Sunday, 21 September 2008

Djadi Galajapo Bercinta di Hotel Kumuh


Hidup terpisah dengan istri memang tidak enak. Karena itu, begitu punya kesempatan, tak peduli di hotel kecil dan kumuh, hasrat sebagai pelampiasan rindu pun ditumpahkan. Kisah pilu tersebut mewarnai perjalanan hidup Djadi Galajapo sebelum meraih sukses dengan agenda pentas yang cukup padat seperti sekarang. Tanpa malu-malu, pria kelahiran Cerme, Gresik ini membeber habis seluruh liku-liku hidupnya dalam sebuah buku yang diberi tajuk Neraka Wail dan Kue Terang Bulan.

Buku setebal 148 halaman yang ditulis Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad ini dirilis, Jumat (12/9) lalu. “Buku ini sebagai pelengkap cita-cita saya yang ingin ada seniman lokal tapi punya gaung dan bisa dicatat sampai ke tingkat nasional,” ujar pria yang akrab disapa Djadi ini usai peluncuran bukunya.

Untuk bisa dikenal di tingkat nasional, Djadi yang sepulang menunaikan ibadah haji melengkapi namanya jadi HM Cheng Ho Djadi Galajapo ini kukuh tetap bertahan di Surabaya. “Untuk terkenal tidak harus pindah ke Jakarta. Bagaimana pun saya tetap akan mengibarkan bendera di Surabaya,” tandasnya.

Bukan berarti Djadi anti Jakarta yang diimpikan banyak orang untuk menggapai sukses. Terbukti, pria yang pernah malang melintang di sejumlah radio di Surabaya macam RRI dan RGS (Radio Gelora Surabaya) ini sempat nekad naik kereta api kelas ekonomi sekadar untuk bisa tampil di layar TVRI Pusat Jakarta.

“Tapi, untuk menetap hidup dan mengadu peruntungan sebagai artis (pelawak) di Jakarta, saya tegaskan: Tidak!” cetus Djadi sambil meyakini Tuhan tidak menurunkan rejeki berdasar tempat tinggal, tapi kesungguhan hati seseorang.

Memang tidak mudah. Berbagai terobosan dilakukan, antara lain dengan menggeber aksi melawak nonstop enam jam enam menit enam detik. Jebolan IKIP Negeri Surabaya yang lahir tanggal 8 Maret 1965 ini juga melontarkan gagasan melakukan donor darah sambil melawak. [Pra]


SURYA
Monday, 22 September 2008
piye?:

0 urun rembug: