Sunday, 27 January 2008

Sastrawan, Surga dan Neraka

[silakan dipotongi jika jawaban2 saya terlalu ngelantur]

1. Bagaimana pendapat Anda tentang karya sastra saat ini dibandingkan dahulu?
BON: Percepatan kemajuan teknologi informasi yang sebegitu hebat belakangan, membawa berkah pula bagi dunia sastra. Kini orang bisa menulis dan menyiarkannya di dunia maya, selain mengirimkan ke media cetak/penerbit. Sarana pembelajaran di dunia maya [internet] juga sedemikian bagus. Semakin banyak pula kompetisi [lomba penulisan]. Pendek kata, sekarang iklimnya sangat bagus. Makin banyak orang menulis, dan semakin banyak orang membaca. Itu bagus, sampai di situ. Tetapi ada sisi negatif dari iklim yang bagus itu, ibarat orang menanam, ketika tanah sedemikian subur: biji yang kurang baik, bahkan yang jelek, pun bisa tumbuh. Agaknya itulah yang terjadi saat ini. Cerita-cerita semakin kenes [lihatlah cerpen-cerpen saya, hahaha.....!]


2. Apa perbedaan mendasar antara karya-karya yang dilahirkan di masa sekarang dengan karya sastra yang muncul di era sebelumnya?
Dunia sastra, dulu [maaf, ini hanya berdasarkan perasaan saya, lho] lebih merupakan dunia sunyi. Terlebih dari sisi kreatornya. Konon, pada zaman dahulu malah seorang sastrawan yang dikenal dengan sebutan pujangga adalah pula seorang yang gemar melakukan olah-batin. Instingnya menjadi tajam. Karyanya bernas. Perhatikan syair dalam bahasa Jawa ini, ’’Tan samar pamoring suksma/sinuksmaya winahywa ing asepi/sinimpen telenging kalbu/pambukaning warana/tarlen saking layap-liyeping aluyup/pindha pesating supena/sumusuping rahsa jati...’’ [Maaf, saya tidak bisa menerjemahkannya]. Tanpa memiliki pengalaman bersamadi, orang tak akan bisa menulis seperti itu. --Tolong beri tahu saya jika Anda menemukan olah bunyi [musikalitas?] yang sehebat itu di dalam karya para penyair modern, ya?
Nah, sekarang, dunia sastra adalah dunia hiruk-pikuk, adalah dunia yang dielu-elukan [kadang juga mengelu-elukan diri], dan banyak orang menulis untuk popularitas. Sementara itu, Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco ditulis oleh Tanpa Aran [=Anonim] artinya, pengarangnya justru tidak [berani] menyantumkan namanya.
3.Sebenarnya apa fungsi sebuah karya sastra?
BON: Jika boleh memakai istilah yang terasa gagah: men-cerah-kan. Itulah, baik bagi kreator maupun masyarakat pembacanya, dalam rangka [meminjam istilah orang Jawa] nggayuh kasampurnaning urip [= menggapai kesempurnaan hidup].
4. Benarkah karya sastra sekarang cenderung terjebak dalam industri/mengikuti pasar?
BON: Bisa jadi tidak benar, jika Sang Kreator sejak awal memang berorientasi ke pasar. Bagi kreator jenis demikian sastra yang sukses kawin dengan industri dan pasar telah berada di jalan yang benar [bukan terjebak].
5. Bagaimana pendapat Bapak tentang model2 karya sastra seperti teenlit atau chicklit?
BON: Sangat baik, sangat berguna. Orang tidak langsung lahir sebagai manusia dewasa. Maka idealnya ada bacaan untuk anak, untuk remaja, dan kemudian untuk orang dewasa, walau saya tidak berani memakai istilah sastra anak, sastra remaja, dan sastra dewasa. Tambah sangat baik lagi, teenlit itu diciptakan/ditulis pula oleh mereka yang benar-benar berusia belasan tahun. Bolehlah kita sebut ’’kurang sehat’’ keadaannya jika orang berusia di atas 30 tahun masih menulis dan apalagi membaca teenlit!
6. Apakah benar di surabaya, karya sastra susah berkembang?
BON: Sebenarnya saya tidak setuju membatasi wilayah sastra secara geografis seperti itu. Buku-buku sastra yang ditulis dan dicetak di Jogjakarta, misalnya, bisa saja membanjiri Surabaya. Jika demikian keadaannya, apakah Surabaya bukan lahan yang subur bagi sastra? Bahkan sastra Jawa [sementara yang disebut-sebut sebagai pusat kebudayaan Jawa adalah Solo dan Jogjakarta] gudang sastrawannya ada di Jawa Timur, termasuk Surabaya. Bahkan 2 majalah berbahasa Jawa paling representatif yang masih eksis hinga sekarang, Jaya Baya dan Panjebar Semangat, diterbitkan di Surabaya.
7. Menurut Anda bagaimana kondisi komunitas penulis di Indonesia, khususnya di Surabaya?
BON: Ini pertanyaan yang menarik. Kebetulan saya sedang jadi Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya. Dalam konteks ini terasa sekali perbedaan iklim antara era 80-an dengan 2000-an. Pada tahun-tahun 80-an, misalnya, kita kenal Himpunan Penulis, Pengarang, dan Penyair Nusantara [HP3N] yang diketuai Putu Arya Tirtawirya, di Jawa Timur ada Cabang Batu, Lamongan, dan lain-lain, yang sangat berperan dalam proses pembelajaran para anggota/pengurusnya. Sanggar-sanggar sastra, misal Sanggar Sastra [Jawa] Triwida –saya pernah jadi anggotanya—juga memberikan banyak hal kepada para penulis dan calon penulis. Saya tahu bagaimana seorang Tamsir AS [alm] yang ketika itu menjadi Ketua Sanggar Triwida, menyemangati para anggotanya, memperkenalkan mereka kepada penerbit, dan membantu mendapatkan dana Inpres. Sanggar, yang saya rasakan saat itu, benar-benar bagaikan petarangan [sangkar] tempat telor menetas, menjadi anak-anak ayam yang mula-mula sangat tergantung kepada induknya dan kemudian bisa mandiri.
Sekarang, zaman sudah berganti. Lagi-lagi, revolusi teknologi informasi telah mengubah pola kehidupan sosial kita [termasuk kehidupan para penulis]. Sanggar, kini tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara seperti yang tepat dilakukan pada era 80-an. Tetapi, agak repotnya, belum semua penulis [dalam kasus penulis Jawa] bisa akrap dengan kecanggihan teknologi informasi itu. Sebagai Ketua PPSJS, paling-paling saya memanfaatkan SMS untuk mengajak teman-teman berdiskusi tatap muka, tak lebih dari itu, sedangkan sebagai anggota [semacam] sanggar sastra buruh, saya bisa berdiskusi dengan anggota lain melalui milis: kossakata@yahoo.groups.com.
8. Bagaimana komentar anda mengenai "Surabaya adalah neraka bagi penulis"?
BON: Lagi-lagi, persoalannya bukan ’’Surabaya’’-nya. Tetapi, kita masih berada di dalam sistem kemasyarakatan, dan kebijaksanaan pemerintah yang selain cenderung tidak menguntungkan orang-orang kecil, juga tidak menguntungkan penulis. Sekarang ini, kalau ada kompetisi yang berhadiah besar, pastilah bukan pemerintah yang mengadakannya, melainkan pihak swasta. Di Malaysia, penulis jauh lebih diperhatikan oleh pemerintah. Di Indonesia, tampaknya kita perlu terlibat pornografi untuk mendapatkan perhatian!
Nah, ngomong-ngomong soal neraka, saya rasa sebaiknya penulis tidak berada di surga atau pun neraka, melainkan di antara keduanya.
9. Menurut Bapak apakah sebuah komunitas penulis penting bagi perkembangan karya sastra di Indonesia, khususnya di Surabaya?
Kalau orang memandang sebagai penting atau tidak, bisa jadi kacamatanya: politis. Sebenarnya, penting atau tidak pentingnya sebuah komunitas tergantung masing-masing orangnya. Berkreasi [menulis] adalah laku individual [berbeda halnya dengan teater yang mesti merupakan kerja kolektif]. Hanya ketika orang merasa mendapatkan energi positif dari sebuah pertemuan dengan sesama seniman [bahkan walau di dalam pertemuan itu mereka tidak ngomong kesenian] komunitas menjadi perlu dan bahkan penting.
10. Selain komunitas, apa faktor lain yang menentukan kualitas dan kuantitas karya sastra?
BON: Kuantitas ditentukan oleh disiplin, kualitas ditentukan oleh komitmen. []



Catatan: Sebuah wawancara dengan reporter majalah kampus [...] via email, yang tak tahu jadi dimuat apa enggak
piye?:

0 urun rembug: