Sunday, 1 July 2012

Baku Kunjung sambil Unjuk Karya

Kang Sigit, demikianlah biasanya secara akrap laki-laki asal Kendal yang menetap di Swiss ini disapa, sungguh gemati terhadap buku karya-nya sendiri. Ia rela terbang dari satu benua ke benua lain, dari satu kota ke kota lain, untuk membicarakan bukunya, satu hal yang tak banyak dilakukan penulis lain.

Ini pelajaran menarik, patut dicontoh oleh BMI yang telah melahirkan buku, yang, jumlahnya makin membengkak itu. Saya pernah mengikuti acara diskusi buku karya Maria Bo Niok, Rini Widyawati, Wina Karnie, Eni Kusuma, Tarini Sorita, dan entah BMI siapa lagi, ya? Buku cerpen Penari Naga Kecil karya Tarini Sorita sempat diluncurkan di Taman Budaya Jawa Timur, lalu di Toko Buku Togamas Yogyakarta. Eni Kusuma malahan tidak sekadar meluncurkan dan mendiskusikan bukunya, ia tampil pula di televisi (JTV) dan radio, sebelum kemudian diundang sebagai pembicara di berbagai kota.

Apakah pada awalnya pihak radio dan televisi yang mengundang Eni Kusuma, melainkan dari pihak Eni-lah datangnya inisiatif itu. Pada titik itu kita dapat melihat ada upaya lebih gigih dari seorang Eni Kusuma. Maka akan lebih konyol lagi jika ada pertanyaan, ”Apakah Eni Kusuma dibayar untuk tampil diwawancarai di televisi itu?” Ouw, saya ingin mengatakan, justru akan terasa lebih wajar jika Eni yang keluar uang untuk mempromosikan dirinya –pada saat itu!

Melalui Grup Pembaca Majalah Peduli (Facebook) saya tahu banyak BMI Hong Kong yang sudah dan akan memiliki rumah makan atau café. Seharusnya, itu menjadi tempat pilihan pertama untuk menggelar diskusi buku karya-karya BMI/mantan BMI, bukan hanya BMI Hong Kong tentunya. Dengan demikian terjadilah apa yang di-pepatah-kan sebagai, ”Sekali merengkuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui.” Kalau BMI/Mantan BMI bertemu, dalam acara yang bertajuk ”peluncuran” atau ”bedah buku” sekalipun, pastilah banyak hal lain bisa jadi pembicaraan. Untuk topik-topik di luar konteks acaranya, tentulah tidak diobrolkan di forum resminya, melainkan bisa dilakukan pada saart istirahat, sebelum dan sesudah acara intinya.

Maka, selain tali persaudaraan makin dipererat, soal-soal kesenian, bisnis, dan bahkan gerakan melawan kesewenang-wenangan pun dapat dibicarakan dan di galang dalam kesempatan-kesempatan yang sangat baik itu. Apalagi jika kegiatan seperti itu bisa ditradisikan, berpindah tempat dari satu kota ke kota lainnya, hingga baku kunjung untuk mempererat tali persaudaraan pun akan semakin menemukan maknanya.

Kalau pun harus dijlentrehkan keuntungan apa yang dapat dipetik para pihak, ya ini: pemilik buku akan mendapatkan ruang untuk mempromosikan buku (tentu sekaligus juga pengarang/penulisnya), pemilik café/rumah makan juga akan mendapatkan kesempatan untuk menarik pelanggan lebih banyak, sekaligus mempromosikan usahanya –apalagi jika kemudian ada wartawan datang meliput. Sedangkan para peserta, tentu mendapat tambahan wawasan dari acara diskusinya, bertambah teman, jaringan, dan tidak tertutup kemungkinan mendapatkan kesepakatan-kesepakatan dalam hal bisnis.

Jika saya harus membuat kesimpulan, menggelar, menghadiri, atau terlibat dalam acara-acara semacam saya uraikan tadi: ”Itu investasi juga.” Itu pun sejauh kita menganggap bahwa ”nilai” tidak hanya tertulis di lembaran atau kepingan uang! *
piye?:

3 urun rembug:

Insya Allah, bulan depan buku baru saya mau dibedah. pak Bonarie bisakah yang membedahnya?

Insya Allah, bulan depan buku baru saya mau dibedah. bapak bisakah yang membedahnya?