Sunday, 22 June 2008

LKBN ANTARA DAN RRI

Oleh: Suparto Brata

Hari Jumat 30 Mei 2008 jam 0900 saya terima telepon dari Sdr. Uki, wartawan LKBN Antara Jl. Kombes Pol Duryat 41A Surabaya. Semula dia mendapat undangan dari Bonari untuk bercangkrukan dengan PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) dan Dr. George Quinn (dari Australia) di Balai Bahasa Surabaya (alamat Buduran Sidoarjo) tgl. 2 Juni 2008 jam 1900. Uki diberitahu Bonari bahwa George Quinn juga berkunjung ke rumah saya (Jl. Rungkut Asri Surabaya). Uki tanya kepadaku, siapakah George Quinn?


Dr. George Quinn lahir di Tekuiti, Selandia Baru, 22 Juli 1943, tamat Wellington College (SMA) 1961; M.A di Victoria University of Wellington, 1965; B.A di Universitas Gadjah Mada, 1973. Taun-taun 1967-1970 jadi dosen (bahasa Inggris) di Universitas/IKIP Setya Wacana, Salatiga. Tahun 1971-1973 dosen bahasa Inggris (part-tame) di Universitas Gadjah Mada. Tahun 1974-1980 dosen muda di Universitas Sydney, berlanjut jadi dosen di Universitas Sydney 1981-1984.

Tahun 1984 ketika PSJB (Pamardi Sastra Jawi Bojonegoro) Bojonegoro menyelenggarakan Sarasehan Jatidiri Sastra Daerah yang membicarakan keadaan bahasa-bahasa daerah-daerah Indonesia seperti bahasa Batak, Minangkabau, Melayu, Sunda, Bali dan Jawa, George Quinn juga diundang dan datang. Beliau berceramah tentang Romantisme Sebagai Unsur Pokok Dalam Jatidiri Novel Jawa.

Sudah beberapa lama George Quinn tidak berkabar dengan sastra Jawa. Baru beberapa minggu lalu saya dapat email dari beliau bahwa nanti pada hari Minggu 1 Juni 2008 beliau bertamu ke rumah saya. Dan menurut Bonari, Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, tanggal 2 Juni 2008 jam 1900 PPSJS bersama George Quinn cangkruk di Balai Bahasa Surabaya. Dari emailnya alamat beliau sekarang Head, Southeast Asia Centre, Faculty of Asian Studies, College of Asia and the Pacific Australian National University, Canberra ACT 0200, Australia.

“Keperluannya dengan Pak Parto apa?” tanya Uki di telepon.

Beliau hanya tanya buku-buku saya yang terbit baru apa. Untuk itu saya sudah menyiapkan beberapa buku saya untuk beliau.

“Buku baru Pak Parto apa saja?”

Saya sibuk menyiapkan roman-roman bahasa Jawa yang pernah saya tulis untuk saya siapkan diterbitkan menjadi buku. Untuk tahun 2008 ini saya siapkan roman-roman detektip Handaka saya, yaitu Kunarpa Tan Bisa Kandha (Mayat toh tidak bisa bicara); Garuda Putih (nama penjahat); dan Tretes Tintrim (

Kota Tretes yang sunyi). Masing-masing pernah dimuat di majalah bahasa Jawa Jaya Baya 1992, Panjebar Semangat 1974, dan Jaya Baya 1964.

“Mengapa selalu bahasa Jawa?”

Karena saya ingin roman bahasa Jawa juga jadi bacaan masyarakat, sehingga sastra Jawa tetap eksis. Saya pilihkan cerita detektip sebab pada sastra Jawa cerita detektip punya keunikan lain, tidak romantisme sebagai unsur pokok. Sebenarnya saya juga ingin menerbitkan cerita saya yang bukan detektip, dan juga karangan baru (dimuat majalah bahasa Jawa 2006) tetapi karena untuk menerbitkan buku-buku bahasa Jawa tetap masih harus keluar uang (belum menguntungkan secara komersial) maka penerbitannya harus disesuaikan dengan keuangan saya pribadi dulu. [Selanjutnya…]

Saturday, 21 June 2008

Sumbangan Para BMI-HK terhadap Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia


Setelah sekian lama menunggu, tibalah kini upaya penerbitan buku karya BMI-HK pada tahapan baru: 6 dari sekitar 16 buku yang direncanakan terbit sudah jadi dummy-nya. Rihad Humala yang membuat lukisan sampulnya saya ajak memenuhi undangan Pak Untung Subagyo (mewakili Penerbit Grasindo di Surabaya) untuk melihat dan mengoreksi ke-6 dummy buku itu, Selasa (17 Juni 2008) lalu.

Enam buku yang sudah jadi dummy-nya itu ialah: Aku Ingin Jadi Pelacur (Melur), Senja Merah (Nadia Cahyani), Di Balik Rimbun Melati (Niswana Maqia Ilma), Kaki Langit Hong Kong (Wina Karnie), Perempuan Tak Bertuan (Lik Kismawati), dan Perempuan Tanpa Klitoris (Eni Kusuma).

Walau sudah berkali-kali dipelototi, ternyata masih cukup banyak kesalahan-kesalahan kecil dalam penulisan, terutama mengenai ejaan. Menurut saran Rihad Humala, font judul --terutama judul buku, perlu diganti agar lebih menarik.

Sementara itu Pak Untung Subagyo berharap kesalahan-kesalahan kecil itu bisa segera dikoreksi agar proses penyetakannya bisa dipercepat.

Kita berharap, keenambelas buku itu bisa diterbitkan dan diluncurkan secara serentak pada momentum Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (Agustus 2008 ini) atau selambat-lambatnya pada momentum bulan bahasa (Oktober 2008).

Jika ridak ada aral melitang, Oktober 2008 ini akan digelar Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta. Lebih jauh, saya juga bermimpi bisa memromosikan buku-buku sastra karya para BMI-HK itu nanti di forum Kongres Bahasa Indonesia tersebut. Maka, saya pun melamarkan abstrak makalah dengan judul Sumbangan BMI-HK terhadap Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Mohon doa restunya ya, semoga lamaran saya itu diterima. Syukur-syukur, kelak ada Sang Pengarang yang bisa mendapatkan kesempatan pamer baca cerpen di forum yang cukup bergengsi itu. Ada lagi satu cara pemasaran yang tampaknya cukup menarik yang rencananya akan kita tempuh. Tetapi, yang ini, dirahasiakan dulu ya? Ehm![]


BONARI NABONENAR [intermezo, juni 08]

Tuesday, 17 June 2008

George Quinn, Pakar Bahasa Jawa dari The Australian National University

Berawal dari Larangan Dosen, Akui Paling Sulit di Bagian Kromo Inggil


Anggit Satriyo Nugroho, SURABAYA


Jumlah pakar bahasa Jawa di negeri ini mungkin bisa dihitung dengan jari. Orang Jawa yang tertarik belajar bahasa sendiri ini pun jumlahnya tak banyak. Australian National University (ANU) justru memiliki seorang pakar bahasa Jawa . Dia adalah Dr George Quinn.


JANGAN COBA-COBA berbahasa Jawa dengan Dr George Quinn. Mungkin Anda akan sangat malu karena pria 64 tahun itu ternyata lebih fasih daripada orang asli Jawa sekalipun.

Tutur katanya halus, intonasinya jelas, kosakata Jawa yang diingat luar biasa banyak. Sulit membayangkan bahwa sejatinya dia warga negeri Negeri Kanguru. Jenis bahasa Jawa apa pun dia kuasai. Krama Inggil, Krama Madya, hingga Basa Ngoko mengalir begitu saja. Yang pasti, kalau soal Jawa, George Quinn tahu betul luar dalam, termasuk kesusastraannya.

Pekan lalu dosen bahasa Jawa di Australian National University itu berkunjung ke Jawa Pos. Dia diantarkan oleh sastrawan Jawa Bonari Nabonenar. Kedatangan Pak Quinn, panggilan akrab George Quinn, tentu bukan lagi mendalami bahasa Jawa. Lebih dari itu, selama sepekan dosen berambut perak tersebut mengadakan riset tentang makam di tanah Jawa.

Quinn mengaku sudah mengunjungi lebih dari 130 makam keramat di tanah Jawa. "Kula inggih dateng Taman Bungkul (saya juga mau ke Taman Bungkul, Red)," ungkap pria murah senyum itu. Yang pasti, apabila masih ada makam Jawa yang punya nilai sejarah, pasti tak luput dari kunjungannya.

Menurut jadwal kunjungannya pekan lalu, Quinn akan mendatangi kompleks makam Tebu Ireng, Jombang, Troloyo, dan Trowulan, Mojokerto. Dia juga mengaku telah mengunjungi seluruh makam Wali Songo. Yang menarik lagi, Quinn melakukannya sendiri. Dengan kemampuan berbahasa Jawa itulah Quinn tak kesulitan blusukan di beberapa kuburan. Dengan begitu, dia tak membutuhkan pemandu dari warga setempat. "Sedaya kula lakoni piyambak (saya jalani sendiri, Red)," ujar Indonesianis yang juga pakar masalah Timor Leste itu.

Melalui riset itu, Quinn ingin membuat buku pegangan bagi peneliti luar negeri tentang makam di tanah Jawa. Menurut dia, sejarah makam di Jawa sangat populer. Ketertarikannya berawal saat belajar sastra Jawa dulu. Dalam ilmu tersebut juga dimuat panjang lebar sejarah Jawa. "Sebenarnya banyak orang yang sudah melakukannya," ungkap pria yang kala itu menggunakan hem dan celana cokelat muda tersebut.

Selama ini banyak sekali yang sudah dihasilkan Quinn tentang Jawa. Termasuk, karyanya Novel in Javanesse (1992); Hidup Berwarna (Sydney,1989), The Learner's Dictionary of Today's Indonesian (Sydney, 2001), hingga penelitiannya tentang perkembangan Katolik di Timor Leste.

Bukan itu saja. Quinn juga sangat mengenal sastrawan Jawa. Dari sastrawan gagrak enggal Suparto Brata, sampai sastrawan Jawa asal Jogjakarta, Purwadi Atmodiharjo. "Kula kinten naminipun Pak Purwadi pengarang ageng sampun kados Pramoedya Ananta Toer (Saya kira nama Pak Purwadi adalah pengarang besar sekaliber Pramoedya Ananta Toer," ungkap bapak seorang anak tersebut.

Ya, kecintaan Quinn, pada tanah Jawa sebenarnya bukan terbentuk begitu saja. Dengan tutur kata halus dan santai Quinn pun menceritakan perjalanannya belajar bahasa Jawa.

Semuanya bermula ketia dirinya kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), 37 tahun silam. Saat itu Quinn muda belajar di Fakultas Sastra, Jurusan Bahasa Indonesia. Bahasa Jawa waktu itu menjadi mata kuliah penunjang di kampusnya.

Saat naik tingkat, Quinn sebenarnya ingin menempuh mata kuliah bahasa Inggris. "Wedal menika dereng wonten SKS. Sistemi pun inggah-inggahan (waktu itu belum ada sistem SKS seperti sekarang. Sistemnya masih kenaikan kelas, Red)," ujarnya. Namun, seorang dosennya melarang keras. "You are English. Anda harus ambil bahasa Jawa," tegas dosennya kala itu. Mau tak mau Quinn sendika dawuh.

Mulailah Quinn mengenal bahasa Jawa. Dia beralasan untuk belajar bahasa Indonesia, ilmu dasar yang harus dimengerti memang harus bahasa Jawa. Menurut dia, bahasa Jawa juga mempunyai ciri khas yang membedakan dengan bahasa lain, yakni terkait persoalan unggah-ungguh, tata krama bahasa yang lebih menghargai kepada yang lebih tua. "Angelipun basa Jawa menika dateng unggah-ungguh (Sulitnya bahasa Jawa itu karena ada tata krama bahasa, Red)," ujarnya.

Saat berkuliah di UGM, Quinn juga menempuh mata kuliah Pancasila. Maklum, kala itu setiap mahasiswa wajib memahami Pancasila. "Kula menika inggih lulus Pancasila. Dados awon-awon mekaten kula niki ugi Pancasilais (Saya juga lulus kuliah Pancasila. Jadi, jelek-jelek begini saya Pancasilais, Red)," terangnya. Namun, Quinn menolak saat Jawa Pos meminta menyebutkan sila-sila Pancasila tersebut. "Kula kinten sampun cekap (Saya kira sudah cukup, Red)," ujar Quinn mengelak melanjutkan pembicaraan tentang Pancasila.

Meski demikian, ada satu hal yang tentu tak mungkin dilupakan Quinn tentang Jawa. Saat berkuliah itu pula, dia mendapatkan pendamping hidup Emmy Oei, gadis asli Banyumas keturunan Tiongkok. Wanita yang memberinya seorang anak, Andrew Quinn, itu sejatinya pimpinannya ketika dia mengabdikan diri sebagai dosen bahasa Inggris di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Dia juga masih terkenang ketika kali pertama melamar Emmy. Saat bertandang ke rumahnya, ayah Emmy memintanya kembali dan akan memberikan jawaban dalam dua minggu. "Oi arep nglamar anakku (kamu mau melamar anakku, Red). Dua minggu lagi temui saya," terangnya sambil agak menirukan logat Tiongkok.

Tentu diperlakukan seperti itu, Quinn diliputi perasaan tak pasti. "Deg-degan sanget. Kula mikir napa dilulusaken (Deg-degan sekali waktu itu. Saya berpikir apa bisa diluluskan, Red)," terangnya.

Dia menyebutkan sikap ayah Emmy adalah bagian romantika mendapatkan istri. Setelah menikah pada 1973, Quinn memboyong istrinya ke kampung halaman. Karena itu, hingga sekarang Quinn sangat penurut dengan istrinya itu. "Ngantos sak menika kula mesti nurut Emmy (Sampai sekarang saya masih menurut Emmy)," ungkapnya.

Sama halnya dulu, aktivitas Quinn saat ini adalah mengajar dan melaksanakan penelitian. Di Australian National University, Quinn adalah satu-satunya bule yang mengajarkan bahasa Jawa. Sebenarnya ada seorang nama lagi, Amrih Widodo. Tapi, dia asli keturunan Jawa.

Di Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Indonesia, bahasa Jawa merupakan bahasa penunjang. Di jurusan itu ada 110 orang yang berkuliah. Namun, hanya 13 orang yang menempuh kuliah bahasa Jawa. Di antara mereka ada orang Jepang. "Sakmenika wonten tiga welas mahasiswa kula (Sekarang ada 13 mahasiswa saya, Red)," ujarnya. Untuk mengajar, Quinn juga harus membuat materi ajar sendiri.

Selama ini, kata Quinn, mereka yang belajar bahasa Indonesia, termasuk bahasa Jawa, bisa menempati berbagai lapangan pekerjaan. Mulai staf kedutaan besar, tentara, guru bahasa Indonesia, hingga karyawan perusahaan yang berkantor di Indonesia. (*/kim)

Radar Timika, Selasa, 17-06-2008 02:31 (GMT-4)