Saturday, 29 December 2007

Pameran Foto TKI-HK Keliling Jawa Timur

Setelah sukses menyelenggarakan Festival Sastra Buruh [Blitar, 30 April – 1 Mei 2007], Bonari Nabonenar dan kawan-kawan menggagas sebuah acara berantai bertajuk Pameran Foto TKI-HK. Melalui email yang diterima BI, Bonari berharap dapat dukungan dari para TKI-HK untuk mengirimkan foto-foto yang layak pamer, baik foto-foto saat berada di penampungan [Indonesia], saat berangkat, saat bekerja di HK, saat berlibur, dan berbagai foto menarik lainnya.
’’Ini bukan pameran fotografer, melainkan benar-benar pameran foto,’’ demikian tegas Bonari saat dihubungi melalui telepon.
Untuk apa sih, pameran foto ini? Menurut Bonari, pameran ini terutama dipersembahkan kepada para keluarga TKI-HK, para tetangga mereka, juga para calon tenaga kerja yang sedang menimbang-nimbang untuk memilih negara mana hendak dituju. Diharapkan, pameran foto ini nantinya bisa mengurangi shock culture [gegar budaya] bagi kawan-kawan yang baru menginjakkan kaki di Hong Kong.
’’Kalau kita bisa membantu memberi gambaran bagaimana keadaan di Hong Kong, baik gambaran geografis maupun gambaran kulturalnya: wilayahnya, jalan-jalannya, angkutan umumnya, gedung-dedung penyakar langitnya, taman-taman yang biasa jadi jujugan para TKI di hari libur, dan lain-lainnya, kita berharap keterkejutan itu bisa dikurangi. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya stress akibat gegar budaya juga bisa diredam,’’ demikian tutur Bonari.
Siapa yang menanggung biayanya? Masih menurut Bonari, asal ada kemauan untuk sedikit berkeringat, pastilah gagasan ini bisa terlaksana. ’’Syukur-syukur ada sponsor yang bisa membantu dalam hal pendanaan. Jika pun tidak, kami sudah siapkan fotonya, tinggal menambah saja sumbangan teman-teman yang bisa dikirimkan ke email: kenang_lanang@yahoo.com. Itu soal materi. Untuk fasilitas tempat, kami juga sudah menjajagi kerjasama, misalnya dengan Radar Banyuwangi [Grup Jawa Pos], dengan Dewan Kesenian Ponorogo, dan dengan kawan-kawan di Trenggalek. Mereka siap mendukung. Bahkan Trenggalek sudah mematok waktu akhir Agustus sekalian memerigati hari jadi Trenggalek, Ponorogo mematok waktu Oktober berkaitan dengan tema yang dipilih: Nasionalisme TKI.’’ Lalu ditambahkannya, ’’Tinggal persoalan transportasi, kan? Nah. Saya kira, itu tidak akan terlalu memberatkan selama kita bisa bekerjasama dengan banyak pihak,’’ pungkas Bonari. [--]


Email: bonarine@yahoo.com
piye?:

0 urun rembug: