Tuesday, 25 December 2012

BUMI SEBUAH KESEIMBANGAN

Pagi ini ketika saya nyruput wedang kopi setelah menyuapi anak luwak peliharaan saya, sebuah stasiun televisi mengabarkan bahwa bannyak petani di Indonesia kawasan timur beralih pekerjaan menjadi penambang emas. Lalu, tiba-tiba pula terlintas di dalam pikiran saya yang sesungguhnya belum ada rubriknya untuk dimasukkan ke dalam go-blog-kan ke sini, sebab rubrik yang paling tepat adalah: NGGEDABRUS BANGET. Begini:

Bukankah alam, termasuk di dalamnya planet bernama bumi ini adalah sebuah sistem yang selalu bergerak dalam sebuah keseimbangan (yang rumit)-? Termasuk di dalamnya adalah peran gravitasi, yang membuat planet-planet berputar sambil ’menggelinding’ pada garis edarnya masing-masing? Pernahkan Anda bertanya, mengapa ada garis katulistiwa, mengapa ada kutub selatan dan kutub utara? Dan Anda terburu-buru menemukan jawabannya di sela-sela buku bikinan para pakar di bidangnya, atau membiarkan dulu pikiran Anda berjalan nggedabrus seperti saya? Bumi yang bundar (lebih tepatnya: agak lonjong?) ini bukankah sangat potensial untuk mengsla-mengsle dalam gerakan tak beraturan yang memungkinkan terjadinya chaos dan bahkan berujung: kiamat?
Sebuah pemandangan dari puncak Gunung Bogang yang berkaldera. Lokasi: Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Pernahkan Anda bertanya, mengapa barang-barang (tambang), mineral, gas (panas) bumi, gunung berapi lebih banyak di wilayah garis katulistiwa atau di dekatnya? Itu pertanyaan saya yang mengarahkan pada sejenis kekhawatiran setelah mengetahui kenyataan bahwa minyak, gas, dan barang-barang mineral dari dalam perut bumi terus disedot. Tak pernah berhenti. Padahal, itu semua punya limit. Akan ada habisnya. Maka, apa yang terjadi ketika emas, timah, tembaga, perak, besi, gas alam, habis disedot sehingga yang disebut gunung berapi pun hanya tinggal menyisakan kaldera yag tak lagi pernah menyala?

Jangan-jangan, pada suatu hari nanti bumi kehilangan gravitasinya dan meluncur, melayang, liar di tengah-tengah galaksi ini? Sedangkan menumpang kereta luncur saja kita sudah merasa jantung mau copot (jangan bilang-bilang ya: saya belum dan sepertinya tak akan pernah berani mencobanya). Padahal, itu masih kereta luncur itu sangat terkendali dan dijamin keamanannya. Apa yang tgerjadi jika bumi melesat dari garis edarnya dan melayang-layang liar di angkasa raya? Sudahkah ada penelitian yang dibuat dengan simulasi ketika bumi sudah habis diperas barang-barang tambangnya? Tolong, kasih tahu saya, ya? Jika Anda hanya bilang, ”kasih tahu enggak, ya?” --niscaya akan saya kutuk Anda untuk menjadi lebih nggedabrus daripada saya. –GLODHAG….!

Wednesday, 12 December 2012

Selayang Pandang: Dunia Penulisan Kita

Novel berbahasa Jawa karya Suparto Brata

Semakin hari kehidupan kita cenderung semakin pragmatis. Nilai-nilai kemanusiaan pun makin menipis, karena hubungan antarmanusia lebih sering semata-mata bermotiv kepentingan pragmatis. Apalagi ketika Ekonomi sangat terasa dipanglimakan, baik oleh warga masyarakat maupun pemerintah. Lalu terjadilah komodifikasi di segala lini kehidupan, bahkan di dalam kehidupan beragama. Sastra sebagai salah satu cabang kesenian yang sangat dekat dengan pemikiran, seperti dikatakan Budi Darma, ”Dunia sastra adalah dunia pemikiran,” seharusnya lebih banyak mendapatkan perhatian di dalam situasi seperti ini. Sastra dalam pengertiannya kini, nyaris identik dengan tulisan. Tanpa menyepelekan keberadaan sastra lisan, memberi perhatian terhadap sastra pada dasarnya adalah bentuk kepedulian pula terhadap tradisi tulis-baca di tengah-tengah masyarakat, satu hal yang dapat menjadi pedoman untuk mengukur seberapa kemampuan kita sebagai bangsa mengejar ketertinggalan dalam bidang pemikiran, ilmu, pengetahuan, dan teknologi dari bangsa-bangsa lain yang sudah terlebih dahulu menjadi bangsa yang maju. Ironisnya, di sekolah-sekolah, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, pelajaran kesusasteraan hanya ditempelkan di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang sering pula disebut sebagai Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Mata pelajaran ini memang ikut menentukan apakah sesorang siswa lulus ujian atau boleh naik kelas. Tetapi, ia sering dipandang enteng. ”Toh, bahasa Indonesia adalah bahasa kita sendiri,” kira-kira begitulah alasannya. Maka, betapa mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak hanya jauh kalah gengsi di mata siswa dibandingkan dengan mata pelajaran lain yang diujikan dalam UNAS dan menenentukan seorang siswa boleh naik kelas atau tidak.
PROF. DR. AYU SUTARTO

Salah satu persoalan besar bangsa ini adalah kurangnya tradisi literasi (baca-tulis). Prof Dr Ayu Sutarto sering mengemukakan hal ini dengan, ”Masyarakat kita telah melompat dari kelisanan tahap pertama (oral) ke kelisanan tahap kedua (audio-visual). Dari tradisi tuturan/lisan dengan dongeng, petuah-petuah lisan pada zaman yang lebih ke belakang, seharusnya melangkah ke tradisi tulis seperti dialami kebanyakan bangsa yang sekarang sudah maju. Barulah, ketika tradisi literasi sudah menjadi, mereka menerima fasilitas teknologi baru dengan berkembangnya materi audio-visual, termasuk multimedia secara urut. Lompatan itu tentu membawa konsekuensi yang lain. Tradisi berpikir kritis, rasional, dan mendalam, tidak terbangun dengan baik. Di tengah-tengah zaman digital ketika hampir setiap individu, dari anak-anak hingga manula dilengkapi dengan perangkat multimedia, dari yang bernama ponsel, iphone, hingga komputer tablet, nyaris semuanya menjadi serba instan, serba cepat saji.

Kurikulum tidak mendukung (sebab ’sastra’ hanya ditempelkan dalam mata pelajaran Bahasa (Indonesia), sebagian guru yang kurang siap mengajak para siswanya menyukai kesusasteraan, ketersediaan buku-buku karya sastra di perpustakaan-perpustakaan sekolah yang sangat minim, adalah faktor-faktor yang menyempurnakan keterpinggiran sastra di sekolah-sekolah.

Jika ada yang menggembirakan, belakangan ini geliat kesusasteraan, setidaknya kecenderungan untuk menyukai kegiatan baca-tulis sedang mengalami tren naik di tengah-tengah masyarakat. Begitu, menyukai dunia sastra, biasanya anak-anak muda itu cenderung jadi militan: dengan kemampuan dana yang biasanya pas-pasan mereka tekun mengikuti pertemuan-pertemuan, bedah buku, festival, sarasehan sastra di berbagai kota. Bahkan, ikut berangkat ke luar negri, untuk menghadiri acara kesusasteraan, dengan biaya sendiri.

Budi Darma pernah menyatakan bahwa orang (termasuk anak-anak muda itu) menyukai sastra, giat mengikuti agenda-agendanya, rajin membaca buku-bukunya, didorong oleh keinginan untuk menjadi sastrawan. Akibatnya, banyak yang berguran, patah hati, dan tampak berhenti mencintai kesuasteraan karena merasa tidak lagi mampu bersaing untuk menempatkan namanya di dalam buku sejenis ”apa-siapa”-nya Kesusasteraan Indonesia. (Solilokui: 1984). Rasa gagal, dan patah hati itu muncul ketika karya-karya mereka tak kunjung dapat menembus saringan para redaktur media cetak, baik media umum maupun media khusus (sastra), dan apalagi menembus saringan penerbit buku.

Sekarang zaman sudah berganti. Untuk menembus media cetak barangkali memang masih susah bagi kebanyakan penulis pemula. Selain harus bersaing dalam hal kualitas dengan para penulis yang sudah mengantongi banyak ”jam terbang”, ruang bagi tulisan berkaitan dengan kesusasteraan: puisi, cerpen, esai, makin menyempit, atau bahkan dihapus oleh banyak media cetak, walau jumlah media cetaknya bertambah. Tetapi, kini ada alternatif lain: media online, yang dikelola dengan atau tanpa sistem penyaringan oleh admin. Bahkan, kini setiap orang dapat membuat media online-nya sendiri, secara gratis pula! Grup-grup bagi para pecinta sastra pun tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Kini, seharusnya tidak ada lagi yang ”patah hati” dan berhenti mencintai sastra karena setiap orang bisa jadi pemain, bisa tampil, dan menciptakan panggung masing-masing, baik secara perorangan maupun kelompok.

Demikian pula penerbitan buku. Jika sampai era 80-an para sastrawan seolah hanya bisa menunggu sampai ada pihak lain (dalam hal ini penerbit) menerbitkan buku-buku mereka, sekarang hampir setiap orang dapat menerbitkan bukunya, setidaknya dengan membiayai sendiri. Antologi bersama juga sangat sering/banyak diterbitkan dengan saringan yang kadang sangat longgar, atau bahkan tanpa seleksi! Baik penulis yang sudah memiliki banyak jam terbang maupun pemula sekarang punya peluang yang sama tidak hanya untuk menerbitkan buku, tetapi juga untuk menjadi penerbit buku. Dalam konteks ini, boleh dikata sekarang ini sesungguhnya sedang terjadi banjir buku, bukan mengacu pada banyaknya buku yang terbit dalam datuan waktu tertentu, melainkan karena nyaris tiadanya seleksi. Dalam sebuah tulisannya, Budi Darma pun mengakui bahwa sekarang ini para pengamat/kritikus pun sudah kewalahan untuk memonitor karya-karya sastra yang beredar.

Penerbitan buku secara indie kini memang sedang sangat marak. Menariknya, seorang penulis sekaliber Suparto Brata yang pernah mendapatkan SEA Write Award pun banyak menerbitkan bukunya secara indie. Suparto Brata sadar, bahwa buku-buku berbahasa Jawa tidaklah ”seksi” di mata penerbit. Oleh karenanya, di samping karya-karya (cerpen dan novel) berbahasa Indonesia-nya yang banyak diterbitkan secara ”major label” Suparto Brata menerbitkan karya-karya berbahasa Jawa-nya dengan ”indie label”.

Di tengah-tengah masyarakat, komunitas pecinta sastra pun bermunculan, baik yang dimulai dengan jejaring online maupun sebaliknya. Fasilitas teknologo komunikasi yang mengalami kemajua luar biasa belakangan ini sungguh telah memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap gerakan literasi. Sekali lagi, ini kabar baik untuk urusan kuantitas: banyaknya tulisan yang beredar, semakin dekatnya ”jarak psikologis” antara penulis/sastrawan dengan sesama penulis/sastrawan maupun dengan pembaca. Komunitas-komunitas bernuaansa ”fans-club” pun bermunculan, baik merujuk sosok (sastrawan) maupun (karya).
FOTO: diambil dari akun FB Muntamah Sekar Cendani

Sangatlah besar peranan komunitas-komunitas itu, baik yang online maupun yang off-line, terhadap pertumbuhan minat baca-tulis di tengah-tengah masyarakat kita. Kalau kita mau membandingkannya dengan lembaga-lembaga formal, bahkan gerakan masyarakat itu tampak jauh lebih progresif. Banyak kawan-kawan saya yang guru, hanya menggelengkan kepala ketika saya tanyai, apakah buku ini atau buku itu teersedia di perpustakaan sekolahnya. Guru-guru Bahasa Indonesia pun dituntut (terlalu banyak di sita waktunya) oleh kurikulum untuk mengajarkan materi-materi yang sudah tidak ’hangat.’ Sementara itu, komunitas-komunitas yang tumbuh di masyarakat langsung berurusan dengan isu-isu terkini dalam dunia sastra dan perbukuan pada umumnya.

Yang jauh lebih menarik perhatian saya adalah gerakan masyarakat buruh migran dalam bidang literasi ini, setidaknya yang saya lihat sendiri di Hong Kong. Para pekerja rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong, tergolong ’rakus’ terhadap buku. Beberapa di antara mereka malahan layak dijuluki bukumania, ketika berlibur ke tanah air bisa habis berjuta-juta rupiah untuk berbelanja buku. Beberapa di antara mereka malah membangun perpustakaan di kampung halaman, seperti dilakukan Maria bo Niok dengan Rumah Baca Istana Rumbia (Wonosobo, Jawa tengah), dan Muntamah dengan Pondhok Maos Cendhani (Kediri, Jawa Timur).

Bukan hanya urusan membaca dan memasyarakatkan minat baca, kawan-kawan di Hong Kong itu juga sangat maju di bidang penulisan. Salah seorang di antara mereka, Etik Juwita (sekarang ia mahasiswa Jurusan Sastra Inggris di Universitas Gajayana, Malang) memasukkan sebuah cerita pendek Bukan Yem (kali pertama dimuat Jawa Pos) ke dalam 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 versi Pena Kencana. Peranan komunitas-komunitas penulis, termasuk Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Hong Kong tentu sangat besar terhadap kemajuan dunia penulisan di kalangan para pekerja migran itu. Tentu, tak boleh dilupakan pula peranan beberapa media cetak berbahasa Indonesia yang khusus beredar di antara sekitar 150.000 orang asal Indonesia di Hong Kong itu. Karenanya, di Hong Kong kita tidak hanya akan bertemu dengan para pekerja rumah tangga yang sekaligus adalah seorang penulis fiksi, melainkan juga dengan beberapa orang yang sekaligus adalah kontributor atau bahkan jurnalis untuk media cetak, baik yang terbit di Hong Kong maupun di Indonesia.

Buku-buku pun banyak terbit dari kalangan para pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Seminar-seminar, workshop dan lomba penulisan, pun digelar atas upaya dan jerih-payah mereka. Setahu saya, lembagaa-lembaga resmi pemerintah kita belum berperan secara signifikan untuk mendukung gerakan yang sangat mulia itu.

Padahal, bukankah jika kita ingin menjadi bangsa yang maju, maka kita harus memacu gerakan literasi ini?*

*)dimuat di Majalah "Anu" (maaf, lupa namanya, kiriman nomor bukti belum datang)

Pamarentah Nggembosi Programe Dhewe

ing Prakara: Ejaan Basa Jawa ing Aksara Latin

Atur tulisan ringkes iki wiwit diracik sinambi ngeling-eling lelakon sawatara taun kepungkur, nalika lumantar SMS (short message system) –sumangga yen arep dijawakake dadi KTT (kitir tilpun tangan)—saka saweneh sesepuh sawijining sanggar sastra Jawa. Isine ora mung nylekit, nanging melehake sakayange
Nanging, tibane malah dadi gungan saka pinisepuh marang kang luwih enom, dadi panyaruwe kang kasurung rasa tresna. Kang dadi tuke prekara nalika kuwi sawijining kaset campursari abasa Jawa kang sumebar ing Jawa Timur. Ing CD kuwi, saben ana aksara kang kudune tinulis ’a’ diganti dadi ’o’ upamane: ’aja’ dadi ’ojo’, ’kulawarga’ dadi ’kulowargo’.

Kamangka nakah asli kang diaturake marang produser kaset ora kaya mangkono. Lha, geneya kok dadine malah ngisin-isini ngono kuwi? Pranyata, pihak produser yakin banget yen naskah asli saka penulis-e kuwi luput, mula kudu ’dibenerake’ tanpa (dianggep ora prelu) nganggo taren. Ngono kuwi rak ya banjur ngelingake marang sawijining ’teori’, ”Ing negarane wong edan, yen ana wong siji-loro kang isih waras malah bakal dianggep utawa diarani edan.”

Isih saka Jawa Timur, ana tim penulis kang dhek semana mbabar buku kanthi irah-irahan Among Roso ditambahi Monografi Pengabdian Imam Utomo. Geneya kok ora ditulis ”Among Rasa” kamangka ing sajroning tim iku ana penggurit, jurnalis, redaktur saweneh majalah basa Jawa, kang bisa ngelingake manawa panulise kuwi mau luput. Pranyata, ing kene dumadi lelakon: wong siji kang bener dikalahake wong salah kang luwih akeh lan luwih kuwasa.

Pamarentah Kabupaten Ponorogo uga tau gawe baliho kanthi tulisan, ”Manunggale cipto, roso, karso agawe rahayuning Bumi Reyog,” –kudune tinulis, ”Manunggale cipta, rasa, karsa, agawe rahayuning Bumi Reyog.” Mesthine ing bab gegandhengan sikap-e pamarentah marang tatatulise basa Jawa, Pamarentah Kabupaten Ponorogo iku ora ngijeni. Akeh (lembaga) pamarentah saka tataran desa tekan provinsi kang sawiyah-wiyah marang basa Jawa kanthi nulisake sakarepe udele. Kanyatan kang mangkono iku nuduhake manawa pamarentah pranyata malah nggembosi utawa nindakake bab kang lelawanan karo program-e: nguri-uri, nglestarekake basa Jawa kang wis diwragati ora sethithik.

Iku banget mrihatinake, ngelingi yen basa Jawa kuwi satemene basa kang ’sugih’ kang uga ora sethithik sumbang-surunge marang ajuning basa Indonesia. Bisa uga diibarateke bumi (Nuswantara) kang subur, nanging ora dirumat kanthi becik, kepara malah dianiaya. Pawadan ”waton komunikatif” kerep dadi tamenge para pihak kang gawe rusak iku.


Sawise prasasat kelangan aksarane (carakan) basa Jawa sansaya rusak ora mung merga akeh kang ora nggatekake tatatulise ing aksara latin, ananging uga ing pandhapuking tembung-tembung, kaya kang ditindakake KPU (Komisi Pemilihan Umum) Jawa Tengah kanthi ukara, ”Ayo sareng-sareng ke Pilgub Jateng 2013.” Apa ora luwih nges nggunakake ’sesarengan’ tinimbang ’sareng-sareng’ (bareng-bareng)? Apa uga mung waton narik kawigaten dene banjur dipilih tembung ’ke’ lan nyisihake tembung ’tumuju’ utawa ’menyang’? Kareben diarani gaul ngono apa piye? Ana maneh semboyan, ”Bali ndeso mbangun ndeso,” kuwi gaweyane sapa?

Sajake kaluputan-kaluputan iku dumadi amarga ora ngreti lan kurang ing rasa andarbeni. Banjur tuwuh pitakon, senajan ta mung dijatah 40- 45 menit saben seminggune kanggo wulangan basa Jawa ing sekolahan (kelas 1 – 9) –ing Jawa Tengah malah tekan kelas 12? --utawa sajroning 6 – 9 taun iku kepriye kok nganti ora ana tilase? Mbokmanawa, wangsulane ora mung iki: ”Sajroning perang lumawan tumindak aniaya marang basa Jawa, para guru kudu adhep-adhepan karo ”wadyabala sewu negara” kang dumadi saka: pamarentah kang nggembosi programe dhewe mau, CD/VCD campursari/tembang Jawa kang cakepane tinulis kanthi sakarepe dhewe, langkane bahan/wacan abasa Jawa, lan liya-liyane.


Kanthi mangkono, satemene kabar manawa wulangan basa Jawa bakal disuwak saka sekolahan ora kudu ditampa kadidene kabar kang nyedhihake, sauger ana cara liya kang tumemen anggone nandangi.

Cara liya kang (sapa ngreti malah) luwih ampuh iku kaya ta: nyuburake papan utawa ngurup-urupi babare buku-buku wacan abasa Jawa, mepaki perpustakaan sekolahan kanthi sawernane buku basa Jawa, mbabar kalawarti mligi kanggo para siswa/remaja, lan sapiturute. Coba takona marang para penulis/pengarang/sastrawan Jawa, apa kang luwih nyababake padha dadi penulis/pengarang kang bisa ngugemi tatatulis basa Jawa (kanthi aksara latin) kuwi? Amarga padha tau sekolah, apa amarga padha seneng memaca? Sumangga.*

wus kapacak ing Solopos

Ajining Dhiri Dumunung Aneng Lathi

Yen ana pilihan tokoh nasional kang paling kerep gawe pratelan njumbulake, mbokmanawa juwarane Pak Marzuki Alie, kang saiki nglenggahi dhampar Ketua DPR-RI kuwi. Saka pratelane ngenani wong-wong kang dedunung ing pesisir kang bisa katrajang tsunami, ngenani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kang yen ”ora bisa ngene ora bisa ngono” luwih becik dibubarake wae, ngenani pramuwisma kang makarya ing luwar negri (domestic worker) kang diarani ngucemake martabate bangsa (Indonesia), lan kang saiki isih kebul-kebul prakara koruptor kang diarani dumadi saka para pinter… kang bisa saka pawiyatan luhur kaya ta: UGM (Universitas Gajah Mada), ITB (Institut Teknik Bandung), UI (Universitas Indonesia).

Akeh wong njumbul utawa kaget. Nganti saweneh mahasiswa program doktor UI, David Tobing, mrekarakake pratelan iku menyang pengadilan. Kaya wus bisa dibadhe, sawise Marzuki Alie njlentrehake apa kang dikarepake kanthi pratelan kang njumbulake kuwi, tanpa utawa tinambahan pratelan manawa dheweke rumangsa keduwung lan nyuwun pangapura, prekarane ora bakal ngambra-ambra. Enggal sirep, nganti mengko ing sawijining wektu, tanpa kanyana-nyana, dumadakan gawe pratelan anyar kang njumbulake maneh.

Uwal saka bener apa lupute, upamane yen winawas kanthi nalar akademik, pratelan-pratelan kang njumbulake kuwi cetha wus marakake ora kepenake (atine) liyan. Tegese, Pak Marzuki Alie kuwi kebangeten olehe sembrana, kaladuk ceplas-ceplos, kang tundhone luput olehe (kudune tansah) ”amemangun karyenak tyasing sasama.” (Pupuh Sinom, Wedhatama, KGPAA Mangkunegara IV). Mung etungan jam saka kawetune pratelan manawa pramuwisma asal Indonesia kang makarya ing negara manca kuwi ngucemake martabate bangsa (Indonesia) mbrudhul pratelan kang ngunek-unekake Ketua DPR-RI kuwi, saka kang rada alus nganti tekan kang kasar banget. Protes saka para pramuwisma asal Indonesia ing negara manca marang Pak Marzuki iku sumebar ing situs jejaring sosial, lan sawatara pramuwisma ing Malaysia, ing Hong Kong, malah gawe tulisan mirunggan ing blog-e.

Wektu iki cacahe pramuwisma asal Indonesia ing Hong Kong wis nyedhaki angka 150 ewu. Puluhan ewu embuh rangkep pira, kang wis padha melek internet. Lan bisa dibayangake kayangapa kemropoke atine para wanita kang ing negarane dhewe (yen ngepasi libur lan bali menyang bumi klairane) kerep dikuya-kuya (diuber-uber calo terminal/bandara), kang dening pamarentah diarani ”pahlawan (devisa),” lha kok dening Ketua DPR-e malah dianggep ngucemake bangsane? Apa ora malah pamarentah, bebarengan karo para wakil rakyat (DPR) kang ora kasil njaga amrih aja nganti ana rakyat kang keplayu menyang luwar negri mung luru pegaweyan kadidene batur utawa rewang kuwi kang kudune dadi underaning sabab kang marakake bangsa iki yen ta iyaa banjur ingaran Bangsa Kuli?

Kanyatan manawa padatane umyeg kang kajalaran saka pratelane Pak Marzuki banjur sirep sawise dijlentrehake iku uga bisa dadi titikan manawa kadidene pemimpin, basa pasrawungan (komunikasi) kang digunakake kurang titis. Mula banjur ora efektif. Malah mung ngentek-enteki wektu kanggo medharake maneh kanthi luwih trawaca. Kang ’entek’ ora mung wektune pak Marzuki kadidene pribadi apadene Ketua DPR-RI, nanging uga wektu lan papan pakabaran, kaladuk akeh kang mung kanggo ngabarake umyeg prakara pratelan nuwuhake seling-surup kuwi. Kabar liya kang kudune luwih wigati malah dadi kurang papan/wektu kanggo nggiyarake.

Rakyat kang uripe sangsaya sangsara, para pejabat kang dinakwa korup, pratikele pamarentah kanggo ngawekani sangsaya tambahe pengangguran, lan liya-liyane kaya-kaya sangsaya ora kawruhan jluntrunge, merga kamera lan kawigatene juruwarta kaya karebut dening kang padha udreg mung prakara omongan. Mengko gek pancen dijarag: kanggo ”ngulur wektu” lan kanggo nylimur rakyat kang tambah dina sangsaya getem-getem dening kabar ala kang saben-saben sumebar saka ”Senayan” saka bab nglipus ing wayahe sidang, malah ana kang nyambi nonton video/foto saru, kadurjanan ing Badan Anggaran kuwi, nganti tekan kanyatan manawa akeh anggotane kang kegeret prakara korupsi? Yen ta ana kang duwe panyakrabawa nganti tekan kono, ya kuwi rak isih klebu ing unen-unen, ”Janma limpad seprapat tamat.” Wong nyatane ya bisa dinalar. Mula, cara jago tinjune ngono rak bebadan kang aran DPR-RI kuwi kaya-kaya wis babak-belur diundhamana rakyat (kang diwakili).

Mbokmanawa pancen dibutuhake anane prakara anyar kanggo ngaling-alingi prakara kang luwih baku, lan ibarate jago tinju, upama kebacut ”kalah angka” ya kang bisa diupayakake mung aja nganti ”kalah KO”, rak ya ngono!

Apamaneh kang diarani keceplos, kepleset ilat, utawa aweh pratelan kang dadi seling-surup lan wis ora bisa dijlentgrehake maneh awit dhasare pancen wis luput, bisane rampung udreg mung yen pratelan kuwi mau dijabel, sinartan atur nyuwun ngapura. Yen pejabat publik nganti kepengkok ing bab kang mangkono iki, apamaneh ora pisan-pindho teges ora nuhoni unen-unen, ”Sabda pandhita ratu, sepisan dadi ora kena bola-bali.” Ingatase wong lumrah wae, yen bola-bali njabel omongane dhewe bisa kucem lan ora kinurmat, apamaneh yen pemimpin. Ya ing kene iki sajake mapan tumibane unen-unen, ”Ajining dhiri dumunung ana ing lathi.”

Ing satengahe bebrayan Jawa isih kerep kawetu ukara iki, ”Yen kebo-sapi sing dicekel dhadhunge, nanging yen manungsa sing dicekel omongane.” Ukara kuwi mau uga nuduhake sepira wigatine pratelan utawa omongan. Bedane, ukara kang disebut pungkasan kuwi mau mung kerep kawetu ing lisan, dene ukara sadurunge, ”Ajining dhiri dumunung aneng lathi, ajining driya dumunung aneng busana,” sajak banget diaji-aji, dipepetri dening bebrayan Jawa kanthi tinulisake ing boman, manjila ing antarane ukiran wangun tetuwuhan lan kekembangan. Mula dhek isih akeh omah gebyog, tulisan, ”Ajining dhiri…” –lan sateruse kuwi mau meh mesthi bisa diprangguli ing boman, saliyane tulisan, ”Sugeng rawuh,” utawa dibacutake dadi, ”Sugeng rawuh para tamu.”

uga iki pancen lagi nemahi jaman kang para pemimpin ing satengah-tengahe bebrayan agung wis angel dicekel omongane. Sing kerep kawetu malah ”esuk dhele sore tempe.” Wis olehe omong marakake lara atine rakyat, isih ditambah mencla-mencle pisan! Kamangka, yen kewan kebo-sapi kang dicekel dhadhunge. Yen manungsa kang dicekel omongane. Lha, yen para pemimpin lan mligine anggota Dewan Perwakilan Rakyat niku gek sing ajeng dicepeng napane? Arep dicekel partaine, lha wong nyatane ya akeh sing kerep ngolah-ngalih partai. Repot ta, nggih?*


Wus kapacak ing: Suara Merdeka

Tuesday, 11 December 2012

Aja Dumeh Babu*

"Jalan Lain ke Jogja" novel karyane Asih Aspalia, PRT asal Blitar ing Taiwan

Ing artikata.com tembung ‘’babu’’ iku mengku teges: ‘’perempuan yang bekerja sebagai pembantu (pelayan) di rumah tangga orang” (wong wadon kang makarya kadidene rewang ing omahe wong liya). YEN tembung 'babu' kasebut, kuping sok dadi keri, utawa malah dadi lara. Tembug iku kaangep kasar, ngasorake, beda karo tembung, 'pramuwisma', domestic helper (=rewang), domestic worker (= pekerja rumah tangga dicekak: PRT).

Basa Jawa sajak kangelan nemokake tembung kang trep, kang surasane presis karo kang kinandhut ing sebutan pungkasan kuwi mau: domestic worker/PRT. Apa, coba? Ing tataran nasional wae ya isih diarani 'PRT' utawa 'rewang'. Ajamaneh ing Indonesia, Hongkong kang kepetung negara kang luwih maju wae undang-undang/peraturan kang diwetokake departemen tenaga kerjane ya ngarani 'PRT' kadidene domestic helper utawa pembantu rumah tangga.

Eloke, senajan ing Hongkong sebutane domestic helper nanging cak-cakane luwih pas yen diarani domestic worker utawa PRT. Sababe, ing Hongkong ana aturan baku mligi ngenani pekerja rumah tangga: pira bayarane, apa hak-hake, lan apa wae kang dadi kuwajibane (pakaryan kang kudu ditindakake), klebu hak libur ing dina Minggu (bisa diganti dina liya) lan ing dina-dina tinamtu liyane, upamane ing 'hari besar nasional' utawa 'hari besar keagamaan'.

Ing bab libur, ora beda karo pegawe negri ing Indonesia, ta? Bayaran (resmi)-ne PRT ing Hongkong iku 3740 dolar Hongkong (HKD). Kanthi kurs saiki 1 HKD = Rp 1.180, kuwi padha karo Rp 4.413.200. Yen pegawai negri ing Indonesia kuwi golongan pira ya? Kanyatane ya akeh sing sangisore kuwi nampane, merga pancen majikane nyalahi aturan utawa isih kepotong cicilan utang kanggo wragat budhale biyen. Nanging, kanthi bayaran resmi samono kuwi, mapan lan mangan wis melu majikan, senajan cak-cakane ya akeh sing olah-olah dhewe amarga kangen olah-olahan khas Indonesia.

Mbaleni prakara sebutan, PRT uga sinebut kadidene pakaryan ing 'sektor informal'. Apa kang mangkono iku ora klebu ing wewengkon 'kelirumologi' ngampil tembunge Pak Jaya Suprana? Apa kulawarga iku dudu lembaga resmi (formal) yen: duwe NPWP, duwe kartu keluarga, lan sapiturute? Mengko gek aran-aranan 'sektor informal' kuwi mung linandhesan wawasan manawa keh-kehane PRT ing Indonesia iki dipleter pegaweyan lan dibayar sakarepe tuan/nyonya majikan? Rak durung ana ta UU PRT ing Indonesia? Perda PRT wae, sajake lagi Pemda DIY kang duwe.

Sawatara wektu kepungkur Ketua DPR Marzuki Alie aweh pratelan, kurang-luwihe, manawa: PRT asal Indonesia ing mancanagara ngucemake bangsa (menjatuhkan martabat bangsa). Merga krasa banget olehe nggebyah uyah kuwi, mula akeh PRT ing Hongkong padha kemropok. Malah ana kang mitakonake, "Kok sing disalahke malah PRTne, geneya dudu Pamarentah kang ora becus nyedhiyani lapangan kerja kang cukup kanggo rakyate?" Anazkia PRT asal Indonesia ing Malaysia, lumantar situs-e (anazkia.com) mrotes pratelan kuwi, nganti Marzuki Alie nglonggarake wektu kanggo langsung aweh wangsulan.

Jaman saiki, bakal gedhe lupute wong kang nganggep manawa PRT kuwi mesthi mendho, lan sarwa kekurangan. Ana kang budhal saka Indonesia wis sarjana, lho! Contone, Dhenok (asal Malang) kang banjur nulis buku kumpulan crita cekak (Abasa Indonesia) Majikanku Empu Sendok (Alfina, Surabaya, 1996) budhal menyang Hongkong sawise lulus sarjana saka FPOK IKIP Malang.

Etik Juwita (Blitar) kang tau nampa anugerah sastra Pena Kencana 2008, sawise nyambutgawe ing Hongkong saiki nggethu kuliyah ing Jurusan Sastra Inggris Universitas Gajayana, Malang. Ing Hongkong, kejaba akeh kang ngleboni pendidikan 'Kejar Paket', uga akeh kang dadi mahasiswi Program Diploma (pantoge Diploma 3).

Saka Hongkong akeh kang banjur bali menyang Tanah Jawa lan dadi wong pilih tandhing jroning nindakake 'proyek kabecikan'. Maria Bo Niok (Wonosobo) adeg kapustakan Istana Rumbia ing desane, lan gawe rintisan UKM kanthi produk merek 'Marie Singkong Rasa Gadung'.
buku karyane para buruh migran utawa PRT asal Indonesia kang makarya ing luwar negri

Ing Banyuwangi ana Eni Kusuma. Sawise sawatara taun ing Hongkong, ibu kang saiki wis peputra siji kuwi nerusake suksese mbabar buku motivasi Anda Luar Biasa!!! kanthi adeg PAUD lan bimbel ing bumi klairene.

Ing Ngawi ana Nadia Cahyani, tau dadi Pemimpin Redaksi Majalah Iqro kang dibabar dening Dhompet Dhuafa Hongkong, saiki wiwit adeg perpustakaan, bukak leslesan gratis kanggo para siswa sakiwa-tengene, lan ngajak para ibu tumandang, usaha produktif, nggawe manekawarna kripik.

Ing Cilacap ana Perpustakaan Wiwawi kang diedegake dening Pendar Bw, ing Kediri ana Pondhok Maos Cendhani kang dibangun dening Muntamah Sekar Cendhani, kang kayadene Pendar Bw, saiki isih nyambutgawe ing Hongkong.

Para PRT asal Indonesia ing Hongkong, kahanane pancen beda banget yen dibandhingake karo kang ana ing negara-negara Timur Tengah utawa ing Malaysia. Ing Singapura duwe dina libur, nanging ora bebas kaya ing Hongkong. Ing Hongkong, para pekerja migran bisa ngedegake organisasi resmi. Yen mung paguyuban seni/tari wae, ing Hongkong cacahe puluhan rangkep. Lan kang agawe mongkog, pranyata isih akeh kang nengenake olehe nguri-uri seni/tari tradhisional: ngremo, jaipong, klebu jaranan campursari. Ana Sanggar Budaya Indonesia kang diembani KJRI-HK, ana Sekarbumi (Seni Karya Buruh Migran), Alexa Dancer, Arimby Dancer, DIF Dancer, Borneo Dancer, lan liyaliyane.

Eloke, kejaba Sanggar Budaya Indonesia kang sinengkuyung dening KJRI-HK, paguyuban-paguyuban seni (tari) kuwi mentas saka eguhe dhewe-dhewe, ora ana kang dibantu dening pamarentah. Kamangka, ora saben pentas mung ditonton dening sapepadhane warga Indonesia ing kana, nanging kerep ana acara pentas antarbangsa kang wujud lomba utawa pagelaran kanggo mengeti dina kang penting. Tegese, senajan diaranana PRT, para 'domestic worker' (ora mung) ing Hongkong kuwi uga wenang sinebut duta budaya bangsa, kang kanthi suka-rila mromosekake kaskayane kabudayan Indonesia ing negara manca.

Haryati (asal Malang) kang luwih kawentar kanthi julukan Anggie Camat kang tau pinercaya dadi Ketua Sanggar Budaya Indonesia ing Hongkong uga ngandhakake manawa olehe gumregut ngleluri seni/tari tradisional ing negara manca kuwi kesurung dening rasa tresna marang budaya bangsane lan kepengin bisa ngenalake marang bangsa seje.

Annie (asal Sragen) kang uga sengkut ing donyane seni tari ing Hongkong, kandha yen saben wong minggu sepisan mesthi ana tanggapan. Mulane ora mung penarine, senajan juru paes lan kang nyewakake sandhangan tari ya melu kelarisan. Anik Purwaningsih (asal Wonosobo) malahan kandha yen dheweke ora mung dadi juru paes, nanging uga bukak kursus rias penganten ing Hongkong. Senajan sing kursus mung wong siji-loro, Anik uga rumangsa marem, ngelingi yen kabisane kuwi ora mung bakal dicakake ing Hongkong, nanging diangkah uga bisaa dadi kabisan kang bisa diterusake mengko yen wis bali menyang Tanah Jawa.

Ing donyane kasusastran, Forum Lingkar Pena (FLP) ya bukak cabang ing Hongkong. Mula aja gumun yen sajroning setaun ana puluhan buku karyane para pekerja rumah tangga asal Indonesia ing nagara iku.

Saperangan dicetak ing Hongkong, nanging uga ana kang kacetak ing Indonesia. Apa kang mangkono iku dudu gerakan literasi kang ngedap-edapi? Durung maneh yen dicritakake kridhaning para PRT asal Indonesia ing internet. Kajaba Anazkia (anazkia.com) ing Malaysia, ing Hongkong ana Sri Lestari (asal Blora) kang duwe: babungeblog.blogspot.com kanthi isi tulisan-tulisan 'mletik' kang bobote bisa diadu karo karyane para sarjana. Iku ya mung saderma kanggo conto. Liyane, isih akeh.

Cekake, aja dumeh. Aja nyepelekake PRT, kang nalika para anggota DPR/DPRD padha mothah njaluk ditukokake laptop, wongwong kang kerep 'dikasari' nganggo sebutan 'babu' iku malah wis padha duwe komputer tablet kang tumetes langsung saka kringete dhewe.*

*) Kapacak ing Suara Merdeka

Saturday, 8 December 2012

MENANGKAPI PARA PELANGGAR HUKUM ITU HANYA CARA


Jika kita mencintai sesama makhluk hidup, kita pasti setuju dengan ancaman hukuman yang berat terhadap perusak lingkungan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya). Tetapi, menegakkan hukum hanya demi hukum itu sendiri, tampaknya tak jarang memakan korban pihak yang tidak berdosa, dalam hal ini justru adalah hewan yang seharusnya terlindungi oleh hukum itu. Simak ilustrasi berikut ini!

Seorang tetangga saya, Ndemin –demikianlah nama rekaan untuk tokoh nyata ini, bercerita bahwa pada suatu hari ia pulang dari Kalimantan dengan membawa empat ekor burung murai batu. Karena ia menumpang pesawat dan tahu dari cerita beberapa temannya bahwa pasti akan ada pemeriksaan di bandara, ia menyembunyikan keempat ekor burung itu di balik pakaian yang dikenakannya. Salah seekor di antaranya, yang kemudian lolos dari penyitaan petugas bandara, adalah yang ditaruhnya di selangkangan.

Tiga ekor yang lain ketahuan petugas, dan terpaksa diserahkannya. Sebutannya saja terpaksa, Ndemin jelas tidak ikhlas. Entah seperti apa detail kecamuk di dalam pikirannya, yang sempat terlontar dalam ucapannya hanyalah, ini: ”Sambil menyerahkan ke petugas, saya cekik 3 ekor burung itu, ben padha ora mangane (biar sama-sama tidak ada yang diuntungkan). Orang kampung seperti Ndemin, yang bekerja secara musiman sebagai buruh di perkebunan sawit di luar Jawa tidak hanya ratusan orang. Dan tidak sedikit pula yang setiap pulang membawa oleh-oleh ilegal seperti yang dilakukan Ndemin. Menghitung atau menduga-duga berapa kisaran angkanya memang susah, tetapi saya berani mengatakan bahwa angka itu tidak sedikit, apalagi untuk pihak yang mengaku mencintai kelestarian lingkungan. Orang-orang seperti Ndemin adalah pihak yang bersalah, walau kerusakan yang mereka timbulkan mungkin tidak sebesar yang ditimbulkan oleh perusahaan-perusahaan besar pembabat hutan.

Demikianlah, pun ketika hukum sidah diupayakan untuk tegak, korban tetap saja berjatuhan. Dalam kasus seperti saya ceritakan ulang tadi, kita tidak bisa menyebut ”si korban” (burung murai batu dari kalimantan) sebagai tumbal, karena mereka bertiga adalah subjek yang hendak dilindungi dengan penegakan hukum.

Sebagai salah seorang warga awam di bidang hukum, saya tidak punya usulan tentang cara-cara penegakan hukum yang lebih baik. Yang hendak saya usulkan adalah upaya-upaya yang saya yakini dapat ditempuh untuk menekan jumlah korban yang potensial akan makin bertambah. Inilah usulan-usulan saya:

Pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) seyogyanya aktif memantau dan mendukung warga negara (atas nama perorangan maupun lembaga) yang nyata-nyata telah dapat mengembangbiakkan hewan dalam kategori dilindungi dengan undang-undang. Penegakan hukum secara kaku, menyita hewan yang sudah dipelihara justru berpotensi menambah jumlah korban. Jika harus terjadi penyitaan, titipkanlah hewan sitaan kepada penangkar yang sudah membuktikan kredibilitasnya. Akan sangat berarti pula jika para penangkar sukses dapat dilibatkan untuk membimbing para penangkar pemula. Para pemelihara hewan di desa-desa, adalah mereka yang mencintai hewan peliharaannya, dengan cinta yang sebenar-benarnya ataupun karena nilai ekonomisnya. Artinya, dapat dijamin bahwa mereka akan melakukan pemeliharaan dengan penuh perhatian. Hal demikian tentu berbeda dengan mereka yang memelihara hewan tertentu hanya untuk membanggakannya, dan karena ketebalan kantongnya, tak akan ada penyesalan yang mendalam ketika hewan peliharaannya itu mati telantar. Dengan uang akan dengan cepat didatangkan hewan yang baru.

Pecinta Musang (baca: MLI) adalah sebentuk gerakan dari bawah (setahu saya ini bukan komunitas/organisasi yang diinisiasi Pemerintah) yang dari namanya saja kita sudah tahu bahwa organisasi/komunitas ini terbentuk atas dasar cinta (kepada musang/luwak). Beberapa anggota/pengurus di dalam komunitas ini sudah menunjukkan keberhasilannya menangkarkan/memuliakan musang/luwak).

Di dalam situs jejaring sosialnya, banyak terjadi tanya-jawab mengenai cara perawatan musang yang benar, tentang penyakit serta cara-cara pencegahan/pengobatannya. Menilik apa yang terjadi di dalam komunitas ini, menurut saya adalah wajib bagi Pemerintah untuk memberikan dukungan yang memadai untuk mengembangkan komunitas ini dengan segenap programnya.

Saya kira MLI dapat menjadi mitra yang baik untuk menyelamatkan musang indonesia dari kepunahan. MLI mengajak masyarakat, secara verbal maupun dengan contoh-contoh kongkrit, untuk mencegah tindakan membuat kerusakan di muka bumi, bahkan membangunnya, atau yang dalam terminologi Jawa: memayu hayuning bawana. Dalam konteks ini, bahkan adalah wajib bagi pemerintah (jika MLI mau menerima) untuk memberikan subsidi!

Demikianlah, para petugas penegak hukum di lapangan itu harus selalu ingat bahwa ia sedang mengemban amanah melindungi (hewan). Menangkapi para pelanggar hukum, itu hanya cara!

Thursday, 5 July 2012

Sebuah Perjalanan bersama Mbah Kakung

Tokoh Mbah Kakung di dalam kisah ini adalah ayah nenek saya –dari ibu. Atau, buyut saya. Dia salah seorang tokoh idola saya, dan yang saya rasa cukup banyak mengalir ’darah’-nya di tubuh saya. Ia laki-laki beruntung, bukan hanya karena mendapatkan Mbah Putri yang hingga usia 90-an masih mengabarkan kecantikannya, tetapi juga karena masih segar ketika anak saya lahir. Jika saya adalah cicitnya, saya belum menemukan padanan kata yang menggambarkan posisi dalam garis keturunan di bawahnya. Untunglah, orang Jawa masih punya sebutan: canggah. Saya sudah menulis beberapa cerpen sambil mengenang Mbah Kakung (almarhum), bahkan sejak ia masih hidup.

Mbah Kakunglah, yang setelah saya kelas tinggi di sekolah dasar baru mengetahui bahwa nama aslinya adalah Jamun (nama muda) dan ketika beranjak tua menambahkan ”Karsareja” sehingga lengkapnya menjadi: Karsareja Jamun, orang pertama yang memperkenalkan saya kepada hutan, sungai, jalan. Ketika masih di kelas rendah sekolah dasar, saya sudah diajaknya berjalan kaki dari Karangan (Pinggirsari) hingga Sumberbening (menginap) dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan sampai di rumah (Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek). Total jarak tempuh kami sekitar 40-an km. Itu pun bukan berjalan kaki biasa, melainkan masih dibebani kelobot. Saya harus memikul kelobot, calon persediaan untuk rokok ting-we (nglinting dhewe) alias melinting sendiri-nya Mbah Kakung. Walau beratnya tak sampai 10 kg, saya kira itu luar biasa untuk ukuran bocah segede/seusia saya dengan jarak tempuh belasan kilometer yang sejak Suruh hingga Puncak Banjar tak pernah lepas dari tanjakan itu. MbahKakung juga memikul: jagung untuk dijadikan benih.

Dari Pinggirsari (rumah mertua paman saya) kami berangkat sekitar pukul sembilan pagi, melangkah di atas jalan raya Trenggalek – Panggul yang belum beraspal dengan kaki masing-masing tanpa awang-awangen (rasa enggan). Ya, kami berjalan kaki, karena jalan yang konon dibangun pada masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels (Zaman Belanda) itu memang sangat jarang dilintasi kendaraan. Atau, Mbah Kakung tidak punya cukup uang untuk ongkos kendaraan, saya tidak ingat pasti.

Kendaraan yang melintasi jalur kami memang bisa dihitung dengan jari dalam sehari. Itu pun pada umumnya adalah truk pengangkut barang. Pada awal tahun 70-an itu belum ada kendaraan umum khusus angkutan penumpang (orang) untuk jalur Trenggalek – Panggul. Kalau orang mau bepergian jauh, ya truk pengangkut barang itulah yang dapat ditumpangi. Itu pun, setahu saya, orang harus mendatangi pemilik truk itu beberapa hari sebelumnya untuk mendapatkan tempat, dan memastikan jadwal keberangkatannya. Tanpa begitu, bisa saja keberangkatan harus ditunda setelah seharian tidak mendapatkan tumpangan, karena satu-dua kendaraan barang yang lewat sudah dipenuhi pula penumpang manusia, bahkan beberapa orang harus duduk di atas selebor ban depan.

Demikianlah hidup di zaman saya masih bocah. Hidup tanpa listrik, tanpa sepeda motor, bahkan pergi jauh pun sering harus berjalan kaki, tanpa ponsel, tanpa televisi. Tetapi, jarang kudengar orang mengeluh, apalagi mengabarkan kehidupan yang kurang berbahagia. Bisa juga memang, sebagai bocah saya bukanlah alamat yang tepat untuk keluhan-keluhan orang dewasa. Tetapi, sebagai bocah pun, saya merasa sudah sangat luar biasa senangnya, misalnya jika diajak ke pasar dan bisa minum dawet (tanpa es tentunya, karena es batu pun belum ada).

Di Suruh, kami berhenti. Dari arah Karangan sebelum tanjakan ada jembatan dan setelah jembatan itu ada gang masuk ke kanan. Beberapa puluh meter dari mulut gang, ada sebuah rumah. Dan ke situlah kami mampir. Sebelum berangkat Mbah Kakung sudah mengatakan, bahwa nanti harus mampir Suruh. Di dalam rumah itu ada Mbah Djadi. Hingga sekarang saya tidak tahu nama lengkapnya. Ketika Mbah kakung sudah tiada, aku justru baru menanyakan seperti apa hubungan kekerabatan antara kami, keluarga besar Mbah Kakung dengan keluarga Mbah Djadi kepada nenek. Jawabnya, tidak ada hubungan darah. Orang-orang desa menyebutnya sebagai sedulur janji, yang walau tidak ada kaitan silsilah atau hubungan darah kekeluargaan, antara keluarga Mbah Kakung dengan keluarga Mbah Djadi tidak boleh terjadi pernikahan. Beberapa tahun kemudian, kadang-kadang ada cucu Mbah Djadi yang berkunjung ke rumah Mbah Kakung pada saat lebaran.

Lazimnya dua orang karip, bahkan ini menyaudara (melalui ikatan janji) pertemuan itu sangat gayeng. Kami tidak hanya disuguhi minuman, teh dan kopi, melainkan juga makan, sarapan kedua, karena memang belum pantas waktunya untuk disebut sebagai makan siang, kira-kira pukul 10.00 waktu itu. Masih terkenang di dalam ingatan saya, menunya ada 2 pilihan: nasi jagung dan nasi beras.

Dalam kondisi perut terasa mendhol-mendhol (kekenyangan) kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Sepanjang Suruh – Sumberbening kami dua kali memintas jalan. Mbah Kakung bercerita, bahwa jalan pintas itulah dahulu jalan utamanya. Karena Belanda membangun jalan untuk dilewati kendaraan, barulah dibuka jalur baru yang tidak terlalu berat tanjakannya, dan itulah yang kini jadi jalur utama.

Keringat membasahi tubuh saya, tetapi rasa lelah hampir tidak ada artinya dibandingkan dengan pengalaman baru, pemandangan baru. Apalagi menyaksikan Gunung Lingga yang sangat seksi itu (sebutan saya sekarang tentu) sungguh fantasi saya serasa berdenyar-denyar. Berulang-ulang Mbah kakung bertanya, ”Lelah? Kalau lelah kita beristirahat.” Dan kami memang perlu beberapa kali beristirahat. Pundak saya pun terasa agak ngilu, walau kelobot itu, sekali lagi, sebenarnya tidaklah terlalu berat bagi saya yang setiap hari memikul rumput atau dedaunan makanan kambing dari hutan dengan berat beberapa kali lipatnya. Persoalannya, adalah jarak tempuh yang kali ini berpuluh kali lipat dibandingkan yang biasa saya tempuh dari hutan. Tambahan lagi, saya hanya dapat memikul di pundak kanan, berbeda dengan kebanyakan orang yang bisa alihan, kalau capai pundak kanan, pikulan dioper ke pundak kiri atau sebaliknya, sambil terus berjalan.

Walau belum beraspal, saya dapat mengatakan bahwa jalan raya yang kami lalui (kecuali yang saya sebut sebagai jalan pintas tadi) adalah jalan yang bagian tambalannya lebih banyak. Bagaimana saya dapat mengatakan demikian? Ada bagian-bagian jalan, yang disebut-sebut sebagai masih asli seperti pada Zaman belanda, dan saya pun meyakininya. Tamnpilannya berupa tatanan batu kecil (sebesar ibu jari kaki) yang sangat rapi dan sangat padat. Permukaan batu-batu kecil itu pun sudah halus, seperti dipoles, karena sering terinjak kaki manusia maupun ban kendaraan. Keadaannya sungguh sangat njomplang dibandingkan dengan bagian-bagian yang ditambal, dengan batu yang tidak racak besarnya dan seperti ditata secara asal-asalan. Dan bagian tambalan itu tampaknya harus sering ditambal lagi dan ditambal lagi.

Ada juga buk atau gorong-gorong yang sangat kokoh. Saya sempat menyaksikan, bahwa gorong-gorong itu masih tetap dalam kondisi bagus ketika harus dibongkar, karena saluran mesti diperbesar dan badan jalan mesti diperlebar.

Ketika jalan raya itu sudah beraspal dan persoalan kerusakan serta keluhan masyarakat penggunanya seperti makin nyaring dari hari ke hari, kini, saya hanya punya satu usul: adakan lagi petugas yang dulu disebut sebagai mandor dan kuli ratan. Mereka sangat berjasa memantau, menyiangi rumput dan semak di pinggiran, serta memperbaiki saluran pada kondisi darurat, misalnya ada sumbatan saat hujan deras. Sungguh mengherankan, negara ini bisa menggaji wakil menteri, tetapi keberatan menggaji kuli ratan yang kerjanya langsung dipantau dan hasilnya langsung dapat dinikmati masyarakat: r a k y at !

Sampai di Sumberbening hari sudah sore. Matahari sudah berada di balik Gunung Sengunglung. Dan sudah sangat ramai suara cenggeretnong. Itu paduan suara yang kadang-kadang saya rindukan, sekarang, dan merasa senang jika menemukannya.
Malam itu kami menginap di rumah nenek di Sumberbening. Lalu, keesokan harinya melanjutkan perjalanan pulang.

Malang, 6 Juli 2012

Sunday, 1 July 2012

BEREBUT SUARA

Seorang warga Kampung Pojok beberapa kali melancarkan protes kepada penjual Es Klinthing –disebut Es Klinthing, karena setiap penjual itu menyusuri jalan dan gang-gang di Kampung Pojok, suara ”klinthing-klinthing”-nya tak pernah tertinggal, kecuali dagangannya sudah habis. ”Pak, sampeyan selalu membuat saya kecele. Saya kira suara delman. Saya butuh delman untuk berjalan menyusuri kampong bersama anak-anak saya, dan tidak butuh Es Klinthing!” demikian protesnya.

Karena penjual Es Klinthing tak kunjung mengganti suara yang dijadikannya tanda bahwa ia sedang melintas itu dengan suara lain, suara badai salju misalnya, warga kampong yang mulai geram itu pergi ke tukang delman dan mengadu. Tukang delman itu pun naik pitam, dan segera mendatangi lenjual es. Mereka terlibat adu mulut.

”Suara klinthing-klinthing seperti yang kamu pakai itu adalah cirri khas suara klinthingan delman. Di mana-mana delman ya begitu suaranya saat dijalankan. Mengapa kamu pakai dan sampai membuat pelanggan saya kecele?”

”Itu kan suka-suka saya, mau jualan es pakai suara delman kek, suara bus kereta api kek….! Mengapa kamu sewot wahai tukang delman? Sudahkah kamu mematenkan suara delmanmu itu?”

Tukang delman terkejut. Benar juga, pikirnya, dia tidak dapat begitu saja memrotes si Penjual Es Klinthing karena dia belum mematenkan suara delmannya. Tapi dia masih sempat bersungut, ”Apakah kurang suara lain yang lebih menarik?” sambil ngeloyor meninggalkan Tukang Es Klinthing.

Kabar terkini, Tukang Delman itu sudah menjual kuda dan bahkan delmannya untuk biaya pengurusan Hak Paten yang hingga kini belum didapatnya. [GLODHAG]

Baku Kunjung sambil Unjuk Karya

Kang Sigit, demikianlah biasanya secara akrap laki-laki asal Kendal yang menetap di Swiss ini disapa, sungguh gemati terhadap buku karya-nya sendiri. Ia rela terbang dari satu benua ke benua lain, dari satu kota ke kota lain, untuk membicarakan bukunya, satu hal yang tak banyak dilakukan penulis lain.

Ini pelajaran menarik, patut dicontoh oleh BMI yang telah melahirkan buku, yang, jumlahnya makin membengkak itu. Saya pernah mengikuti acara diskusi buku karya Maria Bo Niok, Rini Widyawati, Wina Karnie, Eni Kusuma, Tarini Sorita, dan entah BMI siapa lagi, ya? Buku cerpen Penari Naga Kecil karya Tarini Sorita sempat diluncurkan di Taman Budaya Jawa Timur, lalu di Toko Buku Togamas Yogyakarta. Eni Kusuma malahan tidak sekadar meluncurkan dan mendiskusikan bukunya, ia tampil pula di televisi (JTV) dan radio, sebelum kemudian diundang sebagai pembicara di berbagai kota.

Apakah pada awalnya pihak radio dan televisi yang mengundang Eni Kusuma, melainkan dari pihak Eni-lah datangnya inisiatif itu. Pada titik itu kita dapat melihat ada upaya lebih gigih dari seorang Eni Kusuma. Maka akan lebih konyol lagi jika ada pertanyaan, ”Apakah Eni Kusuma dibayar untuk tampil diwawancarai di televisi itu?” Ouw, saya ingin mengatakan, justru akan terasa lebih wajar jika Eni yang keluar uang untuk mempromosikan dirinya –pada saat itu!

Melalui Grup Pembaca Majalah Peduli (Facebook) saya tahu banyak BMI Hong Kong yang sudah dan akan memiliki rumah makan atau café. Seharusnya, itu menjadi tempat pilihan pertama untuk menggelar diskusi buku karya-karya BMI/mantan BMI, bukan hanya BMI Hong Kong tentunya. Dengan demikian terjadilah apa yang di-pepatah-kan sebagai, ”Sekali merengkuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui.” Kalau BMI/Mantan BMI bertemu, dalam acara yang bertajuk ”peluncuran” atau ”bedah buku” sekalipun, pastilah banyak hal lain bisa jadi pembicaraan. Untuk topik-topik di luar konteks acaranya, tentulah tidak diobrolkan di forum resminya, melainkan bisa dilakukan pada saart istirahat, sebelum dan sesudah acara intinya.

Maka, selain tali persaudaraan makin dipererat, soal-soal kesenian, bisnis, dan bahkan gerakan melawan kesewenang-wenangan pun dapat dibicarakan dan di galang dalam kesempatan-kesempatan yang sangat baik itu. Apalagi jika kegiatan seperti itu bisa ditradisikan, berpindah tempat dari satu kota ke kota lainnya, hingga baku kunjung untuk mempererat tali persaudaraan pun akan semakin menemukan maknanya.

Kalau pun harus dijlentrehkan keuntungan apa yang dapat dipetik para pihak, ya ini: pemilik buku akan mendapatkan ruang untuk mempromosikan buku (tentu sekaligus juga pengarang/penulisnya), pemilik café/rumah makan juga akan mendapatkan kesempatan untuk menarik pelanggan lebih banyak, sekaligus mempromosikan usahanya –apalagi jika kemudian ada wartawan datang meliput. Sedangkan para peserta, tentu mendapat tambahan wawasan dari acara diskusinya, bertambah teman, jaringan, dan tidak tertutup kemungkinan mendapatkan kesepakatan-kesepakatan dalam hal bisnis.

Jika saya harus membuat kesimpulan, menggelar, menghadiri, atau terlibat dalam acara-acara semacam saya uraikan tadi: ”Itu investasi juga.” Itu pun sejauh kita menganggap bahwa ”nilai” tidak hanya tertulis di lembaran atau kepingan uang! *

Monday, 4 June 2012

Menjawab Pertanyaan tentang: MENGINTIP

TANYA: ”Pak, saya jadi member di beberapa grup Facebook, tetapi saya tidak aktif memberi tanda suka (cap jempol) apalagi berkomentar. Saya hanya suka jadi PENGINTIP. Itu cara saya menjaring tambahan wawasan dari salah satu sumber pertukaran pendapat dan gagasan secara aman, dan dengan demikian terhindar dari konflik akibat beda pendapat atau kesalahpahaman. Bagaimana menurut sampeyan?” JAWAB: Di Negeri Wayang, ada sewayang laki-laki bernama Bambang Ekalaya alias Palgunadi. Ia memiliki istri yang sangat cantik, Dewi Anggrahini namanya. Cantik seperti siapa? Pokoknya, Arjuna pun terkiwir-kiwir padanya. Tetapi, ini bukan hendak menceritakan kecantikan dan seterusnya itu. Ini cerita tentang Bambang Ekalaya alias Palgunadi, yang sangat berbakat, tetapi susah untuk mengembangkan bakatnya. Susahnya bagaimana? Di atas bumi di kolong langit, guru pemanah paling hebat ialah Resi Drona. Maka, Palgunadi pun menghadap Sang Resi untuk meguru. Tetapi, lamarannya ditolak bukan karena “NEM”-nya rendah, melainkan justru Sang Guru melihat Palgunadi sangat berbakat sehgingga sangat potensial mengalahkan Arjuna, murid terkasihnya. Padahal, Resi Drona sudah terikat janji untuk menjadikan Arjuna Juara Olimpiade. Eh, bukan begitu. Maksudnya, menjadikan Arjuna pemanah paling top-markotop di seantero jagat raya. Tidak diceritakan, apakah Arjuna juga belajar urusan panah-memanah asmara kepada Resi Bisma, atau kepada guru lain. Ditolak, tetapi tak patah semangat. Menyerah adalah pantang bagi Palgunadi. Maka, dicarilah buku-buku tentang memanah, juga dicarinya situs-situs pembelajaran memanah. Pokok kata, berupaya dengan segenap dayanya. Saking dia mengidolakan guru yang walau telah menyakiti hatinya dengan penolakan itu, Palgunadi membuat patung dari batu (bukan dari sabun seperti diceritakan di situs sebelah), Patung Resi Drona. Setiap hari Palgngunadi belaar memanah di dekat patung itu, seolah-olah Sang Guru selalu mengawasi. Mau tahu hasilnya? Dalam sebuah “kejuaraan tidak resmi” terbuktilah bahwa Palgunadi lebih hebat daripada Arjuna. Bahkan, Palgunadi dapat memanah persis kena lidah anjing yang sedang tidur, tanpa melukai rongga mulut anjing itu –bukan anjing yang sedang terkencing! (maaf: khusus bagian ini agak nggombal memang). Sang Arjuna tahu kehebatan rivalnya itu.Maka, seperti bocah cilik, mothah-lah ia di hadapan gurunya, Resi Drona. Arjuna menangis, meminta gelar ksatrianya dicabut saja, dan mohon untuk tidak disebut-sebut lagi sebagai calon panglima perang kelak di dalam perang besar Bharatayuda. Maka, datanglah Sang Resi Drona ke tempat berlatih Palgunadi. ”Benarkah engkau mengagumiku?” tanyanya, smapai lupa kebiasaannya bilang: ”Lole, lole, soma ronta, soma rante….” (tampaknya sejak Zaman Wayang, uwong alias manusia itu sudah terkenal sebagai penebang, ya? Termasuk merusak hutan itu lho!) “Bukan hanya kagum, sahaya mencintai Tuan Guru,” jawab Palgunadi sambil serta-merta bersujud di hadapan Resi Drona.” Lalu, dimintalah ibu jari alias jempol Palgunadi alias Bambang Ekalaya sebagai bukti atau tanda cinta itu, dan Palgunadi dengan ikhlas memberikannya. –Sebaiknya adegan memotong ibujari tidak diceritakan ya, sebab ini termasuk sadisme. Begitu yang terjadi dalam kisah wayang. Jik kisah itu terjadi di antara kita, missal menimpa Anda, berikanlah pula dengan ikhlas jempol atau ibu jari Anda. Tidak untuk dipotong, tetapi di-cap-ke di ”status” yang dibikin oleh Sang Guru….mu. Ini Zaman Facebook bok! Bukan Zaman Wayang!! 

Monday, 21 May 2012

Kongres dan Sumpah BMI, Mau?

Tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan bukti keluarbiasaan (semangat) kebersamaan itu. Carilah sarang semut. Amati baik-baik, betapa indah dan rumitnya. Dan itu dibangun oleh makhluk-makhluk kecil yang bahkan sering luput dari perhatian kita –kecuali mereka sedang menjarah ransum kita.


Indonesia menjadi ada juga berkat kebersamaan, yang dibangun dari kebersamaan-kebersamaan kecil, yang menggumpal menjadi kebersamaan besar terutama pada 28 Oktober 1028 yang kemudian kita kenal dengan peristiwa Sumpah Pemuda itu. Ketika kebersamaan sejati berhasil dibangun, kalah menang sudah bukan urusan, sebab bukan hanya menjauh: lawan sudah lenyap.

Saya membaca, hari-hari belakangan ini sedang kencang-kencangnya bertiup semangat kebersamaan di kalangan BMI, bukan saja yang ada di Hong Kong, melainkan juga di Timur Tengah sana.

Kepercayaan adalah dasar dari sebuah bangunan kebersamaan di dalam berbisnis. Kalau ketidakpercayaan mulai tumbuh di antara orang-oang yang terikat kesepakatan menjalankan usaha bersama, itu adalah kabar buruk pertama, sebelum terjadi persengketaaan secara terbuka, dan/atau kemandegan usaha itu.

Susahnya, seperti yang saya ketahui dari kabarnya, banyak BMI –bukan hanya di Hong Kong, sering mendapat pengalaman buruk dalam upaya membangun ”usaha bersama”: dari yang lebih disebabkan oleh kesalahan teknis maupun yang memang jelas-jelas merupakan korban kejahatan. Kesan yang saya tangkap dan disetujui oleh beberapa teman di Hong Kong adalah: banyak BMI yang terlalu bersemangat ketika diminta menyetor modal usaha. Bahkan, ketika yang meminta menyetor modal itu orang yang berada di Indonesia dan bukan BMI atau mantan BMI, yang mereka kira telah mereka kenal dengan baik.

Apakah jika usaha bersama dibangun oleh sesama BMI berarti tidak ada potensi masalah? Saya yakin, terutama yang sudah berada di Hong Kong lebih dari 5 tahun punya jawaban yang sangat tegas untuk pertanyaan ini.

Yang ingin ditegaskan dengan gambaran-gambaran tadi, sesungguhnya adalah bahwa: sedangkan berusaha sendiri pun sangat mungkin banyak masalah. Apalagi, ketika harus mempersatukan dan membersamakan banyak orang dengan latar belakang watak, pengetahuan, dan selera yang berbeda-beda.

Maka, yang sesungguhnya sangat penting untuk diperhatikan adalah: bagaimana menyiapkan tatanan, aturan, atau mekanisme penyelesaiannya jika timbul beragam masalah di kemudian hari. Jadi, seyogyanya jangan terlalu cepat meyerahkan atau menerima setoran modal bersama sebelum ”peraturannya” jelas dan disepakati oleh semua pihak.

Berapa orang yang sudah menyatakan bergabung di dalam kelompok usaha bersama anda? Sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh orang? Inggat, di Hong Kong saja bisa ada ratusan orang atau bahkan ribuan orang yang berasal dari kabupaten/kota yang sama. Maka, jika anda membangun usaha bersama puluhan orang saja, bukannya tidak boleh, bukannya tidak baik, melainkan: itu masih berupa kelompok kecil, sangat kecil. Itu juga berbeda dengan gambaran mengenai kebersamaan yang sering saya sebutkan sebagai potensi kedahsyatan yang akan menggemparkan dunia, dan membuat para pihak yang selama ini menyepelekan BMI akan terbelalak dan terlongo-longo.

Kecuali, anda bisa menjalin persatuan di antara kelompok-kelompok kecil BMI yang membangun usaha bersama itu ke dalam semangat yang, bisa saja ditandai dengan sebuah kongres yang akan menjadi peristiwa lahirnya Sumpah BMI. Mau?

Apakah kebersamaan sejati yang sungguh dahsyat itu bisa direalisasi au setidaknya semakin didekati? Harapan selalu ada, mengingat, dan tergantung pada Anda, yang, setidaknya sudah membacanya sampai di sini. Apakah Anda akan segera melupakan ini atau akan terus berpikir untuk ikut mengupayakannya? Semua keputusan ada di tangan Anda.

Boleh dikopipaste dan disebarkan ke sesama BMI di mana pun berada, dengan atau tanpa menyebutkan sumbernya. [bom]

Tuesday, 17 April 2012

Dari Jawa Timur untuk Indonesia

Rumah-rumah bagus, tetapi sepi, dan loket penukaran mata uang asing bertebaran di berbagai penjuru. Itulah pemandangan kampung-kampung atau kota-kota kecil yang ditinggalkan banyak warganya untuk bekerja di luar negri. Demikianlah sekilas gambaran yang dapat disampaikan untuk menjelaskan, betapa gaya hidup konsumtif adalah ”lawan terberat” bagi para pekerja migran/mantan pekerja migran. Padahal, di sisi lain, pengalaman bekerja di negri orang dengan disiplin yang lebih ketat seharusnya membuat mereka menjadi orang-orang produktif.



Untuk menggambarkan gaya konsumtif itu pula, seorang teman di Blitar –salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki banyak pekerja migran-- memberikan saran, ’’Jangan beli motor di Blitar menjelang Lebaran!’’ Mengapa demikian? Karena biasanya harus inden, rela berlama mengantri. Begitulah, di Blitar, beli motor seperti beli baju saja. Enteng saja pakai motor-baru saat Lebaran.

Sebuah bank nasional menawarkan kredit rumah (mewah) seharga ratusan juta rupiah di setengah halaman warna sebuah koran bulanan yang dicetak dan diedarkan untuk komunitas pekerja rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong. Penjual furniture, motor, dan barang-barang elektronik di tanah air pun menyebarkan brosur penawarannya di Hong Kong. Jadi, para pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong itu bisa bertransaksi jual-beli di Hong Kong, dan tinggal tunggu kabar dari kampung bahwa barang-barang yang dibeli itu sudah terkirim ke rumah. Bukan hanya barang-barang kasatmata berkait kebutuhan rumahtangga sehari-hari. Benda-benda azimat dan bahkan tuyul pun konon diperjualbelikan pula dengan cara transaksi modern seperti itu.

Biasanya pula, pekerja migran pulang kampung dan membeli barang-barang konsumtif dengan penuh nafsu. Akibatnya, mulai enam bulan pertama, satu per satu barang-barang baru pun kembali terjual. Pada ujungnya, tak ada lagi pilihan: kembali lagi ke luar negri. Begitu berulang-ulang, sampai tua. Mereka seperti sisipus yang dikutuk para dewa dalam mitos Yunani Kuno.

Sementara ini, kita belum mendengar kabar gembira: sebuah kabupaten menyiapkan kawasan bisnis, membangun ruko-ruko murah untuk di-kredit-kan kepada para pekerja migran-nya, menyiapkan bengkel-bengkel kerja (workshop) untuk pelatihan kewirausahaan bagi suami/istri TKI yang ada di desa. Padahal, tanpa meremehkan urusan lainnya, mempersiapkan para pekerja migran untuk menjadi entrepreneur di negri sendiri adalah sangat penting. Itu adalah bagian dari program ”perlindungan” juga.

Dari sisi lain, banyak orang keburu berpikir bahwa bantuan untuk para pekerja –terutama mantan—pekerja migran itu pertama-tama adalah uang dalam bentuk pemberian kredit dari bank. Padahal, pengembangan wawasan dan ketrampilan mereka jauh lebih penting. Tak kalah pentingnya pula adalah: mendampingi mereka dalam mengembangan usaha.

Karena itulah, ketika Mas Abdul Aziz memberondongkan gagasan-gagasannya dan serta-merta mendapatkan sambutan luar biasa bagusnya dari para pekerja migran (di Grup Facebook: Pembaca Majalah Peduli), saya langsung berteriak di dalam hati: ”Inilah saatnya untuk memulai!”

Ini momentum yang sangat bagus untuk bersama-sama berbuat bagi bangsa, melalui kepedulian terhadap para pejuang ekonomi bangsa yang kita sebut pekerja migran itu. Mari bersama-sama bertindak sekarang juga!

Pasti banyak orang dapat membuat tulisan lebih lengkap, lebih rinci, dan lebih ber-”teori”. Kelebihan tulisan-tulisan Mas Abdul Aziz ini adalah: terbukti telah menggerakkan pikiran sekian banyak pekerja migran, terutama yang ada di Hong Kong. Bahkan, tak sedikit pula yang secara spontan menyatakan bahwa, membaca gagasan-gagasan Mas Aziz membuat ingin cepat-cepat pulang kampung dan mengembangkan usaha/bisnis sendiri. Buku yang tebal dan penuh dengan catatan kaki bisa jadi malah tak sekuat itu daya ”usik”-nya!

Sudah sejak sekian tahun lalu saya menyatakan bahwa seyogyanya Jawa Timur tampil terdepan dalam hal terobosan-terobosan untuk memberikan penguatan terhadap perjuangan para pekerja migran. Mereka telah bercucuran keringat, air mata, bahkan darah untuk kehidupan yang lebih bagus. Memang sering tampak: mereka berangkat atas kemauan sendiri, demi diri dan keluarga mereka. Tetapi, pada hakikatnya, mereka adalah para pejuang bangsa juga. Jika tidak demikian, buat apa orang menyematkan gelar ”pahlawan devisa” itu? Maka, inilah saatnya kita bergerak: dari Jawa Timur untuk Indonesia!

Salam Posmi!
The Power of Sayur Mider!
Ethek… ethek… ethek… hruuuungngng….!


BONARI NABONENAR
Pemimpin Redaksi Majalah Peduli

Sunday, 18 March 2012

Sastrawan Jawa: Mati Karepe, Urip Karepe

”Miturut panemuku sawijining uwong disebut pengarang utawa sastrawan iku awit dheweke ngasilake karya. Yen sawijining pengarang wis ora ngasilake karya, ateges dheweke wis mati kreatifitase. Mula perlu digolekake tamba, supaya kreatifitase urip maneh.” [Sumono Sandy Asmoro, Panjebar Semangat, Nomer 8, 25 Februari 2012]

Miturut panemuku (Bonari), uwong diarani seniman, sastrawan, pengarang … dening uwong liyane. Sakweruhku durung ana uwong protes, upamane, ”Kok aku wis ora diarani sastrawan?” Mulane, apa paedahe canthuk-lawung nganti keraya-raya nggolekake tamba gegayutan karo pati lan uripe wong liya ing donyane kasusastran? Kejaba yen kang kawogan kuwi bengok-bengok njaluk tulung, ”Iki piye aku lara nemen utawa wis sawatara suwe mati kadidene sastrawan!”

Wong urip kuwi merdika, kanthi cathetan, kamardikane diwatesi dening hak-e liyan lan maneka warna aturan tinulis apadene kang ora tinulis kang ana ing satengahe bebrayan. Ora ana kang mangeni, apa seweneh uwong arep milih profesi ”sastrawan” utawa blantik pulsa, utawa linca-linci saka profesi siji menyang profesi seje.

Leres Budi Santosa tau nulis, ”Pengarang Sastra Jawa: Pengarang Numpang Lewat” (Jawa Pos Minggu, 28 April 2002) iku wujud kayadene lapuran asil sarasehan ing Graha Pena, Jawa Pos Surabaya. Kang kabeber ing tulisan iku mung kahanan kang gumelar, ora ana karep ngina utawa ngluputake pawongan kang diarani wus mandheg ngripta.

Sawijining wektu, mung aku lali sumbere, ana saweneh sastrawan Indonesia nampa pitakon, kurang-luwihe mengkene, ”Geneya kok ndika mandheg ngripta?” lan wangsulan kanthi ukara ngemu pitakon, ”Apa ora luwih becik aku mandheg ing kene tinimbang mung nggrujugake larahan menyang donyaning kasusatran….?” Tegese, manut ”sastrawan mandheg” kuwi, kahanane malah bakal kurang prayoga lamon dheweke meksa mbabar karya kang kuwalitase sangsaya mlorot. Iku panemu kang asifat subyektif. Ya bener, nanging ora ateges kang duwe panemu kosokbalen bisa enggal diluputake. Tumrap pengarang utawa sastrawan kang duwe panemu mangkono, malah kanthi mandheg ing titi-wanci kang dirasa becik iku dheweke aweh pakurmatan marang donyaning kasusastran. Yen kanthi mandheg kuwi nyatane dheweke malah sangsaya kocap, ya sok mangkono kuwi donyaning kasusastran, kang diwadani dening Pak Budi Darma, ”Dunia sastra, dunia jungkir balik!”

Mula, miturut panemuku, wong arep leren ngarang apa arep mbacut kuwi urusane sowang-sowang. Nganggo basa sing kasar, mati karepe, urip karepe. Apa pedahe srengen yen bisane mung kandheg srengen, mung bisa alok? Apa pamarentah lan utawa bebadan liyane wis aweh subsidi, tunjangan, bayaran marang pengarang mandheg kuwi? Apamaneh sapepadhane pengarang?

Ana maneh pratelane Sumono Sandy Asmoro sing luwih lucu, klaya kang tau dipethik dening Sunarko Budiman iki:

’’Bos, aku seneng nek ana wong sing gelem mikir nasibe sastra, tapi nek kosok baline ethok-ethok mikir sastra Jawa jebul mung kanggo ngumbulake jenenge dhewe aku ora trima. Sastra Jawa mung dianggo ajang kasus, kaya polahe selibritis sing surut pamore ben terkenal maneh. Manut petungku sasuwene iki KBJ – KSJ padha, mung kanggo mbukak kasus beberapa gelintir wong supaya ketok duwe pamor maneh, sawetara iku sastra Jawane tetep mbegegeg ora ana sing gelem ngobah-obah.’’

(Sunarko Budiman: Mapag KBJ V, Markus Basa Jawa, Sumono Gugat, ing Panjebar Semangat No 18, April, Tahun 2010)

Yen ora trima tenan ya gek ndang kelah, ta? Lha, sing arep digawe kuwi mengko pasal saka ngendi, ya?

Nuwun.

Ing Sadhengah Papan Ana Preman?

Tembung ”preman” miturut Wikipedia asale saka basa Landa ”vrijman” (= wong merdika). Ana uga kang negesi, ”wong kang pengin merdika” dhek nalikane bangsa iki isih karegem dening penjajah: Walanda. Teges kang becik iku banjur owah dadi ala sairing karo trekahe wong-wong rosa, kuwat otote, tur mbokmanawa linambaran kasekten pisan, kang banjur nggunakake kekuwatan lan kasektene kanggo tindak kadurakan. Yen preman biyen kepengin dadi ”wong merdika” saka regemane bangsa (penjajah) Walanda, tembung ”merdika” tumrap preman jaman saiki sajake mengku teges bisa (bebas/merdika) nindakake apa wae kanggo kepentingane dhewe, utawa kanggo kepentingane golongane.

Premanisme kuwi bisa diarani panjilmane watak adigang adigung adiguna. Kadidene watak kang ala mbokmanawa anane ya mbarengi utawa sapantaran karo peradaban-e manungsa. Cekake, premanisme kuwi wis ana wiwit jaman ja-majuja, wiwit jamane para nabi, jamane para wali, nganti seprene, jamane para lali (akeh wong lali) iki. Kang kerep kocap upamane Brandhal Lokajaya kang ora liya ya Raden Sahid kang sawise mertobat banjur ing tembene dadi Sunan Kalijaga. Saka tanah sabrang ana crita ngenani Samson, Robin Hood, lan liya-liyane. Ing kene, sapa kang ora tepung karo crita Si Pitung, Sarip Tambak Oso, Jaka Sembung? Jeneng-jeneng kang kasebut kuwi mau, senajan ingaran preman isih ninggalake gegambaran becik, sok malah dianggep pahlawan dening bebrayan. Beda banget karo keh-kehane preman jaman saiki, kang ngamalake watak adigang-adigung-adiguna mung kanggo awake/golongane dhewe, senajan isih ana conto: Hercules, kang ing televisi sawatara wektu kepungkur ngaku yen sasuwene dadi preman durung tau gawe pepati, lan saiki malah wis adeg yayasan pendidikan, lan nulungi wong sekeng amrih bisa sekolah kanthi gratis.

Conto liyane: HM Ramdhan Effendy kang luwih karan kanthi jeneng Anton Medan, sawuse mertobat banjur dadi juru dhakwah. Ana maneh tilas preman kang dadi penyanyi, ana kang banjur dadi pengusaha sukses, lan ora sethithik kang dadi politisi. Mbokmanawa, kejaba ana kang leren mreman sawise dadi politisi, uga ana kang lagi mreman sawise dadi politisi. Merga, yen gegandhengan karo laku premanisme, ora ngemungake wong-wong ”merdika” (kawaosa: pengangguran) kang bisa nindakake. Malahan, yen bener pandumuk manawa petrus (penembak misterius) kang nuwuhake akeh pepati dhek taun 80-an kae utusane pamarentah, ya ateges pamarentah sok uga nindakake premanisme. Nibakake ukum sawenang-wenang, tanpa proses pengadilan, iku rak cengkah karo paugeran kaya kang kinandhut ing pratelan manawa negara iki negara ukum, ta? Kamangka ciri menjilane preman iku ya manggon ing olehe ora maelu ukum, apa kuwi ukum kang tinulis lan/utawa kang ora tinulis kang lumaku ing bebrayan. Utawa, yen ana ukum kang diugemi, ya kuwi ukume dhewe, utawa ukum kang mung nguntungake golongane.

Kang banget mrihatinake lan agawe miris, saiki preman kerep nuduhake tindak wengise tanpa tedheng aling-aling, ing wektu lan papan kang bisa disekseni wong akeh kaya kang kelakon ing RSPAD Jakarta dhek 23 Februari kang sagedhagan wong loro tilar donya lan wong papat liyane nandhang tatu nemen. Sakdurunge kuwi, Irzen Octa (50) ditemokake wis tilar donya ing Gedung Menara Jamsostek, Jakarta Selatan (Selasa 29 Maret 2011), kang banjur kabukten manawa patine almarhum amarga dipulasara dening jurutagih. Jurutagih iku kudune bisa dadi pakaryan kang mulya, lamon kanthi becik bisa ngelingake yen kang utang wis wayahe nyaur, lan ora nggunakake cara-cara kasar kang malah nuwuhake pepati ngono kuwi. Nanging, kosokbaline, uga ana pawarta kang ngabarake anane jurutagih kang tilar donya merga dipulasara liyan.

Ketangkepe John Key uga sangsaya nuduhake lamon donyane preman ing negara iki wis dadi prekara kang ora kena dianggep entheng.

Laku degsiya, aniaya marang sapepadha manungsa, upamaa ora dumadi ing ngarep irung, saiki tansah ngebaki pakabaran saben dina. Kajaba ditindakake dening paraga-paraga kang pantes sinebut preman kaya kang wus katur mau, pasulayan jroning kulawarga, tawuran padha siswa, mahasiswa karo mahasiswa, prasasat ora ana lerene. Ing sawenehe desa, para warga padha sambat, rumangsa keganggu katentreman batine awit saploke ana paguron (beladhiri) anyar bola-bali dumadi tawuran.

Kang luwih agawe mrinding maneh yaiku bebadan, pakumpulan, utawa organisasi resmi kang saben-saben nuduhake yen wus kepanjingan premanisme. Kaya gawe aturan dhewe lan malah marakake tumpang suh karo aturane negara. Uga, bebadan/organisasi kang nggunakake gendera etnis, kang kudune bisa agawe ayem kanthi ngungalake samubarang kang becik khas etnise kuwi, nyatane malah saben-saben ya gawe dhak-dhakan tawuran karo golongan liya. Coba, kepriye yen kaya ngono kuwi?

Kahanane dadi sangsaya nrenyuhake, saben-saben dumadi dredah pancabakah ing antarane golongan-golongan kang wus kapanjingan premanisme kuwi nganti nuwuhake pepati. Kang aran aparat keamanan sajak isih gampang diarah lenane. Upama wis samapta sadurunge palagan mangalad-alad, wusanane kaya trima nyisih amarga kalah cacah. Kerep dikandhakake, aparat keamanan, pulisi, tansah kewuhan amarga yen kang padha ”kerah” kuwi kaladuk dikerengi, kanthi nggunakake bedhil mimis wesi (dudu mimis karet utawa mimis banyu) mengko malah pulisine sing kena pidana pelanggaran hak asasi. Dene yen ora dikerengi, dadine ya ajeg ampyak awur-awur paten-pinaten ngono kuwi.

Embuh kepriyea wae ubete, kang aran rakyat kuwi butuhe aman. Apa ora kebangeten yen urip wis kecingkrangan, isih dibruki rasa ora aman? Mesthi aran kebangeten yen, mligine ing kutha-kutha, rada wengi sithik wae uwong wis ora wani mlaku dhewekan ing kampung/lingkungane dhewe. Kahanan mangkono iku rak padha karo nalika ditrapake ”jam malam” ing mangsa darurat.perang, ta?

Yen sasuwene iki kaya luwih akeh kang ndumuk bab angele golek pegaweyan kanthi bayaran kang murwat lan urip kang kecingkrangan dadi dhak-dhakan laire premanisme, uga aja dilalekake, ukum kang ora dijejegake dening aparat-e dhewe akeh sumbang-surunge marang babar-tumangkare preman/premanisme. Lha, kepriye yen para paraga kang kudune dadi agul-agule bangsa/negara kanggo ngadhepi premanisme kuwi nyatane malah wis akeh kang kepanjingan suksmane preman?

Rakyat wis kerep ditatoni batine kanthi tontonan kanyatan: maling cilik dipatrapi ukuman abot, kosokbaline maling gedhe dipatrapi ukuman entheng. Nggih, ta? Mula ayo padha dititeni, angger ukum/pengadilan isih mung kaya oplet kang disopiri wong mendem, ya ing kono bakal kelakon jaman kencana-rukmine para preman.

Saiki kari pilih endi: dadi wong merdika saka kahanan kang sarwa nyumpekake, kang kebak laku durjana, merdika saka rasa ora aman kang didhedher para preman, apa merdika kaya preman, kang urip sakepenake dhewe? Wong-wong kang ninggalake kondom pating tlecek ing Gedung DPR-RI kuwi ya vrij man, lho! Ya kuwi, wong-wong kang kepengin bebas, sakepenake (ngisor) udele dhewe-dhewe! [Bonari Nabonenar, Sekretaris Organisasi Pengarang Sastra Jawa]

Wis kapacak ing Suara Merdeka

Monday, 5 March 2012

KLAMBI ABANG BOTEN DHAHAR DAGING

 FOTO: TITAH RAHAYU

Iki tau kedadeyan tenan, jaman isih enom biyen, sok melu besanan. Wong neng desa, yen bisanan wong atusan ndlidir padha mlaku ndlamak. Arane pangombyong besan, tekane mesthi tinampa kanthi gupuh, suguh, aruh, dening omahan sabrayate.

Lha, sing dadi liding crita iki, wong enom kuwi sok aneh-aneh, njarag kancane. Upamane ngene, nalika salaman karo salah sijine panampa tamu, sambi bisik-bisik, "Nuwun sewu, ingkang ngagem rasukan abrit (klambi abang) ngajeng nika boten dhahar ulam/daging, nggih?"

Tekan wayahe metu sega, bisane rawon utawa kare, diladekke langsung nyang saben tamu, ora imbal-imbalan (jalan ranting) kaya umume saiki, pas Si Klambi Abang disuguhi sega sayur tewel karo lawuh endhog ceplok. Segane diwadhahi piring isih nganggo dilemeki godhong gedhang. Mesthi wae Si Klambi Abang ya tolah-toleh, nyawangi mbaka siji kancane sapa sing kira-kira duwe pokal gawe ngono kuwi.

Mbareng acara wis bubaran, neng ndalan padha rame. Si Klambi Abang dadi ngreti sapa sing gawe dhak-dhakan. Misuh-misuh, ning sambi jegagakan. Ing batin, "Titenana mengko yen wayahe besanan nggone Si Anu."

Saturday, 3 March 2012

Rada Bingung: KIWA lan TENGEN


Nganti seprene, aku ajeg leren mikir yen diabani supaya ”klik kiwa” utawa ”klik tengen” ing nalikane migunakake tikusan (=tetikus, mouse). Tumrap wong ora kedhe (kidal) kaya aku iki rak tikusan kuwi dicekel nganggo tangan tengen.

Lha, nanging ing tikusan kuwi ana papan kanggo nge-klik sisih ”kiwa” (nggon driji panuding) banjur ana gunyeran (scroll?) biasane uga dioperasekake nganggo panuding, lan papan kanggo nge-klik sisih ”tengen” (papane driji panunggul).

Mbokmanawa amarga kang banget luwih kerep kango iku papan nge-klik kang sisih kiwa, mula sajroning pikiran rak otomatis banjur kuwi sing ”ketengen” [kiwa dadi ”(ke)tengen”]. Sajake iku kang ndadekake aaku ajeg ndadak leren mikir yen diabani supaya nge-klik tengen utawa kiwa. Dospundi ndika? [bon]

Thursday, 1 March 2012

AYO GAWE BUKU


Adhedhasar keputusan Rapat OPSJ (Organisasi Pengarang Sastra Jawa) ing Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (ing Surakarta) 25 Februari 2012, ”Penerbitan buku sastra Jawa sebisa mungkin mempertimbangkan prinsip regenerasi, di samping apresiasi terhadap mereka yang telah memiliki pergumulan lama di jagat kreasi sastra Jawa,” (Keputusan Rapat, Nomer 4) pramila sumangga sami anyengkuyung ayahan menika.

Kangge miwiti ayahan menika, para mahasiswa/i ingkang remen ngripta geguritan lan/utawi crita cekak saget ngintunaken karyanipun dhumateng “Panitia” lumantar pos-setrum: sastrajawa@yahoo.com utawi sastrajawa@gmail.com kanthi wewaton:

A. Pangripta

(1) ngantos wulan Mei 2012 taksih mahasiswa/i (diploma, S-1, S-2, S-3) lan/utawi umuripun dereng langkung saking 25 taun.

(2) WNI utawi WN pundi kemawon

(3) saget ngintunaken guritan lan/utawi crita cekak langkung saking setunggal (salajengipun badhe dipunpilih dening Panitia)

(3) Sarujuk kaliyan paugeran ingkang dipundamel dening Panitia

B. Karya

(1) wujudipun geguritan lan/utawi crita cekak

(2) saget riptan enggal utawi ingkang sampun nate kapacak ing ariwarti/kalawarti utawi babaran sanesipun kejawi buku

(3) temanipun bebas, sauger boten ngandhut samukawis bab ingkang saget dados dhak-dhakan dumadinipun dredah prekawis suku, ras, lan agami

(4) boten awujud utawi kenthel raos propaganda partai utawi ingkang sairip punika

(5) ngginakaken basa Jawa, kalebet basa Jawa Surabaya, Tegal, Banyumas, Suriname, Sala, Yogya, Bojonegoro, lan sanes-sanesipun

(6) kaserat mawi font Cambria utawi Times New Roman ukuran 14 utawi 16, spasi 1 (padhet), rata kering (kiri), lan boten prelu kinanthenan gambar utawi rerenggan sanesipun

(7) kasimpen wujud file kanthi format RTF lan kakintun mawi attachment dhumateng alamat: sastrajawa@yahoo.com utawi sastrajawa@gmail.com kinanthenan FOTO lan BIODATA pangriptanipun lan asil scan kartu Mahasiswa utawi KTP kangge mbuktekaken yen pangripta taksih dereng yuswa sanginggilipun 25 taun lan/utawi taksih mahasiswa/i

(8) Naskah dipunentosi Panitia ngantos satelat-telatipun 21 April 2012, awit kaangkah 20 Mei 2012 sampun saget wujud buku

C. Pangripta – OPSJ – Penerbit

(1) OPSJ badhe ngragati lan nggandheng penerbit anggota IKAPI kangge mbabar buku menika

(2) Pangripta badhe nampi hak-ipun wujud ”royalty” ingkang mangke badhe dipunrembag malih, kadospundi teknis-ipun. Upaminipun, menapa “royalty” saget dipun sarujuki dipunwujudaken (arupi) buku, saengga saget langsung kacaosaken, boten ngentosi pajengipun buku

(3) OPSJ lan para pangripta purun saiyeg-saekapraya ngupaya amrih buku ingkang kababar dados buku laris, kanthi ”gerakan adol buku” upaminipun, lan ngawontenaken acara sarasehan (bedhah buku) ing kampus-kampus, sanggar, saha komunitas sanesipun.

(4) OPSJ badhe yasa (mangun) kacamaya (laman) amrih sangsaya jembar tebanipun wara-wara bab buku menika mangke

(5) Sakderengipun ngintunaken karyanipun, pangripta saget miterang, bokbilih wonten bab-bab ingkang dereng kacetha ing andharan menika. Nuwun.


Malang, 1 Maret 2012

BONARI NABONENAR
sekretaris OPSJ

”Kandhang Bubrah Gagrag Anyar”

Sawijing wektu, Suparto Brata kang wis nyekseni gumelare kahanan wiwit Jaman Landa, Jaman Jepang, nganti tumapake Jaman ”Umyeg” iki, ngudarasa. Wis lali kepriye tembung mbaka tembunge, mung kira-kira mengkene, ”Negara iki bisa digambarake kayadene lagi koncatan Bathara Wisnu, dewa kang njaga rahayuning bawana. Kamangka Bathara Syiwa apadene Bathara Brahma padhadene sengkude nandangi ayahane: nyipta lan ngrusak. Gedhong kantor, omah, kreteg, dalan, lan manekawarna wewangunan digawe, nanging sajak keladuk akeh kang kaselak rusak sakdurunge tumeka ing umure.

Apamaneh yen wewangunan kuwi aran ”Rumah Sederhana” (RS) lan luwih-luwih ”Rumah Sangat Sederhana” (RSS). Akeh kang ambruk sakdurunge dipanggoni! Uga akeh kang bleger omahe katon apik, nanging drainase utawa tatanan ilen-ilene ora digarap kanthi becik. Wusanane, yen udan ora pati deres wae got utawa kalenane padha amber, banyune mblabar lan ngelebi dalane. Kamangka kang aran (dalan) aspal iku gelis banget rusake yen saben-saben dimungsuh banyu. Bola-bali ditambal, nanging uga bola-bali rusak maneh. Mula, senajan katone kerep didandani, samubarang kang rusak kuwi, kaya mung sakeplasan olehe katon becik.

Yen ana kang bola-bali ndandani, nambal, lan sapiturute, apa kuwi dudu pengawak Bathara Wisnu? Sakeplasan bisa uga katon kaya mengkono. Nanging, satemene kang nambal, kang sulam, kang dndan, kuwi kabeh ya klebu gawe: gawe tambalan, gawe sulaman. Sajroning negara iki, miturut pamawase Pak Parto mau, anane mung wong gawe karo wong ngrusak. Dalan digawe, diaspal alus. Lagi dadi wis dirusak, nganggo kendharaan nggawa momotan kliwat taker. Utawa dijoglangi kanggo mendhem kabel tilpun. Prasasat durung rampung olehe mendhem kabel tilpun, keselak didhudhah utawa dibongkar maneh jalaran ana proyek nandur pipa ledheng (saka PDAM). Mengkono sateruse. Bongkar-pasang kaya ora ana uwise.

Partai politik didegake, banjur dirusak kanthi maneka cara. Janji-janji politik digawe, lan gelis rusake amarga mung dietog kandheg ing janji wae. Angger ditagih, kaya gampang wae olehe wangsulan kanthi ukara kang wujud janji anyar. Mengkono sateruse.

Kang aran perda (peraturan daerah) malah akeh kang dadi ing kahanan ”rusak” (upamane cengkah karo UU) lan ora bisa di-sah-ake dening Mendagri, utawa enggal dijabel sawise sawatara wektu ditrapake. Perda iku uga bisa rusak lamon sawise disahake ora ditrapake kanthi becik, lan kang kaya mengkene iki padatane banjur dijuluki ”macan kertas”. Kamangka, kanggo nglairake perda siji wae dibutuhake wragat atusan yuta rupiyah. Kang gawe perda sok uga malah sangsaya seneng, awit saben gawe perda ana ongkose, ana kalodhangan ”studi banding” kang uga ateges: dhuwit.

Dhuwit! Saiki iki samubarang prekara tuk lan jog-jogane kaya ora ana liyane dhuwit. Unen-unen, ”Jer basuki mawa beya,” mesthi ora kapratelakake kanggo ngombyongi trekah nuku kalungguhan/jabatan, nuku suwara ing pemilu, kanggo nekuk ukum, lan sapanunggalane. Merga saiki kaya wis mratah bab kang mangkono kuwi, mula banjur dibutuhake beya alias dhuwit, banget luwih akeh tinimbang apa mesthine. Kabutuhan (dhuwit) kang matikel-tikel luwih akeh saka apa mesthine kuwi sengara bisane ditutup kanthi cara apa mesthine. Mula, banjur padha nempuh dalan utawa cara kang ora samesthine.

Kang diarani dalan golek dhuwit kang samesthine kuwi ya nyambutgawe, adol tenaga, adol barang, nenandur, lan sapiturute. Pokoke nyambutgawe, ngetokke kringet. Kuwi tembung gampange, senajan akeh wong nyambut gawe, kang malah luwih gedhe bayare, ora (pati) ngetokake kringet. Amarga kudu akeh lungguh ing njero ruwangan kang disentrong AC. Sing dikarepke ing kene: nempuh cara (nyambutgawe) kang miturut basa agama-ne: kalal (halal), dudu cara (nyambutgawe) kang: karam (haram). Dadi, ora angger nyambutgawe. Lha, kuwi yen urip lan kahanan lumaku kanthi apa mesthine. Gandheng urip padinan wis kebacut lumaku ora kaya mesthine, butuh prabeya tikel-tekuk luwih akehe, mula banjur mratah ”pegaweyan” kang ora kalal, wiwit saka colong-jupuk, ngrampog, ngglembuk, korupsi lan sogok-sinogok, blantik narkoba, blantik manungsa (lha iya, saiki kuwi ya mratah wong ngedol-tinukokake sapepadhane wong/manungsa, lho!) lan sapiturute.

Panandhang saka njomplange kabutuhan (dhuwit) kang bisa diranggeh karo kang kudu diwetokake (ditanjakake) kuwi ora mung prekarane wong saiki. Mula ing bebrayan Jawa ana kang diarani pesugihan. Merga kepengin gelis sugih, ora kangelan olehe keklumpuk bandha, akeh wong wani nempuh cara pesugihan senajan ditanting kudu gelem numbalake sapepadhaning manungsa, sanak kadang utawa malah anake dhewe. Ana kang ngingu thuyul, nyi blorong, ngecakake aji jaran panoleh, babi ngepet, lan sapanunggalane, nganti uga ana kang ingaran aji kandhang bubrah.

Babi ngepet, thuyul, nyi blorong, saiki kaya-kaya ngejawantah ing trekah culika ngenthit dhuwite nasabah bank, nyedhot dhuwit saka kertu ATM, nyedhot pulsa tilpun, lan sapiturute. Dene kang saiki nedheng-nedhenge dadi rembug rame ing pekabaran, obrolan warung kopi, lan cecaturan online, yaiku kang dakarani Pesugihan Kandhang Bubrah Gagrag Anyar, kang prebawane banget ngedab-edabi, nganti kaya-kaya ndadekake negara iki: negara kandhang bubrah!

Asline, kang ing bebrayan Jawa ingaran pesugihan kandhang bubrah iku bisa katitik saka laku: saben-saben ndandani omahe, senajan ora ana kang rusak lan prelu enggal didandani. Pokoke ana wae pawadane, apa ngganti payon, ngganti cendhela, nambah kamar, lan sapiturute. Pokoke mbubrah-lan ndandani kuwi wis dadi syarat-lakune aji pesugihan kandhang bubrah, kang ing jaman modern iki kaya-kaya ngejawantah dadi Pesugihan Kandhang Bubrah Gagrag Anyar.

Nitik apa kang kaandharake ing ngarep mau, kaya klebu nalar manawa Kreteg Kutai Kartanegara kang diresmekake kanthi jeneng ”Jembatan Gerbang Dayaku” iku mung umur 11 taun. Wiwit dibangun 1995, rampung 2001, lan ambruk 26 November 2012. Yen kretege kang ambruk bisa digawe maneh. Yen kelangan bandha-donya, bisa golek maneh. Nanging, nyawa kang dadi bebantene Aji Pesugihan Kandhang Bubrah Gagrag Anyar -- manawa mengko kabukten saperangan dhuwit kang kudune ditanjakake kanggo mangun kreteg kuwi mau dienthit kana-kene-- ora bakal bisa diijoli. Yen kepengin conto kang wus cetha, kari ngetung wae pira cacahe pangarsaning paprentahan dalah pejabat andhahane kang wus kinunjara awit saka trekahe ngorupsi ”proyek pembangunan.”

Pesugihan Kandhang Bubrah Gagrag Anyar kang saiki paling kemata (nyolok) yaiku kang dumadi ing Senayan, Jakarta, saka rencana mbangun gedhong anyar, ndadani ruwang rapat, kursi impor-- kang banjur diganti kursi Jepara, kakus larang, lan pananggalan (kalender) kang miturut etungane anggota dewan saka Partai Gerindra, Akbar Faisal, saben eksemplar-e rega satus ewu rupiyah luwih. Kalender kang dicetak dening saweneh penerbitan majalah abasa Jawa ing Surabaya, rega ecerane ora nganti Rp 25 ewu. Kamangka kuwi wis full-colour, ana dina lan pasaran, ngemot penanggalan Jawa lan penanggalan Masehi. Lha, apa wigatine nyithak Kalender Larang Cap Senayan kuwi, sajroning kahanan ing bebrayan akeh bocah sekolah kang ora kuwat tuku buku, malah akeh kang ora bisa sekolah merga kabotan nyangga wragate, utawa sing sekolahane ambruk katiyup barat gedhe?

Angger para agul-agul ing Senayan isih ngungalake Aji Kandhang Bubrah Gagrag Anyar-e, istingarah bakal sangsaya akeh bocah kang kengelan menyang sekolahan, ora bisa tuku buku, lan sapiturute. Bakal sangsaya tambah cacahe wong mlarat, cacahe wong bodho. Merga urip mubra-mubru lan sarwa kecukupan wis ana sing makili.*

Wis kapacak ing kaca Pamomong, Suara Merdeka

Saturday, 18 February 2012

"Tanggul Kabudayan Jawa Wis Jebol"


Nganti saiki, saben-saben ing gang-gang kang nylempit satengahe kutha gedhe kaya Surabaya, isih bisa diprangguli wong duwe gawe, kanthi adeg terob, mbunteti dalan/gang, lan nyetel kaset gamelan, utawa ludruk, utawa lagu-lagu, kanthi sound-system kang marakake suwarane jemlegur mbrebegi para tangga. Bisa dititik, iku pakulinan gawan saka desa. Nalare? Ing desa, pomahan ora padhet kaya ing kutha. Luwih-luwih dhek biyen, sadurunge wara-wara bisa dicithak/tinulis kanthi gampang, sadurunge bisa disiyarake –merga durung ana-- stasiun radio ora resmi, suwara jumlegur saka unen-unen hiburan (sadurunge mratah salon malah sound-system-e nanggo corong kang wangune memper kukusan, dipasang ing wit kang dhuwur utawa dicagaki pring) uga diangkah dadia sarana kanggo ngelingake --lan nuduhake prenahe—manawa wektu iku ana kang duwe gawe: ngundang sing padha arep buwuh utawa mbecek.


Ing, kutha gedhe, kang pomahane padhet, ora mung tepung tarirtis, nanging malah adu tembok kaya saiki, nyetel kaset kanthi suwara jumlegur ngono kuwi cetha ngganggu para tangga. Tur, yen diangkah dadi pituduh prenahe kang duwe gawe, ing layang ulem rak bisa digambar kanthi cetha. Nanging, tradhisi mengkono iku isih ana nganti saiki.

Mbokmenawa kang kaya mangkono iku kena diarani kadidene saweneh wohe ’budaya urban’. Bukti liyane manawa tradisi gawan saka desa angel ditinggalake dening bebrayan kang wus puluhan –utawa malah atusan—taun tuwuh ing kutha yaiku isih akehe pasar-pasar krempyeng, senajan secara sistemik kaendhih dening supermarket/swalayan. Papan sakupenge Mesjid Akbar Surabaya, upamane, dumadakan saben dina Akad dadi pasar krempyeng kang ngedap-edapi ramene.

Jamane wis sarwa super market
ing desamu dol tinuku panggah nyang-nyangan
golek bathi serepis kringet dleweran


Larik-larik guritane YSH iku kaya-kaya masang garis, pager, misahake kahanan kang kosokbalen antarane ing desa lan ing kutha. Kamangka, kanyatan wadhage ora kaya mangkono. Mung, yen olehe nyawang nganggo kacamata konsep budaya, pancen, mbokmanawa desa lan kutha kuwi, ing papan-papan kang diarani Jakarta, Surabaya, Bandung, lan sapiturute, wis campursari, saresmi, kawin, curiga manjing warangka, warangka manjing curiga.

Yen ngrembug prekara urbanisasi, keh-kehane pikiran banjur nyalahake wong-wong kang ndalidir saka desa-ngadesa gemrudug ngebyoki kutha, kanthi maneka-warna alasan, nanging kang paling dhisik didumuk biasane: ekonomi. Urbanisasi tinengeran kanthi undhake cacah padunung kutha saka saliyane sebab anane bayi kang lair ing kono, yaiku kanthi anane (akeh) wong kang padha neka saka karang padesan. Kejaba iku, satemene uga bisa disababake anane pemekaran wilayah (kutha). Wong-wong saka desa mili nyang kutha, kutha cilik apadene kutha gedhe. Kutha cilik uga banjur dadi kutha gedhe. Kutha gedhe sangsaya mekar. Mula banjur ana sebutan ’’kutha satelit’’. Malahan, sing maune desa kluthuk adoh lor adoh kidul bisa wae prasasat kaya disulap, dumadakan dadi kutha, yen konangan lan dikedhuk emas utawa lenga patrane.

Banjur thukul kabudayan urban. Budaya kutha kang tuwuh saka ketemune antarane ’’gawan saka desa’’ lan kahanan utawa kanyatan, adat-istiadat, tata-cara panguripan bebrayan kutha kang wis ngrembuyung sadurunge ketekan wong-wong saka desa. Mula banjur ana acara festival kang bisa dirunut saka adat padesan: metri desa, baritan, upacara panen, lan sapiturute.

Awit saka pamawas kang prasasat tansah linambaran babagan ekonomi, thukule kabudayan urban kuwi banjur kaladuk kerep ditibakake marang kang sarwa nyedhihake, upamane sangsaya akehe wong mlarat ing kutha-kutha, panguripan kang saya wengis, kadurjanan kang sangsaya mundhak, ya kerepe, ya jinise, ya bobote. Kamangka, budaya kuwi tansah thukul, ngrembaka, kanthi sendhal-sinendhal antarane kang lawas lawan kang anyar, antarane konvensi lawan inovasi kang kerep uga dipengawaki (antarane) kaum tuwa lawan kaum enom. Kanthi mengkono kabudayan lumaku kayadene layangan kang diundha nganggo tali, ora kaya layangan pedhot.

Saka lelakone Jaka Tingkir numpak gethek nut ilining bengawan kaya kacetha ing Babat Tanah Jawa lan kanyatan jaman modern ing alam Indonesia Merdika kacihna manawa kahanan gumelar kang kita prangguli dinane iki mujudake woh saka campursarine desa lan kutha, kang embuh kanthi trep apa rada mleset diarani urbanisasi kuwi. Saiki, coba ayo diwaspadakake, saka para pemimpin kang paling pucuk, para presiden, menteri, lan pejabat ndhuwuran liyane kuwi, mung pira cacahe kang ora asal saka desa?

Kanthi mangkono, senajan dikayangapaa kemrungsunge panguripan ing kutha-kutha gedhe, isih tansah ana pangarep-arep menepake rasa, entuk ngoyak nanging sareh, banter nanging ora grusa-grusu –isih ana rasa kangen marang laku urip guyup kebak rasa paseduluran kaya patrape wong desa, ora individualis kaya kang wus didadekake ciri-ne wong kutha, lan sapiturute. Mbokmanawa ya rasa kangen kang mengkono kuwi kang nyurung mayuta-yuta wong saben taun ngendhangi desa klairane: mudik, aja nganti diarani, ’’Wit kang lali marang oyote.’’

Wis telung windu tlatah iki dak tinggal
ngluru pangupa jiwa ing telenge nuswantara
Nanging atiku ora bakal bisa owal jalaran
Ari-ariku kependem ing bumi Kalitidu
Paribasane ragaku oncat tekan pucuke donya
Aku tansah wit kang ora bisa lali oyote
[Wit Kang Ora Lali Oyot]


Iku kang wujud laku wadhag. Dene laku batine, kaya kang bisa diprangguli ing meh saben guritan kang kababar ing buku iki, ing kene kaya-kaya saben wektu si ’’aku lirik’’ utawa ’’sang aku’’ tansah wira-wiri antarane desa, bumi kalairan, lan kutha papan dununge saiki. Mulane, saka Jakarta ginuritake gunung-gunung kang kurdha, nagih janji…

Gunung-gunung nagih janji marang driji kang nate nulis
proyek lestari, tangan kang nate nebang jutaan hektar alas
cangkem kang mangan wit-witan, godhong, lan kembang
[Gunung-gunung Nagih Janji, Jakarta, 2010]


Ora prelu nyemak suwe-suwe kanggo ngawruhi, ngrasakake, manawa guritan-guritane Yusuf Susilo Hartono (YSH) kebak rasa-pangrasane wong urban. Mesthi iku dudu barang aeng, merga penggurite, YSH, lair ing saweneh desa kang kepetung adoh saka kutha kabupaten kang adoh saka kutha, ibukota, Jakarta, punjering paprentahan Republik Indonesia, kang wis puluhan taun diguleti.

Nyadran

Guritan sesirah Nyadran ing buku iki ngungalake pawarta ngenani tumangkepe aku lirik marang adat lawas warisane para leluhur kang isih dileluri ing bebrayan desa kanthi sesaji lan slametan utawa kenduren ing papan-papan kramat kaya ta: kuburan, dhanyangan, mason (=belik kang banyune diaangsu). Ing larik-larik wiwitan kaya-kaya ora ana kang bakal diprekarakake.

Esem tansah ngrenggani lathi
sandhangan abang ijo biru kuning
anyar dadi kolase mranani

Ora lali sumur-sumur padha kawedhaki

papan panggonan sedhekah bumi
ora lali kuburan-kuburan kapaesan
kembang telon menyan
ora lali mbah danyang
melu kondangan


Nanging, larik sabanjure, ’’Jemah legi wanci bedhug/ ambeng nguleng ngleluri kabudayan/jarene?’’ Si ’Aku’ wiwit mitakonake. Banjur, ’’Dulur, apa prastawa mengkene iki/ jimat kang kudu dileluri?/ jimat kang kudu dimemetri/ minangka isining kabudayan mukti?’’

Iku dudu pitakon wantah, nanging satemene wujud tumanggap nulak utawa ngemohi adat utawa pakulinan run-tumurun kang satemene cengkah karo paugeran (agama) kang diugemi.
Ora mung adat warisan kang nuwuhake ’’konflik batin’’ nanging uga polah-tandange wong-wong (kutha) metropolitan. Nalika, ’’….wong-wong rebut dhucung get-jogedan,’’ si aku trima mung, ’’kepencil sangisore langit-Mu/rila urip mung ngombe tetese bun putih.’’ [Metropolitan, Jakarta, 1991]. Nitik rasa-pangrasa kang kaudhal ing larik-larik guritan sajroning buku iki, dudutane mbokmanawa ora ana liya kajaba ’’sang aku’’ milih papan ing ’’tlatah sintesa’’ antarane desa lan kutha, antarane tradisi lan modern (-isasi).

Tokyo Remeng-remeng

Guritan iku dadi guritan amarga tembung-tembung rinakit mawa rasa (gurit), ora mung waton nyuntak rasa-pangrasa. Ora mung wadhage kang wujud (tipografi) saemper guritan, nanging tumrape wong kang wus atul utawa kulina maca guritan, bakal enggal katitik, apa kang lagi diadhepi (diwaca) iku nyata-nyata guritan, apa mung ’pawarta’ kang tembung-tembunge ditata dadi larik-larik saemper guritan. Akeh ubarampen kang bisa digunakake kanggo ngrakit geguritan. Ana dhong-dhinging swara utawa guru lagu, guru wilangan, wirama, pralambang, sanepan, bebasan, lan isih huwakeh maneh.

Kang aran guru wilangan, cak-cakane ing guritan (gagrag anyar) mesthi beda karo ing guritan klasik (tembang). Mula takkira kurang trep yen ana kag kandha manawa etungan guru wilangan iku mung diprelokake nalika ngrumpaka tembang. Senajan ora ana aturan kang gumathok ngenani guru wilangan iku, penggurit kang ngrakit geguritan sinambi jroning batin ngentha-entha kepriye yen guritan iku diwaca/diwacakake ing kono mesthine kanthi otomatis petung mngenani guru wilangan iku tumanja.

Mung, cak-cakane (sajroning ngripta guritan) mesthi ora kaya jurumasak kang lagi matrapake sawernane bahan kelaebu bumbon. Tumrape penggurit, kabeh ubarampen kuwi mau mesthi wis manuksma, manjing, anyarira, sajiwa, sadurunge rinipta kang ponang gurit.

Ora mung semangate, guritan-guritan kang kababar ing buku iki uga kebak warna saka donyaning budaya klasik, sastra (Jawa) klasik, saka babagan othak-athik mathuk – ’’Gedhang susu,.ilang gedhange kari susune’’ [Gedhang Susu]-- parikan, wangsalan, pasemon, lan sapiturute, klebu macak unen-unen lawas kanthi tatanan anyar, saka: ’’sapa salah kudu seleh,’’ dadi : ’’wong salah ora gelem seleh.’’ [Kidung Pangeling-eling].

Ana maneh parikan kang disuguhake kanthi nyuplik larik pisanan, ’’Klemben-klemben roti-roti,’’ kanthi ora macak larik sabanjure: ’’biyen biyen, saiki saiki,’’ mesthine kanthi panganggep manawa kang padha maca wis padha ngreti bacute ukara parikan kuwi. Malah kurang prayoga yen di-blak-ake sawutuhe. Eloke guritan sesirah Tokyo Remeng-remeng iki, mung kanthi nyuplik larik-larik kapisane parikan kang wus dadi apalane bebrayan (Jawa), penggurit ora mung kasil nyendhal para maca marang parikan-parikan sawutuhe, nanging uga marang crita, sejarah kang nandhes banget ora mung ing batine wong Jawa, nanging uga ing batine wong (bangsa) Indonesia.

Mbengok, Takon, Ndudut

Cekak-cukupe, gumuruh ombaking rasa kang kaprebawan saka campuhe ’’kang tradisi’’ karo ’’kang modern (-isasi)’’ kawistara banget ing meh saben guritan ing buku iki. Lan ing underan gumuruhing rasa iku ’’sang aku’’ kaya-kaya wis ora bisa ngempet pembengok: ’’Tanggul kabudayan Jawa wis jebol ambrol luwih gedhe tsunami,’’ [BOJO(NE)NEGORO]. Lan, sadurunge mratelakake dudutane, Indonesia-sia-sia, ’’sang aku’’ nelakake pitakon: Bangsa Apa Iki? –Mbokmanawa para maos kagungan wangsulane? Sumangga. [Bonari Nabonenar]


Cathetan:
1) Buku Guritan Ombak Wengi nampa Hadiah Rancage 2012

2) Yen ngresakaken bukunipun, kulaaturi sesambetan kaliyan Kangmas @Yusuf Susilo Hartono. Nuwun.