Wednesday, 23 December 2009

Membina(sakan) Kesenian Tradisional

Berbagai jenis kesenian tradisional kita keadaannya semakin menyedihkan. Di Surabaya, ludruk sudah hampir tamat. Untung masih cukup berjaya di Mojokerto, Jombang, dan sekitarnya. Ketoprak juga nyaris, kalau bukannya sudah: tamat. Wayang orang, apalagi! Dan sekian banyak jenis kesenian tradisional, seperti: kentrung, terbang jedhor, kuda lumping, reog, dongkrek, dan sebagainya, seolah-olah sudah tinggal di dalam museum tanpa perawatan yang memadai. Tragisnya lagi, museum itu bernama: masyarakat pendukungnya sendiri!


Kita lalu marah bukan main ketika mengetahui ada gelagat atau tanda-tanda bahwa kesenian tertentu diakui sebagai milik bangsa lain. Tetapi, kita sering hanya tampak seolah-olah berupaya, berjuang, untuk membuat keadaan kesenian tradisional itu lebih baik. Ada beberapa gambaran menarik terkait upaya yang menurut hemat saya hanya lebih tampak sebagai upaya ’seolah-olah’ mendorong perkembangan dan memerkuat kedudukan kesenian tradisional, tetapi sesungguhnya cenderung membina… sakan!

Suatu saat, seorang kawan mengirimkan kabar: ’’Ini saya sedang berada di TMII (Taman Mini Indonesia Indah), sedang menonton pagelaran kesenian (tradisional) dari kampung halaman (kabupaten, Bon.) saya. Wah, seru deh! Ada bupatinya, gubernurnya, dan ada pula duta besar negara sahabat ikut menyaksikan langsung. Saya benar-benar bangga….’’

Dalam posisi demikian, saya bisa juga bangga, tetapi segera bertanya: Dalam hal kesenian dari daerah dipentaskan di Jakarta seperti itu, ditanggap (segala ongkos ditanggung Jakarta) ataukah atas nama promosi dan sejenisnya yang biayanya ditanggung oleh mereka (daerah) yang sudah berpeluh-peluh itu? Tak lama kemudian saya pun mendapatkan jawaban bahwa ternyata yang terjadi adalah proyek promosi. Daerahlah yang membiayainya. Dan, siapa yang mendapatkan keuntungan lebih banyak, termasuk secara material dari tiket masuk TMII itu?

Promosi, apalagi jika harus membayarnya dengan mahal, tentu tidak harus selalu ke Jakarta. Menyelenggarakan festival di masing-masing daerah, menggelar pelatihan, mengirimkan para pelaku seni untuk mengikuti kegiatan-kegiatan demi peningkatan kualitas kesenimanan mereka, dan mengadakan kegiatan penguatan/pemberdayaan terhadap sanggar-sanggar atau komunitas-komunitas kesenian tentu akan jauh lebih bermanfaat.

Dan jangan lupa, bangun website (laman) yang isinya memadai. Kalau tidak bisa membeli domain yang berbayar, pakai yang gratisan juga bisa, kan? Ini tampaknya perlu uluran tangan pihak-pihak yang mau peduli, karena sebagian besar pelaku kesenian tradisional belum melek teknologi informasi.

Untuk memromosikan kesenian tradisional ke luar negri secara murah-meriah, kita bisa menggunakan jasa para TKI kita yang bekerja di luar negri, terutama: Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong. Saya melihat di Hong Kong, beberapa komunitas kesenian yang dibentuk oleh para perempuan pekerja rumah tangga asal Indonesia dengan sukarela, tanpa dibiayai pemerintah, menampilkan berbagai jenis kesenian tradisional kita: gemblukan, kuda lumping, dan banyak tarian khas daerah. Mereka juga ambil bagian, misalnya, dalam Festival Wan Chai, yang tentunya digelar oleh pemerintah setempat. Maka, kalau kita mau memberikan sebentuk perhatian, sedikit sajalah, buat mereka, pastilah hasilnya akan jauh lebih menggembirakan.

Kembali ke soal festival, selain berpotensi didatangi orang dari luar daerah (menjadi promosi wisata), festival juga akan merangsang terciptanya efek (positif) karambol bagi sektor lain, misalnya sektor perekonomian. Maka, kalaulah harus mahal, uang yang dikeluarkan untuk sebuah festival akan beredar di daerah setempat, dan bukannya masuk ke kantong pusat (baca: Jakarta).

Mengirimkan seniman dadakan untuk acara-acara di luar daerah atau di luar negri bisa pula menimbulkan akibat yang tidak baik terhadap kehidupan seni tradisional. Dengan demikian, terkesan para seniman dadakan difasilitasi, sementara para seniman asli-nya hanya bisa gigit jari. Para dalang di kampung juga sering mengeluhkan bahwa, kalau untuk acara Agustusan yang minim dana, mereka dikerahkan. Tetapi, giliran ada acara yang ’basah’ diundanglah dalang terkenal.

Ada contoh yang masih hangat, dalam peringatan Hari Jadi Jawa Timur beberapa waktu lalu bukan dalang lokal (Jawa Timur) yang ditanggap, melainkan Ki Anom Suroto dari Solo. Dan tentunya, yang dimainkan adalah wayangan gaya Jawa Tengah (Surakarta). Hal demikian mencerminkan tiadanya rasa bangga sebagai wong Jawa Timur yang memiliki seni pakeliran wayang gagrag Jawa Timur, bukan?

Jangan-jangan, Panitia Hari Jadi Jawa Timur memiliki pola pikir yang sama dengan sebagian masyarakat (seperti pernah dituturkan seorang dalang) bahwa pakeliran gagrag Jawa Tengah itu lebih mriyayeni karena bahasanya yang ’halus’ sedangkan pakeliran gagrag Jawa Timur itu ’kasar’. Jika demikian halnya, sadar atau tidak, sedikit-banyak mereka telah ambil bagian dalam (upaya) membinasakan kesenian tradisional bernama: Pakeliran Wayang Gagrag Jawa Timur. [bonarine@gmail.com]


Kompas Jatim, Selasa, 22 Desember 2009

Thursday, 17 December 2009

CINCIN BERNAMA

Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan. Bahkan tampilan fisiknya boleh disebut kusut. Gondrong sebahunya pasti hanya sesekali disisir dengan jemari tangannya. Dan ketika hidungku hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya, tak ada yang bisa tertangkap selain aroma keringatnya yang berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat. Ia laki-laki yang selalu berasap.

Ia juga susah dimasukkan ke dalam kelompok laki-laki supel yang gampang akrab. Bahkan aku baru bisa bercakap-cakap dengannya dalam arti yang sesungguhnya setelah nyaris putus asa. Hari pertama, aku hanya mendapatkan senyuman hambarnya. Aku belum mendapatkan sedikit pun alasan untuk tertarik padanya. Hari kedua, kami baru berjabat tangan, dan kusebut namaku, dan ia sebut namanya

"Ouw, aku sudah kenal nama itu. Kau cukup banyak menulis artikel seputar persoalan perempuan, kan?"

Aku sedikit terkejut, padahal sudah menduga sebelumnya jika ia akan berkomentar seperti itu setelah kusebut namaku.

"Aku juga cukup banyak membaca tulisan-tulisanmu," kataku, yang kemudian dia sambut dengan ucapan terima kasih. Padahal, di dalam hati aku berkata, "Sayang, kau tak sehangat tulisan-tulisanmu. Kupikir kau orangnya hangat, menarik, tak akan pernah kehabisan bahan cerita. Eh, ternyata nyaris gagap di "darat"! Laki-laki yang tidak menarik!"

Tetapi kekecewaanku lebih dari sekadar terobati ketika menyaksikan penampilannya di depan forum. Di antara moderator dan tiga orang pemakalah yang dipanelkan di dalam sesi itu, ia benar-benar jadi bintang. Tiba-tiba aku melihat dia dengan wajah baru, dengan kesegaran baru, dengan semangat baru. Dia tidak lagi gagap, bahkan terkesan garang, walau tidak segarang tulisan-tulisannya yang selama ini aku kenali (catatan: kemudian aku tahu bahwa sekian banyak tulisannya tidak aku kenali sebagai tulisannya karena dia menulis dengan beberapa nama samaran). Tiba-tiba aku melihat auranya menjadi sedemikian cemerlang. Ia menjadi sangat menarik, bahkan sangat merangsang! Aku pun kasmaran. Benar sekali kata Diat, temanku, bahwa bagian tubuh paling seksi itu adalah otak!

Maka, begitu ia turun dari tempatnya, aku ikutan menghambur untuk menyalaminya, mengucapkan selamat atas kesuksesannya sebagai pembicara, dan yang paling penting adalah memuaskan diri, menghisap aroma keringatnya yang tak jadi soal lagi walau berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat itu. Ini hari keempat. Dan pada hari keenam, aku harus sudah meninggalkan kota dengan segudang sebutan ini: Kota Budaya, Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota "Seks in the Kost".*)

Hari kelima, waktu istirahat dan makan siang, aku sudah menjadi akrab dengannya. Dari sorot matanya aku tahu betul bahwa diam-diam ia pun mengagumiku. "Pertanyaanmu tadi sangat cerdas," pujinya. Aku tidak terkejut, tetapi sedikit kecewa. Aku ingin ia bilang aku cantik. Ah!

Lalu kami berdiskusi sambil makan, minum, dan sebentar kemudian ia menjadi laki-laki berasap. Rokoknya sambung-menyambung. Tetapi anehnya, aku makin kerasan berada di dekatnya. Waktu pun seperti makin bersicepat. Hanya tinggal satu hari satu malam kesempatan tinggal di tempat yang sangat menyenangkan ini.

"Setelah ini inginmu masuk ke ruang apa?" tanyaku tiba-tiba, dan aku pun kaget sendiri, membayangkan dia tahu persis apa motivasi pertanyaan itu.

"Sebenarnya aku sudah sangat jenuh. Mereka hanya mengulang-ulang kalimat-kalimat lama. Persoalan-persoalan lama. Lagu lama. Aku sih pengin jalan-jalan saja. Esok sudah hari terakhir. Tapi…."

"Boleh aku ikut?"

"Oh, ya? Sebenarnya aku mau ajak Titok, tetapi dia pulang tadi pagi, ditelepon istrinya. Katanya ada sesuatu yang penting yang mesti cepat ia selesaikan."

"O, Titok yang dari Solo itu, ya?"

"Ya. Kenal dia?"

"Kenal, terutama dari tulisan-tulisannya."

"Ya, aku juga suka membaca tulisan-tulisannya. Aku juga baru mengenalnya secara langsung di sini, terutama karena harus sekamar dengannya."

Sebentar kemudian kami sudah berada di sebuah taksi. Keliling kota. Turun di warung ikan bakar, makan sama-sama, lalu jalan kaki sama-sama. Lelah, naik taksi lagi, turun, jalan-jalan lagi, begitu entah sampai berapa kali ganti taksi. Lalu, tiba-tiba kami sudah berada di pusat kota. Orang bilang, belumlah sempurna mengenal kota ini tanpa pernah menyusuri jalan yang satu ini.

Jika aku ingin memberimu tanda mata, apa yang kauinginkan?" demikian pertanyaannya, sangat mengejutkanku! Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah jawaban spontanku, "Cincin!"

Oh, ya?"

"Tapi bukan cincin emas. Aku menginginkan sebentuk cincin perak. Kau mau membelikannya untukku? Lalu, sebagai kenang-kenangan dariku, apa yang sebaiknya kubeli untukmu?"

"Cincin."

"Ha?"

"Aku sudah punya cincin emas, aku juga ingin punya cincin perak, yang di lingkar dalamnya terukir namamu."

"Hah…?"

"Apakah permintaanku berlebihan?"Aku tidak memberikan jawaban berupa kata-kata untuk pertanyaan itu. Tetapi kemudian aku penuhi permintaannya dan dipenuhi pula permintaanku. Kami, masing-masing mendapatkan sebentuk cincin "bernama". Ada namaku pada cincin yang kubeli untuknya, dan ada namanya pada cincin yang dia beli untukku. Aku merasa sangat senang, jika terlalu berlebihan untuk disebut bahagia. Rasanya seperti ketika waktu kanak-kanak dulu mendapatkan baju baru, atau hadiah menarik dari ayah atau ibu. Hatiku berbunga-bunga. Bunga warna-warni: merah, kuning, putih, biru. Aku hampir saja melompat ke dadanya yang kerempeng itu. Coba, jika benar itu kulakukan dan kemudian ia terjengkang dan terkapar dalam keadaan aku bertahta di atas dadanya, betapa konyolnya. Hahaa, sebenarnya aku ingin mengatakan, "Betapa dramatiknya!"Kemudian tibalah saat yang menyedihkan itu. Acara berakhir, dan aku harus berpisah dengannya.

"Kau selalu di hatiku," gombalnya.

"Ah, terlalu dalam.

Aku ingin berada di atas dadamu saja," lucuku.

Tetapi dia tidak tertawa. Aku juga. Kami benar-benar bersedih.

"Jangan bosan-bosan membalasnya, aku akan rajin mengirimimu SMS," pintanya.

"Tentu. Bisa jadi aku akan lebih rajin mengirimimu."

"Ya, kirimkan rindumu padaku."

"Tentu!"

Di bandara kulihat matanya berkaca-kaca. Sayang, kami harus menaiki pesawat yang berbeda. Ada keharuan yang mendesak-desak ketika kami saling melambaikan tangan. Sama-sama melambaikan tangan kiri, sekalian untuk saling meyakinkan bahwa kami memakai cincin bernama itu di jari manis kami. Aku yakin dia tidak sedang berbasa-basi. Seperti aku, tidak sedang berbasa-basi.

Kini, aku sedang melayang-layang menyibak gugusan awan, lalu menukik tajam, bagai tersedot mulut jurang tanpa dasar itu: cinta!Berlama-lama aku memandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manisku ini. Lalu kulepas, kupandangi deretan huruf di lingkar dalamnya, sebelum kemudian kupakai lagi, kulepas lagi, kupakai lagi… Pikiran dan perasaanku menjadi sangat sibuk. Seolah aku sudah tidak kuasa mengendalikan diri. Tiba-tiba aku sudah menyalakan komputer.

"Thing, thung, thing…." Ouw! Itu suara ponselku jika menerima SMS.

"Aku mulai gelisah, cemas, dan merasa kesepian.

Aku merindukanmu!"

"Oh, aku juga."

"Aku yakin, aku sangat mencintaimu."

"Rasanya, aku juga."

"Oh, ya? Kita menikah saja, ya?"

"Hm, secepat ini kaubuat keputusan? Aku takut kau sedang mabuk."

"Mabuk? Aku tak suka minum."

"Mabuk asmara, maksudku."

"Ah, percayalah padaku."

"Aku percaya. Tetapi kapan kita akan menikah?"

"Sekarang juga!"

"Ha…? Sekarang…?"

"Ya. Kunikahi kau dengan segenap cintaku. Tak sabar lagi aku untuk memanggilmu sebagai istriku."

"Ya, kuterima cintamu. Aku bersedia menjadi istrimu, suamiku!"

"Oh, istriku….!"

"Ya, suamiku…!"

"Chpmshshmmmm…..!"

"Mmmmuach…!"Lagi, di depan komputer, berlama-lama kupandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manis ini. Lalu, kulempar ke dalam keranjang sampah sekantung cincin bernama yang kubangga-banggakan selama ini. Dan sambil sesekali membalas SMS "suamiku", aku pun mulai menulis, "Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan…."


2004

*) Seks in the Kost, judul buku karya Iip Wijayanto (Penerbit Tinta, Jogjakarta, 2003).

Cerpen ini pernah dimuat di Jawa Pos

Saturday, 12 December 2009

TAK BERDAMPAK SISTEMIK

dipastikan tak berdampak sistemik
jika orang kecil bangkrut
dan menjerat leher sendiri dengan kawat
sebab untuk urusan rezeki dan maut
tuhan pun dikambinghitamkan


dipastikan tak berdampak sistemik
jika ibu putusasa membuang bayinya
sebelum menamatkan diri dengan minum obat serangga
sebab orang bisa matidini atau matitua

dipastikan tak berdampak sistemik
jika anakmuda memilih kehilangan ingatan bersama narkoba
daripada menatap masa depan mereka yang gelap gulita
sebab mereka hanya angka di dalam statistik
bisa diatur dengan sedikit utakatik

dank karena dipastikan tidak berdampak sistemik
tak diperlukan talangan perhatian buat mereka


Desember 2009

Saturday, 5 December 2009

KENANGAN

: trenggalek

terkutuklah jika kueja kenangan
hanya untuk kesenangan
sebab selembar gelap bisa lebih berharga
daripada pijar menyilaukan


mengapa kau batu
perempuanku
sebisu pasir
sebiru laut

ombak nyinyir bergenit-genit
seperti sengaja menyindir
anak pantai menahan sakit
kelelawar terusir
dari lorong bebatuan gigir bukit

katakanlah
sebab puisi paling gagal pun
cukup indah mengabarkannya
: kenangan yang tak enyah oleh seribu banjir


sebab selembar gelap bisa lebih berharga
daripada pijar menyilaukan
mari kita bernyanyi untuk makam
dan nama-nama yang ingin dilupakan
: ziarah kampung halaman


Desember 2009

Jawa Pos Minggu, 6 Desember 2009

LAKILAKI YANG MENYINTAI REMBULAN

lakilaki celaka
tertangkap basah mencuri selendang malam
segera dijebloskan ke dalam tahanan
sebelum sebulan
tertangkap basah melubangi atap ruangan
--katanya untuk melihat wajah rembulan
yang dicintainya


lakilaki celaka
kesepian siang malam
meratapi rembulan
tersangkut di dahan

Des 2009

Jawa Pos Minggu, 6 Desember 2009

Thursday, 26 November 2009

Karena Hidup Bukan Sinetron

Seorang gadis terlunta-lunta, menjalani hidup dengan beban penderitaan nyaris melewati batas yang mampu ditanggung seorang manusia. Kemiskinan, kekejaman ayah atau ibu tiri, dan perlakuan negatif kawan sebayanya mengisi hari-harinya. Tetapi, seperti lazimnya dongeng, pada akhirnya datanglah pertolongan, melalui tangan peri baik hati atau seekor katak penjelmaan pangeran tampan. Kisah pun diakhiri dengan peristiwa terbebasnya sang gadis dari segenap penderitaannya, memasuki dunia baru yang penuh dengan sukacita, termasuk di antaranya pernikahan sang gadis dengan pangeran tampan itu.

Tetapi, bagian ’sukacita’ itu, namanya juga akhir cerita, atau ending, biasanya hanya menempati beberapa paragraf atau sehalaman dua halaman dari sebuah buku yang tebal. Dengan menghentikan kisahnya, sang pendongeng sesungguhnya ingin mengabadikan momentum ’sukacita’ itu. Sayangnya, kehidupan ini sendiri tidak bisa diperlakukan seperti itu. Kehidupan mesti berjalan terus, sampai batas waktu yang tan kinayangapa alias tak terjangkau akal manusia.

Maka, berkaitan dengan lakon besar dan paling menghebohkan dalam kehidupan bernegara kita belakangan ini –maaf jika di sini terpaksa digunakan istilah yang sesungghuhnya sudah dianjurkan untuk dilupakan: Cicak vs Buaya, kita mesti bersiap-siap untuk menerima sejenis kekecewaan, apa pun ujung kisahnya nanti.

Lakon Cicak vs Buaya memang layak disebut sebagai lakon besar bukan hanya karena ia menyangkut tokoh-tokoh besar di negri ini, melainkan juga hebat dramaturginya. Kualitas maupun kuantitas tokoh-tokohnya, alur yang sarat suspense, dan segala hal yang dibutuhkan untuk terpenuhinya syarat sebagai sebuah lakon besar ada padanya. Juga, jika kita menggunakan parameter yang sederhana: gelak tawa dan linangan airmata, kehormatan dan kehinaan, termasuk keterlibatan urusan: harta, tahta, wanita.

Seorang kawan malah berani mengatakan bahwa lakon besar kita kali ini dapat saja mengarah ke sebuah puputan, perang besar yang berakhir dengan sampyuh: mereka yang berhadap-hadapan atau kedua belah pihak sama-sama ’mati’ (tidak dalam pengertian harfiah). Kalau ada yang dapat disebut sebagai pemenang, boleh jadi ia atau mereka berada di pihak ketiga, keempat, dan seterusnya. Atau, jangan-jangan pihak lain itu pun (terkhusus: rakyat banyak) harus ikut menerima kekalahan pula. Dan itulah ending yang negatif (sad ending) yang tentu lebih dari sekadar mengecewakan.

Nah, bagaimana halnya jika yang terjadi kemudian adalah happy ending? Tadi sudah disinggung bahwa apa pun ujung kisah ini, karena ini terjadi di dalam kenyataan faktual atau di dalam kehidupan nyata dunia manusia, tetap saja ia berpotensi mengecewakan.

Adalah sebuah perang besar dalam kisah Mahabarata, Perang Baratayuda namanya. Perang besar yang dimulai dari meja judi itu menghadapkan dua kerajaan besar: Kerajaan Astina dengan Kerajaan Amarta, yang sebenarnya masih sedarah (sama-sama keturunan Barata). Dua wayang bersaudara kandung pun harus berhadap-hadapan dalam perang tersebut, yakni Raden Arjuna dengan Prabu Karna, berakhir dengan kematian sang kakak: Karna. Baratayuda juga disebut-sebut sebagai peperangan antara kejahatan (diwakili pihak Astina) dengan kebaikan (Amarta). Baratayuda adalah salah satu contoh kisah happy ending. Setelah mengalahkan musuh-musuhnya, Raden Wrekudara atau Sang Bima pun tayungan (menari, mengekspresikan kegembiraannya): kemenangan dan kesenangan yang sempurna? Bertanyalah kepada mereka yang kehilangan saudara, anak, dan suami. Bahkan, kejayaan Negri Amarta seusai Baratayuda adalah kejayaan yang sepi.

Beratus tahun para pendahulu kita berperang melawan penjajah, dan kemenangan pun didapat: kemerdekaan. Tetapi, kemerdekaan itu bukanlah akhir. Bahkan, ternyata hanya sebuah ’jembatan’ menuju cita-cita: adil, makmur, sejahtera. Dan mereka yang merasa tak kunjung mendapatkan kesejahteraan suka berkelakar untuk melepaskan kegetiran dengan kalimat begini, ’’Mending dijajah Belanda!’’ Lho, lho!

Ada lagi peristiwa tumbangnya Rezim Orde Lama yang kemudian digantikan Rezim Baru. Korban jiwa tak terbilang. Itu kisah happy ending juga bukan? Ah, andaikata seperti kisah rekaan dan hanya berhenti sampai di situ! Sayangnya, kita tidak bisa mengabadikan kemenangan Rezim Orde Baru seperti para kawi menamatkan ceritanya, seperti pengarang mengakhiri novelnya. Juga, ketika Rezim Orde Baru pun pada akhirnya tumbang (1998) menandai dimulainya era baru yang disebut sebagai Era Reformasi.

Setelah perjuangan yang lama dan memakan banyak korban, kemenangan seperti hanya didapat sepanjang tepuk tangan mengiringi akhir sebuah pertunjukan. Setelah itu, kita dipaksa mengingat mitos Sisipus yang dipercanggih oleh Albert Camus itu. Kenyataannya, kita pun seperti harus mendorong batu ke puncak gunung hingga batu itu menggelundung kembali ke lembah dan harus melakukannya kembali, berulang-ulang, sampai mati!

Sebagai bangsa kita telah mengoleksi cukup banyak kemenangan spektakuler, tetapi hampir selalu gagal merawat kemenangan itu dengan baik. Itulah intinya, atau kita hanya mau pasrah sebagai Sisipus, hanya menikmati sukacita atas kemenangan demi kemenangan sepanjang tepuk tangan seusai pertunjukan, sepanjang satu atau dua paragraf, atau sehalaman dua halaman dari buku yang tebal. Padahal, hidup ini bukan sinetron atau novel, kawan! [bn]

Monday, 23 November 2009

Memeras Kesenian

Bonari Nabonenar*

Saya masih di Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur ketika program Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) Jatim digagas dan kemudian digulirkan oleh Taman Budaya (salah satu UPT Dinas Pendidikan) Jatim awal 200-an. Pertama digelar di Blitar, dan kemudian menyusul pula Festival Kesenian Kawasan Utara Jatim.


FKKS dan kemudian juga FKKU seolah-olah mengobati kegelisahan kalangan masyarakat/seniman yang sebelumnya melihat banyak agenda-agenda kesenian Jawa Timur cenderung terpusat di Surabaya seperti: Festival Cak Durasim, Festival ’’Surabaya Full Musik’’, Festival Seni Surabaya, dan lain-lainnya. Ndilalah, sekarang ketika dua agenda besar: Festival Cak Durasim dan Festival Seni Surabaya sedang tak jelas kelanjutannya, FKKS dan FKKU masih menunjukkan keberlangsungannya. Bedanya, jika awalnya FKKS maupun FKKU adalah program Taman Budaya Jatim yang notabene berada di bawah naungan Dinas Pendidikan, kini keduanya menjadi program Dinas Pariwisata dan Budaya (sengaja tidak dipakai nama yang sebenarnya: Dinas Budaya dan Pariwisata) Jatim.

Karena FKKS adalah program Dinas Pariwisata dan Budaya, kita tak perlu lagi heran ketika ia diarahkan untuk, ’’menggenjot PAD (pendapatan asli daerah)’’ seperti diberitakan RaTu, Selasa (18/11). Apakah salah kalau Disparbud (lagi-lagi: sengaja dibalik) mengeksploitasi kesenian dan hal-hal lain di dalam cakupan kerjanya untuk meningkatkan pendapatan? Tentu saja tidak. Tidak salah. Bahkan, bukankah itu salah satu tugas utama departemen ini: mendapatkan pemasukan sebanyak-banyaknya dari sektor pariwisata?

Kita hanya perlu bertanya: kalau kesenian itu diibaratkan sapi, para pemerahnya sudah ngantri, lalu siapa paling bertanggungjawab merawat, menjaga, dan meningkatkan kualitas kehidupannya? Ambil satu contoh jenis kesenian, seni bahasa atau yang biasa disebut dengan kesusasteraan. Pernah saya mengeluh dalam sebuah rapat (waktu saya masih di Komite Sastra DK-Jatim) dengan Subdinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, bahwa di Jawa Timur kesusasteraan sangat kurang diperhatikan. Jawaban yang kami terima adalah, ternyata, memang institusi itu tidak mengemban tupoksi (tugas pokok, fungsi) dalam hal pembinaan dan pengembangan kesusasteraan: sastra Indonesia, dan apalagi sastra daerah. Pada kesempatan-kesempatan berikut pertanyaan dan jawaban seperti itu terulang. Maka, beberapa kali, diambillah semacam terobosan, membuat acara sastra, lomba cipta dan baca/musikalisasi puisi dengan tema ’kepahlawanan’. Jadi, judul proyeknya adalah penguatan nilai-mnilai kepahlawanan itu, bukan secara terang-terangan mengembangkan kesusasteraan.

Nafsu ’memeras’ kesenian itu terlihat dengan jelas pula dalam sebuah naskah perda (semoga sekarang sudah diamandemen, atau dianulir) salah satu kabupaten di Jawa Timur ini yang menyebut atau mengelompokkan Pemilik Sound System sebagai seniman. Dengan begitu kita tahu bahwa itu adalah cara untuk bisa menarik pajak dari perusahaan jasa persewaan sound system tersebut.

Tak mengapalah, jika Departemen Pariwisata dan Budaya memang diberi wewenang untuk ’menjual’ segala potensi wisata termasuk kesenian. Tetapi, pada momentum pelaksanaan FKKS di Trenggalek dalam beberapa hari ini kita layak mengingatkan bahwa mesti ada yang mau mengurusi kesenian dan kebudayaan pada umumnya demi kesenian dan kebudayaan itu sendiri, untuk menjadikan masyarakat semakin tinggi peradabannya, dan tidak tersungkur ke dalam jurang kedangkalan hidup.

Keadaan bangsa yang sedang terpuruk, terutama secara ekonomi, juga menambah alasan pentingnya melakukan hal-hal yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi. Tetapi, perlu tetap diingat bahwa membina dan mengembangkan kesenian/kebudayaan adalah satu hal, dan ’menjual’-nya adalah hal lain. Sebaiknya jangan mengurusi kesenian seperti orang lapar. Karena, ketika ekonomi ditempatkan di atas kebudayaan akibatnya seperti yang kini pun bisa kita lihat, banyak orang berteriak kelaparan, tetapi mereka ternyata tidak ’’lapar nasi’’, tidak ’’haus air’’ melainkan ’’lapar pulsa’’ atau ’’haus bensin.’’ Ada lho, orang mengaku miskin dan sedang lapar, tetapi ketika diberi uang yang pertama kali dibeli adalah pulsa!

Kita tidak bisa dan tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan bahwa sebagian warga bangsa ini memang benar-benar miskin dan lapar dalam pengertian yang sebenarnya. Tetapi harus diketahui pula bahwa tidak sedikit di antara yang terkena penyakit kurang gizi itu bukan karena kurang makan, melainkan karena rendahnya tingkat ’kebudayaan’ atau kurangnya pengetahuan mereka mengenai cara-cara mengelola/mengolah bahan makanan yang tersedia.

Jadi, siapa sekarang yang mau peduli pada kesenian/kebudayaan milik bangsa ini? Apakah kita mau menyerahkan urusan pembinaan dan pengembangannya kepada bangsa lain, dan kita hanya mau jadi pengecernya saja? [bonarine@gmail.com]

*) Penulis adalah pengampu blog: www.bonarine.blogspot.com

RaTu, 21 November 2009

Wednesday, 18 November 2009

Angka dan Badai

Oleh : Bonari Nabonenar

Tiga, empat: tujuh! Itu bukan nama angka keramat, tentu. Juga bukan kandidat untuk keluar sebagai nomor toto gelap. Itu hanya hasil utik-utikku secara iseng. Iseng banget. Bukankah anak kecil yang masih cedal pun tahu kalau tiga ditambah empat sama dengan tujuh? Aku sendiri juga tidak tahu, mengapa tiba-tiba aku tertarik untuk iseng dengan deretan angka. Padahal, biasanya aku selalu pasang muka masam setiap berpapasan dengan angka-angka. Mereka sering menipu, setahuku, atau paling tidak demikianlah citra mereka (para angka) di benakku. Mereka kadang juga terlalu sok. Sok apa sajalah! Di perpustakaan sekolah, aku selalu mengindari buku-buku yang sarat dengan angka. Maka jangan heran kalau guru yang sering kudoakan agar tidak bisa hadir di sekolah adalah guru matematika. Oh, ya! Aku mulai benar-benar benci angka-angka sejak sekolah menengah pertama. Ketika masih di bangku sekolah dasar, aku tergolong jago berhitung (saat itu belum popular istilah matematika). Satu-satunya mata pelajaran yang nilaiku sukses diungguli kawan lain sekelasku adalah kesenian! Lah, suaraku memang jelek, nafasku juga cekak. Dan kalau menyanyi suka terseret ke dalam nada-nada yang tak jelas jenis kelaminnya, nilainya, rasanya!


Tapi, aku punya teman yang suka membuatku pusing tujuh keliling dengan cerita-ceritanya. Namanya Budi. Bukan Budi kakak Iwan. Bukan Budi adik Wati. Tetapi Budiman Ariadi (bernama begitu karena ia diharap jadi orang baik budi dan selalu ingat bahwa ia lahir di hari yang sangat berkesan: Idul Fitri!)

Lhadalah! Budi pun, kemudian, malah suka menggodaku karena ia tahu jika cerita-ceritanya selalu memusingkanku. Tetapi, ia masih tergolong lumayan baik budinya karena tak pernah tega membiarkanku jatuh terpingsan-pingsan, dengan menghentikan ceritanya begitu melihat wajahku tegang bagaikan perawan kebelet pipis tak ketulungan.

Budi suka bercerita dengan menjejalkan sekian banyak angka ke dalam kalimat-kalimatnya. Ia memang pandai bercerita. Orang selain aku akan betah berlama-lama mendengarkan cerita Budi. Hanya aku saja yang tak betah berlama-lama, tampaknya!

Tanyalah Budi, misalnya, dengan kalimat ini, ’’Apa yang kau ketahui tentang Ines?’’ Maka, jika tensinya lagi bagus, Budi akan nyerocos berkisah tentang Ines yang mantan pacarnya itu. Kira-kira begini:

’’Ines memang cantik. Cerdas pula. Ia anak pertama keluarga Abdul Hamid dan Arimbi Risangayu. Ia mantan pacarku. Aku jatuh cinta kepadanya pada tanggal sepuluh bulan delapan tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh tujuh, pas kurs dolar melonjak dari tiga ribu ke delapan ribu rupiah! Bayangkan, lonjakan setinggi itu! Orang bisa mati berdiri! Dan Presiden yang terkenal sakti pun terjengkang dengan lonjakan semacam itu! Tetapi Inez memang tidak sekadar sakti. Ia cantik sampai di hati, dan aku pun tertunduk dan memasrahkan diri ke haribaan kecantikannya itu. Ines tentulah akan telah jadi istriku kini, andai orang tuaku dan orang tuanya tidak menentang kehendak kami, hanya gara-gara angka dua puluh lima, yang didapat dengan mengutak-atik hari kelahiranku dan hari kelahiran Ines! Aku hampir bunuh diri karena putus asa. Ines pun jadi ngenes. Berat badannya menurun drastic, dari lima puluh satu kilogram ke empat puluh lima. Tetapi, itu yang membuatnya diterima masuk sekolah modeling yang paling bergengsi di kota kami tanpa tes. Dan aku pun bangkit dari keputusasaan dengan gaya orang bangun tidur setelah melewati mimpi buruk yang sangat menakutkan. Pagi terasa indah. Dan itulah saat paling mengesankan, ketika aku mulai bisa menerima kegagalan cinta, gagal menyunting perempuan yang sudah tiga ratus kali kuajak nonton bersama, dua ribu seratus lima belas kali kukecup bibirnya, dan….’’

’’Oh! Maaf! Aku mau semaput!’’

Maka, pingsanlah aku! Angka-angka itu telah menyeretku ke dalam arus deras yang memusar ke dalam lubang tanpa dasar. Dan aku telah jadi orang tanpa sadar.

Lhadalah! Dua lima! Dua puluh lima! Bukankah jadinya tujuh juga: dua ditambah lima, seperti halnya tiga ditambah empat juga sama dengan tujuh? Dua puluh lima saja pun, tanpa deretan angka lainnya telah sukses menghabisiku. Apalagi jika ditambahi angka-angka lain. Seperti temanku yang lain lagi, Pawestri, yang gemar sekali menyebut angka-angka, mengulanginya, meralatnya, dan menyebut ulang lagi, dan seterusnya, seolah satu angka menjadi gosip yang bisa tak karuan ujung-pangkalnya jika ia bersama Pawestri.

’’Aku menyimpan ratusan kartu telepon di rumah (maksudnya voucher bekas isi ulang, pengarang) yang nilainya telah kukirimkan ke cowokku,’’ kata Pawestri suatu sore, dan pada sore yang sama di dua hari berikutnya, ia telah dengan yakin mengatakan ini, ’’Oh, tadi aku telah menghitungnya dengan teliti, dan ternyata kartu telepon itu ada seratus dua puluh tiga. Biarlah itu kusimpan sebagai kenang-kenangan, bisa kupandang-pandang ketika hatiku geram digerus dendam.’’

’’Dan kau akan mengirimkan berapa banyak voucher isi ulang untuk pacar barumu yang sekarang ini, Tri!’’ tanyaku bercanda.

’’Untuk Mas Soleh?’’

’’Loh, emang berapa biji pacarmu sekarang?’’

’’Yang gelap apa yang terang?’’

’’Yang remang-remang! Uh, dasar!’’

’’Loh, orang bertanya kok sewot. Kebalik, tahu enggak? Aku yang pantas sewot saja malah cengengesan lah kok situ yang sewot!’’

’’Hm. Iyalah. Kau memang pinter berkelit. Maaf, mungkin karena kesehatanku lagi kurang baik, sebab akhir-akhir ini aku sering pingsan. Jadi emosiku pun labil. Bisakah kau menjawab pertanyaanku tanpa menyebutkan angka?’’

’’Ya, perbaiki dulu pertanyaanmu, loh!’’

’’Pertanyaanku sudah baik. Tapi, aku sendiri juga heran, mengapa aku gampang pingsan ketika berhadapan dengan angka-angka.’’

’’Oh, apa kau punya pengalaman buruk, misalnya nyaris atau bahkan pernah diperkosa Guru Matematika!’’

’’Ya pastilah! Setiap berdiri di muka kelas, Guru Matematika itu memerkosaku. Memaksa menjejalkan angka-angka ke dalam otakku yang tak lagi berani menjerit apalagi meronta!’’

’’Oh. Barangkali aku bisa mencobakan sebuah resep….!’’

’’Resep apa?’’

’’Biar kau tidak lagi alergi dengan angka-angka. Tidak sakit karena mereka, apalagi pingsan sia-sia! Kau boleh pingsan saat melihat Anjas Asmara bertelanjang bulat di keramaian menjelang bulan Puasa, tetapi jangan hanya karena angka-angka.’’

Maka, berceritalah Pawestri kepadaku, tentang seorang teman kami yang lain lagi, yang bernama Anjani, yang suka bermain-main dengan Permata Cermin Seribu Galaksi, yang beberapa hari lalu memeriahkan hari kelahirannya dengan pesta rujak cingur dan sayur lodeh sambal terasi dipadu nasi punel dan bakar gurami disantap beramai-ramai di sebuah taman di seberang pantai, lalu ada yang menari dan menyanyi-nyanyi meriah sekali!

’’Anjani telah melewati tahun ketigapuluh empat. Jangan tegang! Tiga puluh empat, itu mengandung angka tiga, nol –yang tidak dutuliskan, dan empat. Kosong itu disebut juga nol, karena wajahnya bulat. Nah, bayangkanlah sebuah bulatan berada di tengah-tengah pertigaan. Maksudnya simpang tiga. Biasanya orang tak perlu pusing ketika menentukan akan menempuh jalan yang mana saat berada di persimpangan (simpang dua, pengarang). Sebab simpang dua itu wataknya tegas, kontras! Tetapi simpang tiga mulai bias. Dan simpang empat, lebih bias lagi, karena ia tak selalu searah dengan mata angin. Maka berpikirlah kau tentang tiga, tentang empat, tentang kosong! Sebab kau tak boleh terus menerus dibuat pingsan. Kau mesti melawan! Maka, sekali lagi, berpikirlah tentang tiga, tentang empat, sebelum sampai pada hasil penjumlahan dari keduanya: tujuh. Dan pada saat yang tepat, kau akan tahu: tujuanku, tujuanmu, tujuan kita. Sebab jika kita berjalan tanpa menyadari tujuan kita, tak ubahnya kita hanya berputar-putar di tempat seperti orang-orang orang-orang berjalan atau berlari mengelilingi alun-alun kota.’’

Tiba-tiba Gedung Perpustakaan di seberang itu tercabut dari tanah, membubung tinggi, meliuk-liuk, dan badai sangat besar mempermainkannya, menghamburkan buku-buku, meja, kursi, komputer, dan langit pun mendadak gelap: hujan angka!

’’Lihatlah, betapa indahnya!’’ seru Pawestri. ’’Dan tahukah kau, sekian banyak kata itu jika kita sempat menjumlahkannya, akhirnya ketemu juga: tujuh!’’ Pawestri berteori.

Setelah itu aku tak mendengar kata-kata lagi.

Trenggalek, Okt 2009

Surabaya Post, Minggu, 8 Nopember 2009

Friday, 23 October 2009

mereka bergelimpangan di halamanku

lihatlah mereka bergelimpangan di halamanku
ada yang ngathang-athang ada yang meringkuk
dengan wajah mabuk
yang mereka banggakan
dan mereka kira: mabuk cinta
padahal mereka hanya mabuk kata-kata


lihatlah mulut mereka berbusa-busa: umpluk katakata

ada yang mirip sajak
ada yang mirip teori
ada yang mirip mantra
dan ada pula yang mirip petuah sang bijak

mereka lewati malam yang riuh
dan siang yang gamang
dengan langkah gontai
jatuh bangun silih berganti

sedang para pecinta sejati
di kejauhan menari-nari

mereka yang bergelimpangan di halamanku ini
: mabuk katakatanya sendiri

Thursday, 15 October 2009

KBJ 2009 di Bojonegoro

Akan digelar di Wana Wisata Dander, di Desa Dander, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. "Kegiatan ini diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk peserta dari luar negeri, Australia," kata Ketua Panitia Penyelenggara Kemah Budaya Jawa, JFX. Hoery, didampingi panitia lainnya, M Chuzaeni, Kamis.

Dia menjelaskan, pelaksanaan KBJ 2009 ini, merupakan langkah yang strategis bagi Indonesia. Alasannya, belakangan ini mencuat berbagai kasus kesenian mulai Reog Ponorogo, Batik dan terakhir Tari Pendet yang diklaim milik Malaysia.

Disamping itu, KBJ sekaligus untuk menyongsong diselenggarakannya kongres bahasa Jawa ke-5 tahun 2.011 di Jawa Timur. "Dengan adanya kemah budaya Jawa ini, menunjukan kepedulian masyarakat Jawa atas kesenian hasil karya nenek moyangnya masih tinggi," katanya menjelaskan.

Dalam KBJ selama tiga hari tersebut, akan diisi dengan berbagai kegiatan mulai sarasehan membedah huruf Jawa dengan narasumber guru besar filsafat Universitas Gajahmada, Prof Damardjati Supadjar dan KRT Sutrimo.

Selain itu, juga digelar sarasehan bahasa Jawa pesisiran, dengan narasumber dosen Unesa Surabaya, Sugeng Adipotoyo dan sastrawan Jawa asal Bojonegoro, Djajus Pete.

Sarasehan lainnya yakni masa depan budaya dan bahasa Jawa, hingga penampilan berbagai kesenian lokal Bojonegoro dan pameran budaya Jawa.

Dengan adanya KBJ ini, mampu menumbuhkan semangat kebersamaan untuk tetap mempertahankan kesatuan dan persatuan dengan keanekaragaman suku yang ada di Indonesia, katanya berharap. []

Wednesday, 14 October 2009

Asu Animalenium

Bonari Nabonenar

Tak urung Antini terkejut juga ketika suaminya mengatakan bahwa dia benar-benar akan berangkat ke luar negeri. Padahal sebenarnya sudah sejak dua tahun lalu berkali-kali suaminya mengatakan keinginannya itu. Benar-benar ngewuhake. Betapa akan bangganya dia nanti saat suaminya berhasil mendapatkan gelar doktor dari universitas terkenal di luar negeri, dalam usianya yang begitu muda. Tetapi betapa pula beratnya beban yang harus mereka sandang ketika harus dipisahkan jarak yang tak terkirakan jauhnya, untuk jangka waktu sekian lama nanti? Mungkin saja suami Antini sendiri tak akan merasakan hal itu sebagai masalah besar, sebab kegilaannya pada studi yang ditekuninya selama ini seperti menenggelamkan yang lain-lain.


Tetapi akhirnya Antini merelakan juga, dan bahkan memberikan dukungan dengan caranya sendiri untuk keberangkatan suaminya ke negeri seberang. Dia sudah tiga kali menemui Mbah Ndemo.

"Iya, lho, Jeng. Pagar itu perlu. Untuk keselamatan kita semua," kata Bu Dewi, ketika pertama kali menyarankan kepada Antini untuk pergi ke orang pintar. Untuk meminta "pagar" buat suaminya yang akan dilepas ke tempat yang jauh itu.

"Tapi kita harus memagari diri juga, lho. Dengan begitu pertahanan dan keamanan kita semakin kokoh, dan kita tidak perlu khawatir oleh ancaman terhadap persatuan dan kesatuan kita, terhadap keutuhan rumah tangga kita. Dengan demikian kita tidak perlu lagi mengkhawatirkan bahaya disintegrasi itu." Begitu ceramah Bi Ida yang penyiar radio itu dengan gaya dibuat-buat, bagaikan seorang orator kehujanan.

"Mas, apa sampeyan nanti tidak kesepian?" tanya Antini sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.

"Jangan khawatir. Aku akan punya banyak tugas dan pekerjaan yang akan sangat ampuh untuk membunuh kesepian itu."

"Alaaaaa…….seperti enggak tahu aja! Biasanya sampeyan kalau sedang banyak tugas, sedang sibuk, tegangannya malah makin tinggi saja!"

"Szzhxhpmmmffzh…." Mereka berciuman. Dan Dodi, suami Antini itu, kini benar-benar telah terpancing. Dibopongnya isterinya, dibawanya masuk ke kamar dan direbahkan di atas ranjang. Melihat isterinya telentang, Dodi seperti kesurupan. Mulailah dia menari. Lebih tepatnya, mereka. Mereka menari. Bagaikan dewa-dewi. Menari-nari, dalam irama surgawi. Begitulah biasanya. Maksudnya, kebiasaan mereka. Pembicaraan selalu putus, terpotong di tengah ranjang.

Bagi mereka adalah omong kosong bahwa persoalan suami-isteri akan selesai di atas ranjang. Untuk persoalan "itu" memang ya. Tetapi yang lain-lain tidak.

"Mas?"

"Hm…."

"Nah, kan….?"

"Apa?"

"Sampeyan kok bilang mau mengatasi kesepian. Dengan kesibukan, dengan ….gombale mukiya!"

"Sudahlah. Jangan khawatir. Kita, kan ada komputer. Nanti kita pasang internet. Sebelum berangkat, aku akan mengurusnya ke ISP. Dengan internet kita akan dapat bertemu setiap saat. Jangan lagi khawatirkan kesepian itu."

Maka Dodi pun berangkat ke negeri seberang. Dan isterinya, Antini, tetap tinggal di perumahan Asri Estat bersama putrinya yang masih balita, dengan seorang emban, batur, babu, pembantu rumah tangga, atau apalah namanya, wanita 50-an tahun yang biasa dipanggil Mbok Nem.

Mula-mula Antini hanya menggunakan fasilitas IRC di internet itu, untuk ngobrol dengan suaminya, menumpahkan kerinduan, dan lebih-lebih untuk memastikan bahwa pada waktu-waktu luang suaminya tidak ke mana-mana. Tetapi kemudian Antini dapat kenalan baru, dapat lagi kenalan baru, dapat lagi, dapat lagi. Ada yang dari benua lain, ada yang dari negeri tetangga, tapi banyak pula yang tinggal sekota dengan Antini.

Mereka, para kenalan baru Antini itu, adalah orang-orang kesepian. Ada yang mengaku masih perjaka, ada yang mengaku duda, dan bahkan ada pula yang mengaku punya isteri tetapi tanpa tedeng aling-aling mengemukakan niyatnya untuk mencari pasangan selingkuh! Dari para kenalan baru itu Antini makin banyak tahu dan makin dapat mengoptimalkan fungsi internetnya. Antini bahkan kini telah memiliki home-page sendiri, memiliki lebih dari 5 buah e-mail. Antini tahu sekarang, bahwa internet ternyata lebih ajaib dan lebih sakti daripada Cupu Manik Astagina, yang konon dapat digunakan untuk menerawang dunia, dan bahkan untuk memanggil para dewa, tetapi yang kemudian membuat Anjani bersaudara berubah ujud jadi kera itu.

Semakin hari Antini semakin asyik dengan dunianya yang baru. Bersama internetnya, tak siang tak malam, dia akan menjelajahi dunia maya. Dunia tanpa batas. Sekarang, jika suaminya beralasan sibuk dan tak dapat menemaninya chating, Antini akan lebih senang. Sungguh, benar-benar sakti, internet itu. Hanya dalam hitungan bulan, belum genap 5 bulan, Antini telah berubah menjadi lain. Lain sekali. Beda sekali dengan Antini yang Nyonya Dodi 5 bulan lalu. Jika paling banter kemarin-kemarin Antini hanya kenal olah raga tenis, kini bermain golf-pun tak lagi canggung, dia!

Tengah malam dia kirim e-mail ke suaminya, mengatakan bahwa keesokan harinya akan menjenguk orang tuanya di Trenggalek sana, tetapi pagi-pagi sekali dia justru berangkat ke bandara. Seorang lelaki perlente telah menunggunya. Sebentar kemudian Antini-pun terbang. Bersama dewa barunya. Ke surga! Dia akan menari, seperti bidadari berselendang sutera. Para dewa mabuk. Dan Antini semakin kesurupan, seperti penari kuda lumping yang ditinggalkan jurugambuh-nya. Akan terus menari. Menari terus, hingga mampus!

Ketika siuman, Antini menjerit lirih. Dia terkejut. Rupanya dia sadar telah terlempar dari surga. Kini dia terkapar di sebuah kamar sebuah hotel bintang lima. Di kota yang lain. Dengan lelaki yang lain. Aroma kembang dan bau dupa yang semerbak dalam mimpinya, atau lebih tepatnya pada saat dia menari-nari kesurupan tadi, kini tak ada lagi. Yang tersisa hanyalah bau keringat dan ompol lelaki mabuk di sampingnya. Sangat menyengat.

"Diamput! Mas Dodi tentu telah melakukannya pula."

Pulang. Setiba di rumah, hal pertama yang dia lakukan adalah cek e-mail. Yang dia buka pertama adalah e-mail di mailcity.com. Ada sebuah e-mail dari seseorang dengan alamat: damarwulan@u... Begini isinya:

"Tin, semoga kau baik-baik selalu. Kapan kita bisa bertemu? Ayolah. Ini sudah milenium baru. Atau kau memang sengaja mempermainkanku? Aku sudah menunggumu, dari minggu depan hingga bulan depan, lalu tahun depan. Kini abad yang akan datang kemarin, bahkan milenium yang akan datang itu benar-benar telah datang. Ayolah, Tin. Menarilah bersamaku. Ayo! Aku punya tarian milenium, yang harus kauyakini jauh lebih indah daripada jurus-jurus dewa mabuk seperti yang pernah kauceritakan itu. Ayolah, Tin. Ya...?"

Antini tertawa. Agak kecut, sebenarnya. Dia ingin menyesal tapi tak bisa, atau yang lebih tepat adalah: belum bisa. Mau bangga, mau senang, tak bisa juga.

Tapi dia penasaran juga sebenarnya, dengan laki-laki yang mengaku bernama Ramses, yang menggunakan alamat e-mail damarwulan@u... itu. Laki-laki itu sudah mengirimkan beberapa fotonya ke Antini. Jika foto-foto itu adalah foto-foto orang yang lain, atau memang fotonya, tetapi bukan yang terbaru melainkan foto terlama, itu soal lain. Tapi dari suaranya di telepon,

Antini yakin bahwa Ramses tentu segagah fotonya. Yang disayangkan Antini hanyalah bahwa Ramses orangnya tidak cak-cek seperti kebanyakan laki-laki lainnya. Kurang agresif. Maka segeralah Antini membalasnya dengan menantang untuk bertemu di rumah. "Kalau mau jangan tunggu aku. Tapi datanglah ke rumah. Kini aku yang menunggumu. Berangkatlah dengan penerbangan pertama esok. Soalnya kita hanya punya waktu sampai lusa, ketika pembantu dan anakku akan datang bersama kedua orang tuaku dari desa. Oke?"

Keesokan harinya, mereka benar-benar bertemu. Gelas sudah disiapkan. Anggurpun segera dituangkan. Lalu mereka menari. Berdua. Mereka larut, benar-benar larut dalam gerak tarian yang oleh Ramses disebut sebagai tarian milenium itu, yang pada ujung-ujungnya tak beda jauh dengan kuda lumping. Kesurupan juga! Mereka masih klenger ketika bel tamu berbunyi.

Antini siuman lebih dahulu. Dan segera membuka pintu. Dia hampir kembali klenger ketika melihat seekor anjing bertopi di depannya, dengan mata menyala tajam, meringis, menampakkan gingsul suaminya. Anjing itu mengenakan jean dan t-shirt warna cerah. Baik pada t-shirt yang dikenakan maupun pada lap-top yang ditenteng anjing itu, Antini melihat identitas perguruan tinggi tempat suaminya melanjutkan studinya. Antini punya seribu pertanyaan yang berebut dulu diucapkan. Tapi tenggorokan Antini seperti tersumbat. Ketika dia berhasil membuka mulut, yang keluar justru hanyalah suara: "Hugh...hug...hug....!!!!!" []


Pernah dimuat Jawa Pos awal tahun 2000

Saturday, 3 October 2009

Harapan Baru Seniman Jatim

Terjawab sudah pertanyaan: ’’Akankah Gubernur Jawa Timur yang baru, Pak De Karwo, melanjutkan tradisi silaturahmi dengan seniman, yang biasanya dilakukan menjelang Hari Raya Idul Fitri oleh pendahulunya, Imam Utomo.’’ Sejumlah 300 seniman menerima tali asih, 9 September 2009 di Graha Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim Jl Wisata Menanggal Surabaya, dalam rangkaian acara Silaturahmi Gubernur dengan Seniman itu. Saya ikut menerima taliasih itu, bahkan beruntung dipilih di antara teman-teman yang berkesempatan mewakili seniman, dan berkesempatan langsung menerimanya dari Pak De Karwo. Ada hal baru dan ada pula yang hilang dalam tradisi tahunan ini.

Yang hilang, tampaknya adalah pemberian penghargaan bagi 10 orang seniman terpilih (dengan nominal hadiah uang masing-masing Rp 10 juta). Atau, penghargaan itu akan diberikan nanti dalam rangkaian acara Hari jadi Jawa Timur? Sebenarnya, taliasih itu dapat pula dipandang sebagai penghargaan. Tetapi, karena biasanya ada yang lebih dari itu, tetaplah ada yang terasa hilang. Panitia tampaknya juga tidak sempat merilis berita mengenai perubahan besar tersebut. Salah satu kibatnya, salah seorang kawan yang terpilih di antara 10 orang seniman penerima langsung taliasih dari Gubernur itu segera menelepon saya setibanya di rumah. ’’Eh, ternyata kita tadi hanya menerima taliasih biasa ya?’’ Ndilalah memang, seniman yang menerima taliasih secara simbolik, meminjam istilah Panitia, jumlahnya 10 orang pula, mewakili bidang: musik, rupa, teater, tari, sastra, seperti jumlah penerima penghargaan Rp 10 juta tahun-tahun sebelumnya.

’’Lha rak bener ta? Kalau mau diberi penghargaan yang Rp 10 jutaan itu kan tidak ditunjuk langsung pada hari pelaksanaan seperti itu? Mesti ada proses pendataan, nominasi, dan pemilihan oleh tim juri,’’ jawab saya.

Acara protokolernya pun agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setahu saya, dalam tradisi sebelumnya, ada panitia khusus dan tim juri yang dibentuk untuk menentukan siapa seniman Jatim yang akan mendapatkan penghargaan dan siapa saja yang akan diundang untuk menerima taliasih. Lalu, pada acara pelaksanaannya, Ketua Panitia ini menyampaikan pidato laporan di hadapan Gubernur dan segenap udangan. Kali ini, Laporan Ketua Panitia itu tidak ada. Belum jelas, apakah jadwalnya memang seperti itu, hanya ada sambutan dari wakil seniman, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, disusul Sambutan Gubernur setelah selingan musik, ataukah terlupakan seperti halnya Sidang Paripurna DPR yang tanpa Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Saya malah baru membaca Sambutan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur melalui Facebook sepulang saya dari acara tersebut.

Kali ini yang memberikan sambutan pertama adalah seniman ludruk Agus Kuprit sebagai wakil dari seniman penerima taliasih, yang kemudian diikuti para pelawak: Bambang Gentolet, Kancil Sutikno, Kenthus, dan Eko Kucing. Mereka menyegarkan suasana, tetapi kemudian terasa terlalu banyak mengulang-ulang kalimat bahwa taliasih ini sangat membantu (perekonomian) seniman dan berharap tradisi ini dilanjutkan pada tahun-tahun yang akan datang. Terekesan nyinyir. Kenyinyiran itu kemudian seperti tumbu entuk tutup ketika ’Panitia’ melalui pembawa acara menyebut acara pemberian taliasih ini sebagai ’’Program Pemberdayaan Seniman.’’ Secara maknawi, memang tak salah bahwa semua itu memberdayakan seniman. Tetapi, ketika mendengar istilah ’pemberdayaan’ dalam konteks pemberian taliasih itu kok telinga jadi agak risi ya? Memang, program ini adalah bukti kebagikan Gubernur, kebaikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang sulit ditemukan di daerah lain. Bahkan, imbauan Gubernur Imam Utomo pada tahun-tahun sebelumnya agar tradisi Pemerintah Provinsi ini diikuti dengan program serupa di tingkat kabupaten/kota (mengingat yang diakomodasi Pemprov baru 300-an seniman) tampaknya juga ditanggapi sepi.

Sekadar mengingatkan, di balik kegembiraan 300 orang seniman penerima taliasih itu sebenarnya ada hal yang mengganjal, dan sayangnya tidak sempat disampaikan Agus Kuprit dan kawan-kawan itu, yakni: tergencetnya akses seniman Jatim terhadap ruang ekspresi bernama Taman Budaya Jawa Timur yang akibat PP 41 kini lebih diperuntukkan bagi kegiatan seni (pendidikan) para siswa, guru, dan sejenisnya. Kita jadi bertanya-tanya, misalnya: apakah Festival Cak Durasim masih akan berkesinambungan, apakah Pemerinbtah Provinsi Jawa Timur sudah memikirkan untuk membangunkan ruang ekspresi yang layak bagi senimannya. Bahkan, Festival Seni Surabaya pun mulai absen. Keprihatinan ini tak hanya lupa dilontarkan Agus Kuprit dkk, bahkan tidak tertera pula pada Sambutan Ketua Dewan Kesenian Jatim versi Facebook itu.

Sama-sama terkena dampak PP 41 mestinya, tetapi belakangan ini saya beberapa kali mengunjungi Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (dulu: Taman Budaya Surakarta), dan melihat masih padatnya jadwal acara kesenian seperti: Temu Penyair 7 Kota, Mengenang Rendra, Pentas Teater (bukan teater pelajar), dan lain-lain. Di wilayah pengembangan wacana, di Solo juga belum lama ini dibuka Balai Soedjatmoko, yang agendanya juga padat. Jawa Timur masih mengandalkan Galeri Surabaya yang tampaknya kini lebih banyak diisi pameran seni rupa. Dulu ada lembaga Kajian Budaya Jawa Pos, sayangnya tak tahan lama.

Kesimpulannya, Jatim boleh bangga dengan tradisi pemberian taliasih bagi seniman itu, dengan pertanyaan: mengapa kali ini mulai minus ’penghargaan sepuluh jutaan-nya, dan bersedih karena masih saja miskin ruang ekspresi dan pengembangan wacana (diskusi publik).

Diajak Bicara
Di balik keprihatinan itu menyeruak harapan baru tatkala Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo alias Pak De Karwo melontarkan gagasanya untuk memberi seniman Jatim asuransi kesehatan. Saya kira itu mesti dilihat sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap seniman. Apalagi jika dana asuransi itu dapat dicantolkan di APBD, dan bukannya diminta-mintakan dari perusahaan (Corporate Social Responsibilty) seperti dinyatakan kepada salah satu media oleh Ir Hadi Pasetyo, ME, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur. Tentulah harapan seperti itu tidak akan berlebihan jika benar seniman dipahami sebagai penjaga nilai pada identitas dalam berbangsa dan bernegara. Disantuni oleh negara tentu lebih membanggakan daripada disantuni perusahaan, apalagi oleh perusahaan asing. Atau bahkan negara lain!

Yang tak kalah menariknya adalah perintah Gubernur kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata agar seniman diajak bicara. ’’Ini perintah, bukan imbauan, agar para seniman diajak bicara,’’ tandas Pak De Karwo. Yang dimaksudkan tentu adalah pembicaraan-pembicaraan yang berkait dengan kebijakan di bidang kesenian/kebudayaan.

Pandangan pemerintah akan pentingnya mengajak bicara para seniman, secara personal/institusional tentulahm menggembirakan. Jika instansi terkait merasa selama ini sudah melibatkan seniman dalam pembicaraan-pembicaraan, ’perintah’ Gubernur itu mesti dimaknai agar kualitas pembicaraan itu ditingkatkan. Jangankan di tingkat daerah, pada tataran nasional pun komunikasi seniman dengan pemerintah tampak cukup buruk. Lihatlah, ketika terjadi persoalan dengan negara jiran menyangkut karya seni kita, Pemerintah terkesan gagap mereaksi, dan masyarakat, termasuk seniman bereaksi dengan berbagai cara yang kadang malah saling bertabrakan.

Saya punya pengalaman cukup menarik ketika jadi pengurus harian (Komite Sastra) Dewan Kesenian Jawa Timur. Selama hampir 5 tahun itu seingat saya baru sekali-dua kali ada institusi pemerintah yang mengundang Pengurus Dewan Kesenian berdialog untuk merumuskan kebijakan. Sama-sama memiliki label ’Dewan’ pun, jangankan diundang, Dewan Kesenian Jatim harus mengirimkan permohonan dan menunggu sampai dikabulkan agar dapat berbicara di hadapan anggota DPRD Jatim.

Yang agak lucu lagi, suatu hari Dewan Kesenian Jatim mengirimkan permohonan untuk menghadap dan berbicara di hadapan seorang kepala Dinas. Permohonan itu dikabulkan, dan berbondong-bondonglah Ketua Dewan kesenian Jatim beserta segenap pengurus hariannya. Acara dimulai, dan kalau saya taksir, kira-kira perbandingan porsi berbicaranya adalah: 5 % untuk Dewan Kesenian Jawa Timur dan 95 % untuk Sang Kepala Dinas. Jadi, isi surat permohonannya adalah agar dapat berbicara, mengajukan usulan-usulan untuk diprogramkan, dan yang terjadi kemudian malah lebih banyak jadi pendengar. Itu pada kepengurusan Dewan Kesenian Jawa Timur periode yang telah lewat. Semoga yang sekarang tidak separah itu. Begitulah harapannya. []

Saturday, 26 September 2009

Merongrong Karst


Pas libur lebaran kemarin, saya temukan ini di Slorok,Desa Nglebeng, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Kawasan ini masuk kategori pegunungan kapur (karst) selatan Jawa. Di beberapa tempat di Desa Nglebeng (setahu saya saya ada 3 lokasi) pengerukan tanah dan batu. Tampaknya para petani khawatir akan dampak terhadap sawah/ladang mereka. Tampaknya pula mereka tak pernah diajak bicara, atau ada pihak yang memaksakan kehendak sebelum mufakat dicapai, sehingga lahir protes dalam bentuk seperti dalam foto ini. Dospundi niki?

Sunday, 13 September 2009

Aja mung Gupuh karo Basa Lan Sastra-ne


Sajroning adicara Ngudarasa Sastra Jawa kang digelar ing Bale Soedjatmoko (Sala, Rebo-Wage, 19 Agustus 2009) Arswendo Atmowiloto mratelakake manawa budaya Jawa kalebu budaya kang unggul. Ora prelu dikuwatirake bakal enggal kukut, amarga budaya Jawa –nganggo tembunge Arswendo: ’tansah tumimbal lair’. ’’Angger isih ana etungan pasaran Pon, Wage, Kliwon, lan sateruse (pancawara) kang tumempel ing sistem pananggalan internasional kang migunakake etungan dina Senen, Slasa, Rebo, lan sateruse (saptawara), ateges budaya Jawa isih jejeg ing antarane kabudayan-kabudayan liyane ing salumahe bumi iki.’’ Kurang-luwihe mangkono andharane KRT Arswendo Atmowiloto.


Senajan ing kutha-kutha, wektu iki isih akeh wong Jawa kang nggunakake petungan dina lan pasaran (saptawara lan pancawara) kanggo maneka warna urusan, kalebu petung nemtokake dina kanggo duwe gawe: mantu, nyelamake, ngedegake/pindhah omah utawa boyongan, lan sapiturute. Malah ing desa-desa, nenandur lan ngedegake utawa mindhah kandhang ingon-ingon: pitik, wedhus, sapi, lan sapiturute wae ya nggunakake etungan (neptu) dina lan pasaran kuwi. Kayangapa wigatine etungan neptu tumrap panguripane wong Jawa bisa katitik saka, upamane, lanang wadon kang wis padha sarujuk bakal mangun urip bebrayan bebarengan (arep nikah) bisa dibatalake amarga neptune wong sakloron kuwi tibake ketemu selawe (25).

Jantraning ekonomine bebrayan Jawa, mligine ing karang padesan uga isih akeh kang sumendhe ing pancawara. Pasar-pasar tradisional isih akeh kang nggunakake jeneng lan lumaku nganggo pancawara: Pasar Pahing, Pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Kliwon, Pasar Legi. Yen diarani Pasar Legi adhakane ing pasaran liyane sepi utawa malah sok mati babarpisan. Mung saka sangsaya rejaning jaman, saben dina banjur urip kadidene pasar, mung banget luwih sepi tinimbang pasaran regular-e (Legi).

Yen desa kang kapanggonan Pasar Legi kuwi mau sawijing wektu dadi kutha, nut ing jaman kelakone, ora mokal manawa Pasar Legi banjur mung kari jenenge wae Pasar Legi, nanging kanyatane saben dina tansah rame kadidene pasar tradisional. Yen wis kaya mangkono, adhakane banjur ana kang kepencut, kegiwang, kumudu-kudu nyulap pasar tradisional (Pasar Legi) kuwi mau dadi pasar modern kang langgam, lagak, lageyan, lan swasanane adoh banget bedane yen dibandhingake karo pasar tradisional utawa kang sok uga diarani pasar rakyat. Saiki wis akeh contone ing saben-saben kutha gdhe, pasar tradisional kang wis owah dadi pasar modern.

Para taruna saiki uga wis akeh kang rumangsa keplorot gengsine yen saba pasar tradisional, lan luwih sengsem nyambangi pasar modern senajan ta prelune ya mung ngumbah mata. Owah-owahan sikep kang kaya mangkono iku sairing karo rasa lingsem yen kadenangan liyan lagi ngombe beras kencur, upamane, getun kok ora pas ngombe omben merek luwar negri nalika pas kadenangan liyan kuwi mau.

Lunturing kabudayan Jawa ora mung bisa katitik saka sudane kabisane wong Jawa micara nggunakake basa Jawa, nanging uga bisa katitik saka kanyatan: para taruna wektu iki padha rumangsa onjo mbokmenawa bisa ngrahapi panganan utawa omben merek manca negara sanadyan ta panganan lan omben weton padesan luwih apik daya pangaribawane tumrap kasantosaning jiwa-raga.

Mbaleni bab pancawara mau, mbokmanawa akeh kang bisa ditindakake pamarentah kadidene salah sijine pengayom kabudayan Jawa, upamane kanthi ngatutake pancawara ing akte kelahirane wong Jawa, ora mbelani sok sapaa kang adreng nyaplok pasar-pasar tradisional saperlu disulap dadi pasar modern.

Kabudayan Jawa uga digerus saka sistem tetanene wong Jawa, wiwit saka Revolusi Hijau, duk nalika manekawarha varietas pari Jawa diendhih dening varietas anyar kang dipilih dening pamarentah. Luwih-luwih saiki, wong tani kudu tuku winih (pari) kang bakal ditandur. Jan wis ora jawa tenan, ta?

Saka kanyatan kang kaya mangkono kuwi bisa digawe dudutan manawa pepenginan nguripake maneh aksara Jawa, ngrembakakake sastra Jawa, nglestarekake basa Jawa, mung bakal akeh musprane lamon kang diudreg-udreg mung basa lan sastrane, lan ora diayahi saka bab-bab kang luwih jero tebane: ya kabudayan Jawa iku. Panemu kaya ngono kuwi ing antarane wus nukulake gagasan kang banjur thukul dadi acara Festival Sastra Jawa lan Desa (wis kelakon ing Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, 4 – 5 Agustus 2009).

Ndilalah, iki ana kabar saka Jawa Timur, suk 2011 mengko Kongres Basa Jawa kang ka-5, slenthing-slenthinge kabar bakal kababar ing Kediri. Yen ana kang ndumuk manawa saka patang kongres sadurunge kok durung ana oleh-olehane kang mingsra, mbokmanawa jalarane ya amarga olehe mung gupuh karo basa Jawa. Yen Basa Jawa we saben limang taun dikongresake kanthi prabeya kang klebu ngedap-edapi (KBJ IV Semarang kabare ngentekake wragat Rp 5 milyar lan uga samono kang dicadhangake kanggo KBJ V ing Kediri mengko?), lha kok Kongres Budaya Jawa malah… apa wis nate digelar? [wis kapacak neng Jagad Jawa, Solopos]

Monday, 31 August 2009

FSJ-D 2009: Percepat Perbaikan Jalan

Dalam setiap Rapat Panitia selalu muncul pernyataan dalam nada bangga bahwa kami akan kedatangan banyak tamu dari berbagai wilayah di Jawa. Sejak awal memang saya memaparkan bahwa untuk Festival Sastra Jawa saya akan mengundang para seniman/sastrawan Jawa, termasuk akademisinya dari berbagai wilayah di Jawa, dari Jakarta hingga Banyuwangi.


Saya juga mengatakan bahwa setidaknya dua perguruan tinggi yang sudah siap mendukung acara ini yakni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Fakultas Bahasa dan Seni-nya dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) melalui Jurusan Bahasa Jawa-nya. Selain gambaran mengenai para tamu, apa yang diharapkan Panitia sesuai dengan proposal juga saya kemukakan, bahwa jika dikabulkan, Panitia berharap FSJ-D 2009 dapat dibuka oleh Gubernur Jawa Timur.

Salah satu dampak dari gambaran seperti itu adalah ke-gupuh-an tokoh masyarakat Desa Cakul beserta warga, terutama yang terlibat di dalam kepanitiaan. Lalu diserukanlah agar warga yang tinggal di tepi jalan ikut bersiap dengan memperbaiki pagar, membersihkan jalan, dan lain-lain, yang pada intinya adalah diserukannya upaya mematut diri agar tidak memalukan.

Saya memandang ketergopohan itu sebagai hal positif. Tetapi, saya juga mencoba menjelaskan bahwa ketergopohan itu tidak perlu terlalu berlebihan. Saya beranggapan bahwa, misalnya, kemiskinan yang akan terlihat dari kondisi rumah dan lingkungan yang nanti akan terlihat oleh rombongan pejabat, baik dari Kabupaten maupun dari provinsi, bukanlah hal yang memalukan. Kalau berpikir positif, saya kira keadaan seperti itu justru tidak perlu ditutup-tutupi, karena dengan demikian kami akan tampil sejujurnya. Jangan sampai suasana pedesaan yang sudah dibayangkan oleh para undangan dari kota-kota yang jauh itu justru hilang karena upaya mematut diri berlebihan.

Makanan khas pedesaan, udara pegunungan yang dingin menusuk, tidur di tempat ala kadarnya, dan hal-hal lain yang segera menyadarkan siapa pun bahwa sedang berada di desa yang jauh dari kota adalah jualan kami. Hal yang rasanya wajib disuguhkan kepada para tamu dari kejauhan itu pertama-tama adalah kebersihan. Andaikata tidak mampu memagari sepanjang jalan, cukuplah kalau jalan itu bersih. Kalau pun aspal jalan sudah banyak berlubang, dan seandainya terpaksa dibiarkan begitu, itu bukanlah hal yang memalukan bagi warga desa, bukan? Tetapi, kalau bisa diupayakan, misalnya agar lubang-lubang di jalan itu bisa ditambal, mengapa tidak dicoba? Itulah yang disarankan, dan Panitia melakukannya, mengajukan usulan ke Kabupaten untuk perbaikan jalan masuk menuju lokasi festival.

Ternyata tak sampai hitungan minggu setelah surat permohonan diajukan, petugas survei datang. Dan penambalan jalan aspal itu dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan festival. Selain perbaikan jalan, secara gotong-royong warga pun memagari jalan masuk menuju lokasi festival. Maka, harap dimaklumi jika sesekali muncul celetukan dari Panitia bahwa FSJ-D 2009 telah membantu mempercepat perbaikan jalan desa itu.[]

Bandha Nekad

Tetapi, saya tidak akan menolak jika pun ada yang menyebut saya dan kawan-kawan Panitia sebagai bonek (bandha nekad). Di dalam proposal yang kami buat, kami menyebut perlu dana hampir Rp 60 juta untuk FSJ-D 2009, dan sebagai modal Panitia sudah mengantongi dana dari kas OPSJ (Organisasi Pengarang Satsra Jawa sebesar Rp 5 juta, ditambah swadaya masyarakat senilai sekitar Rp 30 juta. Ternyata, mengenai swadaya masyarakat, dari pembuatan joglo, pembuatan pagar jalan, pembangunan gardu pandang, dan lain-lainnya, pasti nilainya lebih dari Rp 50 juta jika semuanya dirupiahkan.


Itulah yang membanggakan. Masyarakat desa dengan sukarela mendukung persiapan hingga pelaksanaan acara rampung. Mereka tidak dibayar. Betapa banyak dana yang mesti disiapkan jika semua harus dibayar dengan uang. Jika perlu ongkos pula untuk rumah warga yang dijadikan home stay dadakan itu. Jika segenap peserta diganti uang transportasi mereka. Jika para juru masak yang sekurang-kurangnya dalam 3 hari bekerja terus-menerus siang dan malam itu mesti dibayar pula.

Bukan saja karena diselenggarakan di desa terpencil, desa yang belum terbaca oleh Google Earth, yang disebut Beni Setia tidak tertera dalam peta dengan skala 1 : 10.000 (Jawa Pos, Minggu, 02 Agustus 2009), FSJ-D 2009 adalah acara yang besar dilihat dari jumlah pesertanya. Tak kurang dari 600 orang hadir dalam acara pembukaan, terdiri atas calon peserta Seminar Pembelajaran Bahasa Jawa, calon peserta Sarasehan Sastra, dan calon peserta Sarasehan Desa ditambah para pejabat dari berbagai dinas/instansi tingkat Kecamatan Dongko dan Kabupaten Trenggalek.

Dalam beberapa kali rapat koordinasi antara Panitia dengan tokoh masyarakat dan lembaga pemerintah (di tingkat Kecamatan Dongko: Muspika dan Unit Dinas Pendidikan) saya tidak berani menyebut angka lebih dari 100 untuk jumlah undangan sastrawan yang akan datang dari berbagai kota di Jawa. Saya hanya mengatakan bahwa undangan yang saya sebar sekitar 100-an, tetapi mengingat lokasi Festival yang tergolong susah dijangkau, kalau datang 50 hingga 60 orang saja Panitia akan merasa senang. Ternyata, seniman/sastrawan yang hadir malah 100 orang lebih.

Seusai pembukaan, acaranya pun digelar serentak atau secara paralel di 3 tempat: [1] Seminar Pembelajaran Bahasa Jawa di SMP Negri Satu Atap 2 Dongko (di tempat yang sama dengan acara pembukaan), [2] Sarasehan Sastra di Joglo Nglaran, dan [3] Sarasehan Desa di MTs Nurul Huda Desa Cakul.[]

Tuesday, 25 August 2009

Bulan Berserakah

Memang, Allah menciptakan bulan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah. Tetapi, yang namanya manusia, kita ini, sering jadi kelewat usil. Dan untuk keusilan yang tak jarang menjurus-jurus ke hal-hal jahat itu kita sematkan sebutan atau istilah-istilah pembenar: kreativitas. Dhasar menus! Ya, ta? Enak ta? Sudah benar-benar salah pun masih berkelit.


Mengaku atau pun mungkir, banyak di antara kita ini adalah manusia pendendam. Ketika siang hari mesti menahan lapar dan dahaga, tidak makan dan tidak minum (dan diam-diam masih suka ngintip hal-hal yang potensial membatalkan puasa?) maka lihatlah pasar-pasar modern maupun tradisional: manusia berjubel bahkan ngantre pun dilakoni untuk berbelanja kebutuhan perut.

Dan ketika bedug maghrib ditabuh dan adzan dikumandangkan, kata yang pertama terlontar pun adalah: ’’Serrrrrbbbbuuuuuu....!’’ Benar-benar ekspresi sebuah pembalasan dendam. Meja pun tiba-tiba kurang luas untuk menampung nasi, sayur, lauk, buah, dan aneka menu takjil. Lalu, manusia pun menjelma Prabu Dewatacengkar: jangankan lembu atau rusa, kalau bisa (sesama) manusia pun dilahapnya. Dan bulan penuh berkah pun menjelma bulan berserakah.

Keserakahan perut ternyata belum seberapa. Keserakahan hati bisa jadi lebih nggegirisi. Di atas keserakahan hati itu, perbuatan baik pun bisa menelan korban. Berpuluh jiwa bisa melayang karenanya. Karena manusia serakah, karena beramal pun menjadi media penyaluran syahwat bergagah-gagah. Ada yang menyebarkan duit dari langit (dengan pesawat), ada yang menjejal-jejalkan manusia lain di tanah lapang. Alih-alih kegembiraan karena bisa ikut menikmati sedekah, berpuluh orang, tahun lalu, meregang nyawa, karena terhimpit dan terinjak-injak manusia lain ketika mengantre sedekah atau zakat.

Korban sudah terlalu banyak, dan kita layak mengenangnya untuk memerkaya pemahaman kita tentang kehidupan yang makin hari makin rumit ini.

Suatu hari, Sumi yang sedang kemaruk-kemaruknya menjadi menantu baru itu pun mengajak suaminya ke desa, menjenguk sekalian mengirimi mertuanya makanan-makanan khas kota: berbagai jenis kue dan roti, pokoknya yang aneh-aneh. Beberapa hari Sumi menjelajah berbagai mal untuk mendapatkan makanan aneh-aneh yang ia berharap, mertuanya belum pernah menyantap, bahkan melihatnya.

Sumi membelanjakan lebih dari sejuta rupiah uangnya, dari gaji suaminya, dengan riang. Kalau bicara soal ikhlas, dalam hal memberikan makanan, dan kelak juga pakaian kalau sudah mendekati lebaran, kepada Sang Mertua, keikhlasan Sumi lebih dari 1000 persen. Suaminya yang ngrejekeni dan gagah bin tampan itu tidak bisa dinilai dengan harta benda bukan? Sumi menyadari itu sepenuhnya. Dan seandainya orangtua suaminya bukan mertuanya yang sekarang ini, apakah bersedia juga menyerahkan putra tertampannya ke dalam pelukannya agar bisa digendong di mana-mana? Iya ta? Enak ta?

Singkat cerita, Sang Mertua sangat terharu dengan ketergopohan Sang Menantu. Wis datang jauh keraya-raya, bermobil ratusan kilometer hanya untuk mengantarkan badhogan, jal ta! Rak ndlomok tenan ta? Maka, ora ketang rada asing di perasaan, dilahaplah makanan antaran Sang Menantu itu. Senajan rasane saka rumangsana galor-ngidul, ya dienak-enakke. Nggo nyenengke sing ngeteri.

Dan akibatanya ialah: mencret! Celakanya, Sumi tak pernah diberi tahu. Dan perihal mencret karena makanan kutha kuwi mau tetap mejadi rahasia sampai sehari sebelum tulisan ini dibuat.

Semoga pada saat yang tidak terlalu lama lagi Sumi pun tahu untuk kemudian menyadari bahwa sebaiknya, jika mau memberikan sesuatu kepada orang lain pakailah ukuran kebutuhan orang yang akan kita beri dan bukannya memakai ukuran kita. Sebab, selalu memakai ukuran diri sendiri pada hakikatnya adalah keserakahan juga. [Kang Ndemun]

Friday, 26 June 2009

’Memilih’ Tidak menjadi Kaya

Jika yang dimaksud kaya adalah berkelimpahan harta-benda, maka bagaimana kita mendapatkannya? Buku-buku mengenai cara cepat atau cara gampang menjadi kaya terbit di mana-mana, beredar di sekitar kita. Tetapi, banyak orang, dan kita berada di antaranya? – masih saja merasa sebegitu susahnya menjadi kaya.


Lalu ada yang memilih bersicepat menyimpulkan bahwa menjadi kaya adalah urusan nasib. Kerja keras? Banyak orang miskin bekerja lebih keras daripada orang kaya. Juga, kalau pinter mengatur keuangan adalah kunci utama untuk menuju pintu gerbang kekayaan, boleh kita lihat betapa banyak orang bisa menyeramahi orang lain mengenai teknis pengelolaan keuangan yang ternyata lebihmiskin daripada yang diceramahi.

Tampaknya, orang menjadi kaya dengan dukungan sekian banyak faktor, dan memang, tak boleh disepelekan adalah faktor nasib itu. Faktor kesempatan juga. Kalau sudah terlahir dari keluarga kaya-raya ternyata kemudian tumbuh menjadi orang miskin, itu soal nasib juga.

Kekayaan, sekali lagi kekayaan harta-benda, telah kita pandang sebagai segala-galanya. Dan di pihak lain, memang, kemiskinan adalah persoalan terberat bangsa kita. Sampai-sampai dalam sebuah debat cawapres beberapa waktu lalu keluar pernyataan lebih-kurang begini, ’’Apa pun ideologinya, kalau rakyat sejahtera tidaklah akan timbul banyak masalah.’’

Nah! Sejahtera. Anggapan bahwa kesejahteraan adalah sesuatu yang tidak mungkin tumbuh di dalam kemiskinan pastilah mengandung lebih banyak kebenaran. Tetapi, seperti juga ditunjukkan banyak lakon sinetron, dan kehidupan nyata para kayawan dan kayawati (untuk menyebut orang-orang yang berkelimpahan harta) mengajarkan kepada kita bahwa kesejahteraan juga bisa mengerdil di tempat yang sangat jauh dari kemiskinan.

Maka, sungguh terburu-buru mengambil pilihan ini: menikah dengan orang kaya setelah Yang Mahakuasa menentukan kita lahir di dalam keluarga yang tidak kaya, dengan maksud untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sejahtera. Nah, ini lagi. Ternyata sejahtera itulah yang berada di tataran yang lebih tinggi dari sekadar kekayaan. Artinya, orang memimpikan kekayaan untuk mendapatkan kesejahteraan. Jadi, impian terakhir kita sebenarnya adalah kesejahteraan. Dan kalau kalimatnya diperpanjang adalah: … kesejahteraan dunia-akhirat.

Ada seorang teman yang buku tabungannya sudah sedemikian tebal, tetapi ia masih saja gelisah mengenai masa depannya. Banyak hal yang membuatnya gelisah, yang membuatnya tidak bisa merasa cukup nyaman dan bahkan cukup aman dalam menapaki kehidupan ini. Sedangkan teman lain yang saldo tabungannya kira-kira hanya cukup untuk membuka warung pulsa kecil-kecilan setelah pulang kampung kelak ternyata lebih ceria.

’’Saya merasa senang bisa melihat anak-anak menyelesaikan sekolah mereka dengan baik, salah seorang di antaranya sudah sarjana malah. Saya sungguh bahagia melihat orangtua saya merasa bahagia, dan selalu merindukan saya. Saya tidak pernah menghitung berapa dolar kukirimkan kepada mereka. Saya tidak pernah berpikir apa yang akan menjadi balasan bagi saya kelak. Saya hanya tahu hidup saya sungguh berarti bagi mereka, dan bagi diri saya sendiri. Saya percaya kepada Yang Mahamengatur. Dan tak pernah sedikit pun saya merasa khawatir bahwa saya akan menjalani hari tua yang menyedihkan. Saya menikmati. Saya senang dengan buku tabungan saya yang tipis, saldo yang jika saya sebut untuk orang yang mengetahui telah berapa tahun saya mengais dolar di negeri orang ini pastilah tidak akan dipercaya.’’

Begitulah kira-kira apa yang ada di benak kawan kita yang sudah merasa sejahtera sebelum menjadi kaya itu. Maka, kalau tidak menjadi kaya, kenapa? [nde]

Monday, 25 May 2009

FSJ-D 2009 Diundur ke: 04 – 05 Agustus 2009

Festival Sastra Jawa dan Desa yang semula akan digelar 17 – 18 Juni 2009, karena mbarengi Ujian Sekolah, ditunda ke: 04 – 05 Agustus 2009. Mengapa begitu jauhnya rentang penundaan itu? Sungguh susah mencari “hari baik”, maksudnya yang benar-benar leluasa. Ini pekerjaan bersama, melibatkan beberapa sanggar sastra Jawa dan setidaknya dua Jurusan Bahasa Jawa (Unesa dan Uness).

Juni ini Pak Tiwiek SA (Tulungagung) punya hajat menikahkan putrinya. Juli ganti Daniel Tito (Sragen) yang punya hajat dan mengharap pula kehadiran kawan-kawan pengarang sastra Jawa. Kawan-kawan di Jogja juga ada sibuk terkait FKY. Nggoleki dina longgar dadi sangsaya angil tenan! Njuk ketemulah lagi ing Agustus 2009. Muga-muga ora mengkeretke semangate sing padha arep rawuh. Nuwun. []

Thursday, 21 May 2009

FSJ-D 2009 DIUNDUR PELAKSANAANNYA

Mohon maaf, baru ketahuan bahwa tgl 17 -18 Juni di Trenggalek sedang dilakukan Ujian Sekolah SD/SMP dan karena tim repotnya adalah Dinas Pendidikan dan Dinas Poraparibud, Trenggalek, dengan ini diputuskan untuk mengundur waktu pelaksanaan Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 (sekalian ke bulan Agustus), setelah selesai gawe nasional pilpres. (Slengekan: Jadi, kalau ada capres/cawapres mau urun sumbangan tidak tampak rame pamrihe, hehe).

Hal-hal mengenai tetek-bengek berkait penundaan ini akan diselesaikan dengan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK serta api semangat, grengseng, dan tekad untuk menggelar FSJ-D 2009 tetap LANJUTKAN!

Calon pesereta akan segera dikirimi undangan lengkap dengan tanggal/waktu yang baru.

Mohon dimaklumi,dimaafkan.

Demikian, terima kasih.

PANITIA
FSJ-D 2009
www.nglarankita.blogspot.com
www.ppsjs.blogspot.com
sastrajawa@yahoo.com

FSJ-D 2009 DIUNDUR PELAKSANAANNYA

Mohon maaf, baru ketahuan bahwa tgl 17 -18 Juni di Trenggalek sedang dilakukan Ujian Sekolah SD/SMP dan karena tim repotnya adalah Dinas Pendidikan dan Dinas Poraparibud, Trenggalek, dengan ini diputuskan untuk mengundur waktu pelaksanaan Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 (sekalian ke bulan Agustus), setelah selesai gawe nasional pilpres. (Slengekan: Jadi, kalau ada capres/cawapres mau urun sumbangan tidak tampak rame pamrihe, hehe).

Hal-hal mengenai tetek-bengek berkait penundaan ini akan diselesaikan dengan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK serta api semangat, grengseng, dan tekad untuk menggelar FSJ-D 2009 tetap LANJUTKAN!

Calon pesereta akan segera dikirimi undangan lengkap dengan tanggal/waktu yang baru.

Mohon dimaklumi,dimaafkan.

Demikian, terima kasih.


PANITIA
FSJ-D 2009

www.nglarankita.blogspot.com
www.ppsjs.blogspot.com
sastrajawa@yahoo.com

Thursday, 7 May 2009

Menggagas Hadiah Sastra Jawa

Sangat ironis, hadiah paling bergengsi untuk Sastra Jawa justru diberikan oleh Yayasan Rancage (Sunda). Artinya, orang ’luar jawa’ ternyata justru lebih (memihak) jawa daripada orang jawa sendiri. Acara penganugerahaan Hadiah Rancage pun selalu ditunggu-tunggu sebagai acara terhormat bin bergengsi bukan saja oleh para sastrawan Sunda,melainkan juga oleh sastrawan Jawa, Bali, Lampung.


Ke mana orang jawa yang sebenarnya punya cukup modal untuk menyelenggarakan pemberian hadiah, bukan saja untuk sastra, melainkan untuk sosok-sosok yang bisa dinilai memiliki prestasi di bidang pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya Jawa?

Ini persoalan kemauan, sama sekali tidak menyangkut kemampuan. Maka:

[1] Mari kita sidangkan melalui bursa pendapat (boleh menulis opini yang panjang) melalui milis sastrajawa@yahoogroups.com atau kirim ke email sastrajawa@yahoo.com, atau ada saran untuk saluran lain? Di sini kita bisa berdiskusi, kalau perlu berdebat, apakah ’hadiah’ itu perlu, penting, atau bahkan tak akan bermanfaat samasekali.

[2] Nanti, jika simpulannya adalah: hadiah itu penting, mari kita bersama-sama mengingatkan pemerintah daerah (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur) yang menaungi masyarakat (dan kebudayaan) Jawa untuk mengagendakan pemberian hadiah itu.

[3] Jika Pemerintah Daerah (seperti tersebut pada no 2) tidak memberikan respon positif terhadap usulan pemberian hadiah itu, bolehlah kita bentuk sebuah komunitas, organisasi, atau apa, untuk mengimpun dana perorangan semampunya, hingga gagasan yang pernah dengan susah-payah dimulai pelaksanaannya (menawarkan proposal) oleh Pak Parto (Suparto Brata), Pak Tamsir AS (alm.), dan Pak Esmiet (alm.) di awal 90-an itu bisa terwujud.

Sebagai bahan pertimbangan, perlu diketahui bahwa Pemerintah DIY, Jateng, Jatim, sejak 1991 memiliki agenda 5 tahunan bernama Kongres Bahasa Jawa. Konon, KBJ IV (Semarang, September 2006) digelar dengan dana tak kurang dari Rp 5 milyar. Nah, kalau setiap tahun kita bisa menilai 5 orang paling berprestasi di ranah kebudayaan Jawa, dan memberikan hadiah dengan nominal Rp 10 juta/orang (konon nominal Hadiah Rancage Rp 5 juta/orang), berarti kita perlu anggaran dana (kalau bisa dari pemerintah) Rp 50 juta/tahun. Catatan: Dana untuk acara seremonialnya bisa dicarikan dari sponsor (?). Jika ditanggung oleh 3 pemerintah daerah, berarti masing-masing daerah hanya perlu mengeluarkan tak sampai Rp 20 juta/tahun atau Rp 100 juta dalam 5 tahun.

Maka, secara pribadi, kalau saya boleh memilih:
[a] pilihan I: keduanya, baik pemberian hadiah maupun Kongres Bahasa Jawa berjalan seirama.
[b] pilihan II: kalau harus memilih salah satu, KBJ dibekukan saja!
Bagaimana pendapat Anda?

[Bonari Nabonenar]

Wednesday, 6 May 2009

Ketika Budayanya Digempur Habis-habisan di Mana Sastrawan Jawa?

Oleh: Siti Aminah dan Bonari Nabonenar*

Seperti halnya data kependudukan umumnya, tidak ada data pasti mengenai jumlah orang Jawa saat ini. Namun, beberapa sumber menyebut 40% - 45% penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 235 juta ini adalah etnis Jawa. Sebagian besar dari mereka tinggal di pedesaan dan menjadikan pertanian sebagai tumpuan hidup utama.


Tidak berbeda dengan sektor lain, sektor pertanian juga tak lepas dari agenda ekonomi-politik global. Revolusi Hijau merupakan sebuah contoh bagaimana mesin ekonomi-politik globabal menggilas pertanian di Indonesia, termasuk Jawa. Sebagai bagian dari paham modernisasi, Revolusi Hijau yang masuk ke Indonesia sebagai pelaksana teknis developmentalisme ini bukanlah program pertanian semata, melainkan sebuah strategi melawan tradisionalisme. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, beragam pengetahuan pertanian manusia di muka bumi mengalami penggusuran besar-besaran dan dijadikan satu pola pertanian saja.

Program modernisasi pertanian didukung oleh lembaga-lembaga penelitian besar seperti International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina dan International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT) di Mexico. Saat ini di dunia terdapat 13 lembaga riset sejenis yang dikelola dan dikembangkan oleh The Consultative Group for International Agricultural Research (CGIAR) yang merupakan tulang Revolusi Hijau.

Akibat dari program ini ribuan varietas tanaman tradisional tergusur. Lebih parah lagi, petani menjadi tergantung pada industri benih dan tak lagi mampu mengontrol serta mereproduksi benihnya sendiri. Benih telah berubah menjadi sumber kentungan dan kontrol karena di tangan lembaga penelitian dan perusahan-perusahaan transnasional benih merupakan komoditi komersial.

Bukan itu saja. Revolusi Hijau ternyata juga menjadi sebuah program untuk menyingkirkan atau melemahkan pengetahuan rakyat. Budaya pemuliaan benih dibabat habis sebagai bentuk kontrol penguasaan pasar. Bahkan, tak jarang petani yang dengan pengetahuan tradisionalnya melakukan pemuliaan benih sendiri dituntut ke pengadilan dengan tuduhan melakukan pembenihan ilegal (kasus Mbah Suko Magelang, Suprapto dan Tukirin). Selain itu Revolusi Hijau juga telah menggusur perempuan dari aktivitas mereka di sektor pertanian. Tipe padi dan teknologi baru yang dikenalkan secara sistematik mengabaikan dan menggusur peran perempuan. Dengan demikian budaya pertanian Jawa sebenarnya telah dimatikan.

Jawa, Pangan, dan Kedaulatan
Dalam hal pangan, negeri kita penuh ironi. Sebagai sebuah negeri dengan tanah yang subur, kaya keragaman hayati, serta sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian, mestinya pangan tidak menjadi masalah di sini. Namun, kenyataannya setiap tahun ada saja persoalan kelangkaan pangan dan kelaparan. Bahkan, ketergantungan Indonesia terhadap produksi pangan impor, terigu, berbagai jenis buah, dan bahkan beras masih cukup tinggi.

Dalam kenyataannya, kelaparan bukan semata kelangkaan sumberdaya dan teknologi, melainkan sebuah pilihan politik baik nasional maupun global. Negara dapat mengambil keputusan politik untuk memastikan warga negaranya tidak lapar dengan menghidupkan kembali keberagaman dan pengembangan pangan berdasarkan keunggulan lokal.

Banyak kasus kerawanan pangan di Indonesia mengacu pada tercukupinya persediaan beras di suatu wilayah. Jika acuan kecukupan pangan tetap saja digantungkan pada beras, mungkin bangsa Indonesia akan terus dihantui kerawanan pangan karena tidak semua wilayah di Indonesia menghasilkan beras. Bahkan, di Jawa yang memiliki produktivitas padi tertinggi di Indonesia (5,2 ton/Ha) tidak semua daerahnya dapat ditanami padi sepanjang tahun. Sementara kecukupan pangan telanjur ditambatkan pada satu komoditas saja: beras.

Berasisasi yang berjalan seiring dengan Revolusi Hijau bukan saja memunculkan kerawanan pangan, melainkan juga menghabisi kekayaan hayati negeri ini. Berbagai tanaman pangan lokal (umbi-umbian) punah karena dihakimi sebagai sumber pangan yang tidak bergizi. Ketika kerawanan pangan berkali-kali menjadi ancaman, wacana kembali ke pangan lokal baru mulai dimunculkan. Telanjur rakyat terbiasa dengan beras, sehingga gerakan kembali ke pangan lokal ini tidak cukup mendapat tempat. Apalagi gerakan ini hanya dilakukan setengah hati karena beras sudah menjadi komoditas baik pengadaan benih maupun perdagangannya. Dengan demikian masyarakat Jawa telah kehilangan kedaulatan pangannya.

Di Mana Sastrawan Jawa?
Ketika entitas budaya Jawa mengalami gempuran habis-habisan seperti itu, di manakah para sastrawannya? Dua majalah berbahasa Jawa yang menjadi media tumpuan ekspresi para sastrawan Jawa masih terbit secara teratur (masing-masing sepekan sekali) yakni Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Menariknya, kedua majalah berbahasa Jawa itu terbit di Surabaya, bukan di Surakarta atau Yogyakarta. Masing-masing memuat sebuah cerpen dalam setiap edisinya, memuat satu, dua, atau beberapa guritan (puisi), dan cerita bersambung yang biasanya tamat dalam 10 hingga 20 kali pemuatan.

Setelah perbukuan di jagad Sastra Jawa mengalami masa keemasan pada tahun 70-an (dengan banyaknya buku picisan berbahasa Jawa), dan kemudian surut hingga nyaris senyap, kini buku-buku karya sastra berbahasa Jawa mulai menggeliat. Setidaknya ada buku yang diterbitkan setiap tahun karena dirangsang oleh hadiah tahunan yang diberikan oleh Yayasan Rancage. Dan yang tak boleh dilupakan adalah tekad seorang Suparto Brata untuk membiayai sendiri penerbitan buku-buku berbahasa Jawa-nya dari honor/royalty buku-buku berbahasa Indonesia-nya.

Artinya, sastra Jawa (modern) belum mandeg. Tetapi, apakah ia benar-benar menjadi jurubicara yang bagus untuk masyarakat pendukungnya atau seperti ’’gadis manis, sekarang iseng sendiri’’** (?) itulah salah satu pertanyaan yang sebaiknya terjawab pula oleh FSJD 2009 nanti.[]

*) Siti Aminah adalah pekerja komunitas, pengarang novel berbahasa Jawa Singkar, tinggal di Yogyakarta. Bonari Nabonenar, Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa, Ketua FSJD 2009.
**) dari sajak Chairil Anwar Cintaku Jauh di Pulau


Surabaya Post, Sabtu, 2 Mei 2009

Tuesday, 5 May 2009

ORA PRELU NGRAPAL SIREP

lamon wus gilig ati karep
ora prelu ngrapal sirep
aja wedi peteng
aja wedi lunyu
ndang budhala ki sanak
aja lali gondhelan sing siset

Cakul, April 2009

ANA LINTANG TIBA NENG LATAR

kembang ora prelu mekar
lan saupama srengenge ora sumunar
tresna wus arum mangambar
pajar sumyar
kae lho
ana lintang tiba neng latar

Cakul, April 2009

TRESNA

dheweke terus jumangkah
kaya sang andonlampah kang ora nate lungkrah
polatane tansah sumringah
tatu, kacintrakan, lamon timiba
tangeh lamon bakal tumama:
mung aran-aranan salahkaprah
jalaran dheweke jatining tresna

asalira tresna
busana trena
watak tresna:
jatining tresna


Cakul, April 2009

Saturday, 25 April 2009

FSJ, Bukan Festival Kangen-kangenan

Suatu hari dalam sebuah surlek (surat elektronik) cerpenis Beni Setia menulis: ''Kenapa tak ada orang Jawa yang merasa terpanggil untuk nguri-nguri bahasa dan sastra Jawa dengan memberi dana dan kepercayaan yang sama pada PS (Majalah Bahasa Jawa Panjebar Semangat) atau JB (Jaya Baya), misalnya? Apa komunitas Jawa yang mayoritas penduduk Indonesia itu tak menghasilkan manusia berbudaya yang tertarik untuk mendinamisasi sastra Jawa dengan hadiah tahunan? Kenapa Bengkel Muda Surabaya bisa masuk jadi pos anggaran APBD Surabaya, mengalahkan DKS (Dewan Kesenian Surabaya) yang formal top-down building, tapi PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) tidak --padahal institusi ini strategik memberi hadiah tahunan yang mendinamisasi kreativitas sastrawan muda Jawa?''


Surat itu menunjukkan betapa Beni Setia sebegitu gelisahnya terhadap kondisi sastra Jawa saat ini. Seirama dengan kegelisahan saya dan kawan-kawan penggiat sastra Jawa pada umumnya. Menariknya, karena Beni lahir dan besar di dalam kultur Sunda dan mengakrabi Jawa karena kemudian ia menikah dengan gadis Jawa yang lalu membawanya ke Caruban, kota kecil di pinggiran Madiun. Sebagai orang ''Jawa baru'', saya tahu Beni jauh lebih vokal daripada kebanyakan orang Jawa yang ''Jawa deles'' yang sebagian besar masih bersikap nrima. Terlalu nrima.

Memangnya sehebat apa para pengarang/penyair atau sastrawan Jawa hingga perlu diberi hadiah? Apakah urusannya kalau sastrawan muda bermunculan, produktif/kreatif, atau sebaliknya, mampet? Bukankah tidak ada wawancara rekrutmen karyawan yang men-syarat-kan kemampuan berbahasa Jawa kecuali untuk penyiar radio/televisi lokal? Bukankah ketika pemerintah daerah menganjurkan atau bahkan mewajibkan pengalokasian waktu untuk pelajaran bahasa Jawa bagi siswa SD dan SMP, banyak yang diam-diam menggantinya dengan pelajaran bahasa asing, terutama bahasa-bahasa milik negara yang potensial kita setori pekerja rumah tangga?

Siapa pula yang akan peduli seandainya Jaya Baya dan Panjebar Semangat itu kukut? Jika pertanyaan itu diperjelas arahnya: Apakah yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Surabaya maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk dua buah ''monumen'' kebudayaan Jawa yang kebetulan ada di tengah-tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya itu?

Ketika menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Timur, Prof Dr Setya Yuwana Sudikan mengemukakan gagasan untuk menyubsidi para penulis Jawa. Caranya, memberikan bantuan dana kepada redaksi agar honor sebuah tulisan di majalah berbahasa Jawa tidak hanya seperlima atau bahkan sepersepuluh honor tulisan berbahasa Indonesia. Tanpa perlu memperhatikan berapa tiras masing-masing, dengan perbandingan itu kita tahu betapa miskinnya majalah-majalah berbahasa Jawa itu. Jangankan meng-online-kan diri melalui situs berbayar, mengongkosi pemeliharaan di situs gratisan saja tampaknya mereka tidak mampu.

Hingga saat ini subsidi untuk penulis Jawa itu masih berhenti sebagai gagasan. Para penulis/sastrawan Jawa sering menjadi penting hanya ketika ada penelitian.

Kini saatnya penulis/sastrawan Jawa berkonsolidasi untuk menyadari peran apa yang bisa diambil agar tidak menjadi penggerutu terus. Sebelum ini, ada puluhan bahkan ratusan pernyataan yang menyayangkan sikap ''menangisi'' keberadaan sastra Jawa itu. Ini bukan saatnya kita berkeluh kesah. Bukan saatnya menggerutu. Apalagi menangis. Kita boleh marah, asalkan tahu persis bahwa kita layak marah. Tetapi, itu nanti. Kini, mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan.

Apa saja yang bisa kita lakukan sekarang? Festival Sastra Jawa (FSJ) yang bakal digelar di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, 17 - 18 Juni 2009, diupayakan menjadi langkah awal bagi para ''pembela'' sastra Jawa yang tak mau lagi hanya menggerutu, berkeluh-kesah, dan menangis. Momen itu sekaligus menjadi ajang konsolidasi dan bukan sekadar media kangen-kangenan seperti halnya forum-forum semacam.

Kelak, kalau para pembela sastra Jawa sudah benar-benar solid, Festival Sastra Jawa menjadi agenda tahunan untuk menuju forum silaturahmi budaya yang lebih besar (berskala nasional) yang bisa dinamakan Festival Sastra Etnik Nusantara. Semoga tak hanya mimpi. [Bonari Nabonenar, Penggagas FSJ 2009, bonarine@yahoo.com]

Jawa Pos [Minggu, 26 April 2009]

Monday, 6 April 2009

Ngrembakane blog abasa Jawa

Ndayakake lan ngrusak basa Jawa

Para maos tumon panganan kemilan sing bisa nggrawut? Apa sejatine kemilan nggrawut iki lan ing ngendi anane, bisa ditakokake marang Purwoko utawa sing duwe jeneng singlon Blonthank. Jeneng singlon iki sing luwih kondhang dadi arane jurnalis senior iki. Wiwit sawetara wektu kapungkur dheweke ngracik blog abasa Jawa kanthi alamat situs caturanoragawe.dagdigdug.com. Tulisan bab kemilan nggrawut iki kapacak ing salah siji artikel tulisane.


Lan blog iki mujudake salah siji blog sing nggunakake basa Jawa sing nggandhul ing server dagdigdug.com. Basa Jawane kapetung lumayan ndeles, akeh nggunakake tembung-tembung basa Jawa sing racake ing titi wanci saiki wus arang sing mangerteni tegese lan trep-trepane. Nanging akeh uga tembung-tembung sing luput nulise, cawuh antarane aksara ”o” lan aksara ”a” ing panulise sawijining tembung. Purwoko dhewe nalika wawangunem kalawan Espos nelakake yen ing tulisan-tulisane pancen ana sawetara sing nggunakake basa Jawa baku, lan ana uga sing nggunakake basa Jawa ndalanan.

Dene kepriye milihe, arep nggunakake tembung-tembung Jawa baku utawa tembung-tembung Jawa ndalanan, gumantung underane sing arep ditulis lan swasana ati lan pikiran nalika nulis. Nanging, yen maca artikel-artikel sing kapacak ing blog iki rata-rata nggunakake basa Jawa baku, kepara ana siji loro sing nggunakake basa Jawa krama alus.

”Aku duwe krenteg kanggo nulis abasa Jawa ing blog sawise ndulu kanyatan yen saiki sansaya akeh generasi mudha Jawa sing kelangan Jawane. Akeh generasi mudha Jawa sing wus ora bisa micara basa Jawa. Lan akeh generasi mudha Jawa sing wus ora ngerti suba sita lan tatakrama. Saliyane kuwi yen nulis ing blog nganggo basa Jawa rasane luwih nges,” pratelane Purwoko sing ing blog-e uga macak sesanti sala pancen endah, mula ayo padha digawe genah.

Yen wus mlebu ing blog caturanoragawe.dagdigdug.com para maos bisa mbacutake mbukak blog-blog liyane sing uga ditulis nganggo basa Jawa. Antarane blog bornjavanese.blogspot.com, saktipaijo.wordpress.com, etankali.dagdigdug.com lan sawetara blog liyane.

Cawuh

Miturut Dyah Ningrum Roosmawati, lulusan jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS, tulisan-tulisan ing blog-blog abasa Jawa kasebut pancen nuwuhake rasa mongkog amarga ana saweneh pawongan sing duwe krenteg kanggo ngleluri basa Jawa ing jagad maya utawa Internet. Kanthi mangkono bakal akeh wong sing bisa mbukak lan maca tulisan-tulisan kasebut.

Emane, miturut Dyah, tulisan abasa Jawa ing blog-blog kuwi uga mbebayani tumrap basa Jawa dhewe. Akeh tembung-tembung sing luput nulise, ora jumbuh karo paramasastra basa Jawa. Kaya sing bisa diwaca ing blog saktipaijo.wordpress.com. Ing tulisan sing kapacak ing blog iki akeh tinemu tembung-tembung sing kleru panulise. Antarane yakuwi tembung sworo (kudune swara), soyo (kudune saya), udokoro (kudune udakara), duh (kudune dhuh), parogo (kudune paraga) lan sawetara tembung-tembung liyane. Ing blog etankali.dagdigdug.com uga tinemu tembung sing luput nulise, kayadene tembung kuwi sing ditulis kui.

Sastrawan Jawa saka Trenggalek, Jawa Timur, Bonari Nabonenar, lumantar blog-e ing alamat situs bonarie.blogspot.com ngandharake pancen akeh tulisan abasa Jawa ing Internet sing nulise luput, ora jumbuh karo paramasastra basa Jawa. Kepara ing google.com sing wus nyumadhiyakake perangan mligi abasa Jawa uga akeh tinemu tembung-tembung sing luput nulise. Rata-rata cawuh antarane aksara ”a” lan aksara ”o”. Uga cawuh antarane aksara ”dh” lan ”d”.

Saliyane blog-blog kuwi mau, ing Internet uga ana saweneh blog lan situs sing mligi ngrembug babagan sastra lan budaya Jawa. Antarane yakuwi blog-e Bonari Nabonenar lan ki-demang.com. Pancen ing blog lan situs iki uga ngemot sawetara tulisan sing ora nganggo basa Jawa, ana saperangan sing tinulis nganggo basa Indonesia. Nanging werna Jawane pancen kenthel banget. ::Ichwan Prasetyo::

Saka: Jagad Jawa SOLO POS Edisi : Kamis, 05 Maret 2009 , Kaca : 4

Minirtiwikin Djidi Gilijipi

SAYA menyambut baik kreativitas H M. Cheng Ho Djadi Galajapo pada bagian Kata Djadi (halaman vii) buku ini. Di situ Djadi memberikan kata sambutan menggunakan huruf vokal ''i'' seluruhnya.

Menurut pelawak dedengkot grup kocak Galajapo tersebut, pemakaian huruf ''i'' vokal dalam kalimat-kalimatnya adalah salah satu bentuk penghematan. Selain itu, huruf ''i'' dipilih lantaran pengucapannya tak perlu membuka mulut lebar-lebar. Menurut Djadi, membuka mulut secara lebar mengesankan sebagai orang yang sombong.


Meski begitu, sebagian orang boleh jadi merasa tidak nyaman mengucapkan kalimat-kalimat yang hanya menggunakan vokal ''i''. Kalimat yang semua menggunakan huruf vokal ''i'' membikin orang tampak mringis karena giginya selalu terlihat sedikit (kalau terlihat banyak disebut mrongos).

Bagaimanapun itu adalah salah satu bentuk kampanye seorang pelawak yang tujuan utamanya membuat orang tertawa, mengocok perut pembaca bukunya. Bukan untuk merusak tata bahasa Indonesia yang baik dan benar atau membuat orang menjadi meringis semuanya.

Dan ternyata, saat kampanye pemakaian satu huruf vokal tersebut saya terapkan untuk judul resensi ini, rasanya juga nggak pas. Karena itu, untuk pembaca yang merasa risi atau aneh pada judul tulisan ini, saya beri tahu: judul asli resensi ini adalah Menertawakan Djadi Galajapo.

***

DALAM kamus besar bahasa Indonesia, ''menertawakan'' dimasukkan sebagai salah satu lema (entry). Artinya ada beberapa. Yaitu: tertawa terhadap; tertawa karena; menghina atau mengejek; dan menyebabkan tertawa.

Buku Neraka Wail dan Kue Terang Bulan ini bisa mencakup semua makna kata ''menertawakan'' tersebut (kecuali menghina atau mengejek, tentu). Lewat kisah-kisah yang terangkum dalam buku setebal 146 halaman plus ini, Djadi Galajapo ingin ''menertawakan pembaca''. Artinya, ia ingin membuat masyarakat tertawa. Dan, rasanya, lantaran Djadi adalah seorang pelawak, itulah tujuan utama buku terbitan JP Books, Surabaya, ini. Yakni, menertawakan orang.

Karena itu, mulailah dia meramu buku dengan kisah-kisah getir kehidupan seorang Djadi Galajapo dan meraciknya dengan tata bahasa dan gaya bertutur yang ringan dan kocak khas pelawak.

Racikan itu memang harus pas. Sebab, sebagian besar kisah yang diusung Djadi memang bukan kisah kocak. Justru, banyak kisah hidup Djadi yang ngenes, susah, pahit, atau menderita yang diceritakan ke pembaca. Misalnya, bagaimana kisahnya ketika merintis karir di dunia lawak dengan menjalani audisi di sebuah bengkel mobil; bagaimana dia harus hidup tersia-sia oleh mertuanya (bahkan, Djadi mengisahkan bahwa dia pernah mengumpati mertuanya lantaran begitu jengkel karena terus-menerus disia-siakan). Atau bagaimana Djadi harus sembunyi-sembunyi melawak karena takut ketahuan embah-nya yang mengutukinya dengan ''neraka wail'' jika Djadi terus mengocok perut orang di atas panggung.

Kisah penderitaan Djadi itu seakan mengamini pendapat sebagian besar masyarakat yang menyebut bahwa komedian besar Indonesia selalu lahir dari keluarga yang menderita. Seorang pelawak harus selalu ditempa dengan jalan hidup yang begitu berliku dan begitu keras, begitu menyakitkan. Buku Djadi menunjukkan itu.

Bagaimanapun, kisah-kisah itu memang harus diselaraskan dengan tujuan buku tersebut. Yakni, menertawakan orang atau membuat orang tertawa. Itu susahnya. Sebab, jika cerita masa lalu yang getir tersebut tidak diramu dengan tata kalimat yang cocok, alih-alih tertawa dan memetik hikmahnya, orang malah mengharu-biru dan menangis-nangis saat membaca buku Djadi. Bisa jadi, saat Djadi manggung, orang tidak lagi bakal tertawa namun malah menyantuninya.

Namun, Djadi tidak hanya ''menjual'' kisah sedih. Cerita sukses, kisah lucu, cerita inspiratif, hingga ide dan pemikiran soal perkembangan dunia lawak dan keartisan lokal pun terselip dalam 29 bab buku ini. Sebut saja saat dia memenangkan ciuman pertama seorang gadis bernama Ana (Meliana Prasetyaningsih Fatchul Jannah) yang akhirnya dinikahi dan memberinya dua anak perempuan. Kisahnya terasa romantis, sedikit erotis, meskipun perjalanan biduk rumah tangganya kerap dipenuhi tangis. Djadi membuktikan bahwa dia bisa menjadi Arjuna (bukan Hanoman seperti kata Kelik Pelipur Lara dalam kata pengantar buku) bagi Ana.

Salah satu yang patut diacungi jempol adalah kejujuran Djadi mengungkapkan hal-hal yang bagi sebagian orang dikategorikan sebagai wadi (rahasia paling pribadi). Tentu itu semua ada maksudnya. Bukan hanya lantaran namanya adalah Sudjadi yang bisa jadi akronim dari Suka Djual Wadi.

Salah satu kejujurannya yang paling jujur (baca: paling berani) adalah pengakuannya soal nyaris berzina dengan seorang penyanyi yang kebetulan sedang manggung bersama Djadi di Pekalongan. Ceritanya, Djadi dan penyanyi itu menginap (atau diinapkan) sekamar. Pada suatu malam (menurut versi Djadi), penyanyi itu menggodanya. Terjadilah pergumulan dahsyat. Saat semuanya sudah muntup-muntup, Djadi (katanya) tiba-tiba sadar. Dia pun mengambil handuk dan menutup perut penyanyi cewek yang cantik dan menggoda itu.

Cerita ini, asli jujur, dan polos. Entah apa reaksi istri Djadi saat mendengar cerita tersebut untuk kali pertama. Yang ini, tidak ada di buku.

Yang patut jadi catatan, buku ini tidak bisa 100 persen memindahkan kelucuan seorang Djadi Galajapo di atas panggung. Memang, mengadopsi humor lisan ke dalam bahasa tulisan bukan pekerjaan yang gampang. Penulis (Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad) pun tampaknya menyadari hal itu, sehingga sebelum dikritik kiri-kanan, mereka sudah meminta maaf dalam pengantar buku bahwa mereka takut tidak bisa menyuguhkan tulisan yang cukup lucu.

Penulis bukan cuma minta maaf pada hal itu. Mereka juga nyuwun sorry karena buku itu disusun dalam waktu singkat. Dalam hitungan pekan, mereka mewawancarai Djadi Galajapo lantas menyusun serpih-serpih ingatan dan pijar-pijar kesan, dan catatan-catatan Djadi atas perjalanan hidupnya sebagai manusia (halaman viii).

Itu, tampaknya betul, kesan kesusu pada buku ini tak bisa sirna begitu saja. Kadang ada kalimat yang kurang sedap dilahap, ada judul bab yang pemenggalan katanya tidak pas, atau teks foto yang terasa dipasang serampangan.

Salah satu yang cukup terasa adalah pemilihan foto yang dipakai sebagai ilustrasi. Buku ini memang konsisten menghadirkan satu foto Djadi di awal bab plus beberapa foto di tengah-tengah bab. Nah, ada banyak sekali foto daur ulang. Misalnya, foto pelengkap bab yang diambil wajah Djadi-nya saja lalu dipasang di awal bab lain. Itu terjadi berulang ulang.

Tapi, seperti diakui kedua penulis, buku tersebut jadi dalam hitungan pekan. Mungkin, Djadi tidak sempat melakukan sesi foto khusus --berbagai pose-- untuk melengkapi buku itu sebagai ilustrasi antarbab.

Dan, penulis menyadari berbagai kekurangan itu. Sekali lagi, mereka membuka buku ini dengan permintaan maaf atas kekurangan-kekurangan itu. So, khusus soal kekurangan ini, jangan ditertawakan. (*)

-----

Judul Buku : HM Cheng Ho Djadi Galajapo; Neraka Wail dan Kue Terang Bulan

Penulis : Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad

Penerbit : JP Books Surabaya

Cetakan : I, September 2008

Tebal : xiv + 146 Halaman

Doan Widhiandono, wartawan Jawa Pos; penyuka lawak (dos@jawapos.co.id)

Sumber: Jawa Pos [Minggu, 04 Januari 2009]