”jual beli” itu karena untuk menghormati musang yang mereka cintai disepakati penggunaan istilah penggantinya yaitu: adopsi (pelepas adopsi = penjual, penerima adopsi = pembeli).

Cara kerjanya, calon pembeli musang menyetorkan uang seharga musang yang hendak dibeli ke rekening bersama itu. Ketika terjadi deal harga, dari rekening bersama itu baru ditransfer ke penjual. Pada saat yang relatif sama, penjual mengirimkan musang/hewan yang dijualnya melalui jasa pengiriman hewan, ada beberapa perusahaan yang melayani ini. Transfer dari rekening bersama ke panjual itu dilakukan setelah mengetahui (dengan catatan/rekam jejak maupun menanyakan langsung ke sesama angota MLI yang bertempat tinggal tidak jauh atau bahkan mengenal langsung dengan si penjual). Dengan demikian, ruang untuk terjadinya tindak kecurangan dipersempit atau bahkan ditutup samasekali.

Menariknya, di jejaring sosial Facebook, dibentuklah grup untuk para penggemar musang (MLI) yang anggotanya terdiri atas para pemelihara (sebagai hobi), penangkar untuk diperdagangkan, pemelihara/penangkar untuk ”mesin penggiling” kopi yang menghasilkan kopi luwak, dan para pemilik petshop/penjual. Selain ada grup MLI (Musang Lovers Indonesia), di buat pula Grup RAMLI (Rumah Adopsi Musang Lovers Indonesia), di samping itu ada pula grup DPO (Daftar Pencarian Orang). Grup yang disebut terakhir itu digunakan untuk memasang daftar para penjual/pembeli nakal dan mendiskusikannya. Kadang pihak yang disebut-sebut sebagai menipu, termasuk mengulur-ulur pembayaran atau pengiriman hewan menyalahi kesepakatan awal, ikut nimbrung dalam diskusi membeberkan alibinya.

Membangun Jaringan

BMI yang berpikiran jauh ke depan sudah seharusnya memiliki obsesi ini: membangun jaring pertemanan/persahabatan yang tidak sekadar kenalan biasa, melainkan dengan ikatan seperti sebuah keluarga besar, dengan solidaritas yang kokoh. Dan seperti sudah jadi pengetahuan bersama bahwa BMI adalah objek yang biasanya ’dieksploitasi’ sekian banyak pihak: lembaga resmi, tidak resmi, maupun perorangan, terutama berkaitan dengan bidang ekonomi yang notabene dapat disebut sebagai masalah bersama. Bukankah menjadi BMI adalah pilihan untuk mendapatkan upah yang lebih baik daripada yang mungkin didapatkan di dalam negri?

Di luar negri, orang/pekerja bisa mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak. Tetapi, satu persoalan besar yang disadari atau tidak adalah, arus balik uang yang didapat itu juga sangat deras. Sebegitu derasnya hingga tak sedikit BMI gagal mengendalikannya. Bukankah banyak BMI justru masih meminjam ke bank atau lembaga keuangan di luar bank untuk belanja konsumsi, bukan untuk belanja modal? Pada akhirnya, seperti kita ketahui bersama, BMI adalah pasar yang sungguh empuk bagi para penjual, yang tak henti-henti menggelontorkan barang-barang dan jasa mereka, dari yang berupa alat kecantikan, pakaian, barang-barang elektronik, termasuk pulsa ponsel.

Cobalah jawab pakai perkiraan saja pertanyaan berikut ini. Dari 140 ribu – 150 ribu BMI-HK itu berapa orang yang menggunakan ponsel (telepon selular)? Ambil rata-rata angka paling rendahnya, berapa dolar (HK) pengeluaran tiap pemilik ponsel/bulan? Itu belum termasuk, jika beberapa anggota keluarga di kampung halaman pun dapat jatah pulsa dari Hong Kong, rutin maupun tidak rutin. Berapa sepeda motor dibeli BMI-HK dalam setahun untuk anak atau suami atau adik/kakak/orangtua di kampung halaman? Berapa HKD dikirim oleh BMI-HK ke kampung halaman? Lalu ke manakah aliran selanjutnya uang kiriman itu? Berapa banyak digunakan untuk belanja modal: sawah/ladang, alat-alat pertanian, alat pertukangan, dan alat-alat/sarana produksi lainnya? Berapa banyak dihabiskan untuk belanja konsumsi: makan/minum, pulsa, benda-benda elektronik, pakaian, telepoin genggam?

Pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi itu, tampaknya Anda akan mendapati angka-angka yang cukup mencengangkan. Lalu berten yalah kemudian, ”Seandainya BMI/mantan BMI memiliki jejaring usaha di berbagai kota hingga ke pelosok-pelosok, keuntungan dari pembelian barang-barang konsumtif dan sebagian juga dari pembelian barang-barang modal tentu dapat dinikmati bersama, dan tidak bulat-bulat menggelinding ke para penjual entah siapa.

Bagian peliknya adalah: membangun jaringan itu sedemikian gampangnya (apalagi sekarang didukung oleh fasilitas komunikasi yang sangat ampuh, tetapi sering terbukti sebegitu susahnya di dalam praktiknya. Persoalan-persoalan biasanya timbul berkaitan dengan mental atau kesiapan para pemimpin dari tingkat terbawah (mungkin: desa) hingga level paling atas. Sering terjadi, ketika organisasi (jejaring) mulai terbentuk, persoalan-persoalan politis (berkaitan dengan jabatan, kekuasaan, derajat sosial) jadi lebih mengemuka dibandingkan hal-hal yang bersifat teknis/praktis berkaitan dengan penumbuhan dan pengembangan jaringan. Itulah sebabnya, mengapa kita melihat sejarah koperasi yang digelorakan Bapak Bangsa kita, Mohammad Hatta, seolah babak-belur di dalam sejarahnya, terutama di tingkat pedesaan. Bahkan, walau di dalam kabinet sekarang ada menteri yang bertugas di bidang ini, perkoperasian tidak juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Di desa-desa, yang menjadi subur biasanya hanyalah (koperasi) simpan-pinjam, yang sesungguhnya sangat jauh dari semangat asli koperasi itu sendiri.

Jika jejaring itu terbentuk, banyak pekerjaan menjadi lebih ringan, dan yang mahal bisa jadi murah. Sebutlah contoh, jika Anda membuka usaha gerai/toko busana di salah satu kota di Jawa Timur dan memiliki jaringan pertemanan (syukur-syukur yang sudah diikat dengan kesepakatan kerja sama) di Yogyakarta, Surakarta, bandung, Pekalongan. Dari kawan-kawan yang ada di beberapa kota tersebut, Anda sudah dapat memenuhi butik/gerai Anda tanpa harus terlalu banyak keluar ongkos hilir mudik. Mungkin untuk belanja pertama perlu datang langsung. Tetapi, selanjutnya bisa dilakukan dengan pemesanan secara tertulis atau kiram nota pemesanan barang, bayar melalui transfer bank, dan tinggal menunggu kedatangan barangnya. Tentu bukannya gratis, karena dalam bisnis yang sehat semua lini pekerjaan mesti mendapatkan imbalannya. Bukankah tanpa jejaring pertermanan di berbagai kota hal demikian dapat pula dilakukan secara langsung? Betul. Memang demikian. Tetapi, jangan lupa, kita sedang memimpikan kemajuan bersama, para BMI/mantan BMI. Jika mau bergerak sendiri-sendiri, secara perorangan, sekarang pun sudah banyak yang boleh dibilang sukses. Itu bukan lompatan besar, bukan ’revolusi’ yang mampu mengguncang dunia.

Lagi pula, tentu tidak semua BMI/mantan BMI hanya tertarik berbisnis di bidang penjualan busana. Pasti ada yang tertarik di bidang kuliner, garmen, pertanian, retail, pertanian, peternakan, organizer, dan sebagainya. Maka, betapa mudahnya sekian banyak urusan jika jejaring itu terbentuk. Ketika pada suatu hari anda menginginkan indukan domba garut untuk dipelihara, atau bibit pohon matoa untuk ditanam, Anda tinggal memosting di dinding grup, misalnya, dan kawan-kawan dari berbagai penjuru dapat menawarkan bantuannya.

Jika Anda memroduksi barang, benda-benda kerajinan, pernik-pernik aksesories, misalnya, dan kemudian membuka toko online, sama halnya Anda sudah punya gudang penyimpanan stok barang di berbagai kota. Di seluruh Indonesia, atau bahkan ada pula cabang-cabangnya di berbagai negara.

Kendala

Seperti sudah disinggung di bagian terdahulu, salah satu kendala yang mesti mendapat perhatian adalah kesiapan mental, bahwa ketika badan usaha bersama dan jejaring mulai terbentuk, persoalan-persoalan baru yang akan timbul justru yang tidak berkaitan dengan hal-hal praktis, melainkan berkaitan dengan hal-hal ’politis’. Sering terjadi, perbedaan pendapat dalam hal-hal yang tidak esensial, yang sebenarnya sepele, berkembang menuju perpecahan. Maka, untuk sementara kita melihat banyak komunitas sejenis di sini (Hong Kong) dan beberapa di antaranya adalah anak-pinak dari sebuah komunitas yang kemudian melepaskan diri dari induknya, membentuk semacam barisan sakit hati, lalu memproklamasikan diri sebagai individu (baca: komunitas) baru.

Alhasil, sang induk gagal melahirkan anak-anak yang kemudian menyebar dan berkembang menjadi sebuah keluarga besar, melainkan tercerai-berai dan tidak saling membesarkan. Pertanyaannya, ketika ada pilihan untuk menjadi Hiu, mengapa memilih menjadi hanya teri? Ilustrasi ini tentunya mesti disertai permintaan maaf bahwa bukan maksudnya menganggap banyak komunitas ”cap teri” di sini, melainkan lebih dimaksudkan untuk menjadi semacam pengingat bahwa Anda semua memiliki peluang untuk menjadi besar, sangat besar, sehingga pihak-pihak yang selama ini mencibir di belakang atau bahkan ketika berhadapan dengan Anda harus menaruh hormat, suka atau tidak.

Dulu banyak koperasi bertumbangan karena pengurusnya tidak amanah. Itu dulu. Sekarang eranya sudah lain. Ini era keterbukaan, transparansi mesti dikedepankan. Apalagi dalam sebuah organisasi atau lembaga bisnis yang didirikan bersama-sama. Banyak sudah yang kini membuktikan bahwa koperasi tidak pernah bisa menjadi besar itu ternyata hanya mitos. Itulah, salah satu tanda pada orang-orang yang akan memetik keberhasilan adalah keberaniannya menumbangkan mitos!

Janganlah rasa iri terhadap jabatan/kedudukan orang lain di dalam organisasi membuntu peluang untuk maju bersama, menciptakan sesuatu yang baru dan sedemikian besar, yang tak seorang pun pernah menduga sebelumnya. Jika Anda semua siap, sekarang, segeralah dimulai. Modalnya: hanya kemauan. Mau maju bersama, menciptakan sesuatu yang sangat besar yang tak pernah dibayangkan orang. Kayao!*

*) Untuk Majalah Peduli

Singkatan:
BMI = Buruh Migran asal Indonesia
HK = Hong Kong

Tuesday, 11 December 2012

Aja Dumeh Babu*

"Jalan Lain ke Jogja" novel karyane Asih Aspalia, PRT asal Blitar ing Taiwan

Ing artikata.com tembung ‘’babu’’ iku mengku teges: ‘’perempuan yang bekerja sebagai pembantu (pelayan) di rumah tangga orang” (wong wadon kang makarya kadidene rewang ing omahe wong liya). YEN tembung 'babu' kasebut, kuping sok dadi keri, utawa malah dadi lara. Tembug iku kaangep kasar, ngasorake, beda karo tembung, 'pramuwisma', domestic helper (=rewang), domestic worker (= pekerja rumah tangga dicekak: PRT).

Basa Jawa sajak kangelan nemokake tembung kang trep, kang surasane presis karo kang kinandhut ing sebutan pungkasan kuwi mau: domestic worker/PRT. Apa, coba? Ing tataran nasional wae ya isih diarani 'PRT' utawa 'rewang'. Ajamaneh ing Indonesia, Hongkong kang kepetung negara kang luwih maju wae undang-undang/peraturan kang diwetokake departemen tenaga kerjane ya ngarani 'PRT' kadidene domestic helper utawa pembantu rumah tangga.

Eloke, senajan ing Hongkong sebutane domestic helper nanging cak-cakane luwih pas yen diarani domestic worker utawa PRT. Sababe, ing Hongkong ana aturan baku mligi ngenani pekerja rumah tangga: pira bayarane, apa hak-hake, lan apa wae kang dadi kuwajibane (pakaryan kang kudu ditindakake), klebu hak libur ing dina Minggu (bisa diganti dina liya) lan ing dina-dina tinamtu liyane, upamane ing 'hari besar nasional' utawa 'hari besar keagamaan'.

Ing bab libur, ora beda karo pegawe negri ing Indonesia, ta? Bayaran (resmi)-ne PRT ing Hongkong iku 3740 dolar Hongkong (HKD). Kanthi kurs saiki 1 HKD = Rp 1.180, kuwi padha karo Rp 4.413.200. Yen pegawai negri ing Indonesia kuwi golongan pira ya? Kanyatane ya akeh sing sangisore kuwi nampane, merga pancen majikane nyalahi aturan utawa isih kepotong cicilan utang kanggo wragat budhale biyen. Nanging, kanthi bayaran resmi samono kuwi, mapan lan mangan wis melu majikan, senajan cak-cakane ya akeh sing olah-olah dhewe amarga kangen olah-olahan khas Indonesia.

Mbaleni prakara sebutan, PRT uga sinebut kadidene pakaryan ing 'sektor informal'. Apa kang mangkono iku ora klebu ing wewengkon 'kelirumologi' ngampil tembunge Pak Jaya Suprana? Apa kulawarga iku dudu lembaga resmi (formal) yen: duwe NPWP, duwe kartu keluarga, lan sapiturute? Mengko gek aran-aranan 'sektor informal' kuwi mung linandhesan wawasan manawa keh-kehane PRT ing Indonesia iki dipleter pegaweyan lan dibayar sakarepe tuan/nyonya majikan? Rak durung ana ta UU PRT ing Indonesia? Perda PRT wae, sajake lagi Pemda DIY kang duwe.

Sawatara wektu kepungkur Ketua DPR Marzuki Alie aweh pratelan, kurang-luwihe, manawa: PRT asal Indonesia ing mancanagara ngucemake bangsa (menjatuhkan martabat bangsa). Merga krasa banget olehe nggebyah uyah kuwi, mula akeh PRT ing Hongkong padha kemropok. Malah ana kang mitakonake, "Kok sing disalahke malah PRTne, geneya dudu Pamarentah kang ora becus nyedhiyani lapangan kerja kang cukup kanggo rakyate?" Anazkia PRT asal Indonesia ing Malaysia, lumantar situs-e (anazkia.com) mrotes pratelan kuwi, nganti Marzuki Alie nglonggarake wektu kanggo langsung aweh wangsulan.

Jaman saiki, bakal gedhe lupute wong kang nganggep manawa PRT kuwi mesthi mendho, lan sarwa kekurangan. Ana kang budhal saka Indonesia wis sarjana, lho! Contone, Dhenok (asal Malang) kang banjur nulis buku kumpulan crita cekak (Abasa Indonesia) Majikanku Empu Sendok (Alfina, Surabaya, 1996) budhal menyang Hongkong sawise lulus sarjana saka FPOK IKIP Malang.

Etik Juwita (Blitar) kang tau nampa anugerah sastra Pena Kencana 2008, sawise nyambutgawe ing Hongkong saiki nggethu kuliyah ing Jurusan Sastra Inggris Universitas Gajayana, Malang. Ing Hongkong, kejaba akeh kang ngleboni pendidikan 'Kejar Paket', uga akeh kang dadi mahasiswi Program Diploma (pantoge Diploma 3).

Saka Hongkong akeh kang banjur bali menyang Tanah Jawa lan dadi wong pilih tandhing jroning nindakake 'proyek kabecikan'. Maria Bo Niok (Wonosobo) adeg kapustakan Istana Rumbia ing desane, lan gawe rintisan UKM kanthi produk merek 'Marie Singkong Rasa Gadung'.
buku karyane para buruh migran utawa PRT asal Indonesia kang makarya ing luwar negri

Ing Banyuwangi ana Eni Kusuma. Sawise sawatara taun ing Hongkong, ibu kang saiki wis peputra siji kuwi nerusake suksese mbabar buku motivasi Anda Luar Biasa!!! kanthi adeg PAUD lan bimbel ing bumi klairene.

Ing Ngawi ana Nadia Cahyani, tau dadi Pemimpin Redaksi Majalah Iqro kang dibabar dening Dhompet Dhuafa Hongkong, saiki wiwit adeg perpustakaan, bukak leslesan gratis kanggo para siswa sakiwa-tengene, lan ngajak para ibu tumandang, usaha produktif, nggawe manekawarna kripik.

Ing Cilacap ana Perpustakaan Wiwawi kang diedegake dening Pendar Bw, ing Kediri ana Pondhok Maos Cendhani kang dibangun dening Muntamah Sekar Cendhani, kang kayadene Pendar Bw, saiki isih nyambutgawe ing Hongkong.

Para PRT asal Indonesia ing Hongkong, kahanane pancen beda banget yen dibandhingake karo kang ana ing negara-negara Timur Tengah utawa ing Malaysia. Ing Singapura duwe dina libur, nanging ora bebas kaya ing Hongkong. Ing Hongkong, para pekerja migran bisa ngedegake organisasi resmi. Yen mung paguyuban seni/tari wae, ing Hongkong cacahe puluhan rangkep. Lan kang agawe mongkog, pranyata isih akeh kang nengenake olehe nguri-uri seni/tari tradhisional: ngremo, jaipong, klebu jaranan campursari. Ana Sanggar Budaya Indonesia kang diembani KJRI-HK, ana Sekarbumi (Seni Karya Buruh Migran), Alexa Dancer, Arimby Dancer, DIF Dancer, Borneo Dancer, lan liyaliyane.

Eloke, kejaba Sanggar Budaya Indonesia kang sinengkuyung dening KJRI-HK, paguyuban-paguyuban seni (tari) kuwi mentas saka eguhe dhewe-dhewe, ora ana kang dibantu dening pamarentah. Kamangka, ora saben pentas mung ditonton dening sapepadhane warga Indonesia ing kana, nanging kerep ana acara pentas antarbangsa kang wujud lomba utawa pagelaran kanggo mengeti dina kang penting. Tegese, senajan diaranana PRT, para 'domestic worker' (ora mung) ing Hongkong kuwi uga wenang sinebut duta budaya bangsa, kang kanthi suka-rila mromosekake kaskayane kabudayan Indonesia ing negara manca.

Haryati (asal Malang) kang luwih kawentar kanthi julukan Anggie Camat kang tau pinercaya dadi Ketua Sanggar Budaya Indonesia ing Hongkong uga ngandhakake manawa olehe gumregut ngleluri seni/tari tradisional ing negara manca kuwi kesurung dening rasa tresna marang budaya bangsane lan kepengin bisa ngenalake marang bangsa seje.

Annie (asal Sragen) kang uga sengkut ing donyane seni tari ing Hongkong, kandha yen saben wong minggu sepisan mesthi ana tanggapan. Mulane ora mung penarine, senajan juru paes lan kang nyewakake sandhangan tari ya melu kelarisan. Anik Purwaningsih (asal Wonosobo) malahan kandha yen dheweke ora mung dadi juru paes, nanging uga bukak kursus rias penganten ing Hongkong. Senajan sing kursus mung wong siji-loro, Anik uga rumangsa marem, ngelingi yen kabisane kuwi ora mung bakal dicakake ing Hongkong, nanging diangkah uga bisaa dadi kabisan kang bisa diterusake mengko yen wis bali menyang Tanah Jawa.

Ing donyane kasusastran, Forum Lingkar Pena (FLP) ya bukak cabang ing Hongkong. Mula aja gumun yen sajroning setaun ana puluhan buku karyane para pekerja rumah tangga asal Indonesia ing nagara iku.

Saperangan dicetak ing Hongkong, nanging uga ana kang kacetak ing Indonesia. Apa kang mangkono iku dudu gerakan literasi kang ngedap-edapi? Durung maneh yen dicritakake kridhaning para PRT asal Indonesia ing internet. Kajaba Anazkia (anazkia.com) ing Malaysia, ing Hongkong ana Sri Lestari (asal Blora) kang duwe: babungeblog.blogspot.com kanthi isi tulisan-tulisan 'mletik' kang bobote bisa diadu karo karyane para sarjana. Iku ya mung saderma kanggo conto. Liyane, isih akeh.

Cekake, aja dumeh. Aja nyepelekake PRT, kang nalika para anggota DPR/DPRD padha mothah njaluk ditukokake laptop, wongwong kang kerep 'dikasari' nganggo sebutan 'babu' iku malah wis padha duwe komputer tablet kang tumetes langsung saka kringete dhewe.*

*) Kapacak ing Suara Merdeka

Sunday, 1 July 2012

Baku Kunjung sambil Unjuk Karya

Kang Sigit, demikianlah biasanya secara akrap laki-laki asal Kendal yang menetap di Swiss ini disapa, sungguh gemati terhadap buku karya-nya sendiri. Ia rela terbang dari satu benua ke benua lain, dari satu kota ke kota lain, untuk membicarakan bukunya, satu hal yang tak banyak dilakukan penulis lain.

Ini pelajaran menarik, patut dicontoh oleh BMI yang telah melahirkan buku, yang, jumlahnya makin membengkak itu. Saya pernah mengikuti acara diskusi buku karya Maria Bo Niok, Rini Widyawati, Wina Karnie, Eni Kusuma, Tarini Sorita, dan entah BMI siapa lagi, ya? Buku cerpen Penari Naga Kecil karya Tarini Sorita sempat diluncurkan di Taman Budaya Jawa Timur, lalu di Toko Buku Togamas Yogyakarta. Eni Kusuma malahan tidak sekadar meluncurkan dan mendiskusikan bukunya, ia tampil pula di televisi (JTV) dan radio, sebelum kemudian diundang sebagai pembicara di berbagai kota.

Apakah pada awalnya pihak radio dan televisi yang mengundang Eni Kusuma, melainkan dari pihak Eni-lah datangnya inisiatif itu. Pada titik itu kita dapat melihat ada upaya lebih gigih dari seorang Eni Kusuma. Maka akan lebih konyol lagi jika ada pertanyaan, ”Apakah Eni Kusuma dibayar untuk tampil diwawancarai di televisi itu?” Ouw, saya ingin mengatakan, justru akan terasa lebih wajar jika Eni yang keluar uang untuk mempromosikan dirinya –pada saat itu!

Melalui Grup Pembaca Majalah Peduli (Facebook) saya tahu banyak BMI Hong Kong yang sudah dan akan memiliki rumah makan atau café. Seharusnya, itu menjadi tempat pilihan pertama untuk menggelar diskusi buku karya-karya BMI/mantan BMI, bukan hanya BMI Hong Kong tentunya. Dengan demikian terjadilah apa yang di-pepatah-kan sebagai, ”Sekali merengkuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui.” Kalau BMI/Mantan BMI bertemu, dalam acara yang bertajuk ”peluncuran” atau ”bedah buku” sekalipun, pastilah banyak hal lain bisa jadi pembicaraan. Untuk topik-topik di luar konteks acaranya, tentulah tidak diobrolkan di forum resminya, melainkan bisa dilakukan pada saart istirahat, sebelum dan sesudah acara intinya.

Maka, selain tali persaudaraan makin dipererat, soal-soal kesenian, bisnis, dan bahkan gerakan melawan kesewenang-wenangan pun dapat dibicarakan dan di galang dalam kesempatan-kesempatan yang sangat baik itu. Apalagi jika kegiatan seperti itu bisa ditradisikan, berpindah tempat dari satu kota ke kota lainnya, hingga baku kunjung untuk mempererat tali persaudaraan pun akan semakin menemukan maknanya.

Kalau pun harus dijlentrehkan keuntungan apa yang dapat dipetik para pihak, ya ini: pemilik buku akan mendapatkan ruang untuk mempromosikan buku (tentu sekaligus juga pengarang/penulisnya), pemilik café/rumah makan juga akan mendapatkan kesempatan untuk menarik pelanggan lebih banyak, sekaligus mempromosikan usahanya –apalagi jika kemudian ada wartawan datang meliput. Sedangkan para peserta, tentu mendapat tambahan wawasan dari acara diskusinya, bertambah teman, jaringan, dan tidak tertutup kemungkinan mendapatkan kesepakatan-kesepakatan dalam hal bisnis.

Jika saya harus membuat kesimpulan, menggelar, menghadiri, atau terlibat dalam acara-acara semacam saya uraikan tadi: ”Itu investasi juga.” Itu pun sejauh kita menganggap bahwa ”nilai” tidak hanya tertulis di lembaran atau kepingan uang! *

Monday, 21 May 2012

Kongres dan Sumpah BMI, Mau?

Tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan bukti keluarbiasaan (semangat) kebersamaan itu. Carilah sarang semut. Amati baik-baik, betapa indah dan rumitnya. Dan itu dibangun oleh makhluk-makhluk kecil yang bahkan sering luput dari perhatian kita –kecuali mereka sedang menjarah ransum kita.


Indonesia menjadi ada juga berkat kebersamaan, yang dibangun dari kebersamaan-kebersamaan kecil, yang menggumpal menjadi kebersamaan besar terutama pada 28 Oktober 1028 yang kemudian kita kenal dengan peristiwa Sumpah Pemuda itu. Ketika kebersamaan sejati berhasil dibangun, kalah menang sudah bukan urusan, sebab bukan hanya menjauh: lawan sudah lenyap.

Saya membaca, hari-hari belakangan ini sedang kencang-kencangnya bertiup semangat kebersamaan di kalangan BMI, bukan saja yang ada di Hong Kong, melainkan juga di Timur Tengah sana.

Kepercayaan adalah dasar dari sebuah bangunan kebersamaan di dalam berbisnis. Kalau ketidakpercayaan mulai tumbuh di antara orang-oang yang terikat kesepakatan menjalankan usaha bersama, itu adalah kabar buruk pertama, sebelum terjadi persengketaaan secara terbuka, dan/atau kemandegan usaha itu.

Susahnya, seperti yang saya ketahui dari kabarnya, banyak BMI –bukan hanya di Hong Kong, sering mendapat pengalaman buruk dalam upaya membangun ”usaha bersama”: dari yang lebih disebabkan oleh kesalahan teknis maupun yang memang jelas-jelas merupakan korban kejahatan. Kesan yang saya tangkap dan disetujui oleh beberapa teman di Hong Kong adalah: banyak BMI yang terlalu bersemangat ketika diminta menyetor modal usaha. Bahkan, ketika yang meminta menyetor modal itu orang yang berada di Indonesia dan bukan BMI atau mantan BMI, yang mereka kira telah mereka kenal dengan baik.

Apakah jika usaha bersama dibangun oleh sesama BMI berarti tidak ada potensi masalah? Saya yakin, terutama yang sudah berada di Hong Kong lebih dari 5 tahun punya jawaban yang sangat tegas untuk pertanyaan ini.

Yang ingin ditegaskan dengan gambaran-gambaran tadi, sesungguhnya adalah bahwa: sedangkan berusaha sendiri pun sangat mungkin banyak masalah. Apalagi, ketika harus mempersatukan dan membersamakan banyak orang dengan latar belakang watak, pengetahuan, dan selera yang berbeda-beda.

Maka, yang sesungguhnya sangat penting untuk diperhatikan adalah: bagaimana menyiapkan tatanan, aturan, atau mekanisme penyelesaiannya jika timbul beragam masalah di kemudian hari. Jadi, seyogyanya jangan terlalu cepat meyerahkan atau menerima setoran modal bersama sebelum ”peraturannya” jelas dan disepakati oleh semua pihak.

Berapa orang yang sudah menyatakan bergabung di dalam kelompok usaha bersama anda? Sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh orang? Inggat, di Hong Kong saja bisa ada ratusan orang atau bahkan ribuan orang yang berasal dari kabupaten/kota yang sama. Maka, jika anda membangun usaha bersama puluhan orang saja, bukannya tidak boleh, bukannya tidak baik, melainkan: itu masih berupa kelompok kecil, sangat kecil. Itu juga berbeda dengan gambaran mengenai kebersamaan yang sering saya sebutkan sebagai potensi kedahsyatan yang akan menggemparkan dunia, dan membuat para pihak yang selama ini menyepelekan BMI akan terbelalak dan terlongo-longo.

Kecuali, anda bisa menjalin persatuan di antara kelompok-kelompok kecil BMI yang membangun usaha bersama itu ke dalam semangat yang, bisa saja ditandai dengan sebuah kongres yang akan menjadi peristiwa lahirnya Sumpah BMI. Mau?

Apakah kebersamaan sejati yang sungguh dahsyat itu bisa direalisasi au setidaknya semakin didekati? Harapan selalu ada, mengingat, dan tergantung pada Anda, yang, setidaknya sudah membacanya sampai di sini. Apakah Anda akan segera melupakan ini atau akan terus berpikir untuk ikut mengupayakannya? Semua keputusan ada di tangan Anda.

Boleh dikopipaste dan disebarkan ke sesama BMI di mana pun berada, dengan atau tanpa menyebutkan sumbernya. [bom]

Tuesday, 17 April 2012

Dari Jawa Timur untuk Indonesia

Rumah-rumah bagus, tetapi sepi, dan loket penukaran mata uang asing bertebaran di berbagai penjuru. Itulah pemandangan kampung-kampung atau kota-kota kecil yang ditinggalkan banyak warganya untuk bekerja di luar negri. Demikianlah sekilas gambaran yang dapat disampaikan untuk menjelaskan, betapa gaya hidup konsumtif adalah ”lawan terberat” bagi para pekerja migran/mantan pekerja migran. Padahal, di sisi lain, pengalaman bekerja di negri orang dengan disiplin yang lebih ketat seharusnya membuat mereka menjadi orang-orang produktif.



Untuk menggambarkan gaya konsumtif itu pula, seorang teman di Blitar –salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki banyak pekerja migran-- memberikan saran, ’’Jangan beli motor di Blitar menjelang Lebaran!’’ Mengapa demikian? Karena biasanya harus inden, rela berlama mengantri. Begitulah, di Blitar, beli motor seperti beli baju saja. Enteng saja pakai motor-baru saat Lebaran.

Sebuah bank nasional menawarkan kredit rumah (mewah) seharga ratusan juta rupiah di setengah halaman warna sebuah koran bulanan yang dicetak dan diedarkan untuk komunitas pekerja rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong. Penjual furniture, motor, dan barang-barang elektronik di tanah air pun menyebarkan brosur penawarannya di Hong Kong. Jadi, para pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong itu bisa bertransaksi jual-beli di Hong Kong, dan tinggal tunggu kabar dari kampung bahwa barang-barang yang dibeli itu sudah terkirim ke rumah. Bukan hanya barang-barang kasatmata berkait kebutuhan rumahtangga sehari-hari. Benda-benda azimat dan bahkan tuyul pun konon diperjualbelikan pula dengan cara transaksi modern seperti itu.

Biasanya pula, pekerja migran pulang kampung dan membeli barang-barang konsumtif dengan penuh nafsu. Akibatnya, mulai enam bulan pertama, satu per satu barang-barang baru pun kembali terjual. Pada ujungnya, tak ada lagi pilihan: kembali lagi ke luar negri. Begitu berulang-ulang, sampai tua. Mereka seperti sisipus yang dikutuk para dewa dalam mitos Yunani Kuno.

Sementara ini, kita belum mendengar kabar gembira: sebuah kabupaten menyiapkan kawasan bisnis, membangun ruko-ruko murah untuk di-kredit-kan kepada para pekerja migran-nya, menyiapkan bengkel-bengkel kerja (workshop) untuk pelatihan kewirausahaan bagi suami/istri TKI yang ada di desa. Padahal, tanpa meremehkan urusan lainnya, mempersiapkan para pekerja migran untuk menjadi entrepreneur di negri sendiri adalah sangat penting. Itu adalah bagian dari program ”perlindungan” juga.

Dari sisi lain, banyak orang keburu berpikir bahwa bantuan untuk para pekerja –terutama mantan—pekerja migran itu pertama-tama adalah uang dalam bentuk pemberian kredit dari bank. Padahal, pengembangan wawasan dan ketrampilan mereka jauh lebih penting. Tak kalah pentingnya pula adalah: mendampingi mereka dalam mengembangan usaha.

Karena itulah, ketika Mas Abdul Aziz memberondongkan gagasan-gagasannya dan serta-merta mendapatkan sambutan luar biasa bagusnya dari para pekerja migran (di Grup Facebook: Pembaca Majalah Peduli), saya langsung berteriak di dalam hati: ”Inilah saatnya untuk memulai!”

Ini momentum yang sangat bagus untuk bersama-sama berbuat bagi bangsa, melalui kepedulian terhadap para pejuang ekonomi bangsa yang kita sebut pekerja migran itu. Mari bersama-sama bertindak sekarang juga!

Pasti banyak orang dapat membuat tulisan lebih lengkap, lebih rinci, dan lebih ber-”teori”. Kelebihan tulisan-tulisan Mas Abdul Aziz ini adalah: terbukti telah menggerakkan pikiran sekian banyak pekerja migran, terutama yang ada di Hong Kong. Bahkan, tak sedikit pula yang secara spontan menyatakan bahwa, membaca gagasan-gagasan Mas Aziz membuat ingin cepat-cepat pulang kampung dan mengembangkan usaha/bisnis sendiri. Buku yang tebal dan penuh dengan catatan kaki bisa jadi malah tak sekuat itu daya ”usik”-nya!

Sudah sejak sekian tahun lalu saya menyatakan bahwa seyogyanya Jawa Timur tampil terdepan dalam hal terobosan-terobosan untuk memberikan penguatan terhadap perjuangan para pekerja migran. Mereka telah bercucuran keringat, air mata, bahkan darah untuk kehidupan yang lebih bagus. Memang sering tampak: mereka berangkat atas kemauan sendiri, demi diri dan keluarga mereka. Tetapi, pada hakikatnya, mereka adalah para pejuang bangsa juga. Jika tidak demikian, buat apa orang menyematkan gelar ”pahlawan devisa” itu? Maka, inilah saatnya kita bergerak: dari Jawa Timur untuk Indonesia!

Salam Posmi!
The Power of Sayur Mider!
Ethek… ethek… ethek… hruuuungngng….!


BONARI NABONENAR
Pemimpin Redaksi Majalah Peduli

Wednesday, 11 January 2012

Membangun Monumen Solidaritas

Menuju Hari Buruh Sedunia 2012


Efektifnya hanya sekitar dua bulan lagi, kita akan sampai pada Hari (Besar) Buruh Sedunia atau yang sering juga disebut sabagai May Day (1 Mei 2012). Di berbagai belahan dunia hari itu akan diperingati dengan gegap-gempita. Demonstrasi ada di mana-mana. Itu adalah salah satu cara, menyalurkan aspirasi, menggedor tembok keangkuhan para birokrat yang sering tampak lupa mengemban amanat rakyat.
Adalah salah satu cara. Artinya, ada cara lain yang bisa ditempuh tanpa mengurangi, tanpa melupakan cara yang lainnya lagi. Berbagai cara memang mesti ditempuh untuk semakin mempertegas garis perjuangan kita. Cara yang lain lagi, adalah memlalui tulisan. Ini juga sudah dilakukan banyak buruh migran asal Indonesia di Hong Kong. Sekadar menandaskan, sejauh yang terkespose media, tidak ada dunia penulisan di kalangan buruh migran sesemarak yang ada di Hong Kong. Bahkan, di kalangan buruh migran asal negara lain, selain Indonesia!

Seperti mulai diumumkan melalui Peduli edisi Januari 2012 (edisi bulan lalu) kita akan menggelar Festival Pekerja Migran di kawasan Pantai Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur pada bulan Mei 2012 nanti. Diharapkan, kawan-kawan BMI yang sedang cuti dan berada di tanahair dapat menghadiri acara itu, secara sukarela, secara swadaya. Tentu, jangan ketinggalan pula para ”pendahulu” yang sudah ”memanjangkan penanya” di tanahair: Etik Juwita, Maria Bo Niok, Eni Kusuma, Nadia Cahyani, Wina Karnie, dan siapa lagi?

Lalu, anggaplah saja kita akan melakukan demo dengan kemasan yang agak berbeda. Selain meneriakkan tuntutan, dengan lagu puisi, cerita, atau melalui foto-foto dan tayangan audio-visual yang dapat disiapkan, pertemuan seperti itu nanti juga akan memperkokoh ikatan persaudaraan, bisa jadi semacam ajang konsolidasi untuk mempertegas garis perjuangan. Bukan hanya di ruang sempit bernama dunia pekerja migran, melainkan juga perjuangan sebagai anak bangsa, sebagai anak manusia, yang makin ditantang oleh ganasnya gelombang kehidupan modern.

Ketika saudara-saudara dari berbagai wilayah bertemu, peluang untuk munculnya gagasan-gagasan baru pun akan semakin terbuka. Termasuk gagasan pengembangan bisnis. Ada kata kunci yang sangat ampuh di sini: kebersamaan. Jika semangat kebersamaan, senasib-seperjuangan itu tidak hanya di hentikan ketika serentak turun ke jalan, melainkan juga saat berjuang di dalam frame yang lebih luas: kehidupan ini sepenuhnya, alangkah dahsyatnya!

Juga, jika keinginan menerbitkan buku bersama yang representatif, setebal 500 halaman atau lebih itu tercapai, sesungguhnyalah akan secara simbolis menjadi tambahan bukti kedahsyatan itu. Di sanalah antara lain kita akan meletakkan tanda kebersamaan kita. Biarlah orang mengolok-olok, misal dengan kata-kata ini, ”itu sekadar sensasional!” Apa pun, itu kita butuhkan! Kita perlu terus menggali cara untuk menarik perhatian. Dan membuat sensasi, sejauh tidak mengandung unsur kekerasan, pemaksaan, atau pelanggaran terhadap nilai-nilai lain yang bersama dijunjung tinggi, adalah bentuk kreativitas juga.

Buku tebal kita itu nanti, jika terwujud, ia akan jadi semacam monumen untuk: solidaritas kita! [*]

FOto: YANY WIJAYA KUSUMA

Tuesday, 27 December 2011

Kewirausahaan untuk Melindungi TKI

Bonari Nabonenar*

Dalam acara Debat Calon Bupati melalui televisi pada suatu waktu muncul pertanyaan begini: ’’Ponorogo sebagai salah satu kabupaten yang mengirimkan banyak TKI ke luar negri tentu akan menerima kiriman devisa yang banyak pula. Jika anda terpilih menjadi pemimpin di kabupaten ini, apa yang akan anda lakukan untuk menyelematkan devisa itu, dan dengan demikian juga menyelamatkan para TKI itu agar dengan modal yang mereka peroleh mereka bisa mengembangkan usaha di kampung halaman dan tidak perlu terus ulang-alik ke luar negri?’’


Kalimat pertanyaan aslinya tidak persis seperti itu, tetapi begitulah intinya. Dan mari kita simak jawaban para kandidat. Ini pun tidak ditulis persis. Tetapi tidak mengurangi esensinya, dan tidak ada kata yang dilebih-lebihkan dalam kutipan berikut.

Salah seorang kandidat menjawab, ’’Pertama harus kita sepakati dulu bahwa masalah TKI ini adalah masalah pelayanan. Berangkatnya yang susah, ada banyak masalah. Itu yang harus kita selesaikan dulu. Perkara nanti kalau dapat duit, ya tentunya kita akan memfasilitasi agar mereka bisa berusaha. Itu kalau mereka mau. Kalau tidak mau ya biarin aja, wong itu duit-duitnya sendiri….’’

Kandidat berikutnya mengawali kalimatnya dengan beberapa kata yang terasa akan mengarah ke jawaban yang tepat, ’’Soal dana yang didapat para TKI ini kita memang perlu mengarahkan dan membina agar bisa dikembangkan sebagai modal usaha produktif, tidak sekadar membangun rumah mewah, tetapi mari kita investasikan sesuai dengan peluang yang ada di Kabupaten Ponorogo….’’ tetapi, sayangnya, ini jadi semacam kalimat tidak selesai karena disambung dengan kata-kata yang melebar ke perbankan dan peningkatan akses masyarakat umum termasuk selain TKI atau mantan TKI untuk pengembangan kewirausahaan, bukannya menawarkan contoh nyata kebijakan macam apa yang akan ditempuh nanti.

Kandidat ketiga menyatakan bahwa jawaban kandidat sebelumnya sudah bagus. Tetapi, tiba-tiba ia menukik, ’’cuman kalau menurut saya yang tidak bagus yang nanyak itu. Pertanyaan di TKI itu poinnya bukan di situ. Tetapi, perlindungannya dulu. Bagaimana TKI ini berangkatnya baik, bekerja baik, pulangnya baik. Ini koreksi untuk pertanyaannya dulu.’’ Lhadalah! Sungguh, jawaban yang sangat menjengkelkan.

Tulisan Ririn Handayani, Memutus Lingkaran Setan TKI (JP, 27/11) sangat bagus, dan itulah persoalan yang sepertinya kurang disadari para pemangku kepentingan/kuasa TKI selama ini. Urusan TKI adalah urusan manusia, adalah urusan multidimensi, dan karenanya akan terlalu berat jika dibebankan hanya kepada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan apalagi, maaf, dengan menteri yang ditunjuk hanya (?) karena harus mendapatkan jatah kursi berkat Partainya. Jika semua lembaga yang mengurusi manusia Indonesia berkoordinasi dengan baik mengurusi TKI kita secara sungguh-sungguh, tentulah urusannya tidak serunyam sekarang ini. Mungkin juga tidak diperlukan lembaga-lembaga ekstra macam komisi atau apa.

Tetapi, pertanyaan besarnya adalah: apakah kita, khususnya pejabat pembuat kebijakan kita menyadari bahwa mengirimkan TKI ke luar negri untuk menjadi pekerja industri dan terlebih lagi pekerja rumah tangga adalah kebijakan yang bersifat darurat? Apakah mereka punya target, misal 20 atau 25 tahun ke depan kita akan kokoh sebagai bangsa yang bisa benar-benar mandiri, dan tanpa aturan pelarangan pun tak akan ada lagi warga negara yang tergiur untuk menantang risiko sakit atau bahkan mati di luar negri karena di dalam negri sendiri sudah bisa bekerja dan hidup berkecukupan?

Jika kesadaran seperti itu ada, pastilah, tanpa mengurangi keseriusan penanganan persiapan pemberangkatan dan perlindungan TKI yang masih di luar negri, urusan mempersiapkan mereka menjadi entrepreneur di negri sendiri adalah sangat penting. Pastilah, tidak ada pejabat, apalagi seorang pemimpin yang dengan enteng melontarkan kalimat, ’’itu kan duit-duit mereka sendiri…..!’’

Konsumtif

Datanglah ke kampung-kampung TKI, dan Anda akan menemui pemandanagan yang mengagetkan. Rumah-rumah bagus, tetapi sepi, dan loket penukaran mata uang asing pun bertebaran di kota-kota kecil. Seorang teman di Blitar memberikan saran, ’’Jangan beli motor di Blitar menjelang lebaran,’’ karena biasanya harus inden, rela berlama mengantri. Begitulah, di Blitar, beli motor seperti beli baju saja. Enteng saja pakai motor-baru saat Lebaran. Bahkan, juga mobil, bersliweran di kampung-kampung.

Sebuah bank nasional menawarkan kredit rumah (mewah) seharga ratusan juta rupiah di setengah halaman warna sebuah koran bulanan yang dicetak dan diedarkan untuk komunitas pekerja rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong. Industri/ pedagang furniture, motor, dan barang-barang elektronik di tanah air pun menyebarkan brosur penawarannya di Hong Kong. Jadi, para pekerja rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong itu bisa bertransaksi jual-beli di Hong Kong, dan tinggal tunggu kabar dari kampung bahwa barang-barang yang dibeli itu sudah terkirim ke rumah. Bukan hanya barang-barang kasatmata berkait kebutuhan rumahtangga sehari-hari. Benda-benda azimat dan bahkan tuyul pun konon diperjualbelikan pula dengan cara transaksi modern seperti itu.

Biasanya TKI pulang kampung dan membeli barang-barang konsumtif dengan penuh nafsu. Akibatnya, mulai enam bulan pertama, satu per satu barang-barang baru pun kembali terjual. Pada ujungnya, tak ada lagi pilihan: kembali lagi ke luar negri. Begitu berulang-ulang, sampai tua. Mereka seperti sisipus yang dikutuk para dewa dalam mitos Yunani Kuno. Pemerintah yang tak hanya memburu kepentingan sesaat harus punya program yang nyata untuk memutus kutukan tersebut.

Sudahkah kita pernah mendengar, misal, sebuah kabupaten menyiapkan kawasan bisnis, membangun ruko-ruko murah untuk dikredit-kan kepada para TKI-nya, menyiapkan bengkel-bengkel kerja (workshop) untuk pelatihan kewirausahaan bagi suami/istri TKI yang ada di desa? Banyak orang keburu berpikir bahwa bantuan untuk para TKI/mantan TKI itu pertama-tama adalah uang dalam bentuk pemberian kredit dari bank. Padahal, pengembangan wawasan dan ketrampilan mereka jauh lebih penting. Kalau bank punya uang yang mau disalurkan, salurkanlah kepada mereka yang belum telanjur berangkat ke luar negri. Dan dampingilah mereka. ILO Jatim dapat menunjukkan beberapa koperasi mantan TKI dan komunitas mantan TKI yang didampingi dan menunjukkan keberhasilan yang menggembirakan di Jawa Timur. Komunitas TKI/Mantan TKI yang sukses didampingi pemerintah, mana?

Inspirasi

Sesungguhnya ada cukup banyak kisah keberhasilan mantan TKI, yang di kampung halamannya sukses mengembangkan usaha. Ada yang menjadi petani sukses sambil menjadi dosen, ada yang menjadi pengusaha bordir dan menyerap cukup banyak tenaga kerja di sekitarnya, ada yang berhasil membangun perusahaan jasa travelling, dan bahkan ada pula yang mendirikan PJTKI. Kisah sukses mereka ini seharusnya dapat digunakan untuk menginspirasi para TKI. Bisa mulai diperkenalkan kepada para calon TKI di barak penampungan/pelatihan sebelum keberangkatan mereka, kepada para TKI di negara tempat mereka bekerja, dan kepada para mantan TKI. Tampaknya hal bagus ini belum dilakukan. Saya pernah menghadiri workshop kewirausahaan yang diselenggarakan Disnaker Jatim, seoraang mantan TKI yang sukses diundang pula. Tetapi, saya melihat upaya ini belum optimal.

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pernah pula memberikan penghargaan tahunan kepada para TKI sukses. Tetapi, entah karena apa, kegiatan yang sangat baik itu tidak berlanjut. Jawa Timur sebagai provinsi yang terbanyak mengirim TKI (dari sekitar 130.000 pekerja rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong, 80% di antaranya berasal dari jawa Timur) pun sepertinya belum tertarik untuk menyelenggarakannya.

Lagi-lagi, ini momentum yang baik untuk bersama-sama berbuat bagi bangsa, melalui kepedulian terhadap para pejuang ekonomi bangsa yang kita sebut TKI itu. Mari bertindak sekarang juga, atau kita mau kembali kecele, ketika para TKI itu membuktikan, menyodorkan pemandangan nyata ke depan mata kita, bahwa sesungguhnya hanya mereka sendirilah yang bisa berbuat, bahkan untuk kita, sedang kita hanya plonga-plongo saja ketika menyaksikan, misalnya: ratusan juta rupiah mengalir dari keringat para TKI kita (dari Hong Kong saja) untuk para korban bencana Merapi, Lapindo, Gempa Bantul (Yogyakarta), dan lain-lain, ketika melalui komunitas-komunitas penulis di Hong Kong, para TKI kita telah membangun proyek kebudayaan, gerakan literasi, yang, jika diuangkan melalui APBD/APBN bisa bernilai triliunan rupiah! Nah, lho!*

Keterangan Foto: Para Perempuan Pekerja Migran asal Indonesia sedang menikmati hari libur mereka di Victoria Park, Hong Kong

[FOTO: MICHA OBOEDENY]

Saturday, 24 December 2011

Menggagas Festival Pekerja Migran 2012

Setelah sukses dengan Festival Sastra Buruh 2007 (Blitar, Jawa Timur) FLP-HK sudah menggelar Festival Sastra Migran 2010 dan akan disusul acara serupa 2012 ini, di Hong Kong. Di Indonesia, masih sepi. Padahal, penerbitan buku-buku karya BMI/Mantan BMI semakin marak. Perhatian dari kalanhgan akademik pun semakin terlihat. Seorang dosen Unesa (Surabaya) yang kini sedang menyelesaikan program S-3-nya juga berniat menjadikan karya-karya BMI untuk bahan disertasinya. Acara internasional sebergengsi UWRF Ubud Writers and Readers Festival 2011 pun mulai memperhitungkan dan mengundang penulis dari kalangan BMI.

Namun demikian, semaraknya dapur produksi penulisan di kalangan BMI ini tetap saja terasa kurang diimbangi oleh kegiatan-kegiatan pendukungnya. Seolah-olah hanya didorong-dorong untuk berproduksi, setelah itu selesai. Buku terbit, masuk pasar, dan didiamkan. Sungguh eman jika acara yang sudah dimulai dengan baik dan susah-payah bernama Festival Sastra Buruh itu tidak dilanjutkan dengan baik.

Baiklah, setidaknya di HK sudah ada FLP yang meneruskan tradisi yang baik itu. Dan di Indonesia, jika tidak ada aral melintang, Mei 2012 nanti kita akan menggelar Festival Pekerja Migran. Bukan hanya untuk sastra, tetapi juga untuk merayakan segala produk baik yang benda maupun takbenda, yang dihasilkan oleh para BMI. Karena itulah, yang akan digelar bukan hanya sastra dan seputarnya, melainkan juga hal-hal lain, bahkan termasuk bakti sosial menanam pohon. Yang sudah diangankan adalah: bedah buku, pameran/bursa buku, pameran foto, pemutaran film, sarasehan sastra, sarasehan budaya, bakti sosial tanam pohon, telekonference, pentas sastra, pentas seni.

Buku yang akan dibedah, diusahakan adalah karya puncak para pekerja migran (BMI) yang mulai saat ini dihimpun. Caranya, para BMI penulis, diharapkan mengirimkan karya terbaiknya (yang belum dibukukan), baik yang baru, yang pernah dimuat di media cetak maupun elektronik, berupa puisi, cerpen, opini, features, memoar, ke pos-el: forumburuhmigran@gmail.com. Jangan lupa melengkapinya dengan biodata dan foto penulis. Ditunggu oleh panitia, selambat-lambatnya hingga 30 Maret 2012.

Partisipasi BMI di seluruh dunia akan sangat menentukan keberhasilan kegiatan ini. Selain mengirimkan karya, menyebarkan informasi ini melalui akun Facebook, milis, atau media lain, adalah bagian dari ujud partisipasi itu. Di Indonesia, sudah ada pihak yang bersedia memfasilitasi agar dapat digelar teleconference-nya. Jika ternyata tidak ada penyandang dana yang sanggup mencukupi kebutuhana acara ini, para penulis juga akan diminta bergotong-royong untuk membayar iuran penerbitan buku. Berdasarkan pengalaman menerbitkan buku Pasewakan setebal 500-an halaman (September 2011), sudah cukup jika masing-masing penulis, tanpa memandang apakah karyanya berupa puisi, cerpen, atau opini, menyumbangkan Rp 100.000 (seratus ribu rupiah).

Itu pun baru dapat diputuskan nanti. Yang terpenting sekarang, segeralah kirimkan karya Anda melalui alamat yang sudah disebutkan tadi. Dan sebarkan informasi ini ke rekan-rekan penulis dari kalangan BMI lainnya. Setuju?


BONARI NABONENAR

Thursday, 23 June 2011

SAPI DAN MANUSIA

Belum berbilang bulan, Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia, karena mengetahui (melalui rekaman video) sapi-sapi itu disembelih dengan cara yang tidak wajar, dengan disakiti terlebih dulu. Maka, penghentian ekspor itu adalah sebentuk protes terhadap para penjagal yang tidak ’berperikehewanan’. Protes kepada Indonesia. Ini soal sapi.

Dan ini soal manusia, dari kelompok yang sering disebut-sebut, juga oleh pejabat, sebagai pahlawan devisa. Ialah Ruyati, pekerja migran asal Bekasi, dihukum pancung di Arab Saudi, Sabtu (18/6) lalu, setelah pengadilan setempat memvonisnya sebagai pelaku pembunuhan atas majikannya. Jika faktanya Ruyati (almarhumah) memang membunuh, apakah motivasinya? Jangan-jangan justru sesungguhnya ia sekadar membela diri? Itu pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan menggoda kita. Parahnya, Pemerintah Arab Saudi tidak mengkomunikasikannya dengan Pemerintah Indonesia, melalui Kedubes setempat misalnya, sehingga seperti dilansir detik.com, BNP2TKI merasa kecolongan dan Kemenlu RI pun melayangkan protes atas kejadian ini.

Itu berarti, tidak ada yang dilakukan Pemerintah RI hingga Ruyati menemui ajalnya. Padahal, 12 tahun silam, hukum pancung itu nyaris saja menimpa Zaenab, dan dapat dibatalkan setelah Raja Saudi ditelepon Presiden RI (Gus Dur) saat itu.

Ya, Kemenlu RI sudah melayangkan surat atau nota protes. Cuma itu. Sayang, kita belum dapat ikut membaca bagaimana bunyi kalimat nota protes itu. Maka, saya menulis status di Facebook, ’’Pahlawane dibunuh kok ora nantang perang? --ngono kuwi yen angger nggambleh ngarani pahlawan. Mung lelamisan…’’ Artinya lebih-kurang, ’’Pahlawannya dibunuh mengapa tidak menantang untuk berperang? Begitulah jika asal saja menyebut ’pahlawan’, hanya sebagai pemanis bibir.’’

Apakah benar saya menyetujui perang? Oh, tidak. Pasti tidak. Tetapi, saya mengangap penting untuk bersitegang. Ini menyangkut nyawa manusia yang dibunuh dengan sengaja, betapa pun atas nama hukum. Wong arep mateni anake uwong kok kulawargane dikabari wae ora, sadurunge!’’ Mau membunuh manusia kok memberi kabar keluarganya pun tidak, sebelumnya! Adalah penting untuk bersitegang. Bersitegang seperti apa? Ya, entahlah. Tetapi, setidaknya, jangan hanya sekadar mengirimkan surat, bagaimana pun bunyinya surat itu. Pasti saya tidak tahu cara paling tepat untuk meningkatkan ketegangan itu, sebab jika saya tahu, bisa jadi sayalah Ketua BNP2TKI atau bahkan Menakertrans-nya.

Nah, hal lain yang ingin saya ingatkan lagi adalah, janganlah seenaknya –terutama para pejabat itu-- menyebut-nyebut para pekerja migran kita sebagai Pahlawan Devisa. Sebab dari situlah saya tarik logika ke arah ’’peperangan’’ tadi itu. Jadi penalarannya begini. Pahlawan adalah kata yang sering digunakan untuk menyebut para kusumaning bangsa yang gugur di medan perang. Mereka dibunuh oleh pihak musuh di dalam peperangan. Pahlawan adalah mereka yang menakar harga kehormatan bangsa persis sama dengan jiwa dan raganya sendiri. Maka, mereka rela mati demi kehormatan bangsanya. Dan negara yang dijalankan oleh pemerintah, pun menghormatinya, antara lain dengan memakamkan di pemakaman istimewa, yang sering disebut sebagai Makam Pahlawan. Nah, ketika sang pahlawan sudah mempertaruhkan jiwa-raganya, dan kalah dalam pertaruhan itu, negara hanya mengeluarkan sepucuk surat? Ya, karena memang sebatas itulah yang bisa dilakukan sebagai reaksi. Sampai di sini, kita sudah dapat kesimpulan: ’’Janganlah terlalu mudah menyebutkan kata: pahlawan.’’

Memberikan komentar pada status FB seperti saya sebutkan tadi, seorang Dosen Teater dari Universitas Negeri Surabaya menulis, "Ora isin karo Australia sing Sapine ora "disapikan" oleh para jagal, memilih menolak melakukan ekspor sapi ke Indonesia..." yang lebih-kurang berarti, ’’Tidak malu dengan Australia yang ketika sapi-sapinya tidak ’’disapikan’’ oleh para jagal lalu memilih menolak melakukan ekspor sapi ke Indonesia.’’

Jadi, rasa hormat Pemerintah kita terhadap jiwa manusia, jiwa rakyatnya, lebih rendah daripada rasa hormat Pemerintah Australia terhadap para sapinya? Duh Gusti…!*

Saturday, 18 December 2010

Lha Wong Istilahnya saja Kacau..!

Tanggal 18 Desember 2010 kemarin, seperti ditulis Wahyu Susilo dari Migrant Care (Kompas, 18/12) bertepatan dengan 20 tahun Konvensi Internasional untuk Perlindungan Buruh Migran dan Anggota Keluarganya. Sudah 20 tahun, dan Indonesia masih ’njintel’ saja, belum meratifikasinya!

Dalam tulisan berjudul Sesat Pikir soal PRT Migran itu Wahyu mendedah beberapa kesalahan (kesesatan) pola pikir ’Pemerintah’ mengenai profesi Pekerja Rumah Tangga (PRT) Migran. Antara lain Wahyu menulis, ’’Konstruksi sesat pikir yang terus dibangun oleh pemerintah adalah dengan menyebut PRT migran sebagai sebagai pekerja tak berketrampilan (unskilled) dan informal.’’

Apa yang disampaikan Wahyu Susilo itu sebenarnya hanya dapat ’dibantah’ oleh siapa yang hanya berpura-pura tidak paham. Jangankan di ranah yang lebih pelik, di tataran pemakaian istilah saja, harus diakui: masih kacau. Marilah kita catat bahwa hingga saat ini, bahkan di tataran bahasa, masih juga berlaku istilah TKI, TKW, yang diciptakan tanpa logika itu.

TKI adalah singkatan dari Tenaga Kerja Indonesia. Itu berarti semua manusia Indonesia usia produktif secara logis adalah TKI, bahkan walau ia menganggur. Maka, menyebut TKI hanya bagi tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di uar negri adalah tidak masuk akal alias tidak logis.

Ada lagi istilah TKW sebagai singkatan dari Tenaga Kerja Wanita. Ini, setidaknya mengandung 3 kesalahan: (1) diskriminatif gender, (2) seperti halnya TKI tadi, yang bekerja di Indonesia pun kalau jenis kelaminnya perempuan ia juga TKW kan, secara logis? Dan bahkan: (3) karena TKW dan bukan TKWI, maka sebenarnya semua perempuan atau wanita usia produktif yang sehat jasmani dan rohani adalah TKW, termasuk yang menganggur, tanpa memandang kewarganegaraan dan di mana mereka bekerja.

Di luar urusan pekerja atau buruh migran, sebenarnya kita juga punya cukup banyak masalah berkaitan dengan istilah yang mengandung: "wanita" --misalnya: ada Dharma Wanita dan tidak ada Dharma Pria, ada Wanita Tuna Susila, mengapa tidak ada istilah Pria Tuna Susila. Terutama untuk yang terakhir itu, de facto-nya ada banget, bukan?

Lalu, khusus untuk PRT, pemerintah menciptakan pula istilah PLRT, singkatan dari Penata Laksana Rumah Tangga. Haiya! Kok malah jadi sibuk membentuk istilah? Makin kacau, ada paradoks juga di balik sebutan ciptaan pemerintah, ’’Penata Laksana Rumah Tangga’’ itu. Ini istilah yang sangat gagah, yang mengesankan adanya pengakuan (oleh pemerintah) bahwa pekerja rumah tangga adalah profesi formal. Bukan informal. Kata ’penata’ itu segera menhgngatkan pada sebuah jenjang kepangkatan dalam kepegawainegerian: Penata Tingkat I dst, Penata Muda (untuk Golongan 3-A ?) –eh ada Penata Tua juga enggak ya?

Tetapi? Kembali seperti yang disebut Wahyu Susilo sebagai kesesatan pikir tadi itu, istilah-istilah itu seolah hanya diciptakan dengan semangat asal njeplak saja. Buktinya, bahkan di tengah-tengah masyarakat kita pun masih banyak yang berpikiran bahwa PRT bukan pekerja, melainkan hanya pembantu. Lho, gimana ta? Mosok pembantu kok mengerjakan lebih banyak daripada yang dibantu? Jan sontoloyo tenan kok! [ehek-ehek]


FOTO: YANY WIJAYA KUSUMA

Wednesday, 11 August 2010

Bayu Insani

Pertama-tama aku mengenal namanya, via Facebook (?) aku mengira ia seorang laki-laki. Kemudian segera tahu bahwa ia salah seorang perempuan asal Indonesia yang sekerang bekerja sebagai buruh migran di Negeri Beton, Hong Kong. Sampai sekarang, bahkan, saya pun belum tahu pasti apakah Bayu Insani itu nama pena atau juga nama aslinya. Nama ini, seperti sekian banyak nama buruh migran asal Indonesia di Hong Kong lainnya, ada di daftar teman Facebook saya, masuk menyusul nama-nama penulis lain di sekitarnya yang saya kenal lebih dulu: Mega Vristian, Wina Karnie, Etik Juwita (keduanya sudah kembali ke Indonesia) Aliyah Purwati, Nadia Cahyani, Maqhia Niswana Ilma, Susie Oetomo, Ida Raihan, dan lain-lain yang akan terlalu panjang jika saya sebut semuanya.

Memang daftar itu akan sangat panjang. Beberapa kali, di dalam tulisan saya mengenai gerakan literasi di kalangan buruh migran asal Indonesia di Hong Kong (selanjutnya kita singkat saja sebagai BMI-HK), saya menyatakan bahwa komunitas penulis di kalangan BMI-HK sebegitu suburnya, sehingga akan bisa membuat orang terkejut jika membandingkan jumlah terbitan bukunya dengan, misalnya, yang diterbitkan oleh sebuah fakultas, bahkan yang bernama fakultas sastra di perguruan tinggi di Indonesia. Saya sadar, pernyataan saya itu akan segera terasa sangat provokatif, dan dengan demikian semoga semakin banyak akademisi sastra, atau pun dari disiplin ilmu terkait lainnya yang sudi melirik karya-karya anak bangsa yang sering dipandang dengan sinis ini.

Itu baru soal jumlah. Soal kualitas bagaimana? Etik Juwita –seorang BMI-HK, sekarang meneruskan studi di Universitas Gajayana, Malang, menempatkan sebuah cerpennya yang pernah dimuat Jawa Pos, Bukan Yem, dalam daftar 20 Cerpen terbaik Indonesia versi Pena Kencana, yang kemudian dibukukan oleh Gramedia (2008). Beberapa orang BMI-HK menjadi koresponden tetap untuk media cetak yang terbit di Indonesia maupun di Hong Kong, sebagian lainnya lagi menjadi penulis lepas, dan ada juga yang, malahan, membuat media cetak (majalah) sendiri. Saya mengenal misalnya, Majalah Nur Muslimah yang diterbitkan secara swasembada oleh BMI-HK.

Adapun Bayu Insani, tulisannya telah tersebar di mana-mana, di HK dan di Indonesia, di koran, majalah, dan buku. Salah satu buku yang memuat tulisannya kuketahui berjudul Emak-emak Facebooker Mencari Cinta.

Suatu hari, ia berkirim pesan, bagaimana caranya mengirimkan tulisan ke Jawa Pos. Lalu kubalas dengan mengirimkan email editor Jawa Pos dan jika tulisan itu berupa tulisan seni/budaya, berupa kritik apreasiasi, resensi buku, cerpen, dan sebagainya, saya mohon langsung mengirimkan ke email yang secara khusus dibuat oleh Redaktur Budaya-nya, Arief Santosa. Bahkan segera pula saya susulkan nomor ponsel Arief, kawan saya yang sangat gampang bersahabat itu.

Keesokan harinya, Bayu mengirimkan kabar dengan nada girang bukan main, bahwa ia telah mengirimkan tulisannya ke Jawa Pos, dan bahkan sempat bercakap-cakap dengan Arief Santosa. Kabar gembira berikutnya, tentu saja, adalah: tulisan Bayu mengenai dunia penulisan/perbukuan di HK muncul di rubrik Di Balik Buku-nya Jawa Pos.

Kesan saya ketika pertama kali membaca tulisan Bayu, yang ia kirimkan melalu japri sebelum dimuat Jawa Pos, dan beberapa tulisan lainnya, adalah bahwa penulis yang satu ini sangat rapi dalam hal penulisan ejaan. Kalimat-kalimatnya jernih, menunjukkan kemantikan berpikirnya. Ia bahkan sudah hampir sepenuhnya sukses keluar dari kelemahan rata-rata penulis pemula di kalangan BMI-HK: kurang fokus pada topik yang digarap dan lemah dalam peng-angle-an.

Pada awal tahun 2000-an saya menjadi redaktur sebuah tabloid hiburan di Surabaya. Sebagian besar wartawannya adalah para post graduate, dari perguruan tinggi negri maupun swasta yang ada di Surabaya. Rata-rata tulisan mereka masih sangat payah untuk disebut sebagai tulisan yang enak dibaca. Untuk membuka sebuah berita pendek saja, biasanya mereka menulis kalimat-kalimat awal seperti mau membuat makalah. Pakai nyinyir mendefinisikan istilah segala. Mereka bakal KO di paragraf pertama kalau diadu dengan Bayu dan beberapa penulis di kalangan BMI-HK yang saya kenal.

Maka, kalau para post-graduate di awal 2000-an itu sekarang bertebaran di mana-mana, ada yang menjadi jurnalis tulen, ada yang menjadi penyair, dan ada pula yang sudah mencatatkan namanya di daftar papan atas sastrawan Indonesia mutakhir, tentu tidak akan berlebihan jika kita berharap, lima tahun ke depan nama Bayu Insani, Ida Raihan, dan kawan-kawannya itu akan dikenal publik pembaca di tanah air swebagai para penulis andal. Semoga. [Bonari Nabonenar, sesama penulis] 


FOTO: dari koleksi- Facebook Bayu Insani

Tuesday, 27 April 2010

Etik Juwita dan Putri Raemawasti

Ketua SBMI Jatim Moch Cholily menga- barkan bahwa para calon Bupati Jember bakal diadu dalam sebuah acara debat untuk persoalan buruh migran. Tentu itu akan jadi acara yang menarik. Dengan digelarnya acara debat itu (sebagian) masyarakat calon pemilih akan dapat mengetahui sejauh mana pemahaman calon pemimpin mereka berkaitan dengan nasib sekian banyak warganya yang mencari rezeki di negara lain. Lalu, berdasarkan pemahaman itu, kira-kira program macam apa saja yang bakal dilaksanakan calon terpilih nanti demi mengatasi sekian banyak persoalan yang berjalin-berkelindan sejak persiapan pemberangkatan hingga pasca-kepulangan para BMI itu ke tanah air.


Dalam waktu dekat ini, beberapa kabupaten yang masuk kategori ’’pengirim BMI terbanyak’’ di Jawa Timur bakal menggelar hajat demiokrasi alias pilkadal, seperti Malang, Ponorogo, dan Banyuwangi. Walau mungkin tidak tergolong pengirim terbanyak, ada lagi Kaupaten Trenggalek, yang, menariknya, salah satu calonnya adalah incumbent (sekarang wabub), Machsun Ismail, S.Ag. M.M, seorang mantan BMI. Ia pernah bekerja di pengeboran minyak di Malaysia sebelum menjadi anggota DPRD Kabupaten Trenggalek dan kemudian dua kali terpilih jadi Wabub Trenggalek.

Acara depat seperti digagas SBMI (Serikat buruh Migran) Jawa Timur itu juga bagus bukan saja untuk mengetahui pemahaman serta rencana program para kandidat berkaitan dengan keberadaan para BMI asal daerahnya, melainkan juga seklaligus menjadi momentum untuk membekali para calon pemimpin daerah dengan pengalaman yang akan menjadi ingatan --terutama bagi calon terpilih, agar kelak benar-benar bijak menghadapi berbagai persoalannya, dan menjadi pemimpin yang tidak hanya melihat rakyatnya sebagai angka.

Dengan demikian, kelak, misalnya, tidak akan terulang peristiwa yang tergolong ganjil, walau tak banyak orang menyadarinya, yang pernah terjadi di Blitar. Pada 2007 Putri Raemawasti yang asal Blitar itu terpilih sebagai Miss Indonesia. Ia lalu diarak keliling kota Blitar, dielu-elukan sebagai telah membawa nama baik daerah asalnya. Lalu, tahun berikutnya (2008) seorang BMI asal Blitar juga, Etik Juwita namanya, berhasil memasukkan namanya di barisan 20 cerpenis terhebat Indonesia versi Pena Kencana, dan dimonumenkan dalam buku yang diterbitkan Gramedia. Anehnya, seperti tak ada orang Blitar yang mengetahuinya, apalagi para pejabat daerah di sana. Jangankan diarak, barangkalai sekadar ucapan selamat via SMS atau apalagi telepon pun juga tidak.

Ayo sekarang kita bandingkan, kira-kira siapa memberikan isnpirasi lebih esensial, seorang selebritis dadakan itu ataukah seorang penulis seperti Etik? Berdasarkan pengalaman selama ini, kalau sekadar semacam ratu cantik kelas nasional, sebentar juga dilupakan orang, apalagi jika yang bersangkutan tidak bisa mewarnai perjalanan kehidupannya dengan hal-hal positif yang menginspirasi banyak orang. Kalau boleh sedikit slengekan, ia, ’’si ratu cantik’’ itu akan memudar seiring usianya. Sementara ’’si juara sastra’’ makin tua akan makin ’seksi’-lah dia! Tulisan, walau sekadar sebuah cerpen atau sebuah puisi, ketika ia sudah dimonumenkan dalam buku seprestisius itu, selama anak sekolah masih mendapatkan pelajaran bahasa dan sastra, selama masih ada fakultas sastra di perguruan tinggi, ia akan tetap lekat di ingatan. Malahan dalam dunia sastra, tak jarang orang justru semakin dihormati berkat karya-karyanya, setelah meninggal dunia!

Perbandingan macam bigitu memang bisa diperdebatkan. Tetapi, ketika mengingat ’nasip’ seorang Etik Juwita dibandingkan seorang Putri Raemawasti, kita jadi boleh bergumam, ’’Nah, andai dulu sebelum pilkada ada Debat Kandidat soal BMI di Blitar, ceritanya bisa lain kali yeeeee……!’’

Selamat memeringati Hari Buruh Sedunia!


REDAKSI MAJALAH PEDULI EDISI MEI 2010


Friday, 5 March 2010

Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong

Selain sumbangan berupa devisa, Buruh Migran Indonesia (BMI) juga memiliki andil besar dalam bidang Budaya, termasuk Pariwisata. Selama ini kita kenal adanya buruh yang juga bekarya sebagai seniman, termasuk di antaranya sebagai penulis/sastrawan.

Di dalam bidang penulisan, ada BMI-HK yang kemudian kembali ke tanah air dan hidup sebagai penulis/motivator (Eni Kusuma, Banyuwangi). Eni dipandang sebagai sosok yang mampu menginspirasi, terlebih bagi sesama BMI/mantan BMI. Etik Juwita, mulai jadi cerpenis ketika masih bekerja di Hong Kong, salah satu cerpennya yang pernah dimuat Jawa Pos berjudul Bukan Yem terpilih dan masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 versi Pena Kencana.

Karena ketrampilannya menulis, Tania Rosandini (Malang), bahkan kemudian alih pekerjaan dari pekerja rumah tangga (di Hong Kong) menjadi jurnalis Radar Taiwan (di Taiwan). Ada beberapa BMI-HK yang juga bekerja sebagai koresponden tetap dan penulis lepas untuk media cetak yang terbit di Indonesia.

Terbentuknya komunitas/organisasi seni di kalangan buruh migran asal Indonesia di Hong Kong seperti: Forum Lingkar Pena, Sanggar Budaya, Sekar Bumi, dan lain-lain yang tidak hanya terlibat dalam acara-acara di kalangan BMI, melainkan juga berpartisipasi dalam acara-acara kesenian antarbangsa menunjukkan bahwa mereka layak disebut juga sebagai Duta Bangsa di bidang Budaya/Pariwisata.

Para BMI/Mantan BMI-HK juga telah menunjukkan sumbangan yang nyata terhadap pemberdayaan bangsanya melalui penguatan/peningkatan program memasyarakatkan tradisi baca/tulis di kampung halaman mereka, seperti yang dibangun oleh Maria Bo Niok (Wonosobo, Jawa Tengah) dengan rumah baca Istana Rumbia-nya. Di Jawa Timur ada juga kelompok belajar seperti yang dibangun oleh Nadia Cahyani (Magetan) dkk.

Mereka, para BMI/Mantan BMI-HK berprestasi/berdedikasi itu telah menunjukkan bahwa kepergian mereka bukan hanya untuk mengentaskan diri dan keluarga mereka dari berbagai persoalan. Mereka ternyata telah menunjukkan kepedulian yang luar biasa terhadap masyarakat di sekitarnya.

Oleh karena itulah, memberikan dukungan kepada mereka dalam bentuk penghormatan/penghargaan –betapa pun kecil nilai nominalnya—sebagai bentuk dukungan terhadap prestasi, dedikasi, konsistensi mereka adalah penting. Penting untuk lebih menginspirasi seluruh anak negri ini, bukan hanya sesama BMI/Mantan BMI.

Forum Budaya Buruh Migran Indonesia (FBBMI) menggagas pemberian penghargaan bagi BMI/Mantan BMI-HK yang berprestasi, berdedikasi, dan konsisten terkait bidang penulisan/sastra dalam rangka ikut memeringati Hari Buruh Sedunia (1 Mei) 2010.

Penghargaan direncanakan diberikan dalam bentuk piagam, piala, dan sejumlah uang.

Penghargaan diberikan untuk:

[1] Organisasi
Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan Bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong 2010 diberikan kepada sebanyak-banyaknya 3 organisasi yang:
[a] Berkedudukan di HK baik resmi (memiliki legalitas formal) maupun tidak resmi (informal)
[b] Menunjukkan aktivitas yang secara langsung maupun tidak langsung merupakan bagian dari upaya pemberdayaan diri/lingkungan melalui kegiatan membaca dan/atau menulis
[c] lolos seleksi

[2] Perorangan
Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan Bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong diberikan kepada sebanyak-banyaknya 5 orang yang:
[a] berstatus sebagai BMI-HK/Mantan BMI-HK
[b] menunjukkan prestasi/dedikasi/konsistensi dalam bidang penulisan fiksi/nonfiksi.
[c] lolos seleksi

[3] Buku
Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan Bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong diberikan untuk sebanyak-banyaknya 10 buah buku yang:
[a] merupakan hasil karya BMI-HK/Mantan BMI-HK
[b] dapat berupa buku fiksi/nonfiksi
[c] lolos seleksi


Catatan:
[1] Ini masih berupa keinginan
[2] Tim Sleksi akan dibentuk kemudian
[3] Mohon dikoreksi, dan jika ada yang perlu ditambah/dikurangi

[4] Kontak:
forumburuhmigran@gmail.com
bonarine@gmail.com

Monday, 19 January 2009

Ketika Daerah ’’Diberi Porsi’’ untuk Ikut Mengurusi TKI

’’Seiring efektifnya Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER-22/MEN/ XII/2008 tentang Pelaksanaan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengalihkan sebagian besar kewenangan pelayanan TKI dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) ke pemerintah daerah.’’



Begitu Kompas (di-online-kan Jumat, 9 Januari 2009 | 00:46 WIB) menulis, menyampung paragraph pertama berita berjudul ’’ BNP2TKI Lapor Presiden soal Pengalihan Kewenangan’’ yang berbunyi begini: ’’ Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia bakal kehilangan 95 persen porsi pekerjaan mulai 1
Februari 2009.’’

Kehilangan 95 persen pekerjaan? Ini musim PHK. Banyak orang kehilangan 100 % pekerjaan. Atau bahkan lebih, bisa lho kehilangan 110 atau 120 % ’pekerjaan’, karena, misalnya, begitu mengetahui dirinya di-PHK oleh instansi atau institusi tempatnya bekerja lantas kaget semangere (shock) sehingga kemlurusen alias kebablas sakit. Secara kelakar, kita bisa bilang bahwa kehilangan walau kehilangan 95 % dari yang dimiliki itu memang pantas kaget semangere, tetapi kalau mau memakai ilmu beja-ne wong Jawa (ilmu untung orang Jawa), seharusnya masih bisa bilang: ’’Untung yang hilang cuma 95 %. Coba kalau ilang semua!’’

Di sepanjang penerapan sistem otonomi daerah yang digeber pada awal-awal era reformasi, sering terdengar lagu pating klenyit, bahwa setelah reformasi ternyata banyak jembret-nya, sistem otonomi daerah pun ternyata dinilai banyak pihak melenceng dari cita-cita semula. Bahkan, seorang Prof Ryas Rasyid mantan Mendagri yang boleh dibilang sebagai bidan penerapan Sistem Otonomi Daerah dalam sebuah seminar di Surabaya dengan nada geram mengatakan bahwa penerapan sistem pemerintahan yang diperjuangkannya itu melenceng dari harapan semula.

Keluhan Ryas Rasyid itu tidak hanya dirasakan pula oleh mereka yang berkecimpung di bidang politik, ekonomi, dan di lembaga-lembaga pemerintahan daerah, tetapi juga di wilayah-wilayah kebudayaan lainnya, termasuk kesenian.

Tetapi, untuk lebih menegaskan lagi, tak bisa ditepis bahwa memang yang paling terasa adalah di wilayah-wilayah yang berpotensi dan berujung pada duit dan kekuasaan. Termasuk di antaranya wilayah yang berkaitan dengan urusan buruh migran Indonesia itu.

Maka, kita berharap semakin terdistribusikannya wewenang ’mengurusi’ BMI ke daerah akan membuat semakin banyak pihak lebih merasa punya tanggung jawab, dan bukannya menambah jumlah meja yang harus diselipi amplop. Bukankah begitu? Jadi, makin banyak yang ’mengurusi’ BMI itu maksudnya makin banyaklah yang ngopeni bukannya makin banyak yang ’’membuat BMI jadi kurus.’’ [bon-untuk media komunitas bmi-hk]

Sunday, 21 December 2008

Kado Tahun Baru bernama Kabar Baik


Ada kabar baik bagi calon BMI dan calon BMI yakni mulainya diterapkan pelayanan satu pintu untuk proses keberangkatan ke luar negri. Tetapi, bukankah kita sudah kenyang dengan kabar baik dan kenyang pula dengan kenyataan yang tidak baik?

’’Layanan Satu Pintu, Hadiah Tahun Baru Bagi TKI,’’ demikian sebuah judul berita versi detik.com (Rabu, 17/12/2008 23:20 WIB). Seperti dalam berita yang juga diturunkan Intermezo edisi ini (diambil dari: www.bnp2tki.go.id) kalimat judul itu dikutip dari pernyataan Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat, ’’Peluncuran ini merupakan hadiah tahun baru bagi TKI. Dengan hadirnya sistem Layanan Terpadu Satu Pintu, TKI dan calon TKI di NTB akan dimudahkan dalam pengurusan dokumen pemberangkatan ke luar negeri, melalui cara yang cepat, aman, murah, serta tidak birokratif,’’ jelas Jumhur Hidayat kepada wartawan.’’

Pernyataan Pak Jumhur itu sangat indah. Tetapi, sayangnya, pengalaman membuktikan bahwa kalimat-kalimat indah semacam itu lebih sering menimbulkan kegetiran, kejengkelan, dan rasa tidak enak campur-aduk di kemudian hari. Mari kita simak kalimat-kalimat sejenis ini: ’’Setelah konversi minyak ke gas, dijamin gas akan lebih mudah didapat dengan harga yang lebih murah daripada minyak.’’ Juga kalimat ini, ’’Kelangkaan elpiji pekan ini dijamin akan berakhir Selasa yang akan datang.’’ Yang terakhir itu adalah kalimat yang ’’sangat cerdas’’ tetapi juga berpotensi membingungkan, karena adanya kata-kata ’’akan berakhir’’ bersanding dengan ’’Selasa yang akan datang.’’ Karena, ’’Selasa yang akan datang’’ itu hanya bisa berakhir setelah terjadi kiamat. Lha, kalau kita sudah sampai pada hari Selasa dan ternyata elpiji masih langka, kan memang jaminannya adalah: ’’Selasa yang akan datang,’’ dan bukannya ’’Selasa hari ini.’’

Cak Kartolo pun layak marah jika mendengar permainan kata semacam itu dilakukan oleh pamong praja, pejabat, karena ia jelas lebih berhak membanyol seperti itu.

Ada lagi yang sesungguhnya juga sangat penting untuk kita bahas, yakni keberadaan terminal khusus bagi BMI di bandara kita, yang ada di Cengkareng itu, misalnya. Ini tidak ada kaitannya dengan keadaannya sekarang bagaimana dan nanti akan seperti apa. Pada saat yang sama Pemerintah memandang keberadaan terminal khusus itu sebagai bentuk layanan istimewa terhadap para pahlawan devisa-nya, sedangkan si ’’pahlawan devisa’’ sendiri sering mengaku justru mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan di terminal khusus itu.

Sebenarnya sangat perlu pula di HK ini digelar jajak pendapat dengan pertanyaan menyangkut keberadaan terminal khusus itu, untuk mengetahui apakah keberadaannya: [a] memudahkan, [b] menyengsarakan, [c] biasa-biasa saja, dan seberapa banyak BMI-HK yang menghendaki agar terminal khusus itu: [a] dipertahankan, [b] dihapus.

Kita kembali ke pernyataan Pak Jumhur bahwa dengan pelayanan satu pintu itu BMI ’’…akan dimudahkan dalam pengurusan dokumen pemberangkatan ke luar negeri, melalui cara yang cepat, aman, murah, serta tidak birokratif.’’

Ada rumusan ’tujuan’ dalam kalimat itu yang dalam ilmu mengajar disebut sebagai rumusan yang tidak operasional. Ambil contoh tentang ’aman.’ Aman yang seperti apa? Bukankah orang sering mengatakan bahwa kampungnya aman hanya karena di sana tidak terjadi pembunuhan, sementara pencurian, kekerasan terhadap anak, dan kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi? Juga mengenai ’murah.’ Kalau mau jelas, murah itu berapa? Sekarang berapa, dan setelah ada Layanan Satu Pintu nanti akan jadi berapa? Ini kan belum jelas!

Lha, kapan le jelas?

REDAKSI

Saturday, 29 November 2008

Halo Taiwan!

Kami sangat senang bisa menjumpai warga Indonesia yang kini tengah berada di Taiwan, terutama para tenaga kerja yang sungguh sangat berjasa untuk 2 hal: membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran yang makin menumpuk di tanahair, dan mengirim devisa untuk keluarga dan negara, terlebih dalam situasi krisis global seperti sekarang ini.

Para Pembaca yang budiman, seperti biasanya sebuah kelahiran, kami berharap Radar Taiwan yang masih bayi cenger ini mendapatkan sambutan yang hangat. Seperti halnya saudara-saudari kita di Hong Kong menyambut dengan hangat kelahiran media dari Berita Indonesia Ltd yakni: Berita Indonesia, Intermezo, dan Peduli. Kawan-kawan kita di Hong Kong dengan gembira manyambut media berbahasa Indonesia, dan mereka beramai-ramai mengirimkan tulisan, dari yang bernama surat pembaca, puisi, cerita, hingga tulisan opini.

Bahkan, beberapa nama, sebut saja: Rini Widyawati, Dhenok Kanthi Rokhmatika, Eni Kusuma, Wina Karni, Maria Bo Niok, Mei Suwartini, dan masih ada beberapa nama lagi yang meneruskan kegemarannya menulis setelah kembali ke tanahair. Maria Bo Niok yang dulunya pernah bekerja di Taiwan (baca: halaman 05) bahkan telah melahirkan beberapa buku.

Begitulah pula yang kami harap dari warga Indonesia yang berada di Taiwan ini. Mari kita sambut Radar Taiwan dengan senang hati, dan kirimkanlah kritik dan saran demi peningkatan kualitas maupun oplahnya!

Terima kasih, dan marilah tetap bersemangat!

Redaksi

Tuesday, 23 September 2008

Golek Kiblat ing Negara Cina


Dening: Rie Rie

Isih ana suara adzan kang keprungu senajan tho lamat-lamat. Ora nganggo loudspeaker utawa pengeras suara kang di pasang ana cagak-cagak dhuwur kaya dene kang ana ing Indonesia. Ewadene suara adzan kang mung lamat-lamat kuwi wes kasil gawe greget kang padha. Kanggo nyatuhu ati lan jiwa sowan marang Gusti Kang Akarya Jagad, Allah SWT.


Hongkong papane, negara Cina kang wes kaya dene omah nomer loro dening saperanganing warga Indonesia kang golek rejeki ing kana kuwi ora luput saka suara adzan.

Apamaneh ing sasi iki, sasi ramadhan. Kaya-kaya kangen marang Gusti makaping-kaping tikele.

[ana bacute, ngaturi mundhut, sokur bage langganan majalah Jaya Baya]

Ini Baru: BMI-HK Nulis di Majalah Berbahasa Jawa


Ia populer dengan nama Rie Rie, walau nama aslinya, mungkin (belum ngecek KTP-nya sih) ialah Sri Lestari. Ia seorang pekerja rumah tangga di HK, mengikuti kuliah komputer, dan punya situs pribadi, salah satunya ini. Berita terbaru dari perempuan asal Blora, tanah yang di sana pula penulis legendaris Pramoedya Ananta Tour berasal-- ini ialah: Majalah Jaya Baya edisi khusus (Lebaran) menurunkan tulisan/laporannya berjudul "Golek Kiblat ing Negara China".

BMI-HK nulis, itu dah biasa. BMI-HK ngeblog, itu dah umbyukan sekarang. Tapi BMI-HK nulis pakai bahasa Jawa? Yang kutahu baru Rie Rie ini, setelah ri yang satunya lagi ini, yang sudah sejak tahun 80-an nulis di majalah yang sama: Bonari:))

Saturday, 21 June 2008

Sumbangan Para BMI-HK terhadap Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia


Setelah sekian lama menunggu, tibalah kini upaya penerbitan buku karya BMI-HK pada tahapan baru: 6 dari sekitar 16 buku yang direncanakan terbit sudah jadi dummy-nya. Rihad Humala yang membuat lukisan sampulnya saya ajak memenuhi undangan Pak Untung Subagyo (mewakili Penerbit Grasindo di Surabaya) untuk melihat dan mengoreksi ke-6 dummy buku itu, Selasa (17 Juni 2008) lalu.

Enam buku yang sudah jadi dummy-nya itu ialah: Aku Ingin Jadi Pelacur (Melur), Senja Merah (Nadia Cahyani), Di Balik Rimbun Melati (Niswana Maqia Ilma), Kaki Langit Hong Kong (Wina Karnie), Perempuan Tak Bertuan (Lik Kismawati), dan Perempuan Tanpa Klitoris (Eni Kusuma).

Walau sudah berkali-kali dipelototi, ternyata masih cukup banyak kesalahan-kesalahan kecil dalam penulisan, terutama mengenai ejaan. Menurut saran Rihad Humala, font judul --terutama judul buku, perlu diganti agar lebih menarik.

Sementara itu Pak Untung Subagyo berharap kesalahan-kesalahan kecil itu bisa segera dikoreksi agar proses penyetakannya bisa dipercepat.

Kita berharap, keenambelas buku itu bisa diterbitkan dan diluncurkan secara serentak pada momentum Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (Agustus 2008 ini) atau selambat-lambatnya pada momentum bulan bahasa (Oktober 2008).

Jika ridak ada aral melitang, Oktober 2008 ini akan digelar Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta. Lebih jauh, saya juga bermimpi bisa memromosikan buku-buku sastra karya para BMI-HK itu nanti di forum Kongres Bahasa Indonesia tersebut. Maka, saya pun melamarkan abstrak makalah dengan judul Sumbangan BMI-HK terhadap Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Mohon doa restunya ya, semoga lamaran saya itu diterima. Syukur-syukur, kelak ada Sang Pengarang yang bisa mendapatkan kesempatan pamer baca cerpen di forum yang cukup bergengsi itu. Ada lagi satu cara pemasaran yang tampaknya cukup menarik yang rencananya akan kita tempuh. Tetapi, yang ini, dirahasiakan dulu ya? Ehm![]


BONARI NABONENAR [intermezo, juni 08]