Monday, 28 January 2008

Kongres III Bahasa Jawa (Yogyakarta, Juli 2001): Menggiring Bahasa Jawa ke Museum?

Jika tidak ada aral melintang, Kongres Bahasa Jawa III akan diselenggarakan di Jogyakarta pada bulan Juli 2001. Tentu saja, seperti kongres-kongres sebelumnya, Kongres III itu nanti diselenggarakan dalam rangka upaya melestarikan dan mengembangkan bahasa Jawa. Tetapi, jika formatnya tidak berbeda dengan kongres-kongres sebelumnya yang hanya menghasilkan keputusan-keputusan yang baik itu, dari kongres III ini pun hampir tak ada yang bisa diharapkan. Wah!

Masih Hidup

Apa yang akan dilakukan pengarang/penyair sastra Jawa (selanjutanya yang dimaksudkan adalah sastra Jawa modern) jika sudah tidak ada lagi orang memakai bahasa Jawa, jika media berbahasa Jawa tidak lagi diterbitkan?

Lupakan dulu pertanyaan itu. Setidak-tidaknya kini masih ada 4 media berbahasa Jawa: Djaka Lodang, Jaya Baya, Mekar Sari, dan Panjebar Semangat, yang masing-masing terbit mingguan, kecuali Mekar Sari yang belakangan ini hanya jadi sisipan koran Kedaulatan Rakyat.

Penutur bahasa Jawa atau masyarakat yang masih memakai bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian, masih sangat besar jumlahnya. Pengarang/penyair Jawa juga lumayan banyak. Bahkan “walaupun agak seret”, pengarang-pengarang muda masih terus bermunculan, walaupun di sisi lain ada juga yang berhenti, mampet, atau berganti media bahasa Indonesia. Jadi, bahasa, dan juga sastara Jawa sekarang ini masih hidup. Tetapi harus diakui bahwa sastra Jawa kini memang terasa kurang greget. Sanggar-sanggar sastra Jawa yang begitu suburnya di tahun 70-an dan makin marak di awal tahun 80-an, kini bertumbangan.

Kongres dan Beberapa Catatan

Sudah 2 kali dilaksanakan kongres bahasa Jawa. Pada bulan Juli tahun 2001 kongres ke-3 bahasa Jawa akan dilaksanakan di Yogyakarta. Seperti yang sudah-sudah, tentu kongres itu akan menyedot dana yang sangat besar. Tetapi, sudah terbukti bahwa kongres-kongres itu boleh dibilang “tak menghasilkan apa-apa” untuk bahasa Jawa sendiri. Jangan-jangan biaya ratusan juta rupiah, bisa jadi bahkan milyaran itu, hanya dihamburkan untuk menggiring bahasa, dan lebih-lebih sastra Jawa, ke dalam museum!

Ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan, mengapa Kongres Bahasa Jawa yang sudah dilakukan 2 kali itu seperti tidak menghasilkan apa-apa untuk bahasa, dan lebih-lebih untuk sastra Jawa.

Pertama, semangat nostalgia para peserta kongres terasa terlalu kuat. Pembicaraan di dalam kongres terlalu tersedot ke bahasa/sastra Jawa klasik. Akibatnya, yang kemudian muncul adalah keluh-kesah dan ratap-tangis, menyesali bahasa Jawa sekarang yang dianggap sudah rusak, sudah tidak populer, tergusur dari bangku sekolah, dan lain-lain.

Situasinya jadi bertambah buruk karena mereka juga tidak menawarkan solusi yang realistis. Mereka berbicara terlalu idealis, sehingga solusi yang mereka tawarkan juga terlalu idealis, dan bahkan, mungkin, terlalu utopis. Sebutlah contoh, menambah jumlah jam pelajaran bahasa Jawa di sekolah dan menjadikannya pelajaran yang berwibawa alias menentukan kelulusan seorang siswa, pemerintah membiayai sanggar-sanggar sastra Jawa, menggalakkan penerbitan buku bacaan berbahasa Jawa, dan semacamnya. Sangat idealis, bukan?

Kedua, ada kesan bahwa kongres terlalu didominasi oleh pemakalah dari kalangan linguis. Akibatnya, pembicaraan jadi cenderung teoritis, seperti hanya menjadikan kongres sebagai forum untuk membacakan hasil penelitian. Sangat beralasan, memang, jika persoalan-persoalan kebahasaan mendapatkan porsi lebih. Namanya juga Kongres Bahasa Jawa! Tetapi, jangan-jangan, sebagian besar data-data yang terkumpul dari penelitian itu sebaiknya cukup disimpan saja di dalam museum. Toh, kamus besar bahasa Jawa dan Tatabahasa Baku Bahasa Jawa, misalnya, dapat diterbitkan dan sudah bisa beredar di arena Kongres I Bahasa Jawa (Semarang, 1991).

Setelah media berbahasa Jawa, sastra Jawa adalah pilar yang tak boleh dianggap sepele dalam upaya pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa. Bagaimana kita meyakinkan orang Jawa untuk merasa perlu membaca media berbahasa Jawa, dan pada gilirannya juga merasa perlu membaca karya sastra Jawa? Itulah persoalan besar yang mesti dijawab oleh Kongres Bahasa Jawa. Masih ada satu lagi sebenarnya, yang tergolong sangat mewah, yakni meyakinkan para pengarang dan calon pengarang asal Jawa bahwa mereka perlu menulis, atau, juga menulis, dengan bahasa Jawa.

Ketiga, karena Kongres Bahasa Jawa harus menjawab persoalan-persoalan berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa, rasanya pemakalah asing juga tidak terlalu penting, kecuali dari Suriname. Soalnya pakar dari Suriname akan menjadi teman bicara yang sangat pas karena juga berasal dari masyarakat Jawa (Jawa Suriname). Para pemakalah asing lainnya, yang biasanya dari kalangan akademisi, seperti dari Jepang, Belanda, Australia, Malaysia, India, rasanya lebih pas dihadirkan pada forum-forum yang lebih bernuansa ilmiah.

Jika mereka mau hadir juga, dengan biaya sendiri, tentu harus disambut dengan baik. Secara berkelakar barangkali boleh dikatakan bahwa daripada untuk membayar dan membiayai para pemakalah asing itu, lebih baik digunakan untuk mengundang para pengarang sastra Jawa yang tidak terkenal. Para pengarang sastra Jawa yang sudah terkenal seperti Esmiet, Suparto Brata, dan Djayus Pete, sudah tentu diundang, bukan? Tetapi, Es Danar Pangeran, Budi Palopo, Sumono Sandyasmoro, sebenarnya juga berhak “menikmati” Kongres Bahasa Jawa. Sesekali mereka itu perlu ditidurkan di hotel berbintang, agar tidak hanya dapat bercerita tentang sawah dan ladang jagung. Dan akhirnya, agar sastra Jawa tidak dipandang sebagai sastra ndesit, alias sastra kelas kampung.

Keempat, terlalu royal. Sebaiknya Kongres Bahasa Jawa tidak terlalu royal. Lebih-lebih di zaman krisis seperti sekarang ini. Orang Jawa juga harus memiliki sense of krisis, dan karenanya Kongres Bahasa Jawa tidak perlu dilaksanakan di hotel berbintang 5 atau 4. Bahkan, tidak usah di hotel berbintang. Membiayai pemakalah asing seperti disebutkan tadi termasuk juga dalam kategori kemewahaan. Itu tidak perlu. Karenanya, jika sudah ada dana 700 juta rupiah, misalnya, pakailah yang 200 juta saja. Gunakanlah sebagian untuk fakir-miskin, untuk para korban bencana alam, maupun untuk korban bencana politik. Dan jangan lupa, sisakan pula 100, atau, syukur-syukur 200 juta rupiah, untuk menyelenggarakan hadiah tahunan untuk sastra Jawa.

Hadiah Sastra

Kongres Bahasa Jawa hendaknya dilaksanakan secara sederhana. Baik dalam hal biaya maupun tema. Soalnya, persoalan-persoalan bahasa Jawa pada dasarnya juga sangat sederhana. Ibarat manusia, masih harus sibuk dengan persoalan lapar dan dahaga. Sibuk urusan perut! Karenanya, jangan berbicara ndakik-ndakik atau muluk-muluk. Bicaralah yang simpel-simpel saja, yang langsung menyentuh persoalan mendasar bahasa Jawa.

Urusan perut bahasa Jawa itu, antara lain adalah sangat lemahnya tradisi kritik dalam sastra Jawa. Kesusastraan tanpa kritik, tentu tidak sehat. Dan sastra Jawa sekarang ini, memang tidak, atau, sekurang-kurangnya kurang sehat. Karena itu banyak yang kagum ketika beberapa waktu lalu Widodo Basuki dan Djayus Pete --masing-masing penyair dan cerpenis Jawa-- membacakan puisi dan cerpen mereka di TMII. Kekaguman itu timbul karena dalam sastra Jawa yang kurang sehat itu masih bisa lahir puisi-puisi Widodo Basuki dan cerpen-cerpen Djayus Pete yang secara kualitas bisa disejajarkan dengan puisi-puisi dan cerpen-cerpen berkualitas dalam sastra Indonesia.

Pemberian hadiah kepada pengarang berprestasi --yang boleh dianggap sebagai salah satu ujud kritik-- juga berjalan tersendat-sendat. Memang ada hadiah Rancage yang diberikan tiap tahun. Itu saja merupakan “belas kasihan” Sastra Sunda, mungkin, dalam hal ini adalah Ajip Rosyidi sebagai penanggung jawab utamanya. Ya, syukur-syukur masih ada Rancage, yang setiap tahun memberikan kesempatan kepada dua orang dari sastra Jawa untuk menerimanya. Tetapi, idealnya tentu, setiap tahun, ada penyair, cerpenis, novelis, dan kritikus, sastra Jawa yang menerima hadiah. Seharusnya sastra Jawa memiliki tradisi penghargaan atau penganugerahan hadiah-nya sendiri.

Akan lebih baik lagi jika, dan bahkan seharusnya, ada pula tradisi pemberian hadiah untuk karya jurnalistik berbahasa Jawa. Semacam Pulitzer-nya wong Jawa, begitulah! Percayalah, ini bukan sekadar impian, jika orang Jawa punya niat. Buktinya, dana bisa dihimpun untuk Kongres I dan II yang tergolong sangat mewah itu.

Persoalannya kembali kepada orang Jawa sendiri. Mau yang lebih berorientasi kepada asas manfaat ataukah hanya mau bergagah-gagah, menghambur-hamburkan dana miliaran rupiah untuk menggiring bahasa dan sastra Jawa ke dalam museum!*

* dmuat Jawa Pos, Minggu, 26 November 2000
piye?:

0 urun rembug: