Tuesday, 25 December 2012

BUMI SEBUAH KESEIMBANGAN

Pagi ini ketika saya nyruput wedang kopi setelah menyuapi anak luwak peliharaan saya, sebuah stasiun televisi mengabarkan bahwa bannyak petani di Indonesia kawasan timur beralih pekerjaan menjadi penambang emas. Lalu, tiba-tiba pula terlintas di dalam pikiran saya yang sesungguhnya belum ada rubriknya untuk dimasukkan ke dalam go-blog-kan ke sini, sebab rubrik yang paling tepat adalah: NGGEDABRUS BANGET. Begini:

Bukankah alam, termasuk di dalamnya planet bernama bumi ini adalah sebuah sistem yang selalu bergerak dalam sebuah keseimbangan (yang rumit)-? Termasuk di dalamnya adalah peran gravitasi, yang membuat planet-planet berputar sambil ’menggelinding’ pada garis edarnya masing-masing? Pernahkan Anda bertanya, mengapa ada garis katulistiwa, mengapa ada kutub selatan dan kutub utara? Dan Anda terburu-buru menemukan jawabannya di sela-sela buku bikinan para pakar di bidangnya, atau membiarkan dulu pikiran Anda berjalan nggedabrus seperti saya? Bumi yang bundar (lebih tepatnya: agak lonjong?) ini bukankah sangat potensial untuk mengsla-mengsle dalam gerakan tak beraturan yang memungkinkan terjadinya chaos dan bahkan berujung: kiamat?
Sebuah pemandangan dari puncak Gunung Bogang yang berkaldera. Lokasi: Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Pernahkan Anda bertanya, mengapa barang-barang (tambang), mineral, gas (panas) bumi, gunung berapi lebih banyak di wilayah garis katulistiwa atau di dekatnya? Itu pertanyaan saya yang mengarahkan pada sejenis kekhawatiran setelah mengetahui kenyataan bahwa minyak, gas, dan barang-barang mineral dari dalam perut bumi terus disedot. Tak pernah berhenti. Padahal, itu semua punya limit. Akan ada habisnya. Maka, apa yang terjadi ketika emas, timah, tembaga, perak, besi, gas alam, habis disedot sehingga yang disebut gunung berapi pun hanya tinggal menyisakan kaldera yag tak lagi pernah menyala?

Jangan-jangan, pada suatu hari nanti bumi kehilangan gravitasinya dan meluncur, melayang, liar di tengah-tengah galaksi ini? Sedangkan menumpang kereta luncur saja kita sudah merasa jantung mau copot (jangan bilang-bilang ya: saya belum dan sepertinya tak akan pernah berani mencobanya). Padahal, itu masih kereta luncur itu sangat terkendali dan dijamin keamanannya. Apa yang tgerjadi jika bumi melesat dari garis edarnya dan melayang-layang liar di angkasa raya? Sudahkah ada penelitian yang dibuat dengan simulasi ketika bumi sudah habis diperas barang-barang tambangnya? Tolong, kasih tahu saya, ya? Jika Anda hanya bilang, ”kasih tahu enggak, ya?” --niscaya akan saya kutuk Anda untuk menjadi lebih nggedabrus daripada saya. –GLODHAG….!
piye?:

0 urun rembug: