Thursday, 24 January 2008

Menuju Kongres Sastra Jawa II

Gebragan [Bukan] Generasi Terakhir Sastrawan Jawa Modern

Setelah mengambang beberapa saat, bahkan sempat muncul alternatif Solo dan Semarang, kini sudah pasti, Kongres Sastra Jawa [KSJ] II akan digelar di Semarang pada 30 Juni – 2 Juli 2006 nanti. Tepatnya di Sanggar Paramesthi, Jl Kelud Utara, Semarang. Di tempat yang sama, Selasa [13/03/2006] kemarin telah dilangsungkan acara tumpengan untuk menandai peluncuran [lounching] acara yang boleh dibilang sebagai gebragan [bukan] generasi terakhir Sastrawan Jawa Modern itu.


LIMA tahun lalu, menjelang KSJ I [Taman Budaya Surakarta, 6 – 7 Juli 2001] Daniel Tito yang bertindak sebagai Ketua Panitia menulis di sebuah harian dan menyebut-nyebut kegiatan itu sebagai kegiatan yang dimotori generasi terakhir Sastrawan Jawa Modern. Mungkin Tito meleset, karena KSJ II ini ternyata memunculkan wajah-wajah dari generasi yang lebih baru, yang tentu lebih segar dan memiliki vitalitas yang lebih hebat daripada generasi Bonari Nabonenar, Budi Palopo, Keliek Eswe, Es Danar Pangeran, Sunarko Sodrun Budiman, Tjahjono Widarmanto, Yudhet, dan lain-lain.

Lebih menariknya lagi, panitia pelaksana sekaligus bertindak sebagai tuan rumah KSJ II nanti adalah para aktivis Sanggar Seni Paramesthi yang kecintaan mereka terhadap Sastra Jawa Modern maupun Sastra Jawa Klasik –seperti dituturkan Sucipto Hadi Purnomo-- tidak ditentukan oleh adanya media cetak yang siap menjadi sarana sosialisasi karya-karya mereka. Mereka menerbitkan sendiri karya-karya mereka, dan membagi-bagikannya di saat ada tamu atau pas ada hajatan kesenian. Ini mengingatkan kita kepada tradisi orang membagikan buku Surat Yassin atau Tahlil secara gratis di acara selamatan orang meninggal atau acara-acara Yassin-an atau Tahlilan yang lain. Sebuah gerakan sosialisasi karya yang patut diacungi jempol, sama halnya dengan yang dilakukan oleh Widodo Basuki, Suparto Brata, dan Trinil Setyowati di Surabaya –menerbitkan buku sendiri atas biaya sendiri!

Di kelompok peserta, bisa dipastikan juga akan hadir wajah-wajah baru, sosok-sosok belia yang diam-diam menyintai Sastra Jawa Modern sedemikian rupa, sehingga dengan sukarela meluangkan waktu dan biaya, misalnya, untuk membangun situs dan millis groups sebagai rumah maya untuk menyimpan karya-karya Sastra Jawa Modern dan sekaligus sebagai tempat untuk mendiskusikannya. Kita sebut saja, misalnya, Irfan, seorang anak muda dari Malang, yang membangun situs www.jonggringsaloka.com. Ada lagi beberapa sastrawan muda dari Forum Sastra Luar Pagar (Surabaya) yang dimotori We Haryanto dan kawan-kawan serta dari Sanggar Kostela Lamongan yang dimotori Herry Lamongan. Kita bisa secara acak menyebut nama-nama: Deni Tri Aryanti, Puput Amiranti, Ashari, Aris Beteng, Mashuri, Indra Tjahyadi, dan masih banyak lagi sebagai generasi terbaru, kini, dalam jagad Sastra Jawa Modern. Pada merekalah, suka atau tidak suka, mau kita tolak atau kita terima, bergantung pula hendak ke mana arah Sastra Jawa Modern itu. Sebab, mereka itulah yang pada kenyataannya kini menulis, mengarang, dan berkarya.

Lebih menggembirakan lagi, generasi terbaru itu makin menunjukkan kesadaran membangun jatidiri dengan mengakrabi budaya dan seni [dalam hal ini sastra] etnik bukan sebagai gagah-gagahan, bukan untuk meneriakkan bahwa budaya etnisnya jauh lebih adiluhung daripada budaya etnis lain, melainkan sebagai landasan kepribadian, yang tidak ingin --seperti diolok-olok KGPA Mangkoenegoro IV dalam Wedhatama-- ’’gonyak-ganyuk nglelingsemi’’ [serba canggung dan gagap di dalam pergaulan].

Maka, sedikit pun tak ada alasan menyurigai anak-anak muda itu sebagai generasi yang hendak mengental-ngentalkan atau menggalang primordialisme, sebab sebagai anak-anak zaman yang lahir di tengah-tengah masyarakat Jawa, mereka merasa harus menjadi orang Jawa yang njawani untuk bisa menjadi orang Indonesia, bisa luwes bergaul dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air dari etnis lain, dan pada gilirannya bisa luwes bergaul sebagai warga dunia.

Sebab, pada akhirnya harus disimpulkan bahwa bukan hanya saya, bukan hanya kami, dan bukan hanya kita orang ’’Jawa’’ itu, karena si kulit putih bermata sipit itu, yang saya datangi kantornya di kawasan Kowloon Bay, Kowloon, Hong Kong, pada suatu hari di bulan Juli 2005 lalu, e, lha kok datang saya disuguhi, dan pulang saya disangoni [diberi uang saku]. Jawa banget, kan?

Maka, pepatah atau semacam ramalan yang mengatakan bahwa pada suatu saat nanti di Tanah Jawa ini: wong Jawa kari separo, China-Landa kari sajodho [orang Jawa tinggal separoh, China-Belanda (ras kulit putih) tinggal sepasang, seharusnya kita maknai dengan pengertian yang positif. Bukankah itu salah satu konsekuensi hidup saling mengasihi, saling menyintai, hingga banyak terjadi pernikahan campuran. Dalam keluarga campuran, di Jawa, sudah barang tentu orang Jawa-nya hanya separoh, kalau bukan si istri ya si suami. Tetapi kita juga mesti bangga, karena di Malaysia, di Singapura, Hong Kong, Saudi Arabia, bahkan di Amerika dan Eropa, bukan pula tidak mungkin kelak ternyata separo penduduknya adalah orang Jawa. Bahkan bisa lebih, ketika si bule, si putih, si hitam, si sipit, si keriting, pada hakikatnya bisa lebih’’Jawa’’ daripada saya.[]

Kayaknya ini pernah dimuat Jawa Pos
piye?:

0 urun rembug: