Wednesday, 9 January 2008

Bahasa Jawa Makin Terdegradasi

SURABAYA - Bahawa Jawa sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa ternyata sudah mengalami degradasi fungsional. Itu terlihat dari minimnya penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. "Jika itu dibiarkan, maka bahasa Jawa akan punah. Akan terjadi lost generation penggunanya," kata Bonari Nabonenar, ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) dalam launching 16 buku cerita rakyat dalam bahasa Jawa di Hotel Santika, Sabtu (8/9).

Dalam launching tersebut hadir para penulis cerita rakyat, antara lain Suparto Brata, Widodo Basuki, Suharmono, Bonari Nabonenar, dan R.M. Yunani Prawiranegara. Acaranya terbilang cukup unik karena disajikan seluruhnya dalam bahawa Jawa Kromo.Dalam acara tersebut, hampir semua penulis meresahkan ketidak-eksisan bahasa Jawa dalam sektor pendidikan formal. Bahkan, boleh dibilang, kata Bonari, bahasa Jawa hanyalah mata pelajaran yang sifatnya tentative. "Malahan, ada guru yang nggak bisa bahasa Jawa. Padahal ia keturunan Jawa asli," ujarnya. Kalaupun ada pelajaran bahasa Jawa, lanjutnya, pelaksanaannya dilakukan secara setengah-setengah. "Bahkan murid-murid sekarang malu belajar bahasa Jawa. Mereka lebih senang belajar bahasa asing," lanjutnya.

Siti Aminah, salah seorang guru asal Jogjakarta yang hadir dalam acara itu, mengusulkan agar bahasa Jawa bisa menjadi bahasa pengantar dalam setiap mata pelajaran. Tentu, tujuannya dalam rangka melestarikan bahasa Jawa. "Lha wong aneh, sekarang malah banyak mata pelajaran yang pengantarnya menggunakan bahasa asing," ujar cerpenis itu.Suparto Brata juga memberikan pernyataan ekstrem mengenai keberadaan bahasa Jawa di tengah masyarakat. "Bahasa Jawa itu imagenya ndeso," kata pria kelahiran 1932 tersebut. Padahal, kata dia, banyak orang asing, terutama dari Eropa, yang berkeinginan mempelajari bahasa Jawa. Orang asing itu mempelajari lantas menuliskannya untuk dijadikan sebagai ilmu pengetahuan di negaranya. " Kalau kita, jangankan menulis, lha wong membaca saja males," lanjut pengarang yang sudah menelorkan puluhan buku bacaan itu.

Menurut Parto, banyak orang besar jadi terkenal akibat karya tulisnya. Ia mencontohkan Pluto yang berhasil menulis buah pikiran Socrates, gurunya sendiri. "Artinya, menulis bisa menjadi media efektif dalam rangka transformasi keilmuwan," terangnya.Tulisan, tentunya berhubungan dengan bahasa yang digunakan. Bahasa Jawa, tentu harus bisa menjadi mentransformasi keilmuwan jika tidak ingin ditinggalkan oleh penggunanya. "Jika itu tidak terjadi, maka dengan sendirinya bahasa Jawa akan asing bagi masyarakat Jawa. Apalagi pemerintah tengah merancang RUU tentang penggunaan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa di dunia pendidikan," tegas R.M. Yunani Prawiranegara yang menjadi moderator dalam acara tersebut.(ded)

Senin, 10 Sept 2007
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=303014
piye?:

0 urun rembug: