Tuesday, 23 September 2008

Golek Kiblat ing Negara Cina


Dening: Rie Rie

Isih ana suara adzan kang keprungu senajan tho lamat-lamat. Ora nganggo loudspeaker utawa pengeras suara kang di pasang ana cagak-cagak dhuwur kaya dene kang ana ing Indonesia. Ewadene suara adzan kang mung lamat-lamat kuwi wes kasil gawe greget kang padha. Kanggo nyatuhu ati lan jiwa sowan marang Gusti Kang Akarya Jagad, Allah SWT.


Hongkong papane, negara Cina kang wes kaya dene omah nomer loro dening saperanganing warga Indonesia kang golek rejeki ing kana kuwi ora luput saka suara adzan.

Apamaneh ing sasi iki, sasi ramadhan. Kaya-kaya kangen marang Gusti makaping-kaping tikele.

[ana bacute, ngaturi mundhut, sokur bage langganan majalah Jaya Baya]

Ini Baru: BMI-HK Nulis di Majalah Berbahasa Jawa


Ia populer dengan nama Rie Rie, walau nama aslinya, mungkin (belum ngecek KTP-nya sih) ialah Sri Lestari. Ia seorang pekerja rumah tangga di HK, mengikuti kuliah komputer, dan punya situs pribadi, salah satunya ini. Berita terbaru dari perempuan asal Blora, tanah yang di sana pula penulis legendaris Pramoedya Ananta Tour berasal-- ini ialah: Majalah Jaya Baya edisi khusus (Lebaran) menurunkan tulisan/laporannya berjudul "Golek Kiblat ing Negara China".

BMI-HK nulis, itu dah biasa. BMI-HK ngeblog, itu dah umbyukan sekarang. Tapi BMI-HK nulis pakai bahasa Jawa? Yang kutahu baru Rie Rie ini, setelah ri yang satunya lagi ini, yang sudah sejak tahun 80-an nulis di majalah yang sama: Bonari:))

Monday, 22 September 2008

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [5]


Di rumah buku saya baca. Hampir tergelak saya membacanya. Bukan karena isinya yang lucu karena menceritakan riwayat perjuangan seorang pelawak, tetapi habitat tempatnya hidup sejak kecil, adalah lingkungan habitat yang saya kenali benar. Pasar Pacarkeling, Pacarkembang, TK Megawati, Jedong, RGS dengan penyiarnya Supangat, SMPN 9. Itu habitatku sejak zaman Jepang tahun 1942 (rumahku di Kalasan 31, teman sekolahku anak-anak SS-Pacarkeling, Oro-oro, Jedong, Ploso, Rangkah, Bogen, Tambaksari, Karanggayam, sekolahku di Jalan Mundu.

Sampai pensiun tahun 1988, rumahku di Rangkah, bekerja di Pemkot, RGS pimpinan Pak Indiarto saya kenal benar, bahkan seorang penyiarnya Mas Soekardjito (dengan istrinya) jadi pegawai Humas sekamar kantor dengan saya. Cak Djadi memilih hari tanggal lahir 6-7 bulan sebelum 1 September 1965, adalah 8 Maret 1965, anak saya nomer 2 lahir 29 Maret 1965, jadi sebarakan dengan Cak Djadi. Sekolah Cak Djadi di SMPN 9, dua anak saya kelahiran tahun 1969 dan 1971 juga sekolah di sana (mestinya adiknya Cak Djadi).

Dalam buku itu ditulis bahwa orangtua Cak Djadi hidup di desa (Creme, Gresik), tetapi Cak Djadi sejak kecil hidup ikut kakek-neneknya di Surabaya. Neneknya tiap hari jual sayur-mayur (wlija) yang kulaknya di pasar Pacarkeling, dijajakan seputar kampung-kampung situ. Si bocah kecil Djadi sering disuruh ikut bekerja belanja sayur oleh neneknya, dan karena penghasilannya kecil dia disekolahkan di TK Megawati, muridnya kebanyakan juga anak-anak orang yang berjualan di pasar.

Membaca buku itu tentang masa kecil HM Cheng Ho Djadi Galajapo, saya jadi terbayang-bayang benar masa kanak-kanakku sendiri di sana. Tempat-tempat itu sudah terlalu sering saya jadikan back-ground novel saya atau tulisan saya yang lain, misalnya: Oh, Surabaya (CV Bina Ilmu, 1975), Surabaya Tumpah Darahku (bersambung di koran Kompas November 1973, CV Bina Ilmu 1978), Saksi Mata (bersambung di koran Kompas November 1997, Penerbit Buku Kompas 2002), Surabaya Zaman Jepang (Surabaya no Monogatari) (Penerbit Jawa Pos 1983), Kremil (bersambung di koran Kompas November 1994, Pustaka Pelajar Yogyakarta 2002).

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [4]

Diskusi ini juga disela pembagian buku HM Cheng Ho Djadi Galajapo NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Mereka yang mendapat diundi melalui door-prize. Yang namanya disebut, segera maju ke depan menerima bukunya dari Cak Djadi. Hampir terakhir, namaku disebut. Mengerti namaku dan tempatku (di kursi belakang) Cak Djadi tidak memanggil saya, tetapi dia yang datang membawa bukunya ke tempat saya duduk. “Terima kasih, Cak Djadi, saya dapat kehormatan begitu.”

Setelah sambutan-sambutan orang-orang penting, maka ditawarkan para hadirin yang mau bertanya. Banyak yang angkat tangan, tetapi karena waktu mendekati magerip, hanya tiga orang dipersilakan. Seorang ibu mendapat prioritas bicara, karena sejak tadi yang ngomong laki-laki. “Judul bukunya kok NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN, apa maknanya dan diilhami dari mana?”

Cak Djadi menjawab (ceritanya juga ditulis di bukunya), bahwa kakeknya yang semula menekuni penghayatan Sapta Darma, menyuruh Djadi rajin mengaji di surau dekat rumahnya. Kemudian setelah Djadi bertambah besar dan rajinnya mengaji di masjid, kakeknya juga berangsur-angsur mengikuti sholat di masjid, dan simbul-simbul Sapta Darmanya (misalnya gambar wayang Semar) hilang dari rumahnya. Namun kelakuan Djadi untuk naik pentas menjadi pelawak, tidak berubah. Tiap ada kesempatan (misalnya perayaan 17 Agustusan) Djadi pasti naik pentas melawak. Ini membuat kakeknya malu. “Koën iku gak isin, tah, modhuk teka masjid terus mbanyol ndhuk panggung? Wong lèk mbanyol gawe guyu wong liya iku mbesuke mlebu ndhuk Neraka Wail!” Dari pemahaman begitu akhirnya dengan keras kakeknya melarang Djadi naik pentas melawak. Djadi jadi kepikiran. Ingin terus meraih cita-citanya (yang sudah jadi kebiasaannya) dengan melawak, tapi kalau ketahuan kakeknya, dimarahi. Pada hal cita-citanya jadi pelawak sudah mulai mendapatkan hasil, kalau naik panggung dapat uang. Djadi putar otak, bagaimana supaya kakeknya tidak melarang dia naik panggung. Djadi tahu kakeknya sore hari suka minum kopi dengan nyamikan. Yang paling suka kue terang bulan (nama kue di Surabaya, di Jawa Tengah mungkin namanya srabi bandung, di Jakarta Timur martabak manis). Maka, ketika Djadi dapat tanggapan dan dapat hr, ia membelikan kue terang bulan. Waktu sore kakeknya minum kopi, kue terang bulan dihidangkan. Dimakan oleh kakeknya sampai habis. Ketika ditanya dari mana dapat terang bulan, dijawab dari hasil melawak naik panggung. Sang kakek skak mat! Djadi sudah bisa berdalih, bahwa dia seringkali mendengarkan ceramah ustad yang disela guyonan gar-ger.Ceramah ustad dengan melawak, menjadi segar dan tidak masuk neraka wail. Djadi juga berdalih, bahwa nanti ketika melawak di pentas, ia juga akan sertamerta berdakwah. Jadi juga tidak masuk Neraka Wail! Sang kakek menerima.

Diskusi diakhiri karena azan magerip, dan selesai setelah pengunjung buka puasa di ruang sebelah.

Tidak ada sahabat dekat, usai berbuka puasa saya pulang. Menunggu lift buka, saya dengar percakapan di belakang saya (juga menunggu lift tentunya) jawaban perempuan mengatakan bahwa dia baru habis bertugas dari Pasuruan, mengunjungi keluarga penerima zakat yang kena musibah itu. Saya menolih. “Pak Parto, ya? Mengapa, Pak, di sini?” Siapa, ta? “Nani,” jawabnya. Oh, Nani Wijaya! Saking terharuku hampir saja dia kurangkul. Tampak lebih cantik, karena rambutnya lebih panjang, tidak jongen-kop seperti yang saya kenal sebagai direktrisku ketika saya ditugasi menjadi pemimpin redaksi tabloid Jawa Anyar di Solo. Waktu itu saya (dengan Mas Bonari Nabonenar juga) banyak dapat bimbingan dan arahan cara menyelenggarakan penerbitan tabloid dari Bu Nani Wijaya ini, sangat bermanfaat sekali.[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [3]

Cak Kadaruslan menceritakan pengalamannya, pernah dipisuhi “Jancuk! Jancuk!” oleh Grup Galajapo. Yaitu sebagai pecinta seni, Cak Kadaruslan menyelenggarakan pagelaran seni, tetapi grup pelawak tidak dikatutkan. Itu salah tangkap. Sebab untuk pelawak, oleh Cak Kadar sudah disiapkan untuk digelar di luar. Sebagai pelawak, mestinya tidak boleh cepat emosi, marah-marah. Pelawak itu memberikan hiburan kepada khalayak, tidak memarahi khalayak. Cak Djadi sungguh mengaku khilaf soal peristiwa itu. Dulu sudah minta maaf, sekali ini juga sungguh-sungguh minta maaf.

Suko Widodo sebagai pembicara resmi tentang buku ini, sangat mendukung seorang person menerbitkan buku, siapa pun dia, bagaimana nasibnya, perjuangan hidupnya, apa profesinya, apalagi “punya nama”, punya track-record aktivitas seperti Djadi Galajapo di Surabaya. Tapi harus jujur, sebab bagaimana pun juga bukunya itu akan merupakan gambaran sejarah kehidupan bangsa waktu buku itu ditulis, yang bisa dijadikan pembelajaran bagi generasi pembaca untuk menyiasati kehidupan masa depan yang lebih baik. Melihat sekejab bukunya (karena baru diberi ketika masuk ruangan itu) Pak Suko mengeritik tentang banyaknya sanjungan-sanjungan, puji-pujian di buku tadi, terutama 50 halaman terakhir (dari 146 halaman). Tapi juga memuji Cak Djadi, sebagai pelawak dia juga memperhatikan profesi sosial yang lain dijadikan bahan memperkuat melawaknya, misalnya mau berdakwah sementara pentas, juga memperhatikan profesi guru (Cak Djadi lulusan IKIP Surabaya, pernah ditugaskan sebagai guru pns di Pacitan, tapi mengundurkan diri karena pns kan singkatan dari penghasilanipun namung sekedhik). Dengan perhatiannya pada profesi lain, maka di mana pun dia naik pentas menjalani profesinya sebagai pelawak, dia bisa bicara lucu tepat pada profesi lain tadi dan diterima oleh publik profesi itu.

Sabrot D. Malioboro dapat giliran tampil, dengan lebih dahulu disanjung oleh Cak Djadi karena terus-terangnya berani mengeritik sikap atau tingkah Cak Djadi langsung di hadapannya. Cak Djadi sangat aprisiate menerima kritik seperti itu. Dengan menerima kritik dia menjadi lebih sadar dan dewasa ketika pentas menjalani profesinya sebagai pelawak. Sedangkan kalau hanya menerima puji-pujian seperti yang dituturkan Pak Suko Widodo, ia bisa mabuk kepayang, terlena, kurang berkualitas. Sabrot menceritakan ketika Cak Djadi jadi MC di acara kampanye Walikota Blitar. Walikota Blitar berkampanye politik pidato berapi-api. Lalu sebagai MC Cak Djadi bicara sela acara, juga berapi-api seolah-olah terseret virus politik Walikota Blitar. Sabrot memperhatikan peristiwa itu dari Surabaya. Ketika bertemu di Balai Pemuda, Sabrot langsung bilang kepada Cak Djadi. “Kamu ini pelawak. Jangan ikut-ikutan di bidang politik. Tekunilah profesimu, maka kamu akan bahagia!”

Bagong Suyanto membuka bicaranya menuduh Djadi tidak jujur apa yang ditulis (diceritakan) pada peristiwa mendapat job bersama aktris, lalu sampai berduaan saja dengan aktris itu, tapi peristiwanya berakhir dengan menutup perut perempuan tadi dengan handuk. Apa betul-betul peristiwanya berakhir sampai di situ, apa yang ditutup hanya perutnya, itu yang disangsikan oleh Pak Bagong. Bahwa peristiwa semacam itu termasuk kehidupan para seniman panggung, bisa dimengerti. Langsung dijawab oleh Cak Djadi peristiwa dan akhirnya persis seperti itu. Kalau tidak, bukankah itu rahasia kejelekan peribadi, mengapa diceritakan? Intinya, begitulah godaan di profesinya, namun Cak Djadi (dan banyak orang berprofesi seperti itu juga) bisa tetap hidup suci.

Orang Cina itu kurang diterima baik oleh masyarakat Jawa. Seringkali Pak Bagong berjalan-jalan dengan istrinya, kemudian ditegur oleh teman bermata sipit, istrinya melengos dengan ucapan bernada menghindar, “Cina ngono, lo!” Istrinya tidak sadar bahwa Pak Bagong itu juga Cina. Itulah gambaran yang diberikan oleh Pak Bagong bahwa pada umumnya orang Cina tidak diterima dengan rela hati oleh masyarakat Jawa. Untuk bisa diterima banyak sekali orang Cina harus mengganti namanya dengan nama Jawa, termasuk Pak Bagong Suyanto. Banyak (sekali) orang Cina untuk berasosiasi dengan orang Jawa mengganti namanya dengan nama Jawa, tetapi Pak Bagong belum pernah dengar orang Jawa yang mengubah namanya dengan nama Cina. Orang Jawa yang memberi namanya dengan nama Belanda, nama Arab, nama Buda, banyak. Tapi menggunakan nama Cina, Pak Bagong tidak pernah dengar. Ya baru HM Cheng Ho Djadi Galajapo ini. Itupun dulu, ketika Cak Djadi memberitahu bahwa kalau dia berhasil naik haji mau menambah resmi namanya dengan Haji Mohammad Cheng Ho, Pak Bagong juga tidak percaya. “Ya, kalau memilih nama Cheng Ho sebaiknya minta izin dulu sama yang berwenang, karena nama Cheng Ho sudah jadi nama masjid di Surabaya,” saran Pak Bagong ketika itu, ragu-ragu, tak percaya. Ternyata benar, Cak Djadi yang semula dikenal oleh Pak Bagong bernama asli Jawa Sudjadi yang kelahiran Dadap Kuning Cerme Kabupaten Surabaya itu setelah naik haji namanya ditambah Haji Mohammad Cheng Ho. Nama Cheng Ho dipilih setelah Cak Djadi mendengar keheranan Pak Bagong tentang nama orang Jawa yang suka mengubah namanya jadi nama Arab atau Belanda, tapi tidak ada yang mengubah namanya dengan nama Cina. Waktu mendengar itu, Cak Djadi bilang, wajar saja begitu, karena orang Jawa kan kebanyakan orang Islam, jadi ingin menandaskan keislamannya dengan nama Arab. “Itu pikiran kurang pas,” ujar Pak Bagong. “Karena orang Cina yang islam juga banyak, dan bahkan yang membawa Islam ke Tanah Jawa, adalah orang Cina. Yaitu Laksamana Cheng Ho.” Terobsesi oleh percakapan tadi, maka ketika Cak Djadi berhasil menunaikan ibadah haji, maka mengubah namanya ditambah Haji Mohammad Cheng Ho Djadi Galajapo.[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [2]

Lalu sambutan-sambutan. Wawali Surabaya, Suwito M., Sam Abede Pareno, Cak Kadaruslan, Kurniawan Muhammad, Cak Kartolo, Sabrot D. Malioboro, Lufti, Bonari, Bu Yati.

Oleh Wawali Surabaya Arif Afandi, disindir nama HM Cheng Ho, HM-nya berbau promosi Honda Motor yang menyeponsori penerbitan bukunya, ya diterima Djadi jegegesan, mengakui memangnya Pak Suwito M, Direktur PT MPM Motor Main Dealer Motor Honda Jawa Timur dan NTT 5 tahun terakhir ini sering memberi job.

Suwito M. ketika giliran menyambut mengatakan, acara-acara promosi Honda sering dipercayakan kepada Cak Djadi Galajapo, baik individual maupun group. Cak Djadi joke-jokenya spontanitas cerdas, product knowledge-nya kena, ditunjang karakter yang kuat, wawasan yang luas, banyolannya bernas, seringkali religius. Pak Suwito sangat berkesan dengan nyanyian kanak-kanak TK yang telah diubah syairnya spontan oleh Djadi, Satu-satu, jangan jangan pakai shabu, dua-dua jangan pakai ganja, tiga-tiga jangan pakai narkotika, satu-dua-tiga pakai Honda saja”.

Sam Abede Pareno memulai dengan judul buku yang dibedah, merepotkan toko buku. Ini akan diletakkan di buku Agama, atau Masak-masakan? Judulnya kan Neraka dan Kue Terang Bulan? Selanjutnya dia menceritakan ketika menjadi staf wartawan di Jawa Pos tahun 1980-an, dirasakan tidak banyak pelawak Jawa Timur yang bisa berbicara di tingkat nasional. Di situlah Jawa Pos mengadakan semacam audisi pelawak. Dan ditemukan berkarakter sendiri-sendiri Djadi, Priyo dan Lufti. Lalu ada ide menggabungkan mereka jadi satu kelompok, yaitu Galajapo, singkatan dari Gabungan Lawak Jawa Pos. (Ide yang membidani dan getol mencarikan job adalah Pak Kris Maryono, wartawan RRI Surabaya, juga hadir di situ, kala itu nama Galajapo diciptakan pada zaman banyak kata gala diedarkan seperti Galatama, Galarama, Galatawa. Galajapo, Japo-nya diartikan Jawa Pos, memang diharapkan grup lawak itu nantinya menjadi anak asuh Jawa Pos. Tetapi Galajapo juga bisa diartikan kependekan dari nama-nama anggota grup itu, yaitu Gabungan Lutfie, Djadi, Priyo). Pak Sam tidak lupa mengatakan bahwa menyeponsori penerbitan buku itu suatu pekerjaan mulia dan mendidik, maka berharap Honda jangan hanya menyeponsori penerbitan bukunya sastrawan bukan beneran, sastrawan yang beneran seperti Suparto Brata itu juga bukunya disponsori diterbitkan.

Cak Kartolo agak alot ketika disuruh menyambut maju ke depan. Tidak punya persiapan. Sebagai pelawak yang handal, Cak Kartolo kalau mau pentas, pasti jauh sebelumnya sudah merencanakan ide-ide yang mau dipentaskan, dihafalkan dan dilatih sampai pada waktunya pentas. Pasti ada persiapan, kalau mungkin pelatihan sebelum pentas. Kini tidak ada persiapan ngomong, maka alot untuk maju ke depan. Sudah berdiri, duduk lagi. Apalagi sementara itu Cak Djadi ngomong terus, memuji-muji kehebatan Cak Kartolo. Karena lama Cak Kartolo tidak mau ke depan, Cak Djadi bilang, “Mosok, Rêk, nyang mrene mik perlune kate mangan-mangan buka pasa?”. Cak Kartolo sampai di depan, terus saja ngomong sambil menunjuk bibir Cak Djadi, “Iku lambe tah kitiran!?” Dalam sambutannya yang serius, Cak Kartolo tidak mau kalah, sama-sama pelawak Cak Kartolo juga mau menerbitkan buku seperti Djadi Galajapo. “Buku utang piutang.”[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [1]

Kula aturi rawuh peluncuran buku Djadi Galajapo, Jumat 19 Sept 08, di metropolis room Graha Pena lt 3 pukul 15.00 thit, bonari, yg ikut menulis buku tsb. Suwun. Harus mendaftar? Khusus Pak Parto tanpa harus ndhaftar.

Begitulah SMS yang kuterima. Djadi Galajapo, saya tahu itu nama kelompok pelawak di Surabaya. Beredar setelah saya pensiun, (artinya saya sudah tidak giat nyemak secara fisik maupun sosial perkembangan kota Surabaya lagi, saya sama sekali sudah tidak mendengarkan radio lagi, kurang sekali menonton TV, tidak suka telepon-teleponan hingga pulsa HP saya bertumpuk tak terpakai, kurang sekali membaca koran), jadi tidak pernah melihat atau mendengarkan banyolan kelompok Galajapo. Tetapi kalau acara tentang buku, saya usahakan selalu bisa mengikuti. Diah Pitaloka, Dewi Lestari, Pipiet Senja, Andrea Hirata, Lan Fang, Shoim Anwar, Amang Mawardi, Akhudiat, Widodo Basuki, Siti Aminah, Elizabeth D. Inandiak, Hersri Setiawan, Asvi Warman Adam, Agus Wahyudi, Agus Mustofa, Murakami Saki, Yayasan Karmel, Ary Nurdiana, Freek Colombijn, GM Sidarta, Bugilbaca, itu beberapa nama yang saya hafal luar kepala ketika bedah atau diskusi bukunya yang saya (perlukan) hadiri. Saya banyak mengambil manfaat dari situ untuk ibadah, karena tentang buku (membudayakan menulis, membaca, memahami, menerbitkan, membeli, menjual, menyiarkan) saya memang belum mau pensiun, saya anggap amanah Allah. Jadi, bukan hanya karena undangan lewat SMS Mas Bonari itu, saya juga secara resmi juga mendaftar akan hadir peluncuran buku HM Cheng Ho Djadi Galajapo itu.. Saya datang 30 menit sebelum acara peluncuran buku Djadi Galajapo dimulai.

Begitu masuk lantai 3, saya bertemu Prof.Dr.Sam Abede Pareno, dan selanjutnya bersama dia. Dia begitu akrab dengan forum, sedang saya merasa asing. Orang-orang muda yang menyapa dia juga menyapa saya, saya kira karena dialah saya ikut disapa. Tapi, mereka kok ya menyebut nama saya (tentulah sudah mengenal betul saya). Salah seorang berbaju putih-putih, kepalanya agak gundul, menyalami dan mempersilakan kami berdua masuk ruangan Metropolis room yang masih kosong dengan cara begitu akrab. Tapi kami berdua milih kursi paling belakang, karena Pak Sam tidak bisa tinggal sampai buka puasa, karena ada acara lain. Jadi kalau acara sedang berjalan Pak Sam bisa dengan diam-diam tidak mengganggu acara meninggalkan ruangan. Di latar belakang podium tertulis jelas: HM Cheng Ho Djadi Galajapo, NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Pembicara: Bagong Suyanto dan Suko Widodo.

Selain nama dosen-dosen UNAIR itu kemudian mengisi ruangan orang-orang terkenal lainnya: Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi, perwakilan Honda Motor (sponsor penerbit buku), Kurniawan Muhammad, Bonari Nabonenar, Sabrot D.Malioboro, Cak Kadaruslan, Kartolo dan istri, Djoko Pitono, RM Yunani, dan orang-orang aktif di Surabaya saat ini (maaf, tidak bisa saya sebut semuanya, meskipun sangat penting pada acara ini). Dan nanti setelah acara berjalan terungkap pula orang-orang dekat (sesama pelawak) Djadi, seperti Didik Mangkuprojo (ini saya kenal), Hunter Parabola, Adenan, Lutfi (teman main di Galajapo) dan Insaf Andi Lah Yaw. O, ya, dan Cak Kobar, anak muda berambut brukoli yang menjadi moderator acara, yang tidak lain juga pembawa acara Becak (Berita Kocak) JTV (TV-nya Jawa Pos). Saya menonton TV sangat saya batasi, sehingga juga tidak pernah mengenali Cak Kobar. Ternyata orang akrab berbaju putih yang agak gundul tadi yang punya gawe siang itu, HM Cheng Ho Djadi Galajapo.

Dia membuka acara dengan kidungan: “Semangka siji sega dijangkepi, sing teka dina iki takdongakna akeh rejeki”. Meskipun profesinya kental sebagai pelawak, dengan menerbitkan buku ini dia tidak guyon, meskipun bukan sastrawan beneran dia serius menerbitkan bukunya. Artinya isinya benar dan jujur. Lalu dengan terampil dia menyampaikan terimakasih atas kedatangan dan jasa-jasanya “memberdayakan” grup pelawak Galajapo. Terampil, cekatan, bebas tanpa ikatan tradisi, bergairah dan lucu. Bicaranya disela pihak lain ya ditanggapi dengan enak, kreatif, cerdas dan lucu. Ucapan terimakasih ditujukan kepada Jawa Pos (a.l. Wawali Surabaya Arif Afandi, Sam Abede Pareno, Kurniawan Muhammad) dan para tamu yang hadir, masing-masing disebut namanya dan jasanya. Misalnya Abah Kartolo disebut sebagai gurunya yang paling senior (karena itu dipanggil Abah).[]

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)

Sunday, 21 September 2008

Djadi Galajapo Bercinta di Hotel Kumuh


Hidup terpisah dengan istri memang tidak enak. Karena itu, begitu punya kesempatan, tak peduli di hotel kecil dan kumuh, hasrat sebagai pelampiasan rindu pun ditumpahkan. Kisah pilu tersebut mewarnai perjalanan hidup Djadi Galajapo sebelum meraih sukses dengan agenda pentas yang cukup padat seperti sekarang. Tanpa malu-malu, pria kelahiran Cerme, Gresik ini membeber habis seluruh liku-liku hidupnya dalam sebuah buku yang diberi tajuk Neraka Wail dan Kue Terang Bulan.

Buku setebal 148 halaman yang ditulis Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad ini dirilis, Jumat (12/9) lalu. “Buku ini sebagai pelengkap cita-cita saya yang ingin ada seniman lokal tapi punya gaung dan bisa dicatat sampai ke tingkat nasional,” ujar pria yang akrab disapa Djadi ini usai peluncuran bukunya.

Untuk bisa dikenal di tingkat nasional, Djadi yang sepulang menunaikan ibadah haji melengkapi namanya jadi HM Cheng Ho Djadi Galajapo ini kukuh tetap bertahan di Surabaya. “Untuk terkenal tidak harus pindah ke Jakarta. Bagaimana pun saya tetap akan mengibarkan bendera di Surabaya,” tandasnya.

Bukan berarti Djadi anti Jakarta yang diimpikan banyak orang untuk menggapai sukses. Terbukti, pria yang pernah malang melintang di sejumlah radio di Surabaya macam RRI dan RGS (Radio Gelora Surabaya) ini sempat nekad naik kereta api kelas ekonomi sekadar untuk bisa tampil di layar TVRI Pusat Jakarta.

“Tapi, untuk menetap hidup dan mengadu peruntungan sebagai artis (pelawak) di Jakarta, saya tegaskan: Tidak!” cetus Djadi sambil meyakini Tuhan tidak menurunkan rejeki berdasar tempat tinggal, tapi kesungguhan hati seseorang.

Memang tidak mudah. Berbagai terobosan dilakukan, antara lain dengan menggeber aksi melawak nonstop enam jam enam menit enam detik. Jebolan IKIP Negeri Surabaya yang lahir tanggal 8 Maret 1965 ini juga melontarkan gagasan melakukan donor darah sambil melawak. [Pra]


SURYA
Monday, 22 September 2008

Friday, 19 September 2008

Buku Neraka dan Terang Bulan


LUCU dan religius, itulah yang sepintas tertangkap pada sosok Sudjadi. Tak banyak yang mengenal nama ini. Sebab, pria ini lebih dikenal dengan nama Djadi Galajapo, pelawak yang sering tampil jadi MC itu. Belakangan, namanya lebih panjang, HM Cheng Ho Djadi Galajapo.

Pria kelahiran dusun Leker Rejo, Dadap Kuning, Cerme, Gresik, itu kemarin meluncurkan sebuah buku yang diberi judul Neraka Wail dan Kue Terang Bulan di Metropolis Room, Graha Pena. Buku yang ditulis Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad tersebut bercerita tentang perjalanan pelawak itu.

Karena yang punya gawe pelawak, yang datang juga banyak pelawak. Antara lain, Kartolo, Didik Mangkuprojo, Hunter Parabola, Adenan, dan rekan Djadi di Galajapo, Lutfi dan Insaf Andi Lah Yaw. Maka, kelakar dan ger-geran pun tak terhindarkan.

Selain mereka, hadir juga seniman dan budayawan Jawa Timur. Antara lain Kadaruslan, Sam Abede Pareno, Bonari Nabobenar, Suparto Brata, dan masih banyak lagi.

Sosiolog Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, dan aktor Republik Mimpi menjadi pembahas buku terbitan JP Books itu. Sedangkan Cak Kobar, pembawa acara Becak (Berita Kocak) JTV bertindak sebagai moderator.

Djadi memberikan sambutan pembukaan dengan pantun. ''Semongko siji sego dijangkepi. Seng teko dino iki, tak dongakno akeh rejeki,'' katanya disambut tepuk tangan undangan.

Sam Abede Pareno ikut memberi sambutan. Menurut dia, Jawa Pos punya andil dalam kelahiran Galajapo. Saat itu, sekitar tahun 80an, tak banyak pelawak Surabaya yang bisa berbicara di tingkat nasional. Karena itu, Jawa Pos mengadakan semacam audisi pelawak. ''Di situlah kita menemukan Djadi, Priyo, dan Lutfi,'' kata Sam, yang waktu itu redaktur Jawa Pos.

Ketiga orang itu, lanjut Sam, punya karakter kuat. Kemudian, muncul ide menggabungkan mereka dalam satu kelompok. ''Namanya Galajapo, singkatan dari Gabungan Lawak Jawa Pos,'' katanya.

Beberapa pelawak yang diberi kesempatan tampil, mengutarakan kesan-kesannya terhadap Djadi. Tentu saja lengkap dengan kelucuannya. Misalnya, Lutfi. Djadi, menurut dia, merupakan pribadi yang nekat. ''Tiap kali manggung, Djadi tak pernah gugup,'' katanya. ''Pernah, saya dan Priyo tak berani manggung duluan. Padahal, kami sudah ditunggu. Tapi, Djadi langsung bilang, dia akan tampil duluan. Dia memang tampil dulu, dan nggak lucu, karena memang kurang persiapan,'' lanjut Lutfi.

Dalam keseharian, Djadi sering bertingkah konyol. Tingkah itu terus berlanjut meski sudah menikah. Waktu itu, Djadi belum pernah merasakan durian. Kebetulan, di rumah mertuanya ada buah durian. ''Buah itu dimakan Djadi. Kaget enaknya rasa durian, Djadi langsung menelepon saya. Djadi bilang, aku baru ngrasakno enake duren. Aku mari mangan, nyolong nggone mertuaku,'' katanya.

Pelawak senior Kartolo juga memberikan kesan. Saat berjalan ke panggung, Djadi memberikan komentar pada guru lawaknya itu. ''Ini adalah pelawak senior yang sangat kondang dan sudah melanglang buana ke berbagai panggung. Guru dari banyak pelawak dunia,'' katanya. Kartolo perlahan mendekatinya.''Iku lambe opo kitiran,'' katanya.

Kartolo mengaku bangga dengan peluncuran buku tersebut. Sebab, itu langkah bagus bagi seorang pelawak. ''Saya juga mau meluncurkan buku. buku utang piutang,'' katanya disambut tawa.

Judul Neraka Wail dan Kue Terang Bulan itu, menurut Djadi, diambil dari pengalamannya. Saat masih muda, kakeknya melarang jadi pelawak. ''Dia bilang, mosok koen mudun masjid mari ngono ndagel,'' katanya.

Djadi disuruh berhenti melawak. Tapi, dia tetap melawak. Pernah, dia melawak ketahuan kakeknya. Djadi dimarahi, bahkan dipukuli. ''Wong sing ndagel iku panggone nang neroko wail. Aku gak gelem nduwe putu nang neroko wail,'' kata Djadi menirukan ucapak kakeknya.

Tapi, dia punya kiat. Tiap kali melawak, dia menyelipkan pesan-pesan dakwah. Suatu ketika, dari honor melawak dia belikan kue terang bulan. Suatu pagi, dia suguhkan kue tersebut sebagai teman minum kopi kakeknya. Sang kakek pun menghabiskan kue tersebut.

''Koen tuku terang bulan duweke oleh teko endi,'' tanya kakeknya. Djadi menjawab dari hasil melawak. Sebelum kakeknya marah, Djadi memeluk kakeknya dan berjanji, tiap kali melawak dia akan menyelipkan pesan-pesan dakwah. (aga/cfu)

Jawa Pos [Sabtu, 20 September 2008]

Orang Miskin Banyak yang Mati Orang Korupsi Banyak yang Sakit


Pada bulan Puasa yang seharusnya jadi bulan penuh berkah ini, kita masih saja menyaksikan banyak musibah, dan dan sebagian dari warga bangsa (Indonesia) ini pulalah yang menjadi korban. Setelah berbagai kecelakaan lalulintas laut, udara, darat, yang merenggut sebegitu banyak korban, kecelakaan kerja berupa kejatuhan atap baja (Jawa Tengah), dan terjatuh dari gondola yang putus talinya (Jakarta), kita lagi-lagi dikejutkan oleh tewasnya 21 perempuan di arena pembagian zakat. Duh!

Ada pula yang masih memungkiri bahwa kematian 21 perempuan di Pasuruan itu bukan semata-mata akibat kemiskinan. Lalu apa kira-kira ya, jika bukan kemiskinan faktor utamanya? Orang mau berdesak-desakan di bawah terik matahari, dan membiarkan diri yang siap ’’tangan di bawah’’ (menjadi pihak yang diberi) dan dilihat banyak orang untuk mendapatkan uang sekitar Rp 30 ribu –Rp 40 ribu. Anda bisa mencari jawabannya sendiri.

Tetapi, ada pula lho, pihak-pihak yang khawatir jika kita langsung menuding kemiskinan sebagai biangnya. Sebab, kita sedang disuguhi informasi bahwa angka kemiskinan menurun. Tetapi, njlekethek-nya, ndilalah-nya, musibah itu terjadi, nyawa melayang untuk Rp 30 ribu. Itu seharga nasi pecel di warung ’kita’ yang ada di kawasan Causeway Bay itu ya? Padahal, dulu-dulu, setidaknya sebelum angka kemiskinan diturunkan, paling-paling ada korban jatuh pingsan satu dua orang dalam antrian pembagian zakat seperti itu. Kali ini, mati, dan jumlahnya tak hanya seorang dua orang, melainkan dua puluh satu orang. Dan mereka semua perempuan!

Korban mati 21 orang, itu angka yang luar biasa banyaknya. Tetapi itungan korban tak berhenti di korban mati. Salah seorang korban mati itu misalnya, meninggalkan 3 orang anak kecil-kecil yang menjadi piatu setelah kakek, kemudian ayah mereka, meninggal hampir secara berurutan tak lama sebelum kemudian disusul ibu mereka.

Orang kaya berderma, bersedekah, berzakat, itu memang sudah kewajiban mereka. Tetapi, kalau boeh disebut sebagai pelajaran yang sangat mahal, peristiwa arena pembagian zakat yang menjadi padang maut seperti di Pasuruan itu mesti pula segera disusul dengan kesadaran bahwa cara-cara mengundang massa seperti itu kini sudah bukan zamannya lagi. Kalau memang mau memberi, antarkanlah pemberian itu ke alamat masing-masing penerimanya. Tak bisa melakukannya sendiri, pasti ada orang-orang tepercaya yang bisa melakukannya. Atau menyerahkannya ke lembaga zakat yang tepercaya.

Seorang wartawan di sebuah kota di Jawa Timur yang punya pengalaman meliput aksi bagi zakat yang menjadi tradisi tahunan sebuah keluarga kaya di kotanya mengaku, ’’Begitulah memang, walau sudah mulai ada yang ngantre, si pemilik hajat (tuan rumah yang membagikan zakat, Red.) itu biasannya belum akan memulai membagikan zakat kalau belum ada wartawan yang datang.’’ Nah, kan? Lha niyatnya ngibadah atau pamer?

Naudzubillah! Tampaknya masih saja ada orang yang merasa senang ketika menyaksikan massa yang berbondong-bondong dan berdesak-desakan untuk mendapatkan uang receh yang ’disebarkan.’ Perasaan senang (pengalaman sensasional) seperti itulah tampaknya yang juga mengilhami dilakukannya penyebaran uang kertas dari ketinggian tertentu (memakai helikopter?) di Tangerang beberapa waktu lalu. Masya-Allah!

Ini juga pelajaran bagi lembaga-lembaga zakat yang selama ini kurang mendapatkan kepercayaan untuk menunjukkan kinerja yang bagus, yang transparan, sehingga kecurigaan-kecurigaan masyarakat semakin pupus.

Demikianlah, orang miskin banyak yang mati. Dan orang korupsi sering sakit, sesering mereka dipanggil untuk disidang! [Bonari Nabonenar]

intermezo edisi sept 08

Pelawak Djadi Galajapo Luncurkan Buku "Neraka Wail"

Masuki M Astro

Surabaya (ANTARA News) - Pelawak senior Surabaya, HM Cheng Hoo Djadi Galajapo meluncurkan buku biografi yang ditulis Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad berjudul "Neraka Wail dan Kue Terang Bulan" di Surabaya, Jumat.


Peluncuran buku yang dihadiri sejumlah seniman dan pelawak itu diisi dengan diskusi menghadirkan dua sosiolog dari Unair, Bagong Suyanto dan Suko Widodo.

Karena tokohnya pelawak, maka acara itu penuh dengan lelucon, meskipun Djadi sendiri yang saat itu didampingi isteri dan dua anaknya sempat mengutarakan bahwa kali ini dirinya ingin serius.

"Saya ini sudah puluhan tahun melawak, maka izinkan kali ini untuk serius," kata pria kelahiran Gresik pada 8 Maret 1965 yang pendidikan terakhirnya ditempuh di IKIP Negeri Surabaya itu.

Ia mengemukakan bahwa judul buku itu memiliki sejarah mengenai awal perjalanan kariernya sebagai pelawak. Menjadi pelawak bagi anggota grup lawak Galajapo itu bukan pilihan yang mudah.

Gara-gara melawak itu, bahkan dirinya kemudian diputus cinta oleh pacarnya yang berasal dari Nganjuk. Namun ia kemudian berkelakar dan mengaku bersyukur karena dengan konsisten melawak ia memiliki jodoh juga dari Nganjuk.

"Mengenai neraka wail, itu juga sejarah perjalanan saya. Saya waktu itu dimarahi sama kakek saya karena melawak. Katanya, melawak itu akan masuk neraka wail," ujar pelawak yang seringkali merangkap sebagai dai itu.

Bahkan, katanya, karena saat itu melawan, ia sempat dilempar dengan sapu lidi oleh sang kakek. Namun ia tetap nekat untuk melawak karena melihat bahwa seorang penceramah agama juga seringkali menyelipkan lawakan.

"Kemudian saya ingat-ingat ceramah mereka dan salah satu yang saya ingat adalah lafal `innasholaatii wanusuki wamahyaaya wamamaatii lillaahirobbil `aalamiin` yang artinya sesungguhnya salatku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Swt," katanya.

Manurut dia, lafal itulah yang selalu dibawanya setiap melawak. Sampai suatu ketika ia mendapatkan honor dari melawak itu dan kemudian dibelikan kue terang bulan untuk "menyogok" sang kakek agar tidak lagi melarang dirinya untuk melawak.

"Kakek saya senang dan kemudian bertanya uangnya dari mana? Saya jawab dari `ndagel` (melawak). Kakek saya marah lagi, tapi saya jawab bahwa saya melawak sambil berdakwah," katanya.

Sementara Bagong Suyanto mengatakan bahwa Djadi adalah pelawak yang memiliki kelebihan karena mampu memadukan dengan ilmu dai bahkan guru karena lulusan IKIP.

"Saya kira kalau mau eksis memang harus mau menyapa kelompok lain di luar diri kita. Mas Djadi sudah bagus karena juga bisa menjadi dai. Apalagi ditambah juga sebagai guru," katanya.(*)


Antara Jatim
19/09/08 18:06

Friday, 5 September 2008

Pengin Luwih Jawa?


Mangga berlangganan Majalah Jaya Baya (di Pulau Jawa). Basane Jawa tenan, lho. Carane? Kirimkan uang sebesar Rp 134.000 (untuk berlangganan selama 3 bulan) ke rekening BCA No 519.005855.9 a.n PT Jayabaya Prabu Gendrayana.

Kirimkan bukti transfer dan data pribadi (alamat pengiriman) via fax +6231 8292930 atau via email: jayabayared@gmail.com
Majalah akan kami kirimkan ke alamat saudara.

Terima kasih
Redaksi

Untuk info lebih lanjut, sumangga menghubungi jururepotipun:
Mbak Wuwuh Rahayu, ing tombol: +6231 8292 930