Saturday, 25 April 2009

FSJ, Bukan Festival Kangen-kangenan

Suatu hari dalam sebuah surlek (surat elektronik) cerpenis Beni Setia menulis: ''Kenapa tak ada orang Jawa yang merasa terpanggil untuk nguri-nguri bahasa dan sastra Jawa dengan memberi dana dan kepercayaan yang sama pada PS (Majalah Bahasa Jawa Panjebar Semangat) atau JB (Jaya Baya), misalnya? Apa komunitas Jawa yang mayoritas penduduk Indonesia itu tak menghasilkan manusia berbudaya yang tertarik untuk mendinamisasi sastra Jawa dengan hadiah tahunan? Kenapa Bengkel Muda Surabaya bisa masuk jadi pos anggaran APBD Surabaya, mengalahkan DKS (Dewan Kesenian Surabaya) yang formal top-down building, tapi PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) tidak --padahal institusi ini strategik memberi hadiah tahunan yang mendinamisasi kreativitas sastrawan muda Jawa?''


Surat itu menunjukkan betapa Beni Setia sebegitu gelisahnya terhadap kondisi sastra Jawa saat ini. Seirama dengan kegelisahan saya dan kawan-kawan penggiat sastra Jawa pada umumnya. Menariknya, karena Beni lahir dan besar di dalam kultur Sunda dan mengakrabi Jawa karena kemudian ia menikah dengan gadis Jawa yang lalu membawanya ke Caruban, kota kecil di pinggiran Madiun. Sebagai orang ''Jawa baru'', saya tahu Beni jauh lebih vokal daripada kebanyakan orang Jawa yang ''Jawa deles'' yang sebagian besar masih bersikap nrima. Terlalu nrima.

Memangnya sehebat apa para pengarang/penyair atau sastrawan Jawa hingga perlu diberi hadiah? Apakah urusannya kalau sastrawan muda bermunculan, produktif/kreatif, atau sebaliknya, mampet? Bukankah tidak ada wawancara rekrutmen karyawan yang men-syarat-kan kemampuan berbahasa Jawa kecuali untuk penyiar radio/televisi lokal? Bukankah ketika pemerintah daerah menganjurkan atau bahkan mewajibkan pengalokasian waktu untuk pelajaran bahasa Jawa bagi siswa SD dan SMP, banyak yang diam-diam menggantinya dengan pelajaran bahasa asing, terutama bahasa-bahasa milik negara yang potensial kita setori pekerja rumah tangga?

Siapa pula yang akan peduli seandainya Jaya Baya dan Panjebar Semangat itu kukut? Jika pertanyaan itu diperjelas arahnya: Apakah yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Surabaya maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk dua buah ''monumen'' kebudayaan Jawa yang kebetulan ada di tengah-tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya itu?

Ketika menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Timur, Prof Dr Setya Yuwana Sudikan mengemukakan gagasan untuk menyubsidi para penulis Jawa. Caranya, memberikan bantuan dana kepada redaksi agar honor sebuah tulisan di majalah berbahasa Jawa tidak hanya seperlima atau bahkan sepersepuluh honor tulisan berbahasa Indonesia. Tanpa perlu memperhatikan berapa tiras masing-masing, dengan perbandingan itu kita tahu betapa miskinnya majalah-majalah berbahasa Jawa itu. Jangankan meng-online-kan diri melalui situs berbayar, mengongkosi pemeliharaan di situs gratisan saja tampaknya mereka tidak mampu.

Hingga saat ini subsidi untuk penulis Jawa itu masih berhenti sebagai gagasan. Para penulis/sastrawan Jawa sering menjadi penting hanya ketika ada penelitian.

Kini saatnya penulis/sastrawan Jawa berkonsolidasi untuk menyadari peran apa yang bisa diambil agar tidak menjadi penggerutu terus. Sebelum ini, ada puluhan bahkan ratusan pernyataan yang menyayangkan sikap ''menangisi'' keberadaan sastra Jawa itu. Ini bukan saatnya kita berkeluh kesah. Bukan saatnya menggerutu. Apalagi menangis. Kita boleh marah, asalkan tahu persis bahwa kita layak marah. Tetapi, itu nanti. Kini, mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan.

Apa saja yang bisa kita lakukan sekarang? Festival Sastra Jawa (FSJ) yang bakal digelar di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, 17 - 18 Juni 2009, diupayakan menjadi langkah awal bagi para ''pembela'' sastra Jawa yang tak mau lagi hanya menggerutu, berkeluh-kesah, dan menangis. Momen itu sekaligus menjadi ajang konsolidasi dan bukan sekadar media kangen-kangenan seperti halnya forum-forum semacam.

Kelak, kalau para pembela sastra Jawa sudah benar-benar solid, Festival Sastra Jawa menjadi agenda tahunan untuk menuju forum silaturahmi budaya yang lebih besar (berskala nasional) yang bisa dinamakan Festival Sastra Etnik Nusantara. Semoga tak hanya mimpi. [Bonari Nabonenar, Penggagas FSJ 2009, bonarine@yahoo.com]

Jawa Pos [Minggu, 26 April 2009]
piye?:

0 urun rembug: