Sunday, 30 December 2007

IPUNK


HINGGA kini saya tak tahu apakah nama populer yang disandangnya itu adalah nama aslinya juga. Ia seorang perempuan yang tampaknya gemar tampil tomboi. Ketika saya datang ke HK tahun 2005, seingat saya, ia bergabung dalam sebuah grup band bentukan para TKI-HK, yang, entah karena apa, kabarnya grup band itu kini telah bubar. Ia hampir selalu saya jumpai di mana pun ada kegiatan TKI, apakah diskusi, workshop penulisan, dan lain-lain. Ia seorang aktivis dalam arti yang sebenar-benarnya. Masih sangat muda dan selalu tampak enerjik. Ialah Ipunk.

Hari itu, 19 Juni 2007, siang sudah menggelincir menuju sore, tetapi panas masih menyengat kawasan Taman Victori. Setelah bersama Mbak Santi, Mas Afandi, Mbak Mega, Lala, dan Mbak Tri menonton Festival Perahu Naga di Discovery Bay, kami sepakat ngumpul-ngumpul dan ngobrol bareng di Taman Victori. Ternyata Mbak Mia (Sumiati) Ketua KOTKIHO yang baru mendarat dari Filipina, Etik Juwita, Wina Karnie, dan beberapa nama lain segera bergabung. Obrolan berlangsung gayeng, dari soal perburuhan hingga soal kesenian. Paparan Mbak Mia mengenai kebijakan Pemerintah RI dalam hal perburuhan, dari soal potong gaji oleh agen hingga upaya perlindungan terhadap para buruh tentulah paling menyentuh persoalan-persoalan TKI-HK.

Mbak Santi dan Mas Afandi bicara seputar kesenian, dalam hal ini seni menulis sebagai sebentuk alat perjuangan, perjuangan hidup dan tentu saja khususon-nya sebagai sarana perjuangan kaum buruh. Begitu pula Mbak Mega, paparannya tak jauh-jauh dari wilayah penulisan kreatif. Yang mengejutkan saya, seseorang yang pada awalnya tidak saya duga akan jadi semacam narasumber dalam obrolan (diskusi tidak resmi) itu didaulat berbicara oleh pemrakarsa diskusi –Mbak Mega yang menyebarkan undangan melalui SMS berantai— dan dengan bicaranya yang lugas dan kalem menyentak batin saya. Semacam narasumber ini ialah Ipunk.

Ipunk tidak bicara soal teori. Tidak pula bicara soal kebijakan Pemerintah RI. Ia secara lugas menuturkan pengalaman kreatifnya, bagaimana ia mulai belajar menulis, termasuk menulis puisi, berkali-kali ditolak redaksi, hingga kemudian satu demi satu karyanya bermunculan di media cetak, baik yang beredar di HK maupun di Indonesia. Tidak berhenti di sini tuturan Ipunk. Ia yang mengaku ingin membuka mata publik bahwa tomboi itu tidak harus selalu identik dengan hal-hal negatif, mengajak pula teman-temannya yang juga suka tampil tomboi untuk berkreasi. Khususnya menulis puisi. Lalu, dikoleksilah puisi teman-temannya itu, dan diam-diam dikirimkan ke berbagai media yang telah memuat karyanya.

’’Saya akui, banyak teman-teman tomboi yang tadinya sukanya mendem (mabuk) kalau ada waktu luang. Kalau hari libur. Saya sangat prihatin melihat keadaan mereka. Apakah tidak ada hal positif yang bisa dilakukan?’’ tutur Ipunk.

’’Maka, katika satu dua karya mereka ada yang mulai muncul di media cetak,’’ kata Ipunk lagi, ’’dan saya tunjukkan itu kepada yang bersangkutan, reaksi pertama mereka adalah menangis. Seolah mereka tidak percaya bahwa ternyata mereka punya potensi positif yang bisa dikembangkan, yang lebih mengasyikkan daripada hanya sekadar mabuk-mabukan.

’’Dan alhamdulillah, banyak di antara mereka yang sekarang sudah tidak lagi suka mabuk,’’ imbuh Ipunk.

Ipunk adalah Ipunk, yang tidak tampil sebagai sosok psikolog, psikiater, atau bahkan ustadzah. Ia tampil sebagai seorang perempuan yang bahkan lebih suka bergaya tomboi. Tetapi, ia telah menunjukkan hasil yang nyata dari sebuah proyek yang bila kita beri label pastilah akan berbunyi pula sebagai ’’Pembinaan Mental Spiritual bagi TKI-HK.’’

Mungkin, dan kita berharap, ada banyak Ipunk lain dan akan bertambah dan terus bertambah jumlahnya, di HK, pun di Indonesia. Sebaiknya pula media yang ada di sekitar kita memberi dukungan untuk sosok-sosok semacam Ipunk ini. Tentu akan jauh lebih baik lagi jika ada sistem yang baik untuk memberikan dukungan itu. Di konteks HK, bahkan di Indonesia yang kita cintai dengan sepenuh rasa cemburu, kita belum melihat sistem itu. Kalau pun ada, biasanya masih merupakan kepanjangan dari tangan-tangan dunia di berbagai lembaga swadaya masyarakat. Misalnya berupa program bimbingan, pelatihan (peningkatan SDM), hingga kesempatan untuk mendapatkan beasiswa.

Dimikianlah, jika kita benar-benar peduli, kita mesti menyintai orang-orang yang mau peduli.[]

Sumber: Berita Indonesia
piye?:

0 urun rembug: