Saturday, 5 January 2013

Membangun Bisnis Berjaringan dari Nol*

Barangkali memang kita sudah memasuki zaman ultramodern. Ketika jaringan internet merambah hampir seluruh permukaaan bumi, saya lebih suka menggambarkan keadaan ini sebagai: ketika ’nyaris’ setiap orang memiliki azimat Cupu Manik Astagina (CMA) dan atau aji pameling.
Seperti digambarkan dalam kisah Ramayana (edisi yang lebih menarik untuk pembaca sekarang mungkin adalah yang telah di-roman-kan oleh Sindhunata dengan judul Anak Bajang Menggiring Angin, Gramedia (1983). Dalam jagad pewayangan (kisah Mahabarata dan Ramayana) aji pameling maupun azimat CMA itu hanya dimiliki oleh para dewa/dewi dan beberapa gelintir wayang biasa yang terpilih. Dalam kisah Ramayana, salah seorang wayang biasa yang terpilih untuk memiliki CMA ialah Dewi Anjani, putri Resi Gotama yang menikahi seorang (eh, sewayang) bidadari bernama Dewi Windradi.

Pada suatu hari, Dewi Windradi memanggil putri kesayangannya itu dan memberinya hadiah berupa CMA. Tetapi, dua saudara: Sugriwa dan Subali juga sangat ingin memilikinya. Tiga wayang bersaudara itu lalu terlibat pertengkaran memperebutkan CMA. Resi Gotama yang menjadi gerah dengan pertengkaran itu meminta paksa CMA dan melemparkannya, menjelma telaga, dan ketika ketiga wayang bersaudara itu menceburkan diri ke dalamnya, mentas sudah dalam wujud baru mereka: kera!

Apakah keistimewaan CMA sesungguhnya? Para dalang sering menggambarkan sebagai benda azimat yang dapat digunakan untuk menerawang sudut paling tersembunyi sekalipun di muka bumi, bahkan dapat digunakan untuk memanggil para dewa dan para dewi. Bukankah gambaran singkat itu (kalau mau lebih jelas ya baca bukunya) mengarahkan kita kepada pemahaman mengenai khasiat teknologi komunikasi yang bernama jejaring internet ini? Bukankah internet juga memeliki potensi luar biasa untuk melakukan kebaikan dan sebaliknya pula: menyimpan potensi luar biasa untuk melakukan kejahatan?

Pada suatu waktu, ada kawan membuka usaha dadakan, menjual paket (jajanan) lebaran untuk dikirimkan ke alamat yang dituju pemesan dari dalam maupun luar negri –dengan lingkup alamat tujuan pengiriman dibatasi hanya di dalam negri, Indonesia. Transaksi dilakukan secara langsung (uang kontan) maupun secara online/transfer. Beberapa kawan di luar negri membantu menyebarkan selebaran iklan dan/atau transaksinya, namun pusat layanannya (pemaketan dan pengiriman) dilakukan dari satu titik, sebuah kota di Jawa Tengah. Padahal, hampir semua paket harus dikirim ke seluruh Jawa, terbanyak justru ke pelosok-pelosok Jawa Timur, lalu Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Sebagian besar paket dikirim melalui jasa pos, dan sebagian lagi dikirim langsung. Permasalahan timbul terutama akibat derasnya arus kiriman (melalui pos) menjelang lebaran, sehingga konsumen gelisah ketika hari Lebaran makin dekat dan barang yang dipesan belum tiba di alamat. Akhirnya, demi citra layanan yang bagus, pengiriman langsung dilakukan tidak hanya di daerah Jawa Tengah (yang dekat dengan pusat layanan), melainkan juga untuk wilayah-wilayah pelosok Jawa Timur, bahkan armada antar langsung masih harus beroperasi pada hari ke-2 lebaran. Memang ada beberapa orang sukarelawan di beberapa kota kecil. Tetapi, upaya menemukan dan memilih jalur paling tepat menuju alamat tampaknya terkendala oleh tiadanya posko-posko layanan di tiap kabupaten.

Potensi BMI-HK

Jumlah BMI-HK yang berada pada kisaran 140 ribu – 150 ribu orang adalah potensi yang sangat luar biasa untuk menggalang solidaritas dan membuka usaha/bisnis bersama. Potensi itu didukung oleh faktor-faktor antara lain: (1) adanya hari libur setidaknya sehari setiap pekan (walau faktanya tidak seluruh BMI-HK dpat menikmatinya), (2) adanya kesempatan akses komunikasi global, (3) banyak/seringnya diadakan pelatihan, workshop, sarasehan tentang kewirausahaan di HK, (4) persebaran daerah asal yang luas, dan yang tidak kalah pentingnya adalah (5) kelonggaran yang dibuka oleh Pemerintah Hong Kong bagi BMI untuk berserikat/berkumpul, sehingga organisasi/komunitas termasuk sanggar-sanggar kesenian tumbuh subur di kalangan BMI-HK.

Hari libur yang dinikmati sekian banyak BMI-HK memungkinkan mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan pengembangan diri: berkuliah, mengikuti sarasehan, pelatihan, dan lain-lain, baik yang diselenggarakan opleh lembaga formal maupun nonformal, termasuk membangun organisasi/komunitas, resmi maupun tidak resmi.

Yang dimaksudkan dengan kesempatan untuk akses komunikasi global adalah fakta bahwa hampir semua BMI-HK (?) memiliki perangkat komunikasi: ponsel, komputer tablet, laptop dan sejenisnya yang memungkinkan mereka bisa terkoneksi dengan jaringan internet sehingga bisa terhubung dengan kenalan, sahabat, sanak-famili yang berada ”di mana pun” sejauh masih di muka bumi.

Kesempatan untuk upaya pengembangan diri melalui pendidikan dan pelatihan secara formal maupun nonformal adalah faktor penting yang memungkinkan BMI-HK (seharusnya) lebih siap untuk menghadapi masa depan dengan semakin produktif setelah tidak lagi menjadi BMI.

Persebaran daerah asal yang luas, memungkinkan dibentuknya ikatan untuk menuju pembentukan badan usaha bersama (di bidang wirausaha) dengan jaringan setidaknya mencakup seluruh pelosok Jawa, mengingat jalur padat asal BMI-HK terbentang antara Cilacap hingga Banyuwangi. Coba mari bermimpi, seandainya bisa (dimulai) dibentuk jejaring komunikasi antar-BMI-HK yang tiap kabupaten/kota di Jawa terwakili, itu sudah merupakan modal sosial yang tidak ternilai. Jawa Timur saja memiliki 38 kabupaten/kota. Belum Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Barat.

Nah, kini mari disederhanakan atau jumlahnya kita perkecil menjadi 50 kabupaten/kota. Maksudanya, komunitas memiliki anggota yang dapat mewakili 50 kabupaten/kota di Jawa. Jika ikatan itu dapat diperkokoh dan bersepakat membangun usaha bersama, ambil contoh buka gerai cinderamata dan berbgai jenis barang kerjinan seperti dibuat oleh kawan-kawan kita yang tergabung di dalam komunitas Karindo (Karya Srikandi Indonesia) itu. Memiliki gerai cabang sejumlah 50 itu sungguh luar biasa. lho! Jika itu dapat anda wujudkan, anda bukan hanya berhak menyandang gelar pelopor, tetapi anda juga telah melakukan sebuah lompatan besar yang dapat pula disebut sebagai sebuah revolusi.

Dalam kaitannya dengan pemanfaatan sarana teknologi komunikasi, apa yang sudah dilakukan kawan-kawan, BMI-HK, dengan mengembangkan situs jejaring sosial di Facebook dengan nama: BHSI (BMI-HK Sadar Investasi, BBM (BMI Bersatu Maju), sesungguhnyalah sangat potensial diarahkan menjadi gerakan perubahan besar-besaran dalam tempo cepat, sebuah revolusi buruh migran yang digerakkan oleh buruh migran sendiri. Sebuah revolusi tanpa setetes pun darah. Keringat? Itu pasti! Dan kekuatan terbesar yang mesti digelindingkan sebagai bola salju, sebenarnya adalah: keinginan untuk maju bersama-sama.


Rekening Bersama

Rekening bersama bisa diartikan sebagai rekening (bank) atas nama perseorangan (individu) yang di dalamnya tersimpan uang milik beberapa orang untuk keperluan tertentu yang disepakati bersama. Misalnya, untuk membeli sesuatu alat/barang secara urunan, untuk keperluan sosial yang bersifat insidental, dan sebagainya. Tetapi, akan lebih tepat jika untuk keperluan-keperluan semacam itu dan akan berlaku dalam jangka waktu yang panjang, dibuka rekening bersama yang benar-benar atas nama lebih dari satu orang. Konsekuensinya, ketika akan menarik tunai secara manual, bukan melalui ATM (anjungan tunai mandiri), harus atas persetujuan semua, dua/tiga orang, yang terdaftar sebagai pemilik/kuasa atas rekening itu.

Salah satu kegunaan rekening bersama adalah adanya jaminan (setidaknya saksi) serta pihak/orang/teman lain yang dapat memberikan rekomendasi sebagai jaminan bahwa pihak yang kita ajak bertranskasi memiliki jejak rekam yang baik. Rekomendasi yang lebih akurat lagi tentu adalah pihak/orang yang secara geografis/fisik maupun batin dekat (misalnya teman baik) dengan pihak yang direkomendasikan. Dengan kata lain, seseorang hanya dapat merekomendasikan pihak lain yang benar-benar dikenalnya dengan baik, dan ia yakin bahwa pihak yang direkomendasikan itu tidak akan berbuat curang.

Rekening bersama ini antara lain dipakai oleh para penggemar musang yang persisnya bernama Musang Lovers Indonesia (MLI). Baru bulan lalu MLI mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) dan dibentuk kepengurusannya, menyusul dibentuknyaMLI di daerah-aerah, beberapa kota: Surabaya, Mojokerto, Depok, Tangerang, Banten, Yogyakarta, Semarang, Lamongan, dan lain-lain. Lalu seorang yang dituakan (bukan yang menjabat ketua) ialah Ted Hartanto, menawarkan rekeningnya untuk dipakai bersama dalam hal ”jual-beli” musang. Dibubuhkan tanda petik pada istilah ”jual beli” itu karena untuk menghormati musang yang mereka cintai disepakati penggunaan istilah penggantinya yaitu: adopsi (pelepas adopsi = penjual, penerima adopsi = pembeli).

Cara kerjanya, calon pembeli musang menyetorkan uang seharga musang yang hendak dibeli ke rekening bersama itu. Ketika terjadi deal harga, dari rekening bersama itu baru ditransfer ke penjual. Pada saat yang relatif sama, penjual mengirimkan musang/hewan yang dijualnya melalui jasa pengiriman hewan, ada beberapa perusahaan yang melayani ini. Transfer dari rekening bersama ke panjual itu dilakukan setelah mengetahui (dengan catatan/rekam jejak maupun menanyakan langsung ke sesama angota MLI yang bertempat tinggal tidak jauh atau bahkan mengenal langsung dengan si penjual). Dengan demikian, ruang untuk terjadinya tindak kecurangan dipersempit atau bahkan ditutup samasekali.

Menariknya, di jejaring sosial Facebook, dibentuklah grup untuk para penggemar musang (MLI) yang anggotanya terdiri atas para pemelihara (sebagai hobi), penangkar untuk diperdagangkan, pemelihara/penangkar untuk ”mesin penggiling” kopi yang menghasilkan kopi luwak, dan para pemilik petshop/penjual. Selain ada grup MLI (Musang Lovers Indonesia), di buat pula Grup RAMLI (Rumah Adopsi Musang Lovers Indonesia), di samping itu ada pula grup DPO (Daftar Pencarian Orang). Grup yang disebut terakhir itu digunakan untuk memasang daftar para penjual/pembeli nakal dan mendiskusikannya. Kadang pihak yang disebut-sebut sebagai menipu, termasuk mengulur-ulur pembayaran atau pengiriman hewan menyalahi kesepakatan awal, ikut nimbrung dalam diskusi membeberkan alibinya.

Membangun Jaringan

BMI yang berpikiran jauh ke depan sudah seharusnya memiliki obsesi ini: membangun jaring pertemanan/persahabatan yang tidak sekadar kenalan biasa, melainkan dengan ikatan seperti sebuah keluarga besar, dengan solidaritas yang kokoh. Dan seperti sudah jadi pengetahuan bersama bahwa BMI adalah objek yang biasanya ’dieksploitasi’ sekian banyak pihak: lembaga resmi, tidak resmi, maupun perorangan, terutama berkaitan dengan bidang ekonomi yang notabene dapat disebut sebagai masalah bersama. Bukankah menjadi BMI adalah pilihan untuk mendapatkan upah yang lebih baik daripada yang mungkin didapatkan di dalam negri?

Di luar negri, orang/pekerja bisa mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak. Tetapi, satu persoalan besar yang disadari atau tidak adalah, arus balik uang yang didapat itu juga sangat deras. Sebegitu derasnya hingga tak sedikit BMI gagal mengendalikannya. Bukankah banyak BMI justru masih meminjam ke bank atau lembaga keuangan di luar bank untuk belanja konsumsi, bukan untuk belanja modal? Pada akhirnya, seperti kita ketahui bersama, BMI adalah pasar yang sungguh empuk bagi para penjual, yang tak henti-henti menggelontorkan barang-barang dan jasa mereka, dari yang berupa alat kecantikan, pakaian, barang-barang elektronik, termasuk pulsa ponsel.

Cobalah jawab pakai perkiraan saja pertanyaan berikut ini. Dari 140 ribu – 150 ribu BMI-HK itu berapa orang yang menggunakan ponsel (telepon selular)? Ambil rata-rata angka paling rendahnya, berapa dolar (HK) pengeluaran tiap pemilik ponsel/bulan? Itu belum termasuk, jika beberapa anggota keluarga di kampung halaman pun dapat jatah pulsa dari Hong Kong, rutin maupun tidak rutin. Berapa sepeda motor dibeli BMI-HK dalam setahun untuk anak atau suami atau adik/kakak/orangtua di kampung halaman? Berapa HKD dikirim oleh BMI-HK ke kampung halaman? Lalu ke manakah aliran selanjutnya uang kiriman itu? Berapa banyak digunakan untuk belanja modal: sawah/ladang, alat-alat pertanian, alat pertukangan, dan alat-alat/sarana produksi lainnya? Berapa banyak dihabiskan untuk belanja konsumsi: makan/minum, pulsa, benda-benda elektronik, pakaian, telepoin genggam?

Pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi itu, tampaknya Anda akan mendapati angka-angka yang cukup mencengangkan. Lalu berten yalah kemudian, ”Seandainya BMI/mantan BMI memiliki jejaring usaha di berbagai kota hingga ke pelosok-pelosok, keuntungan dari pembelian barang-barang konsumtif dan sebagian juga dari pembelian barang-barang modal tentu dapat dinikmati bersama, dan tidak bulat-bulat menggelinding ke para penjual entah siapa.

Bagian peliknya adalah: membangun jaringan itu sedemikian gampangnya (apalagi sekarang didukung oleh fasilitas komunikasi yang sangat ampuh, tetapi sering terbukti sebegitu susahnya di dalam praktiknya. Persoalan-persoalan biasanya timbul berkaitan dengan mental atau kesiapan para pemimpin dari tingkat terbawah (mungkin: desa) hingga level paling atas. Sering terjadi, ketika organisasi (jejaring) mulai terbentuk, persoalan-persoalan politis (berkaitan dengan jabatan, kekuasaan, derajat sosial) jadi lebih mengemuka dibandingkan hal-hal yang bersifat teknis/praktis berkaitan dengan penumbuhan dan pengembangan jaringan. Itulah sebabnya, mengapa kita melihat sejarah koperasi yang digelorakan Bapak Bangsa kita, Mohammad Hatta, seolah babak-belur di dalam sejarahnya, terutama di tingkat pedesaan. Bahkan, walau di dalam kabinet sekarang ada menteri yang bertugas di bidang ini, perkoperasian tidak juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Di desa-desa, yang menjadi subur biasanya hanyalah (koperasi) simpan-pinjam, yang sesungguhnya sangat jauh dari semangat asli koperasi itu sendiri.

Jika jejaring itu terbentuk, banyak pekerjaan menjadi lebih ringan, dan yang mahal bisa jadi murah. Sebutlah contoh, jika Anda membuka usaha gerai/toko busana di salah satu kota di Jawa Timur dan memiliki jaringan pertemanan (syukur-syukur yang sudah diikat dengan kesepakatan kerja sama) di Yogyakarta, Surakarta, bandung, Pekalongan. Dari kawan-kawan yang ada di beberapa kota tersebut, Anda sudah dapat memenuhi butik/gerai Anda tanpa harus terlalu banyak keluar ongkos hilir mudik. Mungkin untuk belanja pertama perlu datang langsung. Tetapi, selanjutnya bisa dilakukan dengan pemesanan secara tertulis atau kiram nota pemesanan barang, bayar melalui transfer bank, dan tinggal menunggu kedatangan barangnya. Tentu bukannya gratis, karena dalam bisnis yang sehat semua lini pekerjaan mesti mendapatkan imbalannya. Bukankah tanpa jejaring pertermanan di berbagai kota hal demikian dapat pula dilakukan secara langsung? Betul. Memang demikian. Tetapi, jangan lupa, kita sedang memimpikan kemajuan bersama, para BMI/mantan BMI. Jika mau bergerak sendiri-sendiri, secara perorangan, sekarang pun sudah banyak yang boleh dibilang sukses. Itu bukan lompatan besar, bukan ’revolusi’ yang mampu mengguncang dunia.

Lagi pula, tentu tidak semua BMI/mantan BMI hanya tertarik berbisnis di bidang penjualan busana. Pasti ada yang tertarik di bidang kuliner, garmen, pertanian, retail, pertanian, peternakan, organizer, dan sebagainya. Maka, betapa mudahnya sekian banyak urusan jika jejaring itu terbentuk. Ketika pada suatu hari anda menginginkan indukan domba garut untuk dipelihara, atau bibit pohon matoa untuk ditanam, Anda tinggal memosting di dinding grup, misalnya, dan kawan-kawan dari berbagai penjuru dapat menawarkan bantuannya.

Jika Anda memroduksi barang, benda-benda kerajinan, pernik-pernik aksesories, misalnya, dan kemudian membuka toko online, sama halnya Anda sudah punya gudang penyimpanan stok barang di berbagai kota. Di seluruh Indonesia, atau bahkan ada pula cabang-cabangnya di berbagai negara.

Kendala

Seperti sudah disinggung di bagian terdahulu, salah satu kendala yang mesti mendapat perhatian adalah kesiapan mental, bahwa ketika badan usaha bersama dan jejaring mulai terbentuk, persoalan-persoalan baru yang akan timbul justru yang tidak berkaitan dengan hal-hal praktis, melainkan berkaitan dengan hal-hal ’politis’. Sering terjadi, perbedaan pendapat dalam hal-hal yang tidak esensial, yang sebenarnya sepele, berkembang menuju perpecahan. Maka, untuk sementara kita melihat banyak komunitas sejenis di sini (Hong Kong) dan beberapa di antaranya adalah anak-pinak dari sebuah komunitas yang kemudian melepaskan diri dari induknya, membentuk semacam barisan sakit hati, lalu memproklamasikan diri sebagai individu (baca: komunitas) baru.

Alhasil, sang induk gagal melahirkan anak-anak yang kemudian menyebar dan berkembang menjadi sebuah keluarga besar, melainkan tercerai-berai dan tidak saling membesarkan. Pertanyaannya, ketika ada pilihan untuk menjadi Hiu, mengapa memilih menjadi hanya teri? Ilustrasi ini tentunya mesti disertai permintaan maaf bahwa bukan maksudnya menganggap banyak komunitas ”cap teri” di sini, melainkan lebih dimaksudkan untuk menjadi semacam pengingat bahwa Anda semua memiliki peluang untuk menjadi besar, sangat besar, sehingga pihak-pihak yang selama ini mencibir di belakang atau bahkan ketika berhadapan dengan Anda harus menaruh hormat, suka atau tidak.

Dulu banyak koperasi bertumbangan karena pengurusnya tidak amanah. Itu dulu. Sekarang eranya sudah lain. Ini era keterbukaan, transparansi mesti dikedepankan. Apalagi dalam sebuah organisasi atau lembaga bisnis yang didirikan bersama-sama. Banyak sudah yang kini membuktikan bahwa koperasi tidak pernah bisa menjadi besar itu ternyata hanya mitos. Itulah, salah satu tanda pada orang-orang yang akan memetik keberhasilan adalah keberaniannya menumbangkan mitos!

Janganlah rasa iri terhadap jabatan/kedudukan orang lain di dalam organisasi membuntu peluang untuk maju bersama, menciptakan sesuatu yang baru dan sedemikian besar, yang tak seorang pun pernah menduga sebelumnya. Jika Anda semua siap, sekarang, segeralah dimulai. Modalnya: hanya kemauan. Mau maju bersama, menciptakan sesuatu yang sangat besar yang tak pernah dibayangkan orang. Kayao!*

*) Untuk Majalah Peduli

Singkatan:
BMI = Buruh Migran asal Indonesia
HK = Hong Kong

piye?:

0 urun rembug: