Wednesday, 30 November 2016

Mengorbit dengan Tulisan Kreatif


Memasuki dunia penulisan kreatif (baca: mengorbit dengan menulis puisi, cerita, dan/atau esai) itu gampang-gampang susah. Gampangnya seperti apa, dan bagaimana pula susahnya? Itulah yang hendak saya uraikan secara gampangan, khusus bagi para pemula (batasan gampangnya: belum lebih dari 10 kali menjebol gawang redaktur media cetak sekaliber koran nasional). Jika anda bukan lagi penulis pemula, sebaiknya limpahkanlah hak anda untuk membaca tulisan ini kepada adik-adik atau sesiapa yang ada di sekitar anda –yang masih berada dalam batasan: pemula –seperti rumus tadi.

Sampai era awal tahun 1990-an, jika anda tinggal di ibukota kecamatan yang jauh dari pusat kota/kabupaten, mengakses media cetak, terutama edisi Minggu yang membentangkan halaman seni/sastra/budaya, sungguh susah. Bahkan kalaupun anda tinggal di pusat kota, berlangganan sekian banyak media cetak tentu akan berat di kantong, atau setidaknya di dalam perasaan. Beberapa orang penulis malahan, mengantisipasinya dengan berlangganan penuh untuk satu harian pilihan dan beberapa lainnya dibelinya hanya terbitan hari Minggu-nya. Buku-buku fiksi pun nyaris hanya bisa diakses dengan mendatangi toko-toko buku di kota-kota besar. Cerita ini dapat diperpanjang, tetapi rasanya bisa dihentikan di sini.

Terutama untuk tulisan jenis puisi, dahulu masih ada redaktur yang bersedia menerima tulisan tangan, sejauh tulisannya bukan seperti yang dapat kita temukan di resep dokter. Tetapi, untuk naskah cerita pendek dan apalagi novel (untuk dimuat bersambung) redaktur akan menuntut tulisan dengan mesin ketik. Salah satu susahnya menulis dengan mesin ketik adalah: mesti siap cairan penghapus, dan setiap terjadi kesalahan kita mesti dengan cermat me-mblok kata yang salah tulis dengan cairan itu, menunggu barang semenit untuk mengulangi mengetik. Bukan mustahil, seorang penulis harus mengetik ulang 2 – 3 kali untuk sampai pada hasil yang memuaskan dan layak dikirimkan ke alamat redaktur.

Saat naskah sudah terketik rapi bukan berarti perjuangan selesai. Untuk sampai di meja redaktur, naskah itu harus dikirimkan. Jika tidak dapat mengantarkannya langsung ke alamat, kantor pos adalah nyaris satu-satunya pihak yang dapat mambantu, tentu dengan imbalan seharga perangko, yang akan diitung berdasarkan kategori berat barang/naskah dan alamat tujuan. Harga perangko memang tidak mahal, jika kita hanya mengirim satu naskah dalam sepekan. Ada yang menyiasati penghematan dengan cara mengirimkan naskah secara terbuka (tanpa amplop), atau mengiris salah satu sudut amplop agar isi di dalamnya dapat dilihat, dan kemudian membubuhkan tulisan: ”Barang Cetakan” –biasanya dituliskan dengan huruf kapital.

Itu sebagian kecil pernik-pernik kerumitan yang hanya dapat dihayati oleh mereka yang melewati masa-masa kreatif di era sebelum awal 1990-an. Kesulitan-kesulitan itu sekarang sudah jadi kisah masa lalu. Teknologi komunikasi yang sedemikian pesat kemajuannya menawarkan kemudahan-kemudahan, cenderung memanjakan. Ketika gagasan melintas, kapan dan di mana pun, kita dapat segera mencatatnya menggunakan ponsel pintar, mau mengetik tinggal buka laptop, untuk perbaikan/penyuntingan tinggal tekan tombol, tidak perlu cairan penghapus dan pengetikan ulang. Bahan-bahan rujukan juga banyak tersedia secara daring (dalam jaringan = online), bahkan Kamus Besar Bahasa Indonesia pun sudah tersedia daring-nya.  

Untuk pengiriman naskah, kita boleh melupakan kantor pos. Sebab, banyak redaktur justru lebih memilih kiriman naskah melalui posel (pos elektronik). Pengiriman naskah dalam bentuk surel (surat elektronik) jauh lebih praktis, lebih murah, dan lebih cepat dibandingkan dengan pengiriman melalui kantor pos.

Salah satu buah kemajuan teknologi komunikasi adalah menjamurnya media jejaring sosial yang melahirkan pula grup-grup yang beranggotakan orang-orang yang memiliki ketertarikan, hobi, profesi yang sama. Media daring menyediakan banyak pilihan bagi kita untuk menerbitkan laman pribadi tempat kita dapat mengunggah tulisan-tulisan, foto, bahkan video. Dari kamar kos yang sempit pun kita bisa segera mengunggah karya-kara kita agar diketahui publik tanpa batasan ruang. Media jejaring sosial  seperti Facebook juga memungkinkan kita mengunggah karya-karya lama atau karya terbaru, dan sekaligus terhubung bukan hanya dengan sesama penulis pemula, melainkan juga dengan para senior.

Segeralah bergabung dengan grup-grup pecinta sastra, cerpen, puisi, dan bangunlah komunikasi personal secara intens, terutama dengan mereka yang menurut anda atau menurut banyak orang sudah dapat disebut senior. Lalu, datangilah berbagai acara ”jumpa darat,” manfaatkan setiap peluang untuk unjuk kebolehan baca puisi, cerpen, dan buatlah semakin banyak puisi, cerpen, untuk disertakan dalam proyek ”antologi bersama,” yang gratis maupun yang berbayar.

Jika jejaring pertemanan anda di dunia maya sudah cukup luas, bahkan anda tidak dilarang untuk menyelenggarakan acara, misalnya mengundang para penulis dari berbagai kota untuk acara pementasan sastra, dalam rangka apa, atau tidak dalam rangka apa-apa. Acara seperti itu bisa diawali dengan atau tanpa menerbitkan antologi bersama. Biaya bisa ditanggung bersama, dan setelah acara sukses terselenggara kredit poin anda sudah bertambah. Uraian biodata yang dapat anda buat menyertai karya-karya anda pun akan semakin panjang. Dan itu bisa tampak semakin gagah. Nama anda pun pasti akan semakin berkibar. Gampang, bukan?

Lalu, susahnya di mana? Yang sering tidak diduga-duga oleh para pemula dalam dunia penulisan adalah bahwa, kritik itu amat-sangat pahitnya. Banyak pemula bertumbangan gara-gara kritik yang pahit, yang pada saat bersamaan membuat sebagian kecil pemula malahan semakin terpacu untuk maju. Banyak pemula lalu membenci pengritiknya, bahkan melabraknya secara membabibuta, kemudian surut, makin tersudut, dan pada akhirnya padam.

Kepintaran anda memilih teman di dalam jaringan, memilih grup yang aman, dapat mengindarkan anda dari kepahitan-kepahitan kritik. Dengan demikian anda akan gampang melejit secara aman, cepat mengorbit. Tetapi, jika cara begini yang kita pilih, peluang terbesar bagi kita adalah mengorbit di garis edar yang salah! []