Monday, 22 September 2008

HM CHENG HO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN [5]


Di rumah buku saya baca. Hampir tergelak saya membacanya. Bukan karena isinya yang lucu karena menceritakan riwayat perjuangan seorang pelawak, tetapi habitat tempatnya hidup sejak kecil, adalah lingkungan habitat yang saya kenali benar. Pasar Pacarkeling, Pacarkembang, TK Megawati, Jedong, RGS dengan penyiarnya Supangat, SMPN 9. Itu habitatku sejak zaman Jepang tahun 1942 (rumahku di Kalasan 31, teman sekolahku anak-anak SS-Pacarkeling, Oro-oro, Jedong, Ploso, Rangkah, Bogen, Tambaksari, Karanggayam, sekolahku di Jalan Mundu.

Sampai pensiun tahun 1988, rumahku di Rangkah, bekerja di Pemkot, RGS pimpinan Pak Indiarto saya kenal benar, bahkan seorang penyiarnya Mas Soekardjito (dengan istrinya) jadi pegawai Humas sekamar kantor dengan saya. Cak Djadi memilih hari tanggal lahir 6-7 bulan sebelum 1 September 1965, adalah 8 Maret 1965, anak saya nomer 2 lahir 29 Maret 1965, jadi sebarakan dengan Cak Djadi. Sekolah Cak Djadi di SMPN 9, dua anak saya kelahiran tahun 1969 dan 1971 juga sekolah di sana (mestinya adiknya Cak Djadi).

Dalam buku itu ditulis bahwa orangtua Cak Djadi hidup di desa (Creme, Gresik), tetapi Cak Djadi sejak kecil hidup ikut kakek-neneknya di Surabaya. Neneknya tiap hari jual sayur-mayur (wlija) yang kulaknya di pasar Pacarkeling, dijajakan seputar kampung-kampung situ. Si bocah kecil Djadi sering disuruh ikut bekerja belanja sayur oleh neneknya, dan karena penghasilannya kecil dia disekolahkan di TK Megawati, muridnya kebanyakan juga anak-anak orang yang berjualan di pasar.

Membaca buku itu tentang masa kecil HM Cheng Ho Djadi Galajapo, saya jadi terbayang-bayang benar masa kanak-kanakku sendiri di sana. Tempat-tempat itu sudah terlalu sering saya jadikan back-ground novel saya atau tulisan saya yang lain, misalnya: Oh, Surabaya (CV Bina Ilmu, 1975), Surabaya Tumpah Darahku (bersambung di koran Kompas November 1973, CV Bina Ilmu 1978), Saksi Mata (bersambung di koran Kompas November 1997, Penerbit Buku Kompas 2002), Surabaya Zaman Jepang (Surabaya no Monogatari) (Penerbit Jawa Pos 1983), Kremil (bersambung di koran Kompas November 1994, Pustaka Pelajar Yogyakarta 2002).

Sumber:
Blog-e Pak Parto (Suparto Brata, 22 September 2008)
piye?:

0 urun rembug: