Monday, 11 February 2008

TERMINAL [1]


Ini pendapat saya mengenai terminal bus (selanjutnya disingkat: terminal). Sebuah terminal adalah wajah bagi sebuah kota, apakah kota kecamatan, kabupaten, kotamadya, kota provonsi, ibukota, seperti halnya bandara maupun pelabuhan adalah wajah sebuah kota. Wajah-wajah itulah yang akan ditatap pertama kali oleh para pendatang, para tamu, baik yang diundang maupun yang tidak --bahkan tidak diharapkan kedatangan mereka-- dan bukannya kantor bupati atau walikota, gedung dewan, dan apalagi rumah dinas mereka!

Maka, seharusnya kita dapat menjumpai di negri ini terminal-terminal yang bersahabat, sejuk, asri, dan bukannya kumuh serta sangat tidak bersahabat. Kenyatannya, saya sering mendapati terminal yang tak ubahnya rumah para penjahat, bahkan yang memakai baju seragam. Terminal adalah rumah para preman.

Lagi, saya kira, para pejabat kaliber pembuat kebijakan paling-paling sesekali saja mengunjungi terminalnya, atas nama inspeksi mendadak (sidak) atau apa. Mereka bukanlah pemakai jasa terminal seperti saya, sehingga maklum kalau mereka tak punya cukup obsesi untuk membuat terminal itu tak sekadar mentereng, tetapi juga ramah. Mereka para pejabat tingkat eselon itu pastilah tak pernah kecopetan di terminal, tak pernah merasakan diintimidasi calo penumpang, tak pernah berdesak-desak berebut tempat di kendaraan, karena sudah punya mobil mewah plus sopirnya.

Saya hampir selalu bayar setiap masuk terminal. Tetapi, rasanya tak pernah diperlakukan sebagai customer. Saya lebih sering merasa sebagai warga negara yang diperas oleh pemerintahnya sendiri. Itu kata-kata yang terlalu sarkastis, mungkin, tetapi sabarlah, saya akan coba menjelaskan alasan-alasan saya, nanti. [bersambung]
piye?:

0 urun rembug: