Friday, 27 February 2009

di puncak menara

pengurus rumah ibadah itu telah menutup matanya di siang terik
layaknya lakilaki renta ia begitu rapuh
di kegemerlapan yang menyiksa
ia kehabisan suara untuk berteriak memanggil cahaya
hiruk derak roda peradaban pun memekakkan telinganya
debu menebal mengotori nadi dan menyumpal paru
jantung gemetar dan lakilaki renta itu pun roboh menggelepar


di ambang sakaratul mungkin ia akan melihat
betina dan jantan penthalitan
dengan api dan gelas di tangan
dan lantai jadi kubangan
ceceran kencing dan muntahan
persis di puncak menara rumah ibadah itu
tidakkah kau juga melihatnya
sodaraku?

betapa meriahnya pesta itu!
di puncak menara
menari bersama
sebelum roboh
menimpa senja

[28 feb 09]

Tuesday, 17 February 2009

Kebanggaan yang Sempurna

Karena keterbatasan biaya, banyak remaja putus sekolah. Putus dalam pengertian berhenti sebelum mendapatkan ijasah di jenjang tertentu atau setelah mendapatkan ijasah di jenjang yang lebih rendah dari yang diinginkan. Pendidikan (baca: sekolah) terasa semakin mahal. Itu fakta. Sedangkan kualitas kehidupan yang lebih baik memerlukan pendidikan yang lebih baik pula. Lalu, yang putus sekolah itu mengambil jalan lain. Jalan ke luar negri. Mencari kerja. Menjadi buruh migran.



Ada yang beberapa tahun bekerja sebagai buruh migran dengan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tetap berkobar di dada. Maka, ketika tabungan dirasa cukup, yang dilakukan adalah pulang ke tanahair dan melanjutkan pendidikan formalnya. Berkuliah, misalnya.

Ada yang tetap jadi buruh migran, seperti yang dilakukan kawan-kawan kita di Hong Kong (mungkin di Taiwan juga?) menempuh pendidikan formal di kala libur untuk mendapatkan diploma. Lalu pulang ke tanahair (atau keluar dari kampus) dengan rasa bangga, punya gelar sarjana, atau setidaknya diploma.

Apakah kebanggan memiliki gelar itu cukup? Ternyata belum. Sebab, fakta membuktikan banyak di antara kita yang justru berangkat ke luar negri untuk menjadi buruh migran ketika ijasah diploma atau sarjana sudah berada di tangan. Timbunan sarjana makin hari makin menggunung di tanahair. Eantah salah siapa, mereka seolah tak lagi punya keistimewaan apa-apa. Apakah mereka masih menyimpan rasa bangga atas ijasah yang dimilikinya? Ataukah sudah lenyap digerus waktu, dan pandangan sinis orang-orang di sekitar? ’’Sarjana kok nganggur!’’ Itu olok-olok yang paling umum.

Kebanyakan buruh migran juga punya kebanggaan, antara lain bisa menyubsidi keuangan keluarga, bisa menyekolahkan, anak, adik, atau keponakan. Juga, bangga karena bisa membangun rumah yang bagus, atau menyelesaikan pembangunan rumah yang bertahun-tahun mangkrak. Lebih bangga lagi ketika anak, adik, atau keponakan telah berhasil mengantongi ijasah sarjana.

Kebanggaan itu pun suatu ketika bisa lenyap digerus waktu, jika anak, adik, dan keponakan yang sarjana-sarjana itu pun tak kunjung memiliki pekerjaan yang jelas, terutama jelas penghasilannya, tentu. Apalagi ketika tiba waktunya mengakhiri babak kehidupan sebagai buruh migran. Ketika kembali menjalani hidup di kampung halaman yang bertahun-tahun ditinggalkan. Dan tabungan makin menipis. Rumah yang dulu megah pun mulai kusam, bahkan ternyata di sana-sini memerlukan tambalan.

Padahal, yang begitu masih tergolong cerita bagus. Cerita yang sebegitu getir tampaknya tak hanya satu dua contohnya. Misalnya, uang yang dialirkan ke suami di kampung halaman untuk membeli sawah dan membangun rumah ternyata menguap entah ke mana. Ketika ditanya melalui telepon, sang suami malah mencak-mencak, menantang untuk bercerai segala. Ada lagi yang sedemikian pahit lucunya. Ini jenis suami yang ’kelewat kreatif’, yang ketika dikirimi uang sang istri untuk membangunkan sebuah rumah malah dua rumah yang terbangun. Tetapi, salah satu di antaranya diatasnamakan perempuan lain.

Lalu tumbuhlah sejenis rasa sesal. Mungkin masih ada cukup waktu. Kembali ke luar negri. Menjadi buruh migran lagi. Kini lebih berhati-hati, lebih berhemat, lebih kreatif, dan lebih perhitungan. Suami, anak, dan atau keponakan itu ternyata perlu pula pendidikan dari jenis yang berbeda dengan yang diberikan di sekolah atau di kampus. Maka berilah mereka uang untuk beli bibit. Bibit jagung, atau itik, kelinci, kambing, atau sapi. Catatlah itu sebagai investasi. Lalu tambahkan modal pada saat yang tepat. Siapa paling berhasil, dia yang berhak atas jumlah tambahan modal yang lebih banyak.

Kemudian, kembalilah ke tanah air sebagai juragan dengan sekian kandang dipenuhi sapi, sekian kandang dipenuhi kambing, dan sehamparan ladang menunggu dipanen. Kini, tidak ada alasan untuk tidak merasa bangga. Waktu tak akan menggerus, melainkan justru akan mengembangkannya. Jika bisa begitu, itulah kebanggaan yang sempurna.

Radar Taiwan