Wednesday, 23 January 2008

Catatan atas Karya Esai Peserta Lomba di HK

Andai Mereka Mau Sedikit Bersabar

[catatan kecil atas karya-karya nominator lomba penulisan esai bagi TKI-HK 2007, yang diselenggarakan tabloid apakabar indonesia]

Tiba-tiba, dalam tempo sesingkat-singkatnya, saya harus menilai 12 tulisan, konon adalah tulisan-tulisan opini, yang kemudian saya dapati sebagai, sebagian besar, tulisan-tulisan persuasi. Secara teori, sebetulnya saya sendiri telah lupa-lupa-ingat: menurut Dr Gorrys Keraf, berdasarkan bentuknya, tulisan itu dikelompokkan ke dalam: narasi, deskripsi, paparan/eksposisi, persuasi, dan argumentasi. Nah, yang disebut sebagai opini tak lain adalah tulisan yang dibangun berdasarkan argumentasi.


Pengalaman kemudian menunjukkan bahwa pemilahan yang tegas seperti itu hanya terjadi di dalam teori. Pada praktiknya mereka akan salingmelengkapi. Kita lalu menyebut sebuah tulisan sebagai sebuah deskripsi, misalnya, dengan pertimbangan kadar penggambaran/deskripsinya lebih dominan.

Saya melihat kira-kira 90% dari tulisan-tulisan yang saya hadapi ini adalah persuasi. Hampir tidak ada tulisan yang didukung dengan angka atau data statistik dengan menyebutkan sumber yang jelas. Kalau pun angka BMI-HK disebut 120.000 atau 110.00 (baik dengan/tanpa embel-embel kata: sekitar/lebih-kurang), tidak disebutkan dari mana angka itu diperoleh, atau kalau ia merupakan hasil survei kapan diadakan dan siapa penyelenggaranya pun tidak disebutkan. Kalau tak salah ada satu data yang dikemukakan secara hampir betul, kira-kira begini, ’’Menurut survei yang diselenggarakan sebuah media cetak berbahasa Indonesia di HK…. bla-bla-bla…..’’ Demi kekuatan argumentasi, nama media itu seharusnya disebutkan, dan kapan survei itu dilakukan, sebab ini menyangkut data yang terus berubah setiap saat.

Kesan umum lagi dari keduabelas tulisan yang saya hadapi adalah: kuatnya nada menggurui, dan bahkan ada yang persis tulisan how-to, yakni tulisan menenai tips-tips atau petunjuk-petunjuk mengenai bagaimana sesuatu hal mesti dihadapi/dikerjakan.

Jika saya menyebut angka 90% tentu ada sisanya yang 10% itu. Masuk pertama kali ke dalamnya ialah tulisan berjudul MASA DEPAN ITU BERADA DI TANGAN NAKERWAN SENDIRI. Tulisan tersebut tidak hanya terhindar dari kesan menggurui atau terlalu kuat warna persuasinya –walaupun argumentasi-argumentasinya juga tidak dibangun berdasarkan referensi yang sokeh—melainkan juga telah menunjukkan kesegaran kalimat-kalimatnya. Kesegaran kalimat-kalimat itu pastilah muncul dari pikiran yang tidak stereotip, tidak koden, bahkan kadang sangat mengejutkan. Untuk tulisan opini yang sempurna contoh-contoh mengenai sistem penyimpanan maupun pengutangan di bank-bank nasional yang buka cabang di Hong Kong mestinya dipaparkan secara gamblang. Juga, mengenai beberapa usaha yang dikelola secara patungan oleh para TKI-HK itu.

Juga, ketika di dalam tulisan berjudul NAKERWAN DAN MASA DEPAN yang juga saya nilai tergolong nyaris sempurna dibandingkan kebanyakan tulisan-tulisan lainnya, seharusnya disebutkan angka-angka sebagai contoh ketika mengatakan bahwa pemotongan gaji TKI/BMI oleh agen disebut sangat besar.

Tulisan berjudul Jembatan Emas Nakerwan sangat bagus sampai di bagian tengahnya. Setelah itu hingga akhir terasa kedodoran, karena sesungguhnya konstruksinya akan sangat bagus jika dibalik. Pasalnya, tulisan ini menyorongkan simpulan-simpulan di paroh pertamanya, dan baru membeber data-data di paroh kedua. Itu pun sudah tidak fokus, mengesankan seolah penulisnya adalah seorang sprinter (pelari sepesialis jarak 100 m yang kemudian kita paksa untuk berpacu di lintasan sepanjang 400 m).

Sampailah kini kita pada hal-hal yang barangkalai dipandang sepele, tetapi sesungguhnya adalah fondasi penting bagi ketrampilan menulis, yakni tentang ejaan. Banyak penulis belum membedakan tatacara penulisan ’di-’ sebagai awalan dengan ’di’ sebagai kata depan. Saya juga hampir selalu mendapati kata: ’merubah’ dan ’memanajemen’. Selama ini kita sepakat bahwa bentuk yang benar adalah ’mengubah’ dan ’mengelola.’ Mau pakai ’memanaj’ rasanya tidak enak karena hanya kata ’bajaj’ saja yang sudah lumrah berakhiran dengan huruf ’j’. Atau, kadang orang menggunakan bentuk perkawinan antara awalan me dengan bentuk dasar manage (dimiringkan karena dengan tulisan seperti itu berarti masih dianggap istilah asing) sehingga jadi: me-manage.

Berhati-hatilah pula dengan istilah ’’di atas’’ seperti dalam kalimat ini, ’’Menjawab pertanyaan di atas,….’’ Bayangkan, jika tulisan itu sepenuhnya lalu dicetak dan kalimat itu berada di baris pertama (paling atas di lembaran kertas) bukankah kemudian akan terasa tidak logis, sebab yang semula dimaksudkan dengan istilah ’’di atas’’ itu kini telah berada ’’di belakang’’ atau ’’di balik.’’

Saya juga melihat bahwa tulisan-tulisan ini dibuat dengan tergesa-gesa. Andai mereka mau sedikit bersabar, menyempatkan ke warnet untuk melengkapi data/referensi untuk memperkuat argumentasi-argumentasi mereka, pastilah kita akan mendapatkan hasil yang berbeda.[]
piye?:

0 urun rembug: