Wednesday, 23 January 2008

Catatan Atas Cerpen-cerpen Peserta Lomba Cipta Cerpen untuk Siswa SMP Se-Jatim 2007

[1]

Tradisi Wiwit dan Nyadran, Legenda Sumur Pandan, Klunthung Waluh, Asal-usul Kunang-kunang, Obor Kiai Mahesa, Belik Kuning, Malam Kehancuran Ki Buwono Keling, Namaku Surapati, adalah judul-judul yang langsung mengesankan bahwa isinya adalah dongeng atau cerita berlatar sejarah. Apalagi jika kemudian diawali dengan kalimat, ’’ Pada zaman dahulu kala…. /Di sebuah desa terpencil hiduplah sepasang suami istri…’’


Apakah dongeng atau cerita berlatar sejarah tidak bisa disebut cerpen? Yang pasti itu semua adalah ’cerita’ juga. Apakah cerita ’panjang’ atau ’pendek’, pasti harus kita lihat dahulu, seberapa ’panjang’ atau seberapa ’pendek’, dua buah kata yang masing-masing bersifat relatif. Yang harus dicatat adalah, jika penggarapannya tak jauh berbeda dengan cerita yang sudah beredar, pastilah susah untuk memberikan nilai/angka kreativitas bagi penulisnya, padahal itulah biasanya aspek yang paling diunggulkan.

Sebenarnya kita bisa memperoleh contoh-contoh cerita (dalam hal ini cerita panjang atau novel) yang memakai bahan dasar cerita berlatar belakang sejarah dan judulnya pun langsung menunjukkan ke arah itu, tetapi karena digarap dengan semangat dan teknik yang segar dan baru, ia menjadi cerita yang menarik. Kita bisa membaca Arok Dedes, Panggil Aku Kartini, Mangir, dan kita akan merasakan bahwa Pramudya Ananta Tour (penulis cerita-cerita tersebut) tidak sekadar mendongeng, walaupun pada akhirnya cerita-cerita seperti itu hanya mendapatkan nilai hampir sempurna di aspek inovasi dan tetap rendah kadar kreasinya.

[2]

Banyak pula peserta Lomba Cipta Cerpen untuk Siswa SMP Se-Jatim yang membuat judul (dan kemudian isinya pun) lebih tepat dimasukkan ke dalam karya jurnalistik (feature), seperti: Dua Hari di Pesarean Gunung Kawi, Kota Batu, Batu Kota Wisata.

[3]

Judul, lalu kalimat pertama dalam sebuah cerita menjadi penentu apakah pembaca akan melanjutkan membaca ataukah berhenti sampai di situ karena tidak menarik. Jadi, terutama untuk kalimat-kaliwat awal, seorang penulis harus membuat kalimat yang sangat menarik.

Coba simak kalimat-kalimat awal pada cerpen Arti Sebuah Cinta Pertama yang ditulis Titik Selistiya Ningsih (SMPN 1 Karanggeneng, Lamongan) ini:

Saat aku tidur malam ini. Aku mendengar suara tapi samar-samar. Suara itu kelihatannya suara wanita tua, tetapi aku nggak mendengarkannya suara itu datang. Aku tetap tidur tenang dan menghilangkan rasa ketakutan itu. Semakin aku takut, suara itu pun semakin terdengar keras. Aku segera terbangun….


[4]

Ending yang terlalu jelas dan kurang mengesankan:

Seperti itulah akhir dari perjalanan taubat Dinda untuk menjadi muslim sejati. Selain itu kini cinta di antara Imran dan Dinda mulai bersemi dan dua bulan kemudian Dinda dan Imran menikah. Mereka pun hidup bahagia selamanya.

Kalimat terakhir itu terasa sebagai ringkasan atas sebuah roman yang sangat panjang, bukan?

[5]

Pada umumnya cerpen-cerpen peserta lomba ini berlebihan dalam hal lanturan. Banyak yang terlalu melantur, seolah-olah penulisnya terlalu bernafsu untuk memenuhi target ukuran cerita secara fisik, misalnya untuk mencapai sekian ribu karakter. Akibatnya, cerita menjadi tidak utuh. Banyak paragraf yang terkesan ditempelkan. Lalu, jika paragraf-paragraf tempelan itu kita hilangkan, bukan saja tidak mengurangi, melainkan justru menambah keutuhan cerita.

Cerpen berjudul Bencana Lumpur Panas Lapindo, misalnya, nyaris separoh bagian awalnya bisa kita buang. Banyak pula cerpen yang boros dialog. Kalimat-kalimat dialog yang seharusnya memperkuat dan lebih menghidupkan cerita pada akhirnya justru merusak. Percakapan tawar-menawar ketika seorang tokoh membeli barang di toko atau di pasar barulah diperlukan, misalnya, untuk memberikan kesan bahwa si tokoh itu sangatlah pelit.

Ironisnya, para peserta pada umumnya justru terlalu senang menghambur-hamburkan kata sifat, bahwa seorang tokoh sangat cerdas, sangat setia, sangat cantik. Hal yang akan lebih baik seandainya dideskripsikan justru hanya dikemukakan kesimpulannya. []
piye?:

0 urun rembug: