Thursday, 3 January 2008

’’Minta Harian Berbahasa Jawa’’

Catatan dari: Pandonga Agung Sastra Jawi (Kraton Yogyakarta, 12 Januari 2002)

MALAM itu, Sabtu (12/1) di Pagelaran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ada acara yang mungkin sepanjang sejarah baru kali ini digelar. Nama acara itu Pandonga Agung Sastra Jawi. Doa Akbar Sastra Jawa. Doa itu dikemas dalam bentuk tembang – dalam bahasa Jawa tengahan (bukan bahasa Jawa modern), diiringi musik gamelan (gendhing Jawa) dan beksan (tari). Seusai “ritual” doa digelar sarasehan dengan pembicara kunci Sri Sultan Hamengku Buwono X. Makalah Sri Sultan Hamengku Buwono X yang 8 halaman itu ditulis dengan bahasa Indonesia, berjudul Sastra Jawa dalam Perspektif Masa Depan. Seorang pembicara lagi ialah Prof. Dr. Selo Sumarjan.

Penyelenggaraan Donga Agung Sastra Jawi tampaknya dimotivasi oleh keadaan Sastra Jawa, terutama Sastra Jawa Modern yang tetap tidak menggembirakan, betapapun tahun lalu digelar dua kongres dalam waktu yang hampir bersamaan, yakni Kongres Sastra Jawa (Solo, 6-7 Juli 2001) dan Kongres Bahasa Jawa III (Jogjakarta, 15-20 Juli 2001).

Dr. Gabriel Posenti Sindhunata, SJ yang pada malam itu bertindak sebagai moderator, membuka sesi sarasehan dengan menggambarkan secara singkat krisis Sastra Jawa itu, menyebut beberapa gawe besar, seminar, sarasehan, kongres, yang hampir semuanya hanya berhenti dalam pembicaraan, tanpa tindak lanjut yang nyata. Juga tahun 2001 yang ditandai dengan meninggalnya beberapa tokoh penting dalam sastra Jawa Modern, termasuk Prof. Dr. Suripan Sadihutomo dan Poer Adhie Prawoto yang meninggal hampir bersamaan. “Karena itu, mengutip sebuah guritan Suwardi Endraswara, tampaknya memang sudah selayaknya jika Sastra Jawa dislameti,” demikian antara lain prolog Dr. Sindhunata.

Uniknya, Prof. Dr. Selo Sumarjan, malahan, dengan sastra Jawa, mengajak segenap hadirin untuk berdoa demi bangsa yang sudah berada di pusaran krisis multidimensi, di jurang disintegrasi ini.

Ada satu hal yang sangat menggembirakan, jika tak boleh dibilang surprise bagi Sastra Jawa Modern (SJM). Sri Sultah Hamengku Buwono X menaruh perhatian besar terhadap Sastra Jawa M. “Seperti juga Sastra Barat, Sastra Jawa pun memiliki pertalian dan keterpautan antara masa yang terdahulu dengan masa yang lebih kemudian, antara era Jawa Kuna, Jawa Tengahan, Jawa Baru, dan Jawa Modern,” demikian Sri Sultan mengawali makalahnya.

Selama ini memang terasa ada jurang kesenjangan yang cukup lebar antara sastra Jawa Klasik (Sastra Jawa Kuno dan Sastra Jawa Tengahan) dengan SJM. Ada banyak perkumpulan pecinta tembang macapat, misalnya, dan bahkan telah didirikan pula Lembaga Javanologi, tetapi mereka seperti tak mau melirik karya SJM sepeti crita cekak, novel, guritan, apalagi teater. Maka, teater Gapit yang sangat fenomenal itu pun seolah diabaikan oleh mereka yang mengaku sebagai para pecinta seni, budaya, dan sastra Jawa. Seolah ada dinding pemisah yang sangat tebal dan kokoh antara Sastra Jawa Klasik dengan SJM. Saya menyaksikan dinding itu jebol sudah, dalam acara Pandonga Agung Sastra Jawi itu.

“Mungkin ke-adiluhung-an karya Sastra Jawa yang ditulis oleh pujangga-pujangga kraton menunjukkan bentuk-bentuk sastra, literary forms, pilihan kata, ajaran-ajaran, yang lebih sempurna, dan mendekati ungkapan estetik-religius. Sementara itu, Sastra Jawa di majalah-majalah lebih realistik. Di sana membayang tantangan hidup yang lebih menjepit dan menggigit, karena masyarakatnya heterogen. Persoalan yang menyangkut makan, minum, perumahan, pekerjaan, status, selalu akrap dalam hidup kesehariannya. Sementara, karya Sastra Jawa yang lebih tua, tidak memperhatikan hal itu,” demikian Sri Sultan menggambarkan perbedaan sastra Jawa Klasik dengan --sambil “menghormati” pula—SJM.

Sri Sultan Hamengku Buwono X juga mengingatkan bahwa di Kraton tersimpan banyak naskah Sastra Jawa Klasik, kebanyakan dalam bentuk micro-film, yang mestinya dapat dicetak menjadi buku agar bisa dinikmati masyarakat yang lebih luas, termasuk para pengarang SJM, seperti yang telah dilakukan oleh Karkono Partokusumo dengan menghimpun serat Centhini dan mencetaknya dengan huruf Latin itu.

Sayangnya, diskusi kurang berkembang pada malam itu, gara-gara usulan atau permintaan yang boleh dibilang ngayawara, terlalu berlebihan. Ada dua atau tiga penanggap --dalam waktu yang relatif singkat itu-- meminta kepada Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk dibukakan media baru, majalah dan bahkan koran harian berbahasa Jawa. Tampaknya, pengusul itu masih mabuk oleh tantangan Harmoko –ketika masih menjabat sebagai menpen— bahwa jika ada yang berani membuat koran harian berbahasa Jawa, SIUPP-nya akan dia berikan seketika itu. Buktinya, tak ada orang Jawa (pemilik modal) yang berani meladeni tantangan itu. Bahkan, ketika SIUPP sudah tak perlu lagi, tetap saja tak ada yang mau membuat koran berbahasa Jawa.

Makin berlebihan, mengingat 4 buah media berbahasa Jawa yang ada sekarang: Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, dan Mekar Sari yang belakangan jadi sisipan Kedaulatan Rakyat, belum dimanfaatkan secara optimal oleh para pengarang dan penyair SJM. Bahkan, ada kesan media berbahasa Jawa itu cuma jadi ajang untuk latihan mengarang. Mereka yang sudah pandai mengarang dengan bahasa Jawa justru meninggalkan media berbahasa Jawa, untuk kemudian menulis dengan bahasa Indonesia --karena honornya lebih tinggi? Sebutlah nama-nama: Susilomurti, Arswendo Atmowiloto, Bambang Sadono SY, Andrik Purwasito.

Mestinya, malam itu akan lebih gayeng jika dirembug soal tradisi pemberian hadiah bagi SJM dan peningkatan sumber daya pengarang SJM. Tiap tahun malah SJM menerima Rancage (dari Sastra Sunda) untuk kategori buku terbaik dan tokoh yang dianggap paling berjasa terhadap Sastra Jawa. Apa Wong Jawa sendiri tidak ada yang mampu memberikan penghargaan semacam itu?

Mengenai sumber daya pengarang SJM, selama ini sering terdengar kalimat-kalimat bernada miring, mencibiri kualitas sastrawan Jawa, mencibiri kualitas karya SJM. Mengapa tidak ada upaya-upaya yang nyata untuk meningkatkan SDM pengarang SJM itu, misalnya memberikan bangku kuliah di Jurusan Sastra Universitas Ternama selama 1 semester saja bagi pengarang SJM yang dianggap berbakat --seperti International Writing Program, begitulah! Atau apa? Meminta koran harian berbahasa Jawa, sekarang ini, akan terasa kegedhen empyak!*

JP, Minggu
piye?:

0 urun rembug: