Saturday, 2 February 2013

MENILAI KEMATANGAN SEORANG PENJUAL

Pengantar:
Dalam sebuah grup jual-beli hewan (tertentu) di Facebook, beberapa kali saya jumpai penjual bersitegang dengan calon pembeli gara-gara si calon pembeli mengajukan tawaran (harga) jauh di bawah banderol yang dipasang. Tetapi, tak sedikit pula penjual mereaksi jhal yang sama justru dengan kalimat yang ramah, segar, kadang juga setengah berkelakar. Itu cara yang sangat cerdas untuk menguapkan energi negatif, bukan? Pada suatu kesempatan, saya pun menulis komentar yang terlalau panjang, seperti berikut ini (sudah disunting sekadarnya).


Alangkah indahnya jika semua penjual tidak gampang tegang ketika menghadapi calon pembeli yang menawar jualannya dengan angka yang sangat jauh dari yang dipatoknya. Atau setidaknya: tidak menampakkan kemarahaan atau ketersinggungannya.

Jika kita mau sejenak berempati kepada si hewan, pada satu titik kita akan sadar bahwa derajatnya tidak ditentukan oleh seberapa mahal harga jual maupun belinya, melainkan bagaimana ia dipelihara, dirawat, dan dibinatangkan dengan baik.

Jika ada penjual gampang tersinggung dengan penawaran yang terlalu rendah, saya lalu teringat oleh cerita rakyat yang saya lupa judul dan sumber aselinya, yang secara ringkasnya begini:

Pada suatu hari Si Denun pergi ke pasar menuntun seekor kambing, hendak menjualnya. Pada saat yang sama, ada tiga orang (A, B, dan C) yang sudah berbagi tugas untuk mengerjai Denun.

Belum jauh dari rumah, Denun yang menuntun kambingnya itu dicegat A, yang serta-merta menyemprotkan kalimat ini begitu Denun sudah sangat dekat dengannya, ”Anjing siapa ini, Nun, setahuku selama ini kamu tidak memelihara anjing!”
--Catatan: bahwa sekarang bisa ada seekor anjing yang harganya berlipat-ganda dibandingkan seekor kambing, itu soal lain. Tampaknya ketika cerita aslinya dibuat, harga kambing jauh lebih mahal daripada anjing.

”Emang kamu sudah katarak, ya? Ini kambing, bukan anjing!” Denun balik menyemprot.


”Kamulah yang katarak! Coba, sebentar lagi kan menggonggong. Kalau tidak percaya….. biar saya pukulnya, ya?”

”Ayo, coba saja!” Denun menerima tantangan si A.

Maka, A memukul kambing yang tampak terbengong-bengong itu dengan pentungan yang sudah disiapkannya. Kaming itu pun terkejut dan mengembik.

”Nah, menggonggong, kan?”

”Itu tadi mengembik, bukan menggonggong. Telingamu tidak beres, kali!”

”Menggonggong!”

”Mengembik!”

”Menggonggong!”

Sadar bahwa pasar masih jauh dan keburu bubar ketika ia datang, Denun nyelonong saja meninggalkan A yang juga sudah tampak tak bersemangat lagimenggodanya. Lebih tepatnya: mengerjainya.

Tetapi, tak lama kemudian Denun harus berhadapan dengan B, yang lagi-lagi dengan penuh percaya diri menyebut binatang yang dituntunnya sebagai: anjing. Pikirannya pun mulai goyah. Tetapi ia masih bertahan, setelah melalui perdebatan yang cukup sengit pula seperti dengan si A tadi.

Giliran terakhir, dicegat C, pikiran Denun benar-benar ambruk. Dia khawatir dan menyangsikan kewarasannya seperti dikatakan C, ”Duh, kasihan kamu nanti kalau orang sepasar raya menertawakanmu dan menganggap kamu sebagai sudah tidak waras lagi.”

Maka, Denun menyerahkan kambingnya ke C dengan harga seekor anjing. Artinya, sangat murah!

Demikianlah Saudara! Terima kasih.
piye?:

0 urun rembug: