Friday, 27 February 2009

di puncak menara

pengurus rumah ibadah itu telah menutup matanya di siang terik
layaknya lakilaki renta ia begitu rapuh
di kegemerlapan yang menyiksa
ia kehabisan suara untuk berteriak memanggil cahaya
hiruk derak roda peradaban pun memekakkan telinganya
debu menebal mengotori nadi dan menyumpal paru
jantung gemetar dan lakilaki renta itu pun roboh menggelepar


di ambang sakaratul mungkin ia akan melihat
betina dan jantan penthalitan
dengan api dan gelas di tangan
dan lantai jadi kubangan
ceceran kencing dan muntahan
persis di puncak menara rumah ibadah itu
tidakkah kau juga melihatnya
sodaraku?

betapa meriahnya pesta itu!
di puncak menara
menari bersama
sebelum roboh
menimpa senja

[28 feb 09]
piye?:

0 urun rembug: