Wednesday, 23 January 2008

Terminal Bus Kudus: Tak Seindah Slogannya



Banjir sudah usai, walau musim hujan tahun ini masih belum berlalu. Saya berkesempatan melihat jejak banjir di Terminal Bus Kudus, Jawa Tengah [21 Januari 2008] seusai mengikuti Seminar [dalam rangkaian kongres] Sastra Indonesia [KSI] yang didanai PT Djarum. Hari sangat cerah, bahkan panas sebegitu menyengat ketika matahari nyaris persis di atas ubun-ubun.

Genangan air masih tampak di sebagian halaman terminal. Bahkan sisa lumpur yang sudah mengering jadi debu masih sangat jelas, bahkan di bangku-bangku peron. Oh, bangku-bangku itu? Melihat bangku-bangku peron di Terminal Bus Kabupaten Kudus, kala itu, saya tak hanya melihat jejak banjir. Tetapi, seolah, juga jejak kerusuhan. Bangku-bangku itu tak hanya dipenuhi debu –yang membuat saya memilih berdiri walau kaki terasa pegal, bahkan untuk menaruh ransel di atasnya pun rasanya eman.

Memang, saya tidak perlu membayar retribusi atau tarikan peron untuk memasuki terminal ini. Tetapi, apakah yang dikerjakan oleh lembaga pemerintah yang seharusnya menjaga kenyamanan, kebersihan, ketertiban, dan kesemarakan tempat ini? Lupakah mereka bahwa terminal adalah wajah sebuah kota? Dan mengapa rangkaian kata, ’’Kudus semarak,’’ itu hanya dibiarkan menempel sebagai ’’iklan bohong’’ di di mikrolet-mikrolet yang berseliweran?

Semoga ada pejabat dari ’Propinsi’ atau dari ’Ibukota’ yang perlu mampir terminal ini. Sebab kita tahu, betapa para aparat pemerintah (seharusnya: aparat negara) kita ini masih lebih suka melayani atasan mereka…[]
piye?:

0 urun rembug: