Thursday, 24 January 2008

Bledheg Sigar dan Potensi Jebakan-nya

Saya tidak pernah menyaksikan langsung, apalagi menjadi ’pendamping’ penampilan kelompok Bledheg Sigar (BS) di sekolah-sekolah seperti: Arief Santosa, Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A, Sabrot D Malioboro, Widodo Basuki. Saya hanya mengikuti perjalanan ’’gerakan memasyarakatkan sastra’’ ke sekolah-sekolah di Surabaya yang dilakukan oleh Jaenuri dan kawan-kawan itu melalui pemberitaan di koran-koran. Belakangan, kegiatan yang dinilai positif oleh banyak kalangan itu diberitakan surut gara-gara proposal yang mereka ajukan tidak disetujui oleh pihak yang diharapkan dapat memberikan bantuan dana. Bahkan, kemudian dilarang tampil di muka kelas oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya (Jawa Pos, Rabu, 16 November 2005).

’’DRAMA’’ pelarangan itu sendiri bisa dikembangkan menjadi diskusi –kalau tidak boleh disebut sebagai polemik—yang menarik, tak kalah menariknya dengan pementasan BS itu sendiri. Bagian konfliknya pun menajam ketika Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya bersikukuh pada aturan seputar standar kelayakan mengajar. Aturan memang sebaiknya dipatuhi. Tetapi, bagaimana halnya dengan fakta bahwa guru mata pelajaran bahasa Indonesia --yang juga punya beban mengajarkan sastra-- justru banyak yang kurang melek sastra? Pun, bukankah jadi lucu jika sekolah menerima/mengundang ke sekolah para penulis/sastrawan/seniman yang diragukan kapabelitasnya? Di pihak lain, BS pun bersikukuh untuk dapat tampil di muka kelas, seolah lupa bahwa pada Zaman Ki Hajar Dewantoro, belajar di bawah pohon asam pun jadi. Tentang kesulitan teknis ketika harus berhadapan dengan siswa dalam jumlah yang terlalu besar, seperti dituturkan Bu Liana dari SMP YPPI 3 itu memang benar, saya bersama Lan Fang telah mengalaminya. Tetapi, menurut saya, kelas bukanlah satu-satunya pilihan terbaik. Bisa jadi kegiatan seperti dilakukan BS akan terasa lebih segar bila dilakukan di luar kelas, misalnya di taman, atau bahkan di serambi kantin.

Di luar itu, sebenarnya ada hal yang lebih esensial, yang hendaknya selalu disadari dalam setiap upaya pembinaan atau peningkatan apresiasi dan kreasi sastra di sekolah, yakni bahwa pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah mesti diarahkan pada tercapainya tujuan: meningkatkan kemamuan berbahasa: (1) mendengar, (2) berbicara, (3) membaca, dan (4) menulis (urutan dari kemampuan yang derajatnya paling rendah). Dengan pelajaran sastra, diharapkan siswa tumbuh menjadi individu-individu yang gemar membaca dan kemudian trampil mengungkapkan gagasan serta mengekspresikan dirinya dengan tulisan.

Benar bahwa sekolah tidak perlu dibebani tugas mencetak para calon pengarang/sastrawan. Tetapi, di pundak para guru bahasa terpanggul tugas membawa bangsa (Indonesia) yang selama ini lebih dikenal sebagai bangsa yang hanya ’’mendengar’’ dan ’’berbicara’’ menuju bangsa yang ’’membaca’’ dan ’’menulis’’. Kata pengarang Suparto Brata, orang memang bisa menanam jagung atau padi (bertani) dengan baik hanya dengan melihat orang lain melakukannya dan mendengarkan petunjuk, misalnya melalui siaran radio, sedangkan untuk dapat membuat radio, orang harus membaca.

Jika saya tidak salah, BS adalah pertunjukan, misalnya musikalisasi puisi dan/atau dramatisasi cerpen. Maka, jika hasilnya adalah siswa terkagum-kagum dengan pertunjukan itu, sebagai pembelajaran sastra BS boleh dibilang gagal. Ia bisa kita nilai lebih sebagai pelajaran musik atau teater. Bukan berarti BS tidak baik. Ia sangat ampuh untuk menarik perhatian siswa agar dapat dengan mudah digiring ke rak buku (baca: gemar membaca), dan kemudian gemar menulis. Jika program lanjutannya itu dilupakan, BS akan berhenti di titik yang salah. Dan itulah yang saya sebut sebagai potensi jebakan. Mudah-mudahan hal itu disadari oleh Jaenuri dan kawan-kawan, dan oleh karenanya mereka selalu mengajak penulis, sastrawan, atau pun jurnalis dalam setiap pagelarannya. Dan oleh karena itu pula, BS tidak selayaknya memaksakan program masuk sekolah-nya itu sebagai program reguler, karena ia justru akan lebih efektif sebagai pancingan. []

Kayaknya ini pernah dimuat Jawa Pos [Metropolis]
piye?:

0 urun rembug: