Sunday, 3 March 2013

ANAK SETAN (2)

Ini pagi berkabut. Ombak bergelegaran di laut. Sawah yang telah menguning itu pun tampak sebagai hamparan lautan tanpa tepi, sebab bukit dan gunung-gemunung pun tenggelam dalam kabut. Juga hati tiga orang manusia yang malang itu. Mereka seperti sudah tidak punya apa-apa lagi, tak punya siapa-siapa lagi. Tuhan, mungkin mereka masih merasa punya, tapi dengan kemalangan tak ada ujung yang terus menggilas, keimanan mereka pun jadi semakin gembring. Makin pipih dan begitu rentan. Di mana-mana kabut. Dan mereka merasa seolah dunia benar-benar sudah hampir dikukut, persis bersamaan dengan perasaan adanya kehadiran Tuhan dengan wajah yang seram, yang sedang murka.

”Ayah, ibu, selamat tinggal….”

”Oh, mau ke mana, kau, Nak?”

”Ke mana saja, sampai kutemukan lubang yang pas buatku.”

”Ibu akan selalu mendoakanmu, Nak!”

”Ayah juga. Jangan menangis, Nak. Air mata lelaki akan melunakkan daging dan tulang-belulangmu. Padahal, sebagai lelaki kau harus kuat lahirbatin.”

”Terima kasih, Bu! Oh, Ayah…..!”

”Jalan terus. Jangan pernah berhenti. Dan yang paling penting, lupakan bahwa kau telah mati.”

”Aku berjanji.”

Alung pun melangkah. Ia terus berjalan –kadang juga berlari dan melompat-lompat—dari desa satu ke desa lain, dari satu kota ke kota lainnya. Sering juga dia melintasi desa yang sebelumnya pernah dia singgahi. Kadang ia merasa seperti bermimpi, tetapi semuanya terlalu seru untuk sebuah mimpi. Kadang, memang, Alung benar-benar bermimpi. Bermimpi tersesat di dalam gua di tengah hutan penuh gua batu. Saat ia keluar dan sampai di mulut gua batu yang lain, ia mencicil lega. Padahal tak jarang ia kembali lagi, kembali lagi, ke dalam gua yang sama.

Banyak yang mencoba menahannya, tetapi Alung tak mau berhenti. Ia terus berjalan ketika singgah, bahkan ketika sedang bermimpi. Alung jalan terus, membawa tubuh sendiri. Membawa mayatnya sendiri. Walaupun, sebenarnya, sangat sulit baginya untuk melupakan bahwa sesungguhnya dirinya telah mati.

Disambar Mobil

Alung berjalan menyusur gelap. Diguyur hujan lebat. Dia kini ada di sebuah kota. Di kota yang sibuk. Sangat sibuk. Semua seperti berlari, dengan kesombongan sendiri-sendiri. Alung lagi tak bisa berlari, bukan karena dia telah mati. Dia cuma bisa jalan, kini. Dia sedang melenggang di jalan tergenang ketika tiba-tiba sebuah mobil menyambarnya. Mobil itu sedang melaju sangat kencang ketika tiba-tiba menyambar Alung. Anehnya, sedan merah hati itu cepat berhenti. Si pengemudi segera keluar dari mobilnya dan menghambur ke arah Alung yang sedang terkapar.

”Oh!”

”Kamu berjalan terlalu ke tengah, sih! Mau bunuh diri, ya?”

”Aku sudah mati.”

”Mari!”

Alung merasakan tangannya ditarik, dan dia mencoba bertahan.

”Cepat lari!” perintah Alung.

Pengemudi itu seorang perempuan muda. Seandainya peristiwa itu terjadi di pagi hari yang cerah, tentu Alung akan menyaksikan betapa cantik perempuan yang baru saja menyambarnya dengan sedan merah hatinya itu. Dan bisa jadi Alung akan mengikuti apa maunya, bukan menolaknya seperti itu.

”Aku tidak apa-apa,” kata Alung lagi. “Cepat lari, kalau kamu tak mau ditangkap polisi!”

”Apa katamu?”

”Oh!”

”Syukurlah, kamu masih bisa berdiri. Ayo, masuk ke mobil!”

”Ke mana?”

”Rumah sakit.”

”Kau dengarlah kataku: Aku sudah mati!”

”Oh, ayo! Cepat. Kamu gegar otak!”

Keinginan Alung untuk menentang perempuan itu pun surut seketika. Dia pasrah dan menurut. Masuk mobil, melesat ke rumah sakit terdekat. Hujan semakin lebat.

”Bagaimana, Dok?” tanya perempuan itu dengan nada cemas yang sangat kental.

”Oh, tak apa-apa. Hanya lecet saja. Sebentar lagi juga sudah boleh pulang.”

”O, ya?”

”Coba saja lihat!”

”Mobilku menyerempet dia ketika sedang melaju kencang. Betapa saktinya dia, jika memang cuma lecet saja.”

”Oh, saya pikir dia……”

”Mmm, bukan, Dok. Dia orang lain.”

”Baik, baiklah.” [bersambung]
piye?:

0 urun rembug: