Monday, 6 April 2009

Kampung Halamanku

Nglaran adalah sebuah dusun di wilayah Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Pedusunan yang terletak 45 kilometer arah barat daya Kota Trenggalek ini dihuni oleh kurang lebih 1600 jiwa. Mereka tersebar di 10 RT dalam 11 satuan pemukiman yaitu Nglaran, Ledokan, Poko, Gedhangkluthuk, Judelan, Donosari, Tumpak Salam, Gempol, Temon, Tumpak Kangkung, dan Menggeng.


Sebagai sebuah dusun yang terletak di jajaran pegunungan kapur, Nglaran memiliki berbagai keunikan yang tidak ditemukan di dusun lain di wilayah dataran rendah maupun dataran tinggi di kawasan gunung berapi. Keunikan dan daya tarik karst, seperti gua, mata air bawah tanah, sungai buta, permukaan tanah yang tidak rata, dapat dijumpai tersebar di dusun ini. Tentu daya tarik tersebut juga berpadu dengan segala ciri lain yaitu kelangkaan air, baik air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari maupun air untuk irigasi.

Tidak ada dokumen tertulis mengenai kesejarahan dusun ini. Tokoh masyarakat setempat juga tidak mengetahui secara pasti bagaimana awal mula berdirinya Nglaran. Namun tradisi-tradisi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber air bersih seperti masonan dapat sedikit memberi petunjuk bagaimana pemukiman mulai berkembang di Nglaran.

Seperti halnya sejarah peradaban manusia pada umumnya, keberadaan sumber air menjadi penanda adanya kehidupan di sekitarnya. Dalam kebudayaan Nglaran, kelompok pengguna air (mason) kemudian menjadi ikatan sosial-emosional warga, baik yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber air maupun dalam hal lain. Ikatan berdasar mason itu tampak dari ritual warga yang diselenggarakan berdasarkan masonan, seperti bersih desa, atau ritual lainnya.

Seperti desa-desa lain di Trenggalek, cengkih merupakan komoditas utama dari dusun ini pada Era 1980-an. Tingginya harga cengkih serta pertumbuhannya yang cukup bagus di daerah ini menjadikan lahan pertanian warga kemudian juga dialihfungsikan menjadi lahan cengkih.

Namun pada tahun 1990-an, kejayaan ini mulai meredup. Pohon yang mulai menua, teknik pemupukan yang keliru, serta menyebarnya wabah bakteri pembuluh kayu menjadikan tanaman cengkih tidak produktif lagi. Bahkan banyak di antaranya yang mati. Kini kejayaan cengkih di dusun ini tinggal sisa-sisanya saja. Meski sebagian besar masyarakat Nglaran masih memiliki pohon cengkih, tetapi produksinya sudah merosot jauh.

Dampak nyata dari merosotnya produksi andalan ini adalah menurunnya kesejahteraan warga. Terutama para petaninya. Terlebih hingga saat ini belum ditemukan komoditas pertanian lain yang dapat menggantikan posisi cengkih sebagai komoditas pertanian andalan.

Kondisi tersebut pada akhirnya memicu tingginya jumlah warga yang keluar dari desanya untuk mencari pekerjaan di kota. Surabaya, Malang, Tulungagung, bahkan kota-kota di Kalimantan menjadi tujuan kerja warga Nglaran. Tenaga kerja ini sebagian besar terserap di sektor industri, konstruksi, dan perkebunan. Sementara tenaga kerja perempuannya terlibat di sektor rumah tangga.

Terbatasnya pilihan sektor pekerjaan warga Nglaran tersebut juga disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan warga. Rata-rata anak muda dusun ini hanya menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah menengah pertama. Sebagian kecil saja yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga sekolah menengah atas, dan beberapa orang menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Persoalan besar lain yang dihadapi oleh masyarakat Nglaran adalah keterbatasan air bersih, terutama pada musim kemarau. Dari sebelas mata air yang ada, saat ini tinggal lima buah mata air yang dapat diandalkan warga pada musim kemarau. Itu pun dengan debit yang sangat kecil, sehingga tak jarang warga harus mengantri hingga berjam-jam untuk mendapatkannya.[am]
piye?:

0 urun rembug: