Wednesday, 23 January 2008

Gimana Halnya dengan Yu Tun, Yu Jah, Yu Yem…?


Diskusi Kebudayaan bertema Orang Kampung dan Globalisasi yang dijadwalkan berlangsung di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, 17 Oktober 2007 akhirnya terlaksana juga. Sayangnya, seorang narasumber yang diharapkan jadi pembicara kunci, Wina Karnie, batal hadir karena harus menunggui adiknya yang dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan di jalan raya.

Akhirnya, diskusi tetap berlangsung pada waktu dan tempat yang dijadwalkan, walau hanya melibatkan 8 orang: St Sri Purnanto (seorang guru SMA Panggul yang juga pengarang dua bahasa: Jawa dan Indonesia, Djoko Wiyono (dalang wayang kulit), Edy (guru SMP 1 Panggul), Yuli Farida, bersama sang adik, Murih (putri mantan Kepala Desa Cakul, dosen FOK Unesa), Eko Margono (cerpenis), Tony, dan saya (Bonari). Hanya delapan orang? Ya! Jumlah yang sangat kecil untuk sebuah diskusi yang sejak sebelum hingga setelah berlangsung sebegitu digembor-gemborkan? Ya.

Diskusi itu pun tidak dibuka dengan basa-basi seperti biasanya dan tanpa moderator pula! Pembicaraan meluncur begitu saja, sejak pukul 17.30 hingga 00.30. Tetapi kami, dan kami ajak Anda semua untuk: membanggakannya.

Diskusi kebudayaan? Ya. Sebegitu bombasnya? Ya. Dan Anda memang layak kecewa jika berharap kutipan-kutipan hasil penelitian, data-data, dan teori-teori ilmiah bertebaran di sepanjang diskusi malam itu. Tetapi, bisa Anda bayangkan, betapa serunya ketika setidaknya 5 di antara 8 orang yang hadir secara sukarela tampil sebagai narasumber.

Eko Margono yang cerpenis bertutur tentang kenyataan sosial di lingkungan tempat tinggalnya, dari perihal takmir masjid, komite sekolah, hingga praktik-praktik ’kecurangan’ seputar pelaksanaan Ujian Nasional dan penerimaan siswa baru. Kadang-kadang terasa seperti dia sedang baca cerpen. Kadang-kadang pula muncul akting khas aktor ludruk-nya. ’’Kita mau bilang apa sekarang ini, ketika demi mendapatkan prestise, para kepala sekolah itu mengursuskan beberapa siswa yang akan menghadapi Unas sesuai dengan bidang yang paling mereka kuasi, lalu mewajibkan mereka untuk menjadi joki bagi teman-temannya!’’ demikian Eko berapi-api.

Demikianlah, lontaran pernyataan bahwa sekolah sekarang tidak hanya mengajarkan budi pekerti yang baik, melainkan juga budi pekerti buruk, justru muncul di sebuah diskusi ala kadarnya di sudut kampung yang jauh, dan bukannya di seminar nasional.

Lagi, yang juga menarik adalah pernyataan Ki Dalang Djoko Wiyono, ’’Sekarang kita memang susah. Semua orang tampak bagus, tetapi ternyata cuma bagus di cassing-nya saja. Kita melihat pemimpin, ada yang namanya guru, kepala kantor, seniman, budayawan, dan lain-lain. Itu sering hanya cassing-nya saja. Isinya sering meleset jauh dari yang kita duga. Ada yang copet ada pula perampok. Yang cassing-nya pemimpin tetapi isinya ternyata hanya ’pedagang’ juga banyak.’’

Menanggapi foto-foto ’’Hong Kong dan TKI Kita’’ yang dipamerkan dan keterangan saya seputar TKI-HK yang memiliki potensi di bidang seni, termasuk sastra, Ki Djoko bilang, ’’Iya, yang sampeyan urusi itu mereka-mereka yang punya kemampuan lebih atau di atas rata-rata para TKI kita. Yang notabene, tanpa didorong-dorong, tanpa dimotivasi pun mereka, dengan kapasitas mereka sendiri, saya yakin sudah akan jalan. Lah, gimana halnya dengan Yu Tun, Yu Yah, Yu Yem yang nyaris tidak punya potensi apa-apa, dan tiba-tiba harus menghadapai sekian banyak persoalan pada saat mereka menginjakkan kaki di negeri asing….?’’

Wah! Saya nyaris glagepan. []

dari: Tabloid Intermezo
piye?:

0 urun rembug: