Thursday, 7 May 2009

Menggagas Hadiah Sastra Jawa

Sangat ironis, hadiah paling bergengsi untuk Sastra Jawa justru diberikan oleh Yayasan Rancage (Sunda). Artinya, orang ’luar jawa’ ternyata justru lebih (memihak) jawa daripada orang jawa sendiri. Acara penganugerahaan Hadiah Rancage pun selalu ditunggu-tunggu sebagai acara terhormat bin bergengsi bukan saja oleh para sastrawan Sunda,melainkan juga oleh sastrawan Jawa, Bali, Lampung.


Ke mana orang jawa yang sebenarnya punya cukup modal untuk menyelenggarakan pemberian hadiah, bukan saja untuk sastra, melainkan untuk sosok-sosok yang bisa dinilai memiliki prestasi di bidang pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya Jawa?

Ini persoalan kemauan, sama sekali tidak menyangkut kemampuan. Maka:

[1] Mari kita sidangkan melalui bursa pendapat (boleh menulis opini yang panjang) melalui milis sastrajawa@yahoogroups.com atau kirim ke email sastrajawa@yahoo.com, atau ada saran untuk saluran lain? Di sini kita bisa berdiskusi, kalau perlu berdebat, apakah ’hadiah’ itu perlu, penting, atau bahkan tak akan bermanfaat samasekali.

[2] Nanti, jika simpulannya adalah: hadiah itu penting, mari kita bersama-sama mengingatkan pemerintah daerah (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur) yang menaungi masyarakat (dan kebudayaan) Jawa untuk mengagendakan pemberian hadiah itu.

[3] Jika Pemerintah Daerah (seperti tersebut pada no 2) tidak memberikan respon positif terhadap usulan pemberian hadiah itu, bolehlah kita bentuk sebuah komunitas, organisasi, atau apa, untuk mengimpun dana perorangan semampunya, hingga gagasan yang pernah dengan susah-payah dimulai pelaksanaannya (menawarkan proposal) oleh Pak Parto (Suparto Brata), Pak Tamsir AS (alm.), dan Pak Esmiet (alm.) di awal 90-an itu bisa terwujud.

Sebagai bahan pertimbangan, perlu diketahui bahwa Pemerintah DIY, Jateng, Jatim, sejak 1991 memiliki agenda 5 tahunan bernama Kongres Bahasa Jawa. Konon, KBJ IV (Semarang, September 2006) digelar dengan dana tak kurang dari Rp 5 milyar. Nah, kalau setiap tahun kita bisa menilai 5 orang paling berprestasi di ranah kebudayaan Jawa, dan memberikan hadiah dengan nominal Rp 10 juta/orang (konon nominal Hadiah Rancage Rp 5 juta/orang), berarti kita perlu anggaran dana (kalau bisa dari pemerintah) Rp 50 juta/tahun. Catatan: Dana untuk acara seremonialnya bisa dicarikan dari sponsor (?). Jika ditanggung oleh 3 pemerintah daerah, berarti masing-masing daerah hanya perlu mengeluarkan tak sampai Rp 20 juta/tahun atau Rp 100 juta dalam 5 tahun.

Maka, secara pribadi, kalau saya boleh memilih:
[a] pilihan I: keduanya, baik pemberian hadiah maupun Kongres Bahasa Jawa berjalan seirama.
[b] pilihan II: kalau harus memilih salah satu, KBJ dibekukan saja!
Bagaimana pendapat Anda?

[Bonari Nabonenar]
piye?:

0 urun rembug: