Wednesday, 9 January 2008

Pembacaan Puisi Jangan Berpatokan Pada Satu Model

Mulai 29 Mei hingga 31 Mei, Seksi peningkatan dan Pengembangan Kesenian, Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) menyelenggarakan Gladi Seni Pertunjukkan ‘Sastra Etnik’ Jawa Timur di gedung Cak Durasim Surabaya, yang notabene diikuti oleh penulis Jatim. “Salah satu yang ditekankan dalam gladi ini adalah mengenai penggarapan karya sastra etnik seperti puisi, gurindam, dan guritan.,” ungkap Bonari Nabonenar, instruktur gladi sastra etnik, yang ditemui di TBJT Jl Gentengkali Surabaya, Selasa (30/5).

Dikatakannya, dalam gladi ini, kita mencoba memberi pemahaman pada semua peserta tentang bagaimana cara menggarap pertunjukkan sastra etnik yang baik. Dari sisi artikulasi, musik pengiring serta teknik sastra yang berhubungan dengan pertunjukkan. Sastra etnik itu adalah proses transformasi dari sastra teks (verbal) ke sastra pemanggungan.
Peserta dalam gladi ini terdiri dari tiga etnis, yaitu etnis Madura, Banyuwangi (oseng) dan Jawa. Mereka akan dibagi menjadi tiga kelompok dengan etnis yang sama. “Masing-masing kelompok tersebut akan menghasilkan satu karya yang ditampilkan pada malam ini (30/5). Karya tersebut bisa berupa visualisasi puisi, monolog atau juga kentrungan. Yang penting dari semua itu adalah kreativitas senimannya,” ujarnya.

Ditambahkannya, kita mengambil tiga etnis tersebut, karena di Jatim ini batasan etnis yang jelas dari segi bahasanya hanya tiga etnis ini. Koordinator Acara Arbai mengatakan, saat ini peminat sastra memang masih terbatas, padahal dari sisi pengembangan dan kualitas semakin baik. Dalam gladi ini saja, pesertanya mulai dari siswa SMP hingga yang berusia 75 tahun. “Itu menunjukkan regenerasi dan kualitas penulis sastra itu sangat baik,” ungkapnya Dikatakannya, kita berharap setelah gladi peserta bisa menularkan pada seniman di daerahnya masing-masing, dan sastra etnik ini bisa dikembangkan lebih baik lagi, untuk itu kreativitas seniman juga harus selalu dilatih, agar bisa melahirkan karya-karya baru.
Selama tiga hari mengikuti gladi ini, di hari pertama peserta akan mendapatkan materi tentang pemahaman sastra etnik, hari kedua mereka mulai latihan dan malamnya, mereka akan menampilkan hasil karya, dan di hari ketiga hasil penampilan tersebut akan dievaluasi.

Gladi ini diikuti sebanyak 27 orang dari berbagai daerah di Jatim, di antaranya Surabaya, Jember, Banyuwangi, Sodoarjo, Bondowoso, Bangkalan, dan Sidoarjo. Yang menjadi instruktur dalam gladi ini selain Bonari adalah Sendang Mulyono Spd Mhum (Semarang), dan Subiantoro dari Sidoarjo. *(ien)


Selasa, 30 Mei 2006 15:42:13
http://www.d-infokom-jatim.go.id/news.php?id=7377
piye?:

0 urun rembug: