Friday, 26 June 2009

’Memilih’ Tidak menjadi Kaya

Jika yang dimaksud kaya adalah berkelimpahan harta-benda, maka bagaimana kita mendapatkannya? Buku-buku mengenai cara cepat atau cara gampang menjadi kaya terbit di mana-mana, beredar di sekitar kita. Tetapi, banyak orang, dan kita berada di antaranya? – masih saja merasa sebegitu susahnya menjadi kaya.


Lalu ada yang memilih bersicepat menyimpulkan bahwa menjadi kaya adalah urusan nasib. Kerja keras? Banyak orang miskin bekerja lebih keras daripada orang kaya. Juga, kalau pinter mengatur keuangan adalah kunci utama untuk menuju pintu gerbang kekayaan, boleh kita lihat betapa banyak orang bisa menyeramahi orang lain mengenai teknis pengelolaan keuangan yang ternyata lebihmiskin daripada yang diceramahi.

Tampaknya, orang menjadi kaya dengan dukungan sekian banyak faktor, dan memang, tak boleh disepelekan adalah faktor nasib itu. Faktor kesempatan juga. Kalau sudah terlahir dari keluarga kaya-raya ternyata kemudian tumbuh menjadi orang miskin, itu soal nasib juga.

Kekayaan, sekali lagi kekayaan harta-benda, telah kita pandang sebagai segala-galanya. Dan di pihak lain, memang, kemiskinan adalah persoalan terberat bangsa kita. Sampai-sampai dalam sebuah debat cawapres beberapa waktu lalu keluar pernyataan lebih-kurang begini, ’’Apa pun ideologinya, kalau rakyat sejahtera tidaklah akan timbul banyak masalah.’’

Nah! Sejahtera. Anggapan bahwa kesejahteraan adalah sesuatu yang tidak mungkin tumbuh di dalam kemiskinan pastilah mengandung lebih banyak kebenaran. Tetapi, seperti juga ditunjukkan banyak lakon sinetron, dan kehidupan nyata para kayawan dan kayawati (untuk menyebut orang-orang yang berkelimpahan harta) mengajarkan kepada kita bahwa kesejahteraan juga bisa mengerdil di tempat yang sangat jauh dari kemiskinan.

Maka, sungguh terburu-buru mengambil pilihan ini: menikah dengan orang kaya setelah Yang Mahakuasa menentukan kita lahir di dalam keluarga yang tidak kaya, dengan maksud untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sejahtera. Nah, ini lagi. Ternyata sejahtera itulah yang berada di tataran yang lebih tinggi dari sekadar kekayaan. Artinya, orang memimpikan kekayaan untuk mendapatkan kesejahteraan. Jadi, impian terakhir kita sebenarnya adalah kesejahteraan. Dan kalau kalimatnya diperpanjang adalah: … kesejahteraan dunia-akhirat.

Ada seorang teman yang buku tabungannya sudah sedemikian tebal, tetapi ia masih saja gelisah mengenai masa depannya. Banyak hal yang membuatnya gelisah, yang membuatnya tidak bisa merasa cukup nyaman dan bahkan cukup aman dalam menapaki kehidupan ini. Sedangkan teman lain yang saldo tabungannya kira-kira hanya cukup untuk membuka warung pulsa kecil-kecilan setelah pulang kampung kelak ternyata lebih ceria.

’’Saya merasa senang bisa melihat anak-anak menyelesaikan sekolah mereka dengan baik, salah seorang di antaranya sudah sarjana malah. Saya sungguh bahagia melihat orangtua saya merasa bahagia, dan selalu merindukan saya. Saya tidak pernah menghitung berapa dolar kukirimkan kepada mereka. Saya tidak pernah berpikir apa yang akan menjadi balasan bagi saya kelak. Saya hanya tahu hidup saya sungguh berarti bagi mereka, dan bagi diri saya sendiri. Saya percaya kepada Yang Mahamengatur. Dan tak pernah sedikit pun saya merasa khawatir bahwa saya akan menjalani hari tua yang menyedihkan. Saya menikmati. Saya senang dengan buku tabungan saya yang tipis, saldo yang jika saya sebut untuk orang yang mengetahui telah berapa tahun saya mengais dolar di negeri orang ini pastilah tidak akan dipercaya.’’

Begitulah kira-kira apa yang ada di benak kawan kita yang sudah merasa sejahtera sebelum menjadi kaya itu. Maka, kalau tidak menjadi kaya, kenapa? [nde]