Friday, 3 December 2010

TUKANG KOMUNIKASI YANG TIDAK KOMUNIKATIF

Dulu saya memulai belajar menulis dengan fiksi: puisi, cerita pendek. Setelah beberapa cerita pendek dan puisi berbahasa Jawa saya berhasil nampang di media cetak (majalah mingguan berbahasa Jawa) barulah saya mencoba-coba menulis esai.

Selama bertahun-tahun menjadi penulis yang tidak produktif (hanya sesekali menulis) saya tidak begitu mempersoalkan apakah tulisan saya bisa segera dimuat, mengantri sangat lama, atau lolos masuk keranjang sampah tanpa kabar.

Tetapi, sebuah cerita pendek berbahasa Jawa saya pernah menjadi masalah. Suatu hari orang-orang dekat saya: Tamsir AS (alm.), Ardhini Pangastuti dari Sanggar Triwida ketika itu, ikut mempersiapkan sebuah tabloid berbahasa Jawa yang akan terbit di Yogyakarta, pada akhir tahun 1980-an. Sya diminta menyiapkan sebuah cerpen untuk dimuat (jika layak) di dalam tabloid tersebut. Saya pun menerima undangan untuk menulis itu sebagai sebuah kehormatan dan segera saya penuhi.

Sayangnya, tabloid yang dummy-nya sudah dibuat beberapa edisi itu gagal dilanjutkan alias tidak jadi terbit. Maka, cerita pendek berbahasa Jawa saya itu pun saya kirimkan ke salah satu majalah berbahasa Jawa yang sudah pernah memuat cerita pendek saya sebelumnya. Setahun lamanya, tak ada kabar-beritanya. Maka, ketika ada lomba penulisan cerpen berbahasa Jawa, saya sertakanlah naskah cerpen saya yang mulai terlunta-lunta itu.

Hasilnya, beberapa bulan kemudian saya menerima undangan untuk menghadiri penyerahan hadiah, cerpen saya ditetapkan sebagai Juara II, pada pekan yang sama ketika ia mak bedunduk muncul atau dimuat di majalah.

Saya pun sempat diinterogasi dewan Juri ketika rangkaian acara pemberian hadiah mala itu (di Yogyakarta) sudah di mulai. Saya beberkan kisahnya, dan mereka memahaminya. Selamatlah saya.

Perkara kedua menimpa saya ketika sebuah artikel saya (kali ini sudah mulai merambah media berbahasa Indonesia) yang sudah beberapa pekan saya kirimkan ke Surabaya Post kemudian saya kirimkan pula ke Karya Darma, karena saya piker tidak lolos seleksi redaktur Surabaya Post. Ternyata, naskah yang sama muncul di dua media cetak yang sama-sama terbit di Surabaya. Surat pembaca pun muncul mengecam saya, dan saya pun mengklarifikasinya, melalui kedua koran itu.

Kejadian-kejadian puluhan tahun lalu itu sepertinya mau mendidik saya agar saya bisa menulis seperti ’ngising’ atau buang hajat saja. Tetapi, tetap saja saya tidak bisa. Malahan, semakin tidak bisa ketika, selain berkaitan dengan kekaryaan, kini menulis itu adalah pekerjaan saya. Bukan hanya uang honorarium yang saya dapat, tetapi juga kawan, sahabat, banyak di antaranya sesama penulis, dan sebagian adalah jurnalis dan redaktur.

Punya kenalan, apalagi menjadi sahabat dekat redaktur media cetak banyak untungnya. Saya bisa dengan leluasa menanyakan apakah kiriman naskah saya sudah diterima, apakah kira-kira bisa dimuat atau sebaiknya saya tarik untuk saya benahi dan segera saya kirimkan ke media lainnya. Bahkan, ketika kantong kempes dan pikiran bunel, bisa kirim SMS sekadar tanya, ’’Apa yang kira-kira bagus untuk saya tulis.’’ Sisi negatifnya, bisa jadi ada kawan lain yang menganggap kami telah ber-KKN. Padahal, pengalaman dengan redaktur kenalan terdekat saya membuktikan, berita penolakan atas naskah yang saya kirim biasanya datang terlalu cepat. Dan itulah pula untungnya.

Berita penolakan atas naskah yang dikirim adalah ’berita duka’ bagi seorang penulis. Tetapi, saya masih menyebutnya sebagai keuntungan ketika dapat menerima kabar itu dalam tempo sesingkat-singkatnya. Mengapa? Untuk naskah-naskah yang pendek masa kadaluwarsa-nya, misalnya artikel yang kita buat untuk menaggapi isu hangat di tengah masyarakat, dengan kabar penolakan yang datang cepat itu penulis punya kesempatan untuk mengirimkannya ke media lain, sebelum isunya terbenam oleh isu-isu baru.

Tampaknya tak banyak media cetak yang memiliki manajemen redaksi yang bagus untuk hal-hal seperti ini. Beberapa media lambat memberikan tanggapan, berupa berita bahwa sebuah naskah akan dimuat dan harus mengantri atau berita penolakan itu. Bahkan, ada pula yang tak memberikan tanggapan. Lebih parah lagi, penulis harus memelototi setiap edisi media yang bersangkutan hingga putus asa-nya. Atau, kalau ternyata tulisannya segera muncul, atau dimuat, ia juga harus menagih honornya dengan menghubungi bagian administrasi keuangan.

Mengapa Redaksi sebuah media cetak tidak memiliki mekanisme komunikasi yang bagus dengan para penulis? Tanya kenapa? Pekan ini saya juga menulis sebuah artikel, saya kirim ke sebuah media cetak, melalui email resmi media yang bersangkutan, dengan mengabarkan kepada beberapa orang redaktur yang saya kenal (semoga mereka juga mengenal saya) melalui SMS ke nomer HP mereka. Sudah timpal-menimpal beberapa kali SMS, tetapi yang saya dapatkan hanya pernyataan, ’’Ya Mas, nanti saya lihat.’’

Setelah itu? Mosok saya harus ngeyel menanyakan lagi? Ada rasa sungkan, justru karena seorang redaktur kenalan saya yang lain sering curhat, bahwa beberapa penulis yang sangat dikenalnya ternyata sangat hebat pula kemampuan ’ngeyel’-nya.

Halah embuh. Yang pasti saya menngkap sebuah ironi dalam hal ini, yakni media (cetak) yang keberadaannya tak bisa dipisahkan dengan urusan komunikasi (dan informasi publik) itu bisa, dalam satu hal, SANGAT TIDAK KOMUNIKATIF…![]
piye?:

0 urun rembug: