Wednesday, 25 March 2009

Menunggu Fatwa

Salah satu makna kata ’koalisi’ menurut KBBI (versi online) adalah: "kerja sama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dalam parlemen." Lalu, sruwing-sruwing melalui sebuah tayangan televisi saya dapat tambahan informasi bahwa ternyata koalisi itu ada beberapa macamnya. Ada koalisi strategis, ada koalisi ideologis. Dan entah koalisi apa lagi.


Koalisi adalah sesuatu yang diperbolehkan, bahkan sering menjadi keharusan dalam kasus-kasus tertentu. Tetapi, dengan segenap informasi yang saya dapatkan selama ini, tetap saja saya, sebagai warga yang difatwai untuk tidak golput, selalu merasa risi dengan koalisi itu. Perasaan risi semacam ini tak begitu saya sadari sewaktu rakyat yang sudah memiliki hak pilih urusannya cuma memilih partai. Di tangan partailah urusan memilih anggota parlemen, memilih kepala daerah, memilih presiden.

Kali ini seorang rakyat seperti saya, harus memilih dengan ’tangan’ alias menyontreng sendiri Ketua RT, Ketua RW, Bupati/Walikota, Gubernur, Presiden. Tetapi, sebelum kita disuruh memilih, di atas sana (para partai) menentukan calon-calon yang boleh kita pilih. Inilah persoalan yang tampaknya akan diselesaikan dengan memunculkan calon independent, yang hingga saat ini tampaknya belum bisa jalan secara sempurna. Ini baru salah satu soal.

Dalam kaitannya dengan pemilihan kepala daerah atau bahkan kelak presiden, ada hal yang tidak sekadar terasa risi tetapi sedemikian mengganjal dalam perasaan saya, yaitu: ketika otak dan hati rasa berdamai untuk mengidolakan sebuah partai, ealah kemudian njlekethek partai idola itu berkoalisi dengan partai yang kalau boleh saya ungkap dengan kalimat yang agak ekstrim, meminjam peribahasa Jawa: ’’Dadia banyu aku emoh nyidhuk, dadia godhong aku emoh nyuwek.’’

Kalau sudag begitu, lha kan kojor ta rasaning atiku? Lalu, di mana harga suara saya? Bagaimana saya bisa menarik kembali suara yang saya serahkan yang ternyata tidak digunakan seperti yang saya bayangkan sebelumnya? Kalau atas nama koalisi strategis, pragmatis, atau is is lainnya partai mana pun boleh berkoalisi dengan partai mana pun, untuk apa saya yang hanya seorang rakyat kecil sekali ini harus memilih?
Apalagi, ketika kemudian saya dengar samar-samar bahwa bisa jadi sebuah partai, kelak, menjual gerbong yang dibangun dengan bahan baku suara yang dijaring dari ’kerongkongan rakyat’ seperti saya ini dengan harga yang begitu tinggi!

Hari pemilihan sudah dekat. Wahai orang-orang yang suka memberikan fatwa, inilah saatnya memberikan fatwa kepada saya! [bonari nabonenar]

tak tak tak

percaya tak percaya
suka tak suka
sakit tak sakit
mau tak mau
makan tak makan
memilih tak memilih
tak tak tak


tak percaya percaya
tak suka suka
tak sakit sakit
tak mau mau
tak makan makan
tak memilih memilih
tak tak tak

tak

2009