Sunday, 13 January 2008

Dukung FSB 2007: Tujuh TKI-HK Pentaskan Death of Migrant Rights

Hadirnya 7 orang TKI yang baru pulang dari Hong Kong dan turut menjadi bagian penting FSB 2007, menyedot perhatian tersendiri dari para peserta sejak mereka secara serius menggelar latihan demi latihan agar dapat tampil sebaik-baiknya di Festival.

Selain menyumbangkan tarian Perahu Layar, mereka—Suprapti (Ponorogo), Rina, Anik Widarti, dan Anis Wati (Blitar), Dwi dan Alfiyah (Malang), dan Sani (Salatiga)—juga mementaskan teatrikalisasi puisi Death of Migrant Rights karya Mega Vristian.

Menurut pengakuan mereka, ketujuh TKI Hong Kong itu adalah sebagian dari banyak TKI yang dipulangkan ke Indonesia secara ’’paksa’’. Sebelum dipulangkan, mereka sempat menghuni sebuah shelter di Hong Kong.

’’Kita anak yang ada masalah. Kami ditampung oleh suatu organisasi atau shelter penampungan sementara bernama KOTHIHO,’’ ungkap Rina. ’’KOTHIHO itu suatu organisasi BMI yang membantu anak Indonesia yang sudah bermasalah. Dan ada tujuh organisasi yang menjadi anggota Kothiho. Salah satunya IMWU,’’ kata Suprapti menambahkan.

Mereka menuturkan, banyak masalah yang dihadapi oleh sebagian TKI di Hong Kong. Di antaranya, ada yang diputus kontrak kerjanya oleh majikan, dianiaya majikan, digaji tidak sesuai dengan standar minimum gaji di Hong Kong, dan tidak diberi libur.

Anis Wati (21), misalnya. Gadis asal Sumberjo, Kecamatan Sanan Kulon, Blitar ini mengaku mendapat masalah underpayment. Ia oleh majikannya hanya digaji $HK 1800, padahal standar minimum gaji di Hong Kong adalah $HK 3400.

Suprihatin

Pementasan Death of Migrant Rights itu sendiri, menurut mereka, merupakan wujud kepedulian mereka atas nasib yang menimpa Suprihatin (Ponorogo) salah seorang TKI Hong Kong beberapa tahun lalu.

Mereka mengisahkan, Suprihatin adalah salah satu TKI di Hong Kong yang menjadi korban kekerasan majikan. Ia dijatuhkan oleh majikannya dengan cara didorong dari lantai 19. Karena perlakuan itu, Suprihatin meninggal dunia.

’’Setelah jatuh, Suprihatin belum meninggal. Ia meninggal setelah di rumah sakit,’’ kata Rina.

Lebih lanjut Rina mengatakan, ’’Saat Suprihatin jatuh, ada seorang Filipina melintas. Suprihatin masih sempat mengatakan kepada orang Pilipina itu begini: ’She push me’. Tapi majikannya bilang kalau Suprihatin bunuh diri. Kami teman-temannya dari Indonesia tidak bisa menerima itu.”

Kasus itu pun dibawa ke pengadilan, orang Filipina itu dijadikan saksi. Di pengadilan tinggi, majikan kalah, tetapi naik banding. Lalu, di mahkamah agung, majikan itu menang. ’’Itu karena saksinya membelot. Mungkin disuap sama majikan Suprihatin,’’ kata Rina.

Pementasan Death of Migrant Rights dimulai dengan pemanggulan jenazah Suprihatin diiringi larik-larik puisi duka. Puisi yang mendapat aplaus meriah dari penontong ini ditutup dengan ending pembentangan kain rentang bertulis Death of Migrant Rights.


Akademisi Antusias Teliti Karya TKI

FSB 2007 tak hanya dihadiri oleh masyarakat sekitar, seniman, dan pejabat, tetapi juga dihadiri oleh para akademisi dari beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur. Ternyata, mereka tak hanya simpati pada Festival dan karya TKI. Sebagian dari akademisi itu bahkan secara serius menyatakan keinginannya meneliti karya-karya TKI yang dipandang fenomenal.

Dr. Eka Rini misalnya. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang ini menyatakan salut kepada hasil karya sastra para TKI Hong Kong. Tak hanya itu, ia pun tertarik menelitinya secara mendalam dari berbagai segi, misalnya, dari segi feminisme.

Antusiasme juga ditunjukkan oleh Prof. Dr. Yuwono Sudikan Dosen senior di Universitas Negeri Surabaya ini mengungkapkan bahwa dirinya telah ’’menggalakkan’’ penelitian sastra buruh migran di kampusnya. ’’Tapi Pak Bonari dan Pak Kuswinarto, tolong datanya itu harus dibuka. Karena, kalau tidak dibuka, nanti juga akan sulit. Balai Bahasa juga ada yang tertarik menelii sastra buruh migran,’’ kata Yuwono Sudikan.

Selain itu, menurut Maria Boniok, mantan TKI asal Wonosobo yang menjadi salah seorang pembicara dalam FSB 2007, seorang dosen dari Unsoed yang sedang mengambil gelar doktor di IPB juga mau mengangkat kisah TKI juga. [bi]

BI: Mei, 2007
piye?:

0 urun rembug: