Wednesday, 23 December 2009

Membina(sakan) Kesenian Tradisional

Berbagai jenis kesenian tradisional kita keadaannya semakin menyedihkan. Di Surabaya, ludruk sudah hampir tamat. Untung masih cukup berjaya di Mojokerto, Jombang, dan sekitarnya. Ketoprak juga nyaris, kalau bukannya sudah: tamat. Wayang orang, apalagi! Dan sekian banyak jenis kesenian tradisional, seperti: kentrung, terbang jedhor, kuda lumping, reog, dongkrek, dan sebagainya, seolah-olah sudah tinggal di dalam museum tanpa perawatan yang memadai. Tragisnya lagi, museum itu bernama: masyarakat pendukungnya sendiri!


Kita lalu marah bukan main ketika mengetahui ada gelagat atau tanda-tanda bahwa kesenian tertentu diakui sebagai milik bangsa lain. Tetapi, kita sering hanya tampak seolah-olah berupaya, berjuang, untuk membuat keadaan kesenian tradisional itu lebih baik. Ada beberapa gambaran menarik terkait upaya yang menurut hemat saya hanya lebih tampak sebagai upaya ’seolah-olah’ mendorong perkembangan dan memerkuat kedudukan kesenian tradisional, tetapi sesungguhnya cenderung membina… sakan!

Suatu saat, seorang kawan mengirimkan kabar: ’’Ini saya sedang berada di TMII (Taman Mini Indonesia Indah), sedang menonton pagelaran kesenian (tradisional) dari kampung halaman (kabupaten, Bon.) saya. Wah, seru deh! Ada bupatinya, gubernurnya, dan ada pula duta besar negara sahabat ikut menyaksikan langsung. Saya benar-benar bangga….’’

Dalam posisi demikian, saya bisa juga bangga, tetapi segera bertanya: Dalam hal kesenian dari daerah dipentaskan di Jakarta seperti itu, ditanggap (segala ongkos ditanggung Jakarta) ataukah atas nama promosi dan sejenisnya yang biayanya ditanggung oleh mereka (daerah) yang sudah berpeluh-peluh itu? Tak lama kemudian saya pun mendapatkan jawaban bahwa ternyata yang terjadi adalah proyek promosi. Daerahlah yang membiayainya. Dan, siapa yang mendapatkan keuntungan lebih banyak, termasuk secara material dari tiket masuk TMII itu?

Promosi, apalagi jika harus membayarnya dengan mahal, tentu tidak harus selalu ke Jakarta. Menyelenggarakan festival di masing-masing daerah, menggelar pelatihan, mengirimkan para pelaku seni untuk mengikuti kegiatan-kegiatan demi peningkatan kualitas kesenimanan mereka, dan mengadakan kegiatan penguatan/pemberdayaan terhadap sanggar-sanggar atau komunitas-komunitas kesenian tentu akan jauh lebih bermanfaat.

Dan jangan lupa, bangun website (laman) yang isinya memadai. Kalau tidak bisa membeli domain yang berbayar, pakai yang gratisan juga bisa, kan? Ini tampaknya perlu uluran tangan pihak-pihak yang mau peduli, karena sebagian besar pelaku kesenian tradisional belum melek teknologi informasi.

Untuk memromosikan kesenian tradisional ke luar negri secara murah-meriah, kita bisa menggunakan jasa para TKI kita yang bekerja di luar negri, terutama: Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong. Saya melihat di Hong Kong, beberapa komunitas kesenian yang dibentuk oleh para perempuan pekerja rumah tangga asal Indonesia dengan sukarela, tanpa dibiayai pemerintah, menampilkan berbagai jenis kesenian tradisional kita: gemblukan, kuda lumping, dan banyak tarian khas daerah. Mereka juga ambil bagian, misalnya, dalam Festival Wan Chai, yang tentunya digelar oleh pemerintah setempat. Maka, kalau kita mau memberikan sebentuk perhatian, sedikit sajalah, buat mereka, pastilah hasilnya akan jauh lebih menggembirakan.

Kembali ke soal festival, selain berpotensi didatangi orang dari luar daerah (menjadi promosi wisata), festival juga akan merangsang terciptanya efek (positif) karambol bagi sektor lain, misalnya sektor perekonomian. Maka, kalaulah harus mahal, uang yang dikeluarkan untuk sebuah festival akan beredar di daerah setempat, dan bukannya masuk ke kantong pusat (baca: Jakarta).

Mengirimkan seniman dadakan untuk acara-acara di luar daerah atau di luar negri bisa pula menimbulkan akibat yang tidak baik terhadap kehidupan seni tradisional. Dengan demikian, terkesan para seniman dadakan difasilitasi, sementara para seniman asli-nya hanya bisa gigit jari. Para dalang di kampung juga sering mengeluhkan bahwa, kalau untuk acara Agustusan yang minim dana, mereka dikerahkan. Tetapi, giliran ada acara yang ’basah’ diundanglah dalang terkenal.

Ada contoh yang masih hangat, dalam peringatan Hari Jadi Jawa Timur beberapa waktu lalu bukan dalang lokal (Jawa Timur) yang ditanggap, melainkan Ki Anom Suroto dari Solo. Dan tentunya, yang dimainkan adalah wayangan gaya Jawa Tengah (Surakarta). Hal demikian mencerminkan tiadanya rasa bangga sebagai wong Jawa Timur yang memiliki seni pakeliran wayang gagrag Jawa Timur, bukan?

Jangan-jangan, Panitia Hari Jadi Jawa Timur memiliki pola pikir yang sama dengan sebagian masyarakat (seperti pernah dituturkan seorang dalang) bahwa pakeliran gagrag Jawa Tengah itu lebih mriyayeni karena bahasanya yang ’halus’ sedangkan pakeliran gagrag Jawa Timur itu ’kasar’. Jika demikian halnya, sadar atau tidak, sedikit-banyak mereka telah ambil bagian dalam (upaya) membinasakan kesenian tradisional bernama: Pakeliran Wayang Gagrag Jawa Timur. [bonarine@gmail.com]


Kompas Jatim, Selasa, 22 Desember 2009
piye?:

0 urun rembug: